Gunung Marapi tidak Batuk-Batuk Lagi

alt

Gunung Marapi tidak Batuk-Batuk Lagi


alt

BUKITTINGGI–MICOM: Gunung Marapi di Koto Baru, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanahdatar, Sumatra Barat, sejak Sabtu hingga Minggu (25/9) tidak lagi mengeluarkan asap hitam ataupun putih.

Pantauan di daerah Sungaipuar, Kabupaten Agam, gunung yang memiliki ketinggian 2.891 meter di atas permukaan laut ini, tidak lagi menyemburkan asap hitam ataupun putih seperti hari-hari sebelumnya.  

Seorang warga Sungaipuar, Lembang, membenarkan gunung dari Sabtu pagi sampai Ahad sore terlihat tidak lagi menyemburkan asap putih atapun hitam.  “Dari jauh sangat jelas kelihatan gunung tidak menyemburkan asap hitam atapun putih. Ini menandakan aktivitas gunung telah menurun,” katanya.

Kata dia, dibandingkan dengan beberapa hari sebelumnya, gunung tiap pagi sekitar pukul 07.00 WIB – 09.00 WIB terlihat mengeluarakan asap hitam atapun putih.

“Aktivitas dari gunung sudah mulai menurun mudah-mudahan tetap seperti sekarang. Asap hitam pekat yang disertai debu vulkanik, apalagi letusan yang ditimbulkan diharapkan tidak terjadi lagi,” katanya.

Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (BGPVMB) masih menetapkan status gunung waspada level II. “BGPVMB tetap mengeluarkan larangan bagi masyarakat dan pendaki untuk tidak melakukan pendakian sampai tiga kilometer dari puncak,” kata Warseno petugas BGPVMB. (Ant/OL-2)

Aktifitas Gunung Marapi Mulai Menurun

Aktivitas Gunung Marapi di Koto Baru, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat, tampak mulai menurun dengan tidak lagi mengeluarkan asap hitam sejak Sabtu (24/9) pagi. Pantauan di daerah Sungaipuar, Kabupaten Agam, terlihat puncak Gunung Marapi hanya mengeluarkan asap putih relatif mulai menipis dengan tekanan melemah.

Continue reading

Letusan Gunung Lokon di Sulawesi Utara terus menurun

Frekuensi letusan Gunung Lokon di Sulawesi Utara terus menurun. Sabtu (24/9) gunung ini hanya tercatat mengalami empat letusan. “Letusan-letusan itu terjadi pada pukul 11.25 WITA, 13.19 WITA, 13.26 WITA dan 15.04 WITA. Abu vulkanik dari letusan-letusan tersebut diperkirakan ketinggiannya sekitar 200 meter dari bibir kawah,” kata staf Pos Pengamatan Gunung Api Lokon dan Mahawu di Kakaskasen, Kota Tomohon, Yudi di Tomohon.

Continue reading

Status Gunung Karangetang Masih Awas

Status Gunung Karangetang Masih Awas


MANADO – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Utara kembali menegaskan Gunung Karangetang di Kecamatan Siau, Kabupaten Sitaro, masih dalam status awas atau dalam level III.

“Hingga kini belum terjadi penurunan status dari siaga level III kewaspada level II,” jelas Kepala BPBD Sulawesi Utara (Sulut), Hoyke Makarawung, di Manado, Sabtu (24/9).

Dikatakannya, merujuk pada catatan seismograf, aktivitas Gunung Karangetang masih tinggi. Gempa-gempa guguran masih terjadi, begitupun dengan gempa vulkanik masih terus terekam.

“Karena aktivitasnya masih berada di atas normal Pusat Vulkanologi, dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung masih menetapkan status Gunung Karangetang siaga,” katanya.

Dikatakannya, pemerintah masih memberikan kesempatan kepada warga yang bermukim di sekitar lereng melakukan aktivitas. Hanya saja kesiagaan harus diperhatikan.

“Luncuran awan panas atau guguran lava pijar masih mungkin terjadi. Kesiagaan juga penting dilakukan warga yang tinggal di bantaran Kali Batang, Batu Awang atau Kinali serta bantaran kali lainnya yang berhulu dari Gunung Karangetang,” ujarnya.

Hingga kini kata Makarawung, Pemerintah Kabupaten Siau, Tagulandang dan Biaro (Sitaro) masih menutup jalur pendakian yang biasa dilakukan warga karena membahayakan keselamatan jiwa pendaki.

“Jangan mendaki. Ini akan sangat berbahaya bila dilakukan. Sesekali ketika terjadi letusan bisa diikuti dengan awan panas yang bisa meluncur deras menuruni lereng gunung,” tegasnya.

Makarawung kembali berharap warga tetap menjauhi radius bahaya Gunung Karangetang yang ditetapkan pemerintah yaitu 2,5 kilometer dari puncak kawah.

“Hal ini penting diingatkan untuk semua warga yang bermukim di kaki Gunung Karangetang. Radius bahaya ditetapkan dengan mempertimbangkan potensi ancaman bila terjadi letusan, guguran awan panas atau bahkan guguran lava pijar,” kata Makarawung.

Imbauan-imbauan seperti ini hendaknya dipatuhi warga, kata dia. (Ant)

Sumber: Sinar Harapan

Aktivitas Gunung Marapi Menurun

Aktivitas Gunung Marapi Menurun

BUKITTINGGI – Aktivitas Gunung Marapi di Koto Baru, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumbar, nampak mulai menurun dengan tidak lagi mengeluarkan asap hitam sejak Sabtu (24/9) pagi.

Pantauan ANTARA di daerah Sungaipuar, Kabupaten Agam, terlihat puncak Gunung Marapi hanya mengeluarkan asap putih relatif mulai menipis dengan tekanan melemah.

Seorang warga Sungaipuar St. Sinaro menyebutkan, gunung biasanya setiap pagi antara pukul 07.00 WIB – pukul 09.34 WIB mengerluarkan asap hitam tebal disusul asap putih, namun sejak Sabtu pagi tidak lagi terlihat.

“Ini menandakan aktivitas gunung mulai menurun. Kita berharap gunung tidak lagi mengeluarkan asap hitam pekat disertai debu vulkanik, apalagi letusan,” katanya.

Warga Sungaipuar lainnya Mak Sima mengatakan, asap putih yang keluar dari kawah gunung selain telah menipis juga tidak berlangsung lama, atau hanya sekitar dua menit saja.

“Setelah mengeluarkan asap putih tipis sekitar dua menit, setelah itu tidak ada lagi mengeluarkan asap, baru sekitar 10 menit kemudian asap putih kelur lagi,” ucapnya.

Menurut dia, gumpalan asap putih yang terlihat menipis dan tingginya juga telah berkurang dari biasa diperkirakan mencapai 50 meter.

Pada hari Jumat lalu, katanya, gunung mengeluarkan gumpalan asap hitam disusul asap putih berasal dari kawah gunung pada pukul 09.30 WIB.

“Asap mulai tipis dengan tekanan melemah akan seperti itu seterusnya, sehingga warga sudah bisa melakukan aktivitas ke ladang mereka yang dekat dengan pucak gunung,” harapannya.

Petugas pengamatan Gunung Marapi, Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (BGPVMB) Warseno mengatakan, status aktivitas vulkanik gunung yang memiliki ketinggian 2.891 meter di atas permukaan laut itu hingga saat ini masih “Waspada”.

“BGPVMB tetap mengeluarkan larangan bagi masyarakat dan pendaki untuk tidak melakukan pendakian sampai tiga kilometer dari puncak,” katanya.

Gunung itu pada Selasa (20/9) pagi telah mengeluarkan debu vulkanik bercampur belerang sekitar 150 hingga 200 meter dari kawah.

Sebaran abu vulkanik menjangkau beberapa kabupaten dan kota di Sumatera Barat seperti Agam, Tanahdatar, dan Padangpanjang.

Debu vulkanik yang disemburkan Gunung Marapi sejak Agustus 2011 sampai dengan saat ini telah lebih dari 15 kali. (Ant)

Sumber: Sinar Harapan

Gunung Lokon Berhenti Meletus

Gunung Lokon Berhenti Meletus

MANADO–MICOM: Gunung Lokon di Sulawesi Utara (Sulut), Sabtu (24/9), mulai berhenti meletus pascaletusan pada Jumat (23/9) yang mencapai 19 kali.

“Sejak pukul 00.00 WITA-06.00 WITA hari ini tidak ada letusan yang terjadi dari kawah Tompaluan, Gunung Lokon,” ujar staf Pos Pengamatan Gunung Api Lokon dan Mahawu di Kakaskasen, Kota Tomohon, Ferry, Sabtu (24/9).

Meski demikian, Ferry menjelaskan, masih tercatat dua kali gempa tektonik jauh, satu kali gempa vulkanik dalam dan 13 kali gempa vulkanik dangkal.

Gempa di periode enam jam itu masih didominasi gempa embusan yang terjadi sebanyak 14 kali. Sedangkan tremor yang terekam dengan amplitudo 0,5 milimeter.

Ferry juga memprediksi masih akan terjadi letusan-letusan skala kecil akibat adanya suplai energi dari dalam berbentuk gempa vulkanik dalam dan gempa vulkanik dangkal.

“Suplai energi masih terjadi hingga hari ini sehingga potensi terjadinya letusan masih sangat memungkinkan,” imbuhnya.

Hingga kini status Gunung Lokon dijelaskan Ferry masih siaga level III. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung tidak menaikkan statusnya ke awas level IV meskipun telah terjadi peningkatan jumlah letusan sepanjang pekan ini.

Begitupun dengan radius bahaya Gunung Lokon. Dikatakan Ferry, jarak sejauh 2,5 kilometer dari kawah Tompaluan belum dicabut.

“Karena itu kami tetap berharap warga masih mematuhi radius bahaya Gunung Lokon. Apalagi dengan status siaga yang disandang Gunung Lokon keaktifannya masih di atas normal dan tetap berpotensi terjadi letusan,” harapnya. (Ant/OL-12)

Gempa 6,4 SR Guncang Tonga

Gempa 6,4 SR Guncang Tonga


Nukualofa, CyberNews. Gempa berkekuatan 6,4 skala Richter (SR) mengguncang Tonga, negara kepulauan di Samudra Pasifik bagian selatan, Jumat (23/9).

Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) melaporkan, gempa yang mengguncang negara tetangga Selandia Baru ini terjadi pada pukul 12.07 waktu setempat. 

Gempa berpusat di 388 kilometer barat laut Neiafu, 412 kilometer tenggara Apia, pada kedalaman 9,8 kilometer. Hingga berita ini diturunkan, tidak ada laporan korban tewas ataupun kerusakan akibat gempa.

( xinhua / CN33 )

Gunung Marapi Masih Keluarkan Asap Hitam

alt

Gunung Marapi Masih Keluarkan Asap Hitam

alt

BUKITTINGGI – Gunung Marapi di Koto Baru, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, hingga Jumat (23/9) pagi masih mengeluarkan asap hitam.

Pantauan ANTARA di daerah Sungaipuar, Kabupaten Agam, pada pukul 08.15 WIB terlihat puncak Gunung Marapi mengeluarkan asap hitam tapi sudah relatif mulai menipis atau tidak seperti dua hari lalu yang berwarna hitam pekat dengan tekanan kuat.

Seorang warga Sungaipuar, Yulia Ningsih, mengatakan, asap hitam yang dikeluarkan gunung tidak lagi setebal dua hari lalu dan disertai debu vulkanik.

“Gumpalan asap hitam kali ini terlihat menipis dan tingginya juga telah berkurang dari biasa diperkirakan mencapai 50 meter,” katanya.

Dia menyebutkan, gumpalan asap hitam juga berlangsung tidak lama, hanya sekitar lima menit untuk kemudian disusul asap putih.

“Asap putih yang keluar dari gunung setelah asap hitam itu juga tidak begitu lama, hanya 5-7 menit,” katanya.

Gumpalan asap hitam disusul asap putih berasal dari kawah gunung, tidak lagi terlihat setelah puncak gunung itu tertutup kabut sekitar pukul 09.30 WIB.

Seorang warga Sungaipuar lainnya, Jon Badorai, mengatakan, warga setempat setiap pagi hari sering melihat gunung itu mengeluarkan asap bahkan disertai abu vulkanik.

“Sejak gunung meletus sebulan yang lalu, hampir tiap hari asap hitam menggumpal dari kawah gunung,” katanya.

Ia mengatakan, asap putih ataupun hitam yang keluar dari gunung terkadang terlihat sangat tinggi, namun kemudian hilang selama beberapa menit, lalu terlihat lagi.

“Warga yang tinggal di kaki gunung sudah terbiasa melihat asap hitam dan putih tebal itu. Kondisi seperti itu sudah menjadi hal yang biasa oleh warga,” katanya.

Petugas pengamatan Gunung Marapi, Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (BGPVMB) Bukittinggi Warseno mengatakan, status aktivitas vulkanik gunung yang memiliki ketinggian 2.891 meter di atas permukaan laut itu hingga saat ini masih “Waspada”.

“BGPVMB tetap mengeluarkan larangan bagi masyarakat dan pendaki untuk tidak melakukan pendakian sampai tiga kilometer dari puncak,” katanya.

Gunung itu pada Selasa (20/9) pagi telah mengeluarkan debu vulkanik bercampur belerang sekitar 150 hingga 200 meter dari kawah.

Sebaran abu vulkanik menjangkau beberapa kabupaten dan kota di Sumatera Barat seperti Agam, Tanahdatar, dan Padangpanjang.

Debu vulkanik yang disemburkan Gunung Marapi sejak Agustus 2011 sampai dengan saat ini telah lebih dari 15 kali. (Ant)

171 hektar hutan di Jawa Tengah terbakar.

SEMARANG – Sepanjang tahun ini, sudah 171 hektar hutan di Jawa Tengah terbakar. Faktor kelalaian manusia masih mendominasi penyebab kebakaran hingga 95 persen.

Menurut catatan Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Tengah, Sri Puryono, tahun ini kebakaran besar hutan pertama terjadi di kaki Gunung Slamet. “Peristiwa terjadi pada awal September,” ujarnya, Kamis (22/9). Sebanyak 5 hektar hutan musnah terbakar.

Continue reading

PVMBG Bandung mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai banjir

MANADO-Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai banjir lahar Gunung Karangetang di Kabupaten Sitaro, Provinsi Sulawesi Utara, bila sewaktu-waktu terjadi hujan deras.

“Banjir lahar harus diwaspadai karena kemungkinan musim penghujan mulai terjadi hampir di seluruh wilayah Sulawesi Utara, termasuk Kabupaten Sitaro, tempat Gunung Karangetang berada,” ujar Kepala Bidang Pengamatan Gunung Api Wilayah Timur Pusat PVMBG Bandung Kristianto di Manado, Kamis (22/9).

Continue reading