Tangani Banjir Aceh Utara, BNPB Serahkan Dukungan Senilai 350 Juta

JAKARTA – Sebanyak lima wilayah kecamatan di Kabupaten Aceh Utara, yang meliputi Kecamatan Pirak Timur, Kecamatan Matangkuli, Kecamatan Lhoksukon, Kecamatan Tanah Luas dan Kecamatan Baktiya, masih terendam banjir hingga hari ini, Minggu (9/10).

Sebelumnya, wilayah yang terdampak banjir telah mencakup 15 kecamatan dan 151 gampong. Kondisi itu lantas mendorong Bupati Kabupaten Aceh Utara mengambil langkah cepat dan menyatakan darurat bencana banjir melalui Surat Pernyataan Bencana Nomor: 360/1656/2022, tertanggal 5 Oktober 2022.

Seluruh lintas OPD mulai dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Utara, Basarnas, TNI, Polri, Dinas PUPR, Dinas Sosial, instansi terkait lainnya ditambah relawan kemudian turun ke lokasi melakukan upaya percepatan penanganan darurat dan penyelamatan. Akan tetapi upaya itu tampaknya masih harus terus dilakukan, sebab banjir masih enggan beranjak dari lima wilayah kecamatan.

Menurut laporan, hujan masih sering terjadi dengan intensitas sedang hingga lebat ditambah adanya air kiriman yang berasal dari hulu di Kabupaten Bener Meriah. Tingginya curah hujan itu juga mengakibatkan Sungai Krueng Keuroto, Krueng Pirak dan Krueng Pase kehilangan kemampuan untuk menampung debit air sehingga air melipasi permukiman penduduk sampai detik ini.

Kondisi itulah yang kemudian menjadi perhatian Pemerintah Pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mengirimkan tim ke lokasi kejadian bencana.

Sesuai arahan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto S.Sos., M.M, tim bergerak untuk memberikan dukungan kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Utara sejak kemarin, Sabtu (8/10).

Melalui Kepala Sub. Direktorat Fasilitasi Penyelamatan dan Evakuasi, Gatot Satria Wijaya, BNPB menyerahkan dukungan berupa Dana Siap Pakai (DSP) untuk penanganan darurat bencana senilai 250 juta. Pemberian dukungan itu berdasar pada Surat Penetapan Status Tanggap Darurat Penanganan Bencana Alam Banjir Kabupaten Aceh Utara dengan Nomor: 360/704/2022 tertanggal 5 Oktober 2022.

Selain dukungan DSP, BNPB juga memberikan bantuan berupa logistik dan peralatan yang dibutuhkan selama tanggap darurat dan pemulihan dengan total senilai 100 juta, sehingga total dukungan yang diberikan untuk menangani banjir Aceh Utara senilai 350 juta.

Berdasarkan perkembangan hasil kaji cepat per Minggu (9/10), ada sebanyak 52.499 jiwa dari 15.499 KK terdampak banjir. Banjir telah memaksa 11.645 KK atau 39.957 jiwa mengungsi.

Ada sebanyak 13 tanggul rusak termasuk 3 tebing, 17 jalan dan jembatan, 5 rumah warga dan lahan persawahan yang terdendam seluas 1.057 hektar.

Abdul Muhari, Ph.D. 

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB

Patahan San Andreas, Bom Waktu yang Bisa Picu Bencana Besar

Jakarta – Kalau mendengar kata San Andreas, mungkin yang terlintas di kepala adalah judul film dengan Dwayne “The Rock” Johnson sebagai bintang utamanya. Selain itu, bisa jadi yang terbayang merupakan salah satu seri Grand Theft Auto paling terkenal, yakni GTA: San Andreas.
Meski begitu, San Andreas sejatinya juga merupakan nama sebuah patahan yang kerap menyebabkan bencana di California, Amerika Serikat. Negara bagian itu sendiri memang terkenal sering diguncang gempa Bumi, baik skala besar maupun kecil.

Seringnya negara bagian berlambang beruang ini diguncang gempa diakibatkan oleh pergerakan lempeng Pasifik dan lempeng Amerika Utara. Lempeng pertama bergerak ke arah utara dan mengikis lempeng Amerika Utara secara horizontal dengan skala sekitar 50 milimeter tiap tahunnya.

Lebih lanjut, sekitar 2/3 dari total pergerakan itu terjadi di patahan San Andreas dan patahan-patahan lainnya, seperti San Jacinto, Elsinore, dan Imperial. Seiring berjalannya waktu, patahan-patahan tersebut menghasilkan sekitar separuh dari total gempa berdampak signifikan di California, sekaligus juga gempa-gempa minor.

Besarnya peran San Andreas dalam menyebabkan gempa di California tak terlepas dari tingginya intensitas aktivitas tektonik di sana. Tingkat pergerakan lempeng di sepanjang patahan San Andreas menyentuh 33 milimeter per tahun. Kurang lebih, itu sama dengan seberapa cepat kuku kita tumbuh.
Advertisement

Hasilnya, pergerakan tersebut juga berpengaruh pada lanskap dari California, bukan cuma bikin gempa. Salah satu buktinya, Los Angeles City Hall kini lebih dekat sekitar 3 meter dengan San Francisco dibandingkan saat ia dibangun pada 1924, sebagaimana tercantum dalam situs resmi University of Southern California.

Ya, seiring berjalannya waktu, patahan San Andreas tumbuh perlahan-lahan. Maka, bisa jadi California akan sangat berbeda dalam beberapa juta tahun kemudian.

Patahan San Andreas sendiri terbentang sepanjang 700-800 mil, atau sekitar 1126-1287 kilometer, menjangkau Salton Sea di Imperial County hingga Cape Mendocino in Humboldt County.

Untuk kedalamannya mencapai 10 mil, atau sekitar 16 kilometer. Bicara soal usia, patahan San Andreas sudah ada sejak sekitar 28 juta tahun lalu. Meski demikian, ia baru ditemukan pada 1895 oleh Profesor Andrew Lawson dari UC Berkeley.

San Andreas laksana bom waktu yang bisa menimbulkan bencana besar. Pada sebuah studi, patahan San Andreas bisa saja nantinya menyebabkan gempa lebih besar dari magnitude 7.0.

“Semua data megindikasikan bahwa patahan San Andreas ini siap untuk gempa Bumi besar selanjutnya, namun kami tidak bisa memberitahu kapan tepatnya. Bisa besok atau bisa 10 tahun lagi,” sebut ilmuwan dari Scripps Institution of Oceanography.

Baca artikel detikinet, “Patahan San Andreas, Bom Waktu yang Bisa Picu Bencana Besar” selengkapnya https://inet.detik.com/science/d-6338041/patahan-san-andreas-bom-waktu-yang-bisa-picu-bencana-besar.

BPBD: 63 rumah rusak akibat bencana banjir dan longsor di Purabaya

Sukabumi, Jabar (ANTARA) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi mencatat jumlah rumah yang rusak akibat bencana banjir dan tanah longsor di Kecamatan Purabaya, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat pada Jumat, (7/10) hingga Minggu, (9/10) mencapai 63 unit.

“BPBD bersama relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sukabumi hingga saat ini masih berada di lokasi untuk melakukan pendataan sekaligus memberikan bantuan kepada warga yang rumahnya terdampak bencana banjir dan tanah longsor di Kecamatan Purabaya,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sukabumi Wawan Godawan Saputra di Sukabumi, Minggu.

Adapun rincian jumlah rumah yang rusak sesuai data dari BPBD setempat untuk bencana banjir di Desa Purabaya yakni jumlah rumah terendam sebanyak 152 unit dengan jumlah warga yang terdampak 183 kepala keluarga (KK) atau 586 jiwa. Kemudian rumah yang rusak pada kategori rusak ringan sebanyak 17 unit, rusak sedang enam unit dan rusak berat dua unit.

Selanjutnya di Desa Neglasari jumlah warga yang terdampak bencana banjir sebanyak 102 KK atau 374 jiwa dan untuk kerusakan rumah sebanyak 18 unit rusak ringan, tujuh unit rusak sedang dan delapan unit rusak berat.

Sementara bencana tanah longsor terjadi di Desa Margaluyu dengan jumlah warga yang terdampak 18 KK atau 43 jiwa kemudian untuk rumah yang rusak sebanyak tiga unit dan rusak berat dua unit.

Di tempat yang sama Staf Humas PMI Kabupaten Sukabumi Ariel Solehudin, mengatakan hingga saat ini pihaknya belum menerima laporan ada korban jiwa akibat bencana banjir maupun tanah longsor yang terjadi di wilayah Kecamatan Purabaya tersebut. Bantuan darurat untuk para penyintas bencana sudah mulai berdatangan dari berbagai lembaga dan komunitas warga.

Dari total warga yang terdampak 204 orang di antaranya merupakan anak-anak, ibu hamil dua orang dan warga yang sudah lanjut usia (lansia) sebanyak 70 orang. Beberapa warga yang rumahnya rusak mengungsi ke rumah kerabatnya terdekat, namun demikian Forkopimcam Purabaya pun sudah menyiapkan pengungsian di Gedung Olah Raga (GOR) Desa Purabaya.

Pewarta: Aditia Aulia Rohman
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Peningkatan Akses Pelayanan Kesehatan Saat Krisis Kesehatan dengan Digitalisasi Peta Respon

sesi pb fornas div mbk

Peningkatan Akses Pelayanan Kesehatan Saat Krisis Kesehatan dengan Digitalisasi Peta Respon

 

{tab title=”KAK dan Materi” class=”red”}

 

PENGANTAR

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (PKMK FK – KMK UGM), Pokja FK-KMK UGM dan Jaringan Kebijakan Kesehatan Indonesia (JKKI) mengawal transformasi system Kesehatan di mana salah satunya adalah memperkuat ketahanan tanggap darurat Kesehatan. Ketahanan kesehatan menjadi sangat penting dalam menghadapi berbagai tantangan dimasa mendatang. Merujuk pada Instruksi Presiden Nomor 4/2019, secara umum ketahanan kesehatan dapat digambarkan sebagai kemampuan ketahanan nasional dalam menghadapi kedaruratan kesehatan masyarakat dan/atau bencana non-alam akibat wabah penyakit, pandemi global, dan kedaruratan nuklis, biologi, dan kimia yang dapat berdampak nasional dan/atau global. Adanya pandemic Covid-19 menunjukkan bahwa ketahanan kesehatan masih perlu untuk ditingkatkan baik dari segi sistem kesehatan, fasilitas kesehatan maupun ketersediaan tenaga kesehatan. Salah satu aspek yang sering tidak diperhatikan saat pra-bencana maupun kedaruratan masyarakat adalah penyediaan dan pengelolaan surge capacity, yaitu kapasitas tenaga kesehatan dalam menopang ketahanan tanggap darurat kesehatan yang dalam pengelolaannya dibutuhkan penyusunan peta respon.

Seminar mengenai digitalisasi peta respon saat tanggap darurat krisis Kesehatan untuk meningkatkan akses layanan Kesehatan ini merupakan salah satu upaya untuk mengurangi dampak ketidaksiapan terhadap pemenuhan dan pengelolaan SDM Kesehatan saat penanggulangan bencana, tidak hanya pada ketidak efektivan dan ketidak efisien distribusi SDM Kesehatan yang berakibat kelangkaan di satu sisi dan overloaded di sisi yang lain, namun juga hilangnya nyawa masyarakat bahkan tenaga kesehatan karena kondisi tanggap darurat Kesehatan yang belum dapat dikatakan aman dan belum terpetakan. Pada seminar ini akan dibahas bagaimana pengalaman pengalaman terkait penyusunan peta respon, lesson learnt, best practice termasuk inovasi kebijakan-kebijakan dalam transformasi digitalisasi penyusunan peta respon sehingga dapat menjaga ketahanan tanggap darurat kesehatan.

TUJUAN

Tujuan seminar ini adalah untuk mendiskusikan apa yang perlu ditingkatkan atau diperbaiki dalam penyusunan peta respon yang dapat meningkatkan meningkatkan akses layanan Kesehatan sebagai penopang ketahanan tanggap darura kesehatan sebagai salah satu sendi penanggulangan bencana secara umum.

PESERTA

Seminar ini terbuka untuk umum.
Diharapkan pemerhati dan peneliti bidang bencana dan krisis kesehatan, epidemiolog, pengelola logistik medis di fasilitas kesehatan, relawan dan filantropis, ketahanan kesehatan, sistem kesehatan indonesia, serta praktisi dan mahasiswa pascasarjana kesehatan dapat terlibat dalam kegiatan ini.

WAKTU PELAKSANAAN

Hari, tanggal           : Senin, 24 Oktober 2021
Waktu                    : 08.00 – 12.00 WIB

AGENDA

WAKTU

AGENDA

NARASUMBER

Sesi Penayangan Policy Brief

08.00 – 08.05

Pengantar

Moderator: apt. Gde Yulian Yogadhita, M.Epid

08.05 – 08.25

Penayangan video policy brief

 

VIDEO

08.25 – 08.45

Pembahasan policy brief

PPK

Sesi Paparan dan Diskusi

09:00 – 09:10

Pengantar

Moderator: apt. Gde Yulian Yogadhita, M.Epid

 

09.10 – 09.30 

Pembukaan

Sutono, S.Kp, M.Sc, M.Kep

VIDEO

09.30 – 10.00

Kebijakan Peta Respon Krisis Kesehatan

Pusat Krisis Kesehatan 

MATERI     VIDEO

10.15 – 10.30

Penyusunan Peta Respon saat bencana Gempa Mamuju

Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Barat

Materi    VIDEO

10.30 – 10.45

Penyusunan Peta Respon saat bencana Erupsi Semeru

Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang

Materi    VIDEO

10.45-11.15

Penggunaan Teknologi Inforasi dalam Penyusunan Peta Respon Krisis Kesehatan

Digital Transformation Office (DTO)

MATERI   VIDEO

 

11.15-12.00

Diskusi

Moderator

VIDEO

12.00-12.10

Penutup

Moderator

 

{tab title=”Reportase” class=”green” }

Reportase

Forum Nasional Jaringan Kebijakan Kesehatan Indonesia XII

Topik 7: “Peningkatan Akses Pelayanan Kesehatan Saat Krisis Kesehatan dengan Digitalisasi Peta Respon”

 

Senin, 24 Oktober 2022

sesi pb fornas div mbk

Kegiatan ini diselenggarakan oleh PKMK UGM, Pokja Bencana FK-KMK UGM, Jaringan Kebijakan Kesehatan Indonesia beserta mitra dan 11 universitas co-host melalui Zoom Seminar dan Live Streaming. Rangkaian kegiatan dimoderatori oleh apt. Gde Yulian Yogadhita, M.Epid. Sesi pertama diawali dengan pemutaran dua video policy brief berjudul “Strategi Penanganan Krisis Kesehatan di Kabupaten Badung” dan “Efektifkah Mengatasi Penyakit TBC seperti Penanggulangan COVID-19”. Pada sesi diskusi policy brief, disampaikan bahwa kesiapsiagaan mitigasi bencana dan krisis kesehatan sangat penting disiapkan sejak dini artinya saat pra krisis kesehatan. dr Eko Medistianto, M.Epid selaku pembahas dari Pusat Krisis Kesehatan, Kementrian Kesehatan RI menambahkan pada policy brief ada baiknya diidentifikasi juga jenis potensi lainnya yang dapat menyebabkan krisis kesehatan. Eko setuju dengan rekomendasi policy brief yang menyatakan sangat perlu dikembangkan sistem informasi surveilans berbentuk peta dan sangat disarankan sekali menyusun rencana kontigensi. Unsur pentahelix juga harus saling berkolaborasi dalam penangguangan krisis kesehatan.

Sesi selanjutnya adalah seminar topik Peningkatan Akses Pelayanan Kesehatan Saat Krisis Kesehatan dengan Digitalisasi Peta Respon yang dibuka oleh Sutono, S.Kp, M.Sc, M.Kep selaku ketua Pokja Bencana FK-KMK UGM. Pada sesi ini dipaparkan materi terkait : (1) Kebijakan Peta Respon Krisis Kesehatan oleh dr Eko Medistianto, M.EpidI; (2) Penyusunan Peta Respon saat bencana Gempa Mamuju oleh drg. Asran Masdy, SKG, MAP sebagai Kepala Dinas Provinsi Sulawesi Barat; (3) Penyusunan Peta Respon saat bencana Erupsi Semeru oleh dr. Bayu Wibowo IGN sebagai Kepala Dinas Kabupaten Lumajang; dan (4) Penggunaan Teknologi Informasi dalam Penyusunan Peta Respon Krisis Kesehatan oleh Setiaji, ST, M.Si sebagai Staf Ahli Menkes Bidang Teknologi Kesehatan Digital Transformation Office (DTO).

bayu lumangPengalaman penyusunan peta respon di Sulawesi Barat, peta respon disusun satu hari setelah terjadi Gempa Sulawesi Barat. Dinas kesehatan langsung melakukan kajian cepat untuk menilai daerah mana saja yang terdampak gempa, bagaimana kejadian bencana berdampak pada fasilitas kesehatan, sarana dan prasarana kesehatan yang masih bisa digunkanan dan kapasitas SDM yang siap bertugas menangani korban bencana. Dari peta respon Dinas Kesehatan dapat mengetahui potensi, kapasitas, kesenjangan yang terjadi, tenaga kesehatan yang dibutuhkan dan kebutuhan logistik. Hal tersebut juga dialami oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang saat penanganan Erupsi Gunung Semeru. Pada saat tanggap darurat, dinas kesehatan melakukan rapid health assessment untuk mengidentifikasi permasalahan kesehatan kemudian mengaktifkan klaster kesehatan / HEOC. Tim HEOC setiap hari rapat untuk upadate data bencana dan kebutuhan penanganan bencana. Saat itu tim HEOC didampingi dan dibantu oleh relawan FK-KMK UGM, Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes, Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten Lumajang serta MDMC. Salah satu kegiatan HEOC ini adalah penyusunan peta respon, sehingga semua pusat informasi tentang penyebaran relawan dapat dilihat pada pesta respon di HEOC.

kadinkes fornas div mbk

Peta risiko dibuat pada saat pra krisis kesehatan yang memuat risiko bahaya, kerentanan dan kapasitas sehingga ada visualisasi yang komprehensif yang dapat digunakan sebagai acuan bagi pelaku manajemen darurat kesehatan menyusun peta respon di HEOC saat tanggap darurat bencana. Dalam rangka respon cepat dibutuhkan suatu peta yaitu peta respon. Artinya peta risiko dan peta respon berbeda, peta risiko disusun saat pra krisis kesehatan sementara peta respon saat krisis kesehatan (tanggap darurat bencana). Teknologi akan menjadi kekuatan penunjang transformasi kesehatan. Tantangan data kesehatan dan kebencanaan adalah data yang tidak terintegrasi dan terstandarisasi. Bisnis proses tata Kelola data kesehtaan dan kebencanaan masih belum sepenuhnya terdigitalisasi dengan baik. Harapannya command center di daerah dapat digabungkan dengan kirisis kesehatan sehingga data dan informasi yang dikeluarkan dapat sama dan terintergrasi. Dashboard satu data kesehatan menjadi harapan bersama, seluruh data yang terintegrasi dengan satu sehat ditampilkan dalam dashboard data kesehatan. Seluruh sistem terkait dashboard dan analisis data di Kemenkes menjadi satu di dalam Dashboard Satu Data Kesehatan.

 

Reportase : Happy R Pangaribuan, MPH

Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM

 

{/tabs}

Penggunaan SPM Kesehatan sebagai Indikator Ketahanan Kesehatan pada Situasi Krisis Kesehatan di Daerah

pre fornas jkki div bencana 1

Penggunaan SPM Kesehatan sebagai Indikator Ketahanan Kesehatan pada Situasi Krisis Kesehatan di Daerah

diselenggarakan oleh:
Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM bekerja sama dengan POKJA Bencana FK-KMK UGM

 

{tab title=”KAK – Materi – Video” class=”blue”} 

PENGANTAR

Dewasa ini bencana yang terjadi bukan hanya bencana alam, melainkan juga non-alam seperti wabah COVID-19. Kesiapan pusat layanan kesehatan masyarakat dituntut berpacu dengan kebutuhan yang belum pernah ada sebelumnya, kondisi ini diperparah dengan cukup tingginya angka kematian tenaga kesehatan karena terpapar virus COVID-19. Salah satu faktor yang dapat mencegah hal ini adalah tingginya pemahaman tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan seperti puskesmas akan standard pelayanan minimum bencana kesehatan. Kerena dengan jelas disebutkan bahwa setiap penduduk yang terdampak krisis kesehatan akibat bencana dan penduduk yang tinggal di wilayah yang berpotensi bencana untuk mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standar, dan pemda wajib memberikan pelayanan kesehatan sesuai standar bagi penduduk terdampak dan penduduk yang tinggal di wilayah yang berpotensi bencana. Fakta yang kita temui adalah meningkatnya frekuensi kejadian bencana, dan banyak Puskesmas tidak mampu bertahan ketika bencana terjadi karena standar pelayanan minimum yang belum optimal dijalankan. Oleh karena itu, sangat diperlukan adanya suatu penguatan sistem ketahanan dan standard pelayanan minimum pelayanan puskesmas oleh dinas kabupaten/kota dalam upaya mewujudkan puskesmas yang tanggap dan tangguh bencana serta sebagai indikasi bahwa sistem kesehatan di daerah terdampak bencana memiliki ketahanan.

Ketahanan kesehatan menjadi sangat penting dalam menghadapi berbagai tantangan dimasa mendatang. Merujuk pada Instruksi Presiden Nomor  Tahun 2019, secara umum ketahanan kesehatan dapat digambarkan sebagai kemampuan nasional dalam menghadapi kedaruratan kesehatan masyarakat dan/atau bencana non-alam akibat wabah penyakit, pandemi global, dan kedaruratan nuklis, biologi, dan kimia yang dapat berdampak nasional dan/atau global. Adanya pandemi COVID-19 menunjukkan bahwa ketahanan kesehatan masih perlu ditingkatkan baik dari segi sistem kesehatan, fasilitas kesehatan maupun ketersediaan tenaga kesehatan. Salah satu aspek yang sering tidak diperhatikan saat pra-bencana maupun kedaruratan masyarakat adalah penyediaan dan pengelolaan logistik medis dalam menopang ketahanan kesehatan. Rangkaian seminar mengenai SPM kesehatan sebagai indikator ketahanan kesehatan pada situasi krisis kesehatan di daerah ini merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan upaya ketahanan kesehatan di saat yang di luar kewajaran yaitu situasi krisis kesehatan. Pada seminar ini akan dibahas bagaimana pengalaman terkait pemenuhan SPM kesehatan saat krisis, baik lesson learnt dan best practice termasuk kebijakan-kebijakan dalam menjaga ketahanan kesehatan khususnya selama penanganan bencana seperti alam maupun Covid-19 ataupun situasi bencana dan krisis kesehatan lainnya serta menggunakan SPM kesehatan kabupaten untuk mencapai SPM kesehatan propinsi.

TUJUAN

  1. Mendokumentasikan lesson learnt dan best practice penggunaan SPM kesehatan kabupaten/kota dan propinsi  saat penanggulangan bencana
  2. Meningkatkan pemahaman peserta dalam menyiapkan program indikator SPM Kesehatan di daerah
  3. Mengidentifikasi perlunya pemahaman terhadap pengorganisasian pendekatan incident command system (ICS) dalam alur manajemen pemenuhan SPM Kesehatan

PROSES KEGIATAN

Kegiatan ini berlangsung dalam dua hari dimana beberapa narasumber akan menyampaikan materi atau bahas diskusi terkait topik kebijakan SPM kesehatan kabupaten/kota dan tools untuk menyiapkan SPM Kesehatan di daerah. Selanjutnya daerah akan mencoba melakukan perhitungan SPM kesehatan sesuai dengan risiko bencana dan krisis kesehatan yang mungkin dihadapi daerah. 

PESERTA KEGIATAN

Seminar ini terbuka untuk umum. Diharapkan dari dinas kesehatan, puskesmas, pemerhati dan peneliti bidang bencana dan krisis kesehatan, epidemiolog, pengelola logistik medis di fasilitas kesehatan, relawan dan filantropis, ketahanan kesehatan, sistem kesehatan indonesia, serta praktisi dan mahasiswa pascasarjana kesehatan dapat terlibat dalam kegiatan ini.

OUTPUT KEGIATAN

Peserta memahami bagaimana pengalaman dinas kesehatan terkait penyusunan program, pemenuhan SPM kesehatan kabupaten/kota dan propinsi, lesson learnt dan best practice termasuk kebijakan-kebijakan dalam menjaga ketahanan kesehatan di garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat. Kemudian dari hasil diskusi seminar ada pembelajaran dan praktik rekomendasi yang mendukung perningkatan kebijakan ketahanan kesehatan kedepannya.

WAKTU PELAKSANAAN

Hari, tanggal               : Senin & Kamis / 17 & 20 Oktober 2022
Waktu                         : 09.00 – 11.30 WIB

AGENDA

WAKTU AGENDA NARASUMBER
SENIN, 17 OKTOBER 2022
09.00-09.05 WIB Pembukaan

Moderator:
Happy R Pangaribuan, MPH

09.05-09.20 WIB Pengantar

Wakil Dekan Bidang Kerja Sama, Alumni, dan Pengabdian Masyarakat FK-KMK UGM

VIDEO

09.20-09.50 WIB

09.50–10.05 WIB

Penggunaan Indikator Program SPM Kesehatan saat Penanganan Bencana Erupsi Merapi di Dinas Kesehatan Lumajang.

Diskusi

Bidang Penyusunan Program Dinkes Lumajang

MATERI   VIDEO

10.0–10.35 WIB
10.35–10.50 WIB

Sinkronisasi Program SPM Kesehatan di Puskesmas dengan Program SPM Kesehatan saat Penanganan Krisis Kesehatan dan Bencana di Dinas Kesehatan

 

Diskusi

Gde Yulian Yogadhita, Apt, M.Epid

MATERI    VIDEO 

10.50–11.20 WIB Penugasan Perhitungan Indikator SPM di Puskesmas
11.20-11.30 WIB Arahan pertemuan 2 dan penutupan Moderator
WAKTU AGENDA NARASUMBER
KAMIS, 20 OKTOBER 2022
09.00 – 09.10 Pembukaan

Moderator:
Happy R Pangaribuan, MPH

09.10–09.40 WIB
09.40–09.55 WIB

Penyusunan Program SPM Kesehatan di Puskesmas

Diskusi

Madelina Ariani, MPH

MATERI

09.55 10.25 WIB Penugasan Perhitungan SPM kesehatan di Dinas Kesehatan

10.25–10.55 WIB
10.55–11.10 WIB

Pengorganisasian : alur manajemen pemenugan SPM Kesehatan di daerah

Diskusi

dr Bella Donna MKes

MATERI

11.10 Penutupan Moderator

BIAYA KEPESERTAAN : GRATIS

REGISTRASI DARING

Kunjungi laman https://bencana-kesehatan.net

NARAHUBUNG

Hagung Putrasusila
(Kepersertaan)
Telp. 081326116064
E-mail : [email protected]

Gde Yulian Yogadhita
(informasi Konten)
Telp. 08175450684
E-mail [email protected]

 

{tab title=”Reportase H-1″ class=”green”}

Reportase

Pre Forum Nasional Jaringan Kebijakan Kesehatan Indonesia XII

Penggunaan SPM Kesehatan sebagai Indikator Ketahanan Kesehatan

pada Situasi Krisis Kesehatan di Daerah

17 Oktober 2022

pre fornas jkki div bencana 1

Pada Senin (17/10/2022), diadakan seminar Pre Forum Nasional (Fornas) Jaringan Kebijakan Kesehatan Indonesia (JKKI) XII dengan judul “Penggunaan SPM Kesehatan sebagai Indikator Ketahanan Kesehatan pada Situasi Krisis Kesehatan di Daerah”. Acara dimoderatori oleh Happy Pangaribuan, MPH. Agenda pada hari ini yaitu pemaparan penggunaan indikator SPM saat penanganan bencana oleh Dinas Kesehatan Lumajang dan materi sinkronisasi program SPM kesehatan oleh apt. Gde Yulian Y., M.Epid. Kegiatan ini dibuka oleh Dr. dr. Sudadi Mitrodihardjo, Sp.An, KNA, KAR (Plt. Wakil Dekan Kerja Sama, Alumni, dan Pengabdian FK-KMK UGM).

Sudadi menyampaikan bahwa pada saat situasi krisis, perlu penanganan situasi yang berbeda. FK-KMK UGM memilki pengalaman dalam manajemen bencana baik di sekitar Yogyakarta maupun di luar provinsi, pengalaman mendampingi dinas kesehatan, dan lain-lain. Manajemen bencana tidak hanya berfokus pada bidang kesehatan tetapi perlu koordinasi dengan bidang lain, untuk itulah diperlukan adanya SPM kesehatan. Di akhir sambutan, Sudadi membuka pre fornas secara resmi. Acara dilanjutkan dengan paparan oleh perwakilan Dinas Kesehatan Lumajang.

pre fornas jkki div bencana 2

Ririn Fitriana, SKM, M.Kes, dari Bidang Penyusunan Program Dinas Kesehatan Lumajang menyampaikan presentasi dengan judul “Penggunaan Indikator Program SPM Kesehatan saat Penanganan Bencana Awan Panas & Guguran Semeru”. Ririn memaparkan berdasarkan pengalaman penanganan bencna gunung Semeru kemarin. Ririn menyebutkan kronologi kejadian 4 Desember 2021, daerah yang terdampak bencana, dan linimasa penyusunan rencana kontingensi berdasarkan dasar hukum.

Ririn juga memaparkan berbagai macam tugas sub bidang kesehatan yang salah satunya adalah melakukan pelayanan kesehatan dasar di pos kesehatan namun pada prakteknya tenaga kesehatan tidak sanggup dan kesulitan mengunjungi posko kesehatan. Selama bencana gunung Semeru, tim tenaga kesehatan melakukan vaksinasi COVID-19 dan imunisasi MR serta mendirikan pos pemeriksaan swab antigen yang pemeriksaannya dilakukan secara gratis. Dalam pengumpulan data, timnya mengumpulkan data setiap hari melalui google spreadsheet dan pelaporan data dan informasi tersebut dilakukan secara berjenjang dari puskesmas ke dinas kesehatan, HEOC dan Pusdalops BPBD. Hal yang menjadi kendala dalam pelaporan data & informasi adalah alur pelaporan yang belum sistematis, kurangnya sumber daya yang menangani data (tenaga kesehatan di lapangan fokus pada pelayanan), dan formulir yang harus diisi banyak dan pengisian secara manual. Solusinya adalah menyusun alur pelaporan data & informasi, penunjukan penanggung jawab data & informasi di masing-masing wilayah puskesmas terdampak, dan digitalisasi pelaporan. Sesi ini ditutup dengan tanya jawab.

pre fornas jkki div bencana 3

Sesi selanjutnya diisi oleh apt. Gde Yulian Yogadhita, M.Epid dengan topik “Sinkronisasi SPM Kesehatan Rutin di Situasi Bencana/Krisis Kesehatan di tingkat Sub-Nasional”. Gde memaparkan adanya 3 regulasi, diantaranya Permenkes Nomor 75 Tahun 2019 tentang Standar Manajemen Krisis Kesehatan, Permendagri Nomor 59 Tahun 2021 tentang Implementasi Standar Pelayanan Minimal, dan Permenkes Nomor 4 Tahun 2019 tentang Standar Teknis Pemenuhan Mutu Pelayanan Dasar Pada Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan. Irisan antara peraturan-peraturan tersebut mendorong munculnya keharusan untuk memberikan pedoman kesehatan yang berkualitas saat terjadi bencana menggunakan sistem yang terkoordinasi.

Gde menyampaikan bahwa pelayanan dalam bencana harus terukur. Solusi dari berbagai masalah yang ada adalah puskesmas menyiapkan Public Health Center Disaster Plan (PHCDP) dan dinas kesehatan menyiapkan rencana kontingensi kesehatan atau dinkes disaster plan. SPM tidak hanya menjadi indikator terukur penanganan bencana namun juga untuk merencanakan strategi operasi klaster kesehatan. Acara ditutup dengan pengarahan pertemuan kedua dan tanya jawab

Reporter: dr. Satrio Pamungkas

Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK

{tab title=”Reportase H-2″ class=”red”}

Reportase Pre Fornas JKKI XII

SPM Kesehatan di Puskesmas dan Logistik Medis

20 Oktober 2022

Pada Kamis (20/10/2022), diadakan webinar kedua dalam rangkaian agenda Pre-Forum Nasional Jaringan Kebijakan Kesehatan Indonesia (JKKI) ke XII yang dibuka dan dimoderatori oleh Happy Pangaribuan, MPH. Webinar hari ini berfokus pada peran puskesmas mencapai capaian indikator SPM kesehatan dalam kejadian bencana dan dilanjutkan dengan materi pengorganisasian.

Materi pertama berjudul “Identifikasi Program SPM Kesehatan untuk Situasi Bencana & Krisis Kesehatan di Puskesmas” oleh Madelina Ariani, MPH. Madelina mengawali dengan latar belakang bahwa hanya sedikit orang-orang yang terlibat dalam penanganan bencana sedangkan banyak layanan yang dibutuhkan saat kondisi krisis sehingga muncul pertanyaan bagaimana melibatkan pengelola program-program SPM pada kondisi bencana untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Selanjutnya Madelina menyampaikan kajian kesiapsiagaan puskesmas untuk bencana dan krisis kesehatan. Dalam kajian tersebut, terdapat beberapa pertanyaan yang diajukan namun sebagian besar jawaban dari puskesmas masih banyak menjawab tidak dalam arti belum memiliki kesiapsiagaan untuk menghadapi kondisi tersebut.

Lalu, Madelina menyebutkan dasar-dasar kebijakan terkait SPM pada kondisi bencana dan 25 daftar pertanyaan kesiapsiagaan SPM bencana dan krisis kesehatan di puskesmas. Di akhir sesi, Madelina memberikan tugas perhitungan minimal pelayanan kesehatan di puskesmas dan identifikasi program terkait bencana yang belum ada pada situasi normal. Materi pertama ditutup dengan tanya jawab.

Paparan kedua oleh dr. Bella Donna, M.Kes dengan topik “Pengorganisasian: Alur Manajemen Pemenuhan SPM Kesehatan di Daerah pada Situasi Bencana”. Bella mengawali materi kolaborasi klaster kesehatan berbentuk pentaheliks yang terdiri atas pemerintah, masyarakat, akademisi, pelaku usaha, dan media. Selain kolaborasi, yang dibutuhkan adalah koordinasi dan integrasi. Tanggung jawab otoritas kesehatan pemerintah dipegang oleh kepala dinas kesehatan. Lalu Bella menyampaikan bahwa klaster kesehatan diaktivasi saat tanggap darurat dan koordinator klaster kesehatan berdasarkan cakupan wilayah, pada tingkat nasional, koordinator klaster ini diampu oleh menteri kesehatan melalui kepala pusat krisis kesehatan, pada tingkat provinsi diampu oleh kepala dinas kesehatan provinsi, dan pada tingkat kabupaten/kota diampu oleh kepala dinas kesehatan kabupaten/kota.

Bella melanjutkan konsep pengorganisasian dalam kondisi bencana berdasarkan organisasi sehari-hari, dapat dimobilisasi dalam waktu yang singkat, organisasi harus sederhana dan jelas. Perbedaan pengorganisasian dalam kondisi bencana terdapat pada aktivasi dan kecepatan kebutuhan. Lalu Bella menjelaskan tentang skema Incident Commander System (ICS) yaitu sistem yang meliputi petugas, aturan, prosedur, fasilitas, dan peralatan. Keuntungan ICS antara lain membagi habis tugas pada tiap personel, adanya kejelasan alur komando dan komunikasi antara satuan kerja, dan memungkinkan pengembangan operasi bila diperlukan.

Peran SPM dalam fase bencana yaitu pada fase pra bencana dan fase tanggap darurat. Pada fase bencana, SPM sebagai pedoman untuk menentukan kapasitas sehari-hari, kapasitas maksimum, dan gap kebutuhan. Pada fase tanggap darurat, SPM digunakan juga sebagai pedoman untuk melakukan pelayanan. Acara hari ini ditutup dengan sesi tanya jawab.

Reportase oleh dr. Satrio Pamungkas

Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK UGM

{/tabs}

Universitas Brawijaya Kembangkan IoT GIS untuk Mitigasi Bencana di Semeru

 REPUBLIKA.CO.ID, MALANG — Universitas Brawijaya (UB) mengembangkan Internet of Things (IoT) berbasis Geographic Information System (GIS) untuk melakukan mitigasi bencana di Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur (Jatim). Wilayah tersebut merupakan daerah terdampak erupsi Gunung Semeru pada beberapa waktu yang lalu. 

Dosen Prodi Perencanaan Wilayah Kota Fakultas Teknik UB, Adipandang Yudono mengatakan, metode itu sebenarnya sudah diterapkan setelah erupsi Gunung Semeru hingga masa-masa pemulihan. Setelah erupsi Semeru, teknologi IoT digunakan untuk memasukkan data seperti jumlah pengungsi dan logistik, sebaran penyintas. “Kemudian juga data lokasi posko, obat-obatan dan makanan,” katanya di Kota Malang, Kamis (29/9/2022).

Sementara itu, pada masa-masa pemulihan, teknologi IoT berbasis GIS digunakan untuk memetakan wilayah yang terdampak untuk pertanian dan peternakan. Kemudian juga untuk memetakan sektor lain seperti sekolah yang rusak.

Menurut Adipandang, data-data yang dihasilkan oleh IoT bisa menjadi informasi krusial. Hal ini terutama dalam menangani lokasi terdampak sehingga bisa dijadikan sistem pendukung untuk penentuan kawasan yang layak huni kembali. Kemudian juga untuk didelineasi sebagai kawasan lindung ke depannya.

Pada kesempatan sama, Pakar Vulkanologi dan Geothermal Universitas Brawijaya (UB) Profesor Sukir Maryanto mengatakan, sistem IoT bisa bekerja dengan dua metode, yakni melalui media manusia dan sensor. Untuk media manusia, sistem kerja IoT menggunakan tiga tahapan.

Tahapan pertama, yakni IoT memasukan data untuk kemudian dilakukan pengelolaan . Dari Manajemen database akan diteruskan ke operasional dashboolard. Operasional ini akan berisi infografis berisi sebaran kegiatan, jumlah kegiatan serta grafiknya.

“Sedangkan secara elektronik, IoT melakukan pemasukan data berdasarkan sensor-sensor secara elektronik yang dipasang di suatu tempat,” ucapnya.

Selanjutnya, penggunaan IoT berbasis geospasial ini bisa digunakan untuk kegiatan perencanaan pemulihan area terdampak erupsi semeru. Beberapa di antaranya seperti reboisasi atau penanaman kembali untuk hutan yang gundul karena longsor atau karena dampak bencana.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Semeru, Sujarwo, mengakui, IoT untuk mitigasi bencana ini memudahkan aktivitas mahasiswa yang terlibat dalam proyek kemanusiaan Semeru. Hal ini lebih khususnya ketika hendak mengidentifikasi kerusakan dan suplai informasi secara lebih baik. Beberapa di antaranya seperti jumlah bangunan yang rusak dan data-data wilayah terdampak.

Selain pemanfaatan IoT untuk mitigasi bencana, dalam Proyek Kemanusiaan MBKM Semeru juga dilakukan School and Town Watching System. Target sasaran program ini antara lain sekolah dan warga masyarakat.

Menurut dia, upaya mitigasi bencana di sekolah (School Watching) termasuk suatu metode atau proses untuk mengidentifikasi elemen-elemen sekolah yang berisiko. Lalu juga untuk menganalisis dampak risiko dan menemukan solusi dari permasalahan ketika terjadi bencana.

Ada pun town watching penanggulangan bencana merupakan program bagi orang yang bermukim di suatu wilayah. Lebih tepatnya kepada warga, anak-anak, atau mahasiswa dengan cara berkeliling wilayah melihat dan memahami tempat-tempat berbahaya ketika terjadi bencana maupun fasilitas untuk keselamatan. Kemudian memikirkan sendiri langkah antisipasi terhadap bahaya jika terjadi bencana.

Town Watching, kata dia, bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penanggulangan bencana. Lalu mengidentifikasi kerentanan lingkungan dan sekitarnya serta mengidentifikasi kapasitas atau sumber daya masyarakat yang dapat digunakan ketika terjadi bencana. Selanjutnya, juga untuk mengidentifikasi permasalahannya utama di lingkungan masyarakat serta menemukan solusi dari permasalahan tersebut.

“Dengan adanya town watching masyarakat bisa sadar dan punya solusi jika terjadi bencana,” ungkapnya.

Bersiap Hadapi Bencana, BPBD Kalsel Gelar Latihan Kepada Relawan Se-Kalimantan Selatan

BANJARBARU, KOMPAS.TV – Berbagai bencana mulai mengancam Provinsi Kalimantan Selatan, baik bencana banjir, kebakaran lahan dan angin puting beliung.

Menyikapi berbagai bencana yang terjadi, BPBD Provinsi Kalimantan Selatan menggelar pelatihan penanganan kebencanaan yang diikuti seratus lebih relawan yang ada di Kalimantan Selatan.

Para relawan diberikan berbagai materi agar bisa melakukan tugasnya ketika terjadi bencana di Kalimantan Selatan.

“Baik BPBD provinsi dan kabupaten kota perlu ada sinergi yang saat ini perlu ditingkatkan,” terang Suparno, Staf Ahli Gubernur Kalimantan Selatan.

Dengan pelatihan ini maka akan memperkuat ketahanan penanganan bencana di Bumi Lambung Mangkurat.

“Kita berharap hasil latihan ini bisa dibawa ke kabupaten kota untuk kesiapan mereka,” ucap Surya Fadliansyah, Kalak BPBD Provinsi Kalimantan Selatan.

Tidak hanya diberikan materi ruang, dalam pelatihan yang diikuti oleh seluruh perwakilan relawan se kabupaten dan kota di Kalimantan Selatan ini juga diberikan praktek lapangan, sehingga peserta bisa menyerap secara langsung.

524 Bencana Landa Bogor Sepanjang 2022, Diprediksi Meningkat hingga Akhir Tahun

Merdeka.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor, mencatat 524 bencana alam hingga Agustus 2022. Dari jumlah itu terdapat 228 kali tanah longsor, 165 angin kencang dan 71 bencana banjir, dan pergerakan tanah yang belakangan terjadi di Desa Bojongkoneng, Kecamatan Babakanmadang.

Wilayah Kabupaten Bogor secara geografis dan topografis cukup labil dan rawan longsor, angin puting beliung dan banjir. Setelah datangnya musim penghujan , potensi bencana alam diperkirakan kian tinggi.taboola mid article

Untuk mengantisipasi bencana itu, apel siaga bencana pun digelar, Kamis (29/9). “Apel ini kami lakukan untuk memantapkan kesiapsiagaan personel dan materiil, dalam mengantisipasi bencana alam, mengingat kian tingginya intensitas hujan dan angin di Kabupaten Bogor,” kata Sekretaris Daerah Kabupaten Bogor Burhanudin saat memimpin apel kesiapsiagaan bencana.

Cegah Korban Jiwa

Dia berharap, BPBD dan unsur-unsur terkait dapat meningkatkan mitigasi bencana agar bisa mencegah timbulnya korban jiwa.

“Kami apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya pada seluruh jajaran personel gabungan yang terlibat dalam upaya menghadapi ancaman dan penanggulangan bencana alam pada tahun 2022 di Wilayah Kabupaten Bogor,” jelas Sekda.

Sementara Kepala BPBD Kabupaten Bogor Yani Hasan menuturkan, Pemkab Bogor senantiasa bergerak cepat dalam menangani berbagai peristiwa bencana alam di Kabupaten Bogor.

“Kita sudah belajar melalui berbagai peristiwa, berkat kebersamaan aparat Alhamdulillah kita bisa menangani bencana alam di Kabupaten Bogor dengan baik. Melalui apel siaga hari ini kita mantapkan kesiapan, mengingat curah hujan yang tinggi di Oktober dan November ini,” tandasnya. [yan]

Bencana Mengancam, Kementan Ingatkan Petani Palembang Siapkan Mitigasi

TRIBUNNEWS.COM – Kementerian Pertanian mengajak para petani dan stakeholder terkait di Palembang, Sumatera Selatan, untuk menyiapkan mitigasi bencana. Pasalnya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menetapkan Palembang dalam status bencana hidrometeorologi.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan status bencana hidrometeorologi bisa berdampak buruk buat pertanian.

“Dampak yang paling buruk adalah membuat pertanian menjadi gagal panen. Hal ini bisa mengganggu ketahanan pangan,” tutur Mentan SYL.

Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Ali Jamil, mengatakan mitigasi adalah hal penting.

“Bencana alam adalah hal yang tidak bisa diprediksi. Oleh sebab itu, petani harus menyiapkan langkah atau mitigasi untuk mengatasinya,” katanya.

Ali menjelaskan, langkah terbaik untuk menjaga lahan adalah mengasuransikannya. “Asuransi akan membuat petani tetap tenang meski cuaca sedang tidak bersahabat,” terang Ali.

Dijelaskannya, asuransi memiliki klaim yang akan dikeluarkan saat lahan gagal panen.

“Dengan klaim itu, petani tetap memiliki modal untuk tanam kembali. Sehingga petani terhindar dari kerugian dan kebutuhan tetap terpenuhi,” katanya.

Status bencana hidrometeorologi merupakan kondisi daerah yang berpotensi mengalami banjir dan puting beliung akibat anomali cuaca. Kondisi alam tak menentu itu bisa memicu gagal panen saat musim tanam kedua berlangsung.

Menurut Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Palembang, Sayuti, Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang masif menyosialisasikan mitigasi kebencanaan kepada petani. Pemkot mengantisipasi persoalan gagal panen akibat status bencana hidrometeorologi.

“Peningkatan curah hujan hingga awal tahun depan berpotensi memicu gagal panen. Petani di Palembang mulai diedukasi pencegahannya,” ujarnya.(*)

Jabar tingkatkan kemampuan sukarelawan dalam penyelamatan bencana air

Garut (ANTARA) – Pemerintah Provinsi Jawa Barat meningkatkan kemampuan sukarelawan dalam melakukan penyelamatan (rescue) bagi masyarakat ketika terjadi bencana air melalui kegiatan perlombaan penyelamatan di Sungai Cimanuk, Kabupaten Garut selama empat hari.

“Kegiatan ini upaya untuk peningkatan kapasitas dan potensi di daerah masing-masing,” kata Asisten Daerah (Asda) 3 Bidang Administrasi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar, Ferry Sofwan Arif saat acara pembukaan Jabar Quick Response (JQR) River Rescue Challenge Piala Gubernur Jabar 2022 di Situ Bagendit, Kabupaten Garut, Kamis.

Ia menuturkan Pemerintah Provinsi Jabar mendukung program Jabar Quick Response sebagai organisasi kemanusiaan dalam rangka membantu penanggulangan bencana alam, sehingga harus terus didukung dan berkelanjutan.

Apalagi di Jabar ini, kata dia, tercatat ada 2.265 sungai yang perlu dipahami berbagai ancaman potensinya oleh semua pihak, termasuk sukarelawan dalam memberikan bantuan pertolongan apabila ada musibah di sungai.

“Pelaksanaan kegiatannya di sungai untuk meningkatkan kemampuan relawan melakukan ‘search’ dan ‘rescue’, agar memiliki kemampuan yang baik menolong apabila ada bencana sungai,” katanya.

Ketua Panitia Jabar Quick Response (JQR) River Rescue Challenge, Sandi Prisma Putra mengatakan alasan memilih Garut sebagai lokasi acara kegiatan perlombaan pertolongan di air karena berdasarkan laporan memiliki tingkat kerawanan bencana yang tinggi khususnya kebencanaan hidrometeorologi.

Ia menyebutkan peserta yang ikut dalam kegiatan itu sebanyak 420 partisipan dari berbagai daerah di Provinsi Jabar, bahkan ada juga yang dari luar provinsi yang dibagi dalam klasifikasi yakni instansi pemerintah, kemudian umum atau komunitas, lalu mahasiswa seperti pecinta alam dan pramuka.

Hasil dari kegiatan itu, kata dia, nanti akan ketahuan siapa saja sukarelawan maupun peserta yang ikut dalam kegiatan tersebut memiliki kemampuan melakukan penyelamatan terhadap orang yang membutuhkan bantuan.

“Kita punya data dari mana saja yang kira-kira mempunyai kemampuan secara ‘expert’ untuk melakukan penyelamatan terhadap ‘survivor’ dalam kondisi kebencanaan yang menyangkut bencana hidrometeorologi ataupun kondisi luar biasa kecelakaan di sungai seperti halnya ada survivor yang hanyut atau hilang di sungai,” katanya.

Wakil Bupati Garut Helmi Budiman yang hadir dalam acara pembukaan tersebut menyampaikan dukungannya terhadap kegiatan tersebut karena bisa memperkuat tenaga-tenaga yang siap membantu memberikan pertolongan apabila terjadi bencana alam.

Apalagi wilayah Garut, kata dia, merupakan daerah yang memiliki potensi bencana banjir, seperti yang baru terjadi banjir melanda wilayah perkotaan kemudian di selatan Garut dengan daerah terdampak cukup luas.

“Memang ini adalah sarana bagi Garut untuk mempersiapkan tenaga-tenaga yang dalam hal ini ‘rescue’, apalagi Garut ini sering terjadi banjir,” katanya.