Buku ini terdiri dari 8 bab yang menjelaskan tentang “Menuju Sekolah Tangguh Bencana”. Anak-anak sebagai generasi penerus bangsa menghabiskan banyak waktunya di sekolah. Sekolah sebagai tempat mendapat informasi atau pengetahuan umum. Mengingat Indonesia yang memiliki potensi bencana yang besar, sekolah dapat menjadi salah satu bagian dalam persiapan kesiapsiagaan bencana. Rangkaian kegiatan di sekolah dibentuk berkesinambungan dan holistik baik struktural maupun non struktural tujuannya untuk menciptakan sebuah sekolah yang aman dan tangguh bencana. Kepentingan tersebut dijelaskan di bab pertama buku ini. Masing-masing bab berikutnya menjelaskan langkah-langkah sekolah menjadi tangguh bencana. Buku ini tepat untuk keluarga dan pihak sekolah sebagai bahan pembelajaran dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi generasi penerus bangsa. Simak penjelasan selengkapnya Klik Disini ![]()
WEBINAR 30 MARET 2017 : PENGELOLAAN LOGISTIK MEDIS PADA SAAT BENCANA
Mengingatkan kembali kepada seluruh pemerhati beencana di Indonesia untuk mengikuti webinar series bulan Maret tentang “Pengelolaan Logistik Medis Pada Saat Bencana” yang disselenggarakan pada Kamis, 30 Maret 2017 Pukul 13.00-15.00 WIB. isu, kebijakan seta permasalahan lainnya dalam logistik medis dapat didiskusikan melalui webinar bulan ini. Simak TOR selengkapnya Klik Disini ![]()
Reportase Webinar Logistik Medik Pada Bencana
Reportase
Webinar Logistik Medik Pada Bencana
30 Maret 2017

Webinar series divisi manajemen bencana PKMK FK UGM untuk Maret mengangkat topik Kesiapsiagaan Logistik Medik pada Bencana: Refleksi Seminar ASM Pokja Bencana 9 Maret 2017. Webinar tersebut dimoderatori oleh Intan Anastasia, S.Far., Apt., M.Sc dan materi yang pertama disampaikan oleh dr. Sulanto Saleh-Danu, Sp.FK dari Pokja Bencana FK UGM.
Logistik merupakan suatu hal yang penting dalam segala aspek, hal yang sama berlaku saat keadaan bencana. Bencana merupakan suatu keadaan yang bisa datang setiap saat, sementara sebagai penentu berhasil atau tidak penanganan bencana tersebut berdasarkan logistiknya. Salah satu dampak bencana adalah munculnya suatu penyakit menular/ infeksi. Fakta yang terjadi pada bencana di Bantul yakni berkembangnya penyakit infeksi, bantuan yang berlimpah, tidak ada bantuan vaksin, bahan/ obat kadaluarsa pendek, buffer stock belum terseragamkan, dan adanya inkoordinasi antara bantuan logistik.
Pada saat bencana, terjadi banyak organisasi dan lembaga yang memberikan bantuan dan pertolongan. Dalam kegiatan bantuan atau pertolongan tersebut dibutuhkan suatu logistik yang memadai. Salah satu penyakit yang terjadi pada saat bencana di Bantul adalah tetanus, yang disebabkan oleh faktor kebersihan, kejatuhan puing-puing rumah, tertusuk paku yang berkarat, dan lain-lain.
Terdapat 3 fase dalam penanganan bencana, yaitu pra bencana, respon bencana, dan pasca bencana. Kegiatan yang dilakukan pada saat pra bencana seperti assesment tingkat risiko dimana dari BNPB telah memiliki buku panduan yang dapat digunakan sebagai acuan. SDM pun harus dipersiapkan, terutama skill dalam penanganan bencana sehingga pada saat bencana terjadi maka tim telah siap. Logistik juga harus dipersiapkan sebelum terjadinya bencana. Dalam 3 fase tersebut diperlukan logistik dan kebutuhan yang berbeda-beda.
Penanganan bencana pada setiap daerah diperlukan manajemen bencana, disaster plan, serta terdapat rumah sakit yang telah memiliki Hospital Disaster Plan (HDP). Rencana persiapan yang sangat matang diperlukan dalam mitigasi, selain itu juga tetap perlu disiapkan untuk rencana cadangan. Tim surveilans dan tim Rapid Health Assesment (RHA) perlu dipersiapkan untuk berangkat ke medan bencana dengan tujuan untuk mendapatkan data dan mengetahui situasi pada lokasi bencana.
Logistik yang diperlukan dalam bencana bukan hanya dalam kesehatan yakni obat dan peralatan penunjang kesehatan, melainkan juga diperlukan logistik non kesehatan seperti: air, makanan, kebutuhan administrasi, tempat berlindung dan kelistrikan, kebutuhan pendidikan, dan seterusnya. Kebutuhan yang diperlukan oleh relawan juga diantaranya tenaga yang terlatih, transportasi, komunikasi dan aksesibilitas, serta peta lokasi.
Donasi akan sangat banyak berdatangan pada saat bencana, sehingga diperlukan pengecekan seperti item yang diberikan, jumlahnya, siapa donaturnya, kadaluarsa, dan lain-lain. Perlu diperhatikan juga untuk penyimpanan, sehingga diperlukan gudang penyimpanan obat dalam tiap kabupaten. Gudang tersebut juga dipastikan untuk daya tampungnya, lokasi, fasilitas, dan pendingin untuk obat tertentu.
Pembicara kedua oleh Danang Samsu, ST yang merupakan manager Pusdalob BPBD DIY. Logistik sangat penting dalam segala hal, karena tanpa logistik maka kegiatan tidak akan berjalan. Manajemen logistik juga diperlukan mulai dari saat penerimaan, penyimpanan obat, distribusi, hingga pertanggungjawaban yang mungkin diperlukan penghapusan obat juga. Untuk wilayah DIY juga telah dibentuk klaster logistik oleh BPBD, dimana untuk jangka panjang akan bekerjasam dengan klaster kesehatan dalam penanganan bencana. Dalam klaster harus terdapat 1 komando, agar koordinasi lebih mudah dan tidak mengurangi kekacauan.
Pertanyaan pun banyak diajukan oleh peserta webinar baik yang hadir pada lokasi maupun yang mengikuti secara online. BPBD saat ini telah menyiapkan desa tangguh bencana dimana warga juga dilatih mengelola logistik, sehingga diharapkan warga tetap dapat bertahan setidaknya 3 hari tanpa bantuan dari luar. Saat ini juga telah dipersiapkan logistik untuk makanan, dimana bekerja sama dengan toko, supermarket serta supplier dan dipastikan untuk logistik tersebut akan selalu baru.
Undang – Undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, menyatakan bahwa penanggung jawab pada bencana adalah pemerintah daerah. Uji kompetensi diperlukan agar pemda lebih percaya diri untuk memimpin, karena selama ini justru dari NGO atau lembaga eksternal yang mengatur dan memberikan komando. Peraturan tersebut dapat digunakan untuk dasar dalam proses hukum bahkan sampai ke pidana apabila terdapat lembaga atau organisasi yang tetap tidak mau menurut.
Reporter: Wisnu Damarsasi, MPH
EMA builds county resource list for use in natural disasters
A countywide resource list is something Jeanna Barnes said the county has been wanting for a long time.
Yesterday, Barnes announced to the Pike County Commission that they have officially gotten a list together.
Barnes explained that the list details where resources such as barricades, signage and equipment can be found.
But it doesn’t just list items Barnes said.
“The list also inludes personnel,” Barnes said. “So we can see how many firefighters we have, how many police officers. We’ve gotten information from all the volunteer fire departments already.”
Right now the list is still just a physical copy, but Barnes said officials are working to get the list to be accesible digitally.
Things are still fluid right now with the resource list, Barnes told the commission.
When commissioners asked Barnes who has access to the list, she replied that it is currently available to those who ahd given information about resources to the EMA, but that access is something that could be changed depending on the wishes of the commission.
Not only can city and county agencies get involved to help the EMA, but local businesses as well.
Barnes said local business such as equipment companies can get added to the resource list so officals can quickly see where needed resources are at in the county and access them more quickly.
“When a natural disaster hits, resources are spread thin and we don’t want to wait for the State or FEMA to come in,” Barnes said. “We want to be as self-sustainable as we can be. This allows us to do that.”
BPBD Tangerang Belum Terima Laporan soal Kerusakan Akibat Puting Beliung
Tangerang – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang mengaku, belum mendapat laporan adanya kerusakan akibat angin puting beliung.
“Belum kami terima, atau memang tidak ada. Karena kalau ada pasti laporannya sudah masuk,” kata Najamuddin, Kabid Rekonstruksi dan Rehabilitasi BPBD, Rabu (29/3/3017).
Pihaknya mengimbau agar pemerintah desa dan kecamatan tetap siaga guna mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana akibat cuaca buruk.
“Koordinasi wilayah di tingkat desa dan kecamatan sangat diperlukan. Sehingga apabila terjadi bencana kita bisa cepat tanggap,” ujarnya.
Kata dia, logistik menjadi komponen penting dalam membantu masyarakat.
“Logistik sudah kita siapkan, sudah tersedia. Kalau yang lainnya nanti bisa menyusul,” jelasnya.
Ia berharap, pemerintah desa dan kecamatan tidak lama mengajukan permohonan bantuan jika wilayah dilanda bencana.
“Untuk permohonan bantuan minimal kontak personal, suratnya bisa menyusul,” imbuhnya.(Nda)
Sejak 1 Januari, Jumlah Bencana di Indonesia Dekati 1.000 Kasus

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan ada 855 bencana yang terjadi dari 1 Januari hingga 27 Maret 2017 di seluruh Indonesia.
“Dari 855 bencana yang terjadi, menyebabkan 96 meninggal dan hilang,” Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho kepada Republika.co.id, Selasa (28/3).
Selain itu, ia menyebut, terdata sebanyak 226 orang mengalami luka-luka, 917.628 menderita dan mengungsi. Bencana tersebut juga membuat 10.019 unit rumah rusak, masing-masing, 1.688 rumah rusak berat, 1.595 rumah rusak sedang, dan 6.736 rusak ringan. Selain itu, sebanyak 139.634 rumah terendam banjir.
Sutopo menyebut, sebanyak 405 fasilitas umum mengalami kerusakan, masing-masing, 233 fasilitas pendidikan, 146 fasilitas peribadatan, dan 26 fasilitas kesehatan. Ia mengatakan, banjir menjadi penyebab dominan korban meninggal dan hilang karena bencana. Sutopo menyebut, daerah yang paling banyak mengalami bencana, yakni Sumatra Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan hujan lebat disertai angin kencang dan petir masih akan terjadi di sejumlah daerah di Indonesia. Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi terjadi di Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Bengkulu, Lampung, Sumatra Selatan, Banten, Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Maluku Utara, Papua Barat dan Papua.
Pada 28-29 Maret 2017, BMKG memberikan peringatan dini pada Aceh, Sumatra Utara, Riau, Sumatera Barat, Jambi, Sumatra Selatan, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku dan Papua.
Pada 30-31 Maret 2017, BMKG memberikan peringartan dini pada Sumatra Utara, Bengkulu, Jambi, Jawa Barat, Jabodetabek, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Maluku,
Papua Barat dan Papua.
Sementara pada 1-3 April 2017, BMKG memberikan peringatan dini terhadap Sumatra Utara, Sumatra Barat, Bangka Belitung, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku, Papua Barat dan Papua.
Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu: indoHCF 3rd National Seminar & Workshop
Indonesia Healthcare Forum (IndoHCF) mengundang seluruh bagian kesehatan di Indonesia untuk bergabung dalam rangkaian kegiatan IndoHCF Innovation Award. Salah satu rangkaian kegiatannya adalah seminar dan workshop terkait dengan Emergency and Disaster serta E-health. Tanggal 22 Maret 2017 diadakan seminar tentang “Strategi Penguatan SPGDT-S dan SPGDT-B di Indonesia”. Kegiatan dilanjutkan dengan workshop tentang “Manajemen SPGDT Pra-Rumah Sakit” dan “Manajemen Penanggulangan Bencana di Bidang Kesehatan”. Pendaftaran dapat dilakuakan melalui Klik Disini ![]()
Publikasi Management Banjir di Inggris: Implementasi Catchment Based Management (CBFM) dan Natural Flood Management (NFM))
Informasi pertama terkait dengan manajemen banjir yang dapat dipelajarisecaraluas. Paper ini menjelaskan tentang manfaat dan efektivitas dari implementasi Catchment Based Management (CBFM)dan Natural Flood Management (NFM) di Inggris. Review tentang bukti ilmiah penting terkait dampak penggunaan kedua cara mengatasi permasalahan banjir seperti cara menjaga dan meningkatkan sistem monitoringlevel tinggi air, peralatan untuk praktisi, peningkatan komunikasi dan kolaborasi antar bagian dalam penanganan banjir. Penjelasan selengkapnya Klik Disini ![]()
Perubahan Iklim dan Cuaca Ekstrim : Raport Merah 2016, Tahun Terpanas Secara Global
Climate Council of Australia mempublikasikan laporan yang berjudul “Cranking Up the Intensity: Climate Change and Extreme Weather Events”. Tahun 2016 tercatat sebagai tahun terpanas secara global. Laporan ini memberikan informasi kepada pembaca tentang semua kejadian cuaca ekstrim seperti curah hujan ekstrim, kekeringan, cuaca panas dandinginektrim, dan lain-lain. Rangkuman kejadian-kejadian penting terkait iklim yang ekstrim di dunia khususnya di Australia dipaparkan. Melalui informasi yang diberikan, kita dapat menilai potensi kejadian di Indonesia dan solusi terbaik untuk mengatasinya. Laporan ini dapat menjadi pilihan bacaan bagi pembaca untuk menghadapi perubahan cuaca di Indonesia. Penjelasan lengkapnya Klik Disini ![]()
Webinar Series 30 Maret 2017: Pengelolaan Logistik Medis
Rekan pembaca, mengingatkan kembali untuk webinar selanjutnya terkait Logistik Medis Saat Bencana pada akhir bulan ini, tepatnya pada 30 Maret 2017. Bagi pembaca yang ingin lebih memahami tentang pengelolaan logistik medis dan ingin mendiskusikan permasalahan-permasalahan terkait topik ini dapat berpartisipasi aktif melalui webinar tersebut. TOR selengkapnya simak Klik Disini ![]()