Bring disaster preparedness down to communities – DILG exec

PREPARED. According to Cagayan governor Manuel Mamba, disaster preparedness needs to be instilled to communities. Photo by Alecs Ongcal/Rappler

MANILA, Philippines— Disaster preparedness needs to be brought down to the community level.

Austere Panadero, undersecretary at the Department of the Interior and Local Government (DILG), aired this sentiment on Saturday, July 8, at the Agos Summit on Disaster Preparedness. Panadero said the problem stems from changes in leadership in local government units (LGUs) – when disaster risk reduction and management (DRRM) officers, for example, come and go depending on the mayor. (READ: The role of LGUs, local councils during disasters)

May problema tayo sa LGU level. Every 3 years nagpapalit ng leadership, at sometimes kapag bago ang mayor, bago ang DRRM officer, and that’s why there are people who do not understand their job,” said Panadero. (We have a problem at the LGU level. Every 3 years, leadership changes, and sometimes when the mayor gets replaced, the DRRM officer comes with him. That’s why there are people who do not understand their job.)

Panadero pointed out that it questionable, for instance, that some LGUs seek help from national agencies just on the first day of a disaster.

As a solution, Panadero discussed Oplan Listo, the DILG’s capacity-development and disaster response program which initially involved giving the local government leaders manuals on how to respond to calamity so that they know what to do when disaster strikes.

Moving from the LGU level, Oplan Listo later extended down to the community and family level with manuals also tailored for civic groups and families.

Panadero emphasized that the expansion was because the preparation needs to go down to the family level and must not stay at the LGU level alone.

“At the end of the day it’s the behavior at the family level that leads to preparedness,” Panadero said.

Aside from this, even local governments have taken the initiative to provide disaster response frameworks that empower civic groups.

Cagayan experience

An example is Cagayan Governor Manuel Mamba whose province faced Super Typhoon Haima (Lawin) in 2014.

There were only 5 casualties in the province—a low number considering it was a super typhoon.

He said owes the success from volunteer groups he called agkakaisa, who are their “first responders,” numbering today at 144,000 all over Cagayan. They mobilized to prepare for the super typhoon when its landfall was announced.

He then initiated a “neighbor and force evacuation” program where vulnerable people were asked to evacuate, and those with stable homes were asked to take in evacuees.

PREPARED. According to Cagayan governor Manuel Mamba, disaster preparedness needs to be instilled to communities. Photo by Alecs Ongcal/Rappler

Kasama dito ang mga simbahan na binuksan ang kanilang mga pinto maging sa mga kababayan na hindi kaanib sa kanilang relihiyon (Included are churches that opened their doors to their countrymen who are not part of their religion),” Manuel said in the Agos forum.

Ever since this happened, Mamba shared, they have also been fostering a culture of volunteerism by incentivizing local government units who have “people empowerment offices” that connect with the volunteer groups.

“Each barangay [gets] P300,000 provided that people empowerment offices are in place,” Mamba said.

As a final word of advice for fellow local government leaders, Mamba said: “I’d go down to the [community] level; the barangay is too huge already. Para sa akin they’re the more efficient partner for me, ever since I was a mayor (For me they are more efficient partners, ever since I was a mayor).” – Rappler.com

Dewan: Penanggulangan Bencana Harus Satu Komando

Dewan: Penanggulangan Bencana Harus Satu Komando

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU – Penanggulangan bencana di Riau selama ini dinilai masih sangat jauh dari harapan. Walau ada Perda yang mengatur hal tersebut, yakni Perda tentang penanggulangan bencana alam yang sudah diproduksi pada tahun 2013 lalu, namun tidak terlaksana sampai sekarang, dan belum ada Pergubnya.

Oleh karena itu, pihak DPRD Riau kemudian menginisiasi agar Perda tersebut bisa direalisasikan, dengan mengajukan kembali perda tersebut, namun dengan perubahan, yakni menjadi Perda tentang Penanggulangan Bencana, dan tidak ada kata alam di dalamnya, sehingga sifatnya lebih umum.

“Dalam Perda yang kita ajukan ini, tidak ada kata alam di dalamnya, sehingga bencana yang ditanggulangi tersebut tidak hanya bencana alam, tapi juga yang lainnya, termasuk bencana karena ulah tangan manusia,” kata Yusuf Sikumbang, Senin (10/7).

Tidak hanya perubahan judul yang dilakukan, menurut Yusuf pihaknya juga melakukan perubahan dalam materi Perda tersebut, misalnya penekanan pada pengkoordian, kemduian koordinasi, dan pengendalian yang dilakukan oleh pihak Badan Penanggulangan Bendacana Daerah (BPBD).

“Dalam undang-undang jelas disebutkan bahwa ada 11 instansi terkait dan terlibat dalam tim penanggulangan. Selain itu, juga ada dilibatkan masyarakat secara langsung dalam tim tersebut. Kalau selama ini yang berjalan kan masing-masing saja. Harusnya satu komando, sehingga bencana bisa cepat ditanggulangi,” imbuhnya.

Dia menambahkan, dari kunjungan pihaknya ke DKI Jakarta yang sudah lama membentuk tim tersebut, menurut Yusuf sebanyak 50 orang yang tergabung dalam tim setiap kelurahan sudah terlatih dalam penanggulangan bencana. Sehingga masyarakat tidak perlu bingung jika terjadi bencana di sekitarnya.

“Kalau buat kita, setidaknya di kawasan rawan bencana dulu diterapkan, dibentuk tim terpadu yang terlatih khusus dan siaga di lapangan,” tuturnya.

Ditambahkannya, khusus untuk bencana kebakaran hutan dan lahan, tidak masuk dalam Perda tersebut, karena sudah ada Perda khusus yang dibuat sebelumnya. “Karhutla ada Perda khusus, karena penanganannya juga khusus,” ulasnya. (*)

Banjir dan Tanah Longsor di Jepang Menewaskan 18 Orang

Asakura, HanTer – Regu penyelamat Jepang melanjutkan pencarian mereka terhadap korban hujan lebat yang memicu banjir dan tanah longsor di Jepang barat daya. Bencana tersebut menewaskan sedikitnya 18 orang dan menyebabkan ratusan lainnya mengungsi.
 
Pihak berwenang memperingatkan akan kembali datang hujan yang lebat di kemudian hari yang memungkinan danya longsor susulan. Hujan lebat tersebut disebabkan udara bertekanan rendah di Samudera Pasifik, yang memasok udara hangat dan lembab ke garis awan hujan Jepang.
 
Media penyiaran NHK pada Minggu (9/7/2017) melaporkan bahwa sekitar 1.900 polisi dan tentara dengan menggunakan alat berat menerjang hujan, bergulat dengan potongan kayu dan lumpur yang memutus jalan.
 
Daerah Fukuoka dan Oita, menjadi daerah yang paling parah terkena bencana itu, di mana 18 orang tewas dan 14 lagi luka berasal dari daerah tersebut, NHK pun menyebut sekitar 570 orang terkucil dan lebih dari 20 orang belum diketahui keberadaannya.
 
“Menimbang perasaan orang-orang yang keluarganya hilang lantaran bencana ini, saya ingin menyelamatkannya sesegera mungkin,” tutur Kiyoharu Kawano yang merupakan salahsatu anggota pasukan pertahanan.
 
Sementara itu warga setempat menangani upaya pembersihan dengan penuh perjuangan. “Ini sulit, ini sulit,” kata pria tua, yang menarik gerobak dorong ketika hujan deras, membawa lumpur keluar dari restoran mie “ramen” tua yang terbuat dari kayu.
 
Seperti diketahui, Kota Asakura dilanda hujan hingga lebih dari 600 milimeter sejak Rabu, dan Hita digempur hujan hingga hampir 450 milimeter pada waktu yang sama, menurut badan meteorologi.
 
“Cuaca diperkirakan membawa 120 milimeter curah hujan ke wilayah Kyushu utara pada Senin siang dan 100 milimeter di wilayah Chugoku, Jepang barat,” kata badan meteorologi itu.

 

(Hermansyah)

DPR Anggap BNPB Lamban Peringatkan Bencana Dieng

Asap mengepul usai ledakan di Kawah Sileri Dieng, Jawa Tengah, Ahad (2/7).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Komisi VIII DPR RI meninjau lokasi Kawah Sileri Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah, untuk meninjau Pos Bencana Dieng. Anggota Komisi VII Khotibul Umam mengatakan, Komisi VIII melakukan pengawasan untuk melihat dampak fisik dan non fisik dari bencana itu.

“Dampak fisik seperti gunung meletus atau banjir yang terkadang menimbulkan korban sedangkan non fisik seperti Dieng ini yang berbahaya adalah asap beracun,” kata Khotibul dalam siaran pers yang diterima Republika.co.id, Selasa (4/7) siang.

Menurut dia, penanggulangan bencana yang harus dilakukan adalah merangkul ahli vulkanologi yang menguasai tentang gunung berapi dan asap beracun. “Selain itu, kita ingin BNPB juga punya program khusus untuk Dieng ini, karena Dieng ini banyak ditinggali oleh masyarakat Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara,” ujarnya.

Menurut dia, kawah Dieng pernah menimbulkan bencana besar yang mengakibatkan 20 korban luka. Namun masyarakat sekitar kawasan Dieng masih sulit untuk direlokasi, karena menganggap tanahnya merupakan tanah dari nenek moyang, sehingga untuk melakukan evakuasi dan relokasi tidak mungkin. “Oleh karena itu cara peringatan dini dari ahli-ahli vulkanologi ini menjadi penting,” kata dia.

Politisi PKB ini menilai kinerja BNPB sangat lambat dalam memberikan informasi mengenai pelarangan kawasan wisata yang tidak massive dan tidak tersosialisasikan dengan baik. Selain itu, masalah BNPB wilayah provinsi dan kabupaten, kata dia adalah tidak mempunyai alat yang cukup baik untuk mendeteksi berbagai macam bencana termasuk tanah longsor dan gas-gas beracun, yang punya adalah pusat namun pusat selalu terlambat

“Oleh karena itu, Komisi VIII akan mendorong tambahan anggaran untuk pengadaan alat-alat teknologi yang tujuannya untuk memberikan peringatan dini di kawasan-kawasan pegunungan rawan bencana seperti di Dieng ini,” ujar Khotibul.

Indonesia to establish disaster preparedness village in Dieng plateau

Jakarta (ANTARA News) – Minister of Social Affairs Khofifah Indar Parawansa revealed that the ministry is contemplating on establishing a Disaster Preparedness Village in the Dieng plateau area of Central Java Province.

“The preparedness village can help in the early detection of some areas that are prone to disasters,” Parawansa stated here on Monday.

The disaster preparedness village is being planned after a phreatic eruption of the Sileri Crater in the Dieng tourism area on last Sunday.

Parawansa said the ministry has evaluated the importance of establishing a disaster preparedness village in the area.

Parawansa added that according to the National Disaster Mitigation Agency, at least 323 districts in Indonesia are prone to natural disasters.

With regard to the Sileri Crater eruption, Parawansa noted that Disaster Preparedness Volunteers are being deployed in the area to assist in the evacuation process.

“We have readied some volunteers to assist with the evacuation service,” the minister said.

The volunteers are in charge of establishing a public kitchen and offering psychosocial treatment to people affected by the disaster.

A phreatic explosion occurred in the Sileri Crater of the Dieng Plateau Tourism Area at Banjarnegara District on last Sunday.

The eruption is noted to reach as high as 50 meters and occurred at 12 a.m. local time.

The eruption resulted in volcanic material being spewed as far as the Waterboom recreation parking lot. (*)

Kuliah Online Prinsip Kesehatan Masyarakat dalam Bencana dan Respon Kemanusiaan

kuliah online

kuliah onlineKuliah atau kursus online “Prinsip Kesehatan Masyarakat dalam Bencana dan Respon Kemanusiaan” ini merupakan program yang dikembangkan oleh Collaborating Centre for Oxford University and CHUHK for Disaster and Medical Humanitatian Response (CCOUK). Terdapat 7 topik perkuliahan yang diberikan kepada peserta yaitu pendekatan kesehatan masyarakat dalam respon bencana, konsep dan trend bencana, dampak bencana, dampak kesehatan manusia pada bencana, respon terhadap kebutuhan kesehatan pada bencana 1, respon terhadap kebutuhan kesehatan pada bencana 2, serta kesiapsiagaan darurat kesehatan masyarakat. Proses pembelajaran menggunakan studi kasus, online tools dan publikasi internasional yang relevan. Peserta dapat mengatur jadwal perkuliahannya sendiri dan perkuliahan ini gratis. Registrasi untuk perkuliahan terbuka hingga 15 September 2017 untuk proses pembelajaran hingga 16 Oktober 2017. Penjelasan selengkapnya Klik Disini arrow, external, leave, link, open, page, url icon

Trend dan Isu Bencana Melalui Sudut Pandang Multi Sektor

disaster trend

disaster trendPublikasi ini diterbitkan pertama kali di konferensi Global Platform for Disaster Risk Reduction, Mexico. Publikasi ini memberikan informasi tentang ilmu pengetahuan dan teknologi terkini. Lebih lengkapnya terkait dengan trend, tantangan dan solusi yang muncul dalam pelaksanaan, pemantauan, tindak lanjut terkait dengan bencana yang telah dibuktikan melalui penelitian. Publikasi ini disusun oleh profesi dari multi sektor seperti ilmuwan, praktisi, engineers, dan lain-lain. Topik-topik yang diangkat adalah pengurangan dan kesiapsiagaan bencana; ilmu, teknologi dan inovasi; resiliansi bencana, respon bencana dan pemulihan, pengurangan resiko bencana dan isu terkini terkait bencana. Penjelasan selengkapnya Klik Disini arrow, external, leave, link, open, page, url icon

Pengurangan Resiko Bencana Melalui Manajemen Berbasis Komunitas

disaster risk reduction

disaster risk reductionAdventist Development and Relief Agency International (ADRA) memiliki 17 kantor di Asia, yang merupakan wilayah dengan resiko bencana terbesar di dunia. Wilayah Asia menempati urutan tertinggi dalam hubungannya dengan masalah keuangan dan korban meninggal dalam bencana. Seiring dengan berkembangnya bukti ilmiah dalam mengatasi masalah kebencanaan melalui pengurangan resiko bencana, ADRA mengambil pendekatan dengan mengintegrasikan antara pengurangan resiko bencana dan adaptasi perubahan iklim. Tantangan perubahah iklim dianggap sebagai salah satu yang berdampak pada wilayah yang rentan terhadap bencana. Adaptasi wilayah dilakukan mealui manajemen komunitas. Manajemen ini meliputi kegiatan seperti pelatihan pada level rumah tangga tentang manajemen resiko bencana, kerentanan serta pembangunan kapasitas komunitas. Pelatihan dilakukan di berbagai negara seperti India, Myanmar, Laos, Sri Lanka, dan lain-lain. Berbagai pendekatan dengan manajemen komunitas dipaparkan dalam publikasi ini. Penjelasan selengkapnya Klik Disini arrow, external, leave, link, open, page, url icon

Webinar Series : Emergency Medical Team (EMT)

http://www.bencana-kesehatan.net/images/2017/2/handoyo.jpgWebinar ini diselenggarakan pada Selasa, 20 Juni 2017 pukul 13.00-15.00 WIB. Pembicaranya adalah dr. Handoyo Pramusinto, SpBS (Ketua PokJa Bencana FK UGM). Berdasarkan INPRES No. 4 Tahun 2013, setiap Kabupaten/ Kota diwajibkan untuk membentuk PSC. Permenkes No. 19 pada 2016 lalu juga membahas tentang SPGDT. Dampaknya adalah Emergency Medical Team (EMT) atau tim medis reaksi cepat akhirnya tidak hanya ditujukan sebagai kesiapsiagaan respon bencana saja, namun bagaimana kecepatan pengiriman tim atau hal lainnya. EMT berperan penting sebagai aspek dari SDM kesehatan yang kompeten untuk penyelenggaraan dua kebijakan tersebut. Hal yang lebih menarik lagi adalah kerangka kerja EMT di Indonesia juga telah dinisiasi oleh oleh Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes dan pihak terkait pada November 2016 lalu. Peraturan baru ini memunculkan gairah baru dalam diskusi tentang kebencanaan di Indonesia. Topik ini dapat disimak melalui webinar yang akan diselenggarakan ini. Penjelasan selengkapnya Klik Disini arrow, external, leave, link, open, page, url icon

 

Webinar Sejarah Keperawatan Bencana di Jepang

mayumi kako

mayumi kakoJepang memiliki banyak pengalaman bencana karena berada di lokasi pacific rim of fire. Jepang juga merupakan target bencana CBRNE yang terjadi pada 1995, kejadian kereta bawah tanah Sarin. Webinar ini akan menceritakan tentang perkembangan yang pesat dari bencana kesehatan, terutama berfokus pada keperawatan bencana di Jepang. Pembicara akan menyimpulkan tentang keperawatan bencana yang terjadi di Jepang dan memaparkan tentang overview sistem organisasi, khususnya pada situasi bencana. Webinar ini diselenggarakan oleh WADEM pada 29 Juni 2017 Pukul 08:30 (ACST/waktu Australia). Pembicara dalam webinar ini adalah dosen Flinders University dan Associate Director dari Torrens Resillience Institute yaitu Dr. Mayumi Kako. Ia mengembangkan ketertarikannya di bidang penelitian bencana kesehatan berdasarkan pengalamannnya sebagai relawan setelah bencana gempa bumi yang terjadi pada 1955 di Jepang. Pembaca yang ingin mengikuti webinar ini dapat melakukan registrasi dengan Klik Disini arrow, external, leave, link, open, page, url icon