Bengkulu Kembali Digoyang Gempa 4,0 SR

BENGKULU – Gempa tektonik dengan kekuatan 4.0 SR, Minggu (8/5/2016) mengguncang Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, sekira pukul 11.01 WIB.

Gempa itu berlokasi di 2.65 Lintang Selatan, 101.60 Bujur Timur, berada di 54 km timur Kabupaten Mukomuko, dengan kedalaman 77 Km.

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kepahiang Bengkulu, Litman mengatakan, gempa yang terjadi disebabkan adanya pergeseran lempeng Indo-Eurasia dan Indo-Australia.

“Lantaran getaran gempa skalanya kecil jadi tidak terlalu terasa oleh masyarakat Bengkulu,” kata Litman kepada Okezone, Minggu (8/5/2016).

Dengan seringnya terjadi gempa-gempa kecil, lanjut Litman, maka akan mengurangi akumulasi energi yang terkumpul. Sehingga kemungkinan terjadinya gempa skala besar di Bengkulu berpeluang kecil.

“Gempa tidak berdampak tsunami,” pungkas Litman.

Disaster preparedness is key to protecting children

With severe weather season upon us, a local child care resource agency is reminding parents to make sure they understand the procedures their child’s caregiver has in place to deal with weather threats and other emergencies.

“Our state is no stranger to natural disasters, as Oklahomans know all too well” said Carrie Williams, Rainbow Fleet executive director. “Whether tornados, earthquakes, fires or floods, having a thorough plan for responding to an emergency situation gives parents and child care providers the tools and information to keep children safe.”

Each kind of disaster can pose its own unique set of threats, so it is important to know if a

facility is prepared for the most common types of disasters that occur in Oklahoma.

“Tornados are a major concern this time of year,” said Williams. “It’s important to know where your child will shelter if a violent storm is in the area. Ask how the facility stays current on severe weather watches and warnings and when emergency procedures are activated. Make sure the facility has a properly-stocked emergency kit and a system for accounting for all children during and after the storm.”

Because information can be difficult to obtain in the face of a disaster, it’s vital to understand the facility’s emergency communications plan. In some cases, children may be forced to move from the primary care location for safety reasons. Be sure you know where children will be taken in these situations.

Inquire about fire and tornado drills, as well as the escape routes children are taught during these drills. Make sure fire extinguishers, carbon monoxide detectors and smoke detectors are installed.

Check to see if children are taught about personal protection techniques like stop, drop and roll. Ask if staff is trained in first aid and CPR. Knowing how children and staff are educated about disasters can help predict how they might respond and how prepared they are when faced with an emergency situation.

“Rainbow Fleet offers training and in-person consultation to help child care providers prepare for emergency situations,” said Williams. “Having a plan in place before an emergency is key to keeping our kids safe.”

Kenya should improve disaster preparedness urgently

The horrific Huruma building collapse, in which 23 people have so far been confirmed dead, has once again exposed Kenya’s glaring ineptitude in dealing with disasters.

Four days after the seven-storey building fell to the ground like a deck of cards, rescue workers were still digging through the rubble, hoping against hope to pull another person out alive. Over 60 people are still unaccounted for and most are believed to be buried under the collapsed building. We are not in any way insinuating that it is easy to sift through the tonnes of concrete and metal to bring out the victims. In fact, we salute all those who have spent sleepless nights working hard to save lives. However, we are concerned because Kenya seems to have learnt little despite being a victim of very many disasters. One of these was the August 7, 1998 Al Qaeda bombing of the US Embassy in Nairobi, which killed 291 people and wounded about 5,000. Understandably, Kenya was clearly overwhelmed by the magnitude of the disaster and therefore the help of international rescue experts, among them the Israelis, was most welcome. The Israelis once again came to our rescue in 2006 when a building collapsed in downtown Nairobi killing 14 people. But these tragedies, and many others, have not taught us much.
Read more at: http://www.standardmedia.co.ke

Intensitas Hujan Meningkat, BPBD Imbau Warga Waspada Bencana Banjir dan Longsor

Intensitas Hujan Meningkat, BPBD Imbau Warga Waspada Bencana Banjir dan Longsor

LOLAK – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus melakukan pemantauan dan memberikan informasi kepada seluruh masyarakat Bolaang Mongondow khususnya di wilayah-wilayah yang rawan terjadi bencana baik longsor ataupun banjir.

“Tim BPBD selalu melakukan pemantauan sebab cuaca beberapa hari belakangan melalui intensitas curah hujan di wilayahBolmong khususnya di Dumoga meningkat, makanya langkah antisipatif tetap dilakukan,” ucap Kepala BPBD Bolmong Ir Channy Wayong kepada Tribun Manado Selasa (3/5).

Dikatakan Wayong, apalagi tim reaksi cepat dari BPBD sudah terbentuk dan telah mengikuti pelatihan dalan mengantisipasi bencana di Bolmong. “Tim reaksi cepat pekan lalu mengikuti latihan bersama Basarnas Sulut di Lolak terkait antisipasi penyelamatan saat terjadi bencana,” tuturnya.

Lanjut Wayong, bagi masyarakat Bolmong agar dapat melaporkan setiap kejadian ke BNPB daerah. “Jika terjadi bencana segera menghubungi BPBD dengan nomor telepon 081288464114 Kabid darurat dan Kasie darurat serta selalu waspada,” ungkapnya.

Wayong menambahkan, bagi pengendara roda dua atau empat agar berhati-hati saat melintasi wilayah rawan longsor seperti di Baturapa, Lobong, Poyuyanan dan wilayah lainnya di Bolmong.

Berdasarkan data dari BPBD untuk Kecamatan rawan banjir danlongsor yakni Kecamatan Poigar, Kecamatan Bolaang, Kecamatan Lolak, Kecamatan Sangtombolang, Kecamatan Lolayan, Kecamatan Dumoga Barat, Kecamatan Dumoga Timur, Kecamatan Dumoga Utara, dan Kecamatan Dumoga.

sumber: TRIBUNMANADO.CO.ID

Penguatan Kapasitas Penanggulangan Bencana Menuju Jawa Tengah Tangguh Bencana

SEMARANG- Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Willem Rampangilei memberikan pengarahan pada acara rapat koordinasi yang mengusung tema penguatan kapasitas penanggulangan bencana menuju jawa tengah tangguh bencana, bertempat di Kantor BPBD Prov. Jawa Tengah (26/04), yang dihadiri oleh  90 peserta yang terdiri dari kepala pelaksana, sekretaris dan kepala bidang logistik BPBD Prov/Kab/Kota Wilayah Jawa Tengah.

Dalam arahannya Kepala BNPB mengatakan,  selama ini BPBD Prov.Jawa Tengah merupakan BPBD terbaik dalam penanggulangan bencana hal itu tercapai berkat koordinasi dan kerjasama yang baik antar BPBD Prov./Kab/Kota Wilayah Jawa Tengah.  Untuk mempertahankan menjadi BPBD yang terbaik diperlukan penguatan kapasitas kelembagaan dalam penanggulangan bencana, karena dalam perkembangannya intesitas bencana yang terjadi di Provinsi Jawa Tengah dan sekitarnya semakin meningkat. Diharapkan BPBD Prov. Jawa Tengah dapat menurunkan dampak risiko bencana sesuai RPJMN 2014 – 2019 dan BPBD Prov. Jawa Tengah dapat menjadi contoh bagi BPBD lain dalam penanggulanan becana.

Hal senada diungkapkan oleh kepala pelaksana BPBD Prov. Jawa Tengah Sarwa Pramana, “Penanggulangan bencana merupakan pekerjaan yang tidak mudah, diperlukan kerjasama dengan semua pihak terkait penanggulangan bencana, terutama adanya sinergi antara BPBD,” ujar Sarwa.

Bersamaan dalam acara tersebut Kepala BNPB bersama Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meresmikan gudang logistik dan peralatan BPBD Prov. Jawa Tengah. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo  mengatakan bahwa dengan adanya gudang logistik dan peralatan ini diharapkan BPBD Provinsi Jawa Tengah selalu siap 24 jam jika terjadi bencana di Jawa Tengah. Dan Inilah bentuk kerja sama pemerintah, swasta dan masyarakat sehingga masyarakat tidak usah khawatir jika terjadi bencana.

Seminar Nasional HDP 2016

border-page

SEMINAR NASIONAL
HOSPITAL DISASTER PLAN

(PENYUSUNAN RENCANA PENANGGULANGAN BENCANA DI RUMAH SAKIT)

Rabu, 7 September 2016
Ruang Senat Gd. KPTU lantai 2 FK UGM

Diselenggarakan oleh
Divisi Manajemen Bencana Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM
bekerjasama dengan Kelompok Kerja (Pokja) Bencana FK UGM 

border-page

 Latar Belakang

Dalam kejadian bencana alam, fasilitas kritis termasuk rumah sakit harus mampu melindungi masyarakat dan korban bencana, terutama pada saat tanggap darurat. Kemampuan rumah sakit untuk tetap berfungsi tanpa gangguan dalam kondisi darurat adalah persoalan hidup dan mati. Menjadi hal yang sangat penting untuk semua rumah sakit memiliki perencanaan penanggulangan bencana di rumah sakit.

Perencanaan Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit atau Hospital Disaster Plan (HDP) menentukan kualitas pelayanan pada masa respon. Seyogyanya respon yang bagus akan menghasilkan dampak yang bagus, dalam hal ini adalah menurunnya morbiditas dan mortalitas korban bencana. Seperti yang tertuang dalam buku Hospital Preparedness for Emergency and Disaster (HOPE) salah satu tujuan penyusunan rencana penanggulangan bencana di rumah sakit adalah untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas yang tidak perlu pada saat bencana.

Begitu penting rencana penanggulangan bencana bagi rumah sakit ini didukung oleh adanya Undang-undang RI No.44 Tahun 2009 tentang rumah sakit, khususnya pada pasal 29 yang salah satu poinnya berbunyi bahwa “Rumah sakit mempunyai Kewajiban memiliki sistem pencegahan kecelakaan dan penanggulangan bencana”. Selain itu, dalam Pembahasan Akreditasi Rumah sakit tahun 2012 pada elemen penilaian akreditasi pada Standar Manajemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK) mengenai Kesiapan menghadapi bencana pada Standar MFK 6 yang berbunyi “Rumah Sakit membuat rencana manajemen kedaruratan dan program penanganan kedaruratan komunitas, wabah dan bencana baik bencana alam atau bencana lainnya”. Salah satu elemen penilaian MFK 6 adalah rumahsakit telah mengidentifikasi bencana internal dan eksternal yang besar, seperti keadaaan darurat di masyarakat, wabah, dan bencana alam atau bencana lainnya serta kajadian wabah yang bisa menyebabkan terjadinya risiko yang signifikan.

Terkait dengan rencana penanggulangan bencana di rumah sakit, bagaimana kebijakannya, pelaksanaanya, penilaiannya akan dibahas dalam seminar ini. Begitu juga dengan konsep dan nomenklatur dalam penyebutannya serta konsep mana yang saat ini menjadi rujukan dalam menyusun Hospital Disaster Plan? Dengan seminar Nasional Hospital Disaster Plan harapannya dapat mengumpulkan sebanyak-banyaknya rumah sakit di seluruh wilayah Indonesia sehingga dapat bersama-sama mengetahui dan berdiskusi pengalaman dalam membuat atau mengembangkan Hospital Disaster Plan

 Tujuan Kegiatan

  1. Terciptanya kesepahaman yang sama dalam konsep Hospital Disaster Plan
  2. Mengetahuai kebijakan, pelaksanaan, dan penilaian untuk Hospital Disaster Plan baik secara nasional dan internasional
  3. Mensosialisasikan lebih luas mengenai Hospital Disaster Plan

 Peserta

Seminar ini mengharapkan kehadiran rekan-rekan dari:

  1. Lingkungan Kementerian Kesehatan
  2. Pusat Krisis Kesehatan, regional dan sub regional
  3. Pengurus PERSI diseluruh wilayah
  4. Manajemen dan Tim Penanggulanan Bencana di Rumah Sakit
  5. Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten Kota di Indonesia
  6. Fakultas Kedokteran, Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat, dan Stikes yang mengembangkan kurikulum bencana kesehatan
  7. Mahasiswa S2 dan S3 yang tertarik dengan isu manajemen bencana kesehatan
  8. Peneliti bidang manajemen bencana dan manajemen rumah sakit
  9. LSM yang bergerak di bidang bencana dan emergensi
  10. Pemerhati Bencana, dan
  11. Perseorangan

 

place Tempat/Waktu

Waktu      : Rabu, 7 September 2016
Jam         : Pukul 08.00-13.00 WIB
Tempat    : Auditorium FK UGM

Waktu

Kegiatan

Narasumber

08.00 – 08.30

Registrasi

08.30 – 08.40

Pembacaan Safety Briefing

08.40– 09.00

Sambutan oleh Kepala Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM :

dr. Bella Donna, M.Kes

09.00 – 09.15

Tea Break

09.15 – 09. 45

Pembicara 1: Wewenang dan kepentingan mengenai Hospital Disaster Plan bagi penanganan bencana dan krisis kesehatan daerah di Indonesia

Dr. Ina Agustina Isturini

Kasubid Evaluasi Pusat Krisis Kesehatan

Kementrian Kesehatan RI

  Materi

 

09.45 – 10.15

Pembicara : Hubungan K3 dan Hospital Disaster Plan

Susi Runtiawati,BE, SE, MM  

Kepala Bidang sarana dan Prasarana RS Sardjito

   Materi

 

10.15 – 10.45

Diskusi

Moderator: dr. Bella Donna, M.Kes

10.45 – 11.15

11.15 – 11.45

Pembicara 4: Penerapan Hospital Disaster Plan di Indonesia

  Dr. Adib A Yahya, MARS

  PERSI

  Materi

 

11.45 – 12.15

Pembicara 5: Pemahaman konsep HICS (Hospital Incident Command System) pada koordinasi respon di rumah sakit pada saat bencana

Dr. Hendro Wartatmo, SpBKBD

  Pokja Bencana FK UGM

  Materi

 

12.15 – 12.45

Diskusi

Moderator: dr. Handoyo Pramusinto, Sp. BS

1.     45 – 13.00

Penutupan

13.00

Makan Siang

 

 

Fasilitas

  • Seminar kit
  • SKP IDI/PERSAKMI
  • Makan siang dan coffe break

Biaya registrasi

  1. Peserta langsung                : Rp. 500.000,00/orang
  2. Peserta Webinar                 : Rp. 300.000,00 /orang
  3. Peserta Webinar Instansi     : Rp. 1.000.000,00/ instansi (dengan peserta yang akan mendapatkan sertifikat sebanyak 5 orang).

Pendaftaran peserta dapat dilakukan online melalui website bencana kesehatan www.bencana-kesehatan.net atau secara offline dengan mengemail ke [email protected].

Pembayaran peserta dapat dilakukan dengan cara tunai di gedung sekretariat atau melalui transfer ke rekening panitia :
Bank BNI, no.Rek: 0203024192, atas nama: Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM
(Bukti setor wajib di fax ke +62274 549425/ email ke [email protected])

 

 Sekretariat

Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM

Gedung IKM Lantai 2 Sayap Utara, Jalan Farmako Sekip Utara, Yogyakarta 55281 Indonesia
Phone/fax: +62 274 549425
Email: [email protected]

Contact person:

Dewi Catur Wulandari
Mobile: +62 818 263653
Email: [email protected]   
Madelina Ariani
Mobile: +62 878 1569 1175
Email: [email protected]

 

Waktu

Kegiatan

Narasumber

08.00 – 08.30

Registrasi

08.30 – 08.40

Pembacaan Safety Briefing

08.40  – 09.00

Sambutan oleh Kepala Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM :

dr. Bella Donna, M.Kes

09.00 – 09.15

Tea Break

09.15 – 09. 45

Pembicara 1: Wewenang dan kepentingan mengenai Hospital Disaster Plan bagi penanganan bencana dan krisis kesehatan daerah di Indonesia

Dr. Ina Agustina Isturini

Kasubid Evaluasi Pusat Krisis Kesehatan

Kementrian Kesehatan RI

09.45 – 10.15

Pembicara : Hubungan K3 dan Hospital Disaster Plan

Susi Runtiawati,BE, SE, MM  

Kepala Bidang sarana dan Prasarana RS Sardjito

10.15 – 10.45

Diskusi

Moderator: dr. Bella Donna, M.Kes

10.45 – 11.15

11.15 – 11.45

Pembicara 4: Penerapan Hospital Disaster Plan di Indonesia

Dr. Adib A Yahya, MARS

PERSI

11.45 – 12.15

Pembicara 5: Pemahaman konsep HICS (Hospital Incident Command System) pada koordinasi respon di rumah sakit pada saat bencana

Dr. Hendro Wartatmo, SpBKBD

Pokja Bencana FK UGM

12.15 – 12.45

Diskusi

Moderator: dr. Handoyo Pramusinto, Sp. BS

1.    45 – 13.00

Penutupan

13.00

Makan Siang

Peran Profesi Terapis dalam Penanggulangan Bencana

http://solusitesis.com/wp-content/uploads/2016/03/yogya.jpg

Apa kabar pembaca website bencana kesehatan? Semoga selalu sehat dan bersemangat untuk ketangguhan bencana.
Di pengantar minggu ini, kami menyuguhkan bahasan mengenai peran seorang terapis atau Physical Therapys dalam penanggulangan bencana. Selama ini, kerap kali kita berpikir bahwa profesi ini lebih banyak berperan pada fase rehabilitasi saja. Namun, dalam buku saku kali ini kita akan diajak untuk memahami peran seorang terapis dalam penanggulangan bencana mulai dari fase pra bencana. Buku setebal 80 halaman ini ditulis oleh World Confederation Physical Therapy sebagai laporan dari peran seorang terapis dalam manajemen bencana yang ditulis berdasarkan kasus-kasus dalam penanggulangan bencana di dunia. Buku ini sangat menarik, simak selengkapnya Klik Disini

Pembaca sekalian, pada 23-24 Mei 2016 mendatang di Bandung akan diselenggarakan Pertemuan Ilmiah Tahunan Ikatan Ahli Bencana Indonesia (PIT IABI) yang ketiga. Mari berpartisipasi dalam seminar dan diskusi pengurangan risiko bencana, simak jadwal call for paper dan seminar pada link berikut, Klik Disini

102 Warga Kampung Cibeunteur Direlokasi Antisipasi Bencana Longsor

TRIBUNNEWS.COM, TASIMALAYA – Sebanyak 102 warga Kampung Cibeunteur, Desa/Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Tasikmalaya, yang menghuni 16 terpaksa harus direlokasi.

Pasalnya bencana tanah longsor dan pergeseran tanah sejak dua minggu lalu hingga kini masih mengancam keselamatan warga.

Camat Karangjaya, Edi Ruswandi, saat dihubungi Senin (11/4/2016) mengungkapkan, tanah longsor tersebut sempat menimpa sejumlah rumah hingga mengalami kerusakan.

Seluruh penghuninya saat itu juga diungsikan ke tempat aman, karena kondisi tebing yang longsor masih mengkhawatirkan.

“Tim yang melakukan survey ke lokasi juga mengkhawatirkan kondisi tebing yang sewaktu-waktu bisa longsor kembali. Akhirnya diputuskan para penghuni 16 rumah termasuk yang sudah tertimpa, untuk diungsikan ke tempat aman, karena lokasi rumah berada di bawah tebing,” kata Edi.

Hingga saat ini sebanyak 102 warga dari 16 KK itu masih hidup di tempat pengungsian. Yaitu menumpang di rumah tetangga dan sebagian di keluarga masing-masing.

Menurut Edi, warga menunggu kepastian apakah mereka akan direlokasi atau dikembalikan ke lokasi semula.

Terpisah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tasikmalaya, Kundang Sodikin, mengatakan, dari hasil koordinasi dengan pihak terkait di provinsi dan pusat, lokasi 16 rumah tersebut dinyatakan sudah tak aman lagi sebagai tempat tinggal.

“Artinya harus ada relokasi. Hingga saat ini kami masih berkoordinasi dengan provinsi dan pusat terkait pelaksanaan relokasi. Karena selain butuh lahan baru juga dana untuk pembangunan kembali rumah warga,” kata Kundang. (stf)

VIDEO: Smart People! Seperti Ini Loh Simulasi Bencana Anak Berkebutuhan Khusus

BANDUNG, TRIBUNJABAR.CO.ID — Video berdurasi 53 detik ini merupakan cuplikan dari sejumlah siswa berkebutuhan khusus yang mendapatkan pelatihan menghadapi bencana di SLB Negeri A Kota Bandung, Jalan Pajajaran, Kota Bandung, Senin (11/4/2016).

“Mereka mendapatkan pelatihan karena termarjinalkan dan mereka tidak dapat hak untuk safety. Mereka harus belajar bahwa di masyarakat umum ada cara dan strategi,” ujar Wakasek Bimbingan Konseling SLB Negeri A Kota Bandung, Muftiah Yulismi.

Video simulasi bencana bisa dilihat di bawah ini:

Menurutnya, anak berkebutuhan khusus yang hadir pada pelatihan ini memiliki hambatan yang berbeda.

Sebab cara menghadapi bencana yang diberikan pun berbeda bergantung dengan hambatan yang dimiliki anak berkebutuhan khusus.

“Ada visual seperti murid SLB A, mereka tdk bisa melihat tapi bisa menggunakan indera pendengaran. Berarti klue penanggulangan bencana dari suara,” kata Muftiah. (*)

Produk Pelatihan dan Pendampingan

Berikut pelatihan dan pendampingan yang kami selenggarakan sepanjang tahun:

  1. Sosialisasi Penyusunan Perencanaan Penanggulangan Bencana Di Rumah Sakit (HDP)
    Dalam pelatihan ini akan dibahas overview penyusunan perencanaan penanggulangan bencana di rumah sakit secara umum.  Selengkapnya Klik Disini.
  2. Workshop Penyusunan Perencanaan Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit.
    Kegiatan workshop penanggulangan bencana di rumah sakit akan dilaksanakan selama 2 hari tatap muka dengan pemberian materi penyusunan penanggulangan bencana di Rumah Sakit (HDP) serta pelatihan tentang pembuatan draft awal dokumen HDP rumah sakit. Selengkapnya Klik Disini.
  3. In House Training (IHT) Penyusunan Perencanaan Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit (HDP)
    Paket In House Training Penyusunan Perencanaan Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit akan dilaksanakan sebisa mungkin dalam kurun waktu maksimal 3 bulan. Selengkapnya Klik Disini.
  4. Simulasi Penanggulangan Bencana Di Rumah Sakit
    Simulasi penanggulangan bencana bertujuan untuk melatih kesiapsiagaan rumah sakit dalam menghadapi bencana sekaligus untuk menguji dokumen perencanaan penanggulangan bencana (HDP) yang sudah disusun rumah sakit. Selengkapnya Klik Disini.
  5. Sosialisasi HDP oleh Dinas Kesehatan
    Sesuai dengan Permenkes 64 Tahun 2013 maka salah satu tugas Dinas Kesehatan dalam fase pra bencana adalah menyelenggarakan sosialisasi kesiapsiagaan fasilitas kesehatan di wilayah kerjanya dalam menghadapi bencana, dalam hal ini bentuknya bisa berupa HDP untuk Rumah Sakit atau PHCDP untuk Puskesmas. Selengkapnya Klik Disini.
  6. Pelatihan Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana di Puskesmas (Primary Health Care Disaster Plan (PHCDP))
    Tidak hanya rumah sakit, puskesmas sebagai ujung tombak layanan kesehatan di daerah juga harus disiapkan dalam menghadapi bencana. Termasuk juga dalam akreditasi puskesmas saat ini. Selengkapnya Klik Disini.
  7. Pengembangan Kurikulum Manajemen Bencana Kesehatan di Perguruan Tinggi Kesehatan
    Mahasiswa kesehatan (calon tenaga kesehatan) harus disiapkan dalam menghadapi bencana dan krisis kesehatan. Bagaimana kurikulum untuk manajemen bencana kesehatan dikembangkan dan diajarkan? Selengkapnya Klik Disini.
  8. Blended Learning Bagian Operasional dalam Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit
    Bagian operasional di rumah sakit untuk penanggulangan bencana merupakan bagian yang paling padat SDM dan tugasnya. Bagaimana perencanaan dalam HDP dan mekanisme pelaksanaannya dibahas dalam paket pelatihan ini. Selengkapnya Klik Disini.
  9. Seminar dan Workshop
    Kami juga kerap melaksanakan workshop dan seminar. Daftar seminar 2016 dan 2017, Klik Disini.