Hari I

Pada hari pertama pembukaan dengan beberapa keynotes, yaitu:
Keynotes pertama oleh Prof. dr Laksono Trisnantoro, M.Sc., PhD, yang menyampaikan alasan perguruan tinggi perlu terlibat dalam penanganan bencana yang terjadi di daerah. Seperti yang diketahui bahwa Indonesia berada di Ring of Fire dan terletak di antara 4 plate tektonik dan lebih dari 100 gunung merapi yang aktif, sementara itu juga terdapat universitas-universitas yang tersebar diseluruh daerah yang potensial terkena gempa. Selain itu, beliau juga menyampaikan tujuan dan harapan serta proses pelaksanaan dari kegiatan ini.
 Materi Prof. Laksono 

Keynotes Kedua disampaikan oleh Kepala Pusat Penanggulangan Krisis DepKes RI, Dr. Rustam S Pakaya, MpH, menyampaikan Harapan DepKes terhadap Perguruan Tinggi Kesehatan dalam Penanggulangan Bencana. Pada sesi ini, beliau menyampaikan bahwa terdapat 9 Pusat Penanggulangan Krisis Regional dan 2 sub Regional yang ada di Indonesia yang diresmikan oleh Keputusan Menteri Kesehatan RI pada tahun 2007. Melalui pertemuan ini, dengan adanya kurikulum bencana yang disusun di Perguruan tinggi dalam hal ini oleh Fakultas Kedokteran, Fakultas Kesehatan Masyarakat maupun Fakultas Psikologi dalam upaya sosialisasi kepada mahasiswa dan dosen untuk menerapkan ilmu manajemen bencana yang didapatkan sehingga akan berdampak kepada penguatan SDM dalam kerangka Disaster Risk Reduction (DRR).
 Materi Dr. Rustam

Keynotes ketiga oleh Prof. Dr. dr. Idrus A. Paturusi, Sp.B, Sp.BO selaku Rektor Universitas Hasanuddin., yang menyampaikan bagaimana Pengalaman Perguruan Tinggi dalam Bencana. Beliau menjelaskan mengenai jenis yang terjadi Indonesia, meliputi bencana akibat manusia dan bencana alam serta contoh kejadian yang pernah di alami dan akibat yang ditimbulkan oleh bencana yang terjadi. Dampak yang terjadi antara lain dampak kesehatan masyarakat, merusak infrastruktur kesehatan, dampak social, kerugian ekonomi. Oleh karena itu, diperlukan adanya aksi dan respon dari berbagai sektor untuk penanganan bencana tersebut. Salah satunya diperlukan peran dari perguruan tinggi yang ada.
 Materi Prof. Dr. dr. Idrus A. Paturusi, Sp.B, Sp.BO 

Dan Keynotes yang terakhir oleh dr Vijay Nath Kyaw Win sambil meresmikan website yang baru.

{gallery}galeri_peranpt/h1{/gallery}

WORKSHOP

PERAN PERGURUAN TINGGI PADA PENANGGULANGAN BENCANA DI INDONESIA

Pendahuluan

Pasca bencana, dibutuhkan action untuk emergency respons, yaitu tenaga teknis medis untuk pengobatan dan perawatan, dan management support untuk menangani masalah komunikasi, koordinasi, sistem informasi dan rehabilitasi. Kegiatan tersebut membutuhkan persiapan yang baik dan antisipasi untuk menghadapi keadaan-keadaan darurat. Pada tahun 2007, Depkes dengan dukungan dari WHO dan mitra kerja, dalam kerangka DRR-PHS Indonesia, meluncurkan ITC-DRR di Makassar. Kegiatan ITC-DRR berdasar pada konsep orbit dan merupakan garis edaran yang dibentuk oleh 9 Regional Pusat Krisis dan 2 Sub Regional Pusat Krisis, dan masing-masing regional dan sub regional mewakili perguruan tinggi di masing-masing daerah yang rawan bencana.

Mengapa perguruan tinggi, selain rumahsakit dan dinas kesehatan, perlu terlibat dalam pengembangan pusat krisis penanggulangan bencana? Salah satu alasannya berkaitan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pengabdian masyarakat. Melalui keikutsertaan dalam penanggulangan bencana, dapat dikatakan bahwa perguruan tinggi melakukan tanggungjawabnya untuk mengabdi kepada masyarakat. Alasan lain adalah di perguruan tinggi tersedia banyak sumberdaya. Contoh: Fakultas Kedokteran memiliki banyak dokter, residen, perawat, laboratorium; Fakultas Psikologi memiliki psikolog; Fakultas Teknik memiliki arsitek, tenaga teknik sipil, tenaga elektro; dan biasanya perguruan tinggi memiliki jaringan komunikasi dan informasi yang luas dan dapat dimanfaatkan sewaktu mobilisasi dan mitigasi penanggulangan bencana.

Namun, harus diakui bahwa kemampuan dari perguruan-perguruan tinggi dalam pengembangan penanggulangan bencana, berbeda-beda dan tidak merata. Tidak semua perguruan tinggi siap menghadapi bencana yang mungkin saja terjadi di wilayahnya. Maka dibutuhkan penguatan perguruan tinggi dalam hal bencana. Penguatan peran perguruan tinggi akan difokuskan pada standar regional pendidikan bencana, yaitu untuk program pelatihan non-gelar (Program 100 hari Kabinet Indonesia bersatu: untuk 100 rumahsakit), pendidikan kedokteran, program Master dan Doktoral, serta pengembangan website sebagai sarana pertukaran informasi dan networking untuk bencana.

Tujuan Workshop ini secara umum adalah (1) Menetapkan sistem dan standar pendidikan dalam pelatihan internasional ITC DRR sampai dengan periode 2010 – 2011 (plus program 100 hari DepKes); (2) Penguatan pendidikan kedokteran; dan (3) Mempersiapkan program Master dan PhD dalam bidang manajemen kegawatdaruratan dan bencana di Universitas yang berpartisipasi.

Secara khusus, akan: (1) Memperkuat pelatihan non gelar di ITC-DRR melalui standarisasi dan akreditasi, karena resiko bencana sangat besar dan pelatihan yang efektif adalah secara in-house trainning; (2) Memantau bahan pengajaran Kegawatdaruratan dan Penanganan Bencana dalam pendidikan kedokteran; (3) Merencanakan tahun 2010 dan 2011 kegiatan pelatihan berdasarkan pengalaman dan penelitian; (4) Memantau kemajuan program Master Degree Darurat dan Penanggulangan Bencana; (5) Mengembangkan kurikulum dan persiapan teknis untuk program PhD Kegawatdaruratan dan Penanggulangan Bencana, dan (6) Menganalisis aspek keuangan dari program.

Kegiatan yang dilaksanakan selama 3 (tiga) hari di Hotel Inna Garuda Yogyakarta mulai tanggal 24-26 November 2009, dihadiri oleh Peserta yang berasal dari Pusat Penanggulangan Krisis, Depkes (9 Regional 2 sub Regional), Universitas yang telah melakukan ITC-DRR, Dinas Kesehatan, Rumah Sakit dan WHO

UNISDR Publications

Annual Reports
UNISDR Biennial Work Plan 2008 Progress Report

Conference Proceedings
Acting with Common Purpose
Second session of the Global Platform for Disaster Risk Reduction
Third session of the Global Platform for Disaster Risk Reduction and World Reconstruction Conference proceedings
Third Session of the Global Platform for Disaster Risk Reduction
World Conference on Disaster Reduction 2005

Education Materials
Disaster Through a Different lens

HFA Documents
A guide for implementing the Hyogo Framework for Action by local stakeholders
HYOGO FRAMEWORK for Action 2005-2015
Hyogo framework for action 2005 2015
Implementing The Hyogo Framework for Action in Europe_advances and Challenges
Implementing The Hyogo Framework for Action in Europe_advances and Challenges_Report for the Period 2007 2009
Indicators of Progress_Guidance on Measuring the reduction of disaster risks and the implementation of the hyogo framework for action
Regional synthesis report 2009-2011
Risk and Poverty in A Changing Climate
Strategic directions for the ISDR system to assist the implementation of the the Hyogo Framework
Words into action_A Guide for implementing the hyogo framework

Policy
Adaptation to Climate Change by reducing Disaster Risk_Country Practices and Lessons
Chair’s summary of the second session of the Global Platform for Disaster Risk Reduction
Chair’s Summary_Third session of the Global Platform for Disaster Risk Reduction and World Reconstruction Conference proceedings
Climate Change and Disaster Risk Reduction
Disaster Risk Reduction in theUnited Nations
Effective measures to build resilience in africa to adapt to climate change
Outcome Document_Chair’s Summary of the Second Session Global Platform for Disaster Risk Reduction
Overview of National Platforms in Europe
Strengthening climate change adaptation through effective disaster risk reduction
Thematic partnerships for disaster risk reduction and the development of ISDR thematic platforms
TOOLKIT FOR NATIONAL PLATFORMS FOR DISASTER RISK REDUCTION IN AFRICA SEPTEMBER 2010
Towards a Post-2015 Framework for Disaster Risk Reduction

Promotional Material
UN Mechanisms of the International Strategy for Disaster Reduction
UNISDR Services

Workplan
ISDR Biennial Work Plan 2006 2007
ISDR System Joint Work Programme 2008 2009
UNISDR secretariat biennial work programme 20102011

Aktivitas Gunung Merapi Meningkat Lagi

Magelang (ANTARA News) – Aktivitas kegempaan Gunung Merapi di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dengan Daerah Istimewa Yogyakarta dalam sepekan terakhir menunjukkan peningkatan.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Merapi Babadan Kecamatan Dukun, Ismail, di Magelang, Rabu mengatakan, peningkatan aktivitas tersebut khusus untuk gempa multifase dan gempa tektonik dangkal.

Continue reading

Korban Banjir Tangerang Mulai Terserang Penyakit

Metrotvnews.com, Tangerang: Banjir di Perumahan Total Persada, Kelurahan Gembor, Kecamatan Periuk, Tangerang, Banten, hingga hari keempat, Rabu (15/2), berangsur surut. Namun, sejumlah warga yang mengungsi pun mulai terserang penyakit gatal dan demam.

Serangan gejala gatal-gatal dan demam umumnya terjadi pada anak-anak. Diduga penyakit ini akibat banjir yang menggenangi wilayah pemukiman warga.  Hingga kini warga mengaku mereka mengaku belum mendapatkan pengobatan. Hal tersebut dikarenakan sulitnya berobat akibat tidak adanya posko kesehatan di lokasi pengungsian.

Selain itu, warga juga mengeluhkan tidak adanya bantuan makanan bayi dan keperluan anak-anak. Banjir juga mengakibatkan sampah menumpuk di beberapa titik. Warga pun khawatir akan penyakit yang biasa muncul pasca-banjir.

Presiden Intruksikan Antisipasi Bencana Terpadu

Lumajang – Banyaknya bencana yang terjadi, termasuk peningkatan status vulkanik Gunung Semeru dari Waspada menjadi Siaga mendapatkan perhatian dari Presiden SBY. Presiden berpesan agar antisipasi dan penanggulangan bencana daerah dilakukan secara terpadu.

Demikian diungkap Kepala Seksi (Kasi) Pengendalian Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Bernadus Ali disela-sela Rapat Koordinasi (Rakor) dengan agenda review ‘Penyusunan Peta Kontijensi Letusan Gunung Semeru’ di Hotel Gajah Mada Lumajang, Selasa (14/2/2012).

Continue reading

Kemenkes Siapkan TIM Medis Pengendalian Flu Burung

flu-burung

Jakarta, Kompas Untuk mengendalikan penyebaran flu burung pada manusia, Kementerian Kesehatan menyiapkan tenaga medis, puskesmas dan rumah sakit, serta obat oseltamivir. Selain itu, sebuah konsorsium riset vaksin sedang menyiapkan prototipe vaksin DNA untuk flu burung.

Menurut Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang, Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan, Rita Kusriastuti, Selasa (14/2), di Jakarta, saat ini ada 100 rumah sakit rujukan flu burung di 31 provinsi.

Continue reading

Sejarah Letusan Gunung Galunggung

BANDUNG- Gunung Galunggung, Tasikmalaya-Garut, Jawa Barat, terakhir kali meletus pada 5 April 1982 hingga 8 Januari 1983. Saat itu menghasilkan cendawan tinggi berwarna hitam. Ketinggiannya diperkirakan mencapai ketinggian 10 kilometer.

Kepala Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Jabar, A Djumarma Wirakusumah, menuturkan letusan Gunung Galunggung menyebabkan pesawat terbang British Airways melakukan pendaratan darurat di Jakarta. Hal tersebut dilakukan karena salah satu mesin jetnya ada yang mati akibat kemasukan abu vulkanik.

Continue reading

Pemkab Tasikmalaya Siapkan 4 Titik Evakuasi

BANDUNG–MICOM: Menyusul meningkatnya aktivitas Gunung Galunggung, Pemkab dan Polres Tasikmalaya, Jawa Barat telah menyiapkan beberapa lokasi evakuasi warga yang berada di sekitar lereng gunung tersebut.

Kapolres Tasikmalaya Ajun Komisaris Besar Gupuh Setiono, Selasa (14/2) mengatakan untuk sementara pihaknya telah menyiapkan empat titik evakuasi di Kecamatan Singaparna serta di beberapa kecamatan lainnya yang berdekatan dengan kawasan gunung, seperti Cisayong, Indihiang, dan Sukaratu.

Continue reading