BNPB: Bencana di Indonesia didominasi banjir pada Januari-Oktober 2022

Jakarta (ANTARA) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan kejadian bencana di Indonesia didominasi banjir pada periode 1 Januari hingga 29 Oktober 2022, yakni sebanyak 1.238 peristiwa.

Berdasarkan data yang diterima ANTARA dari BNPB di Jakarta, Sabtu, tercatat sebanyak 3.027 jumlah kejadian bencana terjadi di Tanah Air, yang meliputi banjir, cuaca ekstrem, tanah longsor, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), gelombang pasang dan abrasi, gempa bumi erupsi gunung api, dan kekeringan.

Sebanyak 3.027 kejadian bencana itu terdiri dari 1.238 peristiwa banjir terjadi di Indonesia, cuaca ekstrem sebanyak 931 kejadian, tanah longsor sebanyak 562 peristiwa, karhutla sebanyak 248 kejadian.

Kemudian, gelombang pasang dan abrasi sebanyak 22 peristiwa, gempa bumi erupsi gunung api sebanyak 22 kejadian dan kekeringan sebanyak empat peristiwa.

Akibat bencana tersebut, 198 orang meninggal, 31 orang hilang, 832 luka-luka dan 3.903.947 orang menderita dan mengungsi.

Bencana-bencana tersebut menyebabkan sebanyak 32.707 rumah rusak yang terdiri dari 5.342 rumah rusak berat, 5.688 rumah rusak sedang, dan 21.677 rumah rusak ringan.

Kemudian, sebanyak 917 fasilitas rusak yang terdiri dari 520 fasilitas pendidikan, 321 fasilitas peribadatan, dan 76 fasilitas kesehatan. Selain itu, sebanyak 140 kantor dan 270 jembatan rusak.

Sebelumnya, BNPB mengimbau kewaspadaan akan banjir di sejumlah daerah di Indonesia hingga awal Oktober 2022.

Pelaksana tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam Disaster Briefing di Jakarta, Selasa (27/9), menyebut saat ini menurut prakiraan cuaca September Dasarian III yang masih berlangsung, wilayah Kalimantan Barat bagian barat, Kalimantan tengah bagian selatan dan Jawa Barat diperlukan kewaspadaan.

Namun memasuki Oktober Dasarian I secara umum curah hujan tidak terlalu signifikan, kecuali Papua di bagian tengah, salah satunya di wilayah Timika, yang diperlukan kewaspadaan.

Abdul mengimbau masyarakat di wilayah tersebut untuk waspada terhadap kemungkinan banjir bandang dan tanah longsor. Sebab, dalam beberapa tahun terakhir, Papua sering dilanda banjir dan longsor, seperti yang paling signifikan terjadi di Sentani, Kabupaten Jayapura pada tahun 2019.

“Jadi ini masyarakat di Papua bagian tengah harus waspada, karena peningkatan intensitas curah hujan di minggu pertama bulan Oktober,” ujar Abdul.

Selain itu Abdul juga mengimbau kewaspadaan untuk wilayah Kalimantan, khususnya sepanjang hulu aliran Sungai Kapuas. Jika hulunya terdampak banjir, maka dapat berpotensi banjir di wilayah Katingan hingga Pontianak.

Gubernur Koster Respons Tudingan Banjir Bali Akibat Alih Fungsi Lahan

Denpasar, CNN Indonesia — Gubernur Bali, Wayan Koster merespons soal dua rencana proyek–pembangunan Terminal LNG di Sanur dan Jalan Tol Mengwi-Gilimanuk–yang alih fungsi lahannya disorot terkait bencana banjir di sejumlah wilayah itu baru-baru ini.

Koster menilai setiap pembangunan pasti memakan lahan, termasuk pula persawahan. Namun, katanya, itu pun sudah diperhitungkan dan tak menggunakan banyak area,

“Pembangunan pasti ada dikenakan, tapi sawahnya cuman tidak banyak, 200 hektare kalau tidak salah,” kata Koster di Denpasar, Bali, Jumat (21/10).

Di satu sisi, Koster menyatakan lewat pembangunan itu wilayah Bali akan berdampak ekonomi yang naik berkali-kali lipat.

“Tapi kan nilai ekonomi seluruh kawasan itu, kan naik sekian kali lipat,” katanya.

Kemudian, saat ditanya apakah pembangunan tersebut dipastikan tidak akan berdampak ke depannya terhadap kondisi lingkungan di Bali, Koster menjawab, “Tidak, ini kan sudah diperhitungkan sudah ada amdal-nya. Dan wilayah itu, bukan wilayah uluh, ini kan wilayah melintang, beda kalau pembangunan itu dilakukannya di hulu, itu bisa berbahaya.”

Sebelumnya diberitakan, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Bali menyoroti bencana banjir dan longsor di sejumlah wilayah di Pulau Bali, terutama di Kabupaten Karangasem dan Kabupaten Jembrana. Mereka menilai bencana itu merupakan akibat dari alih fungsi lahan yang terjadi di Pulau Dewata.

“Jadi, adanya bencana akhir-akhir ini yang sangat besar menimpa Jembrana dan Karangasem itu. Menurut hemat kami ditengarai ahli fungsi lahan yang signifikan, yang disebabkan oleh salah satunya adalah pembangunan infrastruktur yang atraktif terhadap lingkungan,” kata Direktur Eksekutif Walhi Bali Made Krisna Dinata alias Bokis di Denpasar, Selasa (18/10).

Menurutnya, alih fungsi lahan jelas menjadi salah satu penyebab dominan terjadinya bencana akibat intensitas hujan yang tinggi, seperti banjir dan longsor. Hal itu menunjukkan upaya pengendalian pemanfaatan ruang di Bali sangat kurang. Selain itu, sedikitnya vegetasi di dataran tinggi atau lahan curam juga turut menjadi penyebab.

Waspada! 34 Desa dan 8 Kecamatan di Jombang Masuk Kategori Rawan Bencana

JOMBANG – Sebanyak 34 desa dari delapan kecamatan di Jombang masuk rawan bencana kategori tinggi. Memasuki musim penghujan ini warga diminta lebih meningkatkan kewaspadaan.

”Kategori rawan bencana kita bagi menjadi tiga, yakni kategori tinggi, sedang dan rendah,’’ ujar Kepala BPBD Jombang Bambang Dwijo Pranowo, kemarin (24/10).

Dijelaskan, ada 34 desa yang masuk rawan bencana ketegori tinggi. Seluruh desa itu tersebar di delapan kecamatan yang meliputi Wonosalam, Bareng, Mojoagung, Mojowarno, Sumobito, Kabuh, Plandaan dan Ngusikan. Potensi bencana di 34 desa itu juga beragam mulai banjir, angin kencang, banjir luapan, longsor dan kebakaran. ”Karena Jombang termasuk kategori dengan bencana yang beragam,’’ tambahnya.

Sedangkan, ada 70 desa yang masuk rawan bencana kategori sedang. Rawan bencana kategori sedang ini juga tersebar di sejumlah kecamatan. Sisanya, seluruh desa di 304 desa/kelurahan masuk rawan bencana kategori rendah. ”Karena pada dasarnya, semua desa masuk rawan bencana,’’ jelas dia.

Ia mengaku telah menyiapkan beberapa antisipasi. Misalnya, dari segi kesiapan personel, peralatan dan lain-lain. Selain itu, ada pengelolaan risiko bencana berbasis komunitas yang sudah ditingkatkan. ”Yakni melalui desa tangguh bencana di 29 desa, dan rumah sakit tanggap bencana,’’ tandasnya.

Tahun ini saja ia mencatat ada 100 lebih kejadian bencana yang terjadi di berbagai wilayah. Bentuknya beragam mulai banjir, kebakaran, longsor, angin kencang dan lain-lain. ”Namun paling banyak banjir luapan yang terjadi di beberapa titik,’’ pungkas Bambang.

Sementara itu, Bupati Mundjidah Wahab menyampaikan kesiapan personel dalam menghadapi potensi bencana telah dilakukan. Akibat cuaca yang tidak menentu, tidak menutup kemungkinan terjadi cuaca ekstrim yang mengakibatkan bencana hidrometeorologi. “Sehingga semua pihak harus meningkatkan kesiapsiagaan baik personel, individu maupun sumberdaya dan peralatan yang dimiliki,’’ ujarnya.

Ia menganggap perlu ada sosialisasi kepada masyarakat agar lebih meningkatkan kewaspadaan dini di musim penghujan. Sosialisasi ini terkait pemahaman tentang kesiapsiagaan bencana pada setiap kegiatan. “Harus disampaikan ke masyarakat, agar mereka mengetahui, waspada dan tanggap  bencana alam,’’ pungkas Mundjidah. (ang/bin/riz)

BNPB: 7 Orang Meninggal Akibat Bencana Hidrometeorologi dalam Sepekan

 REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat tujuh orang meninggal dunia, akibat terjangan bencana hidrometeorologi basah di Indonesia selama pekan 17-23 Oktober 2022. 

“Kita mencatat lagi, tujuh meninggal dunia. Minggu lalu 13 meninggal dunia, dan minggu sebelumnya 10 meninggal dunia,” ujar Pelaksana tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam Disaster Briefing diikuti daring di Jakarta, Senin (24/10/2022).

Abdul mengatakan bertambahnya korban jiwa dalam peristiwa bencana di Indonesia harus menjadi perhatian, khususnya pada bencana banjir, banjir bandang, tanah longsor, dan cuaca ekstrem.

“Seharusnya bisa kita tekan dari sisi korban jiwa meninggal dunia,” ujar Abdul.

Di sisi lain, kejadian bencana di 20 provinsi dan 59 kabupaten/kota yang terjadi selama sepekan tidak menyebabkan peningkatan jumlah warga yang mengungsi dan terdampak.

Abdul menjelaskan pada minggu sebelumnya, warga mengungsi dan terdampak mencapai 146 ribu jiwa, pada minggu tersebut tercatat 104.000 jiwa.

“Tapi tetap saja kemudian kita belum bisa mengoptimalkan dan meminimalkan potensi korban meninggal dunia. Ini menjadi catatan kami,” ujar Abdul.

Disebutkan dalam pekan tersebut bencana hidrometeorologi basah terjadi cukup intens di Sumatra, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, pesisir selatan Jawa, dan Jawa Tengah.

Dalam sepekan tersebut, telah terjadi 74 kali bencana di seluruh Indonesia, mulai bencana hidrometeorologi basah, kering, hingga geologi. Abdul, mengutip pernyataan Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengingatkan agar pemerintah dan masyarakat siap pada alat, perangkat, personil untuk menghadapi segala kemungkinan bencana.

Sebab memasuki bulan November, intensitas hujan akan semakin tinggi menuju musim puncaknya pada bulan Januari Februari. Di saat tersebut, Abdul mengimbau kesiapsiagaan tanah longsor, cuaca ekstrem, dan juga banjir.

Bencana Tanah Longsor Meluas, Di Tulungagung 3 Orang Meninggal

JawaPos.com – Serangkaian bencana alam imbas cuaca ekstrem datang silih berganti. Jika pekan lalu didominasi banjir, kali ini yang paling banyak adalah insiden tanah longsor.

Tak hanya membuat begitu banyak warga terpaksa mengungsi, insiden itu juga kembali memakan korban jiwa. Salah satu yang cukup parah terjadi di Tulungagung.

Bencana longsor menimpa beberapa titik di Kecamatan Sendang Minggu (23/10) sore. Di Dusun Bantengan, Desa Nyawangan, Kecamatan Sendang, kemudian di Desa Nglurup, Dusun Jambuwok, arah Bumi Perkemahan/Kedung Minten, tanah longsor menutupi bahu jalan. Di Desa Geger, longsor menimpa rumah warga.

Akibat insiden itu, tiga warga meninggal dunia. Sebagian lainnya menjalani perawatan. ”Ada dua korban yang mengalami luka-luka. Malam (kemarin, Red) sudah diizinkan pulang ke rumah setelah mendapatkan perawatan di Puskesmas Sendang,” ujar Kepala Desa Nyawangan Yoko Dwi Mukarom.

Longsor juga melanda Ponorogo. Yang terparah terjadi di Kecamatan Ngebel. BPBD setempat mencatat ada 22 titik longsor selama tiga hari terakhir. Yang paling besar melanda Dusun/Desa Ngrogung hingga memutus total jalur Ngebel–Dolopo (Madiun). ”Jalan ditutup total,’’ kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Ponorogo Surono.

Selain memutus jalan, longsor juga merusak tiang jaringan listrik dan pipa air. Saat ini perbaikan jaringan listrik tengah dilakukan. BPBD juga menyuplai air bersih kepada warga terdampak.

Sebelumnya, longsor juga melanda Dusun Ngemplak, Desa Sriti, Kecamatan Sawoo. Perkembangan terakhir, 38 KK korban terdampak bencana tengah direlokasi.

Di Magetan, pada akhir pekan lalu, longsor melanda Desa Sayutan, Parang. Satu rumah rusak akibat terjangan longsor. Pembersihan material longsor dilakukan kemarin (23/10). Tim gabungan dari BPBD, relawan, dan warga dilibatkan. ”Tidak ada korban jiwa,’’ ujar Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Eka Wahyudi.

Bencana longsor juga melanda perbatasan Banyuwangi–Jember, tepatnya jalan utama Km 5 Kecamatan Kalibaru. Longsor terjadi di separo jalan. Akibatnya, polisi terpaksa memberlakukan sistem buka tutup.

Siapkan Relokasi untuk Korban Sumurup

SEMENTARA itu, kemarin Gubernur Khofifah Indar Parawansa meninjau langsung lokasi bencana longsor di Desa Sumurup, Trenggalek. Di sana, dengan didampingi Bupati Trenggalek M. Nur Arifin dan pejabat BPBD Jatim, orang nomor satu di Jatim itu mengajak mereka untuk relokasi.

Berdasar data yang ada, bencana longsor di Desa Sumurup yang terjadi pada akhir pekan lalu itu cukup besar. Sebanyak 51 KK dengan total sekitar 127 warga jadi korban. Di antaranya, harus rela rumahnya porak-poranda.

Kepada warga terdampak, Khofifah menyebutkan bahwa pihaknya sudah memfasilitasi rencana relokasi itu. Sebuah lahan milik dinas perkebunan (disbun) harus disiapkan untuk tempat tinggal permanen para korban longsor. ’’Kami sudah menyiapkan anggaran melalui biaya tak terduga,’’ kata Khofifah.

Dia menyatakan, pembangunan huniannya akan menggunakan anggaran sementara itu. Luas lahan yang dipakai untuk relokasi 7.315 meter persegi. Dia optimistis proses hibah lahan untuk relokasi bisa lebih cepat.

Terpisah, Bupati Trenggalek M. Nur Arifin menyampaikan bahwa dirinya bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas tengah membuat sabuk air di atas lokasi longsor sebagai langkah mitigasi awal. 

Gagal Ginjal

Gagal ginjal merupakan kondisi di mana satu atau kedua ginjal tidak dapat lagi berfungsi dengan baik. Terkadang, gagal ginjal bersifat sementara dan muncul dengan cepat. Namun di lain waktu, gagal ginjal juga dapat menjadi kondisi kronis yang akan memburuk secara perlahan dalam waktu yang lama. Oleh karena itu, gagal ginjal dapat dibedakan menjadi dua jenis utama, yakni gagal ginjal kronis dan akut.

Perlu diingat bahwa ginjal merupakan sepasang organ yang terletak di daerah punggung bawah tubuh. Organ tersebut memiliki beberapa fungsi penting pada tubuh. Salah satunya seperti membuang racun atau limbah dari tubuh. 

Racun tersebut nantinya akan masuk ke kandung kemih dan dibuang ketika seseorang buang air kecil. Jika ginjal kehilangan kemampuannya untuk menyaring limbah atau racun dari darah, maka gagal ginjal akan terjadi. 

Penyebab Gagal Ginjal

Mayoritas gagal ginjal akut terjadi karena berkurangnya aliran darah ke ginjal. Berikut ini beberapa hal yang bisa menurunkan aliran darah ke ginjal:

  • Volume darah yang rendah.
  • Jumlah darah yang dipompa jantung di bawah normal.
  • Gangguan pada pembuluh darah.
  • Pengaruh beberapa obat-obatan tertentu yang bisa mengganggu suplai darah ke ginjal atau bahkan mengganggu ginjal. Contohnya, obat anti inflmasi non-steroid (OAINS), obat untuk hipertensi, dan antibiotik tertentu.
  • Cairan pewarna, yang digunakan pada uji pencitraan tubuh dan sinar X.

Selain karena berkurangnya aliran darah ke ginjal, gagal ginjal akut juga bisa dipicu oleh dua penyebab, yaitu:

  • Tersumbatnya saluran urine.
  • Kerusakan langsung di ginjal.

Faktor Risiko Gagal Ginjal

Ada beberapa hal yang bisa meningkatkan risiko terkena gagal ginjal akut, yaitu: 

  • Memiliki risiko tinggi menderita sumbatan saluran urine.
  • Mengidap diabetes.
  • Mengidap penyakit hati.
  • Pembuluh darah pada lengan dan kaki tersumbat.
  • Terkena infeksi parah.
  • Mengalami dehidrasi.
  • Berusia 65 tahun atau lebih.
  • Sedang dalam perawatan intensif di rumah sakit.

Gejala Gagal Ginjal

Pada fase awal, gagal ginjal seringkali tidak menunjukkan gejala apa pun dan hanya bisa dideteksi melalui uji laboratorium. Namun, penyakit ini bisa berkembang dengan sangat cepat sehingga membuat pengidapnya mengalami beberapa gejala, seperti: 

  • Berkurangnya produksi urine.
  • Linglung atau kebingungan.
  • Mual dan muntah.
  • Sesak napas.
  • Penumpukan cairan dalam tubuh atau edema.
  • Kelelahan.
  • Dehidrasi.
  • Sakit di bagian dada.
  • Nyeri punggung.
  • Sakit perut.
  • Tingginya tekanan darah atau hipertensi.
  • Gangguan tidur.

Di samping itu, perlu diingat bahwa gagal ginjal dapat menyebabkan gejala yang bervariasi pada setiap orang. Gejala yang muncul akan tergantung dari tingkat keparahan pengidapnya. 

Diagnosis Gagal Ginjal 

Dokter akan menggunakan berbagai tes untuk mengukur fungsi ginjal dan mendiagnosis gagal ginjal. Jika dokter mencurigai seseorang berisiko mengalami gagal ginjal, maka dokter akan merekomendasikan beberapa pemeriksaan seperti:  

  • Tes darah, yang dapat menunjukkan seberapa baik ginjal membuang limbah dari darah.
  • Pencitraan lanjutan, yang dapat menunjukkan kelainan atau gangguan ginjal (penyumbatan).
  • Tes urin, yang mengukur jumlah urin atau zat tertentu dalam urine, seperti protein atau darah.

Pengobatan Gagal Ginjal

Umumnya pengidap gagal ginjal akut menjalani perawatan di rumah sakit. Namun jika gejalanya sudah membaik, mereka diperbolehkan untuk melakukan rawat jalan dengan beberapa ketentuan berikut ini:

  • Tetap dianjurkan agar pasien berkonsultasi dengan dokter ahli urologi dan ahli ginjal.
  • Mengobati infeksi yang menjadi penyebab gagal ginjal akut.
  • Memperbanyak konsumsi air mineral untuk menghindari dehidrasi.
  • Melakukan tes darah untuk memonitor tingkat kreatinin dan garam.
  • Menghentikan pengobatan apa pun yang berisiko menyebabkan gagal ginjal akut.

Pengidap gagal ginjal sebaiknya menjalani perawatan di rumah sakit apabila:

  • Adanya risiko penyumbatan urine.
  • Penyakit yang menyebabkan gagal ginjal akut membutuhkan pengobatan segera.
  • Kondisi pasien semakin parah.
  • Pasien terkena komplikasi gagal ginjal akut.

Bagi orang yang mengalami gagal ginjal akut yang cukup parah, mungkin diperlukan prosedur dialisis atau cuci darah, karena ginjal sudah bisa menjalankan fungsinya seperti normal.

Komplikasi Gagal Ginjal 

Gagal ginjal dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius, seperti:

  • Anemia. Ketika ginjal tidak bekerja secara tidak optimal, tubuh berisiko tidak dapat membuat sel darah merah dengan baik. Akibatnya, pengidap gagal ginjal rentan untuk mengalami anemia. 
  • Kelemahan Tulang. Adanya kerusakan pada ginjal  dapat mengganggu keseimbangan mineral seperti fosfor dan kalsium dalam tubuh. Ketidakseimbangan tersebut dapat menyebabkan tulang melemah.
  • Retensi Cairan. Jika ginjal tidak dapat menyaring air secara memadai dari darah, pengidap gagal ginjal berisiko mengalami retensi cairan, terutama di tubuh bagian bawah.
  • Penyakit Jantung. Penyakit jantung dapat menyebabkan gagal ginjal, dan gagal ginjal yang tidak mendapatkan perawatan tepat juga  bisa menyebabkan penyakit jantung. 
  • Hiperkalemia. Gagal ginjal dapat menyebabkan hiperkalemia, atau peningkatan kadar kalium. Dalam kasus yang parah, hiperkalemia juga dapat menyebabkan gagal jantung sebagai komplikasinya. 
  • Asidosis Metabolik. Fungsi ginjal yang terganggu dapat menyebabkan asidosis metabolik, di mana cairan tubuh pengidap gagal ginjal mengandung terlalu banyak asam. Asidosis metabolik dapat menyebabkan komplikasi seperti batu ginjal atau penyakit tulang.
  • Komplikasi Sekunder. Banyak orang dengan gagal ginjal mengalami beberapa komplikasi sekunder. Misalnya seperti depresi, gagal hati, penumpukan cairan di paru-paru, kerusakan saraf, hingga infeksi kulit.

Pencegahan Gagal Ginjal

Berikut ini beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah gagal ginjal:

  • Ikuti instruksi pada label ketika mengonsumsi obat bebas. Contohnya, ibuprofen dan aspirin.
  • Jika diresepkan obat oleh dokter, pastikan untuk mengonsumsi obat sesuai dengan petunjuk. Jangan mengurangi atau melebihi dosis yang diresepkan. 
  • Berkonsultasilah dengan dokter untuk menangani gangguan ginjal. Ikuti rekomendasi dokter untuk menjaga tubuh dari serangan penyakit yang bisa memicu gagal ginjal. 
  • Menjaga dan mengelola kondisi kesehatan saat ini. Contohnya seperti pengidap diabetes yang perlu menjaga kadar gula darahnya tetap stabil. 
  • Menjalani gaya hidup sehat. Melakukan latihan secara rutin, menjaga pola makanan yang sehat, dan menghindari minuman beralkohol akan membantu menurunkan risiko mengalami gagal ginjal.

IDAI: 192 Kasus Gangguan Ginjal Akut Misterius Ditemukan di 20 Provinsi

JAKARTA, KOMPAS.com – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melaporkan, terdapat 192 kasus gangguan ginjal akut misterius atau gangguan ginjal akut progresif atipikal pada anak-anak hingga Selasa (18/10/2022).

Ketua Pengurus Pusat IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso, SpA(K) mengatakan, kasus-kasus itu ditemukan di 20 provinsi di Indonesia, termasuk DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Aceh.

Namun, Piprim mengklarifikasi, banyaknya penderita gangguan ginjal akut misterius ini bukan berarti karena adanya lonjakan kasus. Melainkan data dari cabang IDAI di beberapa provinsi yang baru diterima belakangan.

“Yang sudah terkumpul di kami adalah 192 kasus, dari 20 provinsi,” kata Piprim dalam konferensi pers secara daring, Selasa (18/10/2022).

Piprim menjelaskan, data tersebut merupakan data kumulatif sejak Januari 2022. Rinciannya, 2 kasus di Januari, 2 kasus di bulan Maret, 6 kasus pada bulan Mei, 3 kasus pada Juni, 9 kasus di bulan Juli, 37 kasus di bulan Agustus, dan 81 kasus di bulan September.

Sementara itu, penderita masih didominasi oleh bayi di bawah usia lima tahun (balita).

“Jadi totalnya 192 (kasus). Tapi ini datanya dari anggota, jadi bukan real time yang bisa kita ikuti secara saksama,” ucap dia.

Berdasarkan sebarannya, kasus gangguan ginjal akut (acute kidney injury atau AKI) paling banyak tersebar di DKI Jakarta dengan total mencapai 50 kasus.

Diikuti Jawa Barat sebanyak 24 kasus, Jawa Timur 24 kasus, Sumatera Barat 21 kasus, Aceh 18 kasus, dan Bali 17 kasus. Sedangkan provinsi lainnya berkisar antara 1-2 kasus.

Sejauh ini kata Piprim, IDAI bersama Kemenkes masih mencari penyebab pasti dari penyakit ini.

Dalam perjalanannya, ada beberapa dugaan yang muncul, seperti infeksi virus lain, keracunan (intoksikasi) etilen glikol, hingga Multisystem Inflammatory Syndrome in Children (MIS-C) atau sindrom peradangan multisistem usai Covid-19.

“Kalau MIS-C yang seperti biasa, kita pengalaman obat-obatannya. Tapi ada juga pasien yang enggak membaik (setelah pengobatan). Ada juga kecurigaan obat-obatan yang mengandung etilen glikol, ini sedang kita periksa,” jelas Piprim.

Sebagai informasi, gejala klinis yang ditemukan (prodromal) pada pasien gangguan ginjal akut misterius umumnya meliputi infeksi saluran cerna, demam, ISPA, batuk pilek, dan muntah.

Lalu, tidak bisa buang air kecil atau air seni mengering (anuria), dan kurangnya kadar air seni (oliguria).

Kasus Gagal Ginjal Akut Pada Anak Meningkat, Orang Tua Diminta Waspada

Kasus gagal ginjal akut yang menyerang anak-anak usia 6 bulan-18 tahun terjadi peningkatan terutama dalam dua bulan terakhir. Per tanggal 18 Oktober 2022 sebanyak 189 kasus telah dilaporkan, paling banyak didominasi usia 1-5 tahun.

Seiring dengan peningkatan tersebut, Kemenkes meminta orang tua untuk tidak panik, tenang namun selalu waspada. Terutama apabila anak mengalami gejala yang mengarah kepada gagal ginjal akut seperti ada diare, mual ,muntah, demam selama 3-5 hari, batuk, pilek, sering mengantuk serta jumlah air seni/air kecil semakin sedikit bahkan tidak bisa buang air kecil sama sekali.

“Orang tua harus selalu hati-hati, pantau terus kesehatan anak-anak kita, jika anak mengalami keluhan yang mengarah kepada penyakit gagal ginjal akut, sebaiknya segera konsultasikan ke tenaga kesehatan jangan ditunda atau mencari pengobatan sendiri,” kata Plt. Direktur Pelayanan Kesenatan Rujukan dr. Yanti Herman, MH. Kes.

Pastikan bila anak sakit cukupi kebutuhan cairan tubuhnya dengan minum air. Lebih lanjut, gejala lain yang juga perlu diwaspadai orang tua adalah perubahan warna pada urine (pekat atau kecoklatan). Bila warna urine berubah dan volume urine berkurang, bahkan tidak ada urine selama 6-8 jam (saat siang hari), orang tua diminta segera membawa anak ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Sampai saat ini kasus gagal ginjal akut pada anak belum diketahui secara pasti penyebabnya, untuk itu pemerintah bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan tim dokter RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) membentuk satu tim yang bertugas untuk mengamati dan menyelidiki kasus gangguan ginjal akut pada anak.

Dari data yang ada gejala yang muncul di awal adalah terkait infeksi saluran cerna yang utama untuk itu Kemkes menghimbau sebagai upaya pencegahan agar orang tua tetap memastikan perilaku hidup bersih dan sehat tetap diterapkan, pastikan cuci tangan tetap diterapkan, makan makanan yang bergizi seimbang, tidak jajan sembarangan, minum air matang dan pastikan imunisasi anak rutin dan lanjuti dilengkapi.

Selain itu, Kemenkes juga telah menerbitkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Nomor HK.02.02./2/I/3305/2022 tentang Tata Laksana dan Managemen Klinis Gangguan Ginjal Akut Progresif Atipikal (Atypical Progressive Acute Kidney Injury) Pada Anak di Fasilitas Pelayanan Kesehatan sebagai bagian peningkatan kewaspadaan.

Surat keputusan ini memuat serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh tenaga medis dan tenaga kesehatan lain dalam melakukan penanganan terhadap pasien gagal ginjal akut sesuai dengan indikasi medis.

“Belajar dari pandemi COVID-19, pemerintah tentu tidak bisa bekerja sendiri. Sinergi dan kolaborasi dari seluruh pihak sangat diperlukan untuk mencegah agar penyakit ini bisa di cegah sedini mungkin. Karenanya kami mengimbau kepada Dinas Kesehatan, rumah sakit maupun pintu masuk negara agar segera melaporkan apabila ada indikasi kasus yang mengarah kepada gagal ginjal akut maupun penyakit lain yang berpotensi mengalami KLB,” imbuh dr. Yanti

Hotline Virus Corona 119 ext 9. Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi nomor hotline Halo Kemenkes melalui nomor hotline 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat email [email protected] (MF)

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik

dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid

Menjelajahi Dampak Bencana pada Aksi Adaptasi oleh 549 Kota di Seluruh Dunia

gempa palu

gempa paluSalah satu poin yang masih diperdebatkan ialah apakah bencana mempengaruhi tindakan adaptasi di kota. Namun, basis pengetahuan yang ada terutama terdiri dari studi kasus tunggal atau kecil-N, sehingga tidak ada gambaran global tentang bukti tentang dampak bencana dan adaptasi. Di sini, peneliti menggunakan analisis regresi untuk mengeksplorasi efek frekuensi dan keparahan bencana pada empat jenis aksi adaptasi di 549 kota. Di negara-negara dengan kapasitas adaptif yang lebih besar, kerugian ekonomi meningkatkan tindakan tingkat kota yang menargetkan jenis peristiwa bencana yang baru saja dialami, serta tindakan untuk memperkuat kesiapsiagaan bencana secara umum. Peningkatan frekuensi bencana mengurangi tindakan menargetkan jenis bahaya selain yang baru-baru ini terjadi, sementara kerugian manusia memiliki sedikit efek. Perbandingan antar kota di seluruh tingkat kapasitas adaptif menunjukkan efek kekayaan. Negara-negara yang lebih makmur mengalami kerusakan ekonomi yang lebih besar dari bencana, tetapi juga memiliki kapasitas tata kelola yang lebih tinggi, menciptakan insentif dan peluang untuk langkah-langkah adaptasi. Sementara frekuensi dan tingkat keparahan bencana memiliki dampak yang terbatas pada tindakan adaptasi secara keseluruhan, hasilnya sensitif terhadap dampak bencana, jenis tindakan adaptasi, dan kapasitas adaptif yang dipertimbangkan. Artikel ini dipublikasikan pada 2022 di jurnal Nature Communications

SELENGKAPNYA

Decision Support Framework for Deployment of Emergency Medical Teams After Earthquakes

Relawan tim kesehatan atau dikenal sebagai Emergency Medical Team(EMT) merupakan pelaku utama yang bertugas selama fase respon gawat darurat dimana peran mereka paling dominan untuk menolong korban bencana. EMT terdiri dari beragam profesi kesehatan yang berasal dari berbagai unsur pemerintahan, lembaga sosial, organisasi profesi, akademisi dan sebagainya yang sudah teregistrasi sebagai relawan yang memiliki kompetensi dalam hal penanganan bencana sektor kesehatan. Orientasi EMT sebagai kelompok profesional akan membantu local health system, bukan mengambil alih sistem yang ada. Kemudian karena sudah berbicara tim bukan lagi mengedepankan darimana asal organisasinya namun sudah ke profesionalisme bekerja. Artikel berikut membahas Kerangka Pendukung Keputusan untuk Pengerahan EMT setelah Gempa Bumi. Efektivitas Tim Medis Darurat (EMT) sangat terkait dengan waktu kedatangan mereka, dan biasanya hanya beberapa tim yang tiba dalam 24-48 jam pascabencana. Keputusan untuk menyebarkan EMT ini tidak terlepas dari assessment awal terkait dampak kejadian bencana untuk kesehatan masyarakat untuk mengetahui kebutuhan daerah khususnya kapasitas SDM. Hasil penelitian ini menunjukkan kerangka kerja yang digunakan sebagai tools untuk membantu memetakan konfigurasi sesuai kebutuhan di lapangan, sehingga daerah lebih mudah untuk untuk menyebarkan dan/atau menerima EMT ke titik lokasi atau pos penanganan bencana.

SELENGKAPNYA