Banjir di Polman Rendam Pemukiman Warga

Makassar – Hanya sehari surut, bencana banjir kembali melanda tiga kelurahan di Kecamatan Binuang. Polewali mandar, Sulawesi Barat, Selasa, (28/5/2013). Tiga kelurahan tersebut adalah Kelurahan Mammi, Kelurahan Tanro, dan Kelurahan Polewali.

Continue reading

‘Slow-slip’ quake happening off Wellington

What would be Wellington’s biggest earthquake in 150 years is happening right now – not that you’ll feel the jolt. The magnitude-7 equivalent quake, 40km deep, is a “slow-slip” event, when the movement of tectonic plates occurs over hours to months rather than seconds.

Continue reading

Tanggap Darurat Gelombang Pasang

MATARAM-Gelombang pasang yang menerjang pesisir Kota Mataram kali ini lebih parah dari sebelum-sebelumnya. Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh pun telah menetapkan masa tanggap darurat selama tiga hari, terhitung sejak Sabtu (25/5) lalu. ’’Berdasarkan perkiraan dan informasi yang saya terima, (gelombang pasang) bisa tiga hari,’’ kata wali kota, Minggu (26/5).

Continue reading

Pengantar Minggu ini 20-26 Mei 2013

magetan-hosdip1

Pelatihan HOSPITAL DISASTER PLAN di Rumahsakit dr. Sayidiman Magetan

magetan-hosdip1PKMK-Magetan, Telah dilaksanakan Pelatihan Hospital Disaster Plan di Rumahsakit Sayidiman oleh Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM. Pelatihan berlangsung selama dua hari (Rabu-kamis, 15-16 Mei 2013). Pelatihan yg diikuti lebih dari 30 peserta yang terdiri dari tenaga medis dan staff rumahsakit ini dibuka pagi ini di ruang pertemuan RS dr.Sayidiman.


Perlunya Standarisasi, Akreditasi dan Klasifikasi Tim Bantuan Medis dalam Bencana

fk-ugm-dok-merapiIndonesia merupakan negara dengan tingkat frekuensi bencana yang tinggi. Hal ini mendorong tim kesehatan, termasuk tim bantuan medis untuk memberikan pelayanan dan bantuan terhadap korban akibat dampak bencana yang terjadi terutama pada fase akut. Pada proses penanggulangan bencana, peran Tim Medis sangat penting.
Berdasarkan pengamatan selama bencana mulai dari Tsunami Aceh tahun 2004 sampai Letusan Gunung Merapi tahun 2012, ada dua hal yang cukup menonjol. Pertama, perkembangan kuantitatif maupun kualitatif dari Tim Bantuan Medis Indonesia serta banyaknya Tim Medis Asing yang terlibat. Kedua, kurangnya sistem yang mengatur dan mengkoordinir (Controll and Coordination) aktivitas Tim Medis tersebut. Ketiadaan sistem tersebut dapat dilihat dari tidak adanya pedoman yang mengatur standar kompetensi dari Tim Bantuan Medis, maupun evaluasi kinerjanya.
Selama ini, belum ada regulasi untuk pengaturan tim medis yang datang ke daerah bencana baik untuk tim medis lokal maupun tim medis asing. Masalah manajemen dan profesionalisme dari Tim Medis ini memang sangat vital karena akan menentukan hasil akhir. Policy Brief ini ditujukan untuk pemerhati kebencanaan dan pengambil kebijakan di Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan  Kementrian Kesehatan khususnya Pusat Penanggulangan Krisis Kemenkes.
Selengkapnya Policy Brief ini, silahkan klik-disini

Pertimbangan Pemilihan Manajer Lokal pada Penanggulangan Bencana

disaster-leader

disaster-leaderKondisi bencana jelas berbeda dengan saat normal. Karakteristik yang sangat membedakannya adalah ketidakterdugaan dan peningkatan jumlah dalam waktu singkat, baik peningkatan jumlah pasien, jumlah kebutuhan alat kesehatan dan obat, serta ruang yang aman. Seorang manajer dalam kondisi normal bisa menjalankan tugasnya dengan baik, tetapi belum tentu pada masa bencana. “Shock” keadaan bisa mempengaruhi kondisi manajer. Terdapat beberapa kasus pada penanggulangan bencana, dimana manajer kesehatan lokal merasa tidak mampu menjalankan tugasnya, mengundurkan diri atau meminta digantikan.

Misalnya saja di rumah sakit, saat bencana sudah pasti akan timbul korban, dari yang ringan sampai meninggal dunia. Kondisi ini masih ditambah dengan jumlah korban yang terus meningkat. Kondisi seperti inilah yang mudah menimbulkan kepanikan dan kekacauan dalam penanganan korban di rumah sakit. Hal ini terjadi saat rumah sakit tidak mengalami bencana, bagaimana jika sebuah rumah sakit juga mengalami bencana? Dengan sumberdaya yang tersisi rumah sakit tetap menjalankan fungsinya untuk memberikan layanan kesehatan kepada korban.

Kondisi bencana sering disebut dengan kondisi yang “kacau” atau chaos, namun, pengorganisasian harus tetap dijalankan. Jika tidak, kondisi “kacau” akan semakin memperparah keadaan dan berdampak pada korban. Disinilah muncul peran manajer lokal dalam penanggulangan bencana daerahnya, atau pimpinan jika kondisinya di rumah sakit. Manajer ini yang menjadi komando pengorganisasian penanggulangan bencana di daerah. Ia juga bertanggungjawab untuk mengelola sumber daya yang dimilikinya untuk diatur dan dikoordinasikan.

Siapakah yang pantas menjadi manajer pada saat penanggulangan bencana? Umumnya pada kondisi bencana, pemerintah daerah yang berperan, dalam hal ini gubernur atau bupati yang langusng menjadi komandannya. Kemudian, sejak ada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) maka BPBD lah yang berperan. Siapa yang menjadi komandannya bisa juga tergantung dari dokumen penyusunan rencana penanggulangan bencana daerah. Semakin sebuah daerah atau rumah sakit siap dengan rencana penanggulangan bencana maka harapannya pengorganisasian pada masa bencana bisa efektif dan efisien.

Pada beberapa artikel penelitian dan buku-buku pedoman kebencanaan disebutkan, pentingnya kehadiran manajer pada masa bencana. Karena semua bencana bersifat lokal, maka manajer yang dibutuhkan juga bersifat lokal. Manajer lokal adalah orang yang memiliki pemikiran tajam dan kritis yang telah mengenal daerahnya dengan baik sehingga dapat bertindak efektif. Tugas manajer lokal bertanggungjawab untuk keselamatan dan kesejahteraan masyarakat, dia dituntut mampu berpikir kritis untuk mengidentifikasi dan mengantisipasi situasi, memecahkan masalah, dan membuat keputusan secara efektif dan effisien. Namun, kembali lagi, kondisi bencana berbeda dengan kondisi normal sehingga pemilihan lokal manajer juga harus mempertimbangkan beberapa hal.

Penelitian Stacy dan Metthew tahun 2013 yang mencoba mencari korelasi antara kemampuan manajer lokal pada masa bencana dengan karakteristik umur, pendidikan, pengalaman, dan jenis kelamin memperlihatkan bahwa korelasi yang cukup mempengaruhi kemampuan manajer lokal adalah pendidikan dan pengalaman.  Pada dasarnya, salah satu faktor yang membentuk sikap seseorang adalah pengalamannya. Terutama pada masa krisis seperti bencana, dimana tekanan semakin menigkat, maka pengalaman menangani masa krisis sebelumnyalah yang bisa membuat manajer lebih tenang. Sedangkan, faktor pendidikan diduga berkorelasi karena dianggap dengan semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin banyak kasus pembelajaran yang telah dilaluinya. Dengan demikian, faktor pendidikan dan pengalaman kebencanaan dapat dipertimbangkan untuk memilih manajer lokal dalam penanggulangan bencana. selain itu, pemberian pelatihan kebencanaan dan studi kasus kebencanaan dapat menjadi upaya peningkatan pengalaman dan pemikiran kritis manajer lokal.

Rujukan:

Peerbolte SL, Colline ML. 2013. Disaster management and the critical thinking skill of lokal emergency managers: correlation with age, gender, aducation, and years in occupation. Journal Disaster; 37(1): 48-60.

Tujuh Gunung di Indonesia Berstatus Siaga

Manado – Tujuh gunung api di Indonesia ditetapkan status siaga, oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Bandung. “Sebaran terbanyak berada di Sulawesi Utara masing-masing Gunung Soputan, Karangetang dan Lokon,” kata Kepala PVMBG, Surono di Manado, Jumat,  (25/5/13).

Continue reading