Workshop Adaptasi dan Mitigasi Kebijakan Kesehatan terhadap Climate Change
PKMK – Sedang berlangsung workshop Climate Change Mitigation Adaptation Policy (CC MAP) yang diselenggarakan oleh FK UGM terdiri dari Kelompok Kerja (Pokja) Bencana FK UGM, Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan FK UGM, Minat Sistem Informasi Kesehatan IKM UGM, dan Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM. Ketiga pihak ini bekerjasama dengan Umea University Sweden mengadakan Workshop tentang Climate Change Mitigation and Adaptation Policies in the Health Sector. Workshop akan dilaksanakan selama lima hari terhitung hari ini, 15 April hingga 19 April 2013. Workshop 15-16 April 2013) berlangsung di Gedung KPTU Lantai 3, FK UGM. Dua hari kemudian (17-18 April 2013) kegiatan akan dilanjutkan dengan kunjungan ke Gunung Kidul dan pada hari terakhir kembali ke FK UGM untuk melakukan diskusi penutup. Silahkan melihat jadwal kegiatan selengkapnya
Tim dari Universitas Gadjah Mada dan Umea University berangkat ke Gunung Kidul dengan dua buah mobil pada Rabu lalu (17/4/2013). Sepanjang perjalanan yang menanjak dan menukik membuat pengalaman baru bagi rekan dari Swedia. Kehijauan alam pertanian di sepanjang jalan menambah pengalaman mereka di Indonesia.
Kunjungan ke Puskesmas
Sekitar satu setengah jam kemudian, tim sampai di Gunung Kidul. Tujuan tim kali ini adalah Puskesmas Wonosari II. Puskesmas ini memperlihatkan tatanan yang masih asri, dari depan dapat dilihat ada balai yang kerap digunakan untuk penyuluhan atau dalam bahasa daerah setempat dikenal dengan “siaran kesehatan”. Pertama memasuki puskesmas tim disambut banyaknya pasien ibu dan anak. Hari ini bertepatan dengan hari posyandu tutur Kepala Puskesmas.
Semua poli di puskesmas mendapat kunjungan secara bergantian mulai dari poli umum, kesehatan ibu dan anak, hingga poli gigi, dan berakhir di Aula Puskesmas. Di aula lantai dua, kepala puskesmas memberikan presentasi mengenai keadaan penyakit dan layanan kesehatan di wilayah kerjanya. Sepuluh penyakit terbanyak selama tahun 2012 hingga 2013 masih ditempati oleh ISPA dan demam berdarah. Dengan meningkatnya cakupan asuransi baik Jamkesmas dan Jamkesda hingga triwulan pertama tahun 2013 jumlah kunjungan puskemas mengalami peningkatan. Puskesmas juga mengembangkan upaya kesehatan kerja yang berada di tempat industri menengah dan pasar.
Kunjungan ke Posyandu
Sekitar pukul sepuluh, pihak puskesmas Wonosari II mengajak tim menuju Posyandu di Dusun Trimulyo Desa Kepek. Kurang lebih lima menit tim sampai di posyandu. Posyandu ini merupakan tempat sekolah anak-anak usia dini (PAUD) dan disampingnya merupakan balai yang biasa digunakan untuk kegiatan posyandu juga. Sambutan pertama kepada tim adalah senam sehat gembira, anak-anak bersemangat melakukan gerakan senam bersama para guru.
Hari ini di posyandu sedang diadakan survei yang bertujuan untuk pemantauan dan penemuan kasus gizi kurang dan ketidaknormalan tumbuh kembang. Suasananya posyandu selain ramai dengan ibu yang membawa anaknya, ada juga nenek-nenek yang membawa cucunya, juga mainan anak yang berserakan. Dari cara bermain anak dan interaksinya dengan teman sebayanya kami bisa mengobservasi bagaimana perkembangan anak tersebut, tutur salah satu petugas survei
Tim UGM, Umea University, puskesmas dan Dinas Kesehatan Gunung Kidul mendapat suguhan kue-kue tradisional dan teh hangat dari warga. Teh hangat yang disuguhkan menggunakan gelas dan penutup dari aluminium merupakan budaya menjamu tamu terbaik yang dilakukan masyarakat Indonesia.
Kunjungan ke Rumah Sakit
Beranjak dari posyandu, tim diajak untuk mengunjungi Rumah Sakit Umum milik Pemerintah Gunung Kidul. Rumah sakit yang masih terbilang baru dibangun ini bernuansa biru sejuk. Ruangan rekam medis menjadi tempat pertama yang dilihat, lalu ke poli klinik terpadu, ke ruangan farmasi dan apotek, radiologi, dan ruang perawatan kelas III. Bagian-bagian inilah dalam rumah sakit nantinya yang erat berhubungan dengan teknologi informasi dalam penerapan e-health. Bagaimana sebuah rekam medis pasien tersimpan dengan baik dan aman serta mudah ditemukan kembali. Bagaimana konsultasi radiologi bisa dilakukan oleh dokter di rumah sakit Gunung Kidul yang terhubung dengan rumah sakit yang ada di Jogjakarta misalnya untuk memperkuat diagnosa atau hal lainnya.
Sambutan Pemerintah Gunung Kidul
Usai kunjungan ke rumah sakit, perjalanan dilanjutkan ke sebuah pondok Baron. Pondok Baron sebuah rumah makan sekaligus tempat beristirahat bagi turis yang ingin berlibur ke pantai-pantai yang dimiliki Gunung Kidul. Akses Pondok Baron ke pantai Kukut tidak lebih dari lima menit perjalanan menggunakan kendaraan bermotor.
Di Pondok Baron, Bupati Gunung Kidul beserta staff sudah menunggu. Setibanya disana tim langsung disuguhi dengan hidangan makan siang khas laut dan tradisional Indonesia. Ikan bakar, ikan masak asam, udang, dan kepiting, cah kangkung, dan sambal super pedas. Sebuah pengalaman baru bagi tim Umea University.
Bupati Gunung Kidul, Badingah, S.Sos juga mengajak tim mendatangi pantai Kukup. Menyuguhi dengan hidangan ringan seperti singkong goreng, pisang rebus, dan kacang rebus. Makanan tradisional yang banyak ditemui di Gunung Kidul dan mengandung banyak karbohidrat dan protein yang baik untuk tubuh. Tidak lupa segarnya kelapa muda menjadi penyangga haus bagi tim setelah menikmati pantai Kukup. Sebuah pantai landai dengan penjagaan karang besar pada sisi kanan dan kirinya, airnya biru dan terkadang terlihat hijau, bersih dan segar airnya, serta pasir putih yang menggelitik kaki.
Tim kembali diajak, Bupati Gunung Kidul ke pantai Krakal. Pantai Krakal sedikit berbeda dengan pantai Kukup. Pantai Krakal memiliki tebing karang Sarangan. Dari atas Sarangan kita bisa menikmati seluruh pemandangan di bawahnya. Menoleh ke sebelah kanan kiri, kita akan melihat pemandangan yang hijau berupa hutan dan pertanian dengan sesekali rumah penduduk diantaranya. Menoleh ke kiri, kita akan melihat laut lepas dengan ombak yang cukup tinggi dan keras menghantam karang-karang. Sedangkan menatap ke depan, kita akan melihat hampir seluruh pesisir yang dimiliki Gunung Kidul.
Menjelang sore tim kembali ke Jogjakarta menggunakan jalur yang berbeda dengan jalur kedatangan. Di jalur yang lebih sempit ini, perjalanan tim disambut oleh sebagian besar hutan jati. Gunung Kidul memang penghasil kayu Jati. Kayu Jati merupakan bahan dasar pembuatan furnitur karena serat kayunya yang indah, kuat, dan tahan rayap.
Workshop hari kedua ini membahas tentang kesiapan untuk implementasi dan pengembangan e-health. Pengembangan e-health memerlukan penguatan tim teknis mengenai biomedis dan kelancaran sistem informasi kesehatan yang dibangun suatu daerah. Hari kedua ini masih di hadiri oleh tim dari kedua universitas, Gadjah Mada dan Umea, Sweden. Selain itu, hadir pula perwakilan dari Dinas Kesehatan Provinsi Yogyakarta, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, dan Rumah Sakit Sardjito.
Sesi I : Teknis Biomedis dan Sistem Informasi yang Kuat diperlukan dalam Implementasi dan Pengembangan E-Health
Materi pertama hari kedua ini disampaikan oleh Prof. Ronnie Lundstrom. Prof. Ronnie berasal dari Umea University Hospital (Center for Biomedical Engineering and Radiation Physics) dan Umea University (Departement of Public Health and Clinical Medicine Occupational and Enviromental Medicine). Pada sesi ini, Prof. Ronnie mengenalkan badan-badan di Swedia yang fokus mengembangkan ehealth dan sistem informasi kesehatan, antaralain Umea University Hospital (UHU), Departemennt of Biomedical Engineering and Informatics (UHU/BMEI), Swedish Society for Biomedical Engineering and Physics (MTF), dan Swedish Federation for Medical Informatics (SFMI). Terpenting berikutnya, Prof. Ronnie menjelaskan tentang daerah Vasterbotten Country Council (VCC), merupakan daerah bagian utara Swedia dan daerah yang menerapkan ehealth oleh rumah sakit Umea.
Visi VCC pada tahun 2020 akan menjadi daerah dengan pelayanan dan status kesehatan terbaik di dunia dengan penerapan e-health pada pelayanan kesehatan masyarakat. Saat ini UHU dan BMEI memiliki tugas utama memberikan pelayanan berkualitas, melakukan penelitian, dan pengejaran. Saat ini didukung hingga 5.700 staff untuk mengusahakan pemanfaatan sistem informasi kesehatan yang dilindungi hukum dan regulasi, membuat struktur informasi, membangun inprastruktur, penguatan sistem informasi kesehatan, memfasilitasi berjalannya sistem informasi antar organisasi, dan membuat sistem informasi mudah digunakan dan didapat masyarakat.
Diskusi sesi pertama ini berjalan lancar, beberapa pertanyaan dilontarkan kepada Prof. Ronnie untuk mendapatkan penjelasan lebih mengenai kerja BMEI dan UHU sebagai operator kesehatan di VCC. Materi selengkapnya silahkan
Video Arsip Prof. Ronie Lundstrom
Sesi II : Persiapan E-Health dan Carbon Cost Benefit penerapan E-Health
Menarik, sesi kedua ini secara parallel Dr. Asa Holmner dari Umea University, Sweden dan dr. Lutfan Lazuardi dari Universitas Gadjah Mada yang menyampaikan tentang kesiapan penerapan e-health.
Melanjutkan pembahasan pada sesi I, Asa kembali menjelaskan sedikit kesiapan Swedia dalam menerapkan ehealth. Kemudian, Asa lebih menjelaskan tentang komponen sistem informasi seperti mobile, wifi, kestabilan pasokan listrik, dan kemampuan menangkap dan menyimpan format data digital. Di Sswedia ada jaringan teknologi informasi sejak tahun 2002 dimana pelayanan kesehatan di Swedia terhubung dengan jaringan yang disediakan SJUNET.
dr. Lutfan melanjutkan pemaparan mengenai survey sistem informasi di Indonesia. Diketahui bahwa pengetahuan petugas sistem kesehatan dinas kesehatan masih rendah. Padahal di Indonesia terdapat hampir 9000 puskesmas yang tersebar baik di daerah kota hingga daerah terpencil. Penerapan ehealth menjadi tantangan bagi Indonesia karena kurangnya tenaga kesehatan yang kompeten mengenai sistem informasi, kurangnya dukungan kebijakan dan regulasi, keterbatasan inpastruktur, sosiokultur dimana masyarakat masih menganggap sangat penting bertemu langsung dengan dokter praktek, dan memerlukan biaya investasi yang tinggi.
Diskusi berlanjut dengan peserta yang antusias ingin mengetahui perkiraan hambatan implementasi telemedicine di daerah. Berdasarkan hasil survei diketahui bahwa tantangannya mengenai biaya, budaya organisasi yang menganggap sistem informasi justru menyulitkan pekerjaan, dan kurangnya kemauan dari tenaga kesehatan. Sedangkan infrastruktur, kurangnya tenaga ahli, kurangnya dukungan kebijakan dianggap tidak terlalu menghambat.
Sesi III: Kesiapsiagaan dalam Kebencanaan
Sesi ketiga diisi oleh pembicara dari Pokja Bencana FK UGM. Pokja Bencana diwakili dr. Bella Donna, dr. Handoyo, dan dr. Hendro. Pokja bencana berkesempatan menjelaskan tentang kegiatan Pokja Bencana sejak tahun 2007 dan pengalaman penanggulangan beberapa bencana di Indonesia.
dr. Bella menceritakan sejarah berdirinya Divisi Bencana yang berada di bawah Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM. Kini Divisi Bencana juga bergabung dalam Pokja Bencana FK UGM bersama Rumah Sakit Sardjito dan Rumah Sakit Akademik dan aktif hingga saat ini. Pokja Bencana mengembangkan Hospital Disaster Plan (HDP) dan Regional Disaster Plan (RDP), kurikulum kebencanaan, dan pananggulangan bencana. Bencana kerap terjadi di Indonesia, dan UGM sebagai universitas terkemuka dirasakan perlu membentuk pokja yang khusus menangani tentang bencana. Materi dr.Bella dan dr. Handoyo silahkan
Arsip Video dr Bella Dona
dr. handoyo, selaku ketua Pokja Bencana FK UGM melanjutkan presentasi mengenai beberapa bencana yang terjadi, seperti letusan Gunung Merapi Jogjakarta dan banjir Jakarta. Beragam pembelajaran telah diperoleh dari kejadian bencana tersebut terkait persiapan yang harus disiapkan rumah sakit dan pemerintah jika terjadi bencana. Kemudian, dikembangkan Hospital Disaster Plan sejak beberapa tahun lalu guna mempersiapkan rumah sakit menghadapi bencana. Sementara, untuk tingkat daerah dikembangkan Regional Disaster Plan atau Regional Management Disaster Plan (RMDP). Keberadaan RMDP memerlukan komponen yang saling mendukung seperti aspek legal, pendanaan, perencanaan, keberadaan institusi, dan pengembangan tim.
Arsip Video dr. Handoyo
Kegiatan workshop hari ini ditutup dengan diskusi cukup panjang. Rekan dari Umea University tertarik dengan keberadaan Indonesia sebagai negara yang sering dilanda bencana. Hal unik dan menimbulkan pertanyaan bagaimana sikap Indonesia menghadapi keadaan daerah yang seperti ini. dr. Hendro Wartatmo sebagai salah satu Advisory Board Pokja Bencana FK UGM, kembali menceritakan sejarah pokja bencana di FK UGM. Berawal dari bencana gempa tsunami Aceh dan Bantul, hampir dipastikan bahwa kerusakan dan banyaknya korban pada saat bencana terjadi karena kita memang tidak memiliki konsep menajemen bencana dan pengetahuan kesadaran masyarakat rendah terhadap bencana. Berawal dari itulah dirintis Pokja Bencana yang berpartisipasi dalam pendidikan, pelatihan, dan penanganan penanggulangan bencana di Indonesia.
Jakarta – Badan Pangan Dunia (WFP) menerima hibah sebesar US$1,25 juta dari United States Agency for International Development/Office of U.S. Foreign Disaster Assistance (USAID/OFDA) untuk mendukung program pengurangan risiko bencana WFP di Indonesia.
MANILA — Military officials from 11 countries in the Asia Pacific region met in Manila Monday to try to improve cooperation when maritime disasters strike in international waters. Participants included representatives from China and several countries that all have competing claims in nearby disputed waters.
Workshop Climate Change and Adaptation Policies in the Health Sector oleh FK UGM dan Umea University merupakan kegiatan lanjutan dari workshop serupa yang pernah diselenggarakan pada awal tahun 2013 di Swedia. Workshop kali ini diarahkan langsung untuk melihat keadaan Kabupaten Gunung Kidul sebagai daerah yang akan menjadi model percontohan pemanfaatan sistem informasi kesehatan.
Pembukaan
Workshop CC MAP dimulai dengan sambutan yang diberikan oleh Prof. Hari Kusnanto. Dalam sambutannya, Prof. Hari Kusnanto mengucapkan terimakasih atas kedatangan rekan-rekan dari Umea University, Sweden. Pada hari ini bersama-sama berkumpul dalam suatu forum workshop untuk merumuskan dan memikirkan mengenai tantangan climate change terhadap kesehatan. Workshop ini sangat berharga manfaatnya bagi kedua universitas dan kedua negara dalam menghadapi dampak climate change.
Sambutan sekaligus pembukaan secara resmi dilakukan oleh Prof. DR. dr. Teguh Aryandono, Sp.B(K)Onk, selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Beliau sangat senang dengan adanya workshop ini karena mampu mempertemukan kedua universitas dan pemerintahan kabupaten Gunung Kidul. Gunung Kidul menjadi daerah target guna dilakukan mitigasi dan adaptasi kesehatan untuk tindakan awal terkait dampak climate change terhadap kesehatan masyarakat.
Hubungan kerjasama ditandai dengan pertukaran kenang-kenangan antara universitas Gadjah Mada diwakili Dekan FK UGM dengan Umea University yang diwakili oleh Dr. Maria Nelson.
Perkenalan CC MAP Project
Dr. Maria Nelson mewakili untuk menjelaskan seputar CC MAP Project pada seluruh peserta workshop. CC MAP project bertujuan sebagai upaya penguatan adaptasi mitigasi disektor kesehatan dalam menghadapi dampak climate change bagi kedua negara, Indonesia dan Swedia. Selama ini, hal yang dilakukan dalam upaya penyebaran informasi mengenai dampak climate change terhadap kesehatan antara lain, melakukan penelitian mengenai climate change, mengadakan kajian kebijakan kesehatan menghadapi climate change antara Indonesia dan Swedia, memulai project e-health di Gunung Kidul, Indonesia dan Vasternbottens Country Council, Swedia, dan upaya diseminasi hasil workshop selama ini kepada pemerintah dan penyebaran informasi melalui media massa. Materi selengkapnya silahkan
Sesi I : Effect on Health in the District as a Result of Climate Change
Joacim Rocklöv beraffiliasi di Epidemiologi Gobal Halsa, Umeå University. Joacim merupakan peneliti yang berfokus mendalami hubungan perubahan iklim, cuaca, dan kesehatan. Fokus pemaparan Joacim mengenai efek climate change terhadap kesehatan. Peningkatan suhu satu derajat saja akan berdampak pada berubahnya pola perkembangbiakan vektor penyakit serta perubahan lingkungan, untuk itu sedini mungkin diperlukan adaptasi dan mitigasi terhadap climate change.
Beberapa kasus di Indonesia yang diperkirakan sebagai dampak climate change sebagai berikut:
Dampak climate change dirasakan oleh masyarakat pinggiran pantai. Peningkatan permukaan laut dan menurunnya populasi karang sehingga warga yang menggantungkan hidup dengan mencari kerang akan merasakan dampaknya.
Banjir juga kerap terjadi karena curah hujan yang tinggi dan berkepanjangan.
Masyarakat pertanian akan merasakan dampak climate change yang berhubungan dengan proses presipitasion.
Peningkatan suhu bumi satu derajat menyebabkan banyaknya kebakaran hutan. Kejadian El Nino tahun 1997 berdampak pada 6,8 juta hektar hutan terbakar.
Contohnya di Sleman yang masih menghadapi malaria dan dengue. Karena perubahan cuaca sensitif sekali mempengaruhi populasi dengue dan malaria.
Waterborne deseases mengalami peningkatan jumlah penyakit kolera, selalu terjadi di Tanggerang. Sama halnya seperti di Swedia yang terjadi peningkatan alga pada musim tertentu.
Diadakan e-survey singkat mengenai pengetahuan tentang climate change. Dihasilkan data yang kurang menggembirakan, dimana separuh responde menganggap climate change bukan issu global yang penting dibanding peperangan dan terorisme. Materi selegkapnya
Kemudian, dilanjutkan pemaparan oleh Prof. Hari Kusnanto mengenai dampak kesehatan akibat climate change. Khusus di Indonesia terjadi peningkatan titik kekeringan sedangkan pada daerah lain terjadi kelebihan air yang juga tidak bisa dimanfaatkan. Selain itu, terjadi pula perubahan penyakit diare yang terjadi sepanjang tahun. Sekarang diare tidak saja ditemukan pada musim penghujan tetapi juga musim kemarau. Di Jogjakarta, peningkatan kasus asma terjadi biasanya pada bulan Juli tiap tahunnya karena ini bulan-bulan dingin. Uniknya di Gunung Kidul terjadi kekeringan yang berkepanjangan akibatnya debu PM mencemari udara dan mengganggu pernafasan warga.
Kerugian jangka pendek dan panjang banjir adalah kehilangan harta benda dan menjadi korban. Sedangkan, jangka panjangnya terjadi malnutrisi dan penyakit infeksi. Efek climate change terhadap vektor penyakit memiliki hubungan yang erat. Dengan curah hujan yang tinggi maka terjadi peningkatan jumlah mikroba penyebab diare dan penularannya menjadi lebih mudah terbawa air. Sebaliknya malah terjadi penurunan populasi larva nyamuk karena tersapu dari habitatnya akibat banjir atau aliran air.
Telah jelas dampak langsung dan tidak langsung climate change terhadap sektor kesehatan. Namun, kesadaran melakukan adaptasi dan mitigasi masih rendah bagi banyak masyarakat, terutama masyarakat miskin yang justru menerima dampak paling besar. Penelitian tentang climate change masih seputar survey dan kualitatif, tantangan ke depannya diperlukan penelitian dan diskusi secara kuantitatif.
Sesi II: Decision Making Process in Health in Gunung Kidul
Materi tentang kebijakan sektor kesehatan di Gunung Kidul di sampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan. Beberapa masalah tersebut sntara lain masalah kesehatan Gunung Kidul seperti, angka kematian ibu (14 kasus tahun 2011) dan kematian bayi tinggi (109 kasus tahun 2011), penyakit menular (DB, TB, HIVAIDS), kurang gizi, buruknya perilaku kesehatan, peningkatan penyakit degenertif, manajemen obat, dan manajemen sistem informasi.
Kebijakan penanggulangan meliputi peningkatan kualitas pelayanan kesehatan, pembiayaan kesehatan kepada masyarakat miskin, pendekatan perorangan dan kesehatan masyarakat, peningkatan kualitas lingkungan, peningkatan gizi masyarakat, pencegahan penyakit, menjalin kerjasama, perapian penyimpanan dan pelaporan dokumen kesehatan.
Materi ini mengundang banyak pertanyaan dari rekan-rekan Umea University. Rata-rata dari mereka ingin mengetahui lebih tentang geografis Gunung Kidul, statistik kesehatan terutama mengenai angka kematian ibu dan anak serta meningkatnya kasus bunuh diri yang terjadi dalam masyarakat, dan keadaan arsip dokumen kesehatan saat ini. Materi selengkapnya silahkan
Ehealth situasi di Gunung Kidul disampaikan oleh Kartini sebagai wakil dari Dinas Kesehatan dan pemegang salah satu program kesehatan. Dengan 30 puskesmas dan 3 rumah sakit, sistem informasi kesehatan Gunung Kidul telah menggunakan sistem informasi kesehatan terutama sistem informasi puskesmas dan IHIS yang ada di Dinas Kesehatan. Namun, penggunaan sistem informasi ini masih bersama-sama dengan metode lama, dimana pencatatan secara manual dan penumpukan dokumen masih bisa ditemukan.
Tantangan penerapan sistem informasi di Gunung Kidul pada sumberdaya yang masih terbatas baik dalam jumlah dan kualitas serta keterbatasan insfrastruktur yang dimiliki Gunung Kidul. Peluang ke depan, Gunung Kidul sangat terbuka untuk bekerjasama dalam penguatan sistem informasi kesehatan sebab perubahan dan belajar merupakan kunci kesuksesan yang diyakini Gunung Kidul. Materi selengkapnya silahkan
“Climate Change Mitigation and Adaptation Policies – in the health sector”
CC-MAP Workshop April 15th-19th 2013 Faculty of Medicine Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia
Workshop Climate Change and Adaptation Policies in the Health Sector yang diselenggarakan oleh FK UGM dan Umea University merupakan kegiatan lanjutan dari workshop serupa yang pernah digelar awal tahun 2013 di Swedia. Workshop kali ini diarahkan langsung untuk melihat keadaan Kabupaten Gunung Kidul sebagai daerah yang akan menjadi model percontohan pemanfaatan sistem informasi kesehatan.
Seluruh aspek yang berhubungan, memberikan, dan mengancam kesehatan pada populasi menjadi ranah kesehatan masyarakat. Bagaimana dengan perubahan cuaca global? Disadari atau tidak perubahan cuaca global berpengaruh pada perubahan lingkungan, seperti meningkatnya populasi agen penyakit infeksi, perubahan epidemiologi penyakit menular, dan meningkatnya penyakit yang menular melalui air akibat kesulitan air bersih. Jika sudah begini masyarakatlah yang merasakan dampaknya. Berikut ulasan mengenai hubungan perubahan cuaca dan kesehatan masyarakat serta agenda globalnya :
Jakarta-PKMK. Agus D. Martowardojo, Menteri Keuangan RI akan mengupayakan anggaran penanggulangan bencana untuk Badan Nasional Penanggulangan (BNPB) senilai Rp 1,3 triliun cepat disetujui Badan Anggaran (Banggar) DPR RI. Untuk itu, Menteri Agus akan meminta agar Syamsul Maarif, Kepala BNPB hadir segera dalam rapat dengan Banggar.
Minggu ini Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan FK UGM mengadakan kuliah tamu bagi mahasiswa dan cipitas FK UGM. Kuliah tamu ini khusus mendatangakan Prof. Dr. Rainer Sauerborn dari Institute of Public Health University of Heidelberg. Topik yang dibahas mengenai Climate Change and Human Health. Akan dilaksanakan pada Jumat, 12 April 2013. Pukul 10.00 – 11.30 WIB di ruang kuliah lantai dua gedung S3 FK UGM.
Climate Change selalu hangat menjadi topik diskusi. Apalagi berbicara mengenai dampak Climate Change terhadap kesehatan manusia. Banyak pakar mencoba menjelaskan sebenarnya hubungan antara Climate Change dengan kesehatan manusia serta tantangan dalam penanggulangannya. Diskusi ini harapannya menghasilkan pengetahuan dan kebijakan mengenai Climate Change.