Mitigasi Bencana Perlu Memperhitungkan Tata Ruang

JAKARTA, KOMPAS.com – Penanggulangan bencana merupakan salah satu visi pemerintah yang masuk dalam program Nawacita.

Pentingnya penanggulangan bencana ini secara paralel dapat mewujudkan kemandirian ekonomi dan menggerakkan sektor-sektor ekonomi domestik.

“Penanggulanan bencana dilakukan untuk melindungi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi yang berisiko,” ujar Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Wisnu Widjaja saat “Workshop Karakterisasi Sumber Gempa Baru untuk Updating Peta Gempa Indonesia 2016” di Hotel Ambhara, Jakarta, Senin (30/5/2016).

Ia mengatakan, kerusakan dan kerugian yang ditimbulkan bencana alam membutuhkan upaya antisipatif untuk mengurangi atau meminimalisasi bencana di masa depan.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2014-2019, pemerintah juga diarahkan untuk menanggulangi bencana dan meningkatkan ketahanan pemerintah daerah, serta masyarakat dalam menghadapi bencana.

Sasarannya adalah menurunkan indeks risiko. Terutama, karena Indonesia berada di lingkungan ekonomi yang kian bertumbuh.

“Kita diharapkan bisa menurunkan risiko bencana di 136 pusat-pusat pertumbuhan. Kalau bisa melindungi pusat-pusat pertumbuhan, kita harapkan ekonomi tumbuh dan kerentanan di daerah lain bisa kita kurangi,” jelas Wisnu.

Dalam upaya tersebut, BPNB melaksanakan beberapa strategi utama, antara lain internalisasi mitigasi bencana dalam kerangka pembangunan berkelanjutan, koordinasi dengan Kementerian Agraria dan Tata Ruang atau Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), dan peningkatan kapasitas daerah dalam penanggulangan bencana.

Kaitannya dengan Kementerian ATR/BPN sendiri adalah pemerintah perlu memperhitungkan pembangunan dalam penyusunan tata ruang.

Western Australia earthquake has strength of ‘atomic bomb’

An earthquake that shook Western Australia’s goldfields overnight had the strength of an “atomic bomb” blasting underground.

Three earthquakes hit near Norseman, including a magnitude 5.2 tremor reportedly felt as far away as Perth.

The first was a 4.9 magnitude quake about 6km under the surface hitting about 11.30pm local time, then the 5.2 was about an hour later and the last was a 3.2 magnitude tremor about 1.44am on Sunday.

Geoscience Australia senior seismologist Dan Jaksa said it was the largest event in WA since the magnitude five earthquake in Kalgoorlie in April 2010, which left several buildings badly damaged.

He said the quakes were caused by tectonic stress due to Australia’s continental plate moving about seven centimetres a year and the one that hit shortly after midnight was the equivalent to an atomic bomb going off.

“When we see a nuclear test occur, they’re generally a magnitude five,” Jaksa said.

Geoscience Australia asks the public to fill out surveys on their website whenever they feel tremors.

Jaksa said so far about 100 surveys had been filled since midnight, including reports of the quakes being felt in Perth and Esperance, hundreds of kilometres away.

Brodie Woods, who works at Norseman BP, said he woke up to the first tremor on Saturday night, thinking someone was trying to break into his house.

“The window in my bedroom was rattling like crazy,” he said.

Woods said he ran outside to see who was trying to get in – joining most of his neighbours who thought the same thing until they realised it was a quake.

He then thought it was a nearby mine blasting, but then there was another.

Claye Poletti, the owner of the Bottlemart Express Norseman Hotel, said the 5.2 felt “pretty severe”.

“It kept on shaking, shaking and shaking,” Poletti said.

He said the 1934-built character pub didn’t sustain any damage but the quake rattled the two-storey landmark.

“It rocked the old building. It shook pretty well.”

Poletti said dogs could be heard barking madly, but Shadow, his Staffordshire terrier, wasn’t too worried.

“He’s pretty tough – he probably thought it was a heavy train like everyone else did.”

Jaksa said the quakes were significant but common in WA, particularly in the Wheatbelt region.

However, he considers Australian earthquakes “among the most dangerous in the world” because they happen randomly.

“We’re just not used to them, they’ll come out of the blue and in random places, so we’re just not as prepared,” he said.

Jaksa said it was important to stay inside and get under furniture.

“To run outside is the most dangerous thing to do – the majority of deaths occur outside the buildings,” he said.

The department of fire and emergency services said it had not received any notifications of building damage.

People from as far away as Kalgoorlie and Esperance – both about 200km away – had phoned Woods telling him they had also felt the earthquake.

Longsor di Enrekang, Akses Jalan Terputus

REPUBLIKA.CO.ID, MAKASSAR — Akses jalan yang menghubungkan Desa Buntu Mondong dan Desa Latimojong Kecamatan Buntu Batu Kabupaten Enrenkang, Sulawesi Selatan terputus akibat bencana tanah longsor.

“Ada tiga titik mengalami longsor. Selain menutupi jalan yang menghubungkan Desa Buntu Mondong dengan Desa Latimojong, puluhan hektare kebun kopi ikut tertimbun,” kata sekertaris Desa Buntu Modong, Suardi, Ahad (29/5).

Dalam keterangan tertulisnya, Suardi menyebutkan bahwa tanah longsor tersebut diakibatkan hujan yang mengguyur desa sepanjang hari Jumat (27/5), sehingga tanah mengalami longsor di tiga titik.

Untuk mengantisipasi kejadian tersebut, kata dia, warga setempat mulai membersihkan bekas longsoran dari badan jalan agar tidak menghalangi jalur tersebut.

“Setelah longsor itu, warga di dua desa bergotong royong membersihkan gudukan tanah di jalanab, sampai hari ini jalan mulai bisa diakses,” ungkapnya.

Tidak hanya di dua desa tersebut, wilayah pegunungan seperti kecamatan Curio, Buntu Batu, Masalle dan Baroko juga sangat rawan tanah longsor. Curah hujan yang cukup tinggi menjadi faktor utama bencana tanah lonsor.

Sebelumnya, bencana serupa juga melanda warga yang ada di desa Parombean. Bahkan, desa tersebut masih dalam status tanggap darurat. Begitu juga yang terjadi di Desa Sanglepongan Kecamatan Curio. Lebih dari 30 jiwa warga Desa Sanglepongan mengungsi apabila hujan turun dengan intesitas tinggi.

Tim TRC BPBD Kabupaten Enrekang yang turun ke lokasi kejadian menyebutkan kondisi di wilayah tersebut memang sangat rawan tanah longsor. “Jalan poros yang menghubungkan akses dari desa ke desa berada di tebing pegunungan. Belum lagi jalanan yang sangat sempit dengan bagian sisi lainnya adalah jurang,” sebut personel BPBD Enrekang, Fhay.

Saat longsor terjadi maka akses jalan, lanjut Fhay, tidak bisa dilalui kendaraan karena tertimbun sendimen tanah yang cukup banyak menutupi jalan tersebut.

Diketahui Desa Buntu Mondong dan Desa Latimojong adalah desa terjauh di kecamatan Buntu Batu. Wilayahnya berbatasan langsung dengan kabupaten Tana Toraja dan Palopo. Ada sekitar seribu lebih warga yang tinggal di kedua desa itu.

Reportase: Sosialisasi dan Simulasi HDP RSUD Kabupaten Belitung Timur

Pembukaan

Reportase Hari 1:

Sosialisasi dan Simulasi HDP RSUD Kabupaten Belitung Timur

11-12 Mei 2016


Pembukaan

Kegiatan Sosialisasi dan Simulasi Hospital Disaster Plan (HDP) RSUD Kabupaten Belitung Timur kali ini merupakan kegiatan lanjutan dari penyusunan dokumen HDP pada November tahun 2015. Dokumen HDP pada saat itu telah selesai dibuat sehingga perlu dilakukan uji coba untuk mengetahui keoperasionalan dokumen tersebut.

Kegiatan dibuka oleh Direktur RSUD Kabupaten Belitung Timur dan perwakilan Divisi Manajemen Bencana, PKMK FK UGM. dr. Sulanto Saleh Danu, menyatakan bahwa kegiatan ini sangat penting dan sangat mengapresiasi usaha rumah sakit dalam menyelenggarakan ini sebab tantangan besar setelah berhasil membuat dokumen HDP adalah melakukan sosialisasi dan uji coba. Direktur berharap agar para karyawan di rumah sakit semakin meningkat kompetensinya dengan pelatihan, seminar, dan kegiatan seperti saat ini. Ditambah, hal ini memang dibutuhkan oleh Kabupaten Belitung Timur sebab memang banyak kasus bencana yang pernah dan akan rumah sakit hadapi ke depannya. Seminggu yang lalu, diceritakan bahwa rumah sakit juga sempat menerima korban kecelakaan kapal. Meski masih bisa ditangani dan belum dikatakan bencana tetapi kita harus terus siap siaga.

Peserta pada sesi pagi ini berjumlah 25 orang yang merupakan tim SPGDT-B dan tim Bencana rumah sakit. Kali ini ada 3 materi pengayaan yang diberikan oleh tim PKMK FK UGM. Sesi pertama dan kedua disampaikan oleh dr. Hendro Wartatmo dengan judul materi Pengantar Bencana dan Mengapa Rumah Sakit Membutuhkan HDP dan Hospital Incident Command System dan Overview HDP.

dr-hendro

dr. Hendro menceritakan mengenai kasus-kasus penanganan korban bencana nasional. Kasus-kasus ini menunjukkan bahwa jenis korban berbeda-beda antar jenis bencana. Rumah sakit setempat ada yang mengalami kollaps sehingga harus mendirikan rumah sakit lapangan atau melakukan perawatan di tempat umum lainnya seperti aula, sekolah, dan lainnya. Ada juga rumah sakit yang tidak kollaps tetapi kekurangan sumber daya.

Dalam materi yang disampaikan, peserta menanyakan mengenai kapan sebaiknya tim bencana ini diaktifkan? Bagaimana jika salah satu personel tidak ada?. Pertanyaan ini ditanggapi dr. Hendro bahwa yang perlu dimengerti adalah tidak perlu membantuk struktur organisasi yang baru untuk bencana. Namun, perlu disadari bahwa dalam kondisi bencana akan ada perbedaan struktur organisasi yakni adanya kadatangan relawan. Relawan inilah yang perlu dipikirkan untuk diperbantukan dimana dalam struktur organisasi yang ada. Menjawab kapan diaktifkan, itu tergantung dari protap pengaktifan bencana di rumah sakit. Ada baiknya rumah sakit membuat berdasarkan kemampuan rumah sakit sendiri dalam menghadapi korban dan bagaimana agar sesingkat mungkin proses pengaktifannya.

dr-bella

Sesi berikutnya diisi oleh dr. Bella Donna. Beliau kembali mengingatkan tentang kebijakan Hospital Disaster Plan dalam regulasi rumah sakit maupun dalam akreditasi. Meski demikian, harapannya HDP dapat disusun sesuai dengan kebutuhan rumah sakit sehingga dirasakan manfaatnya. Jika sudah disusun dan diuji secara operasional maka akreditasi pasti bisa dilalui. dr. Bella juga mengingatkan tentang komponen Hospital Disaster Plan, bagian fasilitas perlu diperhatikan, apakah sesuai atau tidak, melalui simulasi esok bersama-sama kita akan melihat fungsi organisasi dan fasilitas yang sebelumnya telah ditentukan dalam dokumen HDP RSUD Belitung Timur.

sosialisasi-hdp

Sesi siang, jumlah peserta bertambah menjadi 60 peserta yang berasal dari perwakilan bagian-bagian di rumah sakit. Sesi ini merupakan sesi sosialisasi dokumen HDP RSDU Belitung Timur. Sesi ini disampaikan oleh Hendri selaku tim penyusun dokumen HDP.

Sesi selanjutnya adalah persiapan simulasi esok. Sesi ini dimulai dengan pengujian kasus bencana kepada seluruh peserta atau semi Table Top Exercise. Fasilitator: Sutono, Budi, Bella, Madelina, dan Sulanto melemparkan beberapa kasus bencana di rumah sakit kepada seluruh peserta, memberikan kesempatan untuk peserta menjawab dan berkoordinasi. Kegiatan ini kemudian menjadi lebih hangat dengan tanggapan dan pertanyaan dari peserta. Peserta menyadari bahwa membaca dokumen saja belum dapat memberikan bayangan tugas mereka dengan jelas, memang perlu simulasi.

Setelahnya, peserta dibagi menjadi dua, tim HDP dan karyawan rumah sakit yang bertugas esok dan peserta yang bertugas sebagai korban.

sesi-table-top

 

Reportase: Sosialisasi dan Simulasi HDP RSUD Kabupaten Belitung Timur

Pembukaan

Sosialisasi dan Simulasi HDP RSUD Kabupaten Belitung Timur

11-12 Mei 2016

{tab title=”Reportase Hari 1″ class=”red”}

 

 

Pembukaan

Kegiatan Sosialisasi dan Simulasi Hospital Disaster Plan (HDP) RSUD Kabupaten Belitung Timur kali ini merupakan kegiatan lanjutan dari penyusunan dokumen HDP pada November tahun 2015. Dokumen HDP pada saat itu telah selesai dibuat sehingga perlu dilakukan uji coba untuk mengetahui keoperasionalan dokumen tersebut.

Kegiatan dibuka oleh Direktur RSUD Kabupaten Belitung Timur dan perwakilan Divisi Manajemen Bencana, PKMK FK UGM. dr. Sulanto Saleh Danu, menyatakan bahwa kegiatan ini sangat penting dan sangat mengapresiasi usaha rumah sakit dalam menyelenggarakan ini sebab tantangan besar setelah berhasil membuat dokumen HDP adalah melakukan sosialisasi dan uji coba. Direktur berharap agar para karyawan di rumah sakit semakin meningkat kompetensinya dengan pelatihan, seminar, dan kegiatan seperti saat ini. Ditambah, hal ini memang dibutuhkan oleh Kabupaten Belitung Timur sebab memang banyak kasus bencana yang pernah dan akan rumah sakit hadapi ke depannya. Seminggu yang lalu, diceritakan bahwa rumah sakit juga sempat menerima korban kecelakaan kapal. Meski masih bisa ditangani dan belum dikatakan bencana tetapi kita harus terus siap siaga.

Peserta pada sesi pagi ini berjumlah 25 orang yang merupakan tim SPGDT-B dan tim Bencana rumah sakit. Kali ini ada 3 materi pengayaan yang diberikan oleh tim PKMK FK UGM. Sesi pertama dan kedua disampaikan oleh dr. Hendro Wartatmo dengan judul materi Pengantar Bencana dan Mengapa Rumah Sakit Membutuhkan HDP dan Hospital Incident Command System dan Overview HDP.

dr-hendro

dr. Hendro menceritakan mengenai kasus-kasus penanganan korban bencana nasional. Kasus-kasus ini menunjukkan bahwa jenis korban berbeda-beda antar jenis bencana. Rumah sakit setempat ada yang mengalami kollaps sehingga harus mendirikan rumah sakit lapangan atau melakukan perawatan di tempat umum lainnya seperti aula, sekolah, dan lainnya. Ada juga rumah sakit yang tidak kollaps tetapi kekurangan sumber daya.

Dalam materi yang disampaikan, peserta menanyakan mengenai kapan sebaiknya tim bencana ini diaktifkan? Bagaimana jika salah satu personel tidak ada?. Pertanyaan ini ditanggapi dr. Hendro bahwa yang perlu dimengerti adalah tidak perlu membantuk struktur organisasi yang baru untuk bencana. Namun, perlu disadari bahwa dalam kondisi bencana akan ada perbedaan struktur organisasi yakni adanya kadatangan relawan. Relawan inilah yang perlu dipikirkan untuk diperbantukan dimana dalam struktur organisasi yang ada. Menjawab kapan diaktifkan, itu tergantung dari protap pengaktifan bencana di rumah sakit. Ada baiknya rumah sakit membuat berdasarkan kemampuan rumah sakit sendiri dalam menghadapi korban dan bagaimana agar sesingkat mungkin proses pengaktifannya.

dr-bella

Sesi berikutnya diisi oleh dr. Bella Donna. Beliau kembali mengingatkan tentang kebijakan Hospital Disaster Plan dalam regulasi rumah sakit maupun dalam akreditasi. Meski demikian, harapannya HDP dapat disusun sesuai dengan kebutuhan rumah sakit sehingga dirasakan manfaatnya. Jika sudah disusun dan diuji secara operasional maka akreditasi pasti bisa dilalui. dr. Bella juga mengingatkan tentang komponen Hospital Disaster Plan, bagian fasilitas perlu diperhatikan, apakah sesuai atau tidak, melalui simulasi esok bersama-sama kita akan melihat fungsi organisasi dan fasilitas yang sebelumnya telah ditentukan dalam dokumen HDP RSUD Belitung Timur.

sosialisasi-hdp

Sesi siang, jumlah peserta bertambah menjadi 60 peserta yang berasal dari perwakilan bagian-bagian di rumah sakit. Sesi ini merupakan sesi sosialisasi dokumen HDP RSDU Belitung Timur. Sesi ini disampaikan oleh Hendri selaku tim penyusun dokumen HDP.

Sesi selanjutnya adalah persiapan simulasi esok. Sesi ini dimulai dengan pengujian kasus bencana kepada seluruh peserta atau semi Table Top Exercise. Fasilitator: Sutono, Budi, Bella, Madelina, dan Sulanto melemparkan beberapa kasus bencana di rumah sakit kepada seluruh peserta, memberikan kesempatan untuk peserta menjawab dan berkoordinasi. Kegiatan ini kemudian menjadi lebih hangat dengan tanggapan dan pertanyaan dari peserta. Peserta menyadari bahwa membaca dokumen saja belum dapat memberikan bayangan tugas mereka dengan jelas, memang perlu simulasi.

Setelahnya, peserta dibagi menjadi dua, tim HDP dan karyawan rumah sakit yang bertugas esok dan peserta yang bertugas sebagai korban.

sesi-table-top

 

{tab title=”Reportase Hari 2″ class=”blue”}

h2-hdp

Simulasi dimulai pada pukul 10.00 WIB. Namun, seluruh peserta sudah berkumpul sejak pukul 08.00 pagi. Peserta yang menjadi korban berkumpul di selasar laboratorium dan tim HDP berkumpul di Aula rumah sakit untuk mendapat materi tambahan oleh dr. Hendro. dr. Hendro merasa perlu menyampaikan mengenai SPGDT-B yang dipegang oleh rumah sakit, bahwa saat ini hal tersebut sudah tidak ada lagi, semuanya sudah menjadi satu menjadi SPGDT saja. Dimana letak HDP? HDP merupakan salah satu bagian kecil dari SPGDT tersebut.

Setelah semua korban selesai dirias wajahnya sebagai korban, tim HDP siang, dan ruangan tepat simulasi sudah siap maka simulasi segera dimulai. Kasus simulasi kali ini sebagai berikut:

Pada hari Kamis, 12 Mei 2016, terjadi kecelakaan massal berupa tabrakan kapal boat dengan sejumlah penumpang di dalamnya. Korban dievakuasi dari kapal sejumlah 10 orang dengan luka berat, serta 24 korban dengan luka ringan. Korban diangkut dengan kendaraan umum secara bersamaan ke IGD RS Belitung Timur.
Kepala IGD memandang bahwa kasus tersebut sudah diluar kapasitas kemampuan tim medis IGD sehingga memutuskan untuk aktivasi tim bencana RS. Selanjutnya Kepala IGD melapor ke Direktur RS untuk menindaklanjuti kejadian tersebut. Selanjutnya Direktur dengan kewenangannya melakukan aktivasi tim bencana RS. Sesuai HDP yang sudah disusun, semua tim bekerja sesuai dengan SOP yang sudah ada.

Sekitar satu jam, simulasi berjalan. Tempat utama pelaksanaan simulasi di IGD rumah sakit. Ada 4 kali pengiriman korban ke rumah sakit. Proses evaluasi simulasi tidak saja secara penanganan medis, tetapi juga secara manajemen. Kegiatan simulasi berhenti ketika ketua IGD mendapat laporan bahwa di IGD sudah aman sehingga ketua IGD mengumumkan bahwa masa gawat darurat di rumah sakit sudah berhenti.

Setelah simulasi, seluruh staf kembali berkumpul di Aula rumah sakit untuk bersama-sama melakukan evaluasi. Evaluasi secara mandiri pertama disampaikan oleh tim HDP dan perwakilan korban. Disusul, evaluasi dan masukan dari evaluator PKMK FK UGM.

galeri

{/tabs}

 

BNPB: 5 Tewas dan 388 Jiwa Mengungsi Akibat Banjir Bandang di Cisalak

BNPB: 5 Tewas dan 388 Jiwa Mengungsi Akibat Banjir Bandang di Cisalak

 Jakarta – Banjir bandang melanda wilayah Cisalak, Jawa Barat. Sedikitnya 5 orang tewas akibat peristiwa ini.

“5 tewas, 7 luka, 388 jiwa mengungsi dan 16 rumah rusak berat akibat banjir bandang di Kecamatan Cisalak Jabar,” kata Kapusdatin dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho lewat akun twitter miliknya @Sutopo_BNPB, Rabu (25/5/2016).

Peristiwa tersebut terjadi sejak Minggu (22/5). Kayu, batu, hingga lumpur bercampur dan menerjang permukiman warga.

“Alat berat dikerahkan untuk mencari korban dan penanganan darurat banjir bandang di Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang Jabar,” imbuh Sutopo.

Dia menambahkan, ciri khas banjir di Indonesia adalah adanya hujan dan longsor di bagian hulu. Longsor tersebut kemudian menerjang bagian bawah perbukitan.

sumber: detik.com

Nepal Earthquake – One Year Later

mcc nepal apr2016 1It’s been a tragic and difficult year for many in Nepal in the aftermath of the 7.8 magnitude earthquake and the hundreds of aftershocks that followed. There was extensive damage across the country, with more than 8,000 people killed and close to 900,000 homes destroyed or damaged. MCC’s response is ongoing, and will continue to be.

Bruce Guenther is the Disaster Response Director for Mennonite Central Committee Canada. He says much of the damage was in rural areas where MCC has ongoing programs, primarily regarding agriculture and nutrition.

“So in one district that originally the government didn’t include as being severely affected, actually had about ninety per cent of the houses…destroyed.”

Guenther offers some additional details on some of the other key projects MCC has been involved in over the past twelve months.

He goes on to say that while basic needs are still required in many areas of Nepal, MCC Canada is moving forward with a reconstruction plan that just needs the Nepalese government’s stamp of approval.

“The government has put aside resources to help with reconstruction and so the key thing that we are working on right now for planning is conducting training with construction workers and masons so that when they do reconstruction…the housing will be earthquake-resistant.”

Guenther adds while the hope was that these plans would have been approved quicker, MCC Canada is trying to work within the system in Nepal. He anticipates the approval will come down this spring/summer. 

With one year of relief efforts already under their belt, Guenther says the expectation is that MCC’s work in Nepal will extend between three and four years. “It does take time, especially if we want to do things properly, and we want to coordinate well with the government to make sure that the people who really need assistance, get it.”

Guenther is thankful for the generous support that MCC has received from both Canada and the United States, donations surpassing the $3 million mark. “The majority of that money has been set aside for these longer-term reconstruction activities.” He is also thankful for the partnerships that have been formed on the ground in Nepal, creating the ability to provide more urgent assistance to people in need.

 

Begini Skala Intensitas Gempa BMKG yang Terbaru

Bandung – Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) melakukan modifikasi skala intensitas gempa. Skala dari I-V itu mulai diperkenalkan Mei 2016. Sebelumnya BMKG memakai skala intensitas gempa MMI (Modified Mercalli Intensity) dari I-XII.

Skala intensitas gempa merupakan pendekatan untuk mengukur kekuatan gempa bumi berdasarkan laporan orang yang merasakan getaran lindu. Skala MMI dibuat Giuseppe Mercalli pada 1902. “Alasan dibuat skala intensitas gempa BMKG itu untuk memudahkan masyarakat mengerti dan memahami intensitas gempa bumi sesuai kondisi di Indonesia,” kata Daryono, Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Jumat, 6 Mei 2016.

Menurut dia, skala intensitas gempa MMI diperkenalkan di negara barat sehingga deskripsinya dikaitkan dengan bangunan di negara Eropa dan Amerika, misalnya ada cerobong asap. Meskipun MMI punya 12 skala sehingga cukup rinci, namun BMKG mengaku kesulitan menjelaskannya secara mudah kepada masyarakat. “Jepang juga memakai skala intensitas gempa sendiri dengan skala 0-7,” ujarnya.

Skala I, gempa terekam oleh alat pencatat gempa, namun getarannya tidak dirasakan atau hanya dirasakan beberapa orang saja. Skala I ditandai dengan warna putih pada peta kejadian gempa. Pada MMI, itu setara dengan skala I-II.

Skala II yang diwarnai hijau oleh BMKG, artinya gempa dirasakan oleh banyak orang tetapi tidak menimbulkan kerusakan. Adapun benda-benda ringan yang digantung terlihat bergoyang, dan jendela atau kaca bergetar. Kondisinya sama seperti MMI skala III-IV.

Skala III berwarna kuning, artinya gempa menimbulkan kerusakan ringan. Bagian non struktur bangunan mengalami kerusakan ringan seperti retak rambut pada dinding, genteng bergeser ke bawah, dan sebagian berjatuhan. Skala itu seperti pada MMI skala VI.

Skala IV yang berwarna jingga atau setara MMI skala VII-VIII, menandakan banyak retakan terjadi pada dinding. Akibat gempa juga pada skala tersebut, sebagian bangunan roboh, kaca pecah, sebagian plester dinding lepas, dan hampir sebagian besar genteng bergeser ke bawah atau jatuh. Struktur bangunan juga mengalami kerusakan ringan sampai sedang.

Skala V berwarna merah yang setara MMI skala IX-XII, merupakan gempa yang menimbulkan kerusakan hebat. Sebagian besar dinding bangunan permanen roboh, struktur bangunan mengalami kerusakan berat, dan rel kereta api melengkung. “Penggagasnya Deputi Bidang Geofisika BMKG Masturyono,” kata Daryono.

ANWAR SISWADI 

sumber: TEMPO.CO

Poverty increases in quake-hit districts

Three districts — Rasuwa, Sindhupalchok and Sindhuli — hit by the devastating April 25 earthquake have witnessed a significant increase in poverty, a study carried out by the Poverty Alleviation Fund shows.

The quake that killed nearly 9,000 people, injured around 22,000 and destroyed hundreds of houses and structures, has crippled the country’s economy. The report that was made public in the capital today said the study was conducted in three quake-hit districts — Rasuwa, Sindhupalchok and Sindhuli — and it was found during the study that 15-20 percent households hit by the quake were forced to live below the poverty line.

The report suggested to the PAF to introduce programmes to lift the living standards of quake-affected families in collaboration with other organisations.

On the occasion, chief disaster expert Man Bahadur Thapa, who was also a part of the study team, stressed the need for PAF to initiate programmes like livestock insurance in raising the standards of quake-hit families.


A version of this article appears in print on May 08, 2016 of The Himalayan Times.

Gempa Basel Temukan TI Tower Kembali Beroperasi di Laut Kubu

BANGKA–LSM Gerakan Masyarakat Peduli Lingkungan (Gempa) Bangka Selatan menemukan puluhan ponton TI Tower kembali beroperasi di kawasan Pantai Kubu, Toboali, pada Sabtu (07/05/2016).

Pihak Gempa merasa larangan Pemerintah Daerah Basel terhadap aktivitas tambang di perairan Toboali tidak dipatuhi oleh para penambang.

Ketua Gempa Basel, Yudi Andrianto mengatakan dirinya melihat dengan mata kepala sendiri aktivitas TI tower di kawasan destinasi wisata daerah.

“Padahal pemerintah daerah sudah memberikan peringatan keras terhadap aktivitas tambang laut, tetapi para penambang seolah tak pernah jera dan enggan mentaati kebijakan pemerintah daerah yang sudah menetapkan Pantai Kubu sebagai kawasan pariwisata daerah,” kata Yudi kepada bangkapos.com, Minggu (8/5/2016)

Menurutnya kembali beroperasinya TI tower di Pantai Kubu akan berdampak terhadap lingkungan. Untuk itu pihaknya akan terus konsisten menolak keberadaan aktivitas tambang laut di perairan Toboali.

“Sebenarnya kita dituntut untuk tidak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri atau kelompoknya saja, tetapi juga kemaslahatan semua pihak. Lihatlah dampak eksploitasi secara berlebihan sudah sangat nyata terlihat. Selama ini, pemanfaatan sumber daya timah tanpa aturan dan sikap acuh manusia jelas-jelas penyebab adanya krisis lingkungan,” jelasnya.

Yudi menegaskan aktivitas illegal mining sudah jelas bertentangan dengan amanat Undang Undang No.32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH).

“Jangan kita diamkan berlarut-larut, sebab aktivitas tambang laut sudah bertahun-tahun dengan leluasa merusak laut daerah. Apa yang kita saksikan saat ini adalah bukti ketiadaan akhlak terhadap lingkungan. Sepantasnya TI Tower harus dihilangkan, kita harus tolak tambang laut di perairan daerah,” ujar Oday, panggilan akrabnya

sumber: BANGKAPOS.COM