Kemenkes Prioritaskan Mengantisipasi KLB Penyakit Pasca Banjir

JAKARTA, KOMPAS.com– Kementerian Kesehatan akan memprioritaskan pemantauan kondisi kesehatan masyarakat korban banjir di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Hal ini terutama untuk mengantisipasi kejadian luar biasa penyakit yang biasa ditemukan pascabanjir.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama menyampaikan hal itu melalui surat elektronik yang diterima Kompas, Senin (7/11/2011), di Jakarta.

Continue reading

Lebih dari 500 Orang Tewas akibat Banjir di Thailand

banjir-thailand

Dalam pengumuman resmi pemerintah Thailand terbaru disebutkan lebih dari 500 orang tewas akibat banjir yang melanda negeri itu. Jumlah ini meningkat sebanyak 60 orang dari pengumuman sehari sebelumnya.

Sementara air kotor dari sungai dan tempat lain terus menggenangi Bangkok termasuk daerah-daerah yang sebelumnya diperkirakan akan aman dari terjangan bah.

Cuaca dilaporkan membaik, namun petugas kota masih berupaya keras menghalau luapan air yang menyerbu masuk ibukota dari arah utara Bangkok.

Meski demikian menurut pejabat resmi, hanya sekitar 20 persen dari wilayah ibukota yang terendam air meski warga tetap mengkhawatirkan akan munculnya wabah penyakit akibat tumpukan sampah, bangkai hewan serta limbah industri yang terbawa air.

Continue reading

Gunung Lokon Meletus 5 Kali

alt

kompas.com – Gunung Lokon di Provinsi Sulawesi Utara kembali meletus lima kali pada Senin (7/11/2011) dari pukul 00.00 hingga 06.00 Wita.

“Letusannya masih dipicu letusan yang terjadi tanggal 26 Oktober 2011,” ujar Farid, Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Lokon dan Mahawu, di Kakaskasen, Kota Tomohon. 

Lima letusan ini, dijelaskan Farid, terjadi pada pukul 00.09 Wita, 00.43 Wita, 00.57 Wita, 01.45 Wita, dan 05.51 Wita. Ketinggian debu letusan diperkirakan 250-300 meter dari kawah Tompaluan, Gunung Lokon.

“Debu letusannya jatuh ke arah barat. Kami memperkirakan hanya jatuh di areal perkebunan,” katanya.

Continue reading

Tiga Tahun Kegiatan RS. Dr. Sardjito di Aceh

Pada akhir tahun 2004, seperti yang kita ketahui tepatnya tanggal 26 Desember terjadi bencana global Tsunami di dunia dimana Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam merupakan tempat yang paling terkena dampaknya. Musibah gempa bumi tektonik yang berkekuatan 6,8 SR (BMG) atau 8.9 SR (US Geological Survey) terjadi di lautan India, 66 Km sebelah barat Aceh. Gempa tersebut disusul gelombang Tsunami setinggi 12 meter dengan kecepatan 500-900 Km/jam yang menerjang pesisir pantai barat Aceh. Bencana tersebut menimbulkan kerugian yang sangat besar baik nyawa, harta, benda, infrastruktur, lingkungan maupun ekosistem. Bencana dahsyat tersebut tidak hanya menimpa propinsi NAD dan Sumatera Utara saja, namun juga menimpa negara-negara tetangga seperti Thailand, Srilangka dan Maladewa. Kejadian tersebut merupakan bencana terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah Negara Indonesia, sehingga Presiden pada waktu itu langsung mendeklarasikan sebagai bencana nasional yang artinya seluruh bangsa Indonesia juga ikut merasakan adanya musibah tersebut.

RS Dr. Sardjito dan Universitas Gadjah Mada merupakan salah satu lembaga yang turut berpartisipasi dalam rekonstruksi dan rehabilitasi di sektor kesehatan pasca Tsunami, terutama di Kabupaten Aceh Barat. RS Dr. Sardjito dan UGM memulai program bantuannya sejak fase awal pasca bencana Tsunami terjadi. Terdapat 3 tim UGM dalam bidang kesehatan yang secara spontan, tanpa terkoordinasi, berangkat ke Aceh: Tim RS Dr. Sardjito dan FK UGM berada di Melaboh, Tim Fakultas Psikologi ke Banda Aceh, Tim S2-IKM dan PMPK ke RS Zainoel Abidin dan Dinas Kesehatan Propinsi NAD. Setelah 3 bulan berjalan struktur kegiatan diubah agar menjadi lebih terintegrasi dan terkoordinasi serta dikonsentrasikan ke Meulaboh, walaupun sebagian kegiatan di Banda Aceh tetap dipertahankan.

Paparan pada buku Aceh berikut menggambarkan kegiatan-kegiatan RS Dr. Sardjito dan UGM di Aceh mulai dari fase respon akut, fase transisi, fase pemulihan, fase perkembangan dan persiapan serta fase exit strategy yang melibatkan banyak lembaga dan sumber daya manusia.

Berikut ini adalah Buku Tiga Tahun Kegiatan RS Dr. Sardjito, Fakultas Kedokteran dan Fakultas Psikologi UGM di ACEH.

  1. Sambutan
  2. Bab II Rincian Pelaksanaan Program

TOT Perencanaan Mitigasi Bencana

TOT Perencanaan Mitigasi Bencana dilaksanakan pada tanggal 16 – 26 Oktober 2011, dibuka oleh Kepala Pusat Studi Bencana Alam (PSBA) UGM yang didampingi Kepala LPPM UGM dan Kapusbindiklatren BAPPENAS.

Pembelajaran dalam kegiatan ini menggunakan metode yang bervariasi dan yang utama para peserta diberi teknik menggunakan table top, dengan harapan peserta tidak hanya diberi materi tetapi juga mengetahui lebih mendalam mengenai materi yang disampaikan dan bisa lebih aplikatif. ToT ini melibatkan narasumber dan instruktur yang memang kompeten di bidangnya masing- masing. Salah satunya adalah dari Tim PMPK FK UGM. Tim PMPK FK UGM dengan PSBA pernah bekerjasama untuk kegiatan lain. Pada kegiatan ini, Tim PMPK terlibat menjadi Narasumber pada Modul 4 yaitu mengenai Manajemen Kedaruratan Dasar. Narasumber yang terlibat adalah:

1.    Dr. Hendro Wartatmo, Sp.BKD

Materi: Bantuan Kemanusiaan dan Manajemen Logistik

Pada sesi ini, disampaikan materi dengan judul “Bantuan Kemanusiaan dan Manajemen Logistik”. Beliau menjelaskan tentang pengertian dari kemanusiaan dalam konteks bencana, pengungsi dan relawan. Selain itu, dijelaskan tentang bencana logistik yang pernah terjadi di beberapa kejadian bencana, permasalahan dalam bidang logistik, khususnya logistik medik untuk keadaan emergensi (kegawatdaruratan) serta faktor-faktor yang perlu diperhatikan untuk mempersiapkan logistik medis. Mekanisme logistik juga di uraikan pada sesi ini baik dari segi pemilihan/seleksi logistik medik, penyimpanan, distribusi dan penyaluran, penggunaan logistik, serta SDM dan sarana-prasarana yang dibutuhkan.

alt

2.    Dr. Handoyo Pramusinto

Materi: Penanganan Penderita Gawat Darurat

Dr. Handoyo Pramusinto pada sesi ini memberikan materi dengan judul Penanganan Penderita Gawat Darurat. Diawal sesi, beliau memaparkan tentang pengertian dari bencana menurut UU RI No.24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana dan menurut WHO serta memberikan contoh kejadian yang disebut dengan bencana. Kemudian dijelaskan pula mengenai respon kegawatdaruratan Medis yang meliputi fase pre-hospital dan fase hospital. Pada fase-fase tersebut dijelaskan juga mengenai tahap-tahap yang dilakukan untuk penanganan korban bencana baik dari tahap triase, terapi sampai transfer korban.

alt

3.    Dr. Bella Donna, M.Kes

Materi: Promosi Kesehatan dan Surveilans Bencana

Sesi mengenai Promosi Kesehatan dan Surveilans Bencana disampaikan oleh dr. Bella Donna, M.Kes. Pada sesi ini, dijelaskan dua materi secara langsung, yaitu aspek promosi kesehatan pada masa bencana serta surveilans yang dilakukan pada masa bencana. Pemaparan diawali dengan penjelasan mengenai peran dari promosi kesehatan pada manajemen bencana dan pada berbagai tahap bencana, strategi dan media promosi kesehatan, serta siklus promosi kesehatan menurut Dignan and Carr (1992). Kemudian, pada sesi surveilans dijelaskan mengenai peran surveilans pada kejadian bencana serta surveilans respon dalam manajemen bencana dan penanganan bencana. Dijelaskan bahwa peran surveilans respon pada penanganan bencana meliputi penilaian cepat, penilaian lanjutan, respon segera dan respon terencana.

alt

Selain itu juga, dilakukan Diskusi mengenai Emergency Response bersama Kepala PSBA UGM

alt

Galeri Foto

{gallery}tot_y{/gallery}

TOT ini ditutup pada hari kesepuluh, Kamis, 27 Oktober 2011. Acara ditutup secara resmi oleh Wakil Pusbindiklatren, Wakil PSBA UGM, Kepala Geoinfo UGM.

Gempa Embusan Dominasi Gunung Lokon

TOMOHON–MICOM: Gempa embusan masih mendominasi aktivitas kegempaan Gunung Lokon di Sulawesi Utara (Sulut) sejak Jumat (4/11) hingga Sabtu (5/11).

“Sejak kemarin, kegempaan masih didominasi gempa embusan dibanding dengan gempa vulkanik yang frekuensi sebelumnya jauh lebih banyak,” kata Warno, staf Pos Pengamatan Gunung Api Lokon dan Mahawu di Kakaskasen, Kota Tomohon, Sulut, Sabtu (5/11).

Dia mengatakan amplitudo embusan yang terjadi kerap mencapai 45 milimeter mengindikasikan intensitas asap yang keluar dari kawah Tompaluan, Gunung Lokon, masih disertai debu vulkanik cukup banyak.

Continue reading

Gempa 5,4 SR Landa Ujung Kulon

Jakarta – Gempa berkekuatan 5,4 Skala Richter melanda Ujung Kulon, Banten Gempa ini dipastikan tidak akan berpotensi menimbulkan gelombang tsunami.
Menurut informasi yang dihimpun dari situs Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Sabtu (5/11/2011), gempa ini terjadi sekitar pukul 04.31 WIB.
Pusat gempa tercatat di lokasi 7.09 Lintang Selatan dan 103.72 Bujur Timur. Atau tepatnya sekitar 199 kilometer sebelah Barat Daya Ujung Kulon, Banten.
Gempa terjadi di kedalaman 10 kilometer dari permukaan laut. Belum diketahui adanya kerusakan atau korban akibat gempa ini.

Sumber: Detiknews

TOT PERENCANAAN MITIGASI BENCANA

alt

TRAINING OF TRAINER (TOT)

PERENCANAAN MITIGASI BENCANA

Latar Belakang

Training of Trainer (TOT) perencanaan mitigasi bencana kerjasama UGM dengan BAPPENAS didasarkan pada pemahaman tentang mitigasi bencana yang ada di daerah untuk pengurangan risiko bencana. TOT ini diharapkan dapat dijadikan media pembelajaran bagi pemangku kebijakan (stakeholders) dalam pencapaian pemahaman mitigasi bencana yang komprehensif. Sehingga masyarakat lebih siap dan waspada dalam menghadapi potensi bencana yang ada. Masyarakat yang telah memahami bahkan telah sadar terhadap potensi bencana yang ada didaerahnya serta mampu untuk memitigasi bencana tersebut, maka akan mengurangi risiko bencana yang akan terjadi. Dimana masyarakat dapat melakukan perencanaan pembangunan yang berbasis pengurangan risiko bencana. TOT ini juga mencoba mengintegrasikan pendekatan blue print dengan pendataan partisipatori.  Dalam hal ini, para peserta TOT dituntut untuk dapat mengidentifikasi masalah, melakukan forecasting, dan menyusun rencana aksi dengan baik, dan pada saat yang sama mereka dibekali ketrampilan untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan dan memanfaatkan informasi serta aspirasi dari masyarakat dalam pengurangan risiko bencana.

Para peserta dibekali dengan informasi dasar perencanaan mitigasi bencana sebagai landasan dalam penyusunan rencana aksi daerah dalam pengurangan risiko bencana sesuai dengan amanat UU No.24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Selain pembekalan pengetahuan, wawasan dan nilai tentang mitigasi bencana, para peserta juga dibekali dengan ketrampilan untuk menilai risiko bencana dan besarnya kerugian akibat bencana serta menyusun rencana aksi yang perlu dilakukan dalam kegiatan pengurangan risiko bencana.  Berbagai teknik analisis akan dikenalkan, dan para peserta akan diberi kesempatan untuk mempraktekkannya melalui latihan dan presentasi kelas.

ToT perencanaan mitigasi bencana ini bertujuan untuk :

  1. Pemahaman dan penguasaan konsep dasar dan teori penanggulangan bencana
  2. Peningkatan kemampuan peserta untuk menilai risiko bencana serta penilaian valuasi atau kerugian akibat bencana
  3. Peningkatan kemampuan pemangku kebijakan (stakeholders) untuk menyusun rencana aksi daerah dalam pengurangan risiko bencana di daerahnya

Metode pembelajaran (ceramah, diskusi, studi kasus, Simulasi/Role playing, praktik komputer, praktikum lapangan)

  1. Ceramah: Metode ceramah dilakukan di dalam kelas yang dikombinasikan dengan tanya jawab.
  2. Diskusi: Peserta membahas tema dan topik-topik permasalahan dalam kelompok besar di kelas maupun kelompok kecil, untuk  mengembangkan kemampuan dalam mengidentifikasi dan menganalisis masalah dan sharing informasi.
  3. Studi Kasus: Peserta mempersiapkan kasus-kasus tertentu atau permasalahan dari daerah masing-masing atau membawa dokumen penanggulangan bencana daerah, yang kemudian didiskusikan di dalam kelas.
  4. Simulasi/Role Playing: Peserta melakukan latihan dengan memainkan peran-peran tertentu yang kemungkinan terjadi di lapangan dalam situasi tertentu.
  5. Praktik Komputer: Peserta melakukan praktik aplikasi program komputer yang disesuaikan dengan program penanggulangan bencana.
  6. Praktik Lapangan: Peserta diajak mengunjungi kasus tertentu yang relevan dengan topik yang dibahas.

altaltalt

Pelatihan dirancang untuk jangka waktu 10 hari, terbagi dalam 5 modul, dengan rincian sebagai berikut:

  1. Konsep Penanggulangan Bencana dalam Perencanaan Pembangunan
  2. Manajemen Rencana Penanggulangan Bencana dan Pengurangan Risiko Bencana
  3. Manajemen Pencegahan dan Preparedness
  4. Manajemen Kedaruratan Dasar
  5. Manajemen Pemulihan Dasar dan Rehabilitasi Rekonstruksi

alt

Separuh Kabupaten Kerinci Terendam Banjir

Jambi (ANTARA News) – Lebih dari separuh Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi pada Kamis terendam banjir akibat meluapnya Sungai Batang Merao yang mengalir dari kaki Gunung Kerinci hingga Danau Kerinci.

“Hampir seluruh kecamatan yang dilalui oleh Sungai Batang Merao telah terendam akibat banjir luapan sungai tersebut yang telah terjadi semenjak pukul 01.00 WIB Rabu malam,” kata kabag Humas Kerinci Azmal Pahdi, di Kerinci, Kamis.

Continue reading

Aktivitas Gempa Anak Krakatau 3.388 Kali Sehari

tempointeraktif.com – Gunung Anak Krakatau yang terletak di Perairan Selat Sunda terus menunjukkan aktivitasnya dengan status Siaga atau level III sejak 30 September 2011. Selain gempa, Gunung Anak Krakatau ini terus mengeluarkan embusan asap tebal. Bahkan gunung itu pun masih mengeluarkan material vulkanik.

Dari informasi yang dihimpun di Pos Pemantau Gunung Anak Krakatau di Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Banten, aktivitas kegempaan Gunung Anak Krakatau mencapai 3. 388 kali dalam sehari.

Continue reading