Bogor Hujan, Jakarta yang Banjir

detik.com, Jakarta Langit Jakarta cerah, tapi banjir menyergap di sejumlah kawasan Ibukota. Misalnya saja sejumlah RW di Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan, menderita banjir akibat meluapnya Kali Ciliwung sebagai dampak kiriman air dari Bogor. Sedangkan di kawasan Pondok Labu banjir terjadi akibat meluapnya Kali Krukut.

“Di Bukit Duri masih banjir, tapi tidak setinggi kemarin,” kata Hendi, petugas Puskesmas Bukit Duri, pada detikcom, Senin (20/2/2012).

Continue reading

Jakarta Terus Antisipasi Banjir Kiriman

JAKARTA, KOMPAS.com – Kondisi beberapa wilayah di Jakarta yang semalam terendam banjir, sejak tadi pagi sudah surut. Banjir yang merendam beberapa wilayah Jakarta tersebut merupakan banjir kiriman dari Bogor lantaran hujan yang terjadi pada Minggu (19/2/2012) di wilayah Bogor cukup deras.

“Saya keliling dan melihat beberapa wilayah yang terendam. Dan saya sudah monitor kawasan sekitar bantaran sungai, berapa lama tergenangnya,” kata Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, di Balai Kota, Jakarta, Senin (20/2/2012).

Continue reading

Aktivitas Merapi Masih Wajar

MAGELANG- Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta belum akan menaikkan status Merapi menjadi waspada dari status sekarang aktif normal. Pasalnya, meski ada peningkatan kegempaan, hal itu masih dalam batas normal.

Menurut Kepala Seksi Gunung Merapi BPPTK Yogjakarta Sri Sumarti, Merapi merupakan salah satu gunung yang memiliki tingkat aktivitas tinggi, sehingga level kegempaan sekarang belum bisa dikatakan luar biasa.

”Wajar (aktivitas meningkat), karena Merapi gunung paling aktif di dunia,” jelasnya.

Ia menambahkan, untuk menaikkan status Merapi dibutuhkan kajian dan berbagai parameter seperti tingkat kegempaan, deformasi, suhu kawah, kandungan gas, serta pengamatan visual.

Di sisi lain, BPPTK memperkirakan erupsi dahsyat 2010 telah membuat Merapi berubah karakter. Hal itu membuat aktivitasnya sangat sulit diprediksi. Menurut Sri Sumarti, aktivitas Merapi mulai meningkat sejak 7 Februari lalu.

Semula hal itu diperkirakan sebagai bagian dari proses pembentukan kubah lava pascaerupsi 2010. Namun, hingga kemarin belum ditemukan indikasi proses pembentukan kubah lava tersebut. Kondisi itu membuka berbagai kemungkinan lain, termasuk erupsi lagi.

”Kebiasaan Gunung Merapi sudah hilang sejak erupsi eksplosif tahun 2010. Jadi, kemungkinan-kemungkinan itu (erupsi-Red) masih bisa terjadi,” kata Sri.

Gempa Meningkat

Sementara itu, catatan seismograf di Pos Pengamatan Gunung Merapi Ngepos, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, menunjukkan peningkatan data kegempaan.

Pada Jumat (17/2), gempa vulkanik dangkal tercatat 23 kali, gempa multiphase 43 kali, dan gempa guguran dua kali. Sehari kemudian gempa vulkanik dangkal melonjak menjadi 35 kali dan gempa multiphase 47 kali. Adapun gempa guguran satu kali dan gempa low frequency sekali.

Sebelumnya, pada 15 Februari gempa multiphase tercatat 34 kali, gempa vulkanik dangkal 9 kali, dan gempa guguran 3 kali. Pada tanggal 13 dan 14 Februari gempa MP tercatat 34 kali dan 25 kali. Padahal pada 7 Februari gempa MP tercatat hanya 17 kali.

Gempa multiphase biasanya menandakan peningkatan atau penurunan aliran fluida (gas, uap, dan magma) di dalam perut gunung. Adapun gempa vulkanik dangkal menandakan pergerakan magma ke permukaan. (H66-59).

Aktivitas Meningkat, Merapi Tetap di Level 1

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Aktivitas kegempaan Gunung Merapi terus meningkat. Meski demikian, status gunung berapi teraktif di Indonesia itu tetap berada pada level satu, yaitu aktif normal.

Kegempaan Gunung Merapi dalam tiga hari terkahir, terpantau oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungan (BPPTK) Yogyakarta. Secara umum kondisi Gunung Merapi naik, meskipun aktivitas kegempaan mengalami penurunan.

Pertengahan Februari lalu telah terjadi gempa gusuran sebanyak 12 kali. Gempa fase mencapai 30 kali dan gempa vulkanik dangkal sebanyak 13 kali. Saat ini terjadi kenaikan menjadi 40 kali gempa.

Secara visual, Ahad (19/2) kemarin, puncak Gunung Merapi tertutup kabut tebal, sehingga pemantauan deformasi hanya dapat dilakukan pada dini hari. Dari pemantauan deformasi ini tidak ditemukan pergeseran yang cukup berarti.

Aktivitas Kegempaan Merapi Meningkat

Metrotvnews.com, Magelang: Gempa tektonik serta guguran material vulkanik di puncak Gunung Merapi hampir terjadi setiap hari dalam sepekan terakhir. Namun kondisi itu belum meningkatkan status gunung yang baru meletus beberapa bulan silam itu.

Data terakhir dari Pos Pemantauan Gunung Merapi Babadan, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, gempa multiphase terjadi 37 kali atau meningkat 12 kali dibanding hari sebelumnya. Sedang gempa vulkanik dangkal 13 kali. Sehari sebelumnya hanya 9 kali sementara guguran terjadi 12 kali serta gempa tektonik lokal hingga 3 kali.

Menurut Ismail, petugas Pemantau Gunung Merapi Pos Babadan, meningkatnya aktivitas kegempaan masih dalam proses pembentukan kubah lava baru. Namun tidak menutup kemungkinan dapat terjadi erupsi, meski dalam skala kecil.

Meski demikian, aktivitas tersebut belum memengaruhi status Merapi. Hingga kini Balai Penelitian Pengembangan Teknologi Kegunung-apian Yogyakarta masih memosisikan Gunung Merapi yang beberapa bulan silam erupsi hebat, berstatus normal.(Wrt1)

Warga Diimbau Menjauh dari Marapi

PADANG–MICOM: Warga disekitar kaki Gunung Marapi di Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Agam, Sumatra Barat diminta menjauh dengan radius 3 kilometer dari puncak. Hal demikian terkait dengan intensitas Marapi yang kian meningkat. 

Kamis (16/2) petugas Pos Pengamatan Gunung Marapi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bujang, mengatakan Marapi meletus 3 kali, 2 kali hembusan, dan puluhan kali gempa vulkanik dalam dan vulkanik dangkal. 

Continue reading

Penambangan Pasir Gunung Galunggung di Hentikan

TASIKMALAYA-MICOM: Aktivitas penambangan pasir di kaki Gunung Galunggung, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, terancam dihentikan karena diduga merusak sejumlah infrastruktur yang dibangun untuk penanggulangan bencana jika gunung meletus. 

“Kerusakan infrastruktur mitigasi bencana alam harus dihentikan,” kata Wakil Bupati Tasikmalaya Ade Sugianto, Kamis (16/2). 

Berdasarkan laporan masyarakat, ujarnya, dam dan kantong lahar yang digunakan sebagai penahan laju lahar panas dan dingin di kawasan kaki Gunung Galunggung telah rusak. Jika infrastruktur mitigasi bencana terus dibiarkan rusak, akan menghambat proses evakuasi warga serta kesulitan mengalihkan luapan lahar dari letusan gunung. 

Continue reading

Tiga Alat Pendeteksi Gempa Dipasang di Gunung Galungggung

TASIKMALAYA–MICOM: Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memasang alat pencatat gempa di sekitar Gunung Galunggung, di Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Kamis (16/2). 

Petugas di pos pemantau Gunung Galunggung Heri Supratno mengatakan alat lengkap dengan accu kering itu untuk mendeteksi sekaligus mencatat jumlah dan tingkat kegempaan tektonik dan vulkanik di kawasan Gunung Galunggung yang kini berstatus waspada level II. 

Continue reading

Status Gunung Galunggung Masih Waspada

TASIKMALAYA, KOMPAS.com — Wakil Bupati Tasikmalaya Ade Sugianto, Kamis (16/2/2012), meninjau kondisi kawah Gunung Galunggung. Ade naik ke Gunung Galunggung untuk melihat kondisi kawah dan memastikan soal status gunung.

“Setelah dilihat dengan mata kepala sendiri, kondisi kawah memang dalam keadaan aman, kendati airnya berubah menjadi kekuning-kuningan. Saya mengimbau masyarakat untuk tetap tenang. Tidak terpancing isu yang menyesatkan,” kata Ade, seusai meninjau kawah Galunggung, Kamis siang kemarin.

Sebagian warga di sekitar kaki Gunung Galunggung resah menyusul adanya isu kenaikan status dari waspada ke siaga. Warga di kaki Gunung Galunggung mengira status siaga adalah status bahaya yang menunjukkan Gunung Galunggung meletus. Sejumlah warga sempat mendatangi Pos Pengamatan Gunung Galunggung di Padakembang sambil membawa barang-barang untuk mengungsi. “Perkembangan status bahaya kawah akan terus dipantau dan sesegera mungkin disampaikan kepada masyarakat,” kata Ade.

Continue reading

Hari ke III

Hari Ke-III

Pada hari ketiga kembali pleno presentasi rencana aksi masing-masing kelompok dengan hasilnya sebagai berikut:

  1. Program pelatihan non-gelar, termasuk mengakomodasi Program 100 hari Kabinet Indonesia bersatu, yaitu untuk penguatan 100 rumahsakit dalam menanggulangi bencana dan meningkatkan kemampuan sumberdaya manusianya. Program ini juga mencakup penguatan logistik pada 9 pusat regional dan 2 sub regional penanggulangan bencana dengan tujuan selalu siap menghadapi terjadinya bencana dan mempersiapkan standby team di semua pusat regional yang selalu siap 24 jam untuk dikirimkan ke berbagai tempat bencana secara tepat dan cepat. Reaksi cepat dan tepat untuk penanggulangan bencana ini diterjemahkan dalam suatu bentuk in-house training (HOPE) untuk rumahsakit dan rencana in-house regional training plan untuk dinas kesehatan. Selain itu, akan dikembangkan standarisasi dan kurikulum HosDip untuk rumahsakit dan table-top untuk dinas kesehatan.
  2. Penguatan program pendidikan sarjana untuk bencana difokuskan pada kurikulum pendidikan kedokteran, pendidikan kesehatan masyarakat, dan pendidikan kesehatan lain seperti psikologi. Mengapa kurikulum bencana untuk pendidikan tingkat sarjana ini penting? Alasannya berkaitan dengan manfaat dan legalitas. Berkaitan dengan manfaat karena mahasiswa kedokteran diharapkan memiliki keterampilan medis praktis seperti mengobati atau merawat pasien, SAR, dan pengabdian masyarakat. Di satu pihak, keterampilan tentang bencana seringkali hanya diberikan secara tidak formal atau melalui kegiatan ekstrakurikuler, sehingga dipertanyakan apakah sebaiknya dimasukkan secara formal ke dalam kurikulum atau tidak. Di lain pihak, kurikulum yang mengakomodasi kegiatan ekstrakurikuler tentang bencana secara formal, akan dipertanyakan legalitasnya, apakah akan disetujui oleh Dikti? Hasil dari rapat koordinasi ini merekomendasikan agar konsep pengembangan kurikulum ini memasukkan mass disaster dan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler praktis ke dalam kurikulum pendidikan sarjana kedokteran dan ilmu-ilmu kesehatan, dan memperoleh persetujuan dari Dikti. Selain itu, akan dibuat rencana pertemuan lanjutan untuk menyempurnakan konsep kurikulum, termasuk sumberdaya manusia, bahan ajar dan program pelatihan atau simulasi.
  3. Pada program Master dan Doktoral, fokus pengembangan mencakup dua hal, yaitu kurikulum dan pendanaan. Beberapa program Master di perguruan tinggi, sudah memberikan kuliah tentang bencana, seperti di program studi S2 IKM UGM mengajarkan mata kuliah bencana dalam bentuk Blok sebagai mata kuliah pilihan. Tetapi program master yang mempunyai kurikulum sendiri tentang penanggulangan bencana masih sedikit, diantaranya adalah program studi IKM Universitas Sumatera Utara (USU) melalui minat studi Manajemen Kesehatan Bencana dan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (UNHAS) melalui minat studi Emergency and Disaster Management. Kurikulum bencana di USU berfokus pada aspek-aspek manajerial pra bencana, selama bencana, pasca bencana dan fase rehabilitasi sampai pada persiapan menghadapi disaster politik. Sedangkan kurikulum bencana di UNHAS lebih berfokus pada aspek medical emergency dan disaster management. Pada rapat koordinasi ini disetujui bahwa untuk program master dalam hal bencana akan menggunakan nama minat emergency and disaster management, dan akan dibuat suatu kurikulum standar nasional dan international, sehingga perguruan tinggi menjadi suatu pusat pembelajaran dan pengembangan dalam hal bencana. Selain itu, diharapkan UGM dapat menjadi pelopor dalam pengembangan program Doktoral atau S3, yang berbasis pada riset.
  4. Aspek pendanaan atau financing strategic, berfokus pada aspek pengembangan sumberdaya dosen, yaitu pendidikan yang lebih tinggi atau program doktoral. Siapa penyandang dana? Siapa yang berhak memperoleh dana? Kemana akan disekolahkan? Apa bentuknya? Aspek pendanaan ini penting karena seringkali dana untuk program Master, sudah habis digunakan untuk kegiatan-kegiatan operasional. Akibatnya dana untuk pengembangan sumberdaya dosen tidak tersedia. Hal ini diakui oleh perguruan tinggi lain, seperti Unibraw, Udayana, Unair, bahkan USU dan UNHAS, juga menyatakan hal yang sama. Maka, dibutuhkan pihak lain untuk mensubsidi dana pengembangan sumberdaya dosen ini. WHO – ITC DRR telah berkomitmen untuk memberikan fellowship (sandwich/fullfellowship), melaksanakan exchange program atau pertukaran dosen pengajar dan para ahli bidang bencana dari luar dan dalam negeri, melaksanakan internship atau magang di negara-negara yang telah memiliki networking dengan ITC-DRR bagi peserta program master dan doktoral, dan melakukan scientific meeting secara berkala setiap tahun. Diharapkan juga ada dana dari Depdiknas sebagai induk organisasi pendidikan untuk pendanaan pelatihan, pendidikan di dalam dan luar negeri, pendanaan untuk riset dalam konteks S2 dan S3. Selain itu, perlu dibentuk suatu networking sunber-sumber pendanaan dari masyarakat, pemerintah daerah, corporate social responsibility dan perguruan tinggi.
  5. Pada program pelatihan dan pendidikan psikososial dan kesehatan mental, ditandaskan bahwa aspek psikososial adalah salah satu bagian yang tak terpisahkan dari kesehatan dan kedokteran. Hal ini terlihat nyata dari banyaknya kebutuhan akan terapi mental dan kejiwaan dari para korban, setelah mereka menghadapi shock akibat bencana. Pertimbangan lain adalah alasan manfaat. Di lokasi bencana, sering terjadi ‘malpraktik psikologi’ yaitu orang-orang non-psikologi yang turut bergerak di bidang kesehatan mental tetapi dengan cara yang tidak tepat. Maka, para peserta diskusi sepakat berinisiatif untuk membentuk program kesehatan mental yang lebih luas, tidak terbatas pada pendidikan formal di perguruan tinggi, namun juga merambah pada pelatihan untuk pihak non-psikologi. Maka, dirumuskan beberapa hal penting sebagai rekomendasi, yaitu: melakukan standarisasi mata kuliah psikologi bencana di program sarjana psikologi, melaksanakan sistem sertifikasi untuk pekerja bencana di bidang psikososial dan kesehatan mental, melakukan program pelatihan dan pendidikan lanjut psikologi bencana bagi dosen, menyediakan standarisasi paket pelatihan dukungan psikososial dan kesehatan mental untuk pekerja bencana, dan membuat jaringan antara fakultas psikologi dengan fakultas lain dalam perguruan tinggi, dan fakultas psikologi dengan perguruan tinggi lainnya.
  6. Setiap bentuk penanggulangan bencana-koordinasi, komunikasi, mobilisasi, mitigasi bencana, baik pada fase pra-bencana, bencana, pasca bencana, dan rehabilitasi – membutuhkan networking atau jaringan yang kuat dan handal. Maka, salah satu cara untuk memfasilitasi networking dari perguruan tinggi, rumahsakit, dinas kesehatan dan lembaga-lembaga terkait penanggulangan bencana ini adalah menggunakan website khusus bencana. Website ini dikembangkan oleh ITC-DRR dengan harapan Indonesia dapat menjadi salah satu pusat pendidikan dan laboratorium pengembangan dalam hal bencana bertaraf nasional dan internasional. Fasilitas mailling list bermanfaat untuk menyebarkan informasi, koordinasi dan mitigasi. Ada banyak informasi tentang perguruan-perguruan tinggi yang ambil bagian dalam pendidikan bencana, nama-nama dosen dan staf pengajar, kurikulum, modul-modul pelatihan, kalender ilmiah ilmu manajemen bencana, perpustakaan elektronik -berisi jurnal, review, penelitian, editorial, e-book yang ditulis oleh peneliti dan ahli-ahli tentnag bencana -, berita-berita terkini atau berita lama tentang bencana, jadwal-jadwal pelatihan, data-data bencana masa lalu, dan lain-lain. Website ini akan menjadi rujukan besar tentang bencana yang dapat diakses setiap saat dan dapat digunakan oleh semua orang. Setiap perguruan tinggi akan dibantu membangun website dan memperoleh guideline untuk maintenance fasilitas ini. Website baru ini bernama Crisis-Center Indonesia dengan alamat www.crisiscenter-indonesia.com.
  7. Pada rapat koordinasi ini, pihak Dikti setuju untuk pengembangan pendidikan di bidang manajemen bencana, baik untuk program Sarjana, Master dan Doktoral. Isi kurikulum sepenuhnya diserahkan pada perguruan tinggi dengan mengacu pada Indonesia Quality Framework atau IQF. Dikti juga menyetujui pelaksanaan pertemuan-pertemuan ilmiah tentang bencana dan memberikan saran agar peserta membentuk suatu forum pertemuan profesi agar dapat memanfaatkan dana yang tersedia di DP2M dengan cara kompetisi. Selain itu, penelitian juga bisa dilakukan dengan syarat penelitian memiliki kaitan dengan agenda riset nasional, yang dirinci dalam bentuk cluster nasional. Maka, pihak Dikti meminta agar segera membuat kelompok-kelompok judul penelitian yang baru agar dapat dibahas dalam pertemun cluster di Dikti. Dana juga diberikan bagi dosen untuk melanjutkan pendidikan atau mengikuti academic recharging program selama 2, 4 atau 5 bulan. Dikti juga membentuk jejaring dengan memanfaatkan teknologi, yaitu jaringan INHERENT, dan akan di-link dengan data portal ilmiah nasional atau RII – berisi referensi ilmiah indonesia sebanyak kira-100 artikel dengan 80 ribu judul. Jaringan ini dapat diakses 24 jam/7 hari.
  8. Plan of action dari rapat koordinasi penanggulangan bencana ini adalah persetujuan seluruh peserta untuk membentuk suatu forum profesi yaitu Forum Kajian Bencana Bidang Kesehatan atau FKBBK. Rencana penyusunan proposal yang akan diajukan ke Dikti dilakukan sesegera mungkin, tahap pertama untuk penyusunan draft dapat dilakukan pada pertemuan di Makassar. Agenda untuk pertemuan FKBBK yang kedua ditetapkan pada bulan Oktober 2010, tanggal dan tempat akan diinformasikan

{gallery}galeri_peranpt/h3{/gallery}