(Sentani) Puluhan rumah warga di kampung Kehiran distrik Kota Sentani Kabupaten Jayapura, kini terendam banjir setinggi pinggang orang dewasa. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah -BPBD Kabupaten Jayapura, Alex Dusai mengatakan, penyebabnya hujan deras semalaman hingga sungai Hawai meluap karena tersumbat sampah dan kayu glondongan.
Bandar lampung Banjir, 3 Tewas
Bandarlampung – Hujan deras yang terjadi selama 3 jam pada Kamis (24/1) sore sekitar pukul 17.30-20.30 WIB di Kota Bandarlampung, Provinsi Lampung menyebabkan banjir.
Lebih kurang 20 titik yaitu, Kelurahan Kupang Teba, Pasir Gintung, Geruntang (Kuala), Kali balok, Jalan Gajah Mada, Jalan Tamim, Olok Gading, JagaBaya, Kelapa 3, Kedaton, IAIN, Cut Mutia, RSUAM, TM Pahlawan, Seberang Bukopin, Pasar Kangkung, Kaliawi, Jalan Urip Sumoharjo, Kelurahan Bakung, dan Keteguhan Banjir Rob terendam banjir.
Kerugian Gempa di Aceh Lebih dari Rp 36 Miliar
BANDA ACEH — Pemerintah Kabupaten Pidie, Aceh, mengatakan bahwa kerugian materi dan nonmateri akibat gempa tektonik yang mengguncang Aceh pada Selasa lalu diperkirakan mencapai Rp 36 miliar.
Pemerintah Daerah Kabupaten Pidie juga menetapkan masa tanggap darurat bencana pascagempa untuk kawasan yang terkena dampak gempa di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Tangse, Kecamatan Mane, dan Kecamatan Geumpang.
Hari Ini, Masih Ada 7 Titik Banjir
Jakarta – Banjir yang melanda sebagian wilayah Jakarta berangsur-angur surut. Dalam kurun waktu sepekan, ruas jalan banjir yang sempat mencapai 27 titik kini menyisakan hanya 7 titik.
“Wilayah Jakarta Barat ada satu titik, Jakarta Utara ada enam titik,” kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Rikwanto di Jakarta, Kamis (24/1).
Berdasarkan data hingga pukul 11.00 WIB, wilayah Jakarta Barat yang terendam adalah Gedong panjang dengan ketinggian air 25 centimeter. Jalan hanya bisa dilintasi bus TransJakarta.
Laporan Hari 3 umea
Laporan Hari 3 (23 Januari 2013)
Kunjungan ke RS Norrland University Umeå


Mitigasi dan adaptasi Climate Change di sektor kesehatan tidak dapat dipisahkan dari rumahsakit yang dilengkapi dengan kemampuan cukup. Hari ini kami mengunjungi Rumah Sakit Norrland University Umeå yang ada di Regional Vasterbotten. Regional ini berada di Swedia Utara, dekat dengan lingkaran kutub utara. Melihat posisi geografinya, terlihat bahwa RS ini berada di daerah utara Swedia dan melayani penduduk yang sangat jarang.

Seperti yang telah diberitakan sebelumnya bahwa rumah sakit ini adalah yang terbesar sebagai pusat rujukan dengan 600 tempat tidur. Dalam konteks dukungan ke seluruh regional dan daerah utara, sistem rumahsakit banyak menggunakan teknologi IT dan telemedicine.
Salah satu yang ditunjukkan adalah penggunaan teknologi IT yang canggih di ruang OK dimana kami di ruangan konferensi dapat melihat dengan jelas jalannya operasi jantung dari awal hingga akhir. Dengan mudah operasi ini dapat dikirimkan secara digital ke RS yang mengirimkan pasien. Sebagai RS rujukan setiap hari RS Umeå melakukan operasi jantung sebanyak 6 orang dan mereka mempunyai kamar operasi khusus jantung ada 4 kamar. Tim yang bekerja sangat solid dan mereka benar-benar membuat tim mereka menjadi teman dan selalu bertukar pikiran dan memperdalam keilmuan yang dibutuhkan untuk masing-masing ahli.
Sebagai penyangga ilmu pengetahuan dan pelayanan untuk daerah Swedia Utara, RS Umeå ini sudah menggunakan telemedicine, sehingga pasien dari rumah juga dapat berkonsultasi dengan spesialis melalui komputer. Walaupun jarak yang jauh mereka dapat selalu berkonsultasi. Terkadang pusat kesehatan masyarakat yang letaknya jauh dari pusat kota tidak ada dokter spesialis yang bertugas tetapi pasien dapat mengkonsultasikan penyakit mereka dengan dokter spesialis yang ada di kota.

Kunjungan berikutnya ke bagian biomedikal, disini kami diberi demonstrasi yang berbeda. Mereka memperagakan stetoskop elektrik. Stetoskop elektrik ini dihubungkan dengan komputer sehingga kita di tempat yang berbeda dapat mendengar detak jantung dan gambar grafik yang dimunculkan di komputer. Alat ini sangat baik untuk mempelajari dan memahami bagaimana bunyi jantung yang normal dan yang tidak normal serta kita dapat melihat bersama-sama melalui tampilan LCD ke layar lebar pola gambar jantung yang berdetak tadi. Ini juga alat telemedicine yang dapat digunakan untuk konsultasi dari dokter umum ke dokter spesialis di tempat yang berbeda. Sebagai contoh untuk pasien jantung dokter umum dapat berkonsultasi ke dokter spesialis jantung yang jauh dan dokter jantung tersebut akan dapat mendengarkan suara jantung murmur tanpa kunjungan ke daerah terpencil.

Selain ini mereka membuat model bagaimana alat cek up dapat memeriksa tensi, Haemoglobin dan lainnya dengan alat yang menggunakan wireless yang langsung mencatat database ke komputer. Indonesia sangat banyak memiliki daerah terpencil, dan sangat berguna bagi kita untuk menggunakan alat telemedicine.
Diskusi mengenai prospek pengembangan di Indonesia
Sebagai langkah awal untuk pengembangan dan aplikasi kunjungan ini untu Indonesia, hari ini rombongan mulai dibagi menjadi 3 kelompok yaitu kelompok Climate Change dengan study kasus Gunung Kidul, e Health, dan Emergency disaster manajemen dengan study kasus banjir Jakarta dan emergency di berbagai tempat. Tiap kelompok diharapkan melihat bagaimana tantangan yang ada dan apa yang menjadi solusinya serta siapa yang bertanggung jawab terhadap rencana kerja tersebut.
Setelah berdiskusi maka masing-masing kelompok mempresentasikan hasil sementara yang sudah didapat.
Kelompok 1: Kelompok penanganan Climate Change di pemerintah daerah, dengan studi kasus Kabupaten Gunung Kidul. Di kabupaten ini terjadi ketergantungan pada curah hujan. Climate Change membuat ketidakpastian musin hujan dan kering. Daerah di Gunung Kidul ada yang terlalu kering sehingga harus menggali untuk mencari air. Terlalu banyak dana yang harus dikeluarkan hanya untuk air. Ketidakpastian tentang ketersediaan air semakin tinggi dengan adanya Climate Change. Solusi untuk Kabupaten Gunung Kidul adalah mengembangkan sistem pompa air untuk mengambil air yg dalamnya > 100m, penanaman pohon untuk penghutanan kembali yang sudah ada areanya, program REDD dan carbon trading. Hal ini merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah pusat, pemerintah propinsi DIY dan Gunung Kidul, serta masyarakat.
Kelompok 2: Kelompok E-Health group mendiskusikan pentingnya eHealth dalam mitigasi dan adaptasi Climate Change. Tantangannya banyak, antara lain fragmanted health information system, dimana banyak aplikasi yang ada. Kemudian masalah kebutuhan energy untuk sistem e Health yang mungkin tidak tersedia di lapangan; Perbedaan SOP eHealth di berbagai level; perbedaan kemampuan sumber daya manusia, dana, IT dalam eHealth. Solusinya adalah mengembangkan partner yang sudah mempunyai pengalaman dalam eHealth, termasuk telemedicine. Penyusunan assessment yang bisa memberikan rekomendasi sehingga ada pengembangan standard dan guideline. Solusi ini merupakan tanggung-jawab pemerintah pusat dan daerah, serta berbagai lembaga peneliti dan universitas, termasuk UGM.
Kelompok 3: Kelompok yang membahas mengenai penguatan sistem emergency and disaster terkait dengan Climate Change. Dalam kelompok ini dinyatakan bahwa perlu pemahaman pengertian bahwa emergency dan disaster dalam climate change berbeda dengan keadaan disaster lainnya. Banjir di Jakarta merupakan campuran antara natural dan man-made disaster. Dengan adanya Climate Change, maka kejadian banjir dapat terus berulang setiap saat. Oleh karena itu persiapan dalam penanggulangan bencana atau situasi emergency dibagi dalam strategi mitigasi dan adaptasi yang tepat. Tantangannya, di sektor kesehatan (termasuk tim emergency dan surveilans dalam sistem kesehatan di daerah), belum ada pemahaman yang jelas mengenai impact Climate Change terhadap sektor kesehatan di Indonesia, dan belum baiknya koordinasi penanganan kesehatan pada saat kejadian bencana. Solusinya yang bisa dipikirkan sementara ini adalah penyebarluasan pemahaman mengenai Climate Change dan aspek mitigasi serta adaptasi sistem kesehatan (termasuk emergency system) di Indonesia, khususnya daerah yang mempunyai risiko tinggi. Langkah lain adalah penyusunan Regional Disaster Planning dan Hospital Disaster Planning serta peningkatan infrastruktur dan training kegawatdaruratan secara baik. Disamping itu pemberdayaan masyarakat dalam mitigasi dan adaptasi Climate Change di sektor kesehatan perlu diperkuat.
Catatan akhir:
Hasil sementara ini akan dikembangkan lebih jauh pada hari terakhir dan selanjutnya akan dibawa ke Indonesia untuk pembahasan lebih detil bersama seluruh stakeholders terkait.
Gallery Kegiatan
{gallery}2013/umea/H3{/gallery}
Reportase Bantuan Banjir Jakarta 23 Januari 2013
Tim Kesehatan FK UGM Menyisir ke Muara Baru dan Penjaringan
Rabu, 23 Januari 2013

Hari ini, Tim Kesehatan FK UGM melakukan briefing di Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan (PPKK) kementrian kesehatan. Dalam arahan ini, tim kesehatan FK UGM berkoordinasi dengan PPKK untuk menuju lokasi pengungsian. Ada dua lokasi yang dituju, yakni wilayah Muara Baru dan Penjaringan Jakarta.

Berdasarkan hasil assessment lapangan oleh PPKK diketahui masih banyak lokasi yang belum tersentuh pelayanan kesehatan. Siang ini, tim mobil PPKK bersama tim RSUP Sardjito akan mendatangi dua titik tersebut untuk melakukan bantuan dan pelayanan kesehatan bagi korban pengungsi bencana banjir Jakarta. Posko Gudang Carvil, Muara Baru, Penjaringan dan Pos Hotel Aston Pluit, Jakarta Utara.

Di dua Posko pelayanan kesehatan didapatkan 350 pasien tertangani di Pos Gudang Carvil dan 32 pasien di Pos Hotel Aston Pluit. Berdasarkan perhitungan diketahui 10 penyakit terbanyak yang dikeluhkan pengungsi banjir di dua posko adalah ISPA, dermatitis, tinea pedis, gastro enteritis akut, common cold, myalgia, faringitis akut, febris, cephalgia, dan OA.

Menurut laporan, komandan 2A Tim Kesehatan FK UGM, dr. Hanif diperoleh informasi bahwa banjir tidak meluas lagi tetapi banjir pluit masih berlangsung di Muara Baru, Pademangan.
Lihar reportase hari lainnya:
Galeri Foto :
{gallery}2013/jakarta/h2/{/gallery}
Kapal Polri Berhasil Kirim Kebutuhan Pokok ke Pulau Sembilan
BANJARMASIN – Kapal patroli milik Markas Besar Polri bersama satu kapal milik perusahaan tambang swasta, berhasil membantu pengiriman bahan kebutuhan pokok ke Pulau Sembilan, Kabupaten Kota Baru, Kalimantan Selatan.
90% Wilayah Indonesia Terancam Bencana Ekologi
Jakarta – Bencana ekologis seperti banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, dan kekeringan telah diperkirakan terjadi di 90% wilayah Indonesia. Selain topografi alami di suatu wilayah, potensi bencana ekologis Indonesia turut disebabkan maraknya deforestasi, praktik pertambangan, dan monokultur seperti perkebunan sawit di Indonesia.
Tim Kesehatan (RSUP Sardjito, RSA UGM, FK UGM) Mendatangi Daerah yang Masih Terisolir
Kamis, 24 Januari 2013

Jakarta-PKMK. Dilaporkan, hingga saat ini, titik banjir menurun dari 27 titik pada minggu lalu menjadi 7 titik hingga hari ini. Satu titik di Jakarta Barat dan 6 titik berada di wilayah Jakarta Utara (Depan apartemen tematik, Jalan Pluit Putra dan Putri, Jalan Pluit Raya Selatan, Muara Baru, Pluit Timur, dan Jalan Pluit) dengan ketinggian air 30 cm hingga 50 cm.
Meski mengalami penurunan ketinggian air tetapi masih terdapat lokasi banjir yang terisolir dari bantuan luar. Menurut laporan Tim Kesehatan FK UGM salah satu lokasi tersebut adalah Muara Baru. Untuk menuju daerah lokasi Tim Kesehatan FK UGM dan PPKK kementrian kesehatan harus menggunakan perahu karet.
Perjalanan menuju lokasi pengungsian yang terisolir berjalan dengan lancar. Tim Kesehatan FK UGM akan berpencar di tiga titik pengungsian, di Rusun Muara Baru, SDN 03 Muara Baru, dan Pos Penjaringan (Muara Baru, Pabrik Baja). Di sini Tim Kesehatan FK UGM akan melakukan pelayanan kesehatan bagi korban banjir.
Jumlah pasien di pos SDN 03 Muara Baru sebanyak 65 pasien dengan 10 penyakit terbanyak seperti, tinea, pedis, ISPA, common cold, cephalgia, myalgia, gastro enteritis akut, hipertensi, vulnus apertum, anemia, dan combutio (1 pasien). Sedangkan Jumlah pasien di pos Penjaringan (Pabrik Baja) sebanyak 130 pasien dengan 10 penyakit terbanyak seperti ISPA, common cold, GEA, dermatitis, myalgia, chepalgia, vulnus apertum, hipertensi, tinea pedis, dan osteoartritis. Terlihat bahwa keluhan penyakit di dua posko tidak terlalu berbeda jauh. Keluhan ISPA, myalgia, dan common cold banyak di dua posko
Pelayanan kesehatan masih sangat dibutuhkan tetapi ada beberapa faktor kendala seperti akses yang sulit karena jalanan sempit dan genangan air yang masih tinggi. Kebutuhan lainnya yang dibutuhkan warga terutama daerah Pabrik Baja dan Muara Baru adalah selimut, baju ganti, dan alat mandi.
Lihar reportase hari lainnya:
Reportase hari 2 Umea
Laporan Hari 2 (22 Januari 2013)
Pengantar:
Hari kedua membahas mengenai bagaimana strategi-strategi dalam menghadapi Climate Change. Di dalam hal ini, ada strategi yang terkait dengan pemerintah daerah dalam konteks energi. Di samping itu penggunaan e-Health dan tele-medicine untuk menggurangi energi untuk transportasi. DI hari ini juga akan dibahas mengenai sistem konsultasi dokter jarak-jauh.
Sesi 1: Strategi regional untuk menghadapi Climate Change
Hari kedua dimulai oleh Tina Holmlund yang berbicara mengenai strategi regional terhadap energy dan cuaca di lingkungan propinsi Vasterbotten. Situasi pemerintahan di Swedia sangat berbeda dengan keadaan Indonesia yang begitu banyak politik bermain dalam segala situasi. Swedia dibagi 21 county ( propinsi) dan mempunyai tujuan dan strategi nasional untuk pengelolaan energi. Selanjutnya tiap regional diharapkan mengembangkan sendiri berdasarkan tujuan tersebut. Jika di Indonesia yang bekerja sebagai teknis adalah dinas, maka berbeda dengan swedia yang bekerja sebagai teknis adalah sekelompok eksekutif yang ditunjuk oleh anggota perwakilan rakyat di Council Assembly.
Regional Vasterbotten mempunyai berbagai strategi dalam mempertahankan gaya hidup dan tingkat kesehatan mereka dalam konteks Climate Change . Strategi tersebut antara lain dengan meningkatkan pengetahuan mengenai situasi Climate Change dan menetapkan berbagai kebijakan dalam transportasi , informasi, pendidikan dan dunia kerja. Materi dapat dilihat selengkapnya 
Sesi 2 : Strategi terhadap Mitigasi dan Adaptasi di sektor Kesehatan oleh Asa Holmner di Swedia dan dr Lutfan Lazuardi situasi di Indonesia
Asa Holmnermenyampaikan pernyataan bahwa ada perbedaan antara Mitigasi dan Adaptasi. Mitigasi berbicara mengenai bagaimana cara menurunkan emisi gas rumah kaca , sedangkan adaptasi bertujuan membuat strategi menurunkan kerentanan dan meningkatkan ketahanan masyarakat akibat dampak perubahan cuaca. Asa juga berbicara mengenai strategi menurunkan emisi rumah kaca seperti meminimalisir penggunaan energy dari penerangan, pencegahan terhadap perjalanan yang tidak perlu dengan menggunakan video konferens, dan lebih menggunakan sistem informasi kesehatan. Penggunaan telemedicine sangat bermanfaat terhadap jarak yang jauh, sumber daya yang minim, dan dengan mobilitas yang rendah seperti cuaca dingin, hujan , winter ddan lain-lain. Untuk lebih jelasnya Materi Asa Holmner
Dr Lutfan membahas mengenai keTerkaitan perubahan iklim dan ehealth, bahwa ada terminologi yang perlu ditegaskan terkait dengan perubahan iklim yaitu mitigasi dan adaptasi. Mitigasi lebih bertujuan untuk mengurangi greenhouse gas yang diyakini menyebabkan perubahan iklim, sementara mitigasi terkait dengan respon adaptasi terhadap dampak dari perubahan iklim. Meski berbeda, keduanya sama-sama diperlukan sinerginya untuk menghadapi perubahan iklim dan akan terkait dengan strategi eHealthnya. Pembicara mempresentasikan inisiatif eHealth di Indonesia terutama di level administrasi tingkat kabupaten dan provinsi, dimana sudah banyak sekali inisitif pengembangan eHealth dalam berbagai format yang dilakukan oleh dinas kesehatan provinsi maupun kabupaten/kota.
Sebagai contoh disampaikan pengembangan Wide Area Network yang menghubungkan semua puskesmas di Kabupaten Wonosobo, dimana kontur geografinya ada dataran rendah dan pegunungan. Selain itu di Purworejo dilakukan pengembangan sistem pelaporan Malaria berbasis SMS. Dinas Kesehatan Gunungkidul juga tidak sedang mengembangkan sistem informasi berbasis komputer untuk puskesmas-puskesmasnya yang memfasilitasi rekam medis pasien dan juga peresepan elektronik. Tidak kalah juga berbagai program seperti KIA, Malaria maupun surveilans mengembangkan berbagai aplikasi berbasis IT untuk mendukung aktivitasnya. Hal ini menunjukkan bahwa inistiatif terkait eHealth sudah dilakukan meskipun masih dalam tahap awal dan lebih kepada untuk mendokumentasi dan pelaporan. Akan tetapi hal ini juga sudah relevan dengan aktivitas terkait dengan perubahan iklim, dimana mengurangi penggunaan kertas yang produksinya sangat tergantung dengan keberadaan pohon dan hutan. Inisiatif eHealth menjadi sangat populer di berbagai daerah meskipun alasannya belum langsung terkait dengan isu perubahan iklim. Pengambangan eHealth saat ini lebih lebih bertujuan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi. Meski merupakan tantangan, mengenalkan pentingnya isu perubahan iklim dan mengkaitkan dengan pengembangan eHealth yang dilakukan adalah strategi yang baik dan penting. Materi Silahkan 
Sesi 3 : Konsultasi menggunakan Cardiac Echo oleh Kurt Boman dan Mona Olofsson serta Telemedicine oleh Thomas Molen dan Goran Algers

Sesi ini menceritakan tentang bagaimana efektifitasnya penggunaan Tele Medicine yang telah digunakan oleh dr Kurt Boman dan Mona Olofsson seorang BMO (Bio Medic Officer)
Latar belakang dari dilakukannya Tele-echo adalah karena jarak yang jauh, mahalnya biaya transport dan akses untuk bertemu dengan spesialis sangat sulit. Terutama pada kasus gagal Jantung kronik yang sering dijumpai pada orang tua, juga banyaknya pasien inap dan rawat jalan yang menderita penyakit ini. Tujuan dilakukan a Tele-Echo adalah penegakan diagnosa yang tepat dan lebih dini, optimal terapi, memudahkan untuk follow up, biaya lebih murah dan prognosis yang jelas akan lebih baik. Tele-echo melibatkan pasien, dokter umum, dokter spesialis dan ahli sonografer, dan proyek ini dimulai sejak tahun 2004 di puskesmas ( Primary Health Care) dengan menggunakan Robot echo.
Keuntungan yang didapat adalah bahwa pasien akan lebih merasa nyaman karena dia cukup memeriksa di puskesmas tempat dia biasa periksa dan dengan dokter umum tempat dia biasa berkonsultasi. Dengan penggunaan Tele ini maka pasien dan dokter umum bersama-sama menerima keterangan dari dokter spesialis dengan waktu yang lebih singkat karena segera dikonsultasikan ke dokter spesialis.
Materi Selengkapnya silahkan 
Tidak jauh berbeda dengan pembicara sebelumnya, Thomas Molen dan Goran Algers membahas mengenai kelebihan dalam mendiagnosa pasien dengan menggunakan Telemedicine. Ini dilatar belakangi oleh jauhnya jarak didaerah terpencil dan bagaimana mempermudah mereka dalam konsultasi dengan dokter yang diharapkan. Telemedicine ini bertujuan meningkatkan aksesibilitas, mengevaluasi dan monitoring tujuan terapi , melakukan intervensi jarak jauh dan meningkatkan cakupan rehabilitasi. Kemudahan teknologi ini bahkan memungkinkan pasien dapat konsultasi dari rumah dengan menggunakan peralatan seperti laptop dan langsung berkonsultasi lewat video kepada dokter atau tenaga ahli yang dibutuhkan.
Refleksi Hari Kedua
{xtypo_code}Hari kedua memberikan pemahaman bahwa aspek climate change sudah menjadi hal yang masuk dalam perencanaan dan pelaksanaan program sehari hari di pemerintah Swedia. Dalam konteks mitigasi dan adaptasi climate change di sektor kesehatan terlihat bahwa ada langkah langkah riil. Situasi ini yang masih belum banyak terjadi di Indonesia. Dapat dikatakan bahwa situasi di Indonesia masih jauh tertinggal dengan Swedia. Tantangannya adalah bagaimana mitigasi dan adaptasi Climate Change dapat diterapkan di Indonesia.{/xtypo_code}
Gallery Kegiatan
{gallery}2013/umea/H2{/gallery}
