Hospital Disaster Plan RSUD Kabupaten Belitung

hdp-beltim

hdp-beltim

Sedang berlangsung kegiatan sosialisasi Hospital Disaster Plan (HDP) dan uji coba (simulasi) dokumen HDP RSUD Kabupaten Belitung Timur. Kegiatan ini dilaksanakan selama 2 hari, Rabu – Kamis, 11-12 Mei 2016. Kegiatan ini merupakan lanjutan dari kegiatan penyusunan rencana penanggulangan bencana di rumah sakit atau HDP RSUD Belitung Timur tahun 2015 yang juga didampingi oleh Divisi Manajemen Bencana Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM. Pembaca sekalian, simak reportase kegiatan ini setiap harinya di website ini. Klik Disini

Pedoman Kebutuhan Orang dengan Diabetes dan Penyakit Kronis pada Saat Bencana

bencana-obesitas

bencana-obesitas

Apa kabar pembaca website bencana? Semoga selalu dalam keadaan baik dan sejahtera. Di pengantar minggu ini kami menyajikan sebuah buku pedoman untuk orang-orang dengan diabetes dan penyakit kronis lainnya dalam situasi bencana. Buku disusun oleh Australian Diabetes Educators Association yang ditujukan untuk relawan bencana dan tenaga kesehatan yang bertugas dalam manajemen bencana untuk menghadapi pengungsi, korban, dan masyarakat dengan diabetes. Menariknya, buku ini mengkolaborasikan antara manajemen bencana dan penanganan pasien diabetes. Sangat bermanfaat untuk menghindari peningkatan morbiditas dan mortalitas orang dengan diabetes dan penyakit kronis lainnya pada saat bencana. Selengkapnya Klik Disini

Pembaca sekalian yang sedang mencari pelatihan-pelatihan online manajemen bencana di luar negeri, ada baiknya menyimak tiga tawaran kursus berikut ini:

  1. Global Health Postgraduate Certificate oleh University of Manchester  Klik Disini

  2. Master of Public Health in Global Disaster Management,Humanitarian relief and Homeland Security Klik Disini

  3. Graduate Certificate in Disaster Management Klik Disini

Perlindungan Anak dari Dampak Bencana

Pertama-tama kami ingin mengucapkan selamat kepada pengunjung website bencana yang sedang berpuasa, semoga dilancarkan ibadahnya.

http://www.unicef.org/ceecis/drr2.jpgPembaca sekalian, saat ini masih ada saudara kita di pengungsian Gunung Sinabung. Aktivitas Gunung Sinabung dalam enam tahun ini telah menyebabkan banyak penduduk yang mengungsi. Mereka meninggalkan desa untuk menyelamatkan diri. Keluarga dan harta benda dibawa ketempat pengungsian. Di sini pula kita lihat anak-anak melanjutkan aktivitasnya: bermain dan belajar.

Meski sepertinya anak-anak tidak peduli dengan kondisi ini tetapi dampak psikologis terus berkembang pada anak. Banyak relawan yang datang ke sana untuk memberikan bantuan psikologi ataupun hanya memenuhi kebutuhan belajar anak. Hal seperti inilah yang melatarbelakangi UNICEF untuk membantu negara-negara Asia Tengah dan Caucasus Selatan untuk mendorong pemerintah lokal melakukan pengurangan risiko bencana dengan berfokus pada anak. Penekanan dalam program ini adalah bagaimana anak dan masyarakat mengetahui apa yang harus mereka lakukan pada saat terjadi bencana dan bagaimana mengurangi risiko bencana dalam jangka panjang.

Sama dengan yang sudah Indonesia lakukan, rencananya UNICEF akan medukung tiga negara di Asia Tengah untuk melakukan School Safety Assessment dan mengembangkan guideline pengurangan risiko bencana untuk sekolah. Kegiatan lainnya adalah dengan pengembangan pendidikan pengurangan risiko bencana di sekolah dan pelatihan untuk para guru. Kegiatan semacam ini juga dilakukan di Indonesia, bahkan sudah ada kurikulum bencana untuk anak SD. Menarik sekali bukan? Simak article lengkapnya pada link berikut Klik Disini

Pembaca sekalian, kami juga ingin memberitahukan mengenai perubahan jadwal Seminar Nasional Hospital Disaster Plan (HDP) yang rencananya dilaksanakan pada 2 Juni lalu, sekarang menjadi tanggal 21 Juli 2016. Simak TOR lengkapnya di halaman website ini dan kami tunggu partisipasti bapak dan ibu.

TOR Seminar Nasional Hospital Disaster Plan

Fiji, Indonesia To Endorse Disaster Risk Management Pact

Government will today sign a memorandum of understanding with Indonesia on disaster risk management.

It underscores Government’s bid for improved bilateral relationships with its international counterparts in this sector.

The Minister for National Disaster Management Inia Seruiratu will sign the agreement with the head of the National Disaster Management Authority of the Republic of Indonesia Willem Rampangilei at the National Disaster Management office at around 11:30am in Suva.

Mr Rampangilei is also the chair of Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) Ministerial Meeting on Disaster Management as well as a member of the Conference of the Parties to ASEAN Agreement on Disaster Management and Emergency Response (AADMER).

He was previously a deputy to Indonesia’s co-ordinating minister for culture and human development, and in charge of disaster impacts and social affairs.

At 1:30pm, he will depart Suva for a site visit at Queen Victoria School where the Indonesian military are carrying out Tropical Cyclone Winston rehabilitation work on the school.

The Indonesians offered to rebuild the badly-damaged boarding school under the Government’s Adopt a School programme.

Why ASEAN’s disaster management strategy must include gender

The ASEAN Agreement on Disaster Management and Emergency Response (AADMER) came into being in December 2009. It has played a tremendous role in enhancing regional and national capacities for disaster response in the region. The recent ‘ASEAN Vision 2025 on Disaster Management’ document provides thoughtful insights on how AADMER can move towards a more people-centred, sustainable and better-networked approach. But these suggestions do not directly address the disproportionate impact disasters have on women.

Survivors stand near the ruin of a house as a helicopter flies above the tsunami devastated village of Pororogat, South Pagai island, West Sumatra, Indonesia, 28 October 2010. (Photo: AAP).

The UN Security Council’s first resolution on the Women, Peace and Security (WPS) agenda was launched in October 2000. Although it was developed with the plight of women in conflict settings in mind, the WPS agenda itself is not just about conflict or even just about women. It is a transformative agenda that seeks to create sustainable peace, ensure greater participation and facilitate the move from gender inequality to gender justice. In its broader vision the agenda resonates with the objectives of the ASEAN Community post-2015 and is contiguous with ASEAN’s human rights agenda.

It is critical that the WPS agenda becomes an important component of disaster response planning and management. There is ample evidence that women are disproportionately affected both during disasters and in response settings. For example, an Oxfam report in 2005 highlighted how women and girls were extremely affected by the 2004 tsunami, stressing their disproportionately high mortality rates. A 2007 study on disasters in 141 countries revealed that gender differences in mortality rates were directly related to women’s economic and social rights, and that men and boys were given preferential treatment during rescue operations. Beyond the immediate effects, both women and girls suffered more acutely from shortages of food and economic resources.

The four pillars that bolster the WPS agenda — prevention, participation, protection, and relief and recovery — correspond to the objectives outlined in AADMER and could be adapted into its framework. To become a more effective tool, AADMER should incorporate an explicitly gendered perspective on disaster response.

AADMER does currently take into account vulnerable groups in disaster settings and has specific provisions for this purpose, like the inclusion of and consultation with these groups in planning and management. But the agreement does not explicitly mention any specific focus on the forms of vulnerabilities unique to women, including the increase in sexual and gender-based violence in post disaster settings. Instead ‘vulnerable groups’ mentioned in the agreement should be understood to implicitly include women.

Article 6 of the agreement aims to include local practices and knowledge into disaster management processes. But it does not acknowledge the active role many women can, and often do, play throughout the various stages of disaster response and rehabilitation like procuring food, clothing and shelter through their own informal networks before aid arrives. This locks women in a victim narrative and does not recognise their role as valuable actors in disaster management. The absence of an explicit gendered approach in AADMER hence reduces the sustainability of rebuilding and rehabilitation efforts.

Post disaster this can further increase women’s vulnerability and economic insecurity. Persistent gender inequalities are only exacerbated in a crisis setting. A gendered perspective on disaster planning and management may significantly reduce these risks.

There are various possible entry points to incorporate the WPS agenda in AADMER. Article 3 of AADMER, for example, outlines the need to extend disaster risk reduction efforts in order to incorporate sustainable development policies at all levels and involve all relevant stakeholders, including local communities. As mentioned earlier, Article 6 specifies the importance of strengthening community participation as well as promoting and utilising local knowledge and practices. This could potentially include formalising women’s ‘informal networks’, for example, through the creation of local women’s response teams. These articles provide avenues through which ASEAN could help develop more resilient communities.

Indonesia and the Philippines have already embarked on the WPS agenda through their specific WPS National Action Plans that address women’s protection during conflict settings and their participation in peace building efforts. This is reflected in a 2014 Indonesian Presidential decree and in the Philippines through the National Action Plan on Women, Peace and Security (NAPWPS). These could be ‘launching pads’ for incorporating the agenda in disaster settings as well. But for this to be successful it will be crucial that more developed ASEAN states assist their ASEAN neighbours in areas where they may lack the financial and technical capabilities or necessary skills and training programs.

Singapore, for example, can certainly step in to fill this void. Singapore could play a leading role in promoting and coordinating the WPS agenda in AADMER as well as creating strong monitoring and evaluating systems. Supporting research investigating gender sensitive early warning systems, and providing gender-sensitivity training for disaster response teams are two possible areas for greater collaboration and involvement.

What is also needed is the collection of greater disaggregated data at a regional level to facilitate a more nuanced picture of the gendered impacts of disasters across the region. It will also be necessary to further investigate how discourses on risk and safety following a disaster are shaped.

The integration of ASEAN into a single regional market through the ASEAN Economic Community compels Singapore to work towards greater stability in the region. In such an interconnected community disasters that happen elsewhere can have repercussions across the entire region. The increased movement of people following a disaster — as many succumb to desperate measures to survive due to heightened economic insecurity — can evolve into issues of national security, for example human trafficking, where Singapore becomes a crucial node in the system or a destination point. A disaster in one area has transnational implications.

Natural disasters are not discerning. They affect all: men and women, rich and poor. It will be imperative to support the WPS agenda using the AADMER platform to create a more disaster resilient region. This should be a key goal for Singapore as chair of ASEAN in 2018.

Tamara Nair is a Research Fellow at the Centre for Non-Traditional Security (NTS) Studies at the S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technological University, Singapore.

Indeks Skor Bencana Alam Wonogiri Tinggi

WONOGIRI – Di level nasional, Kabupaten Wonogiri memiliki indeks skor 146 dan menjadi daerah berkategori tinggi dalam hal kerawanan bencana alam di Indonesia, utamanya bencana alam tanah longsor dan banjir, yang terjadi pada setiap musim hujan.

Demikian ditegaskan Asisten Sekda Wonogiri Bambang Haryadi, Kamis (2/6), ketika menjadi pembina apel latihan gladi siaga penanggulangan bencana alam yang digelar di Alun-alun Giri Krida Bakti di depan Kantor Bupati Wonogiri. ‘’Bencana alam memang tidak dapat diprediksi kapan terjadi. Tapi dengan menyiapkan tenaga terlatih siaga penanggulangan bencana, maka dampaknya dapat dieleminisasi,’’ tegas Bambang.

240 Bencana

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wonogiri Bambang Haryanto menyatakan, selama lima bulan terakhir, periode Januari-Mei 2016, di Wonogiri terjadi 240 bencana yang menimbulkan kerugian material Rp 3,39 miliar, terdiri atas bencana longsor 115 kali, banjir 28 kali, angin topan 87 kali, dan kebakaran 10 kali. ‘’Untuk latihan gladi penanggulangan bencana yang digelar satu hari di Alun-alun Giri Krida Bakti ini diiikuti 284 personel sukarelawan siaga bencana,’’ ujar Bambang Haryanto.

Para peserta datang sebagai perwakilan dari dinas dan instansi pemerintah, badan usaha, TNI, Polri, dan unsur terkait lain. Tampil menjadi instruktur pelatihan adalah para sukarelawan dari BPBD, PMI, SAR, TNI, dan Polri yang berkualifikasi sebagai pelatih.

Kepada para peserta diberikan simulasi penanggulangan bencana yang skenarionya dibuat untuk penanganan bencana banjir.

Utamanya ketika terjadi luapan air buangan dari Waduk Gajahmungkur Wonogiri karena hujan deras berkepanjangan dan menyebabkan volume air melebihi kapasitas tampungan. Para peserta juga dilatih mendirikan tenda, memasak logistik di dapur umum, cara taktis dalam melakukan komunikasi penanggulangan bencana, dan praktik pemberian pertolongan kepada korban bencana. (P27-85)

BNPB: Warga Sempat Panik Akibat Gempa 6,5 SR, Aktivitas Kini Normal

BNPB: Warga Sempat Panik Akibat Gempa 6,5 SR, Aktivitas Kini Normal

Jakarta – Gempa berkekuatan 6,5 SR mengguncang Pesisir Selatan, Sumatera Barat pagi ini. Warga di Sumatera Barat dan sekitarnya yang sempat panik kini sudah beraktivitas normal kembali.

“Masyarakat panik dan berhamburan keluar rumah. Hubungan komunikasi telepon dan listrik normal. Saat ini kondisi masyarakat telah normal. Belum ada laporan kerusakan,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangannya, Kamis (2/6/2016).

Posko BNPB telah mengkonfirmasi dampak gempa 6,5 SR ke beberapa BPBD yang terdampak. Beberapa daerah dilaporkan mengalami guncangan keras hingga sedang.

Guncangan gempa sangat keras dirasakan masyarakat di Kabupaten Pesisir Selatan dan Muko-Muko selama sekitar 20-30 detik. Tempat tidur dan peralatan rumah bergeser dari posisinya. Masyarakat panik dan berhamburan keluar rumah. Bahkan, ada sebagian masyarakat yang hendak mengungsi. Dampak kerusakan akibat gempa masih dalam pendataan.

Di Kota Padang gempa dirasakan cukup kuat. Masyarakat di wilayah pesisir Sumatera Barat, Bukit Tinggi, Padang Panjang dan sekitarnya juga merasakan guncangan gempa cukup keras.

Gempa juga dirasakan di Solok Selatan, Jambi, Bengkulu Utara, Kota Bengkulu, Padang Pariaman, Pekanbaru, Pasaman, Tanah Datar, dan beberapa daerah di Sumatera. BPBD saat ini masih mendata kerusakan yang terjadi.

“Gempa dipicu oleh aktivitas subduksi lempeng Hindia Australia dan lempeng Eurasia di zona benioff bagian atas. Posko BNPB telah menganalisis guncangan gempa dari BMKG, USGS dan GDAC,” papar Sutopo.

Berdasarkan peta guncangan gempa atau gempa dirasakan dari BMKG, maka intensitas gempa dirasakan di Solok, Painan, Muko-muko IV-V MMI (II SIG BMKG); Kepahiang, Padang Panjang III-IV MMI ( II SIG BMKG); Kabupaten Agam, Kabupaten 50 Kota III MMI (II SIG BMKG). SIG adalah Skala Intensitas Gempabumi yang dibuat oleh BMKG sesuai dengan kondisi Indonesia. II SIG berarti dirasakan banyak orang tetapi tidak menimbulkan kerusakan. Benda-benda ringan yang digantung bergoyang dan jendela kaca bergetar.

Sedangkan berdasarkan analisis guncangan gempa dari USGS (Badan Geologi Amerika) di Pesisir Selatan berintensitas VI MMI (kuat), sedangkan di Muko-Muko IV MMI (sedang). Potensi kerusakan akibat gempa hanya ringan. Sedangkan berdasarkan analisis dari Global Disaster Alert and Coordination System, guncangan gempa berintensitas VI MII (kuat) di Desa Gati Kabupaten Pesisir Selatan. Tingkat kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa ringan. Hal ini disebabkan gempa yang terjadi adalah gempa dengan kedalaman menengah, dimana ciri gempa kedalaman menengah spectrum getarnya luas namun tidak menimbulkan kerusakan yang masif.
(imk/aan)

sumber: detik.com

BMKG: Gempa 6,5 SR di Sumbar Cukup Kuat Tapi Tak Timbulkan Kerusakan

BMKG: Gempa 6,5 SR di Sumbar Cukup Kuat Tapi Tak Timbulkan Kerusakan

Jakarta – Gempa berkekuatan 6,5 SR mengguncang Sumatera Barat. Gempa ini cukup kuat namun tidak mengakibatkan kerusakan.

“Mengacu parameter ini tampak bahwa gempa tersebut merupakan gempa menengah terjadi akibat aktivitas subduksi lempeng di zona,” ujar Kepala Bidang Mitigasi Gempa bumi dan Tsunami BMKG Daryono saat dihubungi detikcom, Kamis (2/6/2016).

Menurut Daryono, gempa ini memiliki efek permukaan yang cukup kuat. “Tetapi tidak menimbulkan kerusakan,” tambahnya.

Sebelumnya, gempa pertama kali tercatat pada pukul 05.35 WIB. Pusat gempa berada di sebelah barat daya Sumbar dengan jarak 79 km dengan kedalaman 72 km.

sumber: detik.com

Earthquake disaster management

It is indeed unsettling to note that when it comes to earthquake of a high magnitude, our disaster management preparedness is almost nonexistent. This is distressing as such a tremor in the Modhupur fault line will spell disaster for Dhaka, one of the most densely populated cities in the world. Experts at a seminar a few days ago said that an earthquake of 7.5 would kill around 1 lakh people, 1.6 lakh families would be displaced, not to mention the 72,000 buildings that would be razed to the ground in the capital alone.  

The ever-increasing density of population in the city and unplanned urbanisation over the last couple of decades has certainly increased our vulnerabilities. It, however, defies any sense of logic that despite repeated calls to demolish structurally unsafe buildings, no such measure has been taken to that effect. Equally perturbing is the non-implementation of the building code and the lack of monitoring of new structures at their planning stages. To make it worse, land-owners, the developers, the authorities concerned, it seems, are oblivious of the catastrophe that lies in the wait for us. 

It is better to be safe than sorry. Pulling down risky buildings, strictly enforcing the national building code and retrofitting important structures are the order of the day. It is also crucial to coordinate the disaster management efforts so that mock drills and other preparedness exercises can be seamlessly carried out. It is imperative that we prepare ourselves to promptly respond in case of eventualities. Also, appropriate acquisition of rescue equipments and gearing up operational modalities should be undertaken immediately.