Papua diguncang Gempa 6,2 SR

Papua diguncang gempa berkekuatan 6,2 Skala Richter (SR). Gempa ini tidak berpotensi tsunami.

Gempa terjadi pada pukul 06.42 WIB, Rabu (16/11/2011). BMKG memastikan gempa ini tidak berpotensi tsunami.

Menurut informasi yang dirilis situs resmi BMKG, pusat gempa ada pada 34 Km Barat Daya Oksibil, 92 Km Timur Laut Tanah Merah, 132 Km Tenggara Sumohai, 185 Km Timur Laut Kepi, Papua.

Pusat gempa berjarak 3731 Km Timur Laut dari Jakarta. Pusat gempa berada pada kedalaman 57 Km.

Akibat Hujan Deras Banjir Kawasan Pondok Labu Semakin Parah

REPUBLIKA.CO.ID, PONDOK LABU- Hujan yang mengguyur Jakarta pada Senin sore (14/11) membuat tinggi banjir di kawasan Pondok Labu, Jakarta Selatan kembali naik. Hingga malam hari ini ketinggian air mencapai 160-180 cm atau setinggi leher orang dewasa.

“Air masih seleher orang dewasa, sampai saat ini warga sudah dievakuasi kembali” ujar Sekretaris RT 11 Pondok Labu, Budi, kepada Republika, Senin (14/11). Akibatnya, 239 KK harus dievakuasi ke tempat yang lebih aman.

Continue reading

Korban Tewas Akibat Banjir di Thailand Mencapai 562 Jiwa

Okezone.com – Korban tewas akibat banjir di Thailand hingga saat ini masih terus bertambah. Dilaporkan jumlah korban tewas saat ini sudah mencapi 562 jiwa. Departemen Mitigasi dan Penanggulangan Bencana Thailand melaporkan, hingga saat ini 22 provinsi di Negeri Gajah Putih tersebut masih terendam air. Sementara banjir pun menyebabkan 5,1 juta warga terpengaruh. Demikian diberitakan The Nation, Senin (14/11/2011).

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki-Moon dan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Hillary Clinton, akan mengunjungi Bangkok, guna melihat banjir yang terjadi di Thailand. Kedua tokoh itu bermaksud untuk memeriksa apa yang dibutuhkan oleh Thailand demi mengatasi krisis banjir yang mereka alami. 

Continue reading

Seminar Hospital Disaster Plan (HDP)

SEMINAR
STRATEGI UNTUK MENYUSUN HOSPITAL DISASTER PLAN (HDP)

Seminar Rabu, 30 November 2011
 Ruang Senat KPTU FK UGM Lt. 2 Yogyakarta

Latar Belakang

Kita tidak dapat menahan bencana yang dapat terjadi kapan dan di mana saja tanpa dapat diduga: di rumah atau di tempat bekerja apalagi dengan cakupan wilayah Indonesia yang sangat luas di ring of fire bumi dan di antara pelat Australia dan Asia. Belajar dari berbagai pengalaman bencana yang terjadi di Indonesia, secara otomatis rumah sakit akan menjadi pusat rujukan. Oleh karena itu dalam usaha meminimalkan resiko bencana, diharapkan Rumah Sakit mempunyai perencanaan dan prosedur untuk penanganan bencana dalam bentuk Hospital Disaster Plan (HDP). Dengan adanya perencanaan ini diharapkan rumah sakit dapat menangani korban secara lebih baik dalam situasi bencana.

Sayangnya hampir seluruh RS di Indonesia belum sepenuhnya dapat menangani korban bencana dengan cepat dan tepat. Hal ini terjadi karena fungsi, struktur, medical support, dan manajemen support yang kolaps. Di samping itu, masing-masing rumah sakit memiliki cara penanganan korban yang beragam sehingga belum memiliki keseragaman dalam penanganan maupun kesiapannya.

Beberapa tahun terakhir ini PMPK bekerja sama dengan Pusat Penanggulangan Krisis (PPK) dan WHO dalam melakukan In House Training HDP di beberapa Rumah Sakit. Mengingat prosedur Penanggulangan Bencana (Disaster Plan, DP) adalah serangkaian prosedur yang sudah disiapkan sebelumnya maka sebuah Disaster Plan hanya akan dapat dijalankan bila sesuai dengan kapasitas dan kompetensi staf yang dilatih, dievaluasi, dan diperbaiki secara periodik. Oleh karena itu, perlu pengembangan HDP dan pelatihan terus menerus.

Strategi pelatihan berbeda-beda. Disamping pendampingan tatap muka In House Training, pengembangan lainnya adalah menggunakan cara e-learning melalui web www.bencana-kesehatan.net. Diharapkan dengan pengembangan HDP berdasarkan e-learning ini akan meringankan biaya rumah sakit-rumah sakit dalam menyusun HDP secara mandiri. Dalam hal ini, strategi pendanaan pelatihan yang bertumpu pada pendekatan e-learning menjadi hal penting untuk dibahas.

Selain kegiatan pendampingan Hospital Disaster Plan (HDP), PMPK juga terlibat dalam pendidikan S1 Fakultas Kedokteran dan program Pasca Sarjana bencana di UGM. Seperti kita ketahui bahwa peran Universitas dalam penanggulangan Bencana sangat penting karena salah satu alasannya berkaitan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pengabdian masyarakat. Melalui keikutsertaan dalam penanggulangan bencana, dapat dikatakan bahwa perguruan tinggi melakukan tanggungjawabnya untuk mengabdi kepada masyarakat.

Salah satu alasan lain keterlibatan perguruan tinggi adalah tersedianya banyak sumberdaya. Contoh: Fakultas Kedokteran memiliki banyak dokter, residen, perawat, laboratorium dan biasanya perguruan tinggi memiliki jaringan komunikasi dan informasi yang luas dan dapat dimanfaatkan sewaktu mobilisasi dan mitigasi penanggulangan bencana. Oleh karena itu, seminar ini diselenggarakan secara paralel dengan Pameran Ilmiah tentang pengalaman FK UGM dalam menangani bencana di berbagai kejadian di Indonesia serta penjelasan kurikulum bencana di S1 FK UGM dan S2 bencana di UGM.

Tujuan Seminar

  1. Mendiskusikan seberapa perlunya Rumah Sakit mempunyai Disaster Plan.
  2. Untuk mengetahui lebih jelas kebijakan pemerintah terhadap penyusunan Hospital Disaster Plan.
  3. Membahas pengalaman beberapa Rumah Sakit dalam menangani situasi bencana.
  4. Membahas strategi untuk pendanaan pelatihan Hospital Disaster Plan dengan menggunakan e-learning dan tatap muka

Pembicara Seminar:

  • dr. Suci Melati Wulandari – WHO EHA
  • dr. H. Chairul Rajab Nasution, Sp.PD, KGEH, FINASIM, M.Kes. – Direktur BUK Rujukan Kementerian Kesehatan RI
  • dr. Hendro Wartatmo, Sp.B.KBD.
  • Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, PhD.
  • dr. Bella Donna, M.Kes
  • dr. Pudji Sri Rasmiati – Direktur Pelayanan Medik RS Bethesda Selaku Perwakilan PERSI DIY
  • dr. Gandung Bambang Hermanto – Direktur RSUD Panembahan Senopati Bantul

Topik Yang dibahas:

  • Perspective on Hospital Emergency Prepardeness (dr. Suci Melati Wulandari)
  • Peran Kemenkes dalam regulasi Hospital Disaster Plan (dr. H. Chairul Rajab Nasution, Sp.PD, KGEH, FINASIM, M.Kes.)
  • Pengembangan modul HDP (dr. Hendro Wartatmo, Sp.BKD)
  • Bagaimana Rumah Sakit dapat mendapatkan anggaran dalam menyusun Hospital Disaster Plan (Prof. Laksono Trisnantoro, M.Sc, PhD)
  • Pengenalan materi melalui web (e-learning) (dr. Bella Donna, M.Kes)
  • Kesiapan Rumah Sakit dalam penyusunan Hospital Disaster Plan (dr. Pudji Sri Rasmiati)
  • Pengalaman RS dalam menyusun Hospital Disaster Plan (dr. Gandung Bambang Hermanto)

Peserta Yang mengikuti seminar dari berbagai institusi, yaitu:

  1. Pimpinan dan Staf yang bertanggung jawab pada manajemen bencana di Rumah Sakit
  2. Pimpinan Dinas Kesehatan
  3. Pimpinan dan dosen Fakultas Kedokteran
  4. Dosen/peneliti/pemerhati bidang manajemen bencana
  5. Mahasiswa S1, S2 dan S3

Seminar yang dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 30 November 2011 dengan agenda dan materi sebagai berikut:

    Waktu         
Kegiatan Fasilitator
08.00 – 08.30 Registrasi Peserta Panitia
08.30 – 09.15 Pembukaan:
Direktur PMPK FK UGM – dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D

Pengantar Seminar:
dr. Hendro Wartatmo, Sp.B KBD

MC
09.15 – 10.00 Perspective on Hospital Emergency Preparedness
Oleh: dr. Suci Melati Wulandari – WHO EHA
10.00 – 10.15 Coffee Break
10.15 – 11.00

Peran Kemenkes dalam regulasi Hospital Disaster Plan
Oleh: dr. H. Chairul Rajab Nasution, Sp.PD, KGEH, FINASIM, M.Kes.

(Direktur BUK Rujukan Kementerian Kesehatan RI)

Moderator:
dr. Handoyo Pramusinto SpB-S
11.00 – 11.30 Kunjungan Pameran Ilmiah
Pengalaman FK UGM dalam Berbagai Bencana dan
Kurikulum di Pendidikan S2 Kedokteran
Lobby Auditorium FK UGM
11.30 – 12.30 ISHOMA
12.30 – 14.30

Workshop Pengembangan Modul dan Strategi
Pendanaan Hospital Disaster Plan melalui
pendekatan e-learning

Pengembangan Modul Hospital Disaster Plan
Oleh: dr. Hendro Wartatmo, Sp. B. KBD

Strategi Pendanaan Hospital Disaster Plan melalui
pendekatan e-learning
Oleh: Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D

Pengenalan materi pembelajaran melalui web (e-Learning)
Oleh: dr. Bella Donna, M.Kes 

Fasilitator:
dr. Bella Donna, M.Kes
14.30 – 14.45 Coffee Break
14.45 – 15.30

Kesiapan Rumah Sakit dalam penyusunan
Hospital Disaster Plan

Oleh: dr. Pudji Sri Rasmiati

(Direktur Pelayanan Medik RS Bethesda-Perwakilan PERSI DIY)

Moderator:
dr. Bella Donna, M.Kes
15.30 – 16.15

Pengalaman RS Panembahan Senopati Bantul dalam
menyusun Hospital Disaster Plan
Oleh:  dr. Gandung Bambang Hermanto

(Wakil Direktur  Pelayanan RS Panembahan Senopati Bantul)

16.15

Penutupan
Oleh: dr. Hendro Wartatmo, SpB-KBD 

Pelaksanaan Kegiatan seminar

Seminar dibuka secara resmi oleh Direktur Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan (PMPK) FK UGM, dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D. dalam pidato pembukaannya beliau menjelaskan bahwa dalam seminar yang dilaksanakan pada hari ini, ada 3 kata yang penting adalah disaster, planning, capacity building. Terkait dengan disaster, letak geografis Negara kita berada pada kawasan bencana, seperti di Yogyakarta banyak sekali bencara antara lain letusan gunung merapi, gempa bumi, putting beliung dan yang sekarang dikhawatirkan adalah banjir lahar dingin. Sudah banyak warning tentang bencana dalam jangka pendek, BNPB mengatakan bahwa akan ada beberapa bencana tahun 2012 seperti banjir, gempa dan juga 40 gunung akan berapi aktif. Untuk itu kita memiliki kepentingan dalam mengelola bencana yang akan terjadi agar rumah sakit siap dalam menghadapi bencana ini. Dari segi planning, rumah sakit harus siap dalam perencanaan manajemen bencana. PMPK mempunyai gagasan untuk membentuk divisi bencana setelah terjadi bencana di Bantul. Kegiatan yang diutamakan, yaitu Service berkaitan dengan pengabdian kepada masyarakat; Research dalam hal ini untuk mendokumentasikan beberapa penelitian dan pembelajaran mengenai bencana yang hasilnya dapat dilihat di pameran. Capacity building yaitu untuk meningkatkan kapasitas terkait dengan hospital disaster plan yang bekerjasama dengan WHO dan Kementerian Kesehatan. Melalui seminar ini kita mengajak seluruh peserta untuk mendiskusikan mengenai bagaimana meningkatkan capacity dalam pengelolaan bencana.

Sambutan selanjutnya oleh Senior Konsultan Divisi Manajemen Bencana PMPK FK UGM, dr. Hendro Wartatmo, Sp.B., KBD, menjelaskan bahwa dalam manajemen dari pengelolaan bencana meliputi 3 aspek yaitu disaster, planning, building. Manajemen bencana merupakan ilmu baru yang perlu dikaji terus, begitu barunya, di indonesia ini ada 30 definisi dari bencana. Dapat kita bayangkan bahwa manajemen bencana merupakan ilmu yang baru dan masih terpisah-pisah di beberapa sektor. Hal ini merupakan tantangan bagi kita dalam mengembangkan ilmu ini, karena kita merupakan konsumen bencana yang paling banyak dengan frekuensi bencana yang paling sering. Beliau berharap, melalui pelaksanaan seminar kita kali ini rumah sakit dapat membuat Hospital disaster plan yang operasional dan sesuai dengan kebutuhan serta tidak hanya menjadi syarat akreditasi.

Sesi I: 09.15 – 10.00 WIB

Sesi pertama disampaikan oleh WHO EHA (Emergency Humanitarian Action), dr. Suci Melati Wulandari. Materi yang dipresentasikan berjudul Hospital in Emergency. Dalam penyampaiannya, dr. Suci menjelaskan tentang regional konteks: mengenai regional WHO yang ada, issue penting dari program WHO dan isu kesehatan dalam konteks bencana serta bagaimana peran dari rumah sakit, fokus penting dalam menjaga fasilitas kesehatan agar tetap aman dari bencana karena lebih sulit dan lebih mahal merehabilitasi fasilitas kesehatan yang rusak akibat bencana daripada membangun fasilitas tahan bencana serta rencana kesiapan kegawatan rumah sakit (Hospital Emergency Preparedness Plan). Hal ini dimaksudkan agar fasilitas kesehatan masih bisa berfungsi meskipun pada saat bencana. Sesi ini dipandu oleh moderator, dr. Bella Donna, M.Kes, dan ditutup setelah dilakukan diskusi dengan para peserta oleh narasumber.

Sesi II: 10.15 – 11.00 WIB

Sesi kedua oleh Direktur Bina Upaya Kesehatan (BUK) Rujukan Kementerian Kesehatan RI, dr. H. Chairul Rajab Nasution, Sp.PD, KGEH, FINASIM, M.Kes. yang menyampaikan materi berjudul Peran Kemenkes dalam regulasi Hospital Disaster Plan. Beliau menjelaskan tentang SPGDT-S (Sistem Pelayanan Gawat Darurat Terpadu-Sehari-hari), siklus manajemen bencana yang dimulai dari saat bencana adalah fase respon, fase rehabilitasi, setelah bencana dilakukan rekontruksi, pencegahan dan mitigasi kemudian kesiapsiagaan bencana, SPGDT (Sistem Pelayanan Gawat Darurat Terpadu). Selain itu, dijelaskan juga mengenai pasal-pasal terkait pengelolaan bencana di rumah sakit (UU RI No. 44 Tahun 2009 tentang rumah sakit). Pada sesi ini di pandu oleh dr. Handoyo Pramusinto Sp.B-S selaku moderator dan ditutup setelah Tanya jawab dengan peserta seminar.

Sebelum sesi istirahat dan makan siang, peserta seminar melakukan kunjungan ke Pameran Ilmiah Pengalaman FK UGM dalam Berbagai Bencana dan Kurikulum di Pendidikan bencana di UGM.

alt

Workshop: 12.30 – 14.30 WIB

Pengembangan Modul dan Strategi Pendanaan Hospital Disaster Plan melalui pendekatan e-learning

Sesi siang menggunakan metode Workshop dengan tema Pengembangan Modul dan Strategi Pendanaan Hospital Disaster Plan melalui pendekatan e-learning dengan Narasumber: dr. Hendro Wartatmo, Sp.B. KBD; Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D: dan dr. Bella Donna, M.Kes selaku narasumber dan moderator pada sesi ini.

alt

Penyampaian materi pertama pada workshop ini oleh dr. Hendro Wartatmo, Sp.B.KBD dengan topik Pengembangan Modul Hospital Disaster Plan. Penanggulangan kegawatdaruratan terdiri atas 2 fase yaitu fase rumah sakit dan fase pra-rumah sakit yaitu dari tempat kejadian dan transportasi menuju ke tempat pelayanan kesehatan dalam hal ini rumah sakit. Sedangkan pada fase rumah sakit merupakan penanganan korban yang sudah sampai rumah sakit. Dalam medical responses dalam hal ini fase akut, bahwa pada saat sampai rumah sakit bisa terjadi chaos dan bisa terjadi penanganan yang baik. Beliau juga menjelaskan konsep awal dari hospital disaster plan, komponen-komponen yang ada dalam hospital disaster plan dan modul penyusunan HDP serta proses penyusunannya. Sesi dr. Hendro ditutup dengan tanya jawab dengan peserta.

Sesi kedua dan ketiga dalam workshop ini dilakukan secara panel oleh Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D dengan judul Strategi Pendanaan Hospital Disaster Plan melalui pendekatan e-learning: dan dr. Bella Donna, M.Kes dengan Pengenalan materi pembelajaran melalui web (e-Learning). Prof. Laksono dalam pemaparannya menjelaskan tentang perencanaan keuangan yang bersifat strategis serta langkah-langkah untuk perencanaan dan sumber dana yang bisa digunakan. Sementara itu, dr. Bella Donna, M.Kes menjelaskan pengenalan materi pembelajaran melalui web (e-learning). Dalam pemaparannya, beliau memberikan contoh penggunaan web yang dimiliki oleh PMPK FK UGM dibawah pengelolaan Divisi Manajemen Bencana: www.bencana-kesehatan.net, yang menyediakan fasilitas open source untuk referensi yang berhubungan dengan bencana, program-program yang dilakukan oleh Divisi Manajemen Bencana serta liputan penanggulangan bencana yang pernah dilakukan oleh FK UGM. Fokus dalam sesi ini adalah pada bagian kegiatan Hospital Disaster Plan, dari (1) Komponen/Cheklist Hospital Disaster Plan (2) Kegiatan Pelatihan Hospital Disaster Plan, serta contoh dari (3) Kegiatan Training RSUD Sidoardjo. Di akhir workshop siang, peserta diajak untuk berdiskusi mengenai materi yang disampaikan

 

Sesi III: 14.45 – 16.15 WIB

Setelah sesi workshop, dilanjutkan dengan sesi paralel dua narasumber: dr. Pudji Sri Rasmiati, Sp.B., MPH selaku Perwakilan PERSI DIY dengan dr. Gandung Bambang Hermanto, Wakil Direktur Pelayanan RS Panembahan Senopati Bantul, yang dipandu oleh moderator dr. Bella Donna, M.Kes. Sesi ini diawali dengan penyampaian oleh dr. Pudji mengenai Peran PERSI dalam Pengembangan SDM RS untuk penanggulangan Krisis Kesehatan akibat bencana. Peran yang dimaksud adalah dalam beberapa kondisi bencana baik kondisi tenang, kondisi saat bencana serta kondisi pasca bencana. Sementara itu dr. Gandung memberikan sharing pengalaman dalam melakukan penyusunan Hospital Disaster Plan Panembahan Senopati Bantul yang bekerjasama dengan PMPK FK UGM Divisi Manajemen Bencana. Beliau memberikan contoh bagaimana proses dari penyusunan hospital disaster plan yang sudah mereka susun dan komponen dari hospital disaster plan yang dimiliki.

alt

Dengan berakhirnya sesi III, maka rangkaian kegiatan seminar ditutup. Penutupan kegiatan disampaikan oleh dr. Hendro Wartatmo, Sp.B. KBD., beliau berharap setelah acara seminar ini, rumah sakit bisa menyusun hospital disaster plan yang operasional sesuai dengan kebutuhan rumah sakit dan wilayahnya. Bagi rumah sakit yang dalam tahap menyusun hospital disaster plan bisa melanjutkan penyusunannya sampai terbentuk suatu hospital disaster plan yang operasional.

Download Poster 

Longsor di Bandung Barat, Tiga Orang Tewas

Longsor di Bandung Barat, Tiga Orang Tewas

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA  —  Bencana tanah longsor terjadi di Desa Cirawuga, Kecamatan Sariwangi, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Senin (14/11). Bencana tersebut menyebabkan korban jiwa sebanyak tiga orang.
 
Ketiga korban meninggal bernama Arifin (35 tahun), Lilis (35 tahun), dan Agil, seorang anak kecil berusia 4 tahun. Sedangkan korban dengan luka berat ada dua orang atas nama Mariah (40 tahun) dan Wawan (35 tahun).
 
“Para korban saat ini sudah dirawat di Rumah Sakit Umum Cibabat Cimahi. Satu di antaranya berada dalam keadaan kritis,” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, melalui pesan Blackberry-nya.
 
Sementara itu kerugian materiil akibat bencana tersebut adalah satu uni rumah yang mengalami rusak berat.
 
Pagi ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat sudah berada di lokasi bencana serta melakukan koordinasi dengan instansi terkait dalam penanganan darurat bencana. “BPBD masih melakukan pendataan baik korban maupun kerusakan materiil,” kata Sutopo.
 
Bencana tanah longsor tersebut adalah bencana kedua yang terjadi Senin lalu. Beberapa jam sebelumnya gempa sebesar 6,4 SR terjadi di Barat Daya Labuha, Maluku Utara. Sejauh ini BPBD Maluku Utara masih melakukan koordinasi terkait dampak gempa yang tidak berpotensi tsunami tersebut.
 
Gempa tersebut sempat membuat warga di Kota Ternate panik dan keluar rumah. Meskipun demikian saat ini aktivitas warga Ternate sudah normal.
 

Sumber: Republik.co.id

Gempa Kembali Guncang Turki

alt

Gempa Kembali Guncang Turki

alt

ANKARA– Gempa kembali guncang Turki hari ini. Gempa berkekuatan 5,2 skala richter (SR) ini melanda Provinsi Van yang sebelumnya sudah hancur dilanda gempa.

Tidak ada korban ataupun kerusakan yang dialami dalam gempa terbaru. Sementara pusat gempa dilaporkan berada di Desa Mollakasim.
Sebelumnya gempa dahsyat melanda Turki bulan lalu dengan kekuatan 7,2 SR. Gempa tersebut menewaskan 644 jiwa di Provini Van. Pekan lalu, gempa berkekuatan 5,7 SR juga terjadi di kota yang sama dan hampir 30 orang.
Banyak warga yang selamat dari gempa keluar dari kota tersebut. Mereka takut untuk kembali ke rumah mereka, karena tingkat kerusakan yang parah.
“Kota itu seperti kota hantu. Hampir semua bangunan tidak dapat digunakan,” ucap Gubernur Provinsi Van Munir Karaloglu seperti dikutip Associated Press, Selasa (15/11/2011).
Saat ini, warga yang selamat pun dihadapkan pada cuaca dingin yang melanda. Menurut Kantor Berita Anatolia, cuaca di Turki saat ini mencapai minus 15 derajat celcius. Cuaca dingin itu melanda kota Ercis yang kerusakan akibat gempa dahsyat.
Sementara gempa susulan yang melanda 23 Oktober lalu dan menyebabkan sebuah hotel tempat para jurnalis dan regu penyelamat asing menginap.
Regu penyelamat yang dibantu oleh rekan jurnalis yang terperangkap di Hotel Bayram, terus menggali puing-puing hotel yang roboh akibat gempa. Korban tewas juga ditemukan di Hotel Aslan.
Pihak berwenang setempat sudah menghentikan proses pencarian korban di Hotel Aslan pada Jumat sore waktu setempat. Saat ini mereka lebih memfokuskan pencarian pada Hotel Bayram.
Tidak diketahui berapa orang yang terperangkap dalam hotel itu. Pekerjaan mereka makin dipersulit dengan turunnya salju di lokasi gempa.
(faj)

Sumber: Okezone.com

Gempa 6,4 Skala Richter Guncang Halmahera

Gempa 6,4 Skala Richter Guncang Halmahera

HALMAHERA–MICOM: Gempa bumi berkekuatan 6,4 skala Richter terjadi di Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, Senin (14/11), sekitar pukul 13.05 Wita.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyebutkan pusat gempa berjarak 69 kilometer arah barat daya Labuha, Maluku Utara.

Pusat gempa itu berada pada kedalaman 10 kilometer dan berlokasi di 0.93 lintang selatan dan 126.91 bujur timur.

Kepanikan terjadi di Rumah Sakit Umum Daerah Labuhan. Banyak pasien berhamburan ke luar rumah sakit. Hingga saat ini, mereka enggan kembali karena takut terjadi gempa susulan.

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat masih memantau ke lokasi gempa. Belum dilaporkan soal korban jiwa dan kerusakan akibat bencana tersebut.(MTV/OL-11)

Maluku Utara Digoyang Gempa 6,4 SR

Maluku Utara Digoyang Gempa 6,4 SR

Jakarta – Gempa menggoyang kawasan Maluku Utara. Kekuatan gempa terdeteksi 6,4 Skala Richter (SR). Gempa dengan kedalaman 10 km ini tidak menimbulkan tsunami.

Informasi dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) menginformasikan, gempa terjadi pada Senin (14/11/2011) pukul 11.05 WIB.

Lokasi gempa berada di 0,93 lintang selatan dan 126,91 bujur timur. Gempa ini terjadi di 69 km baratdaya Labuha Maluku Utara, 162 km Timurlaut Sanana Maluku, 196 km baratdaya Ternate Maluku Utara, 326 km Tenggara Bitung Sulawesi Utara, dan 2.305 km Timurlaut Jakarta.

Pusat gempa berada di laut 69 km barat daya Labuha. Gempa dirasakan pada skala IV-V MMI di Labuha, dan II-III MMI di Ternate

2.024 Desa di Jateng Rawan Longsor

2.024 Desa di Jateng Rawan Longsor

TRIBUNNEWS.COM– Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jateng, Teguh Dwi Paryono, meminta kepada masyarakat yang tinggal di daerah rawan longsor untuk waspada karena sudah mulai musim hujan.

“Masyarakat dan aparat yang ada di daerah longsor, harus waspada kemungkinan terjadinya bencana, terlebih pada tahun 2011 adanya siklus hujan musim lima tahunan,” kata Teguh, di Semarang, Minggu (13/11/2011).

Selain siklus musim hujan lima tahunan, berdasarkan pemetaan oleh Dinas ESDM pada 2010, menurut Teguh terjadi perubahan penambahan daerah rawan longsor yang sangat mencolok.

“Pemetaan kami pada 2002 ada 27 kabupaten dan kota, 117 kecamatan dan 538 desa yang rawan longsor, dan sedangkan pada 2010 ada 27 kabupaten atau kota, 280 kecamatan dan 2024 desa rawan longsor,” beber Teguh melalui pesan singkat, yang dikirim ke Tribun Jogja.

Perubahan tersebut, Teguh melanjutkan karena adanya perubahan tata guna lahan yang dilakukan oleh manusia dan iklim ekstrim di mana disertai curah hujan yang tinggi.

“Data kami, kejadian tanah longsor lima tahun lalu ada 109 kejadian dan menelan 74 korban jiwa, lalu faktor utama terjadinya tanah longsor adalan air dan kondisi geologi berupa batuan dan struktur tanah,” papar Teguh.

Pihaknya telah melakukan perbagai tindakan antisipasi, di antaranya adalah sosialisasi dan pemasangan patok monitoring tanah longsor. (*)


Sumber: Tribun Jogja
Akses Tribunnews.com lewat perangkat mobile anda melalui alamat m.tribunnews.com

Persamaan Banjir Bangkok dan Banjir Jakarta

Persamaan Banjir Bangkok dan Banjir Jakarta

Jakarta – Banjir besar yang melanda Bangkok disebabkan oleh ekploitasi air tanah besar-besaran yang menyebabkan turunnya permukaan tanah. Diperkirakan air akan terus menggenangi kota untuk jangka waktu lama. Penduduk Kota Bangkok tinggal di tanah endapan (delta) yang dibentuk oleh Sungai Chao Phraya. Di bawah delta ini terdapat lapisan akifer yang menjadi tandon air raksasa bagi penduduk kota. Selama puluhan tahun terakhir penduduk Bangkok hanya menggunakan air tanah sebagai sumber air bersih.

“Padahal terdapat hubungan antara konsumsi air tanah dan penurunan permukaan tanah,” kata peneliti dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Robert M. Delinom dalam percakapannya dengan Tempo usai pengukuhan dirinya menjadi profesor riset di Jakarta, Jumat, 11 November 2011.

Menurut pria yang aktif meneliti delta Sungai Chao Phraya ini, penurunan permukaan tanah Kota Bangkok sampai posisi terendah Oktober lalu. Ketika itu permukaan air sungai lebih tinggi dari permukaan tanah, mengakibatkan air sungai meluap ke kota.

Banjir akibat penurunan permukaan tanah berdampak fatal. Berbeda dengan banjir umumnya, sangat sulit menguras air agar keluar dari kota. “Penanganannya butuh kerja luar biasa. Banjir bisa berlangsung hingga beberapa pekan bahkan beberapa bulan mendatang,” tutur dia.

Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah membangun bendungan kuat di pinggir sungai. Cara ini berfungsi menahan bertambahnya air sungai masuk ke kota. Setelah itu barulah pemerintah menciptakan drainase baru untuk memompa air dari darat ke sungai atau laut.

Bangkok sendiri memiliki kemiripan dengan Jakarta. Kedua ibu kota negara ini sama-sama terbentuk dari tanah endapan sungai. Beruntung, Jakarta memiliki struktur geologi lebih kompleks sehingga penurunan permukaan tanah tak akan sehebat yang terjadi di Bangkok.

Meski tak akan mengalami banjir akibat penurunan tanah, banjir Jakarta berasal dari penyebab berbeda. Penyebab pertama datang dari air kiriman dari Bogor. Hal ini wajar terjadi mengingat terjadinya penurunan luasan daerah resapan air di Kota Hujan.

Penyebab kedua banjir Jakarta berasal dari kemunculan bendungan bawah tanah yang memanjang dari barat ke timur di selatan Jakarta. Bendungan ini terbentuk oleh struktur geologi kedap air yang menghalangi turunnya air tanah dari kawasan tinggi ke laut. Akibatnya, kawasan di atas bendungan alam seperti Cibubur, Depok, Pasar Minggu, dan Serpong lebih cepat mengalami kejenuhan dan air akan meluncur deras dari kawasan ini.

Pemerintah Kota Jakarta bisa mencegah terjadinya banjir dengan menciptakan sistem drainase yang lebih bagus sehingga membantu air mengalir ke laut. Selain itu Pemerintah Jakarta diingatkan untuk menjadikan daerah resapan air sebagai bagian vital dalam manajemen kota.

Beberapa daerah resapan kini mengalami alih fungsi menjadi kawasan perkantoran dan perumahan, sehingga volume air yang masuk melalui daerah penyerap air berkurang drastis. Dari sinilah terbentuk genangan yang kemudian meluas menjadi banjir Jakarta. ANTON WILLIAM TEMPOINTERAKTI