Gunung Papandayan masih pada Level III

Meski hingga saat ini status Gunung Papandayan masih pada Level III atau Siaga, Pemkab Garut menyiapkan rencana atau skenario langkah-langkah darurat untuk mengantisipasi jika gunung itu meletus dalam waktu dekat. Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Garut H Iman Alirahman SH MSi, mengatakan, upaya tersebut dilakukan guna mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan terjadinya bencana jika Gunung Papandayan meletus dalam waktu dekat ini.

Continue reading

Lokon Keluarkan Abu Vulkanik Setinggi 150 Meter

Letusan dari Kawah Tompaluan Gunung Lokon terus terjadi. Tercatat tiga letusan dengan mengeluarkan abu vulkanik, Kamis (25/8) kemarin. Letusan pertama terjadi sekitar pukul 09.12 Wita, kemudian disusul letusan kedua pukul 10.22 Wita dan terakhir pukul 19.50 Wita.

Continue reading

Gempa Susulan Lebih Besar Mengguncang Singkawang

Gempa kembali mengguncang wilayah Kota Singkawang dan Kabupaten Bengkayang, Rabu (24/8/2011) malam. Kali ini, kekuatan gempa lebih besar dibanding yang terjadi sebelumnya pada Selasa (23/8/2011) pagi. Gempa di Kalbar merupakan fenomena langka. Selama ini, wilayah Kalimantan dianggap paling aman dari gempa, karena tidak menjadi lintasan lempeng induk dunia. Karena itu, ketika terjadi gempa, warga di daerah ini menjadi panik bukan main.

Continue reading

Aktifitas Gunung Lokon Meningkat Lagi

Aktivitas Gunung Lokon di Sulawesi Utara meningkat lagi dan berpotensi terjadi letusan. “Kegempaaannya terus meningkat.

    Hal ini bisa mengindikasikan akan terjadi letusan lagi. Kami hanya memprediksinya dan kami tidak tahu kapan akan terjadi,” kata Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Lokon dan Mahawu di Kakaskasen, Kota Tomohon, Farid Ruskanda Bina, di Tomohon, Selasa.

Continue reading

Gempa Lampung Barat

Masyarakat Lampung Berhamburan Rasakan Gempa 6,2 SR

Selasa, 23 Agustus 2011 05:34 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,LIWA, LAMPUNG–Masyarakat Pesisir Lampung Barat berhamburan ke luar rumah akibat merasakan gempa berkekuatan 6,2 Skala Richter (SR), bahkan sebagian besar masyarakat menjauh dari pantai di takutkan gempa tersebut berpotensi Tsunami.

“Guncangan gempa terasa sangat kuat, gempa tersebut mengakibatkan perabot rumah tangga saya terguling, sehingga saya segera menyelamatkan diri karena takut getaran gempa tersebut dapat merobohkan rumah saya,” kata masyarakat Kecamatan Pesisir Tengah Lampung Barat, Mat Saifudin (38) sekitar 320 Km dari Bandarlampung, di Krui, Selasa pagi.

Dia menjelaskan, sebagian besar masyarakat keluar rumah dan lari di tanah lapang. Menurut dia, getaran gempa sangat kuat membuat sebagian besar tiang listrik bergoyang kencang. “Getaran gempa kali ini sangat kuat di bandingkan beberapa hari lalu, bahkan getaran tersebut membuat atap rumah yang terbuat dari seng berbunyi keras, sehingga saat getaran terjadi menimbulkan suara sangat gaduh,” kata dia lagi.

Dia mengakui, masyarakat yang berada di lokasi pantai berlari menjauh, yang dikhawatirkan gempa tersebut dapat berpotensi Tsunami. Kemudian lanjut dia, masyarakat enggan kembali kerumah, karena di takutkan gempa susulan terjadi. “Dalam sepekan terakhir Lampung Barat kerap di guncang gempa, dan kondisi ini jelas membuat masyarakat takut, dan yang kami sesalkan saat terjadi gempa, masyarakat tidak mendapatkan informasi yang jelas apakah gempa tersebut berpotensi Tsunami atau tidak,” kata dia lagi.

Sementara itu masyarakat Kelurahan Way Mengaku, Kecamatan Balikbukit, Lampug Barat, Tarsim (37) mengatakan, getaran gempa mampu menggoyangkan lemari dan perabot berat lain. “Gempa yang terjadi jelas membuat masyarakat panik, yang kami takutkan getaran tersebut dapat mengancam keselamatan, sebab dari beberapa gempa yang terjadi beberapa hari lalu tidak sekuat kali ini, sehingga mampu menggeser benda berat,” kata dia.

Dia memaparkan, kondisi tanah di Kota Liwa sangat labil, sehingga saat terjadi gempa mampu merobohkan tempat tinggal. Kemudian Tarsim menjelaskan, meskipun getaran gempa terjadi hanya beberapa detik, akan tetapi kekuatannya mampu menjatuhkan perabot rumah.

“Gempa menjadi sesuatu paling menakutkan bagi kami, sebab gempa dahsyat pernah terjadi di Lampung Barat dan menewaskan ratusan orang, sehingga saat gempa mengguncang daerah ini, jelas masyarakat segera menyelamatkan diri dan menuju tanah lapang, karena takut musibah besar itu akan terjadi kembali,” kata Tarsim lagi.

Sebelumnya Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menginformasikan terjadi gempa berkekuatan 6,2 skala Richter (SR), Selasa pukul 03.12 WIB dengan pusat 140 kilometer Barat Daya Krui Lampung . Gempa yang berlokasi di 6,45 Lintang Selatan 103,91 Bujur Timur dengan kedalaman 10 kilometer dinyatakan tidak berpotensi tsunami.

Pusat gempa juga berada 154 Barat Daya Liwa-Lampung, 179 Kilometer Barat Laut Ujungkulon-Banten, 188 Barat daya Tanjung Karang-Lampung, 325 Kilometer Barat Daya Jakarta-Indonesia. Hingga Selasa pukul 05.00 WIB belum ada laporan kerusakan maupun korban jiwa akibat gempa tersebut.

Redaktur: Krisman Purwoko
Sumber: antara,

Kegempaan Gunung Papandayan di Atas Normal

Garut – Kegempaan Gunung Papandayan, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, sudah di atas normal, yakni mencapai enam kali, sejak Sabtu dinihari (13/8), pukul 00.00 WIB hingga pukul 06.00 WIB.

“Kegempaan di Papandayan sudah terjadi enam kali, itu di atas normal,” kata Momon salah satu petugas Pos Pengamatan Gunung Papandayan di Kecamatan Cisurupan, Sabtu.

Continue reading

Debu Gunung Lokon Jatuh di Manado

Gunung Lokon di Tomohon Sulawesi Utara masih terus menunjukkan aktifitas. Senin (22/8) sekitar pukul 07:00 Wita, gunung tersebut kembali memuntahkan material debu. Warga Tomohon memang banyak yang tidak mengetahuinya karena di saat bersamaan, awan sedang menutupi Kota Tomohon alias mendung.

Continue reading

Gunung Lokon Kembali Semburkan Debu Vulkanik

Aktivitas Gunung Lokon di Kota Tomohon, Sulawesi Utara, belum berhenti. Bahkan Sabtu, 20 Agustus 2011, gunung ini mengeluarkan dua kali letusan pada pukul 07.00 WITA dan pada pukul 17.33 WITA. “Ada semburan debu vulkanik yang dikeluarkan oleh Gunung Lokon dengan ketinggian mencapai 200 meter,” ujar Kepala Pos Pemantau Gunung Berapi Sulawesi Utara Farid Ruskanda Bina kepada Tempo, Ahad, 21 Agustus 2011.

Continue reading