Facilitator’s Pages

Facilitator’s Pages

Deskripsi

Tabletop exercise ini mengarahkan diskusi menuju gambaran “bagaimana surveilans sesudah kejadian bencana sebaiknya dilakukan.?” Pengalaman menunjukkan bahwa kondisi sesudah kejadian bencana memudahkan peningkatan kejadian penyakit. Surveilans merupakan salah satu cara utama untuk mendeteksi secara dini kejadian penyakit yang bisa menuju wabah, di samping kegunaan yang penting lainnya untuk tindakan untuk mengatasi kejadian penyakit, perencanaan, dan evaluasi.

Tujuan

Sesudah menjalankan exercise ini peserta akan dapat menjawab permasalahan surveilans pascabencana:

•  Penguasaan dasar penyusunan sistem surveilans pasca bencana sampai
     menghasilkan daftar penyakit untuk surveilans:

  1. Memahami kondisi yang mendasari kepentingan surveilans penyakit sesudah kejadian bencana;
  2. Memahami bahwa pada saat bencana dapat terjadi penularan penyakit;
  3. Menguraikan jenis-jenis penyakit yang dapat meningkat kejadiannya, dan sebabnya, dalam kondisi sesudah bencana;
  4. Membuat daftar penyakit untuk surveilans pascabencana atas dasar kelompok penyebabnya;

•  Menyiapkan keperluan, kelengkapan, penyelenggaraan surveilans pasca bencana
     sampai mengakhirinya:

  1. Membuat daftar keperluan bagi pelaksanaan surveilans pascabencana;
  2. Menentukan bila surveilans pascabencana sebaiknya diakhiri;

•  Kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam masa pasca bencana dan analisis yang
     tepat bagi data surveilans:

  1. Mengetahui jenis masalah kesehatan dan jenis kesulitan penyelenggaraan surveilans pascabencana menurut jenis-jenis bahaya yang menimbulkan bencana;
  2. Menentukan cara analisis yang tepat terhadap data yang diperoleh dalam surveilans pascabencana;

•  Simpulan, rekomendasi dan POA: Memberikan rekomendasi sesuai dengan ancaman
     bahaya utama di wilayah kerjanya.

Hari ke-1

Gempa bumi terjadi pada pukul 05:53 dengan besaran 5.9 Skala Richter. Epicenter, dengan pusat gempa berada 33 kilometer di bawahnya, berada amat dekat dengan pemukiman penduduk. Bangunan-bangunan pemukiman banyak mengalami kerusakan, berat, sedang maupun ringan. Dengan segera terjadi kecederaan fisik mekanik dan perlukaan pada ratusan ribu penduduk. Banyak kematian langsung juga terjadi. Kerusakan terjadi juga pada gedung-gedung pelayanan kesehatan di sekitar epicenter maupun yang berjarak lebih jauh. Fasilitas dasar seperti listrik, air, telekomunikasi dan transportasi amat terganggu. Penderita-penderita korban dibawa dengan berbagai cara dan transportasi ke tempat-tempat pelayanan kesehatan. Tempat-tempat pelayanan kesehatan baik yang masih utuh maupun dalam bentuk makeshift (darurat) segera dibanjiri penderita dan mulai memberikan pertolongan sedapat-dapatnya sesaat setelah kejadian. Prosedur pertolongan dilakukan amat terbatas dengan jumlah tenaga penolong dan peralatan yang terbatas.

Sebagai reaksi atas goncangan dan rontokan bagian-bagian bangunan, perawat dan penderita rawat inap rumah sakit pindah dari ruang perawatan ke halaman, selasar dan ruang terbuka lain di rumah sakit. Penderita-penderita korban bencana yang membanjir ke rumah sakit beserta keluarga dan pengantar mereka, para relawan, dan petugas-petugas kesehatan yang bekerja dengan segera kian memenuhi ruangan, halaman dan selasar di lantai bawah rumah sakit. Gerak dan kegiatan tindakan pertolongan di rumah sakit jadi nampak kacau balau dan sulit dikatakan dilakukan secara steril.

Bantuan dari luar wilayah bencana mulai berdatangan ke tempat-tempat pelayanan kesehatan pada petang hari. Dengan jumlah penderita korban yang tinggi maka tindakan pertolongan yang harus dilakukan amat meningkat. Penderita-penderita yang mendapat cedera ringan yang sebenarnya tidak perlu dirawat di rumah sakit banyak yang memilih untuk tetap tinggal di rumah sakit (karena telah kehilangan bangunan rumah tinggalnya) beserta keluarga dan pengantarnya. Penderita-penderita yang telah mendapat pertolongan dirawat pada tempat tidur atau tempat berbaring seadanya. Keperluan badani seperti buang air kecil atau besar para penderita beserta keluarga dan penunggu tak lagi dapat dilakukan dengan tertib seperti bila para penderita berada dalam ruang perawatan yang normal.

Pertanyaan

  1. Informasi apa saja yang perlu dikumpulkan sebagai data dasar untuk kebutuhan surveillans dan bagaimana metode yang sebaiknya digunakan untuk mengumpulkan informasi tersebut?
  2. Penyakit apa saja yang seharusnya berada dalam monitoring sistem surveilans pasca bencana ini dan apa alasannya?

Kondisi kecederaan penderita sebagai akibat langsung bencana: luka, cedera yang memerlukan pembedahan, cedera yang memerlukan perawatan dengan posisi dan perawatan khusus untuk mencegah komplikasi. Mutu tindakan pertolongan kedokteran yang dilakukan: pemenuhan standard operating procedure tindakan, ketersediaan obat, bahan dan alat serta kondisi petugas medik dan paramedik. Kondisi lingkungan fisik tempat pertolongan dan perawatan: sterilkah?

Hari ke-2

Kondisi darurat medik masih berlangsung. Penanganan penderita korban langsung dari dampak bencana masih menjadi prioritas dengan jumlah korban yang banyak. Pertolongan kedaruratan mulai membanjir dari berbagai sumber: masyarakat, badan perbantuan dan unsur-unsur pemerintah. Bantuan meliputi hal yang dasar sekali: pertolongan pertama pada akibat bencana dan pemenuhan kebutuhan fisik biologis seperti makanan siap santap, minuman dan pelindung tubuh (tenda, selimut, matress ). Di berbagai tempat shelter temporer mulai banyak didirikan, akan tetapi berbagai fasilitas pendukung untuk aktivitas sehari-hari (MCK, air bersih, dan dapur umum), masih banyak yang belum tersedia. Kondisi-kondisi dari penyakit biasa mengalami penurunan untuk dikeluhkan di tempat-tempat pelayanan kesehatan. Sejak sore hari ke-1 retriage telah dilakukan. Pemantauan kondisi penderita yang dirawat seadanya dilakukan.

Pertanyaan

  1. Apa saja penyakit yang mungkin mulai muncul pada hari kedua?
  2. Modifikasi apa saja yang harus dilakukan agar sistem surveillant dapat mendukung kebutuhan informasi pasca bencana tersebut?
    (misal: definisi kasus, jenis data, format pelaporan, sumber data, alur data, SDM, periodisitas pelaporan, dll)
  3. Bagaimanakah sistem yang digunakan untuk membuat mendapatkan informasi dan membuat respons cepat apabila ada penyakit berpotensi KLB yang ditemukan di lapangan?

Hari ke-3 sampai ke-8

Tindakan pertolongan medik darurat terhadap penderita korban masih dilakukan. Penderita-penderita korban kecederaan yang masih ditemukan belum mendapat pertolongan dibawa ke tempat pertolongan. Satuan-satuan perbantuan medik mulai bekerja baik di tempat-tempat pelayanan kesehatan maupun tempat-tempat yang dapat didirikan di atasnya klinik atau rumah sakit darurat.

Poliklinik di pusat-pusat kesehatan masyarakat tidak dapat menjalankan fungsi pelayanan secara normal. Fungsi pencatatan dan pelaporan juga terganggu. Sementara itu, suatu upaya untuk mendaftar kasus-kasus penyakit yang ada mulai dilakukan. Sebenarnya kesadaran atas keperluan untuk melakukan pencatatan dan pelaporan secara frequent telah ada. Dalam hal ini, justru terjadi perbedaan pendapat mengenai penyakit apa saja yang harus dicatat dan dilaporkan tiap hari: semua penyakit, atau penyakit tertentu dan penyakit tertentu yang mana saja.

Terlebih dengan jumlah titik pelayanan medik darurat yang meningkat di sisa-sisa tempat pelayanan kesehatan dan di tempat-tempat penduduk bertinggal sementara, pusat kesehatan masyarakat dan petugas-petugasnya tidak mampu meng-cover semua. Sementara semua tempat pertolongan medik menggunakan cara pencatatan untuk pelaporan sesuai dengan kebiasaan masing-masing.

FETP UGM bersama WHO dan dinas-dinas kesehatan provinsi dan kabupaten terlibat dalam rancangan bersama maupun pelaksanaan surveilans sampai dengan analisisnya.

Sampai pada hari ke-7 daftar penyakit untuk dilakukan surveilans pascabencana belum disepakati. Data penyakit yang dihimpun merupakan data penyakit seperti biasanya yang dalam kondisi bencana menjadi beban berat karena jumlah penyakitnya yang banyak.

Pada hari ke-8 pimpinan puskesmas belum sanggup untuk mulai menjalankan sebagian tugasnya. Disadari keperluan mengetahui perkembangan penyakit di wilayah kerja puskesmas dengan keberadaan berbagai satuan perbantuan medik, akan tetapi untuk menghimpun data yang ada amat diperlukan tenaga perbantuan lagi.

Pertanyaan

  1. Bagaimana metode yang digunakan untuk mengimplementasikan sistem surveillans tersebut?
    (misalnya: bagaimana mengkoordinasikan semua pihak yang terkait, bagaimana berkoordinasi dengan lembaga-lembaga yang memberikan asistensi teknis, bagaimana memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan sistem tersebut)
  2. Sampai kapankah surveilans pascabencana ini sebaiknya diselenggarakan, apa kriteria yang digunakan?
    (Surveilans pascabencana diakhiri ketika masa inkubasi penyakit yang terpanjang sejak saat bencana telah terlampaui dan tak ada lagi penderita baru. Ada yang mengatakan surveilans perlu dilakukan dua kali masa inkubasi penyakit yang terpanjang.)

Hari ke-9 sampai ke-14

Usaha untuk menyepakati penyakit-penyakit untuk surveilans pasca bencana masih dilakukan. Sebagian dari penyebabnya adalah perbedaan penafsiran akan kepentingan data penyakit. Satu fihak menghendaki daftar penyakit lengkap, sedangkan di lain fihak menghendaki daftar singkat yang oleh fihak lain dianggap akan tidak lengkap. Juga adanya keinginan untuk menggunakan software tertentu. Sementara itu kasus tetanus menunjukkan peningkatan yang mencolok.

Pertanyaan

1. Dapatkah dibuat daftar penyakit-penyakit khas akibat bencana-bencana jenis tertentu? Demikian pula implikasinya bagi pelaksanaan surveilans, yang sebaiknya kita

2. Analisis apa saja yang perlu dilakukan atas data surveilans?
(Tergantung dari kesepakatan pada awal surveilans pascabencana. Data bisa meliputi sisi masalah kesehatan. Ini bisa juga meliputi faktor risiko tertentu. Bila hanya meliputi data penyakit atau masalah kesehatan maka analisis penyakit menurut tempat dan waktu bisa dilakukan. Apabila faktor risiko juga dimasukkan dalam surveilans maka risiko relatif atau odds ratio kejadian penyakit dapat disajikan)

Kesimpulan:

Butir-butir penting dari surveilans yang menjadi alasan: apa manfaat surveilans pascabencana, bagaimana surveilans disusun, bagaimana surveilans dijalankan, siapa yang melaksanakan, apa kelengkapannya.

Rekomendasi:

Bagaimana proses surveilans pascabencana dilakukan dengan baik agar kontribusinya terhadap penanganan bencana menjadi sebaik-baiknya. Matriks luaran rekomendasi bagi suatu wilayah dapat berujud seperti berikut ini: (Rekomendasi ditulis dalam sel di bawah tiap jenis bencana, sebagai jawab atas permasalahan surveilans bencana).

 

Table Top 5 Promosi Kesehatan

Deskripsi

Table top exercise Promosi Kesehatan disusun agar peserta workshop dapat mendiskusikan kegiatan promosi kesehatan mulai dari terjadinya bencana dan pasca bencana dari minggu ke minggu. Ilustrasi kasus dirangkai berdasarkan keterlibatan dalam kegiatan promosi kesehatan pasca bencana dari waktu ke waktu. Diharapkan, peserta workshop dapat memahami suasana, kejadian dan kegiatan yang terjadi setelah bencana terjadi dilihat dari perspektif promosi kesehatan. Setelah memahami hal tersebut peserta akan mampu melakukan “assessment” sederhana berdasarkan ilustrasi kasus, sehingga peserta selanjutnya dapat melakukan identifikasi langkah-langkah kegiatan promosi kesehatan untuk ditempatkan pada keadaan bencana.

Pada langkah selanjutnya, peserta diharapkan dapat memperjelas tugas dan peran, baik institusi maupun perorangan dalam menangani dan menjalankan kegiatan promosi kesehatan pada situasi bencana. Kejelasan peran dan tugas akan menuntun pada koordinasi dan kerja sama antar sektor institusi dan NGO yang baik dalam menatalaksana kegiatan promosi kesehatan baik sebelum, pada saat dan setelah terjadi bencana.

Di akhir workshop peserta akan mampu membuat rancangan kegiatan promosi kesehatan yang dapat direkomendasikan untuk ditempatkan pada daerah bencana. Rekomendasi tersebut diharapkan dapat diaplikasikan untuk kegiatan promosi kesehatan sebelum, pada saat dan setelah terjadi bencana.

Tujuan

  1. Memperjelas peran dan tanggung-jawab berbagai komponen kesehatan dalam menangani kegiatan promosi kesehatan dalam situasi bencana di berbagai fase.
  2. Mempraktekkan kerjasama untuk kegiatan promosi kesehatan dalam respons terhadap bencana.
  3. Mengevaluasi pengalaman pengelolaan kegiatan promosi kesehatan yang ada.
  4. Mengantisipasi terjadinya bencana dengan persiapan sektor promosi kesehatan yang lebih baik di tingkat Kabupaten/Kota dan Propinsi.
  5. Mempersiapkan sumber pendanaan promosi kesehatan untuk manajemen bencana.

Minggu I Pasca Gempa

  • Bantuan berdatangan. Akses telepon belum berfungsi di beberapa tempat. Siaran radio dan televisi telah pulih kembali.
  • Kelompok-kelompok sosial mulai terbentuk kembali. Kepala dusun menjadi tokoh sentral. Posko darurat banyak didirikan dengan basis dusun/kampung.
  • Kebutuhan dasar masih terbatas dan belum merata distribusinya. Fungsi pemerintah mulai berjalan kembali meskipun masih terbatas.
  • Depkes, Dinkes, UN dan lembaga lain berkoordinasi membentuk Health Cluster. Masih banyak agensi khususnya NGO lokal belum terlibat. Fase didominasi aktifitas pemenuhan kebutuhan dasar dan pelayanan medik.
  • Beberapa survey dilakukan berbagai agensi secara mandiri, belum terkoordinasi, sehingga terjadi duplikasi. Contoh kasus, beberapa warga menolak karena jenuh. ”Kalau ke sini jangan tanya-tanya saja, beri kami bantuan”. Warga menjadi kooperatif setelah mendapat ”bantuan”. Bersama dengan warga setempat mahasiswa perguruan tinggi melakukan kajian.
  • Investigasi UGM di beberapa lokasi kecamatan menunjukkan banyak kasus cedera yang tidak terawat terjadi pada kelompok usia lanjut. Kelompok ini lebih pasif untuk melakukan periksa dan pengobatan. Keluarga sibuk dengan urusan mereka sendiri. Sementara dari bantuan eksternal sangat minim. Banyak kasus-kasus penyakit kronis yang terjadi sebelum gempa terjadi dan kemungkinan akan menjadi semakin berat setelah terjadinya gempa.
  • Melakukan pembuatan assesment sederhana, dipilih media posyandu usila darurat di Kecamatan Pleret. Assesment ditindaklanjuti dengan mengkomunikasikan kepada puskesmas, NGO, INGO dan partner lain yang berada di lokasi. Satu dua NGO tertarik untuk terlibat, demikian pula dengan puskesmas namun masih sangat terbatas secara verbal. Aktifitas selanjutnya dengan mendatangi puskesmas dan kolega di tingkat desa (kader dan kepala dusun serta kepaladesa). Semua struktur di desa dan dusun mendukung. Beberapa pihak dari UN dan NGO yang semula mendukung, tidak terdengar lagi kabarnya. Puskesmas membantu sebatas penyediaan tenaga dan alat tensi.
  • Pelaksanaan kegiatan posyandu pertama didatangi hampir oleh seluruh warga di beberapa dusun pilot program. Meskipun jumlahnya makin berkurang pada periode selanjutnya (2 minggu), tetapi masih lebih dari separo usila yang tetap mendatangi posyandu tersebut. Memasuki masa lebih lanjut tinggal kader, dusun, dan puskesmas yang masih tersisa dalam menjalankan posyandu usila. Follow up dari UGM tidak ada, demikian pula dari beberapa INGO dan agensi UN yang berjanji untuk memberikan funding. Tidak ada lagi motor penggerak karena para mahasiswa diwajibkan untuk kembali ke kampus.

Key message

Kelompok sosial yang terbentuk secara otomatis di dalam kasus ini berfokus pada kepentingan pemenuhan kebutuhan dasar (makanan) tetapi belum pada hal yang menyentuh aspek kesehatan. Sustainabilitas program memerlukan pengetahuan yang mendalam mengenai sumberdaya dan hambatan yang ada. Untuk merencanakan kegiatan tidak sebatas pada uji coba, diperlukan pula pengkajian sustainabilitas program. Di sisi lain, exit strategi juga sudah seharusnya masuk dalam agenda, dan tidak hanya meninggalkan pekerjaan rumah untuk petugas dan masyarakat.

Pertanyaan

  1. Bagaimana peta para pelaku kesehatan dalam situasi bencana?
  2. Apa peran ideal kelompok sosial? Siapa saja yang perlu terlibat?
  3. Siapa yang mengkoordinir di lingkungan korban di hari-hari pertama?
  4. Penolakan warga karena kekurangan koordinasi. Siapakah atau institusi manakah yang seharusnya mengkoordinasikan assessment? Bagaimana caranya?
  5. “Bantuan” untuk memperlancar interview apakah tepat? Bila tidak bagaimana sebaiknya?
  6. Apakah warga perlu dilibatkan dalam kajian awal dan perencanaan kegiatan promosi? Bila perlu, bagaimana sebaiknya? Bila tidak, sebutkan alasannya?

Minggu II Pasca Gempa

  • Kampanye imunisasi tetanus mulai digagas untuk membantu imunisasi tetanus masal dipicu laporan kasus yang tinggi.
  • Beberapa agensi menyiapkan flier dalam jumlah besar, dan media promosi lain. Semuanya dirancang dengan singkat, tidak ada assesment media promosi.
  • Unit promosi lebih berkutat kepada permasalahan funding. Bentuk media tidak mengkompromikan materi pesan situasi dan karakter penerima.
  • Sebanyak 62% sasaran mengikuti imunisasi. Pengungsi menyatakan sibuk, tidak sempat datang, atau tidak pernah tahu ada imunisasi massal. Banyak ditemukan kotak flier dalam jumlah besar masih tergeletak setelah imunisasi. Tidak ada evaluasi proses yang kurang tepat dalam promosi.
  • UN, NGO, UGM, Dinkes berinisiatif melakukan survey kelompok rentan di wilayah paling parah. Di Dinkes dan beberapa tempat lain dilakukan beberapa pertemuan.
  • Persiapan awal dilakukan untuk mengembangkan instrumen, mencari funding dan pengelola data serta surveyor. Perekrutan surveyor dilakukan oleh UGM dengan menghubungi partner di berbagai Universitas. Perekrutan juga dilakukan oleh oleh Dinkes Bantul dan IBI Bantul .
  • Persiapan dan pengambilan data memakan waktu hampir 7 hari, pengambilan data 7 minggu dan analisis memakan waktu hampir 2 minggu. Lamanya proses tersebut dikarenakan berbagai permasalahan di lapangan maupun internal khususnya titipan distribusi multi vitamin untuk ibu hamil, titipan kuesioner dari institusi lain yang cukup komplek. Selain itu terdapat permasalahan pendanaan yang belum jelas.
  • Survey terlaksana dengan catatan cukup banyak diantaranya, 1) banyak ibu hamil dan ibu balita yang tidak bisa ditemukan karena baseline data yang kurang adekuat, 2) banyak responden yang mengungsi, 3) data survei ibu hamil sulit dianalisis karena tidak akuratnya data yang diperoleh, 4) surveyor banyak yang kewalahan karena bermacam tugas yang diemban, dan 5) penolakan dari sebagian responden karena sudah jenuh dengan pertanyaan dll.

Key Message

  • Situasi fase “response” yang membutuhkan kecepatan. Keterampilan melakukan survey cepat yang mampu merangkum berbagai potensi media, hambatan, luas jangkauan, potensi sumberdaya lain, kolega dll. Dalam kasus tetanus semua berfokus kepada pendanaan dan media yang akan dibuat.
  • Survey yang terlalu memakan waktu memunculkan masalah karena situasi yang bisa berubah dengan sangat cepat sehingga menyebabkan intervensi tidak lagi relevan dengan kondisi yang ada.

Pertanyaan

  1. Bagaimana seharusnya pengambilan data awal dilakukan? Apa metode yang dinilai tepat, bagaimana caranya?
  2. Siapa yang akan menjadi leading sector? Apa peran dan tanggungjawabnya?
  3. Bagaimana koordinasi, kolaborasi, kooperasi untuk menjawab tantangan?
  4. Apa saja yang perlu dikaji dalam kajian awal promosi kesehatan?
  5. Siapa partner utama? Siapa yang akan menjadi juru bicara? Bagaimana dengan penyesuaian sistem pelaporan?
  6. Pelajaran penting apa dalam kampanye imunisasi TT tersebut?
  7. Input apa yang harus disiapkan dari gambaran kasus tetanus tersebut?
  8. Proses apa yang masih menjadi masalah pokok dalam kampanye?
  9. Strategi apa saja yang bisa dilakukan oleh pemerintah untuk antisipasi?

 

Minggu III–IV Pasca Gempa

  • UGM melaksanakan kajian untuk melihat kelayakan media promosi. Televisi adalah media paling diminati pengungsi, sementara media cetak tidak terlalu diminati.
  • Masyarakat dan tokoh masyarakat siap menghidupkan kembali Posyandu. Potensi media lokal mulai berfungsi memberikan informasi. Inisiatif masyarakat mengelompokkan data dalam kategori kelompok rentan.
  • Kesulitan survey terkait dengan baseline data yang kurang lengkap. Karakteristik pengungsian di Bantul terpisah-pisah. Hal ini sangat berbeda dengan kasus di Aceh.
  • Hasil survey selanjutnya diolah oleh UGM dan UN. Hasil studi menunjukkan: kasus diare pada bayi menyusui, ibu hamil yang mendekati masa kelahiran dan dengan masalah kehamilan, kecukupan gizi ibu hamil/menyusui termasuk bayi dan balita, pola-pola perawatan luka yang tidak baik dan lain sebagainya.
  • Kasus diare bayi meningkat 6 kali lipat dari kondisi normal. Kondisi ini berhubungan dengan tingginya tingkat distribusi susu formula dan kondisi lingkungan.
  • Kajian kualitatif menemukan adanya asumsi bahwa bahan yang telah diberikan merupakan pilihan yang baik dan telah dipertimbangkan pemberi bantuan. Gempa menyebabkan kondisi tubuh melemah karena minimnya intake makanan yang berakibat kepada penurunan produksi ASI sehingga perlu konsumsi diperkuat susu formula.
  • Hasil survey disosialisasikan melalui berbagai saluran, penyampaian fakta ke Depkes, sosialisasi pada Health Cluster Meeting, penyusunan/rancangan media cetak dan elektronik dan lain sebagainya.

Key Message

Rancangan promosi dalam situasi gempa seringkali dilahirkan dari aspek subjeknya, pengkaji peran media yang tepat dan penilaian kondisi lingkungan yang relevan terlupakan. Peran serta masyarakat juga seringkali dilupakan untuk ditempatkan sebagai bagian dari proses perancangan untuk menjaga keberlangsungan.

Pertanyaan

  1. Perlukah melibatkan masyarakat yang sedang terkena bencana dalam perancangan program promosi? apa dan bagaimana perannya?
  2. Bagaimana mengorganisir pengembangan peningkatan peran serta?
    1. Siapa leading sector dan apa peran dan tanggungjawabnya?
    2. Bagaimana upaya tersebut dikoordinasikan?
    3. Siapa yang akan dipilih menjadi mitra utama?
    4. Siapa yang akan menjadi juru bicara?
    5. Dimana lokasi sekretariat, bagaimana dengan organisasi dan koordinasinya?

Minggu ke V – VI Pasca Gempa

  • Sebuah pabrik baja nasional memberikan bantuan sosial dalam skala besar, di antaranya yang terbanyak dalam bentuk susu formula.
  • Tidak ada justifikasi distribusi makanan bayi. Kajian lebih lanjut menemukan lebih banyak lagi donatur yang memasok susu formula, beberapa unit pelayanan kesehatan digunakan sebagai tempat distribusi.
  • Laporan lain menyebutkan bahwa rata-rata setiap 3 dari bantuan yang diberikan, 1 di antaranya berisi susu formula dan atau makanan untuk bayi.

Key Message

Informasi tentang distribusi bantuan secara detail dari sumber terpercaya diperoleh. Beberapa media juga memberikan informasi mengenai kasus kejadian diare yang diantaranya menimpa bayi di daerah lokasi bencana.

Pertanyaan

  1. Apakah puskesmas dan dinas kesehatan telah mengetahui masalah ini?
  2. Bagaimana informasi tersebut selanjutnya akan ditindaklanjuti?
  3. Bagaimana mengkomunikasikan isu yang ditemukan? Kepada siapa hal tersebut dikomunikasikan?
  4. Bagaimana mengorganisasikan isu menjadi salah satu agenda mitra?
  5. Bagaimana bentuk dan cara intervensi promosi bagi para donasi yang bertujuan membantu tetapi kurang memahami dampak?
  6. Bagaimana menyusun key message promosi, need assessment , merancang program, mengembangkan monitoring dan evaluasi?
  7. Siapa yang berperan menjadi perancang, distributor, funding, evaluator?
  8. Apa peran utama pemerintah yang dikehendaki?
  9. Siapa yang mensosialisasikan di tingkat lapangan? Bagaimana caranya?

Minggu VII–IX Pasca Gempa

  • Sosialisasi hasil survey memicu perhatian banyak pihak.
  • Komunikasi ke Depkes telah memunculkan perhatian dengan mengeluarkan Kepmenkes terkait dengan peredaran dalam situasi emergensi.
  • Tim dari Depkes datang ke Dinkes Propinsi bertemu dengan Dinkes Kabupaten dan berbagai agensi. Tim Depkes mensosialisasikan masalah peredaran susu formula dan saran untuk tindak lanjut.
  • UNICEF bekerjasama dengan UGM mengembangkan media dengan menggunakan tim khusus dari Jakarta dan melakukan Community Workshop di beberapa tempat. UGM sendiri mensosialisasikan permasalahan ini dalam acara talk show bersama dengan UNICEF, seminar, revitalisasi posyandu dan lain sebagainya.
  • Dalam pertemuan koordinasi MCH, sosialisasi semakin diperkuat untuk mendukung kampanye. Sebagai tindak lanjut dinas kesehatan kabupaten dalam pertemuan dengan bidan dan kepala puskesmas melakukan berbagai kesepakatan dengan puskesmas untuk sosialisasi dan antisipasi lebih lanjut.
  • Rancangan kampanye Breastfeeding Practice mulai disusun oleh UNICEF khususnya melalui jalur media massa elektronik/cetak nasional, lokal dan internasional. Salah satu rancangan kampanye melalui media elektronik bahkan melibatkan ibu Negara. Pengembangan media lebih lanjut dilakukan sendiri oleh UNICEF.
  • UGM merancang kampanye dengan menerjunkan mahasiswa S2 melalui konseling dan penyuluhan langsung, revitalitasi posyandu darurat dan lain sebagainya di beberapa wilayah bencana. Beberapa INGO dan NGO mengembangkan model alternatif misalnya dengan melalui jalur guru (melatih guru), penyebaran poster / brosur, dan lain sebagainya di wilayah tertentu. Beberapa laporan memperlihatkan terjadi duplikasi upaya promosi di beberapa tempat (untuk promosi skala kecil).

Key Message

Seringkali dalam situasi darurat kampanye program dilaksanakan secara sendiri-sendiri. Meskipun misinya sama, namun efisiensi strategi menjadi terabaikan. Dalam banyak contoh kasus, upaya-upaya tersebut sebenarnya bisa disatukan dan saling mendukung dengan upaya kampanye dari agensi lain.

Pertanyaan

  1. Perlukah masing-masing kegiatan mempunyai keselarasan di dalam pelaksanaannya? Bila perlu, dalam bentuk atau kegiatan yang bagaimanakah? Bila tidak perlu, bagaimana seharusnya?
  2. Bagaimana melakukan koordinasi dan kolaborasi strategi dan sumberdaya yang dimiliki dengan agensi lain?
  3. Siapa saja mitra potensial yang bisa dirangkul?
  4. Siapa yang seharusnya memainkan peran sebagai leading sector dan bagaimana Anda akan melakukan kolaborasi dengan institusi/agensi tersebut?

Minggu X–XII Pasca Gempa

  • Kampanye terbesar dilakukan oleh UNICEF, sementara agensi lain lebih cenderung melakukan di beberapa lokasi tertentu yang menjadi daerah kerjanya. Koordinasi khusus mengenai rancangan promosi breastfeeding tidak lagi dilakukan.
  • UNICEF masih terus mengembangkan strategi promosi diantaranya dengan konseling ibu menyusui di Bantul dan Klaten dengan sasaran lebih dari 4000 orang. Kampanye dengan melibatkan tokoh masyarakat (Kanjeng Ratu Hemas), talk show di radio dan televisi lokal, iklan televisi nasional dan lokal, poster, brosur dan lain sebagainya.
  • Sementara agensi lain justru telah mulai menurunkan aktifitasnya dalam kampanye tersebut terkait dengan berbagai permasalahan sumberdaya sehingga seolah hanya ada satu agensi yang berjalan sendiri.
  • Permasalahan koordinasi dalam promosi ini pada akhirnya memunculkan ide untuk membentuk suatu kelompok kerja khusus promosi kesehatan. Inisiatif pembentukan work group promosi kesehatan mulai digagas oleh beberapa staf di WHO, UGM, dan UNICEF dengan mengadakan pertemuan terbatas di UN building.
  • Input inisiatif selanjutnya disampaikan kepada koordinator Health Cluster dan dibahas lebih lanjut dan telah mendapat ijin untuk mengembangkan ini. Inisiatif ini merupakan inisiatif pertama kali yang ada di Indonesia, pada kondisi sebelumnya.
  • Dalam Health Cluster Meeting, WHO mempresentasikan inisiatif tersebut dan rencana kerjanya. Kelompok kerja pada akhirnya berhasil mengadakan pertemuan pertama kali di Dinas Kesehatan Propinsi dan sekaligus menunjuk Dinas Kesehatan Propinsi sebagai leading sector. Anggota dari kelompok kerja berasal dari berbagai NGO maupun INGO, UN (WHO, UNICEF, UNFPA), institusi pemerintah dan Dinas Kesehatan Kabupaten.
  • Pada tahap selanjutnya, kelompok kerja menyusun kerangka strategis yang akan dilakukan yang pada awalnya bertujuan untuk menyatukan misi promosi kesehatan dari berbagai agensi guna meningkatkan efisiensi dan efektifitasnya.
  • Termasuk dalam hal ini adalah misi kampanye ASI. Namun dalam beberapa kali pertemuan yang dilakukan justru adu argumentasi, sehingga memakan waktu yang cukup lama. Pada akhirnya masing-masing agensi lebih memilih untuk melakukan sesuai dengan rencana mereka sendiri.

Pertanyaan

  • Apa langkah yang akan dilakukan Anda dan mitra Anda selanjutnya untuk mengatasi hal tersebut ? Bagaimana hal itu akan dilakukan?
  • Kepada siapa saja Anda akan menunjuk informasi dan keahlian untuk menyelesaikan permasalahan ini ?
  • Bagaimana upaya Anda untuk meningkatkan perhatian publik terhadap media promosi yang dikembangkan?
  • Siapa saja yang selanjutnya perlu untuk dilibatkan?
  • Apakah partisipasi dari masyarakat akan juga dikembangkan?, Bagaimana Anda akan melakukan hal tersebut ?
  • Bagaimana anda akan mengkoordinasikan permasalahan pesan kepada masyarakat yang kurang mendapat perhatian tersebut?
  • Kepada siapa saja Anda harus melaporkan hal tersebut? Bagaimana laporan tersebut akan dibuat?
  • Apakah anda cukup dekat dengan pemerintah, sekolah, tokoh masyarakat/agama, tokoh media, pengusaha, agensi lain? Apa peran yang bisa dimainkan oleh institusi/kelompok tersebut? Bagaimana anda akan melakukannya?

Referensi


Guidelines for Public Health Promotion

7 Steps to Effective Media Communication During Public Health Emergencies

Effective Media Communication during Public Health Emergencies – A WHO Field Guide

Effective Media Communication during Public Health Emergencies – A WHO Handbook

Guidelines on Cultural Diversity and Disaster Management

Health Promotion and Community Participation

Introduction to Health Promotion Program Planning

Model for a National Disaster Management Structure, Preparedness Plan, and Supporting Legislation

Public Health Emergency Preparedness: Fundamentals of the “System”

Public Health Response Actions and the Use of Emergency Operations Centers

Standar Minimal Penanggulangan Masalah Kesehatan Akibat Bencana dan Penanganan Pengungsi

Health Promotion Practices of Emergency Physicians

Perceptions of Risk for Volcanic Hazards at Vesuvio and Etna, Italy

Perceptions of Risk From Natural Hazards in Two Remote New Zealand Communities

Reducing the Consequences of Disaster and Trauma: Readiness and Therapeutic Perspectives

The Effect of Increased Earthquake Knowledge on Perceived Preventability of Earthquake Damage

Table Top 6 Mental Health

Deskripsi

Model pembelajaran dengan menggunakan Table-Top ini dimaksudkan untuk menguji respons sistem pelayanan kesehatan mental terhadap terjadinya bencana. Diharapkan latihan ini dapat di ikuti oleh Dinas Kesehatan, PMI, berbagai LSM di sektor bencana, serta lembaga pemberi pelayanan kesehatan. Semakin lengkap wakil-wakil lembaga yang ikut pelatihan ini maka akan semakin baik.

Secara singkat tujuan pelatihan ini untuk:

  • Memperjelas peran dan tanggung-jawab berbagai komponen sektor kesehatan mental dalam menangani bencana di berbagai fase
  • Mempraktekkan kerjasama dalam respons terhadap bencana
  • Mengevaluasi pengalaman yang ada
  • Mengantisipasi terjadinya bencana dengan persiapan sektor kesehatan mental yang lebih baik di level Kabupaten/Kota dan Propinsi
  • Mempersiapkan sumber pendanaan untuk kesehatan mental

Minggu I

Sabtu, tanggal 27 Mei 2006, jam 5.55 WIB, telah terjadi gempa tektonik dengan intensitas 5,59 SR di wilayah Yogyakarta. Saat itu, terjadi kekacauan yang luar biasa. Masyarakat panik karena ada isu gempa akan disusul gelombang Tsunami, lalu lintas di kota semrawut, banyak bangunan runtuh, banyak penduduk yang luka terkena reruntuhan bangunan dan menelan korban jiwa. RSUP Dr. Sardjito sebagai rumah sakit pusat rujukan benar-benar kewalahan menangani ribuan korban gempa. Apalagi hari sebelumnya libur nasional dan kejadian masih pagi, petugas belum semuanya hadir. Dengan segala keterbatasan yang ada semua sumber daya dikerahkan untuk menolong korban yang datang. Pada saat itu pusat perhatian adalah pada kesehatan dan keselamatan fisik.

Bagian/SMF Jiwa RS Dr. Sardjito/FK-UGM saat itu juga kedatangan kolega dokter jiwa dari luar kota untuk membantu baik dari segi logistik dan tenaga. Seorang psikiater Jakarta yang bekerja di WHO dan mengenal baik psikiater-psikiater di Bagian/SMF Jiwa RS Dr. Sardjito/FK-UGM menawarkan untuk memberi dana bantuan melakukan Rapid Assessment on Mental Health on Needs and Resources (RAMH). Rencana tersebut disambut baik oleh Bagian/SMF Jiwa, dengan melibatkan residen dan dikoordinasi oleh psikiater dilakukan pembagian pada 5 wilayah di Jogja untuk melakukan RAMH. Telah diketahui pada saat bencana problem kesehatan mental dan psikososial meningkat. Hal ini menarik minat pers untuk mengetahui angka pasti berapa orang yang menderita ”stres setelah gempa?”. Walau pun telah dilakukan RAMH, sulit mengetahui angka pasti banyaknya penderita dan macam gangguan jiwa yang diderita, namun demikian melalui RAMH diketahui adanya 3 kejadian bunuh diri.

Pada minggu pertama tersebut ada pertemuan koordinasi kesehatan mental dan psikososial yang diprakarsai Direktorat Kesehatan Jiwa dan WHO di Dinas Kesehatan Propinsi yang dihadiri Dinas Kesehatan Propinsi, wakil Rumah Sakit (Jogja dan Klaten), wakil Universitas, wakil PDSKJI (Organisasi Psikiater), dan LSM. Beberapa kesepakatan telah disetujui bersama.

Pertanyaan-pertanyaan kunci:

  1. Bagaimana peta para pelaku kesehatan mental?
  2. Bagaimana situasi yang terjadi pada saat itu dipandang dari para pelaku?
  3. Bagaimana peran jaringan sosial dalam bencana?
  4. Siapa yang mengkoordinir di hari-hari pertama?
  5. Siapa yang harus bicara kepada pers?
  6. Siapa yang seharusnya melakukan RAMH?
  7. Siapa yang harus mengatur bantuan yang datang dari luar?
  8. Siapa yang bertanggung jawab melakukan pendataan kasus gangguan mental dan psikososial?

Minggu II

Pada saat dilakukan pertemuan koordinasi kesehatan mental dan psikososial dicapai beberapa kesepakatan seperti:

  1. Kantor pusat koordinasi adalah di dinas kesehatan propinsi
  2. Dinas kesehatan propinsi akan memimpin koordinasi kesehatan mental dan psikososial
  3. Pertemuan koordinasi akan dilakukan 1 minggu sekali setiap Sabtu jam 09.00
  4. Organisasi-organisasi Internasional akan membantu secara teknis mau pun dana untuk penyediaan buku pedoman, training mau pun workshop kesehatan mental dan psikososial
  5. Dilakukan pemetaan siapa melakukan apa di mana untuk program kesehatan mental dan psikososial

Beberapa waktu pertemuan koordinasi berjalan, selalu dipimpin oleh organisasi internasional, dengan alasan Dinas Kesehatan sudah sangat kewalahan dengan banyaknya program yang harus dilakukan. Peserta pertemuan juga semakin banyak berkurang dan laporan kegiatan di lapangan tidak pernah masuk ke Dinas Kesehatan Propinsi. Pada saat yang bersamaan dilakukan sosialisasi deteksi dini gangguan jiwa dengan penyebaran ribuan leaflet pada masyarakat oleh RS Sardjito bekerja sama dengan organisasi internasional (apalagi setelah ditemukan adanya 3 kasus bunuh diri). Yang menjadi masalah adalah “apakah leaflet tersebut tidak akan membuat masyarakat semakin panik dan merasa dirinya menderita suatu gangguan mental?”

Pertanyaan-pertanyaan kunci:

  • Siapa yang bertanggung jawab menjadi koordinator kesehatan mental dan psikososial?
  • Siapa yang bertanggung jawab melakukan pemetaan siapa melakukan apa dan dimana?
  • Siapa yang bertanggung jawab mendata laporan program kesehatan mental dan psikososial yang dilakukan oleh LSM?
  • Siapa yang bertanggung jawab untuk melakukan penyebaran informasi/promosi pada masyarakat tentang deteksi dini gangguan jiwa?

Minggu III

Pada saat dilakukan RAMH, diketahui adanya masalah kesehatan mental dan psikososial ditemui seperti sulit tidur (termasuk mimpi buruk), perilaku agresif, stres akut, gangguan panik, depresi, kesedihan meningkat, putus asa, menyalahkan diri sendiri, cemas, menyesali diri, skizofrenia yang kambuh, dan psikotik akut. Problem psikososial yang ditemui adalah kehilangan keluarga dan rumah, situasi hidup di kamp, distribusi bantuan yang tidak merata, masalah keamanan, masa depan suram, masalah pendidikan dan ekonomi. Obat antipsikotik beredar luas di masyarakat, dengan indikasi yang tidak jelas. Berdirinya posko-posko yang menyatakan diri sebagai posko penanggulangan stress dan gangguan mental. Banyak LSM dan organisasi internasional yang melakukan fokus kegiatan pada anak-anak. Namun tidak ada yang melakukan intervensi terhadap permasalahan geriatri atau usila.

Diketahui juga bahwa sistem pendataan dan deteksi dini di Puskesmas kurang berjalan lancar. Dokter-dokter di Puskesmas tidak bisa mendeteksi adanya gangguan jiwa, dengan alasan tidak percaya diri dan sudah lupa untuk mendiagnosis gangguan jiwa. Adanya puskesmas integrasi dengan RS Jiwa setempat, namun psikiater dari RS Jiwa tersebut yang menangani pasien. Adanya temuan-temuan ini mengusik sebuah organisasi internasional untuk mengajukan diri memberikan bantuan tenaga dan dana untuk melakukan training kesehatan mental dan psikososial pada psikiater, dokter puskesmas, dan tokoh masyarakat.

Pertanyaan-pertanyaan kunci:

  • Siapa yang bertanggung jawab terhadap permasalahan kesehatan mental dan psikososial pasca bencana di masyarakat?
  • Apa yang sebaiknya dilakukan dan apa yang sebaiknya tidak dilakukan dalam penanggulangan kesehatan mental dan psikososial?
  • Apa peran Pedoman Penanganan bencana?
  • Bagaimana seharusnya sebuah puskesmas integrasi (kesehatan mental dan psikososial) beroperasi?
  • Siapa yang bertanggung jawab melakukan training kesehatan mental dan psikososial?
  • Kapan seharusnya training kesehatan mental dan psikososial dilakukan?
Bulan-bulan Selanjutnya

Pada bulan-bulan selanjutnya masalah kesehatan jiwa dan psikososial semakin kompleks. Dari pertemuan koordinasi kesehatan mental dan psikososial masih dihadiri organisasi-organisasi yang memiliki program, namun koordinasi masih dibawah organisasi internasional. Training kesehatan mental dan psikososial pada tokoh masyarakat pada kenyataannya dilakukan pada tokoh masyarakat yang juga mendapat training dari berbagai macam program seperti KIA, rehabilitasi dan lain-lain sehingga beban yang ditanggung tokoh masyarakat tersebut sangat besar.

Permasalahan di masyarakat: keluhan penderita patah tulang yang kurang mendapatkan informasi rehabilitasi, keluhan pasangan suami istri yang tidak bisa melakukan hubungan intim karena masih hidup di tenda, isu westernisasi bantuan, masalah watsan dan gender. Permasalahan tersebut membuat sebuah organisasi Internasional bermaksud mengadakan workshop kesehatan mental dan psikososial untuk menemukan formula atau sistem kesehatan mental dan psikososial yang terbaik ada maupun tidak ada bencana.

Pertanyaan-pertanyaan kunci:

  • Bagaimana seharusnya preparedness kesehatan mental dan psikosial?
  • Bagaimana sistem kesehatan mental dan psikososial yang terbaik? (ada atau tidak ada bencana)