Reportase Telemedicine

gb-1

Open Lecture dan Demo Penerapan Telemedicine di Swedia

 
gb-1

Yogyakarta-PKMK. Hari ini (13/3/13) Dalam Rangka Continuing Medical Education Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada bekerja sama dengan Umeå University Hospital, Swedia menyelenggarakan Open Lecture dan Demo dengan topik “Remote Cardiac auscultation and health parameter asssessment: an example of telemedicine application in Sweden”.  Bertempat di Gedung KPTU lantai 2 FK UGM pukul 09.00-11.00 WIB.

Kegiatan dimulai dengan pembukaan oleh Ketua Minat Sistem Informasi Kesehatan Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat FK UGM.  Disampaikan bahwa tujuan kegiatan ini untuk membahas konsep dan penerapan Telemedicine dalam pelayanan kesehatan, membahas aplikasi Telemedicine di Swedia, dan mendemonstrasikan Telemedicine dengan peralatan Remote Cardiac Auscultation  dari Swedia.

gb-2

Sesi I diisi oleh Asa Holmner Rocklov, Ph.D mengenai Remote Cardiac Auscultation and Health Parameter Assessment : Examples of Telemedicine Applications In Sweden. Disampaikan difinisi Telemedicine oleh WHO merupakan pelayanan kesehatan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi dari jarak jauh, yang ini memungkinkan pertukaran informasi yang valid mengenai diagnosis, pengobatan, pencegahan penyakit, penelitian, evaluasi hingga melanjutkan pendidikan  yang bertujuan untuk memajukan kesehatan masyarakat. Materi silahkan klik-disini

Asa mencontohkan Telemedicine yang telah diterapkan di Västerbotten County dan
The Northern Care Region. Västerbotten merupakan daerah yang dihuni sebanyak 260217 penduduk dengan luas wilayah 55432Km². Terdapat 32 puskesmas dan tiga rumah sakit termasuk satu rumahsakit pendidikan, Umeå University Hospital.

Banyak kasus kesakitan seperti penyakit Parkinson, gangguan bicara anak, dan aphasia dimana jumlah pasien mencapai 194 pasien, 779 perawatan, dan melibatkan 25 fasilitas kesehatan. Dengan adanya telemedicine maka menghemat 154840 km perjalanan pasien jika harus berkunjung ke rumah sakit dan mengurangi perjalanan staff satu hingga tiga hari jika harus mengunjungi pasien perawatan di rumah.

gb-4Sesi II mengenai Demo Telemedicine An Example of Telemedicine Application in Sweden oleh Kenji Claessson, M.Sc. Di sini Kenji menjelaskan penggunaan stetoskop elektronik. Keunggulan stetoskop ini adalah hasilan suara lebih baik dengan volume yang lebih tinggi serta kemampuan menyimpan hasil dan terhubung dengan remote auscultation. Remote auscultation memungkinkan data ditransfer secara langsung sehingga penyedia pelayanan kesehatan dapat mengakses secara langsung tanpa perlu perjalanan yang jauh dalam kunjungan pasien atau sebaliknya tidak perlu merujuk pasien ke pelayanan kesehatan yang terdapat spesialis.

Ada dua aplikasi yang digunakan pertama, koneksi otomatis tanpa interaksi dengan komputer dan kedua, versi dengan tampilan antarmuka pengguna dengan berbagai fungsi yang memungkinkan analisis data. Hal ini sangat bermanfaat untuk pelayanan kesehatan yang tidak memiliki dokter spesialis, dapat digunakan untuk kasus sulit seperti mencari suara murmur, dan dapat menyimpan data secara mandiri sehingga perawat bisa mengakses kembali data pasien dan mengkonsultasikannya kepada dokter kemudian. Materi silahkan klik-disini

gb-5

Sesi selanjutnya, merupakan demo penggunaan alat tekanan dan gula darah dan stetoskop elektronik. Alat-alat pemeriksaan kesehatan ini terhubung dengan dengan server menggunakan Bluetooth. Dilakukan juga percobaan mengirimkan hasil pemeriksaan kesehatan dari komputer server ke komputer yang lain. Semua kegiatan ini memerlukan hubungan internet yang tinggi untuk mendapatkan kelancaran dan hasil kiriman yang baik.

gb-6

Sesi tanya jawab berlangsung ramai dengan beberapa pertanyaan seputar penyimpanan data pasien, siapa yang menjadi pemilik data pasien, bagaimana biaya, dan keamanan data. Dijawab bahwa data penyakit atau pemeriksaan pasien tetap menjadi milik pasien tetapi disimpan diserver penyimpanan data. Biaya  yang ditanggung pasien seperti biasanya tetapi menjadi perhitungan dan pertimbangan adalah biaya insentif bagi tenaga kesehatan. Sedangkan, mengenai keamanan data memang sedang diperbincangkan, meski demikian tidak perlu kuatir dengan hilangnya data jika gangguan internet karena data tersimpan otomatis dan tidak bisa dimanipulasi.

gb-7

Refleksi Open Lecture

Sebagai “Supermarket”Bencana, harusnya Indonesia mempersiapkan diri dengan sistem informasi yang kuat. Pemetaan dan pemantauan wilayah bencana menggunakan sistem informasi agar mendapatkan deteksi dini bencana segera sehingga evakuasi korban berjalan segera. Begitu juga, pada tanggap darurat bencana, telemedicine memungkinkan tindakan penyelamatan korban dilakukan meski dokter spesialis dari daerah non bencana belum tiba di daerah bencana.

Selain itu, pemanfaatan telemedicine dirasa pas untuk demografi Indonesia yang luas dan kepulauan. Dengan adanya telemedicine harapannya daerah kepulauan, terpencil, penduduk jarang, dan kabupaten-kabupaten serta kecamatan dan desa yang minim fasilitas pelayanan kesehatan dan tenaga kesehatan bisa mengakses pelayanan kesehatan. Dengan ini kita juga memperlancar arus rujukan pasien yang selama ini bermasalah. Rujukan pasien tidak lagi berarti mentransfer pasien dari pusat pelayanan primer ke rumah sakit utama tetapi rujukan dalam arti mentransfer data-data kesakitan pasien ke dokter-dokter yang ada di rumah sakit utama dan sebaliknya untuk diagonisis, pengobatan, dan perawatan pasien. Namun, hal ini sekaligus menjadi tantangan bagi Indonesia untuk mempersiapkan diri, baik peralatan, inprastruktur, dan sumber dayanya.

Atasi Kekeringan, Usul Rekayasa Cuaca

PADANG-Baru dua pekan dilanda kemarau, Padang mulai terancam kekeringan. Untuk mengatasi itu, Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran Daerah (BPBPKD) Padang mengajukan permintaan bantuan program rekayasa cuaca kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Continue reading

Japan quake ‘heard at edge of space’

Artist's impression of Goce in orbit (Esa)The great Tohoku earthquake in Japan two years ago was so big its effects were even felt at the edge of space.

Scientists say the Magnitude 9.0 tremor on 11 March 2011 sent a ripple of sound through the atmosphere that was picked up by the Goce satellite.

Continue reading

Sesi 2 Pengaruh “Perubahan Iklim (Climate Change)” 2013

gb-10

Navigasi : Pengantar || Sesi I

Pengaruh “Perubahan Iklim (Climate Change)”
pada Manajemen Bencana dan Dampaknya di Sektor Kesehatan
dengan Kasus Penanggulangan Bencana Banjir Jakarta

Sesi II

Usai istirahat, seluruh peserta kembali ke ruang seminar untuk mengikuti pemaparan dan diskusi terkait kasus bencana banjir Jakarta awal tahun 2013. Pemaparan mengenai pengalaman kedua tim UGM yang diberangkatkan pada bencana banjir Jakarta. Moderator, dr. Bella Donna mempersilahkan pembicara pertama memaparkan pengalamannya bersama tim dalam tanggap darurat banjir Jakarta

gb-10Sri Setyorini, S.Kep, MKes berasal dari Program Studi Ilmu Keperawatan mewakili tim yang dilibatkan oleh FK UGM dengan Tim DERU UGM pada bencana banjir Jakarta tanggal 18 hingga 23 Januari 2013. Hal yang menarik disampaikan bahwa tim memiliki tim evakuasi binatang berbisa dan berbahaya pasca banjir. Hal ini sangat diperlukan guna keselamatan korban banjir saat kembali ke tempat tinggalnya. Tim evakuasi binatang berbahaya menjadi rekomendasi bagi tim penanggulangan bencana selanjutnya.

Dalam paparannya, disampaikan juga mengenai hambatan terkait komunikasi, koordinasi, dan instruksi. Tim yang diberangkatkan oleh UGM sampai di Jakarta mengalami kebingungan untuk bergabung dan berkoordinasi dengan tim apa yang ada di Jakarta. Kemudian tim secara mandiri diminta menghubungi pemerintah setempat daerah yang akan membutuhkan pelayanan kesehatan tetapi nomor yang dihubungi tidak aktif. Hal-hal nilah yang menghambat kerja tim dalam menolong korban banjir.

Dokumentasi Video Pembicara 1 :

gb-11

Pembicara kedua oleh dr. Hanif Afkari berasal dari RSSardjito. Pada bagian latar belakang disampaikan bahwa banjir Jakarta merupakan bencana tahunan, tetapi aktivasi sistem tanggap darurat tidak berjalan dengan optimal. Tim yang diketuai oleh pembicara sendiri diberangkatkan oleh Pokja Bencana pada 21 Januari 2013. Sampai di Jakarta, tim langsung bergabung dengan Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan (PPKK) Kementerian Kesehatan. Selama seminggu sebagai tim mobile, tim melakukan pelayanan kesehatan, assessment, promosi kesehatan kepada korban banjir di titik-titik pengungsian yang masih terisolir seperti Muara Baru. Laporan kegiatan lengkap, silahkan  klik-disini.

Dokumentasi Video Pembicara 2 :

Pembahasan

gb-12Acara dilanjutkan dengan pembahasan yang terkait pengalaman kedua tim pembicara dalam penanggulangan banjir Jakarta. Pembahasan pertama oleh dr. Dr Hendro Wartatmo, SpB. KBD dan langsung menanggapi permasalahan yang dirasakan oleh kedua tim. Menurut pembahas permasalahan koordinasi kerap terjadi dalam penanggulangan bencana. Seharusnya, keadaan emergency tidak membuat segala menjadi kehilangan manajemen.

Masalah koordinasi terjadi pada kedua tim. Tim pertama dari awal tidak mengetahui siapa yang menerima di daerah bencana. Sedangkan tim kedua hanya terkendala komunikasi dengan pihak kemenkes atau dinkes. Masalah kedua adalah time respon yang merupakan masalah birokrasi, misalnya terkait surat tugas. Seharusnya dalam bencana birokrasi urusan kedua karena birokrasi sangat mengganggu respon time.
Masalah berikutnya adalah assessment. Assessment merupakan tugasnya tim yang terlibat. Jadi bukannya orang di luar tim karena tim harus mengetahui dimana akan melakukan pelayanan kesehatan. Jadi sebelum bertugas, tim harus tahu apa yang diperlukan wilayah. Tujuan kedatangan harus jelas sehingga bisa dipecah dalam tim kerja.
Tim bencana haruslah tim yang independent artinya jangan sampai terlibat politik, bisnis, dan birokrasi. Prinsip penanggulangan bencana adalah bekerja untuk orang yang menderita, tugas utama kita mengobati bukan promosi obat, independent, dan free sponsor.

Dokumentasi Video Pembahas 1 :

 
gb-13Pembahas kedua oleh Dr. Handoyo Pramusinto, SpB BS yang lebih menekankan pada pendanaan penanggulangan bencana. Disinggung tentang dana bencana yang berpotensi untuk disalahgunakan. Dalam setiap kejadian bencana, tentunya memerlukan pendanaan yang berbeda. Pada tahap mitigasi maka dana lebih banyak digunakan untuk pencegahan kejadian bencana ataupun untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana. Berbeda pula pendanaan pada saat tanggap darurat dimana dana bencana banyak untuk keperluan korban bencana. Pendanaan penanggulangan bencana telah diatur dan harus dianggarkan oleh pemerintah daerah.

Menanggapi permasalahan tim pertama yang menanti instruksi terkait tenaga kesehatan perawat boleh melakukan tindakan penyelamatan dan pengobatan atau tidak terhadap korban, serta hasil pertemuan Asia-Pasific Conference on Emergency and Disaster Medicine (APCEDM) di Bali tahun 2012, tentang standar tim yag diberangkatkan ke lokasi bencana. Adanya bencana akan mendorong tim medis untuk datang ke lokasi bencana tetapi yang menjadi masalah apabila tim medis tersebut tidak kompeten. Hal ini akan berdampak pada tindakan medis yang keliru dan infeksi sekunder pada korban bencana, selain juga akan menjadi beban bagi daerah bencana.

Dokumentasi Video Pembahas 2 :

Diskusi

Usai pembahasan, moderator memberikan kesempatan pada semua peserta untuk berdiskusi. Diskusi ini menjadi menarik karena seluruh tim dari berbagai instansi yang kerap terlibat dalam kegiatan bencana berdiskusi dan saling bertukar pengalaman. Diskusi masih seputar dana, koordinasi, dan assessment tanggap darurat bencana.
Pusbankes 118 mengutarakan pengalamannya sewaktu membantu korban pada Gempa Padang. Tim mereka mendapat hambatan akomodasi di daerah bencana. Akhinya untuk akomodasi mereka mengeluarkan biaya pribadi. Bagaimana sebenarnya pendanaan untuk akomodasi tim di daerah bencana? Pertanyaan ini mendapat tanggapan dari pemateri pertama bahwa sebenarnya dana bencana itu besar, pengaturannya diatur oleh daerah. Namun, perjalanan dananya memang sedikit sulit karena birokrasi. Ke depannya, diperlukan manajemen pengaturan aliran dana ini.
Pertanyaan mengenai cost effective manarik perhatian pada diskusi kali ini. Pengukuran efektivitas tim yang dikirim tidak bisa hanya diukur dengan dana yang dikeluarkan. Memang itu bisa menjadi ukuran, tetapi dalam kebencanaan sedikit lebih unik dimana waktu, tenaga, dan kompetensi tim perlu diperhitungkan. Namun, pengukuran tiga item terakhir masih sulit dilakukan. Pada pertemuan internasional pun, mengenai standar kompetensi tim yang dikirim telah dibahas dan memang harus dipikirkan bersama. Harapannya tim yang dikirim benar-benar bisa membantu korban bencana bukan malah menambah penderitaan korban.
Pihak RS Panti Rapih memberikan masukkan mengenai indikator keberhasilan tim yang diberangkatkan kalau bisa tidak saja dinilai dari banyaknya pasien yang di tangani tetapi juga dari data epidemiologi dan survailans penyakit atau daerah bencana. Selain itu, muncul pula pertanyaan mengenai keterlibatan peran swasta dalam penanggulangan bencana. Sebab selama ini pemerintah dan swasta sepertinya bergerak sendiri-sediri.
Terakhir, peserta dari universitas Brawijaya menyampaikan saran terkait pengalaman tim mereka dalam kegiatan penanggulangan bencana. Sebelum berangkat tim mereka selalu mempertanyakan beberepa hal seperti tim mau berangkat kemana di dearah bencana tersebut? Di daerah bencana akan melakukan apa? Bekerjasama dengan siapa saja? Bagaimana persiapan tim yang akan diberangkatkan, apakah untuk pengobatan tanggap darurat, survailans, atau manejemen rumah sakti pasca bencana? Setelah pertanyaan-pertanyaan ini terjawab, harapannya tim yang dikirim bisa bekerja dengan baik di daerah bencana.

SOSIALISASI POKJA BENCANA
 
gb-14Sesi sosialisasi Pokja Bencana FK UGM diwakili oleh salah satu Advisory Board, Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, PhD. Dalam sosialisasinya, pertama diperkenalkan tetang profil pokja bencana, termasuk latar belakang, visi misi, tujuan, dan struktur organisasi. Kedua, Laksono menekankan bahwa pokja bencana yang dimiliki oleh FK UGM ini fleksibel untuk bekerjasama dengan pihak-pihak lain baik di dalam universitas dan luar universitas seperti rumah sakit swasta dan perusahaan. Ketiga, tentang dana yang diperlukan untuk memberangkatkan tim ke daerah bencana. Paradigma sukarelawan adalah orang yang diberangkatkan ke daerah bencana untuk menolong korban bencana dengan kemampuan dan didukung biaya yang lancar. Penting juga untuk memberikan insentif dan asuransi bagi tim yang dikirim agar tim tenang melakuan pertolongan di daerah bencana dengan optimal. Untuk itu semua pokja bencana memerlukan “energi” atau dana untuk pemenuhan segala keperluan pemberangkatan tim dan kegiatan pokja lainnya. Berdasarkan hal inilah pokja bencana mengadakan Program Alumni Menyumbang.
 
gb-15Sosialisasi pokja bencana mengakhiri rangkaian kegiatan seminar pokja bencana dalam rangka Annual Scientific Meeting FK UGM 2013. Prof. Adi Utarini, M.Sc., MPH., Ph.D, Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Kerja Sama FK UGM menutup kegiatan dengan ucapan terimakasih telah melaksanakan kegiatan ilmiah terkait kebencanaan di indonesia. Semoga bisa bertemu kembali pada kegiatan ilmiah kebencanaan selajutnya.