Banjir Lahar Dingin kembali Terjang Sungai Rejali

Metrotvnews.com, Lumajang: Hujan deras yang mengguyur Lumajang, Jawa Timur, mengakibatkan banjir lahar dingin Gunung Semeru meluap memenuhi daerah aliran Sungai Rejali, Kecamatan Pasirian, Kamis (8/3). Akibatnya, akses jalur alternatif penghubung antar kecamatan terputus.

Lahar dingin dengan intensitas besar ini menutup akses jalan alternatif antara Kecamatan Pasirian dan Tempusari, Lumajang, Jawa Timur. Material vulkanik bercampur air dan batu Gunung Semeru mengalir deras ke sejumlah daerah aliran sungai (DAS) mulai dari Besuk Sat hingga Besuk Kebokan.

Meski demikian, sejumlah warga nekat menerjang derasnya aliran lahar dingin. Warga yang membawa kendaraan bermotor terpaksa harus menunggu hingga arus banjir surut karena khawatir terseret derasnya air.

Mereka berharap pemerintah segera merealisasikan pembangunan jembatan agar saat lahar dingin Semeru datang dengan intensitas besar tidak menyulitkan warga. Pasalnya, jalur yang melintasi Sungai Rejali merupakan akses jalan alternatif satu-satunya yang menghubungkan Kecamatan Pasirian dan Kecamatan Tempusari. Karena jika berputar arah warga harus menempuh jalan hingga sepuluh kilometer. (Wrt3).

Rumah di Malang Terendam Banjir Setinggi 2 Meter

MALANG, KOMPAS.com — Dilanda hujan sepanjang Rabu (7/3/2012) malam, sebanyak 19 rumah di Kabupaten Malang, Jawa Timur, terendam banjir. Ketinggian air di beberapa titik mencapai 2 meter. Pemilik rumah yang kebanjiran untuk sementara diungsikan ke rumah warga sekitar yang selamat dari amukan banjir. Hingga berita ini ditulis, Kamis pagi, di Kabupaten Malang, masih terus terjadi hujan deras.

Adapun 19 rumah yang terendam banjir tersebut, 14 di antaranya berada di Kecamatan Kalipare, tepatnya di Desa Tumpakrejo dan tiga rumah lain di Desa Tumpakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan.

“Untuk di Desa Sitirejo ada satu rumah yang sudah terendam banjir,” jelas Sekretaris PMI Cabang Kabupaten Malang, Aprilianto, Kamis (8/3/2012). Sedangkan yang terancam akan terendam banjir ada dua dusun, yakni Dusun Palung dan Lowoterate, Desa Sitirejo.

“Karena sampai saat ini hujan masih deras dan banjir terus terjadi,” kata April, di lokasi banjir.

Menurut April, banjir terjadi setelah hujan deras turun di Kabupaten Malang sejak Rabu (7/3/2012) malam hingga Kamis (8/3/2012) pagi. “Sampai saat ini di lokasi banjir masih hujan deras. Ketinggian air sudah mencapai 2 meter. Yang paling parah di Kecamatan Kalipare,” katanya.

Tim satuan tanggap bencana PMI Kabupaten Malang sudah mulai disebar ke beberapa titik rumah yang terendam banjir. “Sudah ada 30 orang yang diturunkan untuk membantu pemilik rumah yang rumahnya terendam banjir. Kita akan menyelamatkan barang-barang yang ada di dalam rumah, yang bisa diselamatkan. Untuk korban jiwa masih belum ada. Semoga saja tidak ada korban jiwa,” harap April

.

Gempa Kekuatan 5,9 Skala Richter Kembali Guncang Papua

LENSAINDONESIA.COM: Gempa kembali terjadi di Papua, dengan kekuatan 5,9 Skala Richter. Namun demikian, gempat tersebut tak berpotensi tsunami. Menurut Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Widodo, gempa tersebut berpusat di 2.53 LS-139.30 BT, tepatnya 94 KM Tenggara Sarmi-Papua dengan kedalaman 127 KM. Dan terjadi sekitar pukul 19:00:42 WIB. Meski demikian, gempa dirasakan sangat lemah oleh warga sekitar. Selain tak berpotensi tsunami, aktivitas warga kembali normal seperti biasa. *ari

Banjir di Pegunungan Pracimantoro Kali Pertama Dalam Sejarah

Wonogiri – Banjir yang merendam sepuluh rumah di Desa Wonodadi Kecamatan Pracimantoro Wonogiri tak bakalan dilupakan oleh warga. Sebab musibah tersebut merupakan pertama kali terjadi di wilayah yang termasuk topografis pegunungan itu .

“Seumur-umur baru pertama kali ini ada banjir di dusun kami Mas, sebelumnya tidak pernah sama sekali,” ujar salah seorang korban banjir Sutarto (45) Rabu (7/3).

Kepala Dusun (Kadus) Gunungan tersebut kemudian menceritakan ikhwal terjadinya banjir diawali dengan turunnya hujan deras. Tak tanggung-tanggung hujan dengan curah tinggi berlangsung dalam empat) hari. “Sejak Sabtu pekan kemarin hingga Selasa hujan lebat sekitar pukul 2 sampai 4 sore Mas, kami tidak terlalu memperhatikannya sebab sebenarnya itu merupakan hal yang lumrah wong masih musim hujan,” paparnya.

Hanya pada Selasa sore (8/3) selepas Maghrib pukul 18.00 WIB warga dikejutkan dengan terendamnya rumah Wasino (60). Rumah pria bertubuh kurus ini adalah yang berada paling dekat dengan luweng (sungai bawah tanah).

Selidik punya selidik akhirnya warga menemukan penyebab terendamnya rumah Wasino. “Ternyata saluran luweng tersumbat jerami basah yang ikut terbawa arus besar,” tutur Sutarto.

Menyadari itu warga mulai memindahkan peralatan dan perabotan berharga ke rumah yang lokasinya lebih tinggi. Awalnya barang-barang diungsikan ke rumah Sutarto.

Namun, pada pukul 20.00 WIB mendadak rumah berdinding keramik biru itu ikutan terendam air. Wargapun kembali mengungsikan barang ke rumah lain.

“Sementara ini diungsikan ke rumah Pak Sunar, ya semoga saja air tidak meningkat lagi Mas,takut kami mau mengungsi kemana lagi,” kata korban yang lain, Wasidi

13 Ribu Orang Dievakuasi Akibat Banjir Australia

TEMPO.CO , New South Wales– Banjir yang melanda tiga negara bagian di Australia, yakni New South Wales, Queensland, dan Victoria, memaksa lebih dari 13 ribu penduduk meninggalkan rumah mereka, Selasa 6 Maret 2012. Banjir terjadi setelah hujan turun sepekan terakhir sehingga air Sungai Murrumbidgee dan bendungan meluap. Sedikitnya dua orang tewas karena hanyut.

Adapun banjir terparah terjadi di New South Wales. Pemerintah telah mengevakuasi 8.000 penduduk di kota pedalaman Wagga Wagga. Kemarin, air telah melampaui ketinggian tanggul dengan kedalaman 11 meter dan telah menggenangi ratusan rumah warga, termasuk di distrik bisnis utama. Warga dipindahkan ke pengungsian di sekolah-sekolah. Pusat kota yang berpenduduk 60 ribu jiwa itu tampak sepi.

Polisi, militer, dan aparat dikerahkan membantu warga. “Kondisi banjir telah mencemaskan warga Wagga Wagga,” kata Perdana Menteri Julia Gillard. Media lokal menggambarkan adanya kepanikan warga saat banjir datang.

Pemerintah belum memastikan jumlah kerugian. “Tidak mungkin menghitung kerusakan hingga banjir mereda banjir,” ujar Gillard di Canberra. Yang pasti, banjir telah merusak tanaman sorgum, kapas, dan kedelai. Adapun tanaman musim dingin telah dipanen sebelum banjir terjadi.

Pejabat New South Wales, Barry O’Farrell, mengatakan telah menyiapkan anggaran darurat US$ 530 juta atau sekitar Rp 4,7 triliun.

Awal tahun lalu, Australia diterjang banjir yang menewaskan 35 orang serta menggenangi 30 ribu rumah, jalan, dan jembatan. Banjir juga merusak tambang batu bara dan menghambat pertumbuhan ekonomi.

Gempa Goncang Padang Kala Maghrib

Menghebohkan warga. Namun dipastikan tak ada tsunami.

VIVAnews – Gempa berkekuatan sedang guncang Kota Padang, Selasa, 6 Maret 2012. Hentakan gempa yang terasa beberapa detik ini membuat sejumlah orang berlari ke luar rumah.

Menurut data yang dilansir Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) di situsnya, gempa tersebut berkekuatan 5,3 skala richter. Pusat gempa berada di 41 kilometer arah Barat Laut, Kota Padang.

Tepatnya, pusat gempa berada di titik 0.83 LS-100.11 BT atau 24 kilometer Barat Daya Pariaman, Sumatera Barat. Gempa yang terjadi pukul 18.36 WIB ini tidak berpotensi tsunami.

Dai koordinat pusat gempa yang dilansir BMKG, episentrum gempa hari ini tergolong dekat dengan pusat gempa 7,9 SR yang mengguncang Sumbar akhir September 2009 lalu. Sejauh ini, belum ada data kerusakan yang dikabarkan pemerintah daerah terkait gempa barusan.

Manajer Pusat Pengendali Operasi Penanggulangan Bencana Sumbar Ade Edward dalam pesan singkatnya mengatakan gempa yang terjadi bersifat tidak merusak. “Aman, tidak potensi tsunami, tidak merusak,” ujar Ade dalam pesan pendeknya.

Meskipun tidak merusak, sejumlah warga mengaku kaget dan berusaha lari ke luar rumah. “Gempanya cukup mengagetkan, barang-barang bergoyang juga karena hentakan gempa,” ujar Yanti (20 tahun) mahasiswi yang indekos di Jalan Teknologi, Siteba, Padang.
• VIVAnews

Banjir Bandang Rendam 91 Rumah

INILAH.COM, Hulu Kuantan – Tingginya curah hujan beberapa pekan terakhir membuat Sungai Batang Ulo yang berdampingan dengan Desa Tanjung Medang dan Mudik Ulo Kecamatan Hulu Kuantan meluap. Meluapnya Sungai Batang Ulo diperkirakan akibat hujan lebat mulai Rabu malam (29/2) sampai pagi Kamis (1/3) yang tak kunjung berhenti.

Dari data sementara yang dihimpun Haluan Riau di lokasi banjir Mudik Ulo dan Tanjung Medang, sedikitnya 91 rumah terendam dan 303 jiwa mengungsi ke rumah penduduk yang lokasinya lebih tinggi. Di Desa Tanjung Medang banjir merendam 47 rumah yang dihuni 47 kepala keluarga, dua mushola dan di Desa Mudik Ulo banjir merendam 44 rumah, satu TK, satu PAUD, dan dua surau.

Continue reading

Banjir Lahar Dingin Terjang Probolinggo

Liputan6.com, Probolinggo: Jalan Pantura Probolinggo di sepanjang Desa Pesisir, Kecamatan Sumberasih, Probolinggo, Jawa Timur, Kamis (1/3) malam, digenangi air bercampur sisa-sisa abu vulkanik Gunung Bromo. Genangan air setinggi lutut orang dewasa itu mengalir dari Sungai Pesisir hingga sempat membuat kemacetan panjang.

Luapan banjir lahar juga menggenagi puluhan rumah warga yang berada di sepanjang bantaran Kali Pesisir. Menurut warga, banjir kali ini sempat membuat panik hingga beberapa orang harus mengungsi. Selama musim penghujan tahun ini, sudah dua kali terjadi banjir lahar dingin.

Continue reading

Jepang Kagumi Penanganan Korban Merapi

okezone.com, JAKARTA – Meski Jepang terkenal siap dan sigap menangani bencana, delapan mahasiswa Jepang ini justru kagum dengan proses penanganan korban Merapi.

Akiko dan Fumi misalnya. Dua mahasiswa Aoyama Gakuin University yang sedang menjadi peserta field research di Universitas Gadjah Mada (UGM) itu mengaku, terkesan dengan Hunian Sementara (Huntara) Gondang I. Menurut Fumi, selain luas dan nyaman, Huntara yang terletak di desa Gondang Kepuharjo Cangkringan, Sleman, Yogyakarta itu juga memiliki banyak fasilitas seperti tempat bermain untuk anak-anak. 

“Tidak hanya itu, masyarakat di Huntara Gondang I juga diberdayakan secara ekonomi. Mereka pun mendapatkan kegiatan untuk rehabilitasi sosial dan pendampingan psikologi,” kata Fumi seperti dikutip dari situs UGM, Kamis (1/3/2012).

Continue reading

Gelombang Labuan berpeluang 1,8 meter

Lebak (ANTARA News) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Stasiun Serang, Banten, memprakirakan tinggi gelombang perairan Labuan Kabupaten Pandeglang, selama dua hari mendatang berpeluang 1,8 meter dengan kecepatan angin 20 kilometer per jam.

Koordinator Unit Analis Cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Serang, Riyadi, Rabu, menyebutkan, prakiraan tinggi gelombang perairan Labuan berkisar tiga sampai 1,8 meter dengan rata-rata kecepatan angin 20 km/jam.

Continue reading