7 ribu penduduk dekat kaki Gunung Lokon akan dievakuasi

TOMOHON – Hari ini, Selasa (12/7/2011) sekitar 7 ribu jiwa yang berada dekat kaki Gunung Lokon yaitu di wilayah Kinilow dan Kakaskasen dijadwalkan dievakuasi seirig meningkatnya aktivitas vulkanik gunung tersebut.

Plt Sekkot Tomohon, Arnold Poli kepada Tribun Manado (Tribunnews.com Network), Senin malam mengatakan tindakan ini seperti yang direkomendasikan kepada Pemko Tomohon. “Ini semua jumlah warga yang berada dekat kaki gunung Lokon yang akan dievakuasi berdasarkan data yang kami terima,” ujarnya. Meskipun evakuasi baru akan dilakukan hari ini, tidak menutup kemungkinan warga Kinilow dan Kakaskasen melakukan evakuasi sendiri sejak Senin malam. “Mereka  juga sudah bisa melakukan evakuasi sendiri ke keluarga yang tinggal jauh dari kaki gunung Lokon,” jelasnya.

Pantauan Tribun di depan kantor bekas Rindam, Tomohon Senin malam (11/7/2011) puluhan mobil bus sekolah, mobil pemadam dan mobil-mobil dari badan SAR yang akan digunakan untuk evakuasi sudah siaga di depan kantor. Jajaran muspida Tomohon, SAR Kota Tomohon, termasuk Basarnas juga sudah siaga di lokasi ini untuk menunggu intruksi selanjutnya. Direncanakan mulai Selasa besok sudah akan mulai dibangun tenda-tenda di tiga titik lokasi evakuasi warga, yaitu di Walian, Kantor Walikota dan di Pineleng.

Source:tribunnews.com

Hari ketiga, Rabu- 6 Juli 2011

Sesi I

Kegiatan hari ketiga, Rabu Tanggal 06 Juli 2011 dimulai langsung dengan Materi pertama yang dibuka oleh seorang Ahli Anestesi, dr. Christijogo, Sp.A. beliau memaparkan tentang Sistem Informasi dan Komunikasi. Tujuan dari materi yang dibawakan adalah untuk membangun suatu budaya agar bisa  mengatasi kekurangan maupun ketidak kompakan antar instansi atau subsistem atau badan di lingkungan rumah sakit dalam menghadapi bencana. Selain itu, meningkatkan kecepatan informasi sampai ke tempat tujuan, meningkatkan ketepatan dan keakuratan informasi dan informasi yang ada dapat di pertanggung jawabkan (reliable). Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan tentang konsep dasar sistem informasi, siklus pengembangan sistem informasi, sistem informasi kesehatan, serta komunikasi dan koordinasi pada saat terjadi bencana serta pusat komando rumah sakit dalam sistem informasi. Di akhir materi, peserta diberikan tugas untuk membahas permasalahan yang terkait dengan materi yang sudah disampaikan.

Download Materi Sesi I

Sesi II

Selesai materi pertama, dilanjutkan dengan refleksi dari kegiatan hari kedua oleh peserta yang diwakili oleh 4 orang yang berbeda dari hari sebelumya, yang ditunjuk berdasarkan hasil kesepakatan kelas. Refleksi ini selama 30 menit dengan tiap peserta menceritakan kegiatan yang didapat pada hari kedua dari sudut pandang Eye, Ear, Mechanic dan House Keeper.

 

 

 

 

Sesi III
Setelah refleksi materi hari kedua, maka dilanjutkan dengan materi yang disampaikan oleh Head of Emergency departement  of Saiful Anwar General Hospital Malang sekaligus sebagai Head of Laboratory Emergency Medicine Medical Faculty of Brawijaya Univercity, dr. Ari Prasetyadjati. Materi yang beliau sampaikan adalah tentang Dasar–Dasar Logistik pada Hospital Disaster Plan. Setelah penyampaian materi ini, diharapkan  peserta mampu memahami dasar-dasar logistik (perbekalan kesehatan), mampu melakukan pendampingan dalam pembuatan SOP, mampu melakukan pendampingan dalam pembuatan SOP mengenai pembuatan perencanaan kebutuhan logistik, mampu melakukan pendampingan dalam pembuatan SOP mengenai pengadaan logistik, mampu melakukan pendampingan dalam pembuatan SOP mengenai penerimaan, penyimpanan, pengeluaran, pendistribusian, pencatatan, pelaporan dan penghapusan logistik. Dalam penjelasan beliau, kita bisa ketahui tentang penilaian jumlah sumber daya manusia, sarana dan prasarana yang tersedia di rumah sakit yang berhubungan dengan logistik, dan Pembuatan perencanaan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pengeluaran, pendistribusian Pencatatan dan pelaporan serta penghapusan kebutuhan logistik

Download Materi Sesi III

Sesi IV

Penyampaian materi dilanjutkan oleh Seorang Akademisi yang sangat menaruh perhatiannya kepada Manajemen Bencana, sekaligus dari Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan FK UGM, dr. Bella Donna, M.Kes. Materi yang disampaikan adalah tentang Fasilitas Rumah Sakit Dalam Bencana. Tujuan yang ingin dicapai adalah peserta mampu memahami fasilitas dan sarana prasana rumah sakit yang diperlukan dalam penanganan bencana. Diawal sesi, beliau langsung mengajak peserta untuk menganalisa permasalahan melalui video emergency cases -triage yang. Peserta diminta untuk memberikan tanggapan terhadap video yang ada. Beliau membawa peserta kedalam suasana yang lebih santai tapi materi yang ingin disampaikan tercapai dengan diskusi yang dilakukan, media yang digunakan adalah sticky wall dan peserta diminta untuk menempelkan kertas tempel yang sudah dituliskan jawab tentang fasilitas yang tergambar pada video emergency cases -triage.

Download Materi Sesi IV

Gallery Foto Hari Ke-3
{gallery}tot_p3{/gallery}
{jcomments on}



Hari ke-2, Rabu 06 Juli 2011

Kegiatan hari kedua, Rabu Tanggal 06 Juli 2011 dimulai dengan refleksi dari kegiatan hari pertama oleh peserta yang diwakili oleh 4 orang selama 30 menit. Tiap peserta menceritakan kegiatan yang didapat pada hari pertama dari sudut pandang Eye, Ear, Mechanic dan House Keeper. Setelah refleksi hari pertama, kemudian masuk ke materi kegiatan.

Sesi I

Materi pertama, disampaikan oleh President Asian Hospital Federation (AHF), dr. Adib Abdullah Yahya, MARS. Beliau menjelaskan tentang Dasar-dasar organisasi, tujuan pembelajaran dari materi ini adalah agar mampu melaksanakan pengorganisasian yang tepat dari semua unsur yang ada di rumah sakit guna memaksimalkan kinerja dalam pemberian pelayanan kesehatan kepada pasien/korban akibat bencana, mampu menyusun struktur organisasi Hospital Disaster Planing dan mengimplementasikan sistem pengendalian serta mengkoordinir unsur-unsur operasional, logistik, perencanaan dan keuangan. Selain itu, dibahas juga tentang prinsip-prinsip pengorganisasian pada saat bencana, sistem pengendalian di rumah sakit, uraian tugas dari tiap komponen organisasi, kartu tugas (job action sheets) merupakan komponen yang menjelaskan respon baik pejabat termasuk staf yang ada dibawahnya. Diakhir sesi pertama, peserta diberi penugasan. Peserta dibagi menjadi 4 kelompok untuk membahas 3 permasalahan yang diberikan, yaitu tentang struktur organisasi tim penanggulangan bencana di rumahsakit dengan menggunakan metode “crosswalk”, kemudian mengaktifkan tim bencana rumahsakit diluar jam kerja saat ada peringatan terjadi kecelakaan pesawat, dan kesiapsiagaan  menghadapai  banjir, wabah muntaber, kerusuhan massal, dan letusan gunung berapi. Setelah peserta membahas permasalahan dalam kelompok, kemudian dibahas tiap kelompok didepan kelas.
Download Materi Sesi I

Sesi II

Setelah sesi pertama, dilanjutkan dengan materi kedua tentang Monitoring dan evaluasi Hospital Disaster Planning (HDP), disampaikan oleh pemateri yang sama, dr. Adib Abdullah Yahya, MARS. Pada sesi ini diharapkan peserta memahami pentingnya pelatihan/exercise secara benar untuk Hosdip dalam rangka uji coba, monitoring dan evaluasi dalam rangka tersusunnya Hosdip yang dapat diterapkan di rumah sakit. Selain itu, diharapkan peserta mampu menyusun program pelatihan secara bertahap dan berkala, serta mengevaluasi kondisi rumah sakit disesuaikan dengan tuntutan Hosdip pada tingkat kesiapan rumah sakit menghadapi bencana dan melakukan revisi Hosdip yang sudah ada. Dalam materi ini peserta diberikan penjelasan tentang program evaluasi latihan dan insiden, metodologi, tujuan, Latihan dan Evaluasi Insiden, Jenis latihan, serta Proses Evaluasi Latihan dan Insiden.

Download Materi Sesi II

Sesi III

Materi ketiga tentang Kebijakan Rumah Sakit Dalam Penanggulangan Bencana disampaikan oleh Kasubdit RS Khusus dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Lainnya, Direktorat Bina Upaya Kesehatan Rujukan, dr. Cut Putri Arianie. Pada sesi ini dijelaskan tentang Sistim Pelayanan Gawat Darurat Terpadu-Sehari (SPGDT-S), Implementasi SPGDT membutuhkan komitmen semua stakeholder, sistem monitoring & evaluasi, pelatihan yang berkesinambungan, didukung keterlibatan dari sektor terkait, jejaring komunikasi dan sistem e-health, public safety center merupakan penanganan pertama kegawadaruratan yang membantu memperbaiki pelayanan pra RS yang meliputi 3 unsur (unsur kesehatan, unsur pengamanan dan unsur penyelamatan), Siklus Manajemen Bencana, Safe Community, Pengembangan Jejaring RS untuk kedaruratan Medik dan bencana dengan tujuan pembentukan jejaring RS berbasis 9 pusat regional dan membentuk jejaring local. Selain itu, juga dibahas tentang evaluasi HDP bagi rumah sakit yang sudah memiliki, prioritas RS yang harus menyusun HDP, serta Pola pengembangan untuk menuju semua RS memiliki HDP.

Download Materi Sesi III

Sesi IV

Materi keempat disampaikan oleh dr. Tri Wahyu Murni, Sp. Bedah Thorax Kardiovaskuler, dengan judul Analisis Risiko Bagi Rumah Sakit pada Kejadian Bencana. Pada sesi ini diharapkan peserta mampu melakukan analisis risiko pada kejadian bencana baik yang terjadi di rumah sakit maupun diluar rumah sakit yang dapat digunakan untuk menyusun perencanaan rumah sakit dalam penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. Selain itu, peserta diharapkan mampu melakukan identifikasi karakteristik  kejadian bencana  dan potensi kerusakan yang terjadi, melakukan analisis risiko terjadinya  krisis kesehatan akibat  bencana, serta mengidentifikasi dan melakukan analisis kebutuhan rumah sakit  untuk penanganan krisis kesehatan akibat bencana. Pada sesi ini, dibahas juga tentang penanganan di lokasi bencana dan lapangan, pengiriman tim kelapangan untuk bencana, evakuasi pasien pada bencana di rumah sakit serta penanganan pengungsi. Diakhir sesi dilakukan diskusi antar peserta dalam 4 kelompok, yaitu Jambi, Bengkulu, Palembang, dan Bangka Belitung.

Download Materi Sesi IV

Sesi V

Sesi terakhir pada hari kedua ditutup dengan materi Teknik Melatih, disampaikan oleh Natsir, S.Pd, M.M, Pusdiklat Aparatur Kemenkes RI. Tujuan pembelajaran materi ini secara umum adalah agar peserta mampu mempraktikkan kegiatan menjadi fasilitator dalam proses pembelajaran pelatihan dikelas. Sementara itu, secara khusus adalah mempersiapkan proses pembelajaran, memilih ragam metode pembelajaran yang tepat/efektif untuk kebutuhan dan tujuan pembelajaran, memilih media dan alat bantu sesuai metode dan tujuan pembelajaran, menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif, menggunakan teknik presentasi interaktif pada proses pembelajaran materi yang difasilitasi serta melakukan evaluasi hasil pembelajaran. Di akhir sesi, peserta dibagi menjadi 4 kelompok untuk membuat Satuan Acara Pembelajaran dan Powerpoin materi untuk kegiatan Micro Teaching, yang dilaksanakan pada hari selanjutnya, Hari ketiga, Kamis 7 Juli 2011.

Download Materi Sesi V

{gallery}tot_p2{/gallery}

{jcomments on}

Hari ke-1, Selasa (5 Juli 2011)

Kegiatan hari pertama, selasa 5 Juli 2011 diawali dengan kegiatan pretest yang diikuti oleh seluruh peserta, kemudian dilanjutkan dengan permainan yang bertujuan untuk perkenalan dengan seluruh peserta dan membangun keakraban antar peserta dan panitia. Setelah selesai permainan, dilanjutkan dengan materi.

Materi pertama disampaikan oleh dr. Hendro Wartatmo, Sp.B.KBD tentang Manajemen Rumah Sakit dalam Penanggulangan Bencana selama 2 jam, beliau memaparkan tentang permasalahan dan situasi yang terjadi pada masa bencana, pengelolaan tidak bisa dilakukan seperti dalam keadaan normal karena akan terjadi Chaos (kekacauan) sehingga memerlukan adanya manajemen bencana. Keadaan ini otomatis melibatkan rumah sakit dalam penanganan korban dan diharapkan rumah sakit menjadi Safe Hospital, yaitu rumah sakit siap untuk menghadapi bencana baik dari aspek SDM, standar fungsi dan keamanan serta sarana dan prasarana. Semua aspek tersebut harus diorganisir dalam perencanaan Rumah Sakit Dalam Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana (Hospital Disaster Plan/HDP) yang terstruktur dan komprehensif. HDP merencanakan dengan menyiapkan dengan apa yang ada, serta dengan pemikiran kalau ada bencana bisa merencanakan jaringan (networking) dengan Rumah Sakit maupun instansi Kesehatan lainnya.

Download Materi Sesi I

Materi kedua disampaikan oleh Kepala Pusat Penanggulangan Krisis bencana tentang Kebijakan  dan Strategi Nasional dalam Penanggulangan Krisis Bencana. Beliau menjelaskan bagaimana kebijakan bencana yang ada di Indonesia. Bagaimana peran pusat dalam penanganan bencana. Dalam materi ini juga peserta dapat lebih mengerti mngenai kebijakan yang sangat dibutuhkan bila daerah mereka terkena bencana serta UU yang menyangkut penanggulangan bencana. Kepala Pusat Penanggulangan Krisis juga menceritakan mengenai 9 regional penanggulangan Krisis yang ada di Indonesia. Regional ini dipilih berdasarkan akses daerah, karena diharapkan bila terjadi bencana  didaerah maka pihak regional dapat segera turun membantu dan menilai keadaan  bencana untuk dapat segera member laporan ke pusat.

Download Materi Sesi II

Materi ketiga disampaikan oleh dr. Hendro Wartatmo, Sp.B KBD tentang Komponen HDP. Beliau memaparkan bahwa komponen HDP minimal meliputi kebijakan, organisasi, Protap-SOP, Sistim Komando, Sistim Komunikasi dan informasi, Fasilitas, Form dan checklist serta Monitoring dan evaluasi dengan kelengkapan dokumen dari tiap-tiap komponen serta adanya tufoksi yang jelas dari masing-masing komponen. Dalam penjelasan beliau juga dipaparkan tentang kartu tugas dan form dari tiap Pejabat dan bidang kegiatan. Selain itu, juga tentang denah dan fasilitas evakuasi bencana di RS.

Download Materi Sesi III

Gallery Foto Hari Pertama
{gallery}tot_p1{/gallery}
{jcomments on}


Status Gunung Lokon menjadi Awas Level IV

Status waspada alias level III Gunung Lokon di Tomohon, Sulawesi Utara, dinaikkan menjadi awas (level IV) per 10 Juli 2011 pukul 22.00 Wita. Masyarakat setempat pun diminta mewaspadai ancaman bahaya letusan yang terjadi tiba-tiba dengan diiringi lontaran material pijar dan hujan abu tebal.

Berdasar informasi dari www.vsi.esdm.go.id, Senin (11/7/2011), sejak 9 Juli 2011 gempa vulkanik dan frekuensi letusan telah menunjukkan peningkatan secara signifikan. Sedangkan pada 10 Juli 2011 pukul 05.01 Wita teramati abu letusan putih kelabu dengan tinggi lebih kurang 500 meter.

Sejak akhir Juni, melalui seismograf PS-2 sistem telemetri, hingga 10 Juli 2011 terekam gempa vulkanik dalam, gempa vulkanik dangkal, gempa letusan, serta getaran tremor vulkanik. Selain itu, berdasar pengukuran gas SO2 di Gunung Lokon sejak 30 Juni 2011 hingga 10 Juli 2011 menunjukkan fluktuasi jumlah gas SO2 yang dikeluarkan oleh aktivitas Gunung Lokon saat ini. Nilai pengukuran SO2 yang bersifat fluktuatif, mengindikasikan masih adanya suplai gas vulkanik dari magma.

Continue reading

Kabut Asap Menyelimuti Dumai

Kabut asap yang cukup tebal menyelimuti kota Dumai, Riau. Kabut ini cukup menggangu aktivitas warga, sehingga Dinas Kesehatan setempat membagikan masker pada warga setempat.

“Sudah seminggu ini kabut asap terjadi. Sekarang kabutnya makin tebal, jarak pandang saat ini hanya 500 meter,” kata Aan, salah seorang warga Dumai melalui Info Anda detikcom, Senin (11/7/2011).

Aan mengatakan, kabut asap ini timbul akibat kebakaran lahan di daerah itu. Kebakaran lahan ini kerap timbul saat musim kemarau tiba. “Kemarin sempat hujan sehingga kabutnya hilang sebentar, tapi sekarang muncul lagi,” terangnya.

Continue reading

Peringatan tsunami untuk Selandia Baru dan Tonga dicabut

Peringatan tsunami untuk Selandia Baru dan Tonga Kamis (7/7) telah dicabut, tapi resiko yang membahayakan masih ada pascagempa berkekuatan 7,6 SR yang melanda wilayah tersebut.

Pusat Peringatan Tsunami Pasifik (PTWS) telah mengeluarkan peringatan tsunami setelah gempa melanda lepas pantai Kepulauan Kermadec, Selandia Baru, pada pukul 07.03 waktu setempat (pukul 02.03 WIB Rabu) pada kedalaman hanya satu kilometer.

Survei geologi AS pada awalnya mengukur gempa itu berkekuatan 7,8 SR, kemudian menurunkannya menjadi 7,6, dan PTWS menyatakan gempa itu mugkin telah menimbulkan gelombang destruktif di dekat pusat gempa di Kermadec, di bagian timurlaut Selandia Baru.

Continue reading

Gempa 5.0 SR di Bengkulu

Jumat (8/7) Pada pukul 08.04 WIB Gempa berkekuatan 5,0 skala Richter (SR),  kembali mengguncang Bengkulu. “Gempa terjadi pada 170 KM Barat daya Bengkulu 182 km Barat Daya Padang Betuah, 186 km Barat Daya Lais-Bengkulu, 203 km Barat Daya Kepahiang Bengkulu, 605 km Barat Laut Jakarta,” kata kepala BMKG, Bengkulu Dadang Permana, Jumat.

Gempa kekuatan 5,0 SR ini berada pada kedalaman 10 KM Perairan Bengkulu dan tidak berpotensi tsunami. Gempa ini sebagian besar tidak dirasakan oleh warga yang kebanyakan telah memulai aktivitas.

“Saya tidak merasakannya jika ada gempa. Enggak tahu mungkin sudah kebiasaan dengan gempa yang besar mungkin ya,” ujar Yani, mahasiswa salah satu perguruan tinggi negeri di Bengkulu.

Getaran Tremor Akibat Letusan Soputan mencapai 1 mm

Getaran di permukaan dangkal (tremor) Gunung Soputan saat ini tercatat masih 0,5 sampai 1 milimeter dan masih terus berlangsung.
“Ini tremornya masih terus-menerus, kalau kondisi normal tremornya tidak ada,” ujar Oktori Prambada, Ketua Tim Tanggap Darurat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Bandung, Rabu (6/7/2011).
Meski begitu, kata dia, amplitude atau besaran gempa sudah berkurang. Hingga Rabu sekitar pukul 11.30 Wita, tercatat sudah dua kali terjadi gempa tektonik, dua kali gempa vulkanik dalam, 25 kali gempa guguran, dan tiga kali gempa hembusan. “Sehingga aktivitas Gunung Soptutan masih siaga,” ucap Oktori.

TRAINING OF TRAINER di Palembang

alt

 

TRAINING OF TRAINER

Peningkatan Kapasitas SDM dalam Penyusunan Perencanaan Rumah Sakit dalam Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana

PALEMBANG, 05 – 08 JULI 2011

alt

Pengantar

Pada tanggal 5 hingga 8 Juli 2011 Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan WHO, USAID dan Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan (PMPK) UGM menyelenggarakan Training of Trainer (TOT) Kapasitas Petugas Dalam Perencanaan Rumah Sakit Dalam Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana (Hospital Disaster Plan/HDP). Pelatihan ini dilakukan di Hotel Jayakarta Daria, Pelembang Sumatera Selatan. Tujuannya adalah peserta mampu mendampingi penyusunan dokumen perencanaan penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana di rumahsakit. Peserta acara ini berjumlah 28 peserta yang berasal dari  WHO, Pusdiklat Aparatur, IDI, PMPK, Dinkes Provinsi, RS Provinsi, Dinkes Kab/Kota, dan RS Kab/Kota). Kegiatan dibuka oleh Ketua Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan, Mujiarto, SKM, MM. Sambutan pembuka beliau menyatakan bahwa wilayah Sumatera rawan bencana, misalnya Sumatera Selatan bencana banjir dan kebakaran hutan, Jambi dan Bengkulu rawan dengan gempa, Bangka Belitung lebih aman. Maka, dibutuhkan kesiapsiagaan untuk menghadapi bencana yang sifatnya tidak bisa diprediksi kapan akan terjadi. Beliau berharap, melalui kegiatan TOT HDP akan mampu mencetak ‘provokator’ yaitu fasilitator yang mampu mempengaruhi rumah sakit lain untuk menjadi Safe Hospital serta mampu melakukan advokasi terhadap pimpinan dan rumah sakit lain yang ada diwilayahnya.

Untuk Mengikuti Pelatihan selengkapnya silahkan klik Tombol dibawah ini:

altaltalt

Lampiran:

 

Silakan untuk Peserta TOT Hosdip Palembang bisa Join ke: