TOR Sarasehan Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM

TERM OF REFERENCE (TOR)

Sarasehan Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM
(Kaleidoskop 2016 dan Outlook

Manajemen Bencana Kesehatan  di Indonesia Tahun 2017)

Rabu, 8 Februari 2017 | 08.30 – 12.00 WB
Ruang 301, Gedung IKM Lantai 3, FK UGM

Oleh Divisi Manajemen Bencana, Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) Fakultas Kedokteran UGM

 

LATAR BELAKANG

Keterlibatan Fakultas Kedokteran UGM pada kejadian Tsunami 2004, disusul bencana besar lainnya: Gempa Padang, Gempa Pangandaran, Gempa Jogja, Letusan Merapi menjadi ide awal terbentuknya Divisi Manajemen Bencana di bawah Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK FK UGM). Sejak 2008, Divisi Manajemen Bencana fokus dalam pengembangan kebijakan penanggulangan bencana di Indonesia khususnya untuk sektor kesehatan. Kami berkomitmen memberikan kontribusi dalam upaya penguatan kapasitas dan pengurangan risiko dalam menghadapi bencana seperti pengembangan berbagai macam pendampingan, pelatihan, dan seminar baik di tingkat lokal, puskesmas, rumah sakit, nasional, dan internasional selalu dilakukan.

Dalam hal ini kami juga sangat berterimakasih kepada para rekanan dan klien yang percaya bekerjasama dengan kami baik dalam hal penelitian, pendampingan, pelatihan, diskusi, simulasi, serta keikutsertaan dalam seminar baik secara langsung atau pun yang melalui webinar. Besar harapan kedepannya kita dapat terus terhubung dan saling menginformasikan hal-hal yang bersifat teori, praktis, dan terapan dalam kemajuan penanggulangan bencana dan krisis kesehatan di Indonesia.

Berdasarkan hal tersebut, masih sama dengan tahun sebelumnya, kali ini kami berinisiatif untuk mengundang rekanan dan klien baik dari pemerintah, swasta, dan LSM untuk bersama-sama membahas mengenai pembelajaran selama dua tahun kebelakang termasuk merencanakan kegiatan tahun 2017/2018 dalam agenda penanggulangan bencana dan krisis kesehatan baik ditingkat daerah maupun nasional. Acara ini akan dikemas dalam bentuk sarasehan.
Diinformasikan juga bahwa pada sesi siang (terpisah) sekaligus kami selenggarakan webinar mengenai laporan kegiatan Gempa Pidie Jaya dan Banjir Bandang Bima oleh tim UGM yang bertugas. Besar harapan kami bapak dan ibu dapat terus bergabung agar bersama-sama dapat membahas rencana aksi terintegrasi dari lintas sektor untuk Pidie Jaya dan Bima.

 

TUJUAN

  1. Mempererat hubungan antara Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM dengan rekanan dan klien.
  2. Mendiskusikan lesson learnt penanggulangan bencana sektor kesehatan di tahun 2015/2016
  3. Mendiskusikan arah kebijakan penanggulangan bencana sektor kesehatan pada tahun 2017/208

BENTUK  KEGIATAN

Kegiatan kaleidoskop dan outlook manajemen bencana kesehatan ini akan dilaksanakan dalam bentuk sarasehan (diskusi).

 

TEMPAT

Seminar ini mengharapkan kehadiran rekan-rekan dari:

  1. BNPB (webinar)
  2. Pusat Penanggulangan Krisis, Kementerian Kesehatan RI (webinar)
  3. WHO Indonesia (webinar)
  4. UNFPA Indonesia (webinar)
  5. Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI) (webinar)
  6. Rektorat UGM
  7. LPPM UGM
  8. DERU UGM
  9. Dekanat FK UGM
  10. Cared Program
  11. BPBD DIY
  12. BPBD SeIndonesia
  13. Dinas Kesehatan DIY
  14. Dinas –Dinas Kesehatan se Indonesia
  15. RS Sardjito dan RSA UGM
  16. Pokja Bencana FK UGM
  17. LSM (MDMC dan YEU)
  18. Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kesehatan Masyarakat di Indonesia
  19. Sekolah Tinggi Kesehatan di Indonesia
  20. Divisi-Divisi di PKMK (Divisi Public Health, Divisi Rumah Sakit, Divisi Mutu, Divisi Sistem Informasi Kesehatan)
  21. Bagian IKM FK UGM
  22. Rumah sakit Klien
  23. Rumah sakit pemerintah dan swasta di Yogyakarta
  24. Peserta kegiatan divisi tahun sebelumnya
  25. Humas dan Publikasi FK UGM
  26. Humas dan Publikasi UGM
  27. lainnya

Batasan Peserta

Demi kelancaran diskusi maka diskusi tatap muka dibatasi hanya 30 orang maksimal. Waktu pendaftaran peserta tatap muka hingga Jumat, 3 Februari 2017.

Sedangkan peserta webinar tidak terbatas, pendaftaran hingga Selasa, 7 Februari 2017 pukul 12.00 WIB (peserta yang belum pernah melakukan webinar diharapkan dapat berlatih terlebih dahulu pada Senin, 6 Februari 2017 pukul 13.00 WIB, pelatihan selama 1 jam oleh tim webinar PKMK FK UGM)

Susunan Acara

Waktu Kegiatan
08.00 – 08.30 Registrasi peserta tatap muka dan pengecekan peserta webinar
08.30 – 09.00

Pembukaan oleh MC

Sambutan oleh Kepala Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM

Sambutan dan Pembukaan oleh Direktur PKMK FK UGM

   
   
09.00 – 10.00

Perkenalan Tim Divisi dan Konsultan

Pengantar Refleksi 2015/2016 dan Outlook Manajemen Bencana 2017

Materi  Video

Kegiatan rutin dan Program Divisi Manajemen Bencana tahun 2017

Materi   Video

   
10.00 – 11.15

Tanggapan dan diskusi

Video

11.15 – 11.45

Pengenalan mengenai website, webinar dan COP

Materi Video

  Kesimpulan dan Penutup
  Reportase

 

Contact Person


Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM
Gedung IKM Lantai 2 Sayap Utara, Jalan Farmako Sekip Utara, Yogyakarta 55281 Indonesia
Phone/fax: +62 274 549425
Email: [email protected]

Dewi Catur Wulandari
Mobile: +62 818 263653
Email: [email protected]

LUNCH- SEMINAR DAN WEBINAR LAPORAN KEGIATAN GEMPA PIDIE JAYA DAN BANJIR BANDANG BIMA

TERM OF REFERENCE (TOR)

LUNCH- SEMINAR DAN WEBINAR 

LAPORAN KEGIATAN GEMPA PIDIE JAYA & BANJIR BANDANG BIMA

Rabu, 8 Februari 2017 | 13.00– 15.00 WB
Ruang KPTU Lt2 FK UGM

Oleh Divisi Manajemen Bencana, Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) Fakultas Kedokteran UGM

 

LATAR BELAKANG

Gempa Pidie Jaya, Aceh dan Banjir Bandang Bima, Nusa Tenggara Barat menjadi berita penutup kita tahun 2016 silam. FK UGM bekerjasama dengan banyak pihak (Pemda DIY, Kagama, RSS, RSA, Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM, Pokja Bencana FK UGM) melakukan upaya perbantuan mulai pada masa respon hingga transisi. Baik di Pidie jaya dan Bima, tim yang diberangkatkan selalu terintegrasi baik untuk pelayanan kesehatan, assessment, pendampingan sistem kesehatan, maupun upaya advokasi dengan pemerintah daerah untuk upaya jangka panjangnya. Hingga saat ini upaya pendampingan terus dilakukan.

Banyak masalah, pembelajaran, hingga rencana program yang akan dikembangkan baik untuk Pidie Jaya maupun Bima, baik untuk sektor kesehatan maupun sektor/klaster lainnya seperti pendidkan, lingkungan, shelter, psikologis dan lainnya. Saat ini, penting bagi kita semua untuk berdiskusi rencana aksi. Harapannya pertemuan ini dapat memberikan informasi keadaan di sana sehingga program apapun yang akan dikembangkan nantinya dapat sesuai konteks dan tepat sasaran.

 

TUJUAN

  1. Mengetahui hasil kegiatan Tim Klaster Kesehatan Gempa Pidie Jaya
  2. Mengetahui hasil kegiatan Tim Klaster Kesehatan Banjir Bima
  3. Mendiskusikan rencana tidak lanjut untuk kegiatan Tim Klaster Kesehatan di Gempa Pidie Jaya dan Banjir Bima

BENTUK  KEGIATAN

Kegiatan ini akan dilaksanakan dalam bentuk lunch-seminar.

 

PESERTA

Seminar ini mengharapkan kehadiran rekan-rekan dari:

  1. BKementerian Kesehatan (webinar)
  2. BPBD DIY
  3. Dinas Kesehatan Provinsi Yogyakarta
  4. Rektorat UGM
  5. KAGAMA UGM
  6. KAGAMA FK UGM
  7. POKJA Bencana FK UGM
  8. DERU UGM
  9. Tim Klaster Kesehatan Gempa Pidie Jaya
  10. Tim Klaster Kesehatan Banjir Bima
  11. Direktur RSUP Dr. Sardjito
  12. Direktur RS Akademik UGM
  13. LPPM UGM
  14. Fakultas Teknik Sipil
  15. Fakultas Psikologi
  16. CPMH Psikologi
  17. Fakultas Kedokteran Gigi
  18. EMT Indonesia
  19. Prodi Kedokteran Umum, Gizi, dan Keperawatan
  20. Humas FK UGM dan Humas UGM
  21. Manajemen dan Tim Penanggulanan Bencana di Rumah Sakit se Jawa dan Bali
  22. Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten Kota di Indonesia
  23. Mahasiswa Fakultas Kedokteran, Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat, dan Fakultas Farmasi
  24. Mahasiswa S2 dan S3 yang tertarik dengan isu manajemen bencana kesehatan
  25. Peneliti bidang manajemen bencana
  26. LSM yang bergerak di bidang bencana dan emergensi
  27. Pemerhati Bencana, dan
  28. Perseorangan.

Jadwal Kegiatan

Tempat    : Ruang Senat, Gedung KPTU Lantai 2 FK UGM
Tanggal    : Rabu, 8 Februari 2017
Pukul       : 12.00 -15.00 WIB

Waktu
Kegiatan Keterangan
12.00 – 13.00 Persiapan Webinar dan makan siang Panitia
13.00 – 13.20 Pembukaan FK UGM

13.20 – 13.50

13.50 – 14.20

14.20 – 14. 50

Laporan kegiatan Tim Klaster Kesehatan Gempa Pidie Jaya, Aceh

Laporan Kegiatan Tim Klaster KesehatanBanjir Bandang Bima, NTB

Diskusi

MC: Madelina Ariani, SKM.,MPh.

dr. Hendro Wartatmo, Sp.BD

Sutono, S.Kp.,M.Sc

14.50 – 15.00 Penutupan FK UGM

 

Contact Person


Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM
Gedung IKM Lantai 2 Sayap Utara, Jalan Farmako Sekip Utara, Yogyakarta 55281 Indonesia
Phone/fax: +62 274 549425
Email: [email protected]

Dewi Catur Wulandari
Mobile: +62 818 263653
Email: [email protected]

TOR Hosdip NTT

TERM OF REFERENCE (TOR)

WORKSHOP HOSPITAL DISASTER PLAN           

Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Ende

 

Rumah Sakit Daerah Kabupaten Ende

Selasa, Kamis, Jumat, 13, 15-16 Oktober 2015

 

 

LATAR BELAKANG

Lebih dari 80 %wilayah Indonesia berada pada status rawan bencana. Selain itu, ancaman kecelakaan transportasi, konfilik sosial, dan wabah penyakit juga menjadi ancaman serius diseluruh wilayah Indonesia. Kejadian-kejadian ini dapat menjadi ancaman internal dan eksternal bagi sebuah rumah sakit sehingga apabila rumah sakit tidak siap menghadapinya akan terjadilah kekacauan. Sayangnya hampir seluruh rumah sakit di Indonesia belum sepenuhnya dapat menangani korban bencana dengan cepat dan tepat. Hal ini terjadi karena fungsi, struktur, medical support, dan manajemen support yang kolaps.

Rumah sakitdalam hal ini memegang peranan utama dalam kesiapan penanggulangan bencana. Dua hal pokok yang harus dapat dilakukan oleh rumahsakit agar siap menghadapi bencana adalah dukungan kemampuan tehnis medis (Medical Support) dan dukungan kemampuan manejerial (Management Support).

Begitu penting rencana penanggulangan bencana bagi rumah sakit ini didukung oleh adanya Undang-undang RI No.44 Tahun 2009 tentang rumah sakit, khususnya pada pasal 29 yang salah satu poinnya berbunyi bahwa “Rumah sakit mempunyai Kewajiban memiliki sistem pencegahan kecelakaan dan penanggulangan bencana”. Selain itu, dalam Pembahasan Akreditasi Rumah sakit tahun 2012 pada elemen penilaian akreditasi pada Standar Manajemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK) mengenai Kesiapan menghadapi bencana pada Standar MFK 6 yang berbunyi “Rumah Sakit membuat rencana manajemen kedaruratan dan program penanganan kedaruratan komunitas, wabah dan bencana baik bencana alam atau bencana lainnya”. Salah satu elemen penilaian MFK 6 adalah rumahsakit telah mengidentifikasi bencana internal dan eksternal yang besar, seperti keadaaan darurat di masyarakat, wabah, dan bencana alam atau bencana lainnya serta kajadian wabah yang bisa menyebabkan terjadinya risiko yang signifikan.

Penanggulangan bencana dalam hal ini dituangkan dalam hospital disaster plan(HDP). Hospital Disaster Plan atau Rencana Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit merupakan salah satu bentuk kesiapan rumah sakit yang disusun dalam bentuk suatu dokumen yang berisikan rencana tindakan yang akan dilakukan, siapa yang akan melakukan, apa yang diperlukan, dan dengan cara bagaimana semuanya tersebut dilakukan dalam menghadapi bencana yang terjadi baik itu bencana internal di rumah sakit maupun bencana eksternal.

Program pelatihan langsung di rumah sakit (In House Training) bagi tim penyusun Hospital Disaster Plan (HDP), sengaja dibuat agar tim penyusun bisa langsung membuat dengan melihat keadaan rumah sakit mereka sendiri karena masing-masing rumah sakit berbeda HDP-nya. Ini semua dilakukan agar para fasilitator dapat membantu rumah sakit dalam membuat HDP yang Operasional dengan langsung melakukan pelatihan di Rumah Sakit yang akan membuat HDP.

Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan (PMPK) FK UGM dalam hal ini akanmelakukan pendampingan kepada Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Ende untuk mengadakan In House Training guna membuat penyusunan rencana penanganan bencana di rumah sakit (HDP) berdasarkan modul yang disusun oleh PKMK FK UGM. Melalui kegiatan ini diharapkan Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Endedapat memiliki dokumen HDP yang operasional

TUJUAN

Adapun tujuan dari kegiatan In House Training ini dilakukan adalah :

  1. Peserta memahami bahwaRencana Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit (HDP)berbeda di tiap Rumah Sakit
  2. Peserta di RS mampu membuat Plan of Action atau POA sampai operasional.
  3. Peserta di RS mampu memahami pembuatan HDP berdasarkan template yang ada.
  4. Setelah in-hpeserta mampu mempraktekkan HDP.

PROSES KEGIATAN

Kegiatan ini akan dilaksanakan selama 3 hari yaitu

  1. Hari pertama : pembukaan, materi, dan penugasan kelompok
  2. Hari kedua : presentasi, peninjauan situasi RS, penugasan kelompok
  3. Hari Ketiga: finalisasi draft HDP

TEMPAT

Tempat pelaksanaan In House Trainingadalah di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)Kabupaten Ende

PESERTA (TIM PENYUSUN HDP):

  1. Terdiri dari 20-25
  2. Terbagi dalam 4 kelompok yaitu :

1) Unsur Pimpinan :

Terdiri atas: Direktur, Direktur Pelayanan, Direktur Penunjang, Komite Medik

2) Operasional :

Terdiri atas: Kepala IGD, Dokter Umum IGD, Perawat IGD, Bidan, SMF Bedah, SMF Anestesi, Keperawatan, K3, IBS

3) Logistik :

Terdiri atas: IPSRS, IFRS, Rumah Tangga, Gizi

4) Perencanaan (Planning) dan Keuangan (Finance):

Perencanaan terdiri atas: pelayanan medik, diklat; dan Keuangan terdiri atas: administrasi dan keuangan, Medical Record

5) Security dan tim

 

TENAGA KONSULTAN

  1. Dr. Sulanto Saleh Danu, Sp.FK
  2. Dr. Bella Donna, M.Kes
  3. Dr. Handoyo Pramusinto, SpBS
  4. Syahirul Alim, SKp, Ns, MSc, PhD
  5. Madelina Ariani, SKM, MPH
  6. Oktomi Wijaya, SKM, MSc

AGENDA KEGIATAN

Hari 1, Selasa 13 Oktober 2015

Waktu

Kegiatan

Keterangan

08.00 – 09.00

Registrasi Peserta

Panitia

09.00 – 09.15

Pembukaan

Tim RS dan PKMK FK UGM

09.15 – 09.30

Coffee Break

Panitia

09.30 – 09.50

09.50 – 10.10

10.10 – 10.30

10.30 – 10.50

10.50 – 11.20

11.20 – 11.50

  1. Kerangka Konsep Bencana dan Manajemen Bencana
  1. Analisis Risiko Bencana di Rumah Sakit
  1. Overview dan pengorganisasin HDP
  2. Komponen HDP
  1. Perencanaan jalur evakuasi dalam situasi darurat dan bencana

Diskusi

  1. Syahirul Alim, PhD

11.50 – 12.30

FGD Penyusunan SOP

Seluruh Peserta dan Narasumber

Moderator:
Madelina Ariani, SKM, MPH

Notulen:
Oktomi Wijaya, SKM, MSc

12.30 – 13.30

ISHOMA

Panitia

13.30 – 15.00

Penyusunan SOP

  1. Koordinasi Tim
  2. Operasional
  3. Logistik
  4. Perencanaan dan Pembiayaan

 

  1. Oktomi Wijaya, SKM, MSc
  2. Madelina Ariani, SKM, MPH

15.00 – 15.15

Coffee Break

Panitia

15.15 – 15.30

Persiapan Hari ke-II

Narasumber

Hari 2, Kamis, 15 Oktober 2015

Waktu

Kegiatan

Keterangan

09.00 – 09.30

Penetapan Fasilitas

dr. Bella Donna, M.Kes

09.30 – 10.00

diskusi

Narasumber dan peserta

10.00 – 10.15

Coffee Break

Panitia

10.15 – 11.30

Peninjauan Situasi Rumah Sakit dan Penempelan Label Ruangan

Seluruh peserta dan Narasumber

11.30 – 13.00

ISHOMA

Panitia

13.00 – 14.30

Penugasan

Narasumber dan peserta

14.30 – 15.00

Persiapan hari ke III

Narasumber

 

reportase

 

Hari 3, Jumat, 16 Oktober 2015

Waktu

Kegiatan

Keterangan

08.00 – 09.30

Presentasi grup dan diskusi

Peserta

09.30 – 09.45

Coffee Break

Panitia

09.45 – 11.30

Melanjutkan penugasan kelompok

Peserta

11.30 – 13.00

ISHOMA

Panitia

13.00 – 14.00

Melanjutkan penugasan

Narasumber

14.00 – 15.00

Finalisasi dokumen dan penyusunan PoA

Narasumber

15.00 – 15.15

Coffee Break

Panitia

15.15 – 15.30

Closing

Tim RS dan PKMK FK UGM

 

 

WORKSHOP KLASTER KESEHATAN DAN TRANSPORTASI DALAM PENANGGULANGAN BENCANA GEMPA BUMI DI KABUPATEN ENDE

Kerangka Acuan Kegiatan

WORKSHOP KLASTER KESEHATAN DAN TRANSPORTASI DALAM PENANGGULANGAN BENCANA GEMPA BUMI DI KABUPATEN ENDE

Diselenggarakan oleh
CaRED Program bekerjasama dengan Divisi Manajemen Bencana Kesehatan
Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Hotel Grand Wisata di Ende
Senin 12 Oktober 2015

PENGANTAR

Kabupaten Ende menjadi salah satu tempat penelitian sekaligus pendampingan untuk upaya kesiapsiagaan daerah dalam menghadapi bencana yang dipilih oleh CaRED program, tentunya dengan mempertimbangkan jenis bencana dan tingkat kerawanan dan risiko bencana yang tinggi di kawasan timur Indonesia. Tahun ini merupakan tahun kedua pelaksanaan kegiatan tersebut, hasil penelitian untuk kesiapsiagaan penanggulangan bencana sektor kesehatan di Kabupaten Ende masih terbilang rendah. Pada dasarnya dinas kesehatan dan rumah sakit di Kabupaten Ende telah memiliki dokumen perencanaan menghadapi bencana tetapi secara komponen di dalamnya masih belum pernah diuji keoperasionalannya. Berdasarkan hal tersebutlah pada tahun kedua ini dilaksanakan workshop secara khusus untuk sektor kesehatan dalam penanggulangan bencana dan krisis kesehatan di Kabupaten Ende.

Sejak tahun 2014, penanggulangan bencana di Indonesia telah menggunakan basis klaster. Salah satu klaster penanggulangan bencana yang dikembangkan adalah klaster kesehatan. Pendekatakan berbasis klaster adalah upaya penanggulangan bencana yang dilakukan oleh banyak pihak yang memiliki fungsi sama. Dalam klaster kesehatan, siapa saja yang melaksanakan fungsi layanan kesehatan dalam penanggulangan bencana akan berkumpul dalam klaster kesehatan ini. Di pusat atau secara nasional yang menjadi koordinator klaster kesehatan adalah Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan (PPKK) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sedangkan di daerah baik itu provinsi, kabupaten, dan kota maka Dinas Kesehatanlah yang menjadi koordinator klaster kesehatan dibawah komando Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Dalam Peraturan Menteri Kesehatan no. 64 tahun 2013 tentang Penanggulangan Krisis Kesehatan, telah diatur tugas Dinas Kesehatan dalam penanganan bencana dan krisis kesehatan di daerah yang dibagi menjadi tiga fase (pra bencana, saat bencana, dan pasca bencana). Salah satu tugas Dinas Kesehatan pada pra bencana adalah penyusunan rencana kontijensi dan operasi penanganan krisis kesehatan di daerahnya serta melaksanakan sosialisasi penyusunan rencana penanganan bencana bagi rumah sakit-rumah sakit yang ada di wilayah kerjanya.

Begitu penting rencana penanggulangan bencana bagi rumah sakit ini didukung oleh adanya Undang-undang RI No.44 Tahun 2009 tentang rumah sakit, khususnya pada pasal 29 yang salah satu poinnya berbunyi bahwa “Rumah sakit mempunyai Kewajiban memiliki sistem pencegahan kecelakaan dan penanggulangan bencana”. Selain itu, dalam Pembahasan Akreditasi Rumah sakit tahun 2012 pada elemen penilaian akreditasi pada Standar Manajemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK) mengenai Kesiapan menghadapi bencana pada Standar MFK 6 yang berbunyi “Rumah Sakit membuat rencana manajemen kedaruratan dan program penanganan kedaruratan komunitas, wabah dan bencana baik bencana alam atau bencana lainnya”. Salah satu elemen penilaian MFK 6 adalah rumah sakit telah mengidentifikasi bencana internal dan eksternal yang besar, seperti keadaaan darurat di masyarakat, wabah, dan bencana alam atau bencana lainnya serta kajadian wabah yang bisa menyebabkan terjadinya risiko yang signifikan.

Saat ini dengan adanya penilaian akreditasi bagi puskesmas maka rencana penanganan bencana dan krisis kesehatan juga menjadi isu salah satu poin penilaian. Terlepas dari masalah akreditasi, puskesmas sudah seharusnya menyiapkan rencana, sumber daya, komunikasi, dan fasilitas dalam menghadapi kemungkinan bencana dan krisis kesehatan yang ada di wilayah kerja dan sekitarnya sebab puskesmas akan menjadi pusat layanan pertolongan dan kesehatan utama bagi korban sebelum bantuan datang dari luar. Hal ini menjadi hal yang serius, terutama bagi puskesmas yang jauh akses dari kabupaten/kota, dimana puskesmas harus mampu bertahan untuk melakukan layanan kesehatan bagi korban sebelum bantuan dari luar sampai.

Berdasarkan hal-hal diatas maka disadarilah pentingnya upaya penanggulangan bencana dan krisis kesehatan di daerah. Hal ini tidak bisa serta merta dibuat mandiri oleh Dinas Kesehatan. Untuk itu diperlukan pembuatan rencana penanggulangan bencana dan krisis kesehatan oleh semua pihak baik dalam dan luar bidang kesehatan.

TUJUAN

Tujuan umum kegiatan ini adalah tersusunya rencana penanggulangan bencana dan krisis kesehatan untuk Kabupaten Ende.

Tujuan khususnya adalah:

  1. Mempertemukan Dinas Kesehatan, Rumah Sakit, Puskesmas, LSM, dan BPBD untuk bersama menyusun rencana penanggulangan bencana dan krisis kesehatan untuk Kabupaten Ende
  2. Peserta memahami pendekatan klaster kesehatan untuk penyusunan rencana penanggulangan bencana dan krisis kesehatan untuk Kabupaten Ende
  3. Terbentuknya Plan of Action (PoA) untuk penanggulangan bencana dan krisis kesehatan di Kabupaten Ende

 

PESERTA

Peserta kegiatan ini terdiri dari:

  • Kepala BPBD Kabupaten Ende
  • Bidang Kesiapsiagaan dan Kegawatdaruratan BPBD Kabupaten Ende
  • Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ende
  • Bidang Wabah dan Bencana Dinas Kesehatan Kabupaten Ende
  • Direktur RSUD Kabupaten Ende
  • Kepala IGD dan tim penanggulangan bencana RSUD Kabupaten Ende
  • Kepala Puskesmas yang di Kota Ende (bilamana bersedia)
  • Staff dari masing-masing Puskesmas di Kabupaten Ende (bilamana bersedia)
  • Bappeda Kabupaten Ende (2 Peserta)
  • PMI (2 peserta)
  • Dinas Perhubungan (2 Peserta)
  • Dinas Pendidikan Dasar (Guru) (3 Peserta)
  • Dinas Pariwisata (2 Peserta)
  • Pemilik Hotel (3 Peserta)

 

JADWAL KEGIATAN

Senin 12 Oktober 2015

Kegiatan

pukul

keterangan

Pembukaan rangkaian acara Community Development kerjasama UGM – BPBD – Dinas PU – Dinas Kesehatan – RSUD

08.45 – 09.00

Laporan panitia (Tim UGM)

09.00 – 09.15

Sambutan dari Perwakilan CaRED UGM

09.15 – 09.30

Sambutan dan pembukaan acara oleh perwakilan Bupati Kab. Ende

reportase

Coffee Break

09.30 – 09.45

 

Pembicara 1:

Situasi kesiapsiagaan Kabupaten Ende menghadapi bencana dan krisis kesehatan saat ini

09.45 – 10.15

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ende

Pembicara 2:

Tantangan pelaksanaan koordinasi layanan kesehatan terkait bencana di Kabupaten Ende

10.15 – 10.45

BPBD Kabupaten Ende

Pembicara 3 :

Perencanaan evakuasi saat terjadi bencana gempa

10.45 – 11.15

FT UGM (Ir. Djoko Murwono, M.Sc.)

Pembicara 4:

Kebijakan penanggulangan bencana dan krisis kesehatan di Indonesia termasuk pendekatan klaster

11.15 – 11.45

FK UGM (dr. Bella Donna, M.Kes)

Diskusi

11.45 – 12.15

Moderator:

Adam Pamudji Rahardjo, PhD

 

reportase

ISHOMA

12. 15 – 13.15

Panitia

Pembicara 5:

Perhitungan risiko kesehatan dan bencana di daerah termasuk kontijensi plan sektor kesehatan.

13. 15 – 13.45

FK UGM (Syahirul Alim, SKp, Ns, M.Sc, PhD)

Pembicara 6:

Dokumen perencanaan penanggulangan bencana dan krisis kesehatan di daerah (regional disaster plan in health sector)

13.45 – 14.15

FK UGM (dr. Sulanto Saleh Danu, Sp.FK)

Diskusi

14.15 – 14.45

Moderator: dr. Bella Donna, M.Kes

 

reportase

Coffe Break

   

Pembuatan PoA

14.45 – 15.30

Fasilitator

  1. Madelina Ariani, SKM, MPH
  2. Oktomi Wijaya, SKM, MSc

Presentasi

15.30 – 15.45

Fasilitator dan Narasumber

Penutupan

15.45 – 16.00

Adam Pamudji Rahardjo, PhD

 

reportase

 

PEMATERI DAN FASILITATOR

  • Pemateri dan tim dalam kegiatan ini adalah:
  • Ir. Djoko Murwono, M.Sc.
  • dr. Bella Donna, M.Kes
  • dr. Sulanto Saleh Danu, Sp.FK
  • Syahirul Alim, SKp, Ns, MSc, PhD
  • Madelina Ariani, SKM, MPH
  • Oktomi Wijaya, SKM, MSc

  PENUTUP

Demikian kerangka acuan kegiatan untuk workshop klaster kesehatan dalam penanggulangan bencana dan krisis kesehatan untuk Kabupaten Ende kami buat. Harapannya, workshop ini bermanfaat bagi penyelenggara dan peserta sehingga tujuan umum dan khusus dapat tercapai sesuai dengan harapan.

Hujan Guyur Jambi, Jarak Pandang di Riau dan Padang Kembali Normal

Jakarta – Hujan mengguyur beberapa kabupaten di Provinsi Jambi. Hal tersebut membuat kondisi udara dan jarak pandang di wilayah Sumatera akibat asap kembali normal.

Menurut Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan hujan cukup deras melanda Kota Jambi, Kabupaten Batanghari, Kabupaten Muaro Jambi dan Kabupaten Siak.

“Itu membuat jarak pandang di Pekanbaru naik menjadi 1 km, Padang 1 km, Jambi 1 km, Palangkaraya 2 km, Pontianak 3 km dan Banjarmasin 6 km,” ujar Sutopo saat dikonfirmasi, Rabu (7/10/2015).

Sutopo mengatakan, selain jarak pandang yang membaik. Kondisi kualitas udara di wilayah Sumatera juga sudah kembali normal.

“Kondisi kualitas udara di Palembang, Jambi, Pekanbaru, Palangkaraya itu mengalami penurunan menjadi normal,” tutup Sutopo.
(spt/kha)

Pemantapan Konsep Hospital Disaster Plan

hdp-konsep-edit

hdp-konsep-edit

Dalam pertemuan Pokja Bencana Oktober 2015 ini dibahas tentang pemantapan konsep hospital disaster plan (HDP) yang disampaikan oleh dr. Hendro Wartatmo, SpB, KBD. Dalam diskusi ini, Hendro menyampaikan pentingnya pemantapan konsep hospital disaster plan karena masih ada kerancuan tentang konsep hospital disaster plan itu sendiri. Ada yang beranggapan bahwa HDP adalah Hospital Incident Command System (HICS), dan ada juga yang beranggapan bahwa HDP adalah Hospital Preparedness of Emergency and Disaster (HOPE). Apakah HDP sama dengan HOPE dan HICS?. dr Hendro menegaskan bahwa HDP adalah serangkaian prosedur (SOP) yang disiapkan sebelum terjadi bencana, untuk dilakukan apabila bencana terjadi, HOPE adalah ilmu untuk menyusun SOP, sedangkan HICS adalah sistem komando yang merupakan bagian dari HDP.
 
Agar respon bencana dapat maksimal, apa yang harus dilakukan? Jawabannya adalah menyusun SOP all hazard dan SOP specific Hazard. SOP mencakup: ragam kegiatan, siapa yang melaksanakan, logistik serta sistem komando. Dalam pelaksanaan HDP selama ini ada kerancuan tentang siapa yang seharusnya menyusun SOP Penanggulangan Bencana. Dalam pelaksanaannya selama ini, SOP dibuat oleh tim penanggulangan bencana, padahal SOP ini seharusnya disusun oleh emergency program manager dan timnya.

Kerancuan berikutnya adalah apakah perlu dibuat organisasi baru? dr. Hendro menekankan bahwa di dalam HDP tidak ada organisasi baru yang dibentuk. Dalam kondisi tanggap darurat  yang dijalankan adalah Incident Command System (ICS). Perbedaan mendasar yang bisa disimak antara sebuah organisasi dan ICS antara lain:

Organisasi

ICS

Hospital by Law

Ad Hoc

Day to day

Saat Terjadi Bencana

Birokratis

Sistem Komando

Ada SK

Tidak Ada SK

Semua Pegawai

Pegawai dan Relawan

Lalu pertanyaan selanjutnya adalah, apakah organisasi rumah sakit dapat dipakai pada saat bencana? Jawabannya adalah tidak dapat, mengapa? Faktanya, karena berhubungan dengan kapasitas. Apakah organisasi RS dapat menangani korban bencana yang melebihi kapasitas rumah sakit? Apakah organisasi RS dapat bekerja 24 jam?.

Di akhir pemaparannya dr Hendro menyampaikan bagaimana langkah menyusun HDP yang meliputi: menentukan emergency program manager dan tim, melakukan analisis risiko bencana, memetakan SDM dan menyusun SOP (Oktomi Wijaya).

Workshop Finalisasi Draft Pergub Penanggulangan Masalah Kesehatan Reproduksi dalam Situasi Bencana

 

Pada 21 September lalu telah diselenggarakan workshop finalisasi  draft Pergub tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Masalah Kesehatan Reproduksi dalam Situasi Bencana di DIY. Selama hampir tiga bulan draft Pergub beserta lampiran SOP-nya dirumuskan oleh tim ahli (Divisi Manajemen Bencana Kesehatan, Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan, Fakultas Kedokteran UGM dan AKSARA Yogyarakat) dan instansi terkait (Dinas Kesehatan, BPPM DIY, Dinas Sosial, BPBD, BKKBN, IBI dan lainya) untuk penyempurnaan naskah draft dan SOP Pergub ini.

Latar belakang lahirnya draft Pergub ini adalah untuk menanggapi kekhawatiran kurang tertanganinya masalah-masalah kesehatan reproduksi pada situasi bencana karena masih banyak masyarakat yang menganggap hal ini merupakan masalah pribadi masing-masing. Selain itu, muncul kekhawatiran kasus-kasus kekerasan seksual yang semakin meningkat pada situasi bencana. Sebenarnya pada akhir tahun 2014 lalu, kesehatan reproduksi telah masuk sebagai salah satu sub dalam Klaster Kesehatan dalam penanggulangan bencana. Sebagaimana diketahui bahwa penanggulangan bencana di Indonesia sejak 2014  awal telah ditetapkan menggunakan basis atau pendekatan klaster. Sederhananya pendekatan klaster adalah penyatuan dan berkolaborasinya berbagai instansi dan organisasi yang memiliki fungsi yang sama, salah satunya ada Klaster Kesehatan.

Melalui draft Pergub ini, dapat dikatakan Yogyakarta merupakan daerah pertama yang menginisiasi model pendekatan klaster untuk penyelenggaraan penanggulangan masalah kesehatan reproduksi dalam situasi bencana di daerah. Semoga draft ini cepat menjadi Pergub sehingga dapat menjadi model monitoring dan evalusi pelaksanaan sub klaster di daerah bagi pusat dan derah lainnya di Indonesia.

Guyuran Hujan di Palangkaraya Tak Mampu Usir Kabut Asap

Palangkaraya – Kabut asap yang menyelimuti Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah siang tadi tetap saja pekat. Jarak pandang masih berkisar 200 meter, padahal sudah diguyur hujan intensitas sedang sekitar 1 jam lamanya.

Seperti ditayangkan Liputan 6 Malam SCTV, Selasa (6/10/2015), pihak Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) setempat juga mencatat kualitas udara berada para level PM 10 yang merupakan level berbahaya dengan jumlah partikulat 773,55 mikron gram per meter kubik.

Kondisi ini jauh dari nilai ambang batas sehat yakni 150 mikron gram per meter kubik. Padahal dengan diguyur hujan warga mulai senang dan bahkan berharap kualitas udara cepat membaik.

Kabut asap yang masih pekat di Kota Pekanbaru, Riau mengakibatkan Bandara Sultan Syarif Kasim sempat lumpuh dengan jarak pandang yang hanya sekitar 100 meter.

Tak ada pesawat yang berani mendarat. Dari 70 jadwal penerbangan, baik kedatangan maupun pemberangkatan, sebanyak 49 diantaranya telah dibatalkan pihak maskapai sejak pagi.

Karena kabut asap juga mengakibatkan ribuan jemaah haji yang dijadwalkan tiba tertahan di Bandara Hang Nadim, Batam dan sebagian dialihkan ke Bandara Internasional Minangkabau, Sumatera Barat.

Gara-gara kabut asap, aktivitas pelayaran di perairan Sungai Musi, Kota Palembang, Sumatera Selatan ikut lumpuh. Sebagian besar kapal jukung tujuan Sunsang, Banyuasin tidak beroperasi karena jarak pandang di perairan tak sampai 50 meter.

Beberapa kapal yang beroperasi dapat menempuh perjalanan tertapi hingga 4 jam lebih lama dari jadwal normal. Jika kabut asap kian pekat, tidak jarang nahkoda memilih bersandar ke dermaga kecil yang ada di perairan Sungai Musi. (Vra/Ron)

sumber: Liputan6.com

HHS launches TRACIE system to improve disaster preparation

The U.S. Department of Health and Human Services announced the launch of the Technical Resources, Assistance Center and Information Exchange (TRACIE) system for first responders and other key emergency and disaster response personnel.

This system was developed with national experts to address the preparedness needs for public health emergencies and disaster situations. The system includes a library of pertinent subject matter and resources that highlight experiences and tools.

The system also offers a forum where users can share their experiences and acts as a platform for collaboration and discussion on pending and current health threats. The system’s assistance center allows officials in state, local and tribal governments to connect with experts on various topics within the area of emergency and disaster response.

“Experience has shown that every disaster, large or small, has the potential to impact heath,” Nicole Lurie, HHS assistant secretary for preparedness and response, said. “TRACIE can help health and emergency management officials across the country learn about, share and apply best practices and experiences before, during and after disasters to protect health and potentially save lives.”

This project was a collaboration of national, state and local government agencies to foster national health and response systems.

Enam Bulan, Kabut Asap Masih Kepung Sumatra-Kalimantan

Enam Bulan, Kabut Asap Masih Kepung Sumatra-Kalimantan

Jakarta – Bencana kabut asap di enam provinsi di Pulau Sumatra dan Kalimantan belum juga hilang meski telah enam bulan melanda. Kondisi di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, bahkan makin membahayakan warga.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana, jarak pandang di Palangkaraya kini hanya 100 meter. Angka ini jauh di bawah jarak pandang di daerah lain di Kaliamantan seperti Pontianak 1.000 meter, Sintang 400 meter, dan Ketapang 800 meter.

Untuk jarak pandang beberapa daerah di Sumatra masih di batas 500 meter, seperti Pekanbaru 500 meter, Jambi 500 meter, dan Palembang 700 meter.

Kualitas udara Palangkaraya pun paling buruk dibanding daerah-daerah lain. Kualitas angin di ibu kota Kalimantan Tengah tersebut, kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, masuk kategori sangat tidak sehat.

“Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) Pontianak ada di angka 275 ugr/m3 dan masuk kategori sangat tidak sehat,” kata Sutopo dalam keterangan tertulisnya kepada media.

Sementara untuk ISPU di daerah lain, baik Kalimantan ataupun Sumatra, tak ada yang seburuk Palangkaraya, yakni di angka 983 atau level sangat berbahaya. ISPU di Pekanbaru 380 (level berbahaya), Jambi 504 (berbahaya), Palembang 391 (berbahaya), dan Medan 166 (tidak sehat).

Pantauan Satelit Terra Aqua dari NASA mencatat ada 1.820 titik di Sumatra dan Kalimantan, dengan rincian di Sumatra 1.563 titik –Sumatra Selatan 1.340, Riau 9, Jambi 131, Bangka Belitung 22, Lampung 57, Kepulauan Riau satu; dan di Kalimantan 257 titik –Kalimantan Barat 51, Kalimantan Tengah 108, Kalimantan Selatan 71, dan Kalimantan Timur 27).

BNPB mengerahkan sekitar tujuh helikopter dan pesawat water bombing, serta satu pesawat CASA untuk menurunkan hujan buatan di Sumatra Selatan. Selain itu, sebanyak 1.594 personel TNI-Polri dikirim dari Jakarta untuk memperkuat satuan tugas darat di Sumtera Selatan, sehingga total ada 3.694 personel gabungan yang bertugas memadamkan api di darat.

“Lebih dari satu bulan hotspot di Sumatra Selatan belum juga dapat dipadamkan,” ujar Sutopo.

Titip api di Sumatra Selatan terkonsentrasi di perkebunan dan hutan tanaman industri di Kabupaten Ogan Komering Ilir.

sumber: CNN Indonesia