Skip to content

Perkembangan Terkini Resiliansi Komunitas Internasional

2 wadem newsletter

2 wadem newsletterBagian psikososisl dari WADEM menerbitkan newsletter 3 kali dalam setahun. Newsletter ini dikembangkan sebagai media untuk menyediakan informasi terkait kegiatan internasional bidang psikososial. Setiap buletin membahas tentang abstrak penelitian, review artikel, satu atu lebih jurnal yang membahas tentang tema yang diangkat. Lembaga sekolah pascasarjana atau institusi yang memiliki berbagai sumber informasi psikososial, jurnal yang berfokus pada psikososial serta acara mendatang terkait tema juga dibahas. Terbitan pertama tahun ini mengangkat tema tentang resiliansi komunitas. Pembaca yang memiliki ketertarikan tentang perkembangan ilmu psikososial terutama resiliansi komunitas dapat menjadikan newsletter ini sebagai bacaan minggu ini. penjelasan selengkapnya Klik Disini arrow, external, leave, link, open, page, url icon

 

 

Mengupas Sisi Lain Dari Kongres Toronto Pada April 2017

wadem congress

wadem congressKongres ke-20 WADEM pada April 2017 lalu menyediakan ruang yang besar untuk para peneliti internasional. Berbagai topik menarik dapat diperoleh dari kegiatan tersebut. Selain dari topik inti yang telah direportasekan sebelumnya, masih banyak informasi menarik yang belum diangkat dari kegiatan tersebut. Terdapat sesi khusus yang diisi oleh berbagai pembicara dari berbagai penjuru negara. Sesi ini dilaksanakan pada pagi hari, menjelang malam dan setelah makan siang. Beberapa topik yang dipresentasikan tersebut adalah bagaimana cara untuk menemukan indikator yang baik dalam mengukur kesiapsiagaan bencana, triage selama bencana, tantangan dan kesempatan dalam melakukan penelitian kebencanaan yang berkualitas tinggi, pengobatan bencana pada anak di seluruh dunia, palang merah Kanada, dekontaminasi masal rumah sakit dan simulasi (10 langkah sukses penanggulangannya), dan lain-lain. Penjelasan lengkap setiap topik di atas serta topik lainnya Klik Disini arrow, external, leave, link, open, page, url icon

Why disaster preparedness is important

Now that it’s officially the “rainy season,” perhaps it’s time to review some lessons from the past and what they tell us about disaster preparedness. I recently attended the UN Global Platform for Disaster Risk Reduction conference in Cancun with a delegation led by Undersecretary Rick Jalad, director of the National Disaster Risk Reduction and Management Council. The message was pretty clear: The world (and the Philippines in particular) has made great strides in disaster preparedness, and the investment has paid

loss have yet to be contained because of the lack of relevant programs. Lives are saved, but people remain victims of and impoverished by disaster.

In September 2009, Tropical Storm “Ondoy” (international name: Ketsana) hit Metro Manila and neighboring provinces. Over a month’s worth of rainfall fell in just 12 hours, leaving more than 700 people dead and some 450,000 displaced. Damage was recorded at $1.09 billion. The absence of a warning system caught people flatfooted and unaware of the floods that ensued.

In November 2013, Supertyphoon “Yolanda” (international name: Haiyan) barreled into central eastern Philippines, making landfall in the provinces of Samar and Leyte. It was the strongest storm worldwide to ever make landfall in the recorded history of storm-tracking, with winds reaching 315 kilometers per hour and a storm surge of 4.6-7.0 meters (14-21 feet). Yolanda left 6,340 casualties and 1,058 missing and almost $3.0 billion in damage. Forecasts were made and typhoon warnings issued early. But because the people either ignored the warnings or didn’t take them seriously, the loss of life and damage were unprecedented because of the general lack of preparedness.

We founded the Philippine Disaster Resilience Foundation (PDRF) in 2009, after Ondoy, to basically focus on disaster response and recovery. Its original name was Philippine Disaster Recovery Foundation, but after Yolanda, we began to shift our strategy to disaster prevention and preparedness. In mid-2014, we decided to focus on resilience and changed our name to reflect this new thrust, while still keeping engaged in disaster response and recovery. We felt, like many others, that “an ounce of prevention was worth a pound of cure.”

One of our strategic decisions was to establish an Emergency Operations Center (EOC), which was envisioned to provide storm-tracking information as well as a map of hazard risks such as earthquakes, volcanic eruptions, and floods. By overlaying this data against maps indicating population and key facilities like airports, ports, roads, utilities, and other important infrastructure, we plan to mobilize disaster preparedness efforts well before typhoons hit.

As important as the hardware and software behind the EOC, we built a network of over 80 companies ready to mobilize before disasters. We organized these firms into eight clusters or committees on themes like Power and Energy, Water and Sanitation, Telecommunications, Resilient Infrastructure, Emergency Supplies, Finance and Insurance, Logistics, and Healthcare. We also jointly drew up a common manual of operations and organized periodic drills.

We built a prototype EOC in the central business district of Makati and began operating it in June 2016. We have completed designs for our main EOC to be located in Clark Special Economic Zone in Pampanga, and started construction last month.

It has been well documented that investments in preparedness can result in significant savings in relief and rehabilitation expenses. Since 2013, storms and typhoons have hit the Philippines (as they do 20–25 times a year). However, intensified focus on preparedness and prevention by both the government and the private sector have resulted in fewer casualties. Communities are now able to bounce back more quickly after a calamity. In our view, the results are clear: Disaster preparedness saves lives.

We now need to move to our next challenge: to use disaster risk reduction methods to cut economic losses and damage to homes, buildings and infrastructure.

Mudik Lebaran, BPBD Siapkan Posko Khusus Bencana

SOLO, KRJOGJA.com –  Antisipasi pohon tumbang yang dapat mengganggu kelancaran lalu lintas arus mudik dan balik Lebaran, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Solo, menempatkan Posko khusus di dua titik. Selain relawan dan peralatan evakuasi pohon tumbang, Posko BPBD juga dilengkapi logistik, serta tempay beristirahat bagi pemudik untuk melepas lelah setelah menempuh perjalanan jauh dan melelahkan.

Kepala BPBD Solo, Eko Prajudi Nur Ali mengungkapkan dalam beberapa hari terakhir, cuaca Kota Solo acapkali diguyur hujan lumayan deras, sehingga  ancaman pohon tumbang bisa saja terjadi setiap saat. Terlebih, dari hasil pemetaan, populasi pohon besar dengan kondisi akar mulai melapuk cukup banyak, walaupun dalam beberapa hari terakhir, telah dilakukan antisipasi dengan penebangan sejumlah pohon berkategori tua dan lapuk.

“Sejumlah relawan siap bergabung di Posko BPBD untuk melayani pemudik yang memerlukan bantuan terkait dengan kebencanaan. Sedangkan peralatan yang disiagakan, antara lain, mobil resque, motor, peralatan tanggap bencana, logistik sampai gergaji mesin,” tandasnya.

Eko menambahkan bencana tidak dapat diprediksi sehingga kesiapsiagaan menjadi kunci utama untuk mengeliminasi sekecil mungkin dampak yang ditimbulkan. Dalam beberapa hari terakhir terus memantau perkembangan cuaca sebagaimana diinformasikan Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), radio komunitas, serta sumber informasi lain melalui pusat pengendali di lantai 5 Gedung Tawangpraja. (Hut)

Ini Faktor Banyaknya Angka Kematian Saat Mudik

Ini Faktor Banyaknya Angka Kematian Saat Mudik

Jakarta, Setiap tahunnya, ada saja pemudik yang meninggal dunia saat dalam perjalanan. Ternyata ada beberapa faktor yang menyebabkan hal tersebut.

Menurut Dirjen Pelayanan Kesehatan Kemenkes RI, Dr Bambang Wibowo, SpOG(K), MARS, saat temu media di Gedung Adhyatma Kemenkes menyatakan bahwa permasalahan tersebut karena adanya beberapa faktor.

Kecelakaan lalu lintas menjadi faktor utama terjadinya kematian saat mudik. “Nah ini juga ketertiban para pemudik, harus taat dan mematuhi rambu-rambu dan aturan lalu lintas,” ujar Dr Bambang.

Selain itu kesehatan pemudik juga menjadi salah satu faktor. Tidak sedikit pemudik yang memaksakan diri walau dalam keadaan sakit.

“Memang ada potensi-potensi yang bisa meningkatkan risiko kematian, seperti kejadian kemarin itu kan umumnya yang meninggal sudah ada penyakit yg menyertai dan sudah sakit sebelumnya,” tuturnya kepada detikHealth, Rabu (14/6/2017).

Maka dari itu Dr Bambang menyarankan untuk mempersiapkan kesehatan jelang mudik. “Maka yang dibutuhkan harus sehat betul. Kalau ngga sehat jangan dipaksakan. Kalau merasa kurang sehat periksa di pos kesehatan,” tambahnya.

Kurangnya pemahaman akan kesehatan dan keselamatan juga harus diperhatikan.

“Banyak anak atau bayi yang diajak naik motor, sebenarnya tidak mungkin dibawa naik motor. Orangtua harus mengerti bahwa jika ingin mudik semua harus sehat, aman, dan selamat sehingga bisa tiba ditempat tujuan. Bukannya baru separuh jalan, eh ngga sampai di tempat tujuan,” tutur dr Gita Maya Koemara Sakti Soepono, MHA selaku Direktur Pelayanan Kesehatan Primer Kemenkes di waktu yang sama.

Dr Bambang menghimbau agar semua masyarakat memahami pentingnya kesehatan dan keselamatan saat mudik, agar kematian saat mudik dapat berkurang setiap tahunnya.

Bencana Longsor di Bangladesh, 134 Tewas

Tim penyelamat mencari korban bencana di tengah timbunan lumpur setelah longsor melanda kota Bandarban, Bangladesh, Selasa (13/6).[AP][DHAKA] Hujan lebat yang terus menerus menyebabkan bencana tanah longsor di sejumlah wilayah Bangladesh, sejak beberapa hari terakhir. Pada Selasa (13/6), jumlah korban tewas telah mencapai 134 orang. Sebagian besar korban tewas terdapat di wilayah Rangamati, Chittagong, dan Bandarban.

“Kami belum dapat mencapai banyak tempat-tempat yang terkena bencana. Setelah hujan deras reda, kami akan mendapatkan gambar lengkap dari dampak kerusakan dan memulai pekerjaan rehabilitasi dengan cepat,” kata Reaz Ahmed, Kepala Departemen Manajemen Bencana, kepada kantor berita AFP.

Sejauh ini, operasi penyelamatan masih terhambat oleh cuaca buruk. Jaringan listrik dan telekomunikasi telah terputus, dan sebagian besar masyarakat tidak dapat melakukan kontak. Tim penanggulangan bencana telah ditempatkan ke daerah-daerah yang terkena bencana untuk memperkuat upaya pemulihan.

“Pekerjaan pemulihan masih berlangsung. Angka kematian dapat bertambah saat banyak daerah masih tetap terisolasi,” ujarnya

Pemerintah Bangladesh menyatakan sekitar 4.000 orang diungsikan ke 18 tempat penampungan di daerah bencana Chittagong, Rangamati, dan Bandarban. Militer, pemadam kebakaran dan telah dikerahkan untuk membantu upaya pemulihan.

“Kami telah mengungsikan 4.000 hingga 4.500 orang di penampungan. Lebih banyak lagi orang akan ditolong demi keselamatan. Kami sudah mengatur perawatan medis. Kami sediakan mereka makanan. Kami akan melakukan ini sampai mereka kembali ke rumah,” ujar Menteri Manajemen Bencana dan Pemulihan Mofazzal Hossain Chowdhury.

Menurut GM Adul Quader, Deputi Menteri Manajemen Bencana, daerah yang mengalami dampak terparah adalah Rangamati, tempat 88 orang tewas. Berikutnya adalah Chittagong, tempat 22 orang terkubur lumpur dan tertimpa pohon tumbang.

Di kabupaten Rangamati, daerah perbukitan yang berdekatan dengan perbatasan India, tanah longsor telah mengubur rumah-rumah penduduk. “Sebagian besar penduduk sedang tidur di rumah-rumah mereka tersapu begitu saja ketika terjadi longsor,” ujar kepala polisi setempat, Sayed Tariqul Hasan kepada AFP.

Juru bicara militer mengatakan beberapa personel tentara yang sedang membersihkan jalan tewas saat longsor susulan terjadi. Ribuan pasukan memang ditempatkan di Rangamati, tempat pemberontakan suku terjadi selama dua dekade terakhir, dan sejumlah kekerasan sporadis.

“Tentara itu dikirim ke jalan yang terkena longsor di kota Manikchhari ketika mereka terkubur oleh longsoran susulan,” ujar juru bicara angkatan bersenjata Letnan Kolonel Rashidul Hassan.[BBC/Al Jazeera/U-5]

WEBINAR SERIES : EMERGENCY MEDICAL TEAM

Kerangka Acuan Kegiatan

WEBINAR SERIES : EMERGENCY MEDICAL TEAM

PENGANTAR

Emergency Medical Team (EMT) atau tim medis reaksi cepat adalah sebuah unit yang bekerja dengan kriteria tertentu dan kapasitas standar minimal tertentu dari sebuah institusi pemerintah atau organisasi non-pemerintah yang  kerjanya dikoordinasikan oleh Kementerian Kesehatan RI sebagai koordinator klaster kesehatan nasional dan di bawah koordinasi sub-klaster pelayanan medis. Jejaring Emergency Medical Team Indonesia dibentuk untuk meningkatkan koordinasi sumber daya baik dari pemerintah, masyarakat, lembaga usaha serta organisasi internasional dan bantuan bilateral dalam penanganan medis dan kesehatan masyarakat  yang efektif, efisien dan akuntabel saat penanganan bencana.

EMT akhirnya tidak hanya ditujukan sebagai kesiapsiagaan respon bencana saja, bagaimana kecepatan pengiriman tim atau hal lainnya. Nyatanya, saat ini misalnya, dengan adanya kebijakan mengenai SPGDT (Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu) dan PSC (Public Service Center) maka EMT berperan penting sebagai aspek dari SDM kesehatan yang kompeten untuk penyelenggaraan dua kebijakan tersebut. Kita sangat berharap, bahwa kedepannya, seluruh wilayah Indonesia mulai dari tingkat kabupaten, provinsi, dan nasional memiliki EMT yang dapat melakukan respon tidak saja untuk kejadian bencana di dalam negeri tetapi juga di luar negeri.

EMT dapat dikatakan barang baru tetapi juga tidak sebenarnya bagi Indonesia. Namun, kemunculan INPRES No. 4 Tahun 2013 memunculkan kewajiban Kabupaten/ Kota membentuk PSC serta kemunculan Permenkes No. 19 Tahun 2016 tentang SPGDT memunculkan gairah kita untuk dapat bersama-sama mendiskusikan, bertukar pengalaman dan keilmuan untuk mewujudkan pelaksanaan yang sesuai dengan harapan, salah satunya dengan menyiapkan EMT. Menariknya, kerangka kerja EMT di Indonesia juga sudah diinisiasi oleh Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes dan pihak terkait pada November 2016 lalu.

tujuanTUJUAN

Untuk menambah wawasan mengenai kebijakan EMT di Indonesia.
 

placeTEMPAT, WAKTU DAN TANGGAL PELAKSANAAN

Kegiatan ini akan dilaksanakan pada :

Hari, Tanggal : Selasa, 20 Juni 2017
Waktu : 13.00 – 15.00
Tempat        : Lab Leadership Lt.3 Fakultas Kedokteran UGM
Judul            : Emergency Medical Team
Pembicara        : dr. Handoyo Pramusinto, SpBS (Ketua PokJa Bencana FK UGM)
Moderator : dr. Bella Donna, M.Kes (Kepala Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM)

Registration URL: https://attendee.gotowebinar.com/register/7762122566368309762
Webinar ID    : 333-342-299

analytics, audience, presentation, training icon  PESERTA YANG DIHARAPKAN

–    Kementerian Kesehatan (Pusat Krisis Kesehatan)
–    BNPB
–    BPBD
–    Dinas Kesehatan
–    Rumah Sakit
–    Fakultas Kedokteran, Kesehatan, dan Keperawatan
–    Group EMT Indonesia
–    Mahasiswa
–    Peneliti
–    LSM
–    Dsb

agendaAGENDA ACARA

Waktu Materi Pembicara
13.00 – 13.15 Pembukaan dr. Bella Donna, M.Kes
13.15 – 14.00

Penyampaian Materi
Emergency Medical Team

dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS

Materi

14.00 – 14.45 Diskusi  
14.45 – 15.00 Penutup Dr.Bella Donna, M.Kes

 

agreement, arrangement, document, register, registration, sign, write icon  PENDAFTARAN DAN INFORMASI

Lelyana
Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM
Mobile           : 081329760006
Ph                : 0274-549425
Fax               : 0274-549424

Pemaparan Hasil Sementara Penelitian Kesiapsiagaan Fasilitas Kesehatan dalam Menghadapi Arus Mudik Tahun 2017

Kerangka Acuan Kegiatan

Pemaparan Hasil Sementara Penelitian Kesiapsiagaan

Fasilitas Kesehatan dalam Menghadapi Arus Mudik Tahun 2017

PENGANTAR

Mudik merupakan rutinitas yang dilakukan sebagian besar orang di Indonesia ketika perayaan hari besar keagamaan, khususnya untuk masyarakat muslim dalam menghadapi lebaran setiap tahunnya. Lonjakan penumpang, moda transportasi, dan arus pemudik terjadi terutama pada H-10 hingga H+10 lebaran. Arus mudik dan arus balik seperti ini kerap menimbulkan permasalahan seperti kemacetan dan kecelakaan.

Sektor kesehatan memandang arus mudik sebagai kejadian mass gathering (berkumpulnya orang dalam jumlah yang banyak dalam satu waktu) yang dapat mengakibatkan mass causality, bisa menimbulkan kesakitan atau kematian. Untuk itu, sektor kesehatan perlu melakukan kesiapan dalam menghadapi arus mudik setiap tahunnya. Tujuannya untuk mengurangi angka kesakitan dan kematian yang ditimbulkan selama arus mudik.

Pusat Krisis Kesehatan, Kemenkes RI bekerjasama dengan Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK UGM melakukan penelitian untuk mengukur kesiapsiagaan fasilitas kesehatan dalam menghadapi arus mudik 2017 yang diselenggarakan di beberapa tempat di Jawa dan Sumatera. Pengambilan data telah dilakukan pada minggu ke-4 dan minggu ke-5 bulan Juni di 4 provinsi. Untuk itu akan dipaparkan hasil sementara temuan dari pengambilan data di 4 provinsi tersebut.

 

tujuanTUJUAN

Kegiatan ini bertujuan untuk:

  1. Memberikan pemahaman mengenai konsep kesiapsiagaan sektor kesehatan dalam menghadapi event tahunan seperti arus mudik
  2. Memberikan penjelasan mengenai penelitian ini
  3. Memaparkan hasil kesiapsiagaan daerah lokasi penelitian
  4. Memaparkan temuan yang terjadi di daerah lokasi penelitian

 

placeTEMPAT, WAKTU DAN TANGGAL PELAKSANAAN

Kegiatan dilaksakan di dua tempat secara webinar, Yogyakarta dan Jakarta.

Hari, Tanggal : Senin, 19 Juni 2017
Waktu : 09.00 – 12.00 WIB
Tempat        : Studio Mini Fakultas Kedokteran UGM (Host)
  Pusat Krisis Kesehatan, Kemenkes RI (Co Host)

Registration URL: https://attendee.gotowebinar.com/register/1486567591860090626
Webinar ID: 575-942-363

analytics, audience, presentation, training icon  PESERTA

  • Pusat Krisis Kesehatan, Kemenkes RI
  • PKMK FK UGM

agendaAGENDA ACARA

Waktu Kegiatan Keterangan
09.00 – 09.15 Pembukaan PKMK FK UGM
09.15 – 10.15

Presentasi Hasil Sementara
Kajian Arus Mudik 2017

Diskusi

dr. Bella Donna dan Madelina Ariani
10.15 – 10.45 Pembahas 1 Kapus PKK
10.45 – 11.15 Pembahas 2 Yankes Rujukan
11.15 – 11.45 Pembahas 3 Litbang
11.45 – 12.00 Penutup PKMK FK UGM

 

agreement, arrangement, document, register, registration, sign, write icon  PENDAFTARAN DAN INFORMASI

Lelyana
Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM
Mobile           : 081329760006
Ph                : 0274-549425
Fax               : 0274-549424

Belajar Melalui Sistem Kesehatan di Urban Disasters

2 health system

2 health systemSetiap bencana itu unik. Perbedaan hazard, sistem pelayanan kesehatan struktur sosial politik dan level ekonomi dapat memberikan pembelajaran yang besar bagi setiap orang. Seperti suatu perumpamaan bahwa salah satu proses pembelajaran yang baik adalah melalui pengalaman, baik diri sendiri maupun orang lain. Hal tersebut dapat diperoleh dari publikasi yang berjudul Health System in Urban Disastersini. Publikasi ini menggambarkan sistem kesehatan yang diterapkan di beberapa negara yang mengalami bencana besar seperti Jepang, Chile, Filipina, Thailand, Haiti, dan lain-lain. Upaya dari sektor kesehatan selama fase respon, pemulihan, kesiapsiagaan didiskusikan dari kasus yang dialami setiap negara. Publikasi ini memberikan gambaran umum tentang bagaimana sistem kesehatan berjalan melalui perbedaan tantangan serta waktu; dan menggunakan analisis yang mempertimbangkan pemerintah, pembiayaan, logistik, dan informasi. Penjelasan selengkapnya Klik Disini arrow, external, leave, link, open, page, url icon