Sesi 1 Pengaruh “Perubahan Iklim (Climate Change)” 2013

gb-pengantar

Navigasi: Pengantar || Sesi II

Pengaruh “Perubahan Iklim (Climate Change)”
pada Manajemen Bencana dan Dampaknya di Sektor Kesehatan
dengan Kasus Penanggulangan Bencana Banjir Jakarta

Sesi I
Pemaparan Materi

Sesi I seminar membahas mengenai dampak dan strategi adapatasi dalam menghadapi climate change yang berdampak pada kesehatan serta pemanfaatan e-health sebagai salah satu strategi dan adaptasi di sektor kesehatan. Di sesi I, Dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS (K) sebagai moderator langsung mempersilahkan pembicara pertama untuk memaparkan materinya.

gb-pengantarJoacim Rocklöv beraffiliasi di Epidemiologi Gobal Halsa, Umeå University. Ia juga tergabung dalam Climate Change and Global Health Group, Umeå University. Joacim merupakan peneliti yang berfokus mendalami hubungan perubahan iklim, cuaca, dan kesehatan dengan menggunakan pendekatan metode epidemiologi. Selama 30 menit, Joacim memaparkan tentang dampak dan strategi adaptasi perubahan iklim terhadap kesehatan.

Berikut ini merupakan empat poin penting yang disampaikan Joacim, pertama ia menjelaskan mengenai cuaca, iklim, dan apa perubahan iklim tersebut. Hujan, suhu, kecepatan angin, dan kemarau ini disebut cuaca. Statistik dari cuaca dalam waktu yang cukup lama kemudian disebut iklim. Sedangkan climate change terjadi akibat ketidakseimbangan energi di sistem iklim. Climate change merupakan interaksi yang kompleks dari atmosfer, matahari, vegetasi, lautan, dan aktivitas manusia. Seluruh elemen tersebu berpengaruh terhadap perubahan iklim, seperti gas rumah kaca yang dihasilkan dari aktivitas manusia.

Kedua, mengenai dampak climate change pada hampir seluruh sektor kehidupan. Peningkatan suhu bumi satu derajat saja telah memberikan dampak buruk bagi kehidupan apalagi jika proyeksi global mengenai kanaikan suhu bumi ekstrim benar-benar terjadi. Maka, akan terjadi peningkatan kematian spesies tanaman dan meningkatnya permukaan air laut yang menyebabkan banyak daratan akan tenggelam.

Ketiga, mengenai dampak climate change terhadap kehidupan manusia. Climate change berdampak langsung dan secara tidak langsung pada kehidupan manusia. Beberapa diantaranya : meningkatnya jumlah serta perubahan vektor penyakit, kekurangan makanan akibat kekeringan, dan penyakit tidak menular. Dampak secara langsung dan tidak langsung ini berakibat pada menurunnya fungsi sosial dan ekonomi. Kesemua dampak ini berpengaruh buruk bagi kesehatan manusia. Pada titik inilah kita memerlukan sistem kesehatan dalam menghadapi climate change.

Keempat, mengenai adaptasi sebagai salah satu cara dari manajemen risiko. Caranya dengan meningkatkan kewaspadaan dan pencegahan terhadap dampak climate change. Hal ini dapat dilakukan melalui pendidikan, kebijakan, dan intervensi kepada masyarakat luas. Selain itu, diperlukan juga prespektif yang tepat baik kebijakan dari bawah atau dari atas mengenai pencegahan terhadap dampak climate change secara bersama-sama. Contoh yang sudah dilakukan di Swedia seperti membangun sistem kewaspaadan, meningkatkan tindakan survailans, dan penggunaan sinar UV untuk air permukaan yang dikonsumsi/diminum masyarakat, serta banyak penelitian dan kajian mengenai dampak climate change.

Sementara, tiga hal penting dalam menghadapi dampak climate change adalah Risk Perception, Risk Assessment, dan Risk Management. Persepsi seseorang terhadap risiko bencana berdampak pada sikapnya dalam menghadapi risiko, waspada atau biasa saja. Begitu juga dengan kemampuan mengidentifikasi risiko bencana sehingga bisa mempersiapkan atau bahkan mencegah dampak climate change. Materi selengkapnya silahkan klik-disini

Video Dokumentasi Sesi 1:

gb4-asmPembicara kedua adalah Åsa Holmner-Rocklöv berasal dari University Hospital of Umeå Department of Biomedical Engineering and Informatics, Umeå  Sweden. Selama 30 menit, Åsa berbicara mengenai strategi mitigasi dan adaptasi di sektor kesehatan menghadapi perubahan iklim. Beberapa hal penting yang disampaikan Åsa adalah konsep mengenai adaptasi, mitigasi, dan penggunaan sistem informasi kesehatan, serta tantangannya penerapannya.

Adaptasi merupakan strategi yang bertujuan untuk mengurangi kerentanan dan meningkatkan ketahanan masyarakat untuk menahan dampak tertentu. Sedangkan Mitigasi merupakan strategi yang bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

gb5-asm

Penyumbang emisi terbesar adalah energi dan transportasi. Di titik inilah, peran kita melakukan mitigasi terhadap climate change dengan mengurangi perjalanan sehingga akan sedikit emisi yang terbuang serta mampu melampaui jarak yang jauh, salah satu sistem informasi tersebut adalah e-health.

e-health menurut WHO merupakan transfer sumber daya kesehatan dan perawatan kesehatan dengan cara elektronik. Contoh sistem informasi dalam perawatan kesehatan yang bisa dikatakan green strategi antara lain, meminimalkan penggunaan energi dari pencahayaan dengan menggunakan sensor gerakan, mencegah perjalanan yang tidak perlu menggunakan video konferensi, dan lebih efisien perawatan proses menggunakan sistem informasi kesehatan (Model care). Macam-macam e-health seperti telemedicine, e-learning yang kerap digunakan untuk pendidikan tenaga kesehatan jarak jauh, dan sistem manajemen kesehatan menggunakan elektronik.

Penggunaan telemedicine  di California, Skotlandia, dan Kanada terbukti mampu mengurangi jarak perjalanan perawat yang harus mengunjungi pasien ke rumah-rumah sebanyak 4,7 juta mil hingga 120 juta Km hanya dengan melakukan telecare/ telemedicine yang artinya mengurangi emisi CO2 hingga 33.220 ton. Penggunaan telemedicine sangat berguna bagi daerah yang jauh dari pusat kota, daerah yang memiliki sumber terbatas, mobilitas yang rendah, serta penduduk yang jarang. Telemedicine ini juga dikembangkan pada sektor bencana. Dengan penggunaan telemedicine maka pemetaan potensi dan daerah bencana menjadi lebih mudah.

Aplikasi dan keberhasilan telemedicine tergantung banyak hal seperti kemampuan alat telemedicine tersebut, ketersediaan dana, kelengkapan inprastruktur, isu budaya, dan terpenting adalah komitmen politik. Tantangan multisektoral dan multinasional harus dihadapi misalnya dengan advokasi pada pengambil keputusan dengan merekomendasikan kebijakan berdasarkan bukti empiris. Materi Asa  selengkapnya silahkanklik-disini

Video Rekaman :


Pembahasan

gb-6

Pembahasan dilakukan oleh Prof. Sudibyakto, M.S dari Pusat Studi Bencana UGM dan Penasehat BNPB menarik dan membuat peserta antusias. Sudibyakto menekankan bahwa Indonesia merupakan daerah bencana tetapi kesadaran akan hal tersebut masih rendah. Indonesia merupakan daerah yang sensitif menyumbang dan merasakan dampak climate change. Betapa tidak, iklim Indonesia yang berada di darah tropis berpengaruh pada iklim dunia dan begitu juga sebaliknya.

Video Dokumentasi Sesi 1 Pembahas 1

Indonesia lebih merasakan dampak climate change seperti kemarau yang berkepanjangan atau pun musim penghujan yang berkepanjangan. 80 persen bencana terjadi akibat hidrometeorologi, di beberapa daerah di Indonesia telah mengalami kehilangan banyak daratan akibat peningkatan air laut.  Jika benar proyeksi yang di paparkan Joacim terkait peningkatan suhu bumi pada puluhan tahun akan datang maka tidak ada cara lain mencegahnya selain dengan merubah perilaku. Hal yang penting dalam hal ini adalah mitigasi dan adaptasi. Sejauh mana sebuah daerah mampu memanfaatkan data wilayahnya untuk mendeteksi hazard dan kerentanan wilayah dalam menghadapi risiko tersebut. Materi Sudibyakto selengkapnya silahkan klik-disini

gb-7 
Lima belas menit berikutnya, dilanjutkan pembahasan oleh Prof. Hari Kusnanto, Dr. PH mengenai dampak climate change terhadap kesehatan di Indonesia :  dari beberapa penelitian. Pembahas kedua tertarik pada paparan Joacim mengenai dampak climate change terhadap kesehatan karena baik langsung maupun tidak langsung ataupun karena penurunan fungsi ekonomi akibat climat change, semuanya akan berdampak pada kesehatan manusia.

Saat ini, misalnya kenaikan suhu dan permukaan air laut menyebabkan hilangnya beberapa pulau, terumbu karang, dan menurunnya jumlah ikan. Hal ini berdampak pada menurunnya konsumsi ikan masyarakat otomatis gizi masyarakat terganggu. Hal yang serupa terjadi ketika bencana banjir juga menimbulkan penyakit pasca banjir seperti meningkatnya kolera dan leptospirosis.

Begitu pula dengan wilayah yang mengalami kekeringan berkepanjangan dan menyebabkan pertanian terganggu sehingga konsumsi masyarakat menurun. Kemudian, terjadilah kekurangan gizi pada masyarakat daerah tersebut. Hal ini menambah masalah baru, dimana masalah klasik tentang gizi buruk belum juga bisa dituntaskan Indonesia.

Kesimpulan yang diberikan pembahas bahwa pencegahan climate change harus berdasarkan sumbernya, jika climate change diakibatkan emisi dari energi maka emisi harus ditekan, begitu juga dengan sumber-sumber lainnya.

Video Dokumentasi Pembahas 2:


Diskusi

gb-8Sesi diskusi berlangsung secara aktif, secara umum peserta mepertanyakan mengenai pengalaman daerah asal pemateri (Swedia) dalam menerapkan telemedicine dan pengalaman Swedia dalam sosialisasi kewaspadaan masyarakat terhadap bencana sebab hal ini menjadi tantangan tersendiri kedepannya bagi Indonesia dalam mitigasi dan adaptasi sektor kesehatan dalam menghadapi perubahan iklim.
Joacim dan Åsa bergantian menjawab pertanyaan tersebut. Mereka menuturkan bahwa memang awalnya tidak mudah dalam menerapkan telemedicine terutama dalam hal menjalin kesepahaman dengan stakeholder yang terkait. Namun, di Swedia banyak terdapat kelompok-kelompok yang peduli terhadap lingkungan dan climate change sehingga banyak dari kami bergerak dengan memberikan rekomendasi berdasarkan data empirik hasil diskusi dan penelitian yang dilakukan. Sehingga advokasi terhadap stakeholeder berjalan lebih lancar.

Sebuah tantangan ketika melakukan promosi kewaspadaan bencana akibat climate change, dimana sebenarnya keberadaan climate change di Swedia dirasakan sebagai dampak positif, dimana daerah Swedia dirasakan menjadi lebih hangat. Namun, ini hanya sebuah “perasaan” dan kami terus menyebarkan informasi melalui media kepada seluruh masyarakat. Kami juga gencar melakukan edukasi kepada masyarakat bahwa dampak climate change bisa dikatakan seperti penyakit yang diam-diam kemudian menimbulkan kematian “the silent killer” sehingga masyarakat mengerti dan kesadaran timbul dengan sendirinya.

Pertanyaan juga diberikan kepada pembahas mengenai keterlibatan Indonesia dalam pengurangan emisi dan sosialisasi kesepakatan Bali Action Plan pada Conference of Parties United Nations Climate Change Convention (COP UNFCCC) ke-13 di Bali, Desember 2007 oleh pemerintah. Pada kesempatan ini pembahas menjawab bahwa Indonesia berkomitmen untuk mengurangi emisi hingga 26%. Namun, tantangan yang dihadapi Indonesia adalah mengenai pengukuran penurunan emisi tersebut. Selain itu, nilai tukar apa yang di dapat Indonesia atau negara-negara yang berhasil menurunkan emisinya. Masalah ini yang belum terjawab hingga saat ini. 

Sesi I berakhir dengan kesepahaman bersama bahwa climate change merupakan tantangan akan potensi bencana sehingga penggunaan manajemen informasi dan teknologi sangat diperlukan dalam menghadapinya.

gb-9

Pengaruh “Perubahan Iklim (Climate Change)” 2013

gb1-asm

Navigasi : Sesi I || Sesi II

Pengaruh “Perubahan Iklim (Climate Change)”
pada Manajemen Bencana dan Dampaknya di Sektor Kesehatan
dengan Kasus Penanggulangan Bencana Banjir Jakarta

Yogyakarta-PKMK. Telah dilaksanakan seminar Pengaruh “Perubahan Iklim (Climate Change)” pada Manajemen Bencana dan Dampaknya di Sektor Kesehatan dengan Kasus Penanggulangan Bencana Banjir Jakarta pada Rabu, 6 Maret 2013 bertempat di Gedung Program Pasca Sarjana FK UGM lantai 2.

gb1-asm

Seminar ini dihadiri lebih dari 60 peserta seminar dari berbagai profesi, instansi, dan universitas, dan dimulai pukul 08.30 WIB. Seminar ini diselenggarakan oleh Kelompok Kerja Bencana FK UGM yang merupakan rangkaian acara Annual Scientific Meeting FK UGM 2013.

gb2-asmHidup di negara katulistwa dengan segala keindahannya merupakan berkah tersendiri bagi Indonesia. Namun, hal ini membuat warga negara ini akrab dengan bencana alam yang terjadi. Tanah longsor, letusan gunung api, banjir, gempa bumi, tsunami, dan sebagainya seringkali hadir di Indonesia. Akhir-akhir ini, para ahli juga mendeteksi pengaruh Climate Change yang menimbulkan potensi bencana di indonesa. Salah satu yang masih segar di ingatan ialah banjir Jakarta.

gb3-asmSeminar dibuka oleh ketua pokja bencana Dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS (K). Ketua Pokja Bencana mengucapkan terimakasih atas kedatangan pembicara dari Umea University Sweden dan peserta dari berbagai profesi kesehatan dan non kesehatan, berbagai instansi dan rumah sakit di Yogyakarta, dan dari Universitas Brawijaya. Dalam sambutannya, beliau berharap peserta dapat mengambil pelajaran dengan diskusi yang dilakukan pada hari ini.
Acara berlanjut dengan pemutaran video dokumenter bencana-bencana yang pernah terjadi di Indonesia, yang juga merupakan rekaman keterlibatan Pokja Bencana dalam kegiatan penanggulangan bencana di Indonesia.

Untuk melanjutkan membaca sesi selanjutnya silahkan klik tombol sesi : sesi1 sesi2

Rekaman Video Pembukaan

Pengantar 3-10 Maret 2103

Kegiatan Kebencanaan di Fakultas Kedokteran UGM

Pekan ini, FK UGM menyelenggaran tiga acara mengenai Kebencanaan. Pameran Ilmiah Kebencanaan di Indonesia dan Seminar Perubahan Iklim (Climate Change) pada Manajemen Bencana dan Dampaknya di Sektor Kesehatan dengan Kasus Penanggulangan Banjir di Jakarta oleh Pokja Bencana dan Seminar Internasional mengenai kebencanaan oleh Pogram Studi Keperawatan.

2 Maret 2013, dalam rangka Annual Scientific Meeting (ASM) 2013 Pokja Bencana telah melaksanakan Pameran Ilmiah Kebencanaan di Gedung Graha Wiyata FK UGM. Pameran ini menampilkan 6 poster bencana yang pernah terjadi di Indonesia (Tsunami Aceh, gempa Yogyakarta, gempa dan tsunami Pangandaran, gempa Padang, letusan Gunung Merapi, dan Banjir Jakarta) dan keterlibatan Pokja Bencana pada fase tanggap darurat, transisi, hingga recovery. Selain itu, juga menampilkan materi tentang kurikulum bencana pada mahasiswa S1 Kedokteran dan Keperawatan, S2 IKM, dan Magister Manajemen Bencana Sekolah Pascasarjana. Laporan kegiatan selengkapnya silahkan klik-disini

6 Maret 2013, masih dalam rangka Annual Scientific Meeting (ASM) 2013 Pokja Bencana FK UGM menyelenggarakan seminar dengan tema “Climate Change”. Bertempat di Gedung Pascasarjana FK UGM lantai 2 sejak pukul 09.00 – 16.00 WIB. Pembicara berasal dari Umea University, Dr Joacim Rocklöv (Public Health and Clinical Medicine, Umeå, Sweden) dan Dr Åsa Holmner (Dept. of Biomedical Engineering & Informatics. University Hospital of Northern Sweden. & Umeå Centre for Global Health Research). Pembicara khusus membahas tentang Dampak dan Strategi adaptasi perubahan Iklim terhadap kesehatan (Climate Change Health Impacts and adaptation strategies) dan Perubahan iklim dan e Health: Strategi Mitigasi dan Adaptasi pada sektor Kesehatan Climate change and eHealth: a strategy for health sector mitigation and adaptation). Pembahasan Berasal dari Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Sudibyakto, M.S (pusat Study Bencana UGM dan Penasehat BNPB) dan Prof. Dr. Hari Kusnanto, Dr. PH (Pusat Studi lingkungan Hidup). Pembahas pertama menekankan bahwa dengan geografisnya, Indonesia memberikan dan mendapat dampak terhadap climate change  yang terjadi secara global. Sedangkan, pembahas kedua menekankan kepada dampak Climate Change terhadap kesehatan di Indonesia, didapatkan bahwa Climate Change menjadi tantangan baru terhadap penanggulangan penyakit di Indonesia, misalnya status gizi buruk dan malaria. Materi pembicara lengkap silakan klik-disini

7-8 Maret 2013, Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK) FK UGM dan Kobe University Graduate School of Health Science Jepang, didukung juga oleh Program Studi Magister Keperawatan dan Rumah Sakit Akademik UGM mengadakan 9th International Seminar: Strengthening Health Personnel Capacity Building and Community Resilience yang bertempat di Rumah Sakit Akedmik UGM. Seminar ini merupakan kegiatan tahunan kerjasama antara PSIK FK UGM dengan Kobe University, Jepang. Informasi seminar lengkapnya silahkan klik-disini

Pokja Bencana Adakan Penggalangan Dana Alumnus Menyumbang Tim Bencana pada Malam Temu Alumni FK UGM

gb1

Laporan kegiatan penggalangan dana pokja bencana HOT NEWS

Pokja Bencana Adakan Penggalangan Dana Alumnus Menyumbang Tim Bencana pada Malam Temu Alumni FK UGM

gb1 

Yogyakarta-PKMK. Telah dilaksanakan penggalangan dana untuk kegiatan kebencanaan di Indonesia yang akan dilakukan oleh Pokja Bencana FK UGM. Kegiatan dilaksanakan pada Sabtu, 2 Maret 2013 pukul 21.00 -21.10 WIB bertempat di Joglo Alumni FK UGM. Kegiatan ini masuk dalam rangkaian Temu Alumni Dies Natalis FK UGM. Selama 10 menit penggalangan dana dilakukan untuk menarik para alumni menyumbang kegiatan bencana.

Dalam rangkaian kegiatan ini, sejak siang telah dilaksanakan pameran ilmiah kebencanaan di Indonesia yang dilaksanakan di depan Lobby Auditorium FK UGM. Lihat lengkapnya pada link berikut klik-disini Pada malam hari area pameran di pindah ke utara Joglo Alumni FK UGM. Harapannya para alumni dapat mengetahui kegiatan pokja bencana selama ini yang terlibat dalam penanggulangan kebencanaan di Indonesia. 

gb2

Penggalangan dana diiringi dengan pemutaran video dokumentasi kegiatan kebencanaan yang dilakukan Pokja Bencana selama 10 tahun ini (2004 – 2013). Pembukaan penggalangan dana di mulai ketika semua tim pokja bencana maju ke depan panggung. Tim pokja yang terlibat, dr. Handoyo Pramusinto, dr. Sulanto, Sutono, S.kep, Ns dan dr. Bella Donna serta didampingi oleh Prof. Laksono Trisnantoro dan Prof. Yati Soenarto

gb3

Pertanyaan-pertanyaan diberikan pada tim pokja bencana, seperti bagaimana proses pendanaan selama ini? Bagaimana memberangkatkan tim ke daerah bencana selama ini? Apakah pernah terjadi kekurangan dana? Ternyata selama ini, Pokja Bencana sering kali mengalami kekurangan dana untuk memberangkatka tim dan memenuhi kebutuhan logistik medis untuk daerah bencana. Selama ini pendanaan yang ada berasal dari asing dan lebih banyak “dana patungan”.

Pokja Bencana ini telah aktif membantu saudara-saudara kita yang menderita di bencana tsunami Aceh akhir tahun 2004, gempa Nias, gempa Padang, gempa Bantul, gempa dan tsunami Pangandaran, letusan Gunung Merapi di Yogyakarta, serta banjir Jakarta di tahun 2013. Kegiatan – kegiatan ini telah melibatkan tim  yang kompeten beranggotakan sivitas akademika FK UGM, staf RS Sardjito, RS Akademik UGM, jaringan RS Pendidikan FK UGM, serta alumnus FK UGM. Kegiatan kelompok bencana dapat dilihat di www.bencana-kesehatan.net.

Kegiatan penanggulangan bencana memerlukan pembiayaan untuk akomodasi tim, perbekalan, logistik medis yang diperlukan untuk menolong korban dan pengungsian daerah bencana. Disamping pengiriman tim, kelompok Bencana juga selalu mempersiapkan diri dengan berbagai kegiatan seperti pelatihan, workshop, sampai ke seminar di luar negeri.  Selama ini kegiatan kelompok bencana ditopang oleh dana luar negeri, sumbangan dari perseorangan, dana dari FK UGM, dana dari UGM, dan juga dari Kementerian Kesehatan.

Untuk mendukung kesiapan dan kecepatan pengiriman tim bencana di masa mendatang, Kelompok Kerja Bencana alumnus FK UGM membuka program Alumnus Menyumbang Tim Bencana. Ada beberapa kategori penyumbang yang kami harapkan dapat rutin menyumbang setahun sekali. Untuk melihat leaflet Donasi silahkan klik-disini

gb4

Penggalangan dana selama 10 menit berhasil menarik minat dan komitmen para alumni untuk menyumbang. Sebagian dari alumni memilih menyumbang secara kelompok dan katagori penyumbang kelompok yang terbanyak memilih katagori Penyumbang Platinum (besaran sumbangan lebih dari Rp. 10.000.000,00 /tahun/ kelompok). Sebagian lain juga memilih menyumbang secara pribadi dengan katagori sumbangan terbanyak adalah Penyumbang Platinum (besaran sumbangan lebih dari Rp. 1.000.000,00/tahun/orang).

Bagi Alumni dan Umum yang mau berkontribusi bagi penanggulangan bencana di Indonesia melalui Pokja Bencana FK UGM diharapkan bisa menyalurkan sumbangannya ke Yayasan Kagama Kedokteran Rekening Kelompok Bencana Bank BRI UGM No.Rek 1746-01-000001-30-2 atau lihat lebih jelas pada leaflet donasi di atas.

Pameran Ilmiah Kebencanaan di Indonesia – ASM 2013

gb1

Pameran Ilmiah Kebencanaan di Indonesia
Dalam Rangkaian Annual Scientific Meeting 2013

Oleh Pokja Bencana Fakultas Kedokteran UGM

Yogyakarta-PKMK. Telah berlangsung (2/3/2013) pameran ilmiah kebencanaan di Indonesia yang diselenggararkan oleh Kelompok Kerja Bencana Fakultas Kedokteran UGM. Pameran dimulai sejak pukul 08.00 WIB di Lobby Auditorium FK UGM. Pameran kebencanaan ini merupakan rangkaian kegiatan pembukaan Annual Scientific Meeting (ASM) 2013 FK UGM.

gb1

Pada kesempatan kali ini, Menteri Kesehatan Republik Indonesia, H.E.Dr. Nafsiah Mboy menyempatkan diri mengunjungi pameran setelah membuka acara Annual Scientific Meeting (ASM) 2013 FK UGM. Menteri kesehatan membubuhkan tanda tangan di partisi bencana Banjir Jakarta. Didampingi oleh dr. Bella Donna dari pokja Bencana, Menteri Kesehatan bertanya mengenai kegiatan yang dilakukan pokja bencana.

gb2

Pameran ilmiah bertujuan menampilkan kegiatan penanggulangan bencana di Indonesia yang pernah dilakukan tim pokja serta peta kurikulum bencana di FK UGM. Ada enam kegiatan penanggulangan bencana yang terekam mulai dari tsunami Aceh tahun 2004, gempa Yogyakarta tahun 2006, tsunami Pangandaran tahun 2006, gempa bumi Padang tahun 2009, letusan Gunung Merapi tahun 2010, hingga banjjir Jakarta awal tahun 2013.

gb3

Komitmen pokja bencana tidak diragukan lagi keterlibatannya dalam penanggulangan bencana di Indonesia, misalnya bencana tsunami Aceh dimana tim terlibat hingga 4 tahun. Selama 2004 hingga 2008, lebih dari 500 orang telah diberangkatkan ke Aceh dengan berbagai macam profesi kesehatan yang ada di FK UGM. Tim membantu mulai fase akut, pemulihan, dan pengembangan. Kegiatan yang dilakukan mulai dengan mengirim relawan, melakukan penguatan sistem manajemen RS di Aceh, pengiriman layanan psikologis, pengembangan sistem rujukan dan penanggulangan gawat darurat terpadu dan sistem manajemen mutu RS.

gb4

Begitu juga dengan komitmen FK UGM sebagai satu-satunya universitas yang vioner dalam penanggulangan bencana di Indonesia. Salah satu buktinya dengan mengembangkan kurikulum bencana pada Program Studi Pascasarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat minat Kebijakan Manajemen Pelayanan kesehatan, Program Studi Kedokteran Umum, Program Studi Ilmu Keperawatan, dan terlibat dalam kurikulum Sekolah Pascasarjana minat Magister Manejemen Bencana.
Nanti malam, akan ada kegiatan Temu Almuni FK UGM. Pokja bencana terlibat kembali dengan menggelar pameran ilmiah kebencanaan di Joglo Alumni FK UGM.

Pengantar 23 Februari 2013

Perubahan iklim sudah menjadi isu global karena dampaknya kepada semua sektor kehidupan, baik ekonomi, pertanian, hingga kesehatan. Selain itu, banyak pertemuan, diskusi, dan kesepakatan dilakukan guna mencegah dan menanggulangi dampak perubahan iklim. Bulan ini pertemuan tentang climate change dilakukan oleh benua Eropa, Australia, dan Asia

Eropa. 2nd international conference on climate change and humanity yang berlangsung pada 24-25 Pebruari 2013 di Itali, Roma. Tujuan utama konferensi ini untuk mempromosikan penelitian dan kegiatan pembangunan dalam perubahan iklim dan kemanusiaan. Konferensi ini akan diadakan setiap tahun guna merumuskan pandangan dan pengalaman terkait perubahan iklim. Informasi lengkapnya silahkan klik-disini

Australia. Perumusan pertemuan dan penelitian ilmiah mengenai perubahan dan dampak iklim perlu dijadikan kebijakan yang diadvokasi kepada semua sektor pengambil kebijakan. Seperti yang dilakukan Australia tanggal 26 Pebruari 2013 di Canberra membahas tentang Conversations about climate change adaptation. Pada pertemuan ini akan dirumuskan lima hal yakni pengambilan keputusan untuk adaptasi yang efektif, mengelola masyarakat pesisir dan ekosistem, mendukung pemerintah daerah, adaptasi pertanian, dan pengelolaan sumber daya air di bawah perubahan iklim. Informasi lebih lanjut silahkan klik-disini

Indonesia. Akhir pekan ini, Sabtu (2/3/2013) Pokja Bencana FK UGM mengadakan Pameran Ilmiah Kebencanaan di Indonesia. Pameran tersebut akan dilaksanakan di FK UGM. Materi pameran meliputi bencana tsunami Aceh, gempa Padang, gempa Yogyakarta, gempa dan tsunami Pangandaran, letusan Merapi, dan banjir Jakarta. Disusul pada tanggal 6 Maret 2013, semiloka dengan judul “Pengaruh Perubahan Iklim (Climate Change) pada Manajemen Bencana dan Dampaknya di Sektor Kesehatan dengan kasus Penanggulangan Banjir Jakarta”. Pendaftaran peserta masih dibuka, informasi lebih lanjut silahkan klik-disini

Earthquake shakes buildings in Tokyo

Seismic waves – File photo
 Jakarta:  Two separate landslides triggered by torrential rain in western Indonesia have killed at least nine people, including four geothermal workers, and left 17 others missing, officials said today.
Continue reading

Empat Warga Tewas Terseret Banjir

KOMPAS.com – Empat pemuda di Kota Jambi tewas saat sedang bermain dan berenang di genangan air banjir di lokasi jalan Desa Niaso, Kecamatan Sebapo, Kabupaten Muarojambi Provinsi Jambi, Minggu.

Continue reading