Jumlah Korban Topan Nesat Bertambah Jadi 35

Jumlah Korban Topan Nesat Bertambah Jadi 35


Manila, CyberNews. Jumlah korban tewas akibat bencana topan Nesat di Filipina terus bertambah. Saat ini, korban tewas mencapai 35 orang.

Sementara pejabat Pertahanan Sipil Filipina Benito Ramos mengatakan, banjir yang disebabkan oleh angin topan sudah mereka. Tetapi menurut Ramos, beberapa wilayah dikabarkan masih tergenang air terutama wilayah pertanian.

“Dipastikan 35 orang tewas akibat bencana ini. Pihak regu penyelamat mengerahkan perahu untuk membantu warga yang terkena efek banjir,” ujar Ramos, Kamis (29/9).

Topan ini menyebabkan rumah sakit dan hotel bintang lima juga di landa banjir. Sekitar 5.000 warga yang tinggal di sekitar Sungai Marikina diperintahkan untuk meninggalkan rumahnya karena air sungai tersebut meluap.

Dikhawatirkan korban tewas akan terus bertambah, setelah pihak berwenang mengatakan masih ada beberapa warga yang dilaporkan hilang akibat angin kencang ini yang sudah melanda dua hari.

( OKZ / CN31 )

Lima Gunung Berapi Masih Berstatus Siaga

Lima Gunung Berapi Masih Berstatus Siaga


Rabu, 28 September 2011 13:27 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,YOGYAKARTA – Setelah gempa bumi di Aceh tahun 2004 semua gunung api di Indonesia meningkat kegiatannya. Karena gempa bumi menyebarkan energi . Tetapi kalau tekanan gunung api itu tidak tinggi, gunung tersebut tidak meletus.

”Itu merupakan hasil penelitian seorang ahli yang saya lupa namanya, Saya menemukan dokumen tentang hal itu baru sekitar seminggu yang lalu,” ,”kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Surono.

Dia mengungkapkan sekarang ada 23  gunung api di Indonesia yang aktif  dan lima gunung api diantaranya dalam kondisi siaga sedangkan yang 18 dalam status waspada. ”Kalau gunung api tekanannya sudah tinggi saat terjadi gempa bumi, maka gunung tersebut langsung terganggu dan bahkan  meletus karena ada tambahan energi dari gempa bumi seperti hanya Gunung Talang yang meletus tahun 2005,” jelas dia.

Setelah Gunung Talang Meletus, banyak gunung api lainnya yang meningkat kegiatanya walaupun tidak sampai meletus. Kelima gunung api di Indonesia yang kini kondisinya siaga adalag Gunung Lokon, Gunung Karangetan, Gunung Papandayan, Gunung Anakranaka dan Gunung Tambora.

Lebih lanjut dia mengatakan akibat gempa bumi di Aceh, gunung-gunung yang meletus gunung Kelud yang letusannya menjadi eksplosif, Gunung Bromo sampai sekarang masih terus meletus.. ”Gunung Sinabung yang sejak tahun  1600 tidak meletus tahu-tahu meletus,”ungkap dia.

Surono mengakui Gunung Merapi di Sumatera Barat masih terus-terusan meletus tetapi tidak membahayakan masyarakat di sekitarnya. Karena itu statusnya  tidak pernah dinaikkan, masih tetap waspada hingga sekarang. Meskipun masih meletus, ekosistem di Gunung Merapi tidak terganggu, karena  alam dengan alam akan cepat menyesuakan diri, kata dia

Redaktur: taufik rachman
Reporter: neni ridarineni


Status Papandayan Siaga 3

Status Papandayan Siaga 3

GARUT,(GM)-
Sampai saat ini, status Gunung Papandayan masih bertahan pada siaga level III dalam kondisi fluktuatif (kadang naik, kadang turun). Artinya, statusnya masih dalam keadaan aman sehingga tidak perlu dikhawatirkan.

Namun, tidak tertutup kemungkinan, sewaktu-waktu statusnya naik menjadi awas, kendati hal itu sangat tidak diharapkan berbagai pihak.

Untuk mengantisipasi terjadinya status awas yang menuntut tindakan tanggap darurat, Komando Resort Militer (Korem) 062/Tarumanagara melalui Komando Distrik (Kodim) 0611/ Garut menggelar Geladi Posko I Kodim 0611/ Garut bertempat di area perkantoran Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Jabar Subunit Rumah Perlindungan Sosial Petirahan Anak, di Jalan Raya Cisurupan Km 19, Kec. Cisurupan, Kab. Garut.

Kegiatan yang diikuti berbagai elemen seperti kepolisian, Gerakan Pramuka, Taruna Bela Negara, Linmas, LSM, Orari, dll. itu akan dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut, dibuka Selasa (27/9) oleh Danrem 062/Tarumanaga, Kolonel Inf. Asrobudi dengan skenario meningkatkan kualitas mekanisme hubungan kerja antara komandan dengan staf, dilanjutkan dengan mengantisipasi keadaan tanggap darurat.

Menurut Asrobudi, kegiatan itu bertujuan untuk melatih prosedur hubungan komunikasi dalam penanggulangan bencana alam apabila Gunung Papandayan meletus. Kegiatan itu juga sebagai bentuk latihan bersahabat dengan alam.

“Saat ini status Gunung Papandayan masih bertahan pada siaga level III. Kendati status ini masih bisa dibilang aman, namun tidak tertutup kemungkinan sewaktu-waktu statusnya naik. Akan tetapi, tidak seorang pun bisa memastikan kapan Gunung Papandayan meletus. Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika kita melakukan persiapan sebagai bentuk antisipasi sejak dini,” jelasnya.

Danrem mengatakan, lebih baik mempersiapkan diri sejak dini namun Gunung Papandayan tidak meletus, daripada Gunung Papandayan meletus tapi sama sekali tidak ada persiapan. Ia juga berharap agar Gunung Papandayan tidak jadi meletus, sebab bencana ini sangat tidak diinginkan semua orang.

Dalam pelatihan itu juga ditentukan arah dan tempat pengungsian. Oleh karena itu, selaku direktur geladi yang bertanggung jawab penuh terhadap jalannya kegiatan, ia berharap agar peserta pelatihan memperhatikan titik pengungsian agar benar-benar aman dan nyaman.

Menurutnya, operasi tanggap darurat dilakukan apabila status Gunung Papandayan naik ke level awas. Kondisi ini diawali dengan pengumuman peningkatan kegiatan vulkanisme Gunung Papandayan. Memasuki status ini, penduduk yang bermukim pada radius 4 km harus dikosongkan. Begitu pun pada daerah yang dilintasi aliran lava pijar.

Sementara itu, Dandim 0611/ Garut, Letkol Arm. Edi Yusnandar, S.Ap. mengatakan, kegiatan Geladi Posko I merupakan persiapan peningkatan mekanisme hubungan kerja antara komandan dengan staf untuk melaksanakan penanggulangan akibat bencana alam.

Pelatihan itu juga merupakan upaya pemahaman dalam menanggulangi proses pengungsian dan pemberian bantuan kemanusiaan di wilayah masing-masing dalam rangka operasi militer selain perang untuk membantu pemerintah daerah dan masyarakat. (aji)**

Sumber: Galamedia


Kebakaran Hutan Taman Nasional Gunung Merbabu Meluas

Kebakaran hutan Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGM) di wilayah Kabupaten Boyolali meluas ke wilayah Kabupaten Magelang dan Kabupaten Semarang.

Koordoinator Polisi Hutan TNGM, Kurnia Adi Wirawan, ketika dihubungi dari Magelang, Rabu, mengatakan, titik api pertama diketahui di daerah Jrakah Kecamatan Selo, Boyolali pada Selasa (27/9) siang, namun pada Selasa malam kobaran api terus meluas hingga ke wilayah Magelang dan Semarang, Jateng.

“Kobaran api terus meluas karena hembusan angin di puncak cukup kencang, apalagi yang terbakar berupa alang-alang sehingga cepat meluas. Untuk luasan kebakaran hingga sekarang masih kami identivikasi,” katanya.

Continue reading

Jumlah Korban Topan Nesat Bertambah Jadi 18

Jumlah Korban Topan Nesat Bertambah Jadi 18

MANILA – Jumlah korban jiwa yang tewas akibat angin Topan Nesat di Filipina bertambah menjadi 18 orang hari ini. Pemerintah Filipina juga tampak bergegas untuk memulihkan situasi pascabencana tersebut.

Regu penyelamat melaporkan, 35 orang dinyatakan hilang setelah muncul hujan lebat, angin topan dan juga badai di Pulau Luzon.

“Saat ini kami memfokuskan diri untuk memulihkan aliran listrik dan sektor telekomunikasi. Para tim pekerja juga disebar untuk memperbaiki jalanan di Luzon yang rusak akibat tanah longsor, dan banjir,” ujar Kepala Perlindungan Sipil Benito Ramos, seperti dikutip AFP, Rabu (28/9/2011).

Topan Nesat menghantam Pelabuhan Manila Bay pada Selasa kemarin dan membanjiri rumah sakit serta hotel bintang lima. Kantor Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Filipina juga dilanda banjir.

Beberapa bagian di Luzon masih digenangi air yang setinggi pinggang dan dinding bendungan yang digunakan untuk irigasi dikabarkan juga rusak, dan membanjiri desa-desa di Provinsi Bulacan.

Setiap tahun, Filipina selalu dilanda sekira 20 badai dan beberapa di antaranya bersifat mematikan. Nesat merupakan salah satu bencana alam yang terbesar di negara ini, karena diiringi pula oleh hujan lebat.

Pemerintah Filipina juga memerintahkan setiap sekolah untuk menghentikan aktivitasnya sementara, begitu juga dengan kantor Bursa Efek Filipina yang terpaksa ditutup.(rhs)

Sumber: Okezone

3 Hektar Hutan di Imogiri-Bantul Terbakar

Hutan rakyat seluas tiga hektare di Dusun Nogosari, Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa, terbakar.

“Saya tidak tahu persis penyebabnya, karena hanya diberitahu warga sekitar pukul 11.00 WIB, dengan begitu saya langsung menuju lokasi untuk membantu warga memadamkan api,” kata Kepala Dusun (Kadus) Nogosari Nardi Harjo Winoto di Bantul, Selasa.

Continue reading

Kebakaran Lereng Gunung Sindoro Padam

Kebakaran yang melanda kawasan hutan Gunung Sindoro di perbatasan Temanggung-Wonosobo akhirnya berhasil dipadamkan pada Senin (26/9) sekitar pukul 21.30 WIB. Api muncul mulai Sabtu (24/9) sekitar pukul 20.00 dari petak 21, Resor Pemangku Hutan (RPH) Anggrunggondok wilayah Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Wonosobo.

Continue reading

Kawasan hutan Taman Nasional Gunung Merbabu Terbakar

Kawasan hutan Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGM) tepatnya di atas Dukuh Tempel, Desa Jrakah, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Selasa, terbakar.

Menurut Kepala Desa Jrakah Tumar, kebakaran di lereng Merbabu tepatnya di sebelah sisi timur atau di atasnya Dukuh Tempel, Jrakah, Selo, terjadi sekitar pukul 10.30 WIB, dan hingga pukul 16.00 WIB api diduga semakin meluas ke arah puncak.

Continue reading

Gunung Lokon telah mengeluarkan 508 kali letusan

Kawah Tompaluan Gunung Lokon di Sulawesi Utara telah mengeluarkan 508 kali letusan sejak statusnya dinaikkan ke siaga level 3 pada 27 Juni lalu.

“Tanggal 26 Juni 2011 terjadi letusan freatik. Letusan freatik terjadi ketika magma yang sedang bergerak naik ke atas bersentuhan dengan air tanah dan terbentuk uap panas bertekanan tinggi,” kata Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Lokon dan Mahawu di Kakaskasen, Kota Tomohon, Farid Ruskanda Bina, Selasa.

Continue reading

9 Kecamatan di Kab. Sukabumi Rawan Tsunami

9 Kecamatan di Kab. Sukabumi Rawan Tsunami

SUKABUMI,(GM)-
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kab. Sukabumi menyatakan, sembilan kecamatan di Kab. Sukabumi hingga saat ini merupakan zona rawan bencana tsunami. Daerah rawan tsunami sebagian besar berada di sekitar pesisir pantai di selatan Kab. Sukabumi. Karena itu, masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan guna mengantisipasi bencana tsunami secara tiba-tiba.

“Kita telah mengimbau kepada seluruh masyarakat yang tinggal di zona rawan bencana tsunami di sepanjang pinggir pantai selatan Kab. Sukabumi agar senantiasa waspada. Hal itu dilakukan guna mencegah kemungkinan terburuk bila terjadi tsunami secara tiba-tiba,” kata Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kab. Sukabumi, H. Irwan Fajar, S.H., M.Si., ketika ditemui “GM” di kantornya di Jalan Raya Nyomplong, Kec. Warudoyong, Kota Sukabumi, Selasa (27/9).

Walaupun saat ini belum ada tanda-tanda potensi tsunami di sepanjang pantai selatan Kab. Sukabumi, namun masyarakat harus selalu waspada.

“Hanya saja, masyarakat tidak harus terlalu panik bila nanti tiba-tiba terjadi bencana tsunami. Masyarakat bisa secepatnya menyelamatkan ke daerah yang relatif sangat aman di daerah masing-masing,” ungkapnya.

Menurut Irwan, peningkatan kewaspadaan akan potensi bencana tsunami, utamanya harus dilakukan oleh sebagian besar warga di sembilan kecamatan. Secara geografis kesembilan daerah rawan bencana tsunami tersebut sebagian besar berada diselatan Kab. Sukabumi.

“Umumnya secara topografi keberadaan daerah di sembilan wilayah rawan bencana tsunami berada di sepanjang pesisir pantai selatan Kab. Sukabumi,” ungkapnya.

Disebutkan, kesembilan lokasi yang merupakan zona rawan bencana tsunami tersebar di Kec. Palabuhanratu, Cikakak, Cisolok, Tegalbuleud, Ujunggenteng, Ciracap, Ciemas, Cibitung, disusul Kec. Surade. Seluruh daerah itu berada di daerah pesisir pantai di selatan Kab. Sukabumi.

“Hingga saat ini, sembilan daerah zona rawan bencana tsunami terus-menerus diwaspadai. Hal itu dilakukan guna mengantisipasi kemungkinan terjadi potensi tsunami,” tukasnya.

Guna mewaspadai ancaman bencana tsunami tersebut, maka secara bertahap khusus dititik rawan bencana tsunami terus mengintensifkan sosoalisasi tentang pencegahan serta kesiapsiagaan penanggulangan bencana tsunami.

“Selain melakukan sosialisasi secara langsung kepada warga disekitar daerah rawan bencana, kita pun memberikan informasi melalui poster atau pamflet berisi tentang bagaimana melakukan penanggulangan bencana,” katanya.

Sosalisasi tentang pencegahan serta kesiapsiagaan tentang penanggulangan bencana tsunami belum bisa dilakukan secara menyeluruh di seluruh daerah rawan bencana. (B.118)**