Menteri Desa Marwan Jafar Perkuat Program Daerah Tangguh Bencana

Menteri Desa Marwan Jafar Perkuat Program Daerah Tangguh Bencana

JAKARTA – Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT), Marwan Jafar berencana memperkuat program Daerah Tangguh Bencana guna mengurangi risiko bencana di daerah tertinggal.

Pasalnya, masih banyak daerah yang belum memiliki regulasi yang baik dalam menghadapi bencana, termasuk banjir.

“Program ini bertujuan untuk mengantisipasi kelemahan daerah dalam mengatasi bencana. Melalui program ini, kita mencoba untuk mengkonversi daerah rawan bencana menjadi daerah tangguh bencana,” ujar Marwan.

Menurut Marwan, dari 122 daerah tertinggal saat ini, terdapat 96 daerah yang masuk kategori rawan bencana.
Tingginya jumlah tersebut, mendorong Menteri Marwan untuk mempercepat realisasi program tersebut.

“Karena anggaran kita terbatas, program ini akan dilakukan bertahap. Kita juga bisa manfaatkan dana desa untuk pembangunan infrastruktur yang dapat mengurangi risiko bencana,” ujarnya.

Terdapat tiga esensi yang akan dilakukan dalam daerah tangguh bencana. Hal tersebut berkaitan dengan regulasi, pendekatan kelembagaan dan investasi.

“Regulasi penanggulangan bencana harus jelas. Ketika planning sudah siap, pelaksanaan secara kelembagaannya bagaimana. Kemudian investasi berkaitan dengan fasilitas seperti DAM dan sebagainya. Fasilitas yang bisa dibantu akan kita bantu, seperti halnya early warning system untuk mendeteksi bencana misalnya,” ujarnya.

Selain itu, Menteri Marwan juga akan melakukan penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) di daerah, melalui bimbingan teknis bencana.

Melalui hal tersebut, daerah diharapkan memiliki pemahaman dan peka terhadap bencana.

“Pemahaman dan kepekaan masyarakat dalam menghadapi bencana ini juga investasi. Akan kita bantu melalui Bimtek (Bimbingan Teknis),” ujarnya.

sumber: tribunnews

Rescuers scour rubble for survivors after earthquake kills 37 in Taiwan

(CNN)Rescuers scrambled to find survivors Sunday night after an earthquake toppled buildings in Taiwan, killing at least 37 people, authorities said.

Of the fatalities, at least 24 were in the Weiguan Jinlong apartment building in the city of Tainan, according to presidential spokeswoman Ma Wei-kuo.

Dozens of people were still trapped in the building, one of 11 that collapsed after Saturday’s magnitude-6.4 quake, the official Central News Agency reported.

President Ma Ying-jeou canceled his traditional Chinese New Year address to oversee rescue and recovery operations at the national disaster headquarters, his spokeswoman said.

‘I was trapped’

Chien, her 3-year-old daughter and her husband were in their bedroom in Tainan –Taiwan’s oldest city — when the earthquake struck.

“I was trapped in a room in a building toppled by the quake,” said the mother, who gave only her surname.

“The smell of gas was thick in the air, and I was worried that I would be killed by an explosion if not crushed to death in the collapsed building,” she told CNA.

It was a frightening ordeal, one that she has dealt with before.

She lived in central Taiwan before moving to Tainan and survived the 1999 quake that killed more than 2,000 people.

“I moved to Tainan after I got married and now I have encountered another major earthquake,” she told CNA.

‘Ring of fire’

Before rescuers freed them, Chien and her family were trapped for three hours in their sixth-floor apartment in the 16-story residential building.

In all, more than 500 people were injured, CNA reported. Ninety-two people remain hospitalized late Sunday, according to Tainan’s disaster response office.

As of Sunday morning, at least 121 people were still unaccounted for in Taiwan, CNA reported. A cold wave moving into the area added to rescuers’ sense of urgency.

Taiwan is in the so-called “Ring of Fire,” an area in the Pacific Ocean where intense tectonic plate movement causes frequent earthquakes.

“Taiwan is very used to earthquakes and tremors, but this is far more significant than the island has seen in quite a while,” Elise Hu, an NPR correspondent who was in Taipei when the quake hit, told CNN.

Read more: How earthquakes are measured

The building

The Weiguan Jinlong building now looks like an accordion from above. Aerial footage from CNN affiliate SETTV showed the collapsed building, with white smoke or dust still rising.

“The building essentially collapsed onto itself,” Hu said. “When you see the aerial images around Tainan, the rest of the buildings are standing. But this particular apartment complex is as damaged as it is.”

One woman told CNN affiliate EBC that rescuers had to cut a hole in order to help her family get out.

“Fortunately we were stuck under a space created by a baby crib and a closet door, so that things won’t fall on us and air was able to get in,” she said from the hospital, where she was being treated for a leg injury. “I was so afraid.”

Rescuers searching for victims trapped after quake
 
Rescuers searching for victims trapped after quake 04:33

The country’s interior minister and other officials said they would conduct an investigation into the building’s collapse, according to CNA.

After residents raised concerns about the safety of the building, Tainan Mayor Lai Ching-te said he will order a probe as well.

The quake struck as many in Taiwan prepared to celebrate the Lunar New Year.

It’s one of the country’s biggest holidays, and some people have as many as nine days off, Hu said.

“If you can imagine something like this happening during Thanksgiving holiday weekend or Christmas travel, that’s the equivalent of what’s happening here in Taiwan right now,” she said.

Hujan di Atas Normal, Bandung Barat Nyatakan Siaga Bencana

BANDUNG BARAT- Badan Penanggulangan Bencana Daerah(BPBD) Kabupaten Bandung Barat menetapkan status siaga bencana hingga tiga bulan ke depan sebagai langkah peningkatan kewaspadaan terjadinya bencana alam.

Ini dilakukan mengingat informasi dan analisis Badan Metreologi, Kilomatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas 1 Bandung, yang memprediksi wilayah Kabupaten Bandung Barat akan diguyur hujan deras dengan intensitas diatas normal hingga pertengahan April mendatang.

Sekretaris BPBD Kabupaten Bandung Barat Harry mengatakan, diprakirakan hingga pertengahan April sifat hujan di atas normal dengan kriteria 151-300 mm. Penetapan status siaga ini dalam upaya kesiapsiagaan penanggulangan bencana. Sehingga perlu dilakukan upaya-upaya penangan lebih lanjut secara konsisten yang meminimalisir dampak bencana.

“Perlu segera ditempuh penanganan yang bersifat cepat tepat, dan terpadu sesuai standar dan prosedur penanggulangan bencana,” ungkapnya di Ngamprah, Senin (8/2/2016) siang.

Menghadapi musim hujan seperti sekarang, lanjutnya, masyarakat dihimbau tetap waspada dan melaporkan jika di sekitar lingkungan terdekat terjadi pergerakan tanah sebagai langkah antisipasi jika terlihat tanda-tanda akal terjadi bencana alam.

“BPBD Kabupaten Bandung Barat memiliki 57 orang personil, sekalipun di bagian administrasi tetap bisa diterjunkan ke lapangan manakala terjadi bencana alam, ” imbuhnya.

Dia menambahkan, selama musim hujan telah terjadi 20 kali bencana baik longsor, banjir bandang, maupun angin‬ puting beliung namun masih dalam skala kecil.

Bencana alam tanah longsor merupakan yang paling sering terjadi‬ pada musim hujan bahkan pada tahun 2014. Kejadian longsor di Kabupaten Bandung Barat terbanyak kedua setelah Kabupaten Bogor. (Tri/MSU)

sumber: FOKUSJabar.com

Kaum Disabilitas Butuh Pedoman Mitigasi Bencana

http://www.rmol.co/images/berita/normal/275211_03035210042015_disabilitas.jpg

BANDA ACEH – Pemerintah Kota Banda Aceh diminta memfasilitasi kaum berkebutuhan khusus (disabilitas) dengan merumuskan panduan dasar dan pelatihan mitigasi bencana kepada kaum difabel, serta membahani masyarakat umum tentang disabilitas. Hal tersebut merupakan rekomendasi workshop “Pengurangan Risiko dan Penanggulangan Bencana Inklusif” yang digelar Forum Komunikasi Masyarakat Berkebutuhan Khusus Aceh (FKM-BKA), 30-31 Januari 2016 di Hotel Lading, Banda Aceh.

Ketua Umum FKM-BKA, Syarifuddin dalam sambutannya, Minggu (31/1) mengatakan, kaum difabel di Aceh sepatutnya mendapatkan pelayanan dan fasilitas yang representatif, apalagi saat bencana datang. “Bencana itu datang tak diundang, dan pergi juga tak disuruh. Untuk itu kami butuh perhatian bukan sekedar bantuan,” ujarnya. Menurutnya, panduan dasar dan pelatihan kebencanaan bagi kaum disabilitas harus menjadi prioritas, sebab wilayah Aceh rawan bencana.

Dia menambahkan, forum yang saat ini dipimpinnya tersebut melibatkan semua jenis disabilitas guna pemenuhan hak-hak disabilitas. “Walau baru seumur jagung, forum ini sudah punya 7 cabang di Aceh yaitu Aceh Selatan, Aceh Barat, Bireuen, Pidie, Sabang, Aceh Besar dan Banda Aceh,” kata Syarifuddin, seraya menyebut pihaknya telah memilih tiga tokoh peduli kaum disabilitas yaitu Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal, dan 2 anggota DPRK Banda Aceh Irwansyah dan Zulfikar Abdullah.

Sementara itu, Wali Kota Banda Aceh, Hj Illiza Sa’aduddin Djamal usai menerima penghargaan yang diserahkan Ketua DPD Himpunan Wanita Penyandang Cacat Indonesia (HWPCI) Aceh, Haflinda SPd menyebutkan, pihaknya merasa belum berbuat optimal bagi kaum disabilitas di Aceh. “Terus terang saya merasa malu menerima award ini. Namun komitmen zero diskriminasi terhadap kaum disabilitas, seperti Raqan kota ramah disabilitas terus kita dorong,” ujar Illiza.

Menurutnya, Pemko Banda Aceh terus berusaha mempersiapkan tenaga pendidik yang mampu mentransfer ilmu kepada kaum disabilitas.(fit)

sumber: tribunews

Hadapi Kerawanan Bencana, Tagana Sleman Tambah Personel

bencana alam

SLEMAN — Guna menghadapi cuaca ekstrem yang menimbulkan kerawanan bencana, saat ini Taruna Tanggap Bencana (Tagana) Sleman tengah menyiapkan penambahan personel.

Sekretaris Tagana Sleman, Nanang Heri Trianto, menyampaikan, penambahan personel tersebut dilakukan untuk mengimbangi jumlah bencana yang semakin banyak terjadi.

“Rencana penambahan personel tahun ini sebanyak 50 orang. Semuanya tersebar di berbagai desa,” kata Nanang, Senin (1/2).

Menurutnya, saat ini jumlah personel Tagana mencapai 162 orang yang tersebar di 17 kecamatan. Nanang menjelaskan, setiap di desa pasti ada personel Tagana, minimal satu atau dua orang.

Sementara untuk wilayah rawan bencana, seperti di kawasan Lereng Merapi, jumlah personel Tagananya bisa mencapai lima sampai tujuh orang per desa.

Adapun wilayah prioritas satu bagi Tagana adalah daerah bantaran sungai yang berhulu di Merapi, seperti Kecamatan Ngemplak. Sebab, daerah tersebut cukup rawan terkena bencana banjir lahar dingin.

Wilayah prioritas dua adalah kawasan rawan angin kencang, seperti Tempel, Mlati, dan Moyudan. Sementara wilayah prioritas tiga adalah kawasan rawan longsor, yaitu Prambanan.

“Pada dasarnya seluruh wilayah di Sleman berpotensi terjadi bencana. Maka itu, kita harus siap siaga,” ujarnya.

Guna mempersiapkan kesiagaan bencana, saat ini Tagana telah melakukan pendampingan pada desa-desa rawan bencana.

Di antaranya, pendampingan sosial, psikologis, dan siklus pergudangan kebencanaan. Selain itu, satuan yang berada di bawah kewenangan Dinas Ketenagakerjaan dan Sosial (Disnakersos) ini tengah mengupayakan pengintegrasian kurikulum kebencanaan di sekolah-sekolah.

“Kami sudah tiga tahun menyelenggarakan Tagana Goes to School. Harapannya, kurikulum kesiapsiagaan bencana bisa masuk di lembaga pendidikan Sleman,” tutur Nanang.

Adapun kendala yang dihadapi Tagana saat ini terletak pada masalah pendanaan. Di mana sumber keuangan untuk kegiatan Tagana masih berasal dari anggaran Disnakersos Sleman.

Artinya belum ada kemandirian secara kelembagaan. Namun, menurut Nanang, hal tersebut tidak menghambat kinerja Tagana dalam menangani bencana.

Di sisi lain, ia pun menilai, Disnakersos Sleman cukup tanggap dalam menyediakan fasilitas kebencanaan yang saat ini dikelola oleh Tagana, seperti angkutan tanggap bencana dan sekretariat Tagana.

Sementara itu, Kepala Disnakersos Sleman, Untoro Budiharjo, menyampaikan, Tagana merupakan unit satuan kebencanaan yang keberadaannya cukup penting mengingat wilayah bagian utara DIY ini memiliki kerawanan bencana yang lumayan tinggi.

Di antaranya longsor, angin kencang, dan banjir lahar dingin. “Selama ini kami sendiri berupaya untuk memfasilitasi keberadaan Tagana. Bukan kenapa-napa, sebab mereka memiliki peranan penting di lapangan saat bencana terjadi,” tuturnya.

sumber: REPUBLIKA.CO.ID

RS UMM Fasilitasi Simulasi Bencana di RSI Aisyiyah

MUHAMMADIYAH Disaster Management Center (MDMC) bersama Rumah Sakit Islam (RSI) Aisyiyah menggelar simulasi penanggulangan bencana rumah sakit, Sabtu (30/1). Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui RS UMM bersama sejumlah stakeholders seperti Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) Kelurahan Kasin, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang, Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Malang, kepolisian, dinas kesehatan, hingga pemadam kebakaran (Damkar) turut serta dalam kegiatan ini.

Wakil Direktur RS UMM, dr Thontowi Djauhari MKes saat ditemui di sela-sela pelaksanaan simulasi mengatakan, RS UMM memberikan bantuan satu unit ambulan dan dua tenaga perawat serta tim medis dari mahasiswa untuk menyukseskan simulasi ini. “Simulasi ini penting sehingga jika ada bencana nantinya antar rumah sakit bisa saling komunikasi,” ujarnya.

Selain kerjasama antar rumah sakit, kata Thontowi, simulasi ini juga untuk mensinergikan baik dengan masyarakat, pemerintah, dan stakeholders terkait untuk bersama-sama membantu jika ada bencara di rumah sakit.

Senada, Ketua MDMC PP Muhammadiyah, H Budi Setiawan menjelaskan, simulasi ini merupakan bentuk program bernama Kesiapsiagaan Rumah Sakit dan Kesiapan Masyarakat dalam Situasi Darurat dan Bencana atau Hospital Preparedness and Community Readiness for Emergency and Disaster (HPCRED).

“Kita bersama di sini ingin menguji dokumen Rencana Kedaruratan Bencana Rumah Sakit (RKB RS) dan Dokumen Rencana Aksi Komunitas (RAK) FPRB Kelurahan Kasin, sehingga tercipta dokumen RPBS yang teruji dan dipahami oleh stakeholders juga jajaran internal serta eksternal RSI Aisyiah,” kata Budi.

Sementara itu, perwakilan dari Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia, Charless T Pellham mengatakan, Indonesia merupakan salah satu negara yang resiko bencananya sangat besar. “Kami harap dari kerjasama ini, dapat meningkatkan hubungan baik antara Indonesia dan Australia,” ucap Charless.

Sama halnya yang diucapkan Direktur Kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Ir Medi Herlianto. Ia menyebut, Pulau Jawa merupakan pulau yang memiliki indeks kebencanaan sangat tinggi. “Semua daerah di Pulau Jawa ini punya potensi bencana yang sama tingginya. Karena itu, simulasi ini penting untuk menurunkan resiko bencana tersebut,” katanya.

Dalam gelaran ini, RSI Aisyiah disimulasikan mengalami kebakaran di lantai tiga pada pukul 10.00 WIB. Pihak RS kemudian mengevakuasi pasien yang berada di lantai dua dan tiga untuk menuju lantai satu, kemudian pasien yang berada di lantai empat, lima, dan enam dievakuasi ke lantai tujuh atau lantai teratas gedung ini. Bersamaan dengan kebarakan di RSI Aisyiah, terdapat pula kasus kecelakaan yang harus dilarikan di Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Usai simulasi, kegiatan ini akan dievaluasi oleh perwakilan Pengendalian Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Pusdiklat BNPB, dan beberapa mitra MDMC PP Muhammadiyah. (zul/han)

Ahok : Saya Jamin Banjir Tujuh Jam akan Surut

JAKARTA – Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengatakan banjir di Ibukota saat ini cepat surut. Pengerukan hampir diseluruh saluran air dan kali, membuat banjir hanya bertahan paling lama tujuh jam.

“Minimal kalau hujan saya jamin, banjir nggak lebih dari tujuh jam akan surut, hilang,” ujar Ahok, Kamis (28/1).

Ahok mengatakan, untuk menangani banjir di Jakarta, harus menghubungkan semua saluran air. Setidaknya ada 1.000 lebih saluran yang ada di Ibukota. Sebagian besar telah dibersihkan oleh petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU).

“Antisipasi banjir, kami sudah gali sebanyak mungkin. Sekarang kamu lihat genangan kan lebih cepat surut,” katanya.

Masalah lain yang dihadapi adalah, sebagian besar saluran air tertutup oleh utilitas. Sehingga air harus mengantre saat akan masuk ke saluran air.

“Saluran itu kan penuh dengan kabel. Kalau saya potongkan mematikan bisnis juga. Terus PLN kan nggak bisa saya potong sembarangan,” tandasnya.

LURAH WAJIB LAPOR

Sebanyak 34 kelurahan yang terdampak banjir diminta aktif lakukan pengecekan. Sebab puncak musim hujan diprediksi akan terjadi pada 22 Februari mendatang.

“Jadi mulai 12 Februari mendatang  lurah sudah aktif melaporkan kondisi wilayah minima‎l jam 12 siang setiap harinya,” ujar Saefullah, Sekretaris Daerah DKI Jakarta saat pengarahan daerah terkait antisipasi puncak musim penghujan tahun 2016, Kamis (28/1).‎

Selain itu, Saefullah juga meminta para lurah untuk memantau kondisi penyelamatan, kesehatan, logistik, sarana dan prasarana, pendidikan serta peran masyarakat sebelum terjadi banjir.

“Pimpinan wilayah agar menunda jadwal cuti, dan pastikan semua sarana logistik mulai dari dapur umum dan kelengkapannya siap,” tandasnya.

Kelurahan yang wajib lapor yaitu Kelurahan Petamburan, Semper Barat, Semper Timur, Sukapura, Pegangsaan Dua, Kapuk Muara, Pluit, Sunter Agung, Tanjung Priok, Warakas, Pademangan Barat, Cengkareng Barat, Duri Kosambi, Kapuk, Kedaung Kaliangke, Rawa Buaya, Jelambar Baru, Wijaya Kusuma, Tegal Alur, Pekojan, Kedoya Selatan, Kedoya Utara, Rawajati, Pengadegan, Bukit Duri, Manggarai, Ulujami, Cakung Timur, Bidara Cina, Kampung Melayu, Cawang, Cililitan, Cipinang Melayu dan Makasar.(John)

sumber: (Pos Kota)

Tujuh Kecamatan di Merangin Dilanda Banjir

Banjir

JAMBI — Tujuh Kecamatan di Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi, Kamis (28/1), dilanda banjir akibat tingginya curah hujan di daerah itu sejak sepekan terakhir.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Merangin, Ibrahim mengatakan tujuh kecamatan yang dilanda banjir itu yakni Kecamatan Lembah Masurai, Siau, Pangkalan Jambu, Pamenang Selatan, Pamenang, Tabir Barat dan Tabir.

“Banjir juga menyebabkan longsor di Kecamatan Lembah Masurai. Bencana longsor juga mengancam Kecamatan lain yang saat ini dilanda banjir, apalagi jalan Bangko – Kerinci yang memang rawan longsor,” kata Ibrahim.

“Kami harus membagi tim reaksi cepat (TRC) untuk terjun ke lokasi kejadian. Karena jumlah tim TRC terbatas, kami berharap bantuan dari masyarakat,” katanya.

Ibrahim mengatakan, air di beberapa anak sungai di Kabupaten itu mulai meluap sejak Kamis dini hari sekitar pukul 03.00 WIB. Bencana banjir kali ini diprediksi banyak menimbulkan kerugian materi, karena sejumlah infrastruktur mengalami kerusakan parah akibat banjir bandang.

“Laporan awal ada tiga jembatan rusak. Di desa Sekancing dua jembatan dan di Dusun Tuo satu jembatan. Ini belum laporan dari daerah lain. Belum lagi kerusakan rumah, sawah dan infrastruktur pemerintah lainnya,” katanya.

Sedangkan jumlah rumah yang terendam belum dipastikan karena masih dilakukan pendataan, Sementara untuk korban jiwa sejauh ini baru ada kabar dari korban longsor di Lembah Masurai. Kabarnya ada tujuh orang yang tertimbun. Itu pun belum bisa dipastikan kondisi mereka sebenarnya.

Informasi yang berhasil dihimpun, tujuh warga tersebut tertimbun saat berada di dalam pondok kebun di kawasan Desa Dusun Tuo.

Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Merangin, Sabli membenarkan hal itu, pihaknya tengah dalam perjalanan menuju lokasi kejadian.

“Hujan tadi malam cukup lebat. Sejumlah desa terkena banjir dan terakhir kabarnya ada tujuh warga yang tertimbun longsor di Desa Dusun Tuo Kecamatan Lembah Masurai. Saya bersama TRC dalam perjalanan menuju lokasi kejadian,” kata Sabli.

Kapolsek Lembah Masurai, AKP Ismael juga membenarkan kabar tersebut. “Kabarnya ada tujuh orang yang tertimbun. Tapi kita belum bisa memastikannya,” kata Kapolsek.

sumber: REPUBLIKA.CO.ID

BNPB Berdayakan Masyarakat Cegah Kebakaran Hutan 2016

 

Kebakaran Hutan

PEKANBARU — Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Willem Rampangilei mengatakan Indonesia harus melakukan pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berbasis pemberdayaan masyarakat.

Hal tersebut sejalan dengan perintah Presiden RI Joko Widodo mengenai pencegah kebakaran karhutla di 2016.

“Riau akan menjadi contoh atau model untuk daerah lain,” ujar Willem dalam siaran persnya, semalam. Dalam pengimplementasian di lapangan perlu adanya kelompok masyarakat yang di-backup penuh oleh TNI dan Polri.

BNPB atau Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mempunyai fungsi koordinasi. Banyak pelajaran dalam karhutla 2015, salah satunya kerugian Indonesia sebesar Rp 221 triliun akibat karhutla menurut World Bank, serta menjadi isu internasional karena asap mengganggu daerah tetangga.

Lahan gambut yang terbakar cukup luas sehingga kebakaran mudah terjadi dan menyebarluas sehingga sulit untuk dipadamkan.

“Ada peraturan yang memperbolehkan membakar dua hektare lahan, tetapi masyarakat lupa untuk membikin sekat agar tidak meluas dan memadamkan,” ucap Willem.

Willem juga mengucapkan penghargaan yang tinggi kepada gubernur, bupati, TNI/Polri serta SKPD terkait di Riau dalam kesiapsegeraan menghadapi karhutla.

Deputi bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB Wisnu Wijaya mengatakan pencegahan berbasis pemberdayaan masyarakat yakni setiap kelompok memiliki relawan pemadam kebakaran hutan. Mencari data dan informasi di lapangan dan wajib dilakukan.

“Prinsipnya ada yang memimpin, merencanakan, mendukung dan melaksanakan dalam struktur pengembangan organisasi desa sebagai agen untuk memadamkan api dan melaporkan informasi karhutla di lapangan atau desanya,” ujar Wisnu.

Beberapa konsep operasi pencegahan berbasis masyarakat diantaranya Setiap satuan pencegahan karhutla tingkat desa bertanggungjawab atas keamanan desanya dari ancaman karhutla, tokoh masyarakat yang ditunjuk sebagai komandan dan anggota kelompok standby selama 24 jam.

Selain itu, mampu dikerahkan dalam hitungan menit (kurang dari satu jam) secara terencana, terpadu dan terkoordinasi berdasarkan standard operation prosedure (SOP) serta mampu melakukan evakuasi warga jika kebakaran tidak terkendali.

sumber: http://nasional.republika.co.id

5.2 magnitude earthquake jolts Lahore, Pak Punjab cities

Major earthquake tremors were felt in Lahore, Faisalabad, Nankana Sahib, Sargodha, Sialkot, Sheikhupura and other parts of Punjab this noon.

Dawn reports the 4.1 magnitude earthquake was recorded at a focal depth of 10 kms. The Pakistan Meteorological Department (PMD) said the epicentre was near Nankana Sahib. The report in Dawn also says “television footage showed electronic fixtures inside buildings shaking,” and that residents vacated buildings and headed for open spaces in fear.

The Daily Times reports it was the second earthquake to hit Pakistan in a day, first being the tremors of a powerful 5.2 magnitude earthquake that jolted Peshawar, Islamabad, with Hindu Kush Region of Afghanistan as its epicentre.

 

Since 2016 began, over a dozen small quakes have hit Pakistan. Reacting to the series of tremors felt, Director General Met Dr Ghulam Rasul, the country’s top meteorologist, had said “small and frequent tremors are far less dangerous as they help dissipate seismic energy which, if stored up for too long, manifests itself in the shape of massive quakes that can cause widespread damage.”

People on Twitter have been reacting to the earthquake.