Reportase Sesi 1. Kebijakan Logistik Medik Seminar Penggunaan Logistik Medik pada Bencana

sesi1 asm

Reportase Sesi 1. Kebijakan Logistik Medik

Seminar Penggunaan Logistik Medik pada Bencana:
Study Kasusu Tetanus pada Gempa Yogyakarta untuk Pencegahan pada Gempa Pidie Jaya 2016

Kamis, 9 Maret 2017
Gedung Senat Lantai 2 KPTU Fakultas Kedokteran UGM

sesi1 asm
Sesi 1 ini ditujukan untuk membahas kebijakan logistik medik. Untuk itu, narasumber yang dihadirkan berasal dari regulator baik di tingkat nasional maupun internasional. Narasumber kali ini adalah dr. Achmad Yurianto yang merupakan Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes dan Bapak Yulian Yogadhita, S.Farm, Apt dari WHO Indonesia.

dr. Hendro Wartatmo, Sp.BD selaku penasihat Pokja Bencana FK UGM, menjadi moderator pada sesi ini. Dalam pengantarnya beliau teringat bahwa pada suatu kejadian bencana beliau dan tim pernah menerima obat-obatan berbahasa Jepang dan tidak ada bahasa inggris juga yang bisa dimengerti. Kedepannya harusnya sudah tidak ada lagi pengalaman yang seperti ini.

achmad

Bahasan kita hari ini sebenarnya dapat kita rangkum dalam upaya monitoring layanan kesehatan pada saat bencana. Hal ini benar-benar strategis dan berkaitan sekali dengan perencanaan dan peningkatan kapasitas pada saat terjadi bencana. Menyinggung yang disampaikan oleh moderator tadi mengenai permasalahan label obat bantuan, itu menunjukkan kalau pada saat itu, kita memang belum siap termasuk merencanakan penerimaan bantuan logistik medik pada saat bencana.

Kaitannya dengan penanganan logistik, setiap daerah di Indonesia harusnya sudah merujuk pada DAK Bidang Kefarmasian yang sudah mengharuskan setiap daerah memiliki perencanaan buffer stock. Harusnya, setiap daerah memperhitungkan dengan benar buffer stock ini berdasarkan kontijensi krisis kesehatan dan bencana yang ada di daerahnya.

Sedangkan penanganannya berbasis klaster. Kita ada di klaster kesehatan yang terdiri dari sub-sub klaster lagi. Sub klaster yang berkaitan dengan logistik ini adalah sub klaster layanan kesehatan.

Peran pengurangan risiko bencana dibidang kesehatan ini merupakan asset yang harus dikelola oleh dinas kesehatan. Bukan pada masa responnya tapi pada saat pemulihan dininya dan kembali lagi pada masa pra bencana sebagai bentuk kesiapsiagaan.

sesi webinar who

Pemateri kedua memaparkan tentang internal dan external preparedness, koordinasi, dan pembelajaran dari gempa Nepal. Beliau lebih banyak membahas mengenai kasus yang pernah dialami seperti pemusnahan obat bantuan pada gempa Padang dan gempa Jogja. Obat yang dimusnahkan jumlahnya hingga 10 ton dan membutuhkan dana yang besar.

Menyambung permasalahan penerimaan bantuan obat yang tidak sesuai dan logistik medik lainnya, erat kaitannya dengan upaya peningkatan kapasitas petugas penerimaan logistik di lapangan. Biasanya yang menerima adalah BNPB atau TNI diluar sektor kesehatan. Artinya, upaya peningkatan kapasitas penerimaan bantuan ini juga harus memperhatikan peningkatan kapasitas lintas sektor, tidak hanya petugas kesehatan.

Logistik dalam ICS mendapat perhatian serius karena ketika itu menjadi bencana internasional maka WHO menjadi koordinator kesehatannya yang menerima bantuan ini. Jika tidak sesuai kebutuhan maka bisa untuk ditolak. Pertanyaannya, bagaimana kompetensi SDM penerima logistik dan sistem perencanaan penyimpanannya, distribusinya, pelaporannya di tingkat nasional dan daerah? Ini yang harus masuk dalam perencanaan tiap-tiap daerah sesuai dengan kontijensi yang disepakati.

tanya jawab

Masuk ke sesi diskusi, dr. Wiliam dari Medicuss Foundation, Pak Sutono dari PSIK FK UGM, dan Pak Budi dari RS PKU serta Pak Dodi dari PKK. Secara umum diskusi seputar kekacuan penanganan pada saat bencana, standar obat-obatan yang harus disiapkan untuk rumah sakit seperti apa, serta lemahnya koordinasi lintas sektor dalam penanganan bencana di daerah. Dapat dirangkum bahwa the most problem in disaster respond was not-single resources but control and coordination. Bagaimana kerjasama lintas sektor hingga pengaturan di sektor kesehatan sendiri harus dikuatkan dengan seringnya melakukan kontak dan kerjasama.

Reportase: Madelina A

Reportase Sesi 2. Kebijakan Logistik Medik Seminar Penggunaan Logistik Medik pada Bencana (2)

sesi2

Reportase Sesi 2. Kebijakan Logistik Medik

Seminar Penggunaan Logistik Medik pada Bencana:
Study Kasusu Tetanus pada Gempa Yogyakarta untuk Pencegahan pada Gempa Pidie Jaya 2016

Kamis, 9 Maret 2017
Gedung Senat Lantai 2 KPTU Fakultas Kedokteran UGM

sesi2

Pada sesi kedua seminar tentang logistik medik ASM 2017 dimoderatori oleh Sutono, S.Kp., M.Sc, M.Kep. Materi pertama dipaparkan oleh dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS tentang kasus infeksi saat bencana. Jurnal tentang bencana yang saat ini sering dibahas oleh peneliti yakni tentang cara mencegah dan mengendalikan natural disaster. Banyak penyakit yang muncul pada saat bencana, seperti diare, tetanus, demam, infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) dan hal tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga bencana di negara lain.

Faktor resiko yang menyebabkan munculnya penyakit pada saat bencana antara lain populasi yang terlalu banyak, minim air bersih dan sanitasi yang buruk. Untuk itu pencegahan dan pemberantasan penyakit menular merupakan termasuk tindakan yang dilakukan di pengungsian. Pemerintah pun telah membuat suatu pendoman teknis penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana serta lesson learnt penanganan krisis kesehatan.
Tercatat pada gempa bumi yang terjadi di Yogyakarta dan Jawa Tengah beberapa kasus tetanus, dan terbanyak di RS Sardjito sebanyak 22 kasus. Prosentase penderita tetanus mayoritas terjadi pada usia di atas 50 tahun sebanyak 70,43% dan apabila dilihat dari gender maka terbanyak pada pria sebanyak 57,75%.
Materi kedua dipaparkan oleh dr. Ninik dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul yang membahas tentang bencana gempa bumi yang terjadi di Kabupaten Bantul. Tahun 2016 terjadi bencana gempa bumi di Kabupaten Bantul yang berpengaruh pada kualitas air yang langsung menjadi kurang baik dan berdampak timbulnya penyakit. Pada saat bencana tersebut dibuat dapur umum, dimana tidak dapat dikontrol untuk kualitas makanan dan bantuan nasi bungkus yang dimakan pada esok harinya sehingga menyebabkan diare.

Kasus tetanus juga terjadi karena terkena reruntuhan bangunan akibat gempa, dimana atap rumah warga banyak yang menggunakan seng serta paku yang bertebaran. Warga Bantul banyak yang memelihara sapi di dekat rumahnya, sehingga pasca bencana warga lebih fokus pada rehabilitasi rumah serta binatang peliharaan dan tidak memperhatikan luka yang dialami. Warga pun masih sangat minim pengetahuan tentang perawatan dan komplikasi akibat luka.
Kasus tetanus di Bantul mayoritas terjadi pada usia di atas 45 tahun sebanyak 60%, hal ini terjadi karena pada saat itu belum ada kebijakan imunisasi dasar lengkap seperti sekarang ini. Apabila dilihat dari gender maka 80% terjadi pada pria karena perempuan terpapar imunisasi lebih banyak. Selama kurang dari 24 hari pasca bencana, telah terjadi 50 kasus tetanus ditemukan.

Penerimaan logistik medis pasca bencana banyak berdatangan dari berbagai sumber baik dari dalam maupun luar negeri, sehingga perlu adanya pengelolaan yang tepat. Distribusi obat tidak hanya diberikan kepada fasilitas kesehatan namun juga ke posko-posko yang banyak muncul secara mendadak. Pengelolaan logistik tersebut menggunakan sistem 1 pintu baik penerimaan maupun pendistribusian.

Persediaan obat tetanus pada gudang obat yang dimiliki Dinas Kesehatan Bantul sangat minim. Sementara bantuan yang berdatangan tidak ada yang memberikan pengobatan untuk tetanus, hanya antibiotik dan analgesik saja. Namun terdapat solusi karena selama bencana sesuai kebijakan nasional untuk pengadaan diperbolehkan secara langsung tanpa melalui tender.

Permasalahan yang terjadi yakni obat dari donatur seringnya tiba-tiba datang tanpa adanya koordinasi dan obat yang dikirim tidak semua bagus, karena ada yang waktu kadaluarsanya pendek. Pemusnahan obat pun sempat dilakukan yang dianjurkan oleh WHO kurang lebih 10 ton. Berdasarkan dari pengalaman tersebut maka dilakukan perubahan pada gudang obat dimana dibuat 10-20% buffer stock oabt serta obat untuk kebutuhan rutin yang mencukupi selama 18 bulan. Jumlah persediaan Anti Tetanus Serum ATS) pun sekarang lebih diperbanyak, serta pengadaan ATS yang menggunakan e-katalog untuk pengirimannya dilakukan 3 kali. Hal ini dengan tujuan agar memiliki tanggal kadaluarsa yang berbeda.

Materi ketiga tentang kasus tetanus pada gempa bumi Pidie Jaya tahun 2016 dipaparkan oleh dr. Hasnani, M.Kes dari P2KK Aceh yang dilakukan menggunakan media webinar. Pada bencana tersebut, dinas kesehatan Aceh berkoordinasi dengan RSU Zainal Abidin Banda Aceh dalam hal menerima pasien, serta mendirikan pos koordinasi kesehatan. Fase tanggap darurat hari ke-2 maka telah dibentuk tim kesehatan, dimana seluruh divisi dari Dinkes Aceh bergabung bersama tim P2KK Aceh pada klaster kesehatan. Bantuan segera datang setelah bencana terjadi, baik dari dalam maupun luar negeri. Sejumlah tim relawan membantu dalam situasi yang timbul akibat bencana. Diketahui terdapat kurang lebih 1.174 relawan yang telah terjun dalam bencana.

Fasilitas kesehatan banyak yang mengalami kerusakan, terutama yang paling banyak terjadi yaitu puskesdes. Banyak penyakit juga yang timbul akibat bencana, seperti ISPA, diare, penyakit kulit, dan penyakit lain. Cakupan imunisasi pada gempa Pidie Jaya melingkupi imunisasi campak sebesar 95,02% dari target 5.500 balita, dan imunisasi tetanus sebanyak 67,63% dari 275 relawan. Tidak ditemukan kasus tetanus baik sebelum bencana maupun dari para relawan pada masa tanggap darurat.
Materi terakhir disampaikan oleh dr. Sulanto Saleh Danu, Sp.FK tentang logistik medik pada bencana. Erat hubungannya antara bencana dengan infeksi, dimana infeksi terjadi apabila muncul gejala patologis. Besar kecilnya logistik dalam bencana dipengaruhi oleh macam bencana, besar kekuatan, lokasi bencana, jumlah korban dan populasi penduduk.

Dampak dari bencana menimbulkan trauma, komplikasi, dan penyakit seperti tetanus. Sementara tindakan pasca bencana pada korban maka perlu dilakukan triase, perawatan luka, stabilisasi, serta tindakan pencegahan. Berdasarkan dari beberapa bencana yang terjadi di Indonesia, maka sangat perlu dilakukan pengelolaan logistik baik medis maupun non medis. Tiap bencana selalu berdampak pada kesehatan manusia, banyak penyakit yang akan timbul, salah satunya yaitu yang diakibatkan oleh infeksi. Penatalaksaan infeksi sendiri diperlukan anti infeksi, vaksin serum dan pendukung lainnya.

Reporter: Wisnu Damarsasi

Reportase Sesi Pembukaan Seminar Penggunaan Logistik Medik pada Bencana

pembukaan asm bencan

Reportase Sesi Pembukaan

Seminar Penggunaan Logistik Medik pada Bencana:
Study Kasus Tetanus pada Gempa Yogyakarta untuk Pencegahan pada Gempa Pidie Jaya 2016

Kamis, 9 Maret 2017
Gedung Senat Lantai 2 KPTU Fakultas Kedokteran UGM

pembukaan asm bencan

Seminar rutin tahunan yang diselenggarakan kerjasama antara Pokja Bencana FK UGM dengan Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM ini merupakan partisipasi dalam rangka Annual Scientific Meeting FK UGM setiap tahunnya. Tahun 2017, Pokja Bencana mengambil tema yang lebih spesifik, merujuk pada tema ASM Pusat, yakni tentang penggunaan logistik medik dalam bencana.

Permasalahan logistik dalam bencana menarik untuk didiskusikan sebab penggunaan dan pendistribusian yang tidak tepat dapat menimbulkan masalah kesehatan. Berbeda dengan seminar-seminar sebelumnya, seminar kali ini kita fokus pada satu kasus yakni kasus tetanus, kata dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS selaku Ketua Pokja Bencana FK UGM dalam sambutannya.

handoyo

dr. Handoyo mengapresiasi kepada seluruh peserta, klien, dan pemerhati bencana semuanya yang berhadir secara langsung ataupun yang melalui webinar dalam seminar ini. Kita membutuhkan diskusi dan sharing yang banyak dari seluruh rekanan bencana dalam seminar ini.

Sambutan dan pembukaan disampaikan oleh dr. Mei Neni Sitaresmi, SP. A(K), Ph.D selaku perwakilan dekanat FK UGM. Beliau mengatakan bahwa upaya kesiapsiagaan bencana sangat dibutuhkan agar penanganan respon dan pasca bencana lebih optimal, salah satunya dengan penyiapan logistik. Kaitannya dengan kasus tetanus pada kejadian gempa menarik untuk dibahas karena berkaitan sekali dengan ketersediaan logistik vaksin misalnya, bagaimana perencanaan, pendistribusian, dan cakupannya pada masa bencana.

dr. Mei Neni Sitaresmi

Harapan beliau seminar ini menjadi pembelajaran yang bagus karena mempertemukan antara guideline dan kebijakan yang ada dengan pengalaman rekan sekalian di lapangan pada saat bencana. Bisa jadi dari seminar ini nantinya didapatkan masukan upaya perbaikan penanganan logistik medik pada saat bencana kedepannya.

Reportase: Madelina A

 

Pengantar Web 7 – 12 Maret 2017

Selamat berjumpa kembali kepada seluruh pembaca website bencana kesehatan. Terlepas dari kejadian banjir di berbagai daerah di nusantara yang belum berakhir, kabar terbaru dari Gunung Kelud juga menjadi salah satu sorotan di awal bulan ini. Banjir lahar dinginnya tidak hanya membawa tumpukan material vulkanik, tetapi juga menyeret truk-truk besar. Keadaan ini semoga membuat pembaca di seluruh nusantara untuk lebih berhati-hati dan selalu memperhatikan orang-orang maupun kondisi di sekitarnya.

Bencana selalu meninggalkan berbagai cerita menarik didalamnya. Penanganan bencana di sektor kesehatan juga memiliki banyak bagian yang harus didiskusikan. Salah satu penunjang penting dalam penanganan bencana adalah logistik medis. Topik ini akan dibahas pada Annual Scientific Meeting (ASM) Fakultas Kedokteran UGM Tahun 2017; tepatnya pada Kamis, 9 Maret 2017 di Gedung Senat KPTU Fakultas Kedokteran UGM. Fokus utama pembahasan pada seminar dalam rangkaian ASM ini adalah pengelolaan logistik medis (study kasus tetanus pada gempa bumi Yogyakarta tahun 2006 untuk pencegahan tetanus pada Gempa Pidhie Jaya. Simak TOR selengkapnya Klik Disini arrow, external, leave, link, open, page, url icon

Pada hari Kamis, 30 Maret 2017 Pukul 13.00-15.00 WIB, kami juga menyelenggarakan Webinar berjudul “Kesiapsiagaan Logistik Medik Pada Bencana” Refleksi Seminar ASM Pokja Bencana 9 Maret 2017”. Webinar ini merupakan refleksi seminar ASM Pokja Bencana 9 Maret 2017 dan menjadi tindak lanjut terhadap seminar tersebut. Peserta dapat mendiskusikan lebih dalam terkait dengan pelaksanaan distribusi logistik medis pada saat bencana. Simak TOR selengkapnya Klik Disini arrow, external, leave, link, open, page, url icon

Rekan pembaca, World Association for Disaster and Emergency Medicine (WADEM) menyelenggarakan kongres untuk Bidang Disaster dan Emergency Medicine pada tanggal 25-28 April 2017 di Toronto, Canada. Pada kegiatan ini, Divisi Manajemen Bencana UGM ikut berpartisipasi dengan lolosnya 3 abstrak pada kegiatan tersebut. Rangkaian kegiatannya berupa presentasi oral dan poster; serta aktifitas lainnya seperti workshop, diskusi panel, debat, latihan tabletop, dll. Seluruh rangkaian kegiatan yang diselenggarakan pada kongres ini akan direportasekan selanjutnya. Penjelasan lengkap terkait kegiatan yang diselenggarakan dapat diperoleh pada Klik Disini arrow, external, leave, link, open, page, url icon

Pengantar Web Bencana, 14 – 20 Maret 2017

Selamat berjumpa kembali kepada seluruh pembaca setia webite bencana kesehatan. Minggu ini kita masih diliputi dengan berita tentang kejadian banjir di nusantara. Peta rawan banjir dan tanah longsor di Indonesia menunjukkan bahwa sebagian besar wilayahnya berada di titik rawan banjir dan tanah longsor. Pulau Jawa juga harus berbesar hati karena memiliki daerah dengan titik rawan banjir terbanyak di nusantara. Berdasarkan informasi yang dilaporkan oleh BNPB pada 9 Maret 2017, diketahui bahwa 3 bulan awal di tahun ini mencatat kejadian banjir sebanyak 765 kejadian. Indonesia juga tidak bisa bersantai diri, karena setelah melewati musim penghujan disertai cuaca ekstrim. Mei menjadi awal musim kemarau. Permasalahan baru juga muncul seiring dengan perubahan musim tersebut. Ancaman kebakaran hutan, kekeringan menjadi lembaran baru dalam cerita nusantara kita. Selanjutnya, peran apakah yang dapat kita berikan kepada negeri ini? Itu merupakan pertanyaan yang tepat bagi semua kalangan. Peran masyarakat awam, pemerintah sebagai pemangku kebijakan serta petugas kesehatan sebagai sentral pemberi layanan kesehatan di setiap fase kejadian menjadi harus didiskusikan. Minggu ini kami menghadirkan 4 informasi menarik untuk dibaca dan direnungkan bagi semua kalangan.

Informasi pertama tentang pelaksanaan seminar pengelolaan logistik medis pada 9 Maret 2017 lalu di KPTU UGM. Seminar Annual Scientific Meeting (ASM) ini menghadirkan 5 orang pembicara. Pada sesi pertama, fokus bahasannya terkait kebijakan logistik medis serta pembelajaran dari gempa Nepal. Pada sesi kedua; pembicara memaparkan tentang kasus infeksi serta pencegahan dan pengendalian natural disaster atau bencana alam. Hal menarik yang disampaikan pada sesi ini adalah kurang dari 24 hari pasca gempa, kasus tetanus tercatat sebanyak 50 kasus. Permasalahan dalam pendistribusian bantuan obat juga dipaparkan seperti bantuan obat tiba-tiba yang tidak diimbangi dengan kualitas obat yang tidak selalu bagus. Sedangkan pada gempa Pidie tidak ditemukan korban yang menderita tetanus sebelum maupun pada masa tanggap darurat.  Reportase lengkapnya dapat disimak di sini (link ke reportase ASM 9 Maret 2017).

Webinar selanjutnya dilaksanakan pada 30 Maret 2017 sebagai tindak lanjut seminar tentang pengelolaan logistik medis pada tanggal 9 Maret 2017 lalu. Diskusi mendalam tentang kebijakan logistik medis serta hal-hal menarik terkait materi ini dibahas pada webinar ini. TOR selengkapnya simak di sini (link ke webinar yang rutin).

Persiapan untuk menghadapi permasalahan-permasalahan saat ini dapat dilakukan dengan berbagai cara dan media. Salah satu media yang dapat digunakan adalah buku. Minggu ini kami mengulas tentang buku yang berjudul “Hospital Safety Index : Guide for Evaluators (2nd Edition)”. Buku ini memaparkan tentang penjelasan langkah-langkah bagaimana penggunaan checklist penilaian keamanan rumah sakit dan bagaimana evaluasi dapat digunakan untuk menilai keamanan struktural dan non struktural kapasitas manajemen bencana dari sebuah rumah sakit. Buku ini digunakan secara luas oleh berbagai lembaga di berbagai negara, sehingga dapat menjadi pilihan bacaan bagi para evaluator. Penjelasan lengkapnya dapat diperoleh melalui http://www.preventionweb.net/publications/view/50957 dan http://www.preventionweb.net/files/50957_hospitalsafetyindexevaluators.pdf

Rekan pembaca, cara kedua yang dapat digunakan adalah dengan mengikuti kursus. Collaborating Centre for Oxford University and CHUK for Disaster and Medical Humanitarian Response (CCOUC) mengadakan kursus di musim panas tentang metodologi penelitian untuk kebencanaan dan respon medis. Kursus dilaksanakan selama 5 hari pada Juli 2017. Materi kursus yang diberikan berupa prinsip desain penelitian, metode penelitian kuantitatif dan kualitatif,  perkembangan terbaru metodologi penelitian, topik terkini pada setting kebencanaan dan kemanusiaan serta implementasi dan aplikasi penelitian di setting praktik. Bagi pembaca yang tertarik di bidang kebencanaan dan kemanusiaan dapat mengikuti kegiatan ini. Terdapat beasiswa terbatas bagi peserta terbaik dengan pemberian biaya untuk kursus dan transportasi yang dikeluarkan. Penjelasan lengkap kegiatan tersebut dapat disimak melalui http://www.preventionweb.net/events/view/51609?id=51609

TERM OF REFERENCE (TOR) WEBINAR SERIES FEBRUARI 2017

TERM OF REFERENCE (TOR)
WEBINAR SERIES FEBRUARI 2017

 Kesiapan Logistik Medik pada Bencana: Refleksi Seminar ASM Pokja Bencana 9 Maret 2017

Kamis, 30 Maret 2017  Pukul 13.00 – 15.00 WIB
Lab Leadership IKM FK UGM

Oleh divisi Manajemen Bencana, Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK)fakultas Kedokteran UGM


PENGANTAR

Permasalahan logistik memang selalu menarik untuk didiskusikan. Seperti yang telah kami diskusikan pada Seminar Penggunaan Logistik Medik pada Bencana (Studi Kasusu Tetanus pada Gempa Yogyakarta untuk Pencegahan pada Gempa Pidie Jaya 2016), 9 Maret lalu.

Pada webinar kali ini, kita akan lebih fokus membahas kesimpulan, saran, dan masukan dari hasil seminar tersebut. Selain itu, kita akan lebih mempertajam mengenai isu, kebijakan, dan pelaksanaan distribusi logistik medik pada saat bencana.

Judul  : Kesiapan Logistik Medik pada Bencana 
Pembicara  : dr. Sulanto Saleh Danu, Sp.FK 
Moderator  : Intan AnatasiaNP, MSc, Apt 
Hari/tanggal  : Kamis, 30 Maret 2017 
Pukul : 13.00 – 15.00 WIB

 

analytics, audience, presentation, training icon  PESERTA YANG DIHARAPKAN

  • Kementerian Kesehatan (Pusat Krisis Kesehatan)
  • BNPB
  • BPBD
  • Dinas Kesehatan
  • Rumah Sakit
  • Fakultas Kedokteran, Kesehatan, dan Keperawatan
  • Group EMT Indonesia
  • Mahasiswa
  • Peneliti
  • LSM
  • Dsb

 

agreement, arrangement, document, register, registration, sign, write icon  PENDAFTARAN DAN INFORMASI

Lelyana
Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM
Mobile           : 081329760006
Ph                : 0274-549425
Fax               : 0274-549424

 

UN-backed forum in Montreal set to agree region-wide disaster risk reduction plan

 March 2017 – More than 1,000 delegates from across the Americas will meet this week at a United Nations-backed conference in the Canadian city of Montreal to agree a Regional Action Plan designed to reduce the loss of life due to disasters, both natural and man-made.

Officially known as the Fifth Regional Platform for Disaster Risk Reduction (DRR) in the Americas, the three-day event which opens Tuesday 7 March, is the first major conference in the region following up on the Sendai Framework for Disaster Risk Reduction, adopted in 2015 in the Japanese city of the same name.

Hosted by the Government of Canada in cooperation with the UN Office for Disaster Risk Reduction (UNISDR), the Regional Platform will mark the first opportunity for governments and stakeholders of the Americas to discuss and agree on a Regional Action Plan to support the implementation of the Sendai Framework for DRR 2015-2030 (Sendai Framework).

Sendai is a development framework, agreed by more than 180 countries, setting global but non-binding targets, to increase disaster preparedness, effective early warning systems and international cooperation, while at the same time reducing the impact of disasters on people, the economy, and the environment.

The platform in Montreal, which concludes on 9 March, will be the first opportunity for countries of the Americas to come together and discuss how they are going to put Sendai into practice.

“In Montreal, countries will adopt this Regional Action Plan [and] it will also provide the forum where countries will be able to discuss for the first time, how they are doing” said the head of the UN Office for Disaster Risk Reduction in the Americas, Ricardo Mena, in an interview with UN News.

 

The 2015 Sendai Framework was the first big intergovernmental agreement underpinning the UN-led 2030 development programme, along with the 2030 Agenda for Sustainable Development agreed by 193 countries later that year; the Addis Ababa Action Agenda on development finance; and the historic Paris Agreement on Climate Change.

Mr. Mena said there was a clear link between Sendai and the other pillars of the 2030 Agenda, citing the example of the Sustainable Development Goals (SDGs), specifically Goal, on ending extreme poverty. “Disasters usually bring more people into poverty; therefore you can see disasters as a driver of potential conflicts down the road and that’s why it becomes so important, so crucial, in having investments in reducing risks.”

Montreal Platform will be a ‘big tent’ gathering for diverse stakeholders

High-Level intergovernmental meeting on implementing the Sendai Framework across the Americas took place in Paraguay last June, but Montreal will “be a bigger tent,” said Mr. Mena.

“It’s a meeting where all the stakeholders – private sector, academia, science and technology, local authorities and civil society – are going to be participating in full force,” he said.

Noting that there are already “some quite positive signs” that implementation is well underway across the region, he cited the fact that UNISDR’s Americas office is already working with 10 countries “on the alignment of national DRR strategies and plans to the Sendai Framework spirit.”

“In some cases it’s revising existing strategies and plans, and aligning them to the Sendai Framework, in other cases it’s starting from scratch,” he added.

Mr. Mena said that getting national treasuries – and increasingly private sector investors – to think long-term about disaster risk, was the main challenge.

“Whatever is put into DRR is going to save money down the road. We know of the positive impact that DRR investments have.

“There is much more funding being put for disaster response activities, than for DRR activities […] The issue is how to integrate the DRR lens into every investment that you are about to do,” he added.

Minister in charge of Public Safety and Emergency Preparedness, Ralph Goodale, said Canada is “looking forward to working with our partners across all sectors of the emergency management community both domestically and among our hemispheric partners to develop an interactive and action-oriented agenda.”

Montreal’s mayor, Denis Coderre, said the city is looking forward to playing its part, and welcoming delegates from all parts of the continent. “Montreal is also one of the Rockefeller Foundation’s 100 Resilient Cities and actively integrates the principles of urban resilience in order to better prepare for the challenges of the 21st Century,” he said.


Bupati Minta Warga Tingkatkan Kewaspadaan Bencana

Tanah longsor menimpa rumah penduduk, ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, BANJARNEGARA –- Hujan yang terus menerus turun dikhawatirkan akan meningkatkan potensi bencana di beberapa wilayah Kabupaten Banjarnegara. Untuk itu, Penjabat Bupati Banjarnegara Prijo Anggoro, dalam berbagai kesempatan bertemu dengan warganya selalu meminta mereka meningkatkan kewaspadaan terhadap terjadinya bencana.

“Sekitar 70 persen wilayah Banjarnegara merupakan wilayah yang rawan longsor. Untuk itu, pada musim seperti sekarang ini saya minta warga terus menerus meningkatkan kewaspadaan. Jangan sampai terjadi korban,” katanya, Senin (6/3).

Bahkan dia mengaku sudah mengeluarkan surat edaran pada para camat dan kades, agar benar-benar memperhatikan kondisi wilayahnya. Mereka juga diminta untuk tidak meninggalkan wilayahnya terlalu lama, terutama pada musim hujan seperti sekarang.

“Begitu ada tanda-tanda yang mengkhawatirkan, mereka harus segera mengambil tindakan. Kalau perlu, warga yang tinggal di lokasi bencana agar segera diungsikan ke tempat aman,” tegasnya.

Kepala Pelaksana Harian pada BPBD, Arief Rahman, mengakui tingginya curah hujan saat ini menyebabkan berbagai wilayah di Banjarnegara berpotensi terjadi bencana longsor atau tanah bergerak. “Kami terus memantau lokasi-lokasi yang rawan bencana,” jelasnya.

Dia menyebutkan, sejak akhir Februari hingga awal Maret 2017, setidaknya terjadi empat kali longsor. Meski demikian, bencana tersebut tidak sampai menimbulkan korban jiwa. Bencana longsor, antara lain terjadi di Desa Cendana Kecamatan Banjarnegara. Longsor yang terjadi pada beberapa tebing tepi jalan menyebabkan akses ke Desa Cendana tertutup longsoran tanah. Selain itu, longsor juga terjadi di Desa Pringamba Kecamatan Banjarnegara dimana tebing setinggi 15 meter runtuh dan menimpa satu rumah milik keluarga Kiswono (45).

Selain itu, longsor juga terjadi di Desa Sidengok Kecamatan Pajawaran yang menyebabkan rumah milik Raharjo (55) mengalami kerusakan. Demikian juga, longsor terjadi di Desa Kalilunjar Kecamatan Pejawaran dan Desa Purwodadi Kecamatan Karangkobar yang menyebabkan rumah Sutarso (73) jebol.

“Longsor di Desa Purwodadi sempat menyebabkan jalan desa yang menghubungkan Desa Purwodadi ke Desa Gumelar dan Karangkobar tertutup total. Jalan tertimbun longsiran sepanjang 20 meter dengan ketebalan 1 meter,” katanya. 

Pengantar Web Bencana, 21-28 Februari 2017

http://oketekno.com/nasional/wp-content/uploads/2016/03/Banjir-Jakarta.jpg

Selamat berjumpa kembali kepada pembaca website bencana kesehatan. Semoga semua rekan yang berada di seluruh indonesia dalam keadaan yang berbahagia. Rekan sekalian, Keadaan nusantara yang dihinggapi kabar duka dari beberapa daerah akibat banjir, semoga memberikan kita kesempatan untuk lebih membuka wawasan kita tentang keadaan sekitar.

Bencana dapat menimbulkan dampak di berbagai sektor. Menariknya sektor kesehatan akan menjadi perhatian utama semua kalangan. Berbagai pertanyaan muncul tentang bagaimana penanggulangan yang tepat pada situasi bencana sektor kesehatan dalam rangka meminimalkan dampaknya. Berkaca pada negara tetangga kita Jepang, bencana yang dialami dengan negara kita hampir sama namun memberikan dampak yang lebih kecil bagi negaranya. Maka, apakah yang harus dilakukan untuk siap menghadapi bencana? Hal tersebut didiskusikan pada webinar bulan ini tentang Arah Kebijakan Penanggulangan Bencana Sektor Kesehatan (Penguatan Fasilitas Kesehatan) pada Selasa 28 Februari 2017 Pukul 13.00 – 15.00 WIB. Rekan pembaca, pengalaman kami pada pendampingan faskes terkait kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana di berbagai daerah di Indonesia disampaikan pada forum ini. Simak TOR selengkapnya Klik Disini arrow, external, leave, link, open, page, url icon

Daftar Segera, Kegiatan seminar Penggunaan Logistik Medik pada Bencana, 9 Maret 2017 di Fakultas Kedokteran UGM. Kegiatan ini mencakup perencanaan, penggunaan dan pengelolaan logistik medik yang tepat di bencana dan dapat memberikan dampak yang besar bagi korban. Seminar ini akan menyampaikan tentang studi kasus tetanus pada Gempa Yogyakarta. Hasilnya diharapkan dapat digunakan untuk pencegahan tetanus pada gempa Pidie Aceh Jaya 2016. Simak TOR selengkapnya Klik Disini arrow, external, leave, link, open, page, url icon

Perpanjangan Abstrak: Pertemuan Ilmiah Tahunan Ikatan Ahli Bencana Indonesia hingga 25 Februari 2017. Pertemuan Ilmiah IABI ke-4 memanggil para peneliti di seluruh Indonesia. Kegiatan ini diselenggarakan di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat pada hari Senin-Rabu, 8-10 Mei 2017. Rangkaian kegiatan berupa seminar internasional, poster ilmiah, diskusi panel, dll diagendakan. Simak TOR selengkapnya pada Klik Disini arrow, external, leave, link, open, page, url icon

Rekan pembaca, menanggapi keadaan nusantara kita yang dilanda banjir di berbagai daerah, Kami mentautkan leaflet kesiapsiagaan penanggulangan banjir dari Colorado Springs Office of Emergency Management. Pembahasannya tentang tindakan pencegahan sebelum, saat dan pasca banjir terjadi di wilayah rekan pembaca. Penekanan pada pemahaman anggota keluarga dalam menggunakan peralatan rumah tangga yang dapat membantu untuk bertahan saat dan pasca banjir. Hal-hal yang harus diperhatikan rekan-rekan yang berada di wilayah dengan potensi banjir untuk dapat bertahan apabila banjir terjadi. Penjelasan lengkap dapat diperoleh pada leaflet berikut Klik Disini arrow, external, leave, link, open, page, url icon

Sampai jumpa minggu depan, salam tangguh bencana.

DPKPB Purwakarta Inventarisasi Ulang Daerah Rawan Bencana Alam

INILAH, Purwakarta – Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Becana (DPKPB) Kabupaten Purwakarta, tengah melakukan pemetaan ulang terkait daerah-daerah rawan bencana alam di wilayah itu. Mengingat, kabupaten ini merupakan salah satu daerah di Jabar yang dinilai rawan bencana.
 
Kepala DPKPB Kabupaten Purwakarta, Wahyu Wibisono menjelakan, bencana alam yang kerap terjadi di wilayah kerjannya meliputi tiga hal. Antara lain, tanah longsor, banjir dan puting beliung. Selain itu, juga rawan kebakaran.
 
“Kebakaran dan Bencana alam akibat pergerakan tanah (longsor) yang paling kami waspadai,” ujar Wahyu kepada INILAH, Minggu (5/3/2017).
 
Untuk itu, terang dia, pihaknya telah meminta kepada pemerintahan di tingkat kecamatan untuk menginventarisasi ulang daerah rawan bencana alam di wilayah masing-masing. Selain itu, masyarakat pun diminta untuk lebih tanggap bencana.
 
“Beberapa pekan lalu, kita sudah surati camat untuk mendata ulang daerah-daerah yang dianggap rawan bencana alam di wilayah mereka. Tapi, sampai saat ini data tersebut belum juga diserahkan ke kita,” jelas dia.
 
Jika merujuk pada peta lama, dia menambahkan, bencana alam yang paling sering terjadi di wilayahnya, yakni tanah longsor. Bahkan, dari 192 desa/kelurahan yang ada 18 desa diantaranya merupakan daerah rawan bencana alam akibat pergerakan tanah.
 
Bencana alam akibat pergerakan tanah ini bisa saja terjadi. Apalagi, menilik dari kontur tanah di beberapa wilayah di Purwakarta yang terdiri dari tanah lempung. Sehingga sangat berpotensi terjadi longsor. Sebut saja salah satunya, Desa Parakan Lima dan Cisalada, Kecamatan Jatiluhur.
 
Berbeda dengan longsor, kata dia, untuk bencana banjir nyaris tidak ada. Memang, dulu ada satu desa yang kerap menjadi langganan banjir. Yaitu, hanya Desa Cikao Bandung, Kecamatan Jatiluhur saja. Desa tersebut, berada di bawah Bendungan Waduk Jatiluhur dan jadi wilayah pertemuan antara Sungai Citarum dengan Sungai Cikao.
 
“Tapi, sejak dibangunnya tanggul penahan air di aliran sungai Citarum, desa tersebut tak lagi dilanda banjir. Biasanya, kalau musim hujan seperti sekarang ini wilayah tersebut pasti terkena banjir akibat luapan sungai,” jelas dia.
 
Sedangkan, dia kembali menambahkan, untuk wilayah yang sering dilanda bencana angin ribut, hampir seluruh kecamatan yang ada di Purwakarta berpotensi diterjang angin puting beliung.
 
“Dari kecamatan yang ada, wilayah Kecamatan Bungursari dan Purwakarta yang paling sering terjadi kasus angin puting beliung,” tambah dia.
 
Sebagai antisipasi bencana, pihaknya telah menguatkan koordinasi dengan beberapa pihak. Dari mulai TNI/Polri, Camat dan seluruh perangkat desa, hingga bupati. Supaya, bila terjadi bencana alam di suatu wilayah bisa segera ditanggulangi. [jek]