BNPB Susun Analisis pada Pembangunan Berisiko Bencana

BOGOR – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Direktorat Pemetaan dan Evaluasi Risiko Bencana Kedeputian Bidang Sistem dan Strategi, mengadakan rapat koordinasi penyusunan Panduan Pelaksanaan Analisis Risiko Bencana pada kegiatan / pembangunan berisiko tinggi bencana yang diselenggarakan di Bogor, Jawa Barat pada Selasa (13/9) dan Rabu (14/9).

Pembahasan kali ini menitikberatkan pada penyusunan panduan analisis risiko bencana untuk setiap pembangunan yang mempunyai risiko tinggi, yang dapat menimbulkan bencana, antara lain pengeboran minyak bumi, pembuatan senjata nuklir, pembuangan limbah, kawasan wisata yang berada di darah rawan bencana dan lain sebagainya.

Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Dr. Raditya Jati menyatakan, seiring dengan perkembangan zaman dan pemenuhan hidup manusia, perlu diadakan pembangunan. Perlu diperhatikan apakah akan menimbulkan risiko bencana di kemudian harinya.

“Kita tidak bisa menolak pembangunan, pembangunan akan mendorong investasi. Bila ada pembangunan yang mana akan menimbulkan risiko baru, perlu diperhatikan terkait pengurangan risiko bencananya,” Ucap Raditya saat membuka acara secara virtual, Selasa (13/9).

Bagi wilayah yang memilki risiko tinggi perlu disiapkan mitigasinya, termasuk wilayah pariwisata yang pernah dilanda bencana.

“Termasuk Kawasan Ekonomi Khusus, sangat penting bagaimana upaya mitigasi di wilayah tersebut. Beberapa wilayah pariwisata yang sempat diterjang tsunami dan bencana lainnya dapat dijadikan pembelajaran untuk melakukan antisipasi mitigasi dengan lebih baik,” Tuturnya.

Pada akhir sambutan, dirinya mengungkap analisis risiko bencana ini sebagai salah satu upaya pemerintah untuk melindungi aset dan keberlangsungan hidup masyarakat.

“Tujuan penyusunan ini sebagai upaya dalam melindungi aset pembangunan dan  meminimalisir risiko bencana yang akan terjadi dari dampak kegiatan pembangunan, ” pungkas Raditya.

Pada kesempatan yang sama, Udrekh selaku Direktur Pemetaan dan Evaluasi Risiko Bencana BNPB, menjelaskan bahwa anaisis ini diharapkan sebagai rekomendasi bagi setiap pembangunan yang akan dilakukan wilayah berisiko tinggi.

“Analisis risiko bencana ini sebagai rekomendasi pembangunan dapat dilakukan dengan syarat adanya mitigasi bencna, asuransi bencana dan disosialisasikan kepada masyarakat,” tutup Udrekh.

Kegiatan ini dilakukan secara hybrid dihadiri oleh perwakilan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan, Badan Pengawas Tenaga Nuklir, Kementerian Perindustrian, dan Kementarian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional.

Abdul Muhari, Ph.D.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB

Perbaiki Sistem Manajemen Bencana, Kemenkes dan UGM Bentuk AIDHM

Liputan6.com, Jakarta Kementerian Kesehatan melalui Pusat Krisis Kesehatan bekerja sama dengan Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Universitas Gadjah Mada (PKMK-UGM) menggelar pertemuan pembentukan ASEAN Institute of Disaster Health Management (AIDHM) pada tanggal 2-3 Juni 2022, di Yogyakarta.

Pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut dari hasil The 15th ASEAN Health Ministrial Meeting (AHMM) Mei 2022 lalu di Nusa Dua, Bali yang menunjuk Indonesia sebagai tuan rumah AIDHM.

Kepala Pusat Krisis Kesehatan, Dr. dr. Eka Jusup Singka, M.Sc., mengatakan bahwa Kemenkes bersama PKMK-UGM akan membuat suatu proposal yang bertujuan untuk memperbaiki sistem manajemen bencana di Indonesia menjadi lebih baik lagi. Ia ingin mengubah julukan Indonesia, dari ‘laboratorium bencana’, menjadi ‘negara yang memiliki banyak pengalaman dalam manajemen bencana’.

“Ini adalah upaya kita, sehingga kita harus bekerja lebih bagus lagi, lebih terintegrasi lagi,” kata dr. Eka.

Dalam kesempatan ini dr. Eka juga menyebut bahwa Kemenkes dengan dunia pendidikan, yaitu UGM dan Unsrat, sebagai cikal bakal perkembangan pendekatan pentahelix dalam manajemen bencana.

“Jadi ada NGO (Non-governmental organization) dan akademis. Ada unsur pentahelix dengan akademis. Jadi tidak hanya pekerjaan Kemenkes dan dinas kesehatan saja,” tutur dr. Eka.

Lebih lanjut, Ia menyebut bahwa Kemenkes juga telah membentuk koalisi dengan NGO seperti, Muhammadiyah Disaster Management Center, Pramuka, Nahdlatul Ulama (NU), Persatuan Katolik, Persatuan Protestan dan Buda Tzu Chi, yang jumlahnya mencapai 22, sebagai tenaga relawan saat bencana terjadi.

selengkapnya 

https://www.liputan6.com/health/read/4978447/perbaiki-sistem-manajemen-bencana-kemenkes-dan-ugm-bentuk-aidhm

Lewat Jambore Mitigasi Bencana, FPRB dan BPBD Kabupaten Kediri Ajak Kalangan Muda Cegah Bencana

Kediri, koranmemo.com – Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Kediri bersinergi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri, sejak Sabtu (10/9/2022) hingga Minggu (11/9/2022) mengadakan Jambore Mitigasi Bencana di Alas Secang Jugo Mojo.

Jambore Mitigasi Bencana yang diadakan FPRB dan BPBD Kabupaten Kediri di Alasa Secang Jugo Mojo ini dihadiri Dodi Purwanto Ketua DPRD Kabupaten Kediri , dan Syaifudin Zohri Plt Kepala BPBD Kabupaten Kediri.

Sebanyak 300 peserta dari kelompok pecinta alam Kediri Raya, ikut dalam Jambore Mitigasi Bencana yang diadakan FPRB dan BPBD Kabupaten Kediri ini.

Baca Juga: KPUD Kabupaten Ponorogo Temukan Puluhan Nama Masuk Dalam 2 Parpol Berbeda

Ketua FPRB Kabupaten Kediri dr Ari Purnomo Adi mengatakan, kegiatan Jambore Mitigasi Bencana ini untuk memberi bekal pengetahuan tentang potensi bencana yang mungkin terjadi di sekitar Gunung Wilis, dan cara pencegahannya.

“Lereng Gunung Wilis dipilih karena kawqsan ini sedang mendapatkan tekanan yang luar biasa karena pembangunan dan alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian,” ujar Ari, Minggu (11/9/2022).

“Kegiatan ini merupakan kolaborasi dari kelompok pecinta alam dengan FPRB Kabupaten Kediri dan BPBD Kabupaten Kediri. Rencananya giat ini akan menjadi agenda rutin dan digelar tiap bulan September,” imbuhnya.

Reporter : Bakti Wijayanto

MATERI Pelatihan Dasar Hospital Disaster Plan Batch-2

 

MATERI PELATIHAN

Selasa, 13 September  2022

Moderator : Happy R Pangaribuan

Materi/Kegiatan Narasumber
Pembukaan dan Pengantar

dr. Hendro Wartatmo, SpB.KBD

VIDEO

 

Materi 1: Akreditasi dan Strategi Penyiapan HDP di RS

dr. Bella Donna, M.Kes

Materi   VIDEO

 

Materi 2: Analisis Risiko, Hospital Safety Indeks

Madelina Ariani, MPH

Materi    VIDEO

HSI bahasa Indonesia

Tools HVA indo-2

 

Penugasan Analisis Risiko, HVA, HSI Happy R Pangaribuan, MPH
Materi 3 : Sistem Komando dan Pengorganisasian

Dr. Yudha Mathan Sakti,SpOT, K(Spine)

Materi    VIDEO

 

Penugasan Sistem Komando dan Pengorganisasian
Materi 4 : Logistik Medik dan Manajemen Relawan

apt.Gde Yulian Yogadhita, M.Epid

Materi   VIDEO

Review penugasan dan arahan pertemuan II Happy R Pangaribuan, MPH

 

Selasa, 20 September  2022

Materi/Kegiatan Narasumber/Fasilitator
Materi 5 : identifikasi fasilitas dan penyusunan SOP saat Bencana

Sutono, S.Kp, M.Sc, M.Kep

Materi   VIDEO

Penugasan identifikasi fasilitas dan penyusunan SOP saat Bencana Happy R Pangaribuan, MPH
Materi 6 : Pengorganisasian sub bab Tupoksi dan Kartu Tugas

dr. Bella Donna, M.Kes

Materi   VIDEO

Penugasan Tupoksi Happy R Pangaribuan, MPH
Materi 7 : Data Informasi dan Peta Respon

Apt. Gde Yulian Yogadhita, M.Epid

Materi    VIDEO

Materi 8 : Manajemen Penanganan Bencana non Alam (Penyakit Menular) dalam dokumen HDP

dr. Wahyu Kartiko Tomo, Sp.B

Materi   VIDEO

Penutupan  

 

KAK dan Reportase

Update Progress Pendirian Sekretariat AIDHM oleh Indonesia

aidhm day1 1

Update Progress Pendirian Sekretariat AIDHM oleh Indonesia

*AIDHM : ASEAN Institute for Disaster Health Management

6 September 2022

aidhm day1 1

Dok. Indonesia: Sesi Presentasi Indonesia oleh dr. Ina Agustina

Bangkok, 6 September 2022, dr. Ina Agustina Isturini, MKM dari Pusat Krisis Kesehatan, Kementerian Kesehatan mempresentasikan persiapan Indonesia sebagai Sekretariat AIDHM selama setahun ini pada forum Joint Meeting of Project Working Groups oleh ARCH Project yang dihadiri oleh ASEAN Secretary dan 10 negara anggota ASEAN. Pada paparannya, Ina menegaskan kembali mandat dan fungsi sebagai Sekretariat AIDHM serta progress yang sudah disiapkan dan akan disiapkan oleh Indonesia seperti aspek tata kelola, insfrastruktur, pembiayaan dan roadmap tiga tahun pertama pendirian. Tanggapan dari negara ASEAN lainnya, lebih banyak pada struktur organisasi yang memungkinkan kemudahan operasionalisasi ke depannya seperti kemungkinan adanya advisory group dan pengembangan divisi – divisi yang akan mendukung sekretariat.

Sejak awal inisiasinya, Sekretariat AIDHM dijalankan oleh Pusat Krisis Kesehatan, Kementerian Kesehatan dan UGM. Sekretariat ini berlokasi di Gedung Penelitian dan Pengembangan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM tepatnya di lantai 1 ruang Divisi Manajemen Bencana Kesehatan, PKMK UGM. Ke depannya secretariat ini akan mendukung dan memfasilitasi kegiatan – kegiatan akademik, penelitian, dan pelatihan terkait manajemen bencana kesehatan di ASEAN.

aidhm day1 2

Dok. Indonesia: Delegasi Indonesia pada 6 September 2022
(dari kiri: Manggala, dr. Bella, Madelina, dr. Ina, dr. Eko)

Pertemuan ini masih berlangsung hingga 8 September 2022 dengan berbagai agenda, diantaranya Indonesia juga mempersiapkan National Focal Point; UGM dan UNSRAT sebagai perwakilan academic network dari Indonesia. Acara juga dihadiri oleh delegasi lainnya, yaitu; dr. Eko Medistianto, Aditya Raja Manggala dari Pusat Krisis Kesehatan, Kementerian Kesehatan; dr. Bella Donna, M.Kes, Madelina Ariani, MPH dari Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK – KMK UGM; serta dr. Windy Wariki dari FK UNSRAT.

Reporter: Madelina Ariani, SKM, MPH (Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK UGM)

Ini Bencana Besar yang Landa Eropa 1.000 Tahun Terakhir

Jakarta, CNBC Indonesia – Sejarah mencatat, Benua Biru sempat dilanda beberapa malapetaka mulai dari pandemi hingga perang.

Setidaknya ada beberapa bencana besar yang membuat Eropa luluh lantak. Bencana-bencana tersebut berkaitan dengan pandemi dan perang yang berujung pada krisis ekonomi.

Salah satu bencana yang paling populer adalah wabah Black Death yang terjadi antara tahun 1347-1352. Wabah tersebut diestimasikan telah merenggut nyawa 20 juta orang Eropa atau setara dengan lebih dari sepertiga populasi Benua Biru.

Wabah tersebut datang dari Asia ke Eropa melalui kapal dagang. Awal mulanya tidak diketahui apa penyebab dari wabah mematikan tersebut.

Namun setelah dilakukan penelitian yang intensif, diketahui wabah tersebut berasal dari bakteri yang dibawa oleh binatang pengerat.

Konsekuensi yang harus dihadapi oleh Eropa akibat berkurangnya sepertiga dari populasinya membuat kinerja ekonomi menurun drastis. Jumlah tenaga kerja menjadi berkurang dan bahkan langka.

Selain Black Death, ada juga wabah lain yang membuat Eropa porak poranda. Pada 1918, dunia dibuat luluh lantak karena adanya pandemi bernama Spanish Flu yang diperkirakan membunuh 50-100 juta orang di muka Bumi.

Saat itu momentumnya juga bertepatan dengan Perang Dunia I yang melanda Eropa. Jadi bisa dibayangkan betapa ngerinya saat itu!

Perang yang meletus selama 4 tahun tersebut disebut-sebut merenggut nyawa 18 juta jiwa. Selain itu pasca perang, kelaparan merajalela, infrastruktur hancur dan pandemi juga mengancam nyawa puluhan juta orang.

Setelah Perang Dunia Pertama usai, sejarah mencatat Perang Dunia Kedua juga bermuara dari daratan Eropa hingga akhirnya negara-negara lain di luar daratan biru turut ambil bagian.

Dimulai dari invasi Jerman ke Polandia, PD II yang jauh lebih mematikan dibandingkan dari PD I menghabiskan waktu 6 tahun dan menewaskan lebih dari 70 juta jiwa.

Apa yang terjadi pada 1918 seolah kembali terjadi sekarang. Meski ada beberapa perbedaan tetapi penyebabnya sama. Ekonomi Eropa sedang dilanda krisis tahun ini.

Semua bermuara dari merebaknya pandemi Covid-19 pada 2020 yang membuat Eropa lockdown besar-besaran. Adanya kebijakan karantina skala besar membuat rantai pasok terganggu.

Harga mulai merangkak naik dan menimbulkan inflasi yang tinggi. Inflasi di Eropa tercatat mencapai 9,1% secara tahunan dan menjadi laju tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.

Inflasi setinggi itu disebabkan karena krisis energi dan juga kenaikan harga pangan. Selain karena belum pulihnya rantai pasok setelah Covid-19, krisis diperparah dengan adanya perang antara Rusia dan Ukraina yang membuat krisis energi terjadi.

Saking mahalnya harga gas di Eropa, negara yang terkenal menjunjung tinggi energi bersih tersebut harus kembali menggunakan bahan bakar kotor seperti batu bara.

Bahkan saking mirisnya kondisi yang terjadi di Eropa, beberapa negara sampai kembali mengumpulkan kayu untuk dijadikan sebagai bahan bakar mereka.

Itulah tadi tiga kejadian besar yang bisa disebut sebagai malapetaka yang membuat ekonomi Eropa luluh lantak, bahkan seolah menghadapi kiamat.

Bima Arya Ingatkan Warga Bogor Waspada Bencana di Musim Hidrometeorologi

Liputan6.com, Jakarta Wali Kota Bogor, Jawa Barat, Bima Arya Sugiarto mengingatkan agar masyarakat waspada potensi bencana hidrometeorologi, seperti pohon tumbang, longsor dan banjir lintasan di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu.

Bima Arya menyebutkan, menurut laporan sementara, terdapat sembilan titik bencana pohon tumbang di berbagai lokasi wilayah Kota Bogor saat hujan deras pukul 17.00 hingga pukul 19.00 WIB, Minggu 4 September 2022 kemarin.

“Saya minta seluruh warga siaga ini cuaca tidak menentu. Jadi ketika hujan deras betul-betul hati-hati,” ujar Bima usai meninjau lokasi pohon tumbang di Jalan Cidangiang, Kelurahan Tegallega, Kecamatan Bogor Tengah, Minggu malam, seperti dilansir Antara.

Dia memerintahkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama lurah, camat dan Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperumkim) berkoordinasi untuk melakukan tindakan darurat bagi warga terdampak bencana pohon tumbang hari ini.

Juga soal bangunan warga yang terdampak kerugian pohon tumbang maupun korban luka ringan agar segera dapat ditangani petugas gabungan BPBD, aparat setempat dan Disperumkim.

Telah ada dua lokasi pohon tumbang yang langsung Bima Arya tinjau yakni di area Istana Bogor dekat Balai Kirti di Jalan Ir H Djuanda, Kelurahan Paledang, Kecamatan Bogor Tengah dan di Jalan Cidangiang, Kelurahan Tegallega, Kecamatan Bogor Tengah.

selengkapnya

https://www.liputan6.com/news/read/5060819/bima-arya-ingatkan-warga-bogor-waspada-bencana-di-musim-hidrometeorologi

Kota Bogor Sempat Dilanda 31 Bencana Akibat Hujan Deras

REPUBLIKA.CO.ID,BOGOR — Badan PenanggulanganBencana Daerah (BPBD) Kota Bogor, Jawa Barat mencatat ada 31 bencana pohon tumbang, tanah longsor, bangunan roboh, dan angin kencang terjadi di wilayahnya saat hujan deras hingga ringan pada Ahad (4/9/2022) pukul 17.00 WIB hingga 19.00 WIB.

“Hingga saat ini, laporan yang kami data terdapat 31 bencana. Tadi bersama pak wali kota kami sudah tinjau beberapa lokasi pohon tumbang, petugas lain menyebar ke titik-titik lain,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kota Bogor Theofilo Patrocinio Freitas saat dikonfirmasi di Kota Bogor, Ahad.

Theofilo menyebutkan terdapat 15 kejadian pohon tumbang yang didominasi wilayah Kecamatan Bogor Barat, Kecamatan Bogor Tengah dan satu titik di Kemacatan Bogor Selatan. Lokasi pohon tumbang pun berada di depan Gedung Serbaguna sekitar Istana Bogor.

Theofilo bersama Wali Kota Bogor Bima Arya pun telah meninjau dua lokasi pohon tumbang yakni di area Istana Bogor dekat Balai Kirti di Jalan Ir H Djuanda, Kelurahan Paledang, Kecamatan Bogor Tengah dan di Jalan Cidangiang, Kelurahan Tegallega, Kecamatan Bogor Tengah.

Sementara, untuk kejadian tanah longsor terjadi di satu titik di Wilayah Lebak sari, Kelurahan Paledang, Kecamatan Bogor Tengah. Dua kejadian bangunan roboh berada di Kelurahan Pasir Jaya, Kecamatan Bogor Barat.

Kemudian sebanyak 12 kejadian angin kencang terjadi di tiga kecamatan. Enam kejadian berada di wilayah Kecamatan Bogor Selatan, empat kejadian di Bogor Tengah, dua kejadian di Kecamatan Bogor Barat. Akibat kejadian angin kencang, kata Theo, tower Diskominfo di dalam area Balai Kota Bogor roboh menimpa sebagian gedung Sekretaris Daerah (setda) dan atap masjid.

Sebelumnya, saat meninjau lokasi pohon tumbang di Jalan Cidangiang, Kelurahan Tegallega, Kecamatan Bogor Tengah bersama Theofilo, Wali Kota Bogor itu memerintahkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama lurah, camat dan Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperumkim) berkoordinasi untuk melakukan tindakakan darurat bagi warga terdampak bencana pohon tumbang hari ini.

Bagi bangunan warga yang terdampak kerugian pohon tumbang maupun korban luka ringan agar segera dapat ditangani petugas gabungan BPBD, aparat setempat dan Disperumkim.

BNPB: Periode Kering Sangat Singkat, Bencana Hidrometeorologi Basah Mendominasi

JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan memasuki akhir Agustus 2022, bencana hidrometeorologi basah kembali mendominasi. Setelah selama tiga minggu di awal hingga pertengahan bulan Agustus kejadian bencana hidrometeorologi kering yang mendominasi.

Hal ini dikatakan oleh Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB , Abdul Muhari, dikutip dari keterangan resminya, Rabu (31/8/2022).

“Perlu menjadi perhatian kita di sini, di minggu pertama, minggu kedua, dan minggu ketiga Agustus, itu kita memiliki frekuensi kejadian bencana hidrometeorologi kering yakni kekeringan dan kebakaran hutan, khususnya kebakaran hutan dan lahan ini, ini lebih banyak dari hidrometeorologi basah,” kata Abdul Muhari.

Aam sapaan akrabnya menjelaskan, bencana hidrometeorologi ini ada dua yakni hidrometeorologi basah adalah banjir, banjir bandang, tanah longsor, cuaca ekstrem, abrasi pantai. Kemudian hidrometeorologi kering itu dominan kekeringan dan karhutla.

“Yang paling sering di kita itu karhutla, tetapi kekeringan juga di awal Agustus di Lani Jaya juga terjadi dan cukup signifikan dampaknya,” ucapnya.

“Setelah 3 Minggu berturut-turut kita memiliki frekuensi kejadian hidrometeorologi kering lebih dominan dibanding hidrometeorologi basah, masuk di minggu-minggu terakhir Agustus ini, ini menjadi kembali hidrometeorologi basah yang dominan,” tambah kata Aam.

Artinya kata Aam, periode kering yang dialami di tahun ini sangat singkat. Biasanya, musim kemarau mulai Juni, Juli, Agustus, kemudian September, Oktober, November masuk peralihan dari kemarau ke hujan, dan pada Desember, Januari, Februari masuk puncak musim hujan.

“Tetapi saat ini di Juni, Juli, Agustus ini kita memiliki waktu kering di mana Karhutla itu dominan sangat-sangat singkat,” jelasnya.

“Di Minggu 22 hingga 28 Agustus ini kita udah balik lagi hidrometeorologi basah yang sangat dominan di mana kejadian banjir ini merata hampir di seluruh Indonesia, mulai dari Aceh, Kalimantan Sulawesi sampai Papua Sorong tadi yang menjadi perhatian kita,” ungkap Aam.

Oleh karena itu Aam mengimbau, agar hal ini menjadi alarm bagi masyarakat bahwa bencana hidrometeorologi kering selama awal bulan kembali lagi ke bencana hidrometeorologi basah di akhir bulan Agustus ini.

“Peringatan dini buat kita, bahwa kita sudah mulai bergeser lagi ke hidrometeorologi basah, meskipun potensi kebakaran hutan dan lahan masih ada. Tetapi dominannya sudah bergeser kembali ke hidrometeorologi basah dengan intensitas yang cukup besar,” imbaunya.

Pemanasan Global Sebabkan Es Mencair di Greenland hingga Permukaan Air Laut Naik

PR DEPOK – Peristiwa pemanasan global telah menyebabkan es mencair terutama di Greenland dan menyebabkan kenaikan permukaan air laut.

Krisis iklim yang panjang dapat mengakibatkan banjir yang disebabkan kenaikan permukaan air laut.

Meningkatnya permukaan air laut ini sangat berdampak tidak baik bagi miliaran orang yang menggantungkan hidupnya di daerah pesisir laut.

Dikutip PikiranRakyat-Depok.com dari theguardian-com, kenaikan permukaan laut besar yang disebabkan oleh pencairan lapisan es Greenland saat ini tak terelakkan lagi. 

Penelitian menunjukkan pemanasan global hingga saat ini akan menyebabkan kenaikan permukaan laut minimum sebesar 27 cm (10,6 inci), dari Greenland saja berpotensi 110 triliun ton es mencair.

Dengan emisi karbon yang terus berlanjut, pencairan lapisan es lainnya dan ekspansi termal lautan, kenaikan permukaan laut beberapa meter tampaknya bisa terjadi.

Baca Juga: Indonesia Dipastikan Tidak Menggelar Kompetisi Domestik Piala Indonesia, Iwan Bule Buka Suara

Krisis iklim dalam jangka panjang mengakibatkan naiknya permukaan laut yang menyebabkan terjadinya banjir akan berimbas kepada miliaran orang tinggal di wilayah pesisir .

Para ilmuwan mengatakan, Jika rekor pencairan tahun 2012 di Greenland menjadi kejadian rutin di akhir abad ini, kemungkinan lapisan es akan menghasilkan kenaikan permukaan laut sebesar 78 cm.

Berdasarkan pemahaman keseluruhan para ilmuwan tentang bagaimana lapisan seperti Greenland kehilangan es ke laut, para peneliti mengatakan sebagian besar kenaikan akan relatif segera terjadi.

Bahkan pada tahun 2021, ilmuwan lain memperingatkan bahwa sebagian besar lapisan es Greenland berada di ambang titik kritis .

Gletser pegunungan di Himalaya dan Alpen sudah pada posisi kehilangan sepertiga dan setengah dari es mereka masing-masing, sementara lapisan es Antartika barat juga dianggap oleh beberapa ilmuwan telah melewati titik kritis.

Pemanasan lautan juga meluas, ini menambah kenaikan permukaan laut.Baca Juga: Login sso.bpjsketenagakerjaan.go.id untuk Cek Nama Aktif BPJS Ketenagakerjaan, BSU 2022 Segera Cair

Runtuhnya lapisan es Antartika timur yang sangat besar , yang akan menyebabkan kenaikan permukaan laut setinggi 52 meter jika semuanya mencair, dapat dihindari jika tindakan iklim yang diambil secara cepat.

Saat permukaan laut naik, orang yang tinggal di pesisir akan semakin rentan, dan mengancam sekitar $1 triliun kekayaan global.

Para pemimpin politik harus dengan cepat meningkatkan pendanaan untuk adaptasi dan kerusakan iklim.***