RIBUAN RUMAH TERENDAM BANJIR DI BIMA

Hujan deras yang merata di Bima dan Sumbawa menyebabkan banjir besar di beberapa daerah. Ribuan rumah terendam banjir di Kota Bima, Kabupaten Bima dan Kabupaten Sumbawa Provinsi Nusa Tenggara Barat pada Rabu (21/12/2016) pukul 03.00 Wita.

Lima kecamatan di Kota Bima terendam banjir setinggi 1-2 meter meliputi Kecamatan Rasanae, Rasanae Timur, Rasanae Barat dan Punda. Tinggi banjir di wilayah Lewirato, Sadia, Jati Wangi, Melayu, Pena Na’e mencapai 2 meter. Ribuan rumah terendam banjir. Masyarakat dievakuasi. Tahanan di LP Kota Bima juga dievakuasi karena terendam banjir.

Di Kabupaten Bima banjir merendam di Desa Maria dan Desa Kambilo Kecamatan Wawo. Data sementara tercatat 25 rumah rusak berat, 5 rumah hanyut, 3 rumah rusak sedang, dan 1 jembatan negara putus. 

Sementara itu banjir juga merendam Desa Unter Kroke Kecamatan Unter Iwis Kabupaten Sumbawa. Sebanyak 120 KK/610 jiwa terdampak, 1 rumah rusak berat, 1 rumah rusak sedang dan 2 jembatan desa putus. Tinggi banjir 1-2 meter. Penerbangan dari Mataram ke Bima belum dapat dilakukan karena bandara terendam banjir.

BPBD bersama dengan TNI, Polri, SAR, Tagana, PMI, SKPD, relawan dan masyarakat melakukan evakuasi warga. Pelayanan kesehatan diberikan bagi warga. Kebutuhan mendesak perahu karet, permakanan, selimut, tenda, air bersih, obat-obatan, makanan bayi dan lainnya.

BPBD masih melakukan pendataan. Untuk informasi lebih lanjut hubungi Agung (BPBD Provinsi NTB 081907533775).

Sutopo Purwo Nugroho
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB

 

ASM Penggunaan Logistik Medik Pada Bencana

border-page

Term of Reference
Dalam rangka Annual Scientific meeting (ASM) Fakultas Kedokteran 2017

Kelompok Kerja (Pokja) Bencana FK UGM bekerjasama dengan
Divisi Manajemen Bencana Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan FK UGM
Menyelenggarakan seminar mengenai:

Penggunaan Logistik Medik Pada Bencana :
Study Kasus Tetanus Pada Gempa Bumi Yogyakarta tahun 2006

Kamis, 9 Maret 2017
Gedung Senat Lantai 2 KPTU Fakultas Kedokteran UGM

border-page

Latar Belakang

Gempa Tektonik yang mengguncang Yogyakarta dan sekitarnya pada Sabtu, 27 Mei 2006 pukul 05.55 WIB selama 57 detik merupakan gempa terbesar setelah peristiwa gempa pada 23 Juli 1943 di wilayah yang sama. Yogyakarta merupakan daerah yang rawan terhadap gempa bumi, disamping karena faktor goncangan gempa yang cukup besar yaitu 5,9 Skala Richter, ternyata bangunan di Yogyakarta umumnya tidak dirancang tahan gempa sehingga jumlah korban dan kerugian menjadi cukup besar, baik korban nyawa maupun kerugian harta benda.

Pada Gempa Tektonik tahun 2006 banyak korban yang meninggal  karena tetanus. Penderita tetanus umumnya menderita luka akibat tertimpa reruntuhan bangunan dan terkena benda tajam. Sebanyak 27 orang korban gempa di kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta meninggal akibat tetanus. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul pada saat itu, sekitar 75 persen dari 36 korban gempa yang menderita tetanus meninggal dunia.

Menurut Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan gempa Aceh memiliki kemiripan dengan gempa Yogyakarta pada 2006 lalu. Kedua gempa sama-sama disebabkan aktivitas sesar yang bersifat mendatar. Perbedaan kedua gempa hanya terletak pada waktu berlangsungnya goncangan. Gempa Aceh terjadi dalam waktu 15 detik sementara gempa di Yogyakarta terjadi selama 57 detik. Diperkirakan banyak  korban yang tertimbun reruntuhan bangunan.

Logistik medik, seperti obat-obatan, peralatan medis habis pakai, peralatan untuk tindakan medik, maupun peralatan perawatan, merupakan penunjang utama tindakan medis mulai dari yang ringan sampai yang berat (operasi besar). Seperti kejadian bencana gempa di DIY (Bantul), Jawa-Tengah (Klaten) dan Aceh (Pidie Jaya) banyak sekali tindakan operasi yang cukup besar, seperti kasus-kasus traumatik (patah tulang) dan kasus tetanus sangat memerlukan tindakan cepat. Untuk pengelolaan logistik medik diperlukan suatu tim yang terkoordinasi dan jaringan informasi antar posko atau pengguna logistik medik dengan demikian pada fase preparedness dan response dapat dipersiapkan dan direncanakan logistik medik yang sesuai kebutuhan, jumlah yang mencukupi, suplai logistik medik yang terjamin serta terinventarisasi dengan baik.
Melalui rangkaian kegiatan Annual Scientific Meeting Fakultas Kedokteran UGM tahun 2017 yang bertemakan “Pencegahan dan Pengendalian Resistensi Antimikroba”, maka Pokja Bencana FK UGM bekerjasama dengan Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM bermaksud menyelenggarakan seminar yang berjudul “Penggunaan Logistik Medik Pada Bencana: Studi Kasus Tetanus pada Gempa Yogyakarta untuk Pencegahan Tetanus pada Gempa Pidie Jaya 2016”. Melalui seminar sehari ini, kita akan membahas mengenai kebijakan logistik medik dan logistik non medik pada bencana yang digunakan terutama untuk kasus-kasus tetanus. Diharapkan penanganan kasus tetanus di Yogyakarta bisa menjadi pembelajaran bagi penanganan kasus tetanus di Aceh dengan koordinasi tim kesehatan dan logistik kesehatan yang lebih baik lagi.

Tujuan kegiatan

1.    Mensosialisasikan lebih luas mengenai Guideline Logistik Medik dan Donasi  yang telah disusun WHO
2.    Terciptanya kesepahaman yang sama dalam konsep pengelolaan logistik medik saat bencana
3.    Terbentuknya pemahaman mengenai penanggulangan kasus infeksi pada saat bencana

Topik Materi Seminar

1.    Monitoring Kegiatan Layanan Kesehatan pada saat bencana
2.    Guideline logistik medik dan donasi pada saat bencana
3.    Kasus infeksi pada saatbencana
4.    Studi kasus tetanus pada gempa Yogyakarta pada 2006
5.    Kasus tetanus pada Gempa Pidie Jaya, Aceh pada 2016

place Tempat, Waktu, dan Jadwal Kegiatan

Kamis, 9 Maret 2017
Ruang Senat KPTU Lantai 2 Fakultas kedokteran UGM
Pukul 08.00- 13.00 WIB

Waktu Kegiatan
08.00 – 08.30 Registrasi
08.30- 08.40 Pembacaan Safety Briefing
08.40 – 09.00

Pembukaan

  1. Sambutan oleh Ketua Pokja Bencana FK UGM:
    dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS
  2. Sambutan dan Pembukaan oleh Dekan Fakultas Kedokteran:
    Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed,Sp.Og(K),PhD

 Reportase

09.00– 09.10 Coffee Break

09.10–10.40

Sesi 1: Kebijakan Logistik Medik

  1. Pembicara 1: dr Achmad Yurianto
    Monitoring Kegiatan Layanan Kesehatan Saat Bencana:
    Pusat Krisis Kesehatan RI 
    Materi
  2. Pembicara 2: Yulian Yogadita, S.Farm. Apt
    Guideline Logistik Medik dan Donasi saat Bencana:
    WHO Indonesia
    Materi
  3. Diskusi
    Moderator:

Reportase

10.40-12.30

Sesi 2: Logistik Medik Pada Bencana

  1. Pembicara 1: dr. Sulanto Saleh Danu, Sp.FK
    Teori Pengelolaan Logistik Medik Saat Bencana
    PKMK FK UGM 
    Materi
  2. Pembicara 2:  dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS
    Kasus Infeksi Saat Bencana
    POKJA BENCANA FK UGM
    Materi
  3. Pembicara 3:
    Studi Kasus Tetanus pada Gempa Yogyakarta tahun 2006
    Dinas Kesehatan Kab. Bantul

    Materi
  4. Pembicara 4: dr. Hasnani, M.Kes
    Kasus Tetanus pada Gempa Pidie Aceh Jaya 2016
    Materi
  5. Diskusi
    Moderator: Sutono S.Kep

Reportase

12.30- 12.40 Penutupan
12.40- selesai ISHOMA

 

Peserta

Seminar ini mengharapkan kehadiran rekan-rekan dari:

  1. Kementerian Kesehatan
  2. Manajemen dan Tim Penanggulanan Bencana di Rumah Sakit se Jawa dan Bali
  3. Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten Kota di Indonesia
  4. Fakultas Kedokteran, Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat, dan Fakultas Farmasi
  5. Mahasiswa S2 dan S3 yang tertarik dengan isu manajemen bencana kesehatan
  6. Peneliti bidang manajemen bencana
  7. LSM yang bergerak di bidang bencana dan emergensi
  8. Pemerhati Bencana, dan
  9. Perseorangan.

Fasilitas

  • Seminar kit
  • SKP IDI/IAKMI
  • Makan siang dan coffe break

Biaya registrasi

  1. Umum : Rp. 500.000,00/orang
  2. Alumni FK UGM: Rp. 300.000,00/orang
  3. Mahasiswa aktif s2 s3 : Rp. 150.000,00/orang
  4. Peserta Webinar: Rp. 200.000,00 /orang
  5. Peserta Webinar Instansi : Rp. 750.000,00/ isntansi (dengan peserta yang akan mendapatkan sertifikat sebanyak 5 orang).
  • Pendaftaran peserta dapat dilakukan online melalui website bencana kesehatan www.bencana-kesehatan.netatau secara offline dengan mengemail ke [email protected].
  • Pembayaran peserta dapat dilakukan dengan cara tunai di gedung sekretariat atau melalui transfer ke rekening panitia :
  • Bank BNI, no.Rek: 0203024192, atas nama: Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM
  • (Bukti setor wajib di fax ke +62274 549425/ email ke[email protected])

Pendaftaran ASM FK 2017: POKJA Bencana


 

 Sekretariat

Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM
Gedung IKM Lantai 2 Sayap Utara,
Jalan Farmako Sekip Utara, Yogyakarta 55281 Indonesia
Phone/fax: +62 274 549425
Email:[email protected]

Kunjungi Website kami:
www.bencana-kesehatan.net

Contact person:

Dewi Catur Wulandari
Mobile: +62 818 263653
Email:[email protected]
Intan Anatasia N.P
Mobile: +62 87838679382
Email:[email protected]

Disaster education increases community resilience

HAVE you ever heard the story of a girl named Tilly Smith? On Dec 26, 2004, Tilly and her family went to Phuket, Thailand, for a Christmas holiday. While at Maikhao Beach, she sensed something was not right.

The water was bubbling and swelling, the tide went out suddenly and the sea was fizzing. Tilly freaked out and shouted that a tsunami was coming.

 

The 10-year-old learned about tsunamis in her geography class two weeks before coming to Thailand. Tilly’s action saved about 100 people and because of that she was once called the “angel at the beach”.

Tilly’s experience teaches us that it is imperative for society to learn about every aspect of disaster education, starting from the understanding of different types of disasters to learning about the numerous ways to save lives.

 
 

The learning process should be carried out in the school system or through informal education for the masses. Regardless of the medium of learning, disaster education should be implemented immediately, since a catastrophic disaster will strike without any notice.

Disaster education is important not only because it raises public awareness of disasters, but because it will also provide useful knowledge on disasters.

The students and the general public could learn about various kinds of disasters or the signs of disasters.

At the same time, disaster education helps community disaster preparedness. Finally, learning about disaster will facilitate the community to act appropriately in any disaster. At the end of the day, all of these will strengthen community disaster resilience.

Community disaster resilience refers to the ability of the community to face the disaster and their capability to rebuild their lives to the pre-disaster situation.

Besides the ability of a community to “bounce back” (i.e. resume normal functioning) to pre-disaster conditions, community resilience also involves the capacity of the community to “bounce forward”.

Malaysia is regarded as a fortunate country (particularly Peninsular Malaysia), which is not vulnerable to natural disasters such as earthquakes and hurricanes.

However, Malaysia is exposed to other types of catastrophes such as floods, droughts and haze.

Kelantan, Terengganu, Pahang, Perak, Johor, Sabah and Sarawak are often hit by floods, particularly monsoon floods.

On December 2014, most of these areas were hit by massive floods.

The National Security Council Malaysia confirmed that the floods, popularly called the Bah Kuning, that hit Kelantan were the worst in the history of the state since 1967.

According to the council’s report, the water level of Sungai Kelantan at Tambatan DiRaja, which has a danger level of 25m, reached 34.2m in 2014 compared to 29.7m in 2004 and 33.6m in 1967.

The 2014 floods taught us that being better prepared, especially at the community level, is crucial.

As the community is the “first responder” in any disaster, they should be well-prepared to face the calamity.

Preparedness is part of disaster education. In terms of Malaysia, site-specific disaster education programmes are crucial. In other words, this kind of education is vital, especially for communities prone to disasters.

The education programme must not be done in an ad hoc manner.

A well-organised and consistent disaster programme is essential in order to enhance overall community disaster resilience.

The preparedness effort is natural in the life of any person.

Even in Islam, making a systematic preparation or arrangement before any disaster event is strongly recommended.

In the Quran, the story of Prophet Yusuf’s preparation for a disaster (famine) is very enlightening.

He interpreted a king’s dream to mean that there would be seven years of abundance and the land should be properly cultivated.

This would produce an excess of good harvest, more than the people needed and the excess should be stored.

Following that seven years of abundance, there would be seven years of famine during which time the excess grain could be used.

He also advised that during the famine they should save some grain to be used for seed for the next harvest.

Prophet Yusuf also added that after seven years of famine, there would be a year during which water would be plentiful.

If the water was properly used, grapevines and olive trees would grow in abundance, providing the community with plenty of grapes and olive oil. (Yusuf, 12:46-49)

The story teaches us that disaster preparedness is important.

In Malaysia, carrying out a disaster preparedness programme, be it in terms of education, technology advancement or food storage, is essential and should be strongly encouraged.

Azrina Sobian is a Fellow at Ikim’s Centre for Science and Environment Studies. The views expressed here are entirely her own.

Kemensos Terus Kembangkan Tagana

SUBANG, (PR).- Kementerian Sosial terus mengembangkan Taruna Siaga Bencana (Tagana) di berbagai daerah. Di setiap provinsi dilaksanakan rekruitmen sukarelawan Tagana 50-60 orang per tahunnya. Saat ini, jumlah anggota Tagana di seluruh Indonesia tercatat sebanyak 32 ribu orang. Namun anggota yang aktif sekitar 29 ribu orang.

Hal itu dikatakan Kasubdit Penanganan Korban Bencana Alam Kemensos, Iyan Kusmadiyana seusai apel penutupan Pelatihan dan Simulasi Kampung Siaga Bencana di Alun-alun Kecamatan Cisalak Kabupaten Subang, akhir pekan kemarin.

Dia mengatakan jumlah sukarelawan tergabung dalam Tagana masih jauh dari ideal apalagi bila melihat peta kerawanan bencana alam di daerah. Pihaknya terus berupaya mendorong adanya penambahan jumlah keanggotaan tagana setiap tahunnya, seperti tahun 2016 tiap provinsi diharapkan ada tambahan 50 – 60 anggota baru. “Kehadiran Tagana sangat membantu kami di kemensos. Kontribusi mereka besar sekaligus mampu meminimalisir korban saat terjadi bencana. Rasa kemanusiaannya tinggi, dan selalu siap ditugaskan kapanpun,” ujarnya.

Iyan mengungkapkan pemerintah akan terus melakukan pembenahan dan peningkatan kemampuan tagana seperti peningkatan kemampuan manajemen pengungsi. “Daya jangkauan dan kemampuan Tagana terus tingkatkan sebagai bagian tim penanggulangan bencana bersama instansi lainnya,” ujarnya

Selain itu, lanjutnya upaya meningkatkan peran aktif masyarakat diarahkan kepada terbentuknya Kampung Siaga Bencana, dan jumlahnya terus diperbanyak. Melalui KSB, masyarakat dilibatkan secara aktif, dan mereka menjadi ujung tombak dalam mengantisipasi kemungkinan kejadian.

“Kami akan terus mendorong dan memfasilitasi kampung siaga bencana terutama di daerah daerah terpencil yang sangat rawan,” ujarnya.

Dijelaskannya perluasan KSB dilakukan sebagai upaya antisipasi terjadinya bencana, sekaligus meminimalisir korban saat bencana datang. Apalagi saat ini perubahan cuaca semakin tidak menentu, berpotensi besar memicu terjadinya bencana. Pemerintah akan memetakan KSB pada daerah rawan di Indonesia. Pemetaan ini dilakukan untuk menangani permasalah kebencanaan nasional, seperti banjir, tanah longsor, puting beliung dan lainnya.

“Pemetaan KSB mengacu pada data yang dikeluarkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Sedangkan penentuan lokasinya diserahkan kepada daerah masing-masing,” ujarnya.

Dikatakannya, masyarakat di KSB diberikan pengetahuan mengenai sistem peringatan dini dan antisipasi serta pertolongan pertama jika terjadi bencana. Selain itu Kemensos bersama sengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Badan SAR Nasional, PMI dan BMKG akan terus meningkatkan sistem peringatan dini bencana di masyarakat. “Peningkatan sistem peringatan dini di masyarakat ini sangat penting guna meminimalisir korban,” jelasnya

Diskusi Terkini

Silakan klik pada masing-masing topik di bawah ini untuk berdiskusi:

conversation, discuss, discussion, talk, talking icon Evaluasi Uji coba pelaksanaan EMT di DIY pada Simulasi Bencana Internasional di DIY, Desember 2016 Klik Disini arrow, external, leave, link, open, page, url icon

Responding to humanitarian crisis, a major challenge to NEMA – DG

Responding to humanitarian crisis, a major challenge to NEMA - DG

The Director General of the National Emergency Management Agency (NEMA), Muhammad Sani Sidi has lamented that responding to the current humanitarian challenges in Northeast Nigeria was one of the major challenges of the agency in 2016.

NEMA’s Head of Media and Public Relations, Sani Datti said Sani Sidi disclosed this at the annual retreat organized for Members of the House of Representatives Committee on Emergency and Disaster Preparedness in Jos Plateau State at the weekend.

He quoted him as saying “this year has been challenging just like last year, we have been occupied responding to the issues in  North east and North west, particularly Zamfara State.

“Insurgency is new to us as a people and as a country, managing its consequence will certainly be new to us, but we are learning and I want to assure you that we are learning fast as an agency and as a country.”

According to Datti, the Chairman of the committee, represented by the Vice Chairman, Hon. Ali Isa (JC) in his remarks, commeded the agency for making judicious use of the little resources it received, adding that it had been very effective in handling most of emergency cases in the country.

Isa promised that the committee will look at the Act of the agency with a view to enhance and improve the functions of the agency.

Read more at http://www.dailytrust.com.ng/news/general/responding-to-humanitarian-crisis-a-major-challenge-to-nema–dg/176679.html#7wYAEXWgPvaloqa8.99

Gempa Aceh: Lafarge Cement Kirim Truk Angkut Reruntuhan

MEDAN—PT Lafarge Cement Indonesia, anak usaha PT Holcim Indonesia Tbk. memberikan bantuan berupa truk untuk mengangkut sisa reruntuhan akibat gempa di Pidie Jaya. Truk ini akan membantu di lokasi gempa selama 7 hari.

Berdasarkan siaran pers yang diterima Bisnis, Senin (19/12/2016), selain Lafarge, beberapa distributor Semen Andalas yakni PT Pajar Syahdina, PT Pintoe Aceh Perkasa, PT Bina Guna Lestari, PT Windira Indonad, PT Blang Meunara Andalas dan PT Lhoknga Sarana Andalas juga memberi bantuan truk untuk membersihkan lokasi gempa.

Warga menyaksikan Masjid JamIk Nur Abdullah yang ambruk akibat gempa di lintasan jalan nasional Desa Parue Keude, Kecamatan Bandar Baru Pidie Jaya, Propinsi Aceh, Rabu (7/12). – Antara

“Selain truk, kami juga sudah mengirimkan bantuan sandang dan pangan seperti susu, air mineral, beras, telur, dan lainnya. Tapi kami melihat masih banyak sisa reruntuhan di lokasi. Sementara itu, jumlah truk pengangkut justru kurang. Oleh karena itu, kami mengirimkan lima truk ke sana,” ucap Plant Manager Lafarge Cement Indonesia Gerald Guiot.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pidie Jaya Puteh Amanaf menuturkan truk tersebut akan digunakan secepatnya, bekerja sama dengan Dinas Pekerjaan Umum, PMI, Dandim dan Danrem Pidi Jaya.

“Ini sesuai dengan perintah Presiden Joko Widodo, bahwa reruntuhan gempa harus segera dibersihkan. Kami memang sangat membutuhkan bantuan ini,” pungkasnya.

sumber: Kabar24.com,

Aktivitas

border-page

Aktifitas

border-page

Bapak ibu, adapun kegiatan COP EMT ini adalah:

  1. Melakukan diskusi online baik melalui forum diskusi di website ini, email, dan WA.
  2. Narasumber dan anggota dapat berinteraksi secara langsung baik menyampaikan ide dan gagasan ataupun sharing pengalaman dan keilmuan, termasuk litaratur terbaru.
  3. Upload materi terbaru mengenai EMT seperti perundangan, buku, artikel jurnal dll.
  4. Diskusi melalui webinar/ sykpe.
  5. Jika diperlukan ada pertemuan langsung sesuai dengan kesepakatan selanjutnya antar anggota.
  6. Moderator akan mendokumentasikan serta membantu jalannya diskusi di semua media di atas.

Selama tahun 2016, berikut adalah aktivitas terkait EMT yang sudah diselenggarakan:

  1. Workshop Emergency Medical Team di DIY, Juni 2016 Klik Disini arrow, external, leave, link, open, page, url icon
  2. Uji coba pelaksanaan EMT di DIY pada Simulasi Bencana Internasional kerjasama WHO dan INSARAG, Juli 2016   Klik Disini arrow, external, leave, link, open, page, url icon
  3. Penyusunan Kerangka Kerja EMT di Indonesia oleh Pusat Penanggulangan Krisis Kemenkes, November 2016   Klik Disini arrow, external, leave, link, open, page, url icon
  4. Evaluasi Uji coba pelaksanaan EMT di DIY pada Simulasi Bencana Internasional di DIY, Desember 2016  Klik Disini arrow, external, leave, link, open, page, url icon
  5. Pertemuan Tindak Lanjut Hasil Penyusunan Kerangka Kerja Emergency Medical Team di Indonesia di Sentul, Bogor   Klik Disini arrow, external, leave, link, open, page, url icon
  6. Materi Workshop Tindak Lanjut EMT di Sentul, 19-20 Desember 2016   Klik Disini arrow, external, leave, link, open, page, url icon

 


Aktivitas akan datang:

 

 

Rangkuman Diskusi:

 

TOR Evaluasi Kegiatan EMT (Emergency Medical Team)

border-page

Term of Reference

Evaluasi Kegiatan EMT
(Emergency Medical Team)

19 – 21 Desember 2016

border-page
 

Pendahuluan

Penanganan bencana merupakan penanganan yang multidisiplin. Berbagai bidang keilmuan dan sektor terlibat didalamnya. Begitu juga dengan sektor kesehatan yang merupakan inti dalam upaya penyelamatan korban serta pemberian layanan kesehatan pada masa bencana. Namun, sangat disadari pentingnya upaya koordinasi dengan tujuan penyelamatan korban sejak tahap pencarian, pertolongan, hingga upaya penyelamatan baik dari tempat kejadian, pos kesehatan, hingga fasilitas kesehatan.

Dilaporkan pada kejadian gempa Haiti, banyak SDM SAR dan EMT yang terlibat, dari 2000 korban, hanya 100 korban yang mampu diselamatkan. Kejadian lain terjadi, dimana sulitnya tim DVI untuk identifikasi korban meninggal karena identitas korban sudah hilang oleh tim yang menyelamatkan sebelumnya.

Dalam kebencanaan, kekacauan atau masalah seperti ini dapat diminimalkan apabila masing-masing pelaksana mampu saling berkoordinasi, membagi peran dengan baik, dan dikoordinatori oleh satu komando. Terkait hal ini pada tahun 2015, BPBD DIY menginisiasi terbentuknya sebuah Pergub mengenai koordinasi penanganan pencarian, pertolongan, dan pencarian korban yang mengatur peran Dinas Kesehatan, BASARNAS, DVI Polda DIY, PUSBANKES, dan PMI yang ada di DIY.

Selain itu, WHO dan PKMK FK UGM menginisiasi kegiatan Workshop Koordinasi Penanganan Korban Bencana oleh Tim Medis Reaksi Cepat (Emergency Medical Team (EMT)) pada tanggal 27 – 29 Juni 2016. Kegiatan ini bertujuan untuk menyamakan persepsi mengenai kebutuhan SDM kesehatan dalam bencana dan SOP serta Form yang dibutuhkan saat bencana di DIY. Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan uji coba melalui simulasi internasional EMT di Yogyakarta pada tanggal 25-28 Juli 2016 yang diselenggarakan oleh BASARNAS, WHO Indonesia bekerjasama dengan INSARAG.
Untuk itu, perlu diadakan evaluasi mengenai dua kegiatan yang telah dilaksanakan ini agar dapat mengetahui kebutuhan – kebutuhan pengembangan EMT dan SOP di DIY dalam menghadapi bencana. Dari pertemuan evaluasi ini diharapkan dapat menjadi masukan untuk pengembangan EMT nasional.

Tujuan dari evaluasi ini untuk mengidentifikasi: Temuan-temuan yang didapatkan pada waktu simulasi yang berguna untuk perbaikan dan pengembangan:

1. Kesiapan daerah dalam menerima dan mengirim tim medis
2.  SOP dan Formulir yang dapat digunakan saat bencana
3.  Koordinasi dan kolaborasi  tim saat bencana

Peserta:

PKMK FK UGM
1.    dr. Hendro Wartatmo, Sp.BD(K)BD
2.    dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS
3.    dr. Bella Donna, M.Kes
4.    dr. Sulanto Saleh Danu, Sp.FK
5.    Syahirul Alim, SKp, Ns, M.Sc, PhD
6.    Madelina Ariani, SKM, MPH
7.    Intan Anatasia, MSc, Apt
8.    Bayu Fandhi Achmad, S.Kep, Ns, M.Kep

Dinas Kesehatan Provinsi Yogyakarta
1.    dr. Anung, M.Kes
2.    Kudiyana, SKM, MSc

PUSBANKES 118 PERSI DIY
1.    Sutono, SKp, MSc

BPBD DIY
1. DanangSamsu, ST
2. Enaryaka, SKp

EMT di DIY
–    Dinas Kesehatan Kabupaten  (Kota Yogyakarta, Sleman, Bantul, Gunung Kidul dan Kulon Progo)
–    POKJA Bencana FK UGM (RSUP Dr. Sardjito, RS Akademik UGM, dan Fakultas Kedokteran UGM)
–    Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC)
–    Yakkum Emergency Unit (YEU)
–    PMI
–    Rumah Sakit Umum Daerah (Kota Yogyakarta, Sleman, Bantul, Gunung Kidul dan Kulon Progo)

EMT di Jawa Tengah
–    Pusat Krisis Kesehatan Regional Jawa Tengah
–    Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah/ Rumah Sakit

EMT di Jawa Timur
–    Rumah Sakit dr. Soetomo
–    Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

EMT di Bali
–    Pusat Krisis Kesehatan Regional Bali

Undangan
–    WHO Indonesia
–    BASARNAS Yogyakarta
–    Pusat Krisis Kesehatan, Kementrian Kesehatan Republik Indonesia

Materi Kegiatan

downloads 42 Klik Disini Untuk Mendownload Materi

Jadwal Kegiatan

Tempat    : Hotel Mutiara Yogyakarta
Tanggal    : Senin- Rabu, 19  – 21 Desember 2016

Hari 1 (Senin, 19 Desember 2016)
Waktu Kegiatan Keterangan
12.00 – 14.00 Check in Panitia
14.00 – 16.00 Registrasi Peserta Panitia
16.00 – 17.30
  1. Laporan kegiatan EMT
  2. Sambutan
  3. Pembukaan
    • PKMK FK UGM
    • Kemenkes RI
    • Direktur PKMK FK UGM
 
17.30 ISHOMA Panitia
Hari 2 (Selasa, 20 Desember 2016)
Waktu Kegiatan Keterangan

09.00 – 09.30

  1. 30– 10.00

10.00 – 10.30

  1. EMT Global
  2. Kebijakan EMT di Indonesia
  3. EMT di Yogyakarta

Moderator: dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS

  1. WHO
  2. Kemenkes RI
  3. PUSBANKES 118 PERSI DIY
10.30 – 10.45 Istirahat

10.45 – 11.15

11.15 – 11.45

11.45 – 12.15

  1. Kesiapan daerah dalam penerimaan dan pengiriman EMT
  2. Peran universitas sebagai EMT
  3. Laporan Hasil Penelitian Simulasi INSARAG

Pembahas: Danang Samsu, ST

Moderator: dr. Bella Donna, M.Kes

  1. Dinas Kesehatan Provinsi Yogyakarta

  1. POKJA Bencana FK UGM
  2. PKMK FK UGM

BPBD DIY

12.15 – 13.30 ISHOMA Panitia

13.30 – 14.30

14.30 – 15.00

15.00 – 15.30

Laporan dari peserta simulasi INSARAG

Diskusi

Moderator: Sutono, M.Sc

Launching CoP Koordinasi EMT

  1. MDMC DIY
  2. Rumah Sakit dr. Soetomo
  3. Observer Simulasi

Hari 3 (Rabu, 21 Desember 2016)
Waktu Kegiatan Keterangan
08.30 – 09.30 Rangkuman dan Rekomendasi PKMK FK UGM
09.30 – 10.00 Penutupan
11.00 Check out Panitia

{jcomments on}

Rangkuman Workshop Koordinasi Penanganan Korban Bencana oleh Emergency Medical Team (EMT)

Rangkuman

Workshop Koordinasi Penanganan Korban Bencana oleh Emergency Medical Team (EMT)

Yogyakarta, 27-29 Juni 2016


Dihadiri oleh 55 peserta berasal dari DIY, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali, terdiri dari:

  1. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)
  2. Dinas Kesehatan
  3. Rumah Sakit
  4. Universitas (Fakultas Kedokteran)
  5. LSM
  6. SAR

Pokok pembahasan:

  1. EMT
  2. Revisi SOP
  3. Persiapan simulasi pada 25-29 Juli 2016 di Yogyakarta

Poin rangkuman:

  1. Definisi EMT untuk Indonesia

Merujuk pada definisi dari WHO, EMT adalah Emergency Medical Team atau tim medis reaksi cepat adalah sebuah unit bekerja dengan kriteria tertentu dan kapasitas standar minimal tertentu dari sebuah institusi pemerintah atau organisasi non-pemerintah yang kerjanya dikoordinasikan oleh Kementerian Kesehatan RI sebagai koordinator klaster kesehatan nasional dan di bawah koordinasi sub-klaster pelayanan medis (Foreign Medical Team Working Group, 2013)

Emergency Medical Team Indonesia bergerak di bawah koordinasi sub-klaster pelayanan kesehatan. Harus ada penanggungjawab di nasional, saat ini akan merujuk pada Pusat Krisis Kesehatan.

Berasal dari institusi pemerintah maupun organisasi non pemerintah

Standar kompetensi untuk EMT dikembalikan kepada masing-masing profesi yang bergabung didalamnya di Indonesia dalam bentuk kollegium/ organisasi profesi.

  1. Pembagian tipe EMT (waktu pengiriman dan kompetensi)
  • Usulan bahwa TRC yang ada di depkes disamakan dengan TRC yang ada di penanggulangan becana BNPB
  • Tipe TRC ngikut depkes:
  • Merujuk pada WHO, ada 3 tipe EMT 1,2 dan 3.
  • Perlu pemahaman bersama bahwa EMT khusus untuk penanganan resusitasi dan stabilisasi, tetapi tetap membutuhkan kompetensi medis khusus/spesialis untuk penanganan definitif.
  • Pembagian level EMT di Indonesia perlu dispesifikan lagi berdasarkan waktu dan kompetensi.
  • Contoh EMT level 1a dan 1 b.
  • Contoh EMT level 1 kompetensinya harus menguasai PPGD, BLS dst.
  1. Penguatan jejaring EMT di Indonesia
  • Emergency Medical Team Indonesia bergerak dibawah koordinasi sub-klaster pelayanan kesehatan. Harus ada penanggungjawab di nasional, saat ini akan merujuk pada Pusat Krisis Kesehatan.
  • EMT dari institusi pemerintah ataupun dari NGO harus terdata, setelah ini ada mekanisme sosialisasi secara nasional mengenai EMT di Indonesia.
  • Setiap Tim EMT yang datang ke suatu lokasi bencana wajib melaporkan informasi berikut ke bagian Yankes Dinas Kesehatan Kabupaten, Provinsi, BPBD Kabupaten dan Provinsi setempat.
  1. Revisi SOP
    • Secara umum, dalam membuat peraturan lebih baik untuk mempertimbangkan konteks nasional, meski masing-masing daerah telah memiliki kekhususan, misalnya pusbankes yang hanya ada di Jogja.
    • Secara umum, definisi atau glosari pada SOP lebih di perjelas sehingga siapapun yang membaca akan memahami maksud dari perumus SOP (reader perspective)
    • SOP dari BPBD yang mengatur mengenai pencarian, pertolongan, dan penyelamatan korban
    • Mengenai SOP koordinasi lebih baik untuk dibagi menjadi dua, SOP koordinasi SAR Kesehatan
    • SOP teknis pembagian waktu dan tugas saat beroperasi
  1. SOP dari Dinas Kesehatan yang mengatur penanganan kesehatan pada bencana khususnya mengenai Klaster kesehatan dan EMT
  • Memperjelas istilah-istilah yang digunakan, seperti ambulan gawat darurat: milik siapa? EMT dari mana saja? Sumber daya apa dan siapa?
  • Memperinci kelengkapan, logistic apa yang dibutuhkan lebih diperinci.
  • Memperhatikan aspek waktu pelaksanaan
  • Dinas kesehatan perlu mempertimbangkan rekomendasi dari NGO untuk penempatan pos kesehatan
  1. Kelengkapan form/ checklist
  • Pada form penerimaan bantuan, tambahkan kolom kadaluarsa obat
  • Pada form daftar penerimaan/ regist, kolom tempat bisa diganti dengan pos dan tambahkan kolom kompetensi
  • Tambahkan file kartu tanda pengenal untuk EMT, siapkan pada masa pra becana
  1. Untuk persiapan simulasi Juli mendatang
  • Skenario dari INSARAG dan BASARNAS, namun untuk kesehatan masukan dari kita
  • ada 6 kelas simulasi nantinya, 4 pos untuk SAR, 1 untuk NEMA, dan 1 untuk LEMA–disinilah EMT bermain
  • ada tiga kabupaten di DIY nanti yang telibat: Sleman, Kota Yogya, dan Bantul –artinya dinas kesehatan, BPBD siap-siap sebagai pelaku
  • pemain adalah EMT local (DIY dan Jawa Sekitar) dan EMT International
  • EMT diluar Yogya, akan mengirimkan fungsional baik dari RS maupun universitas
  • Pengganggu pada saat simulasi: person yang menanyakan visa, media massa, kabupaten pengganggu.
  • Tujuan simulasi untuk menguji penerapan EMT di masing-masing negara.
  • Berikan usul kasus untuk kerjaan SAR Medis.
  • Observer dengan tugas spesifik.