Dihantam Badai dan Banjir, New York Darurat

alt

Dihantam Badai dan Banjir, New York Darurat

alt

Jalan raya utama dan jalan antarnegara bagian ditutup. Puluhan ribu orang dievakuasi.

VIVAnews – Ketinggian air di Sungai Susquehanna mencatatkan rekor tertinggi di Pennsylvania dan New York akibat curah hujan deras dari Badai Tropis Lee. Badai dan banjir yang melanda Amerika Serikat membuat Presiden AS Barack Obama menyatakan kedua negara bagian itu dalam kondisi darurat.

Obama memerintahkan pemerintah federal menurunkan bantuan untuk wilayah di kedua negara bagian itu yang terkena dampak bencana. Menurut BBC, ketinggian air di sungai di Wilkes-Barre, Pennsylvania, pada Jumat 9 September 2011 kemarin mencapai 13 meter.

Saat ini, peringatan banjir masih berlaku untuk wilayah selatan Pennsylvania. Sebelumnya, peringatan banjir juga dikeluarkan di negara bagian Maryland.

Badai Tropis Lee mengantam daratan dekat kota New Orleans, seminggu yang lalu. Badai itu menyapu wilayah timur laut AS, menyebabkan hujan lebat di sejumlah area, dan mengakibatkan setidak-tidaknya 7 orang tewas. Badai Lee juga membuat ratusan ribu orang meninggalkan rumah mereka.

Sebagian konstruksi sebuah jembatan di Pennsylvania roboh, jalan antarnegara bagian ditutup, dan banjir menggenangi berbagai perumahan. Sementara itu, sungai di Binghamton, New York, juga memecahkan rekor debit air. Dan air meluber keluar dari dinding penahan di kedua sisi sungai. Banjir juga membuat jalan raya utama di negara bagian New York ditutup.

Sekitar 20.000 orang di Binghamton diperintahkan dievakuasi, sementara 75.000 lainnya di Wilkes-Barre diperintahkan meninggalkan rumah mereka. Perintah evakuasi akan terus dipertahankan sampai hari Minggu besok atau Senin pekan depan.

Sumber: VIVAnews

Titik Api Terpantau di 381 Lokasi Sumatra

Titik Api Terpantau di 381 Lokasi Sumatra

alt

Pekanbaru:  Analisis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Riau, Warih Puji Lestari, mengatakan saat ini di Pulau Sumatra telah terjadi pertumbuhan titik api atau hotspot yang kian pesat dari seratusan meningkat menjadi 381 lokasi.

Warih, di Pekanbaru, Jumat (9/9), mengatakan dari 381 titik api yang terpantau satelit cuaca “National Oceanic and Atmospheric Administration” (NOAA) 18 dioperasikan Singapura, sebaran terbanyak hotspot di Sumatra Selatan mencapai 179 titik.

Peringkat kedua, kata Warih, diraih Provinsi Jambi dengan lokasi sebaran sekitar 94 titik, menyusul Provinsi Riau 78 lokasi, Lampung 12, Sumatra Utara enam, Bangka Belitung lima, Sumatera Barat empat, Bengkulu dua, dan Provinsi Aceh satu titik api.

“Untuk Riau, sebaran titik api terdeteksi di delapan kabupaten, seperti di Rokan Hulu dan Siak, masing-masing terdapat satu titik api,” katanya.

Kemudian lanjut Warih, titik api juga terdapat di Kabupaten Kampar sebanyak dua lokasi, Rokan Hilir tiga Kuantansingingi empat, Indragiri Hilir 15, Pelalawan 25, dan Indragiri Hulu 27 titik.

Tingginya kemunculan titik api di sebagian besar Sumatera khususnya Riau, menurut Warih, lebih disebabkan cuaca saat ini masih cenderung panas sehingga merangsang kekeringan di sejumlah wilayah yang terdapat lahan hutan atau dipenuhi semak belukar.

“Kondisi ini sebaiknya tidak diperparah lagi dengan aktivitas pembakaran lahan karena hal demikian dapat menyulut suhu udara panas dan kekeringan semakin parah,” kata Warih.

Dia memprediksi titik api terpantau pada Kamis (8/9) tersebut dimungkinkan akan terus bertambah mengingat saat ini musim masih dalam tahap transisi atau pancaroba dari kemarau ke penghujan.

“Prakiraan cuaca saat ini (Jumat, 9/9) hingga beberapa hari kedepan, sebagian besar wilayah Sumatera terutama Riau juga masih minim hujan.

Potensi masih tetap ada, tetapi kemungkinan hujan turun masih berintensitas ringan hingga sedang dan sifatnya lokal,” kata Warih. (Ant/ICH)

Sumber: Metrotvnews.com


Korban Gempa Sekolah di Tenda

Jumat, 09 September 2011 00:03 WIB

KORBAN GEMPA SEKOLAH DI TENDA

RIBUAN siswa di Aceh dan Sumatra Utara mulai mengikuti kegiatan belajar-mengajar, setelah libur Lebaran, kemarin. Namun, berbeda dengan di daerah lain, ratusan siswa di Kota Subulussalam, Aceh, dan Kabupaten Dairi, Sumatra Utara, harus rela belajar di bawah tenda darurat.

Gempa berkekuatan 6,7 pada skala Richter, Selasa (6/9), menghancurkan gedung Sekolah Dasar Negeri 6, Desa Pasir Panjang, Kecamatan Simpang Kiri, Subulussalam. Tenda darurat dipasang di halaman sekolah.

Sekitar 178 siswa tetap mengikuti proses belajar-mengajar di tenda darurat. Mereka terlihat tetap bersemangat untuk belajar. Namun, beberapa di antara mereka juga terlihat tidak bisa menyembunyikan kesedihan melihat enam ruang kelas yang roboh.

Siswa berharap, pemerintah segera membangun kembali enam ruang kelas itu sehingga mereka bisa kembali belajar dengan tenang. “Kami ingin bisa belajar seperti dulu lagi,” kata Rini, siswa kelas IV.

Di kota ini, tercatat ada 30 bangunan sekolah rusak karena gempa. Selain SD ada juga SMP dan SMA. Kerusakan paling parah terjadi di 11 sekolah.

Di Dairi, dua gedung sekolah rusak berat. Salah satunya terjadi di SD Negeri 030411, di Desa Kentara, Kecamatan Lae Parira, Dairi. Anak-anak pun belajar di bawah tenda dengan peralatan seadanya.

Pada hari yang sama, keluarga Rianda Saputra, 10, korban tewas saat gempa terjadi di Subulussalam, meminta polisi mengusut secara hukum pemilik rumah toko. Bangunan ruko itu ambruk saat gempa dan reruntuhan bangunannya menimpa korban hingga tewas.

“Ruko itu roboh karena kelalaian pemiliknya. Bangunan tidak dilengkapi besi yang memadai, sehingga mudah patah,” kata Murdian, 45, paman korban.

Ruko itu berada di sebelah rumah korban. Saat runtuh, korban berada di halaman rumah dan tertimpa tembok ruko.

Ia menyebutkan, saat gempa Mentawai 2009, dinding ruko itu juga runtuh. Namun, pemiliknya tidak membangun gedung itu dengan sempurna sesuai dengan standar tahan gempa.

Keluarga korban sudah melaporkan kasus itu ke polisi untuk diproses secara hukum.

Kabag Humas Pemkot Subulussalam Muhammad Amrin Tibro mengakui dinding gedung itu sudah dua kali roboh karena gempa. (HP/MR/N-2)

Sumber: Media Indonesia

Gempa Guncang Zona Nuklir Jepang

Gempa Guncang Zona Nuklir Jepang


Internasional (Tokyo)/ Jumat, 9 September 2011 06:17 WIB

Gempa bumi mengguncang kawasan pantai timur laut Jepang, Kamis (8/9) malam. Tapi tidak ada laporan mengenai kerusakan atau peringatan tsunami.

Gempa itu mengguncang kawasan Lautan Pasifik, tidak jauh dari pusat gempa bumi dan tsunami 11 Maret yang menewaskan lebih dari 20.000 orang, dan menyulut krisis nuklir terburuk dunia sejak bencana Chernobyl 25 tahun lalu. “Gempa bumi terakhir itu berkekuatan 5,2 skala Richter dan berada di kedalaman 29 kilometer,” kata Badan Gempa AS.

Gempa itu terjadi pukul 22.38 waktu setempat (pukul 20.38 WIB), sekitar 137 kilometer dari Fukushima, lokasi pusat listrik tenaga nuklir yang lumpuh dan menyebarkan radiasi sejak bencana Maret.(Ant/DNI)

Sumber: Metrotvnews.com

Gempa Vulkanik Gunung Lokon Meningkat

Gempa Vulkanik Gunung Lokon Meningkat

MANADO | SURYA Online – Gunung Lokon di Provinsi Sulawesi Utara kembali menunjukkan peningkatan aktivitas kegempaan vulkanik yang bisa memicu letusan, Kamis (8/9/2011).

Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Lokon dan Mahawu, Farid Ruskanda Bina, di Kakaskasen, Kota Tomohon, Kamis (8/9/2011), mengatakan, bila akumulasi gempa vulkanik tidak berhenti, diprediksi Gunung Lokon kembali akan meletus.

“Gempa vulkanik mengindikasikan suplai energi dari dalam masih cukup besar. Bila masih berlanjut kemungkinan akan terjadi juga letusan,” katanya.

Enam jam sehari sebelumnya, pukul 18.00-24.00 WITA, terekam satu kali gempa vulkanik dalam dan delapan kali gempa vulkanik dangkal. Gempa embusan terekam sembilan kali, sedangkan tremor masih terus bergerak dengan amplitudo 0,5-1 milimeter.

Hari ini, sejak pukul 00.00-06.00 WITA sudah terekam 13 kali gempa vulkanik dangkal dan satu kali gempa vulkanik dalam.

Kebakaran Hutan di Lereng Sumbing Meluas Hingga 20 Hektar

Kebakaran hutan di lereng Gunung Sumbing, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah semakin meluas. Kebakaran yang terjadi di wilayah Badan Kesatuan Pemangku Hutan (BKPH) petak 27 tepatnya di Desa Kemloko, Kecamatan Tembarak, Kabupaten Temanggung ini sudah mencapai 20 hektar.  Asisten Perhutani BKPH Temanggung, Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Perum Perhutani Kedu Utara, Juni Junaedi, Rabu(07/09/2011) di Temanggung, mengatakan hingga siang ini kebakaran hutan belum bisa dipadamkan.


Continue reading