Skip to content

Peringatan BMKG: Siaga dan Waspada, 18 Provinsi Hadapi Potensi Bencana Hidrometeorologi Esok Hingga Lusa

SEPUTARTANGSEL.COM – Sebanyak 18 provinsi di Indonesia harus siaga dan waspada menghadapi potensi bencana alam pada Senin, 15 Agustus 2022 hingga Selasa, 16 Agustus 2022.

Potensi bencana yang mungkin terjadi pada rentang waktu tersebut adalah bencana hidrometeorologi berupa banjir, banjir bandang dan turunannya seperti longsor, sebagai dampak dari potensi hujan lebat.

Peringatan disampaikan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui akun Twitter @infoBMKG, Minggu 14 Agustus 2022.

Baca Juga: Terkini, 16 korban Tewas dalam Banjir ‘Epik’ di Kentucky Termasuk 6 Anak-anak

Dikutip SeputarTangsel.Com dari akun Twitter @infoBMKG, 18 provinsi tersebut esok hingga lusa berada dalam kategori “Siaga dan Waspada” terhadap potensi bencana hidrometeorologi. 

Berikut ini, daftar 18 provinsi yang perlu siaga dan waspada menghadapi bahaya bencana hidrometeorologi:

Kategori Waspada:

Sumatera Selatan
Bengkulu
Lampung
DKI Jakarta
Jawa Barat
Jawa Tengah
Di Yogyakarta
Jawa Timur
Banten
Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Timur
Kalimantan Utara

Sulawesi Tengah

Maluku Utara
Papua Barat
Papua

BMKG menyebutkan, peringatan ini valid (berlaku) mulai Senin, 15 Agustus 2022 pukul 07.00 WIB sampai Selasa, 16 Agustus 2022 pukul 07.00 WIB.***

Siaga bencana, DSLNG latih Satgas Destana Uso hadapi kebakaran

Luwuk Banggai (ANTARA) – PT Donggi Senoro LNG (DSLNG) terus menyadarkan masyarakat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana, khususnya bagi warga desa di sekitar kilang di Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.

Selain melakukan pelatihan penanggulangan bencana banjir dan tsunami di pusat belajar masyarakat DSLNG pada Selasa hingga Kamis (4/8), DSLNG juga memberikan pelatihan kepada Satgas Destana terkait kesiapsiagaan penanggulangan bencana kebakaran pada program desa tangguh bencana di Desa Uso.

Hal ini perlu dilakukan, mengingat hingga saat ini acap kali kebakaran terjadi di wilayah pedesaan tak bisa dijangkau oleh mobil pemadam kebakaran milik pemerintah. Karena mobil pemadam kebakaran hanya terdapat di ibu kota Kabupaten Banggai.

Tak hanya pelatihan menghadapi bencana kebakaran saja, para peserta juga mendapatkan pelatihan bagaimana penanganan pertama dan evakuasi terhadap korban kebakaran dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Banggai.

Peserta yang terdiri dari Satuan Tugas Desa Tangguh Bencana (Satgas Destana), Kelompok Kerja (Pokja) Destana, dan Pemerintah Desa Uso juga dilatih menangani korban menggunakan peralatan medis yang tersedia di mobil ambulans PMI Banggai. 

Peserta juga dilatih bagaimana menangani korban kecelakaan lalu lintas yang baik dan benar dan bagaimana menangani korban yang kemasukan air di paru-paru karena tenggelam dengan memberi tekanan di dada korban. 

Di hari sebelumnya, peserta dilatih bagaimana menyelamatkan korban yang tenggelam di perairan.*

Pewarta :
Editor : Laode Masrafi
COPYRIGHT © ANTARA 2022              

Pelatihan Dasar Penyusunan Rencana Penanganan Bencana di Rumah Sakit (Hospital Disaster Plan) – Batch 2

hdp batch2 sesi1

 

Pelatihan Dasar

Penyusunan Rencana Penanganan Bencana di Rumah Sakit

(Hospital Disaster Plan)

 

{tab KAK}

Latar Belakang

Amanat menyusun rencana penanganan bencana di rumah sakit (hospital disaster plan) tercantum dalam UU Nomor 44 Tahun 2009 tentang rumah sakit, pasal 29 yang salah satu poinnya menyatakan “Rumah sakit mempunyai kewajiban memiliki sistem pencegahan kecelakaan dan penanggulangan bencana”. Kemudian, update mengenai Standar Akreditasi Rumah Sakit berdasarkan Kepmenkes 1128 Tahun 2022 bahwa amanat Manajemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK) 2 meliputi kepemimpinan dan perencanaan hingga pelatihan dalam upaya mencapai keselamatan dan keamanan dari bahaya B3, kebakaran, dan situasi kedaruratan dan bencana. Selain itu, tidak meninggalkan pembahasan akreditasi rumah sakit tahun 2012, salah satu elemen penilaian MFK 6 adalah rumah sakit telah mengidentifikasi bencana internal dan eksternal yang besar, seperti kondisi darurat di masyarakat, wabah, bencana alam atau bencana lainnya serta kejadian wabah yang bisa menyebabkan terjadinya risiko yang signifikan. Serta mengacu pada penilaian akreditasi RS menggunakan Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS) edisi 1 tahun 2018 dan SNARS edisi 1.1 tahun 2019, disebutkan juga bagaimana RS harus mampu melakukan Self Assesment terkait kesiapan menghadapi bencana.

Rumah sakit yang belum memiliki Hospital Disaster Plan (HDP) akan mengalami kesulitan untuk mengoperasionalkan manajemen penanganan bencana mulai dari pembagian tugas yang jelas, alur komunikasi dan rencana alternatif. Demikian juga akan terjadi bagi rumah sakit yang sudah memiliki HDP namun belum operasional. Sejauh ini hampir semua rumah sakit telah memiliki dokumen HDP baik yang sebatas dokumen tertulis maupun dokumen yang sudah pernah disosialisasikan, diujicoba di atas meja/ table top exercise (TTX), disimulasikan, direvisi dan dikembangkan. Melalui dokumen HDP, Rumah Sakit memahami bahwa dokumen HDP adalah bentuk kesiapan rumah sakit untuk menghadapi bencana alam dan bencana non alam. Artinya dokumen yang disusun harus seoperasional mungkin sehingga saat terjadi bencana, seminimal mungkin fungsi rumah sakit tidak terganggu serta memastikan layanan rutin sehari – hari tetap berjalan.

Dengan demikian, sudah saatnya rumah sakit memahami bahwa HDP ini sangat penting dipersiapkan sedini mungkin, HDP yang operasional dan yang mencakup semua rencana kebutuhan dan penanganan bencana alam dan non alam. HDP yang disusun dalam bentuk dokumen berisi potensi bencana yang dihadapi rumah sakit, aktivasi sistem komando, prosedur pengananan bencana, fasilitas saat bencana dan alur komunikasi. HDP ini merupakan dokumen yang bersifat hidup (update) dan menjadi satu sistem untuk memenuhi kebutuhan menuju Safe Hospital yang dapat digunakan dalam keadaan krisis kesehatan sehari – hari di rumah sakit.

Tujuan

  1. Peserta memahami penyusunan rencana penanggulangan bencana di rumah sakit (HDP) harus menyesuaikan dengan karakteristik di tiap rumah sakit.
  2. Peserta mampu memahami komponen-komponen dokumen HDP berdasarkan template yang ada.

Metode Kegiatan

Pelatihan ini akan dilaksanakan full melalui online, dimana dalam setiap pertemuan peserta akan mendapatkan materi penyusunan HDP dan penugasan penyusunan dokumen. Pada setiap pertemuan peserta diperbolehkan berdiskusi dengan fasilitator.

Hal yang Perlu dipersiapkan oleh Peserta:

Peserta berasal dari tim bencana rumah sakit yang masih aktif dan/atau anggota baru yang meliputi unsur:

  • Unsur Manajemen (pengorganisasian/ sistem komando bencana rumah sakit; operasional, keuangan, perencanaan, sekretaris)
  • Unsur tim yang mengerjakan analisis risiko, HVA, dan HIS (*K3RS)
  • Unsur logistik, perencanaan, SDM, dan fasilitas

Peserta memiliki pengetahuan yang baik mengenai rumah sakit serta membawa:

  1. Laptop
  2. Dokumen HDP saat ini (*jika ada)
  3. Peta (Map) Rumah Sakit, termasuk peta wilayah kerja
  4. Profil rumah sakit
  5. Dokumen perhitungan HVA dan HSI

Output Kegiatan

Peserta memahami dan menyusun komponen hospital disaster plan : struktur pengorganisasian, manajemen risiko bencana

Tenaga Konsultan dan Asisten Konsultan

  1. dr. Hendro Wartatmo, SpB.KBD
  2. dr. Bella Donna, M.Kes
  3. Sutono, S.Kp, M.Sc, M.Kep
  4. Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt
  5. Madelina Ariani, SKM, MPH
  6. Happy Pangaribuan, SKM, MPH
  7. dr. Wahyu Kartiko Tomo, Sp.B
  8. dr. Yudha Mathan Sakti, SpOT 

Jadwal dan Materi Kegiatan

Hari/Tanggal : Selasa / 13 September & 20 September 2022

Link Zoom : akan diinfokan kemudian

Hari Pertama : Selasa, 13 September 2022
Waktu Materi/Kegiatan
09.00 – 09.10 Pembukaan dan Pengantar
09.10 – 09.40 Materi 1: Akreditasi dan Strategi Penyiapan HDP di RS
09.40 – 10.10 Materi 2: Analisis Risiko, HVA, Hospital Safety Indeks
10.10 – 10.30 Penugasan Analisis Risiko
10.30 – 11.00 Materi 3 : Sistem Komando dan Pengorganisasian
11.00 – 11.20 Penugasan Sistem Komando dan Pengorganisasian
11.20 – 11.50 Materi 4 : Logistik Medik dan Manajemen Relawan
11.50 – 12.00 Review penugasan dan arahan pertemuan II
Hari Kedua : Selasa, 20 September 2022
09.00 – 09.30 Materi 5 : Pengorganisasian sub bab Tupoksi dan Kartu Tugas
09.30 – 10.00 Penugasan Tupoksi
10.00 – 10.30 Materi 6 : identifikasi fasilitas dan penyusunan SOP saat Bencana
10.30 – 11.00 Penugasan identifikasi fasilitas dan penyusunan SOP saat Bencana
11.00 – 11.30 Materi 7 : Data Informasi dan Peta Respon
11.30 – 12.00 Materi 8 : Manajemen Penanganan Bencana non Alam (Penyakit Menular) dalam dokumen HDP
12.00 Penutupan

BIAYA KEPESERTAAN

Biaya kepesertaan Pelatihan dan Pendampingan sebesar Rp.1.500.000 / instansi. Peserta pelatihan dikenai biaya sebagai tim (Anggota tim maksimal 5 orang/institusi)

Peserta akan mendapatkan sertifikat ber SKP PAKKI, IDI dan IAKMI

Pembayaran peserta dapat dilakukan dengan melalui transfer ke rekening panitia:

No Rekening : 9888807171130003
Nama Pemilik : Online Course/ Blended Learning FK UGM
Nama Bank : BNI
Alamat : Jalan Persatuan, Bulaksumur Yogyakarta 55281 

Bukti transfer pembayaran tersebut di kirim melalui Whatsapp Messenger ke Nomor 082134116190 dengan diberi nama lengkap peserta.
Pendaftaran peserta dapat dilakukan online melalui google form https://bit.ly/RegHDP2

 

Penutup

Demikian Kerangka Acuan Kegiatan Pelatihan Dasar Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit (Hospital Disaster Plan). Kami mengharapkan apabila kerjasama ini terwujud, menjadi kerjasama yang saling menguntungkan. Bagi rumah sakit keuntungan yang didapat adalah tersusunnya draft dokumen HDP. Bagi Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (PKMK FK – KMK) UGM, sebagai lembaga riset dan konsultasi, terutama akan memberikan sumbangan pengembangan inovasi dalam dunia keilmuan di bidang kesehatan dan manajemen bencana di rumah sakit.

 

INFORMASI PENDAFTARAN

  • Pendaftaran : Maria Lelyana/ 0821 3411 6190/ [email protected]
  • Konten : Happy R Pangaribuan/ 085325546433 /

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Gedung IKM (sayap utara) Lt. 2
Fakultas Kedokteran UGM
Jl. Farmako Sekip Utara Yogyakarta 55281
Telp/Fax : 0274 – 549425

Website :www.bencana-kesehatan.net

 

{tab Reportase Hari 1}

Reportase Pelatihan Hospital Disaster Plan

hdp batch2 sesi1

Pada Selasa, 13-09-2022, diadakan Pelatihan Dasar Penyusunan Rencana Penanganan Bencana di Rumah Sakit (Hospital Disaster Plan) secara daring. Pelatihan ini diikuti oleh 20 peserta rumah sakit dan poltekkes. Pelatihan dipandu oleh Happy R. Pangaribuan, MPH dan dibuka oleh dr. Hendro Wartatmo, SpB-KBD. dr. Hendro menyampaikan tujuan penyusunan dokumen Hospital Disaster Plan (HDP) untuk menyusun rencana respon di rumah sakit dengan hasil yang efisien dan efektif dan untuk persyaratan akreditasi.     

hdp batch2 yudhaMateri pertama, “Pengorganisasian dan Sistem Komando dalam Hospital Disaster Plan” disampaikan oleh dr. Yudha Mathan Sakti, SpOT(K). Yudha menjelaskan eskalasi kebutuhan pelayanan pada kondisi bencana membutuhkan perencanaan dan persiapan yang matang agar mendapatkan hasil yang optimal. Kejadian bencana sendiri dapat diprediksi namun dapat datang sewaktu-waktu sehingga persiapan dan koordinasi adalah hal yang sangat penting. Selama ini masalah utama dalam manajemen bencana adalah koordinasi.

Dasar pemikiran rencana penyusunan sistem organisasi dalam penanganan bencana adalah berdasarkan sistem kerja sehari-hari yang bertujuan untuk meminimalkan potensi gagal. Yudha menyarankan untuk menempatkan individu di zona tempat mereka biasa bekerja. Sistem organisasi yang dibentuk harus sederhana dan jelas, dapat dimobilisasi dalam waktu yang singkat, dan perlu rencana cadangan. Pada saat kejadian bencana, nantinya akan ada translasi atau pengalihan dari sistem organisasi rumah sakit yang lama (kegiatan sehari-hari) ke sistem organisasi penanganan bencana. Komponen yang ada dalam strukur sistem komando bencana antara lain: Incident commander, Sektretariat, Keselamatan dan Keamanan, Divisi Operasional, Divisi Logistik, Divisi Perencanaan, Divisi Keuangan. Tiap komponen memiliki tugas masing-masing yang tertera pada kartu tugas mereka.

hdp batch2 bella donnaMateri kedua dengan judul “Akreditasi dan Strategi Persiapan HDP di Rumah Sakit” diapaparkan oleh dr. Bella Donna, M.Kes. dr. Bella menyampaikan bahwa selama keadaan darurat atau bencana, rumah sakit harus aman (safe) secara fasiliitas, pasien, sumber daya manusia, dan alat. Tujuan HDP untuk mencapai safe-health facility, dengan tercapainya safe health facility maka fungsi fasilitas kesehatan bisa berjalan dengan baik. Bella menyampaikan tentang Surge Capacity, yaitu kemampuan sistem pelayanan kesehatan secara cepat untuk memenuhi kebutuhan pelayanan. Komponen Surge Capacity antara lain Structure, Staff, System, Stuff.

Salah satu standar manajemen rumah sakit adalah manajemen fasilitas dan keselamatan (MFK). Salah satu poin dalam manajemen fasilitas tersebut adalah penanganan kedaruratan dan bencana. Elemen penilaian MFK 9 berupa penilaian tentang pengelolaan bencana, identifikasi risiko bencana, dan lain – lain. Hubungan HDP dengan MFK yaitu komponen HDP akan diuji dalam MFK. Pada akhir sesi, ditutup dengan tanya jawab dengan para peserta.

hdp batch2 madelinaMateri berikutnya berjudul “Analisis Risiko, HVA dan HSI” oleh Madelina Ariani, MPH. Materi diawali bahwa kesiapsiagaan terhadap bencana diperlukan tidak hanya untuk mempersiapkan akreditasi namun juga membudayakan tanggap bencana karena seluruh daerah Indonesia memiliki tingkat risiko bencana yang sedang hingga tinggi. Analisis risiko bertujuan mengetahui potensi ancaman bencana dan menentukan prioritas dalam penanggulangan bencana.

Instrumen-instrumen analisis risiko beragam, antara lain Hazard Vulnerable Assessment (HVA), Hospital Safety Index (HSI), Hazard Risk Assessment (HRA), dan lain-lain. Cara melakukan analisis risiko yaitu mengidentifikasi potensi ancaman bencana, menghitung dampak, dan menganalisis risiko. Setelah hasil analisis risiko didapatkan, selanjutnya menentukan prioritas dalam penanganan bencana dan krisis kesehatan. Prioritas utama adalah bencana dengan risiko tinggi.

hdp batch2 gde yulianMateri terakhir pada pertemuan pertama disampaikan oleh Apt. Gde Yulian Yogadhita, M. Epid, berjudul “Logistik Medik dan Manajemen Relawan”. Alasan mengapa manajemen logistik perlu dilakukan adalah logistik merupakan unsur pokok yang menentukan berhasil atau gagalnya manajemen bencana. Selain itu, manajemen logistik diperlukan untuk mencegah bencana susulan. Pengertian Manajemen Logistik merupakan proses perencanaan, manajemen dan mengontrol alur bantuan yaang efisien untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak.  

Reportase oleh dr. Satrio Pamungkas

Divisi Manajemen Bencana PKMK UGM

{tab Reportase Hari 2}

Reportase

Pelatihan Penyusunan Rencana Penanganan Bencana di Rumah Sakit

sesi1 hdp2

Pada Selasa, 20/9/2022 diadakan pertemuan kedua Pelatihan Dasar Penyusunan Rencana Penangganan Bencana di Rumah Sakit (Hospital Disaster Plan atau HDP). Acara dibuka oleh Happy Pangaribuan, MPH dilanjutkan materi pertama oleh Sutono, S.Kp, M.Sc, M.Kep, tentang Identifikasi Fasilitas dan Penyusunan SOP saat Bencana.  

Sutono menyampaikan bahwa alasan adanya SPO dalam HDP untuk memenuhi standar dalam penanganan bencana yang tidak terdapat pada kegiatan sehari-hari. SPO berisi proses penyelenggaraan kegiatan, bagaimana dan kapan harus dilakukan, di mana dan oleh siapa dilakukan. Contoh beberarapa SPO dalam bencana antara lain pengaktifan dan pemberhentian tim bencana RS, penyiapan tenaga di RS, pengaturan relawan kesehatan, dan sebagainya. Dasar menentukan pembuatan SPO dalam penanganan bencana diambil dari pengalaman, evaluasi dari simulasi/latihan/table top exercise, serta referensi. Kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab.

Pertanyaan dari RSMM Jawa Timur yaitu bagaimana mengatasi konflik kepentingan antara peran sebagai tenaga medis dan sebagai anggota keluarga? Sutono mengungkapkan bahwa Ia pernah mengalami hal yang sama pada saat gempa bumi Bantul 2006. Caranya adalah memastikan keluarga dalam kondisi aman, lalu melanjutkan tugas di RS. Hal tersebut perlu dituliskan di dalam SPO. Pertanyaan berikutnya dari RSUD NTB, dalam pembuatan SPO, siapakah yang berwenang? beberapa hal yang bisa dibentuk oleh K3, SPO bisa juga disusun oleh tim bencana

sesi2 hdp2Materi kedua berjudul “Konsep Organisasi, Tupoksi, dan Kartu Tugas” disampaikan oleh dr. Bella Donna, M.Kes. Bella memaparkan bahwa salah satu komponen dalam organisasi penanganan bencana adalah klaster kesehatan. Klaster kesehatan diaktifkan saat tanggap darurat bencana, yang alurnya berawal dari menteri kesehatan melalui kepala pusat krisis kesehatan, selaku koordinator klaster kesehatan nasional, dilanjutkan ke tingkat provinsi dan kabupaten/kota (dinas kesehatan) hingga rumah sakit . Konsep pengorganisasian harus sederhana, dapat dimobilisasi dalam waktu singkat, tidak ada pembentukan organisasi baru, dan fleksibel.

Bella juga menjelaskan sistem komando bencana dan alur klaster kesehatan dijalankan, yang di dalamnya terdapat komponen Emergency Operation Center (EOC) atau Public Health Emergency Operation Center (PHEOC). Struktur organisasi penanganan bencana di rumah sakit untuk bencana alam dan bencana non alam tidak banyak banyak perbedaan, namun disesuaikan dengan karakter penyakit akibat bencana tersebut. Kartu tugas berisi apa yang harus dilakukan, kapan dilakukan, kepada siapa dilaporkan setelah pekerjaan dilaksanakan. Kartu tugas dibuat satu untuk satu posisi, tujuannya fokus, berisi misi singkat, dan terdapat aktivitas prioritas.

sesi3 hdp2

Topik berikutnya yaitu “Data Informasi dan Peta Respon” oleh Apt. Gde Yulian Yogadhita, M.Epid. Gde menyampaikan adanya Permenkes Nomor 75 Tahun 2019 tentang Penanggulangan Krisis Kesehatan yang bertujuan menjamin ketersediaan informasi krisis kesehatan yang cepat, tepat, akurat, konsisten, terkini, dan dapat dipertanggungjawabkan sebagai dasar pengambilan keputusan. Awalnya setelah terjadi bencana, dilakukan pengumpulan data informasi awal kejadian di fasilitas layanan kesehatan lalu disampaikan ke dinas kesehatan, selanjutnya ke pusat krisis kementrian kesehatan.

Rumah sakit perlu segera menyusun data dan informasi terkait dengan skenario menggunakan all hazard approach berdasarkan lokasi bencana. Lokasi bencana dibagi menjadi 3 yaitu bencana internal, eksternal dekat, dan eksternal jauh. Data informasi yang ada akan diolah menjadi infografis lalu rumah sakit menginformasikan jumlah korban untuk mobilisasi sumber daya manusia tambahan dan bagian fasilitas yang rusak agar dapat dinilai layak digunakan atau tidak.

Peta risiko adalah gambaran tingkat risiko bencana berdasarkan kajian risiko. Hasil analisis HVA dan HSI berisi ancaman dan potensi bahaya yang ada, sarana dan prasarana yang tersedia, dan alur sehari-hari bila terjadi bencana. Sedangkan peta respon adalah respon kapasitas daerah dalam menangani kedaruratan yang berisi bahaya, kapasitas, alur respon, dan jalur evakuasi.

sesi4 hdp2Materi terakhir dengan judul “Manajemen Penanganan Bencana Non Alam (Penyakit Menular) dalam Dokumen HDP” oleh dr. R. Wahyu Kartiko Tomo, SpB. Tomo menyampaikan penyakit infeksi maupun non-infeksi merupakan tantangan tersendiri dalam penanganan bencana. HDP sendiri merupakan bentuk kesiapsiagaan rumah sakit dalam menghadapi bencana alam maupun nonalam. HDP harus diperbarui, selalu terbaru.

Cara pengendalian penyakit darurat krisis kesehatan dengan deteksi dan diagnosis, prevensi faktor risiko, respon atau tangani kasus, proteksi atau melindungi risiko terpapar, dan promosi atau meningkatkan kualitas kesehatan. Penyebab mortalitas dan morbiditas terbanyak akibat bencana alam adalah masalah gastrointestinal dan infeksi respiratori. Prinsip utama penanganannya adalah dengan perencanaan dan manajemen bencana yang efektif. Acara diakhiri tanya jawab dengan para peserta.

Reportase oleh dr. Satrio Pamungkas

Divisi Manajemen Bencana PKMK UGM

{/tabs}

 

MATERI PELATIHAN

Laporan Kegiatan Table Top Exercise (TTX) Dokumen Perencanaan Penanggulangan Bencana dan Krisis Kesehatan

ttx 29

Laporan Kegiatan

Table Top Exercise (TTX) Dokumen Perencanaan Penanggulangan Bencana dan Krisis Kesehatan

(Dinkes Provinsi Sulawesi Selatan, Dinkes Kota Makassar, Dinkes Kab. Maros)

Agustus 2022

 

{tab title=”Jumat, 29 Juli 2022″ class=”blue”}

Persiapan Table Top Exercises (Online)

ttx 29

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Persiapan TTX online”

Pertemuan ini dilakukan melalui zoom meeting yang dihadiri oleh 22 peserta dari Dinas Kab. Maros dan Dinas Kesehatan Kota Makassar. Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan ijin tidak bisa mengikuti karena sedang bertugas di lapangan yang sulit mengakses sinyal, mereka akan bergabung pada persiapan TTX onsite. Pada pertemuan ini, tim PKMK FK-KMK UGM memaparkan siapa saja rencana pemain dan rencana skenario yang akan diuji coba. Potensi bencana yang ada dalam skenario adalah terjadinya banjir di tengah pandemic penyakit menular. Skenario secara umum sama pada semua diinas kesehatan, namun injek akan berbeda dan ini akan dibahas pada pertemuan onsite. Terkait waktu pelaksanaan TTX peserta bisa mengikuti full dan akan memastikan perwakilan dari masing-masing bidang terkait pada struktur pengorganisasian bencana dapat mengikuti TTX. Masukan dari Dinkes Kota Makassar untuk skenario adalah menambahkan ada puskesmas yang terdampak dan juga RS yang terdampak banjir. Selanjutanya lebih detail lagi terkait wilayah mana saja yang terkena banjir akan dibahas pada Persiapan TTX onsite.

Reportase : Happy R Pangaribuan

Div. Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM

{tab title=”Senin, 1 Agustus 2022″ class=”red”}

Persiapan Table Top Exercises (Onsite)

ttx 2 august

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Persiapan TTX hybrid (online dan onsite)

Pertemuan ini merupakan lanjutan dari persiapan TTX online Jumat, 29 Juli 2022 yang dilaksanakan secara hybrid (onsite dan online). Pertemuan dibagi menjadi 2 sesi dimana sesi pagi pukul 09.00 – 12.00 WITA persiapan TTX khusus untuk Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan; sesi siang pukul 13.00 – 16.00 WITA Dinas Kesehatan Kab. Maros dan Dinas Kesehatan Kota Makassar. Tujuan dari pertemuan ini adalah untuk mematangkan skenario TTX dan pemain. Kegiatan dimulai dengan pembukaan dan pengantar singkat dari PJ program tim PKMK FK-KMK UGM oleh dr. Hardhantyo. Peserta yang menghadiri dari Dinkes Provinsi Selatan sebanyak 10 orang, Dinas Kesehatan Kota Makassar 8 orang dan Dinas Kesehatan Kab. Maros 11 orang. Peserta sudah mewakili masing-masing bidang struktur pengorganisasian saat bencana.

ttx 1 2 august

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Pematangan Skenario TTX”

Tim PKMK FK-KMK UGM mereview kembali kelengkapan dari dokumen dinkes disaster plan provinsi Sulawesi Selatan. Dari dokumen dokumen dinkes disaster plan yang sudah disusun ada beberapa hal yang perlu dilengkapi kembali khususnya SOP yang dibutuhkan dalam penanganan bencana. Harapannya seluruh bagian dari komponen dinkes disaster plan ini bisa dilengkapi sebelum pelaksanaan TTX hari Kami mendatang. Sementara untuk dokumen dinkes disaster plan Kota Makassar dan Kab. Maros sudah lengkap dan siap untuk diuji cobakan. Selanjutnya pembahasan skenario, dinas kesehatan setuju dengan mengangkat bencana Banjir saat pandemic pada skenario TTX. Banjir terjadi hari Jumat dan sampai Sabtu intensitas hujan tidak berkurang, banyak daerah yang mulai tergenang luapan air. Menjelang 3 hari pasca bencana BPBD mendeklarasikan bencana lokal dan relawan sudah datang ke beberapa daerah. Dalam skenario juga ditambahkan di pengungsian, masyarakat dicurigai terkena gejala COVID-19. Waktu penanganan bencana pada skenario adalah selama 14 hari, dan pada pelaksanaan TTX nanti dokumen dinkes disaster plan akan diuji melalui pertanyaan2 dari segi pengaktifan tim, press release, manajemen relawan sampai dengan deaktivasi tim.

Reportase : Happy R Pangaribuan

Div. Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM

{tab title=”Selasa, 2 Agustus 2022″ class=”red”}

Selasa, 2 Agustus 2022

Table Top Exercises (TTX) Disaster Plan Dinas Kesehatan Kabupaten Maros

ttx 3 agustus

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Diskusi press release”

Peserta yang mengikuti kegiatan TTX dari Dinkes Kab. Maros sebanyak 12 orang. Kegiatan diawali dengan memastikan bahwa tim dan dokumen sudah siap. Evaluator tim PKMK FK – KMK UGM membaca kembali skenario dan mulai menanyakan beberapa pertanyaan terkait skenario. Ketika dinkes menerima informasi terjadi bencana dan perlu aktivasi tim bencana, media informasi yang digunakan selalin WAG adalah menggunakan radio PMI yang sudah terintegrasi dengan puskesmas. Dinkes Kab. Maros memiliki PSC yang mengelola media informasi radio PMI. Alur komunikasi ini belum ditambahkan dalam dokumen. Tim bencana diaktifkan oleh komandan (Kadinkes), jika pada saat bencana kadinkes berhalangan karena sesuatu hal maka pelimpahan wewenang untuk pengaktifan tim diberikan kepada sekdis. Setelah tim sudah aktif maka akan diadakan rapat harian, koordinasi untuk pengadaan rapat ini akan diurus oleh sekretaris untuk mengakomodir rapat harian.

Pertanyaan selanjutnya terkait dengan press release, evaluator menanyakan bagaimana dinkes menghadapi relawan yang datang untuk mendapatkan update informasi penanganan bencana. Misalnya jika wartawan mendatangi bidang surveilans atau PSC langsung, apa yang harus dilakukan? Peserta dari bidang surveilans dan PSC menyampaian bahwa wartawan yang datang akan diarahkan ke komandan supaya satu pintu informasi. Komandan sudah menentukan siapa jubir yang membantu press release, namun PJ tetap di komandan. Data sudah disiapkan dulu dari masing masing bidang yang sudah direkap dan diserahkan kepada komandan. Khusus manajemen relawan, relawan yang datang diterima oleh kasubbag kepegawaian di aula lantai 1 sekretariat. Dinkes memiliki wewenang untuk menolak atau mengembalikan relawan yang tidak mau diatur atau diajak kerja sama.

ttx 3 agustus 1

Dok. PKMK FK – KMK UGM “Diskusi kesimpulan sementara hasil TTX”

Terkait dengan manajemen logistik, evaluator menanyakan bagaimana logistik mengelola bantuan yang datang melebihi kapasitas dinkes (seperti gudang penyimpanan terbatas). Hal yang pertama sekali dilakukan oleh bidang logisik adalah pencatatan bantuan yang datang. Dimana pasca bencana bidang logistik juga mulai menghitung kebutuhan obat dan kroscek dengan bantuan obat yang datang. Dinkes juga akan koordinasi dengan dinkes provinsi terkait buffer stock dan apabila diperlukan akan koordinasi dengan BPOM untuk obat khusus. Jika logistik bencana yang datang lebih dari kapasitas yang diterima maka bisa diterima dulu kemudian langsung didistribusikan ke puskesmas dan pos yang membutuhkan, sisanya disimpan dan menunggu arahan komandan untuk penyimpanan yang sudah penuh. Solusi kedua penambahan gudang dengan melihat dulu kapasitas yang ada di daerah. Penyimpanan tergantung bantuan yang datang, kalau MPASI koordinasi terlebih dahulu dengan bidang gizi KIA, jika kelambu koordinasi dengan bidang kesling.

Pada akhir sesi dr. Hendro Wartatmo yang mengikuti secara online menyampaikan dari proses TTX ini harus diingat dan dipahami disaster plan mengakomodir 3 hal yaitu pembagian kerja, komunikasi dan rencana cadangan. Pembagian kerja itulah struktur organisasi dan tupoksi, jelas siapa melakukan apa. Kemudian ada komunikasi seperti yang sudah didiskusikan tadi terkait pelaporannya kemana. Komunikasi yang dimaksud bukan komunikasi verbal namun komunikasi antar unit kerja nya seperti apa. Rencana cadangan atau alternatif untuk mengatasi kekurangan – kekurangan yang mungkin terjadi. Seperti untuk mengatasi gudang tadi, disiapkan surge capacity jika bantuan akan datang melebihi kapasitas. Hal lain yang penting adalah komandan harus ada, jangan sampai kosong, jika tidak ada maka disiapkan pelimpahan wewenang. Waktu deaktivasi tim ada pencatatan atau berupa evaluasi penanganan yang sudah dilaksanakan.

Rencana tindak lanjut dari TTX ini adalah tim akan melanjutkan revisi dan melengkapi dokumen. Jumat, 5 Agustus 2022 akan dilaksanakan evaluasi pelaksanaan TTX.

 Link Video Klik Disini

Reportase : Happy R Pangaribuan

Div. Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM.

{tab title=”Rabu, 3 Agustus 2022″ class=”green”}

Rabu, 3 Agustus 2022

Table Top Exercises (TTX) Disaster Plan Dinas Kesehatan Kota Makassar

ttx 3 agustus 3

Dok. PKMK FK-KMK UGM “TTX Dinkes Kota Makassar”

Peserta yang mengikuti kegiatan TTX dari Dinkes Kota Makassar sebanyak 10 orang. MC menanyakan peserta dan dari bidang mana saja yang mengikuti TTX. Kemudian menyerahkan sesi pada evaluator untuk menjelaskan kembali skenario dan metode pelaksanaan TTX. Pelatihan diawali dengan pertanyaan bagaimana Dinkes Kota Makassar merespon kejadian bencana banjir seperti yang tertulis dalam skenario. Kota Makassar memiliki call center 112 yang dapat diakses umum oleh masyarakat. Biasanya jika menghadapi kodisi darurat masyarakat akan menghubungi call center 112 dan jika sangat darurat dan membutuhkan pertolongan kesehatan maka akan diteruskan ke pejabat dinas kesehatan. Selain itu dinkes juga bergabung dengan grup BMKG, sehingga memudahkan bagi dinkes mendapatkan informasi terkait kejadian bencana. Bisa juga misalnya kader yang melaporkan ke petugas puskesmas, dan grup puskesmas melaporkan ke dinkes melalui grup surveilans dan TGC. Ketika ada bencana, koordinasi akan aktif dalam grup TGC yang dikoordinir oleh sie surveilans dinkes. Kemudian yang mengolah laporan awal tersebut adalah staf surveilans dan imunisasi.

Selanjutnya evaluator menanyakan bagaimana proses aktivasi tim bencana. Ketika sudah ada informasi siaga bencana, maka masing – masing SKPD langsung bekerja sesuai dengan tupoksinya. Kepala Dinas Kesehatan mengundang rapat seluruh kepala bidang dan kepala seksi di ruang rapat. Notulis rapat sementara dilakukan oleh penanggung jawab operasional, karena rapat awal masih penanggung jawab masing- masing bidang yang diundang. Jika kepala dinas kesehatan tidak ada maka pelimpahan wewenang aktivasi tim diberikan kepada sekretaris dinas kesehatan.

Manajemen relawan akan ditangani oleh bidang pengendalian penyakit bekerja sama dengan bidang PSDK. Tim relawan yang datang akan diprioritaskan ke wilayah yang paling terdampak. Terdapat 6 titik lokasi banjir yang paling parah dan 6 tim relawan akan ditugaskan kesana. Kemudian yang bertugas menempatkan relawan ini adalah PSDK berkoordinasi dengan bidang yankes. Lalu yang melakukan pencatatan relawan adalah sie layanan primer dan koordinasi dengan sistem rujukan terkait dengan relawan yang akan ditempatkan di rumah sakit. Jika ada relawan datang sementara dinkes tidak membutuhkan lagi maka bisa ditolak dan diterima. Terdapat perhitungan kapasitas, jika dampak masih luas bisa diterima. Jika ada satu puskesmas terdampak maka puskesmas yang lain bisa membantu (ini ditambahkan dalam dokumen).

ttx 3 agustus 4

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Sesi Manajemen Relawan”

Bagaimana jika daerah terdampak tidak bisa diakses karena tingginya luapan banjir. Untuk wilayah yang susah diakses, ada bantuan transportasi dari BPBD seperti perahu karet. Puskesmas wilayah yang mendampingi tim relawan yang memasuki wilayah yang sangat sulit dijangkau. Laporan relawan melalui puskesmas, artinya relawan yang ditugaskan di wilayah kerja puskesmas melaporkan kegiatan ke puskesmas tersebut. Selanjutnya puskesmas yang meneruskan laporan ke dinas kesehatan.

Subklaster yang akan diaktifkan berdasarkan kasus skenario di HEOC kota Makassar adalah subklaster promkes, sub klaster PTM, sub klaster yankes. Sub klaster promkes akan membantu edukasi dan penyuluhan, ini bisa bekerja sama dengan puskesmas. Jika ada mahasiswa yang dtan membantu promkes maka mereka bisa menbantu untuk merancang media seperti leaflet, poster dan spanduk. Laporan harian promkes berupa kegiatan yang sudah dilakukan dan kebutuhan kegiatan. Laporan promkes didapatkan juga dari puskesmas. Sama halnya dengan logistik, laporan kebutuhan dan penggunaan didapatkan dari puskesmas.Mekanisme BAST ada dalam penerimaan donasi bantuan, namun form nya belum masuk dalam dokumen. Ini sangat penting disiapkan untuk mengindari kecurigaan atau kecurangan, misalnya ketika ada pengecekan oleh BPK. Mekanisme BAST ini harus dituliskan secara detail dalam dokumen.

Observer dr. Bella Donna, M.Kes di akhir kegiatan menyampaikan masukan bahwa jangan lupa ada juga kolaborasi dan koordinasi dengan RS, puskesmas dan fasilitas lainnya. Alur koordinasi ini harus jelas tertulis di dokumen. Semua yang sudah disampaikan oleh peserta sudah bagus dan operasional, tugas penting sekarang adalah mendokumentasikannya secara detail dalam dokumen. Sehingga jelas alurnya seperti tadi alur aktivasi dan deaktivasi tim. Rencana selanjutnya adalah dinkes perlu melakukan simulai rutin, bisa dijadwalkan sekali dalam setahun.

Reportase : Happy R Pangaribuan

Div. Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK – KMK

Link Video Klik Disini

 

{tab title=”Kamis, 4 Agustus 2022” class=”grey”}

Table Top Exercises (TTX) Disaster Plan Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan

ttx makasar 4 8 1

Dok. PKMK FK – KMK UGM “TTX Dinkes Disaster Plan Provinsi Sulsel”

Peserta yang mengikuti TTX dari Dinkes Sulawesi Selatan sebanyak 10 orang. Metode pelaksanaan TTX ini sama dengan TTX Dinkes Kota Makassar dan Dinkes Kab. Maros. Perbedaannya di provinsi lebih banyak ke fungsi koordinasi dan pengawasan karena kabupaten dan kota yang mempunyai wilayah kerja. Proses TTX hari ini, lebih banyak mendiskusikan bagaimana alur koordinasi dengan dinas kesehatan kota dan dinas kesehatan kabupaten serta alur koordinasi dengan BPBD. Ketika Dinkes Provinsi Sulsel mendapatkan informasi bahwa sudah ditetapkan tanggap darurat bencana, maka komandan bencana langsung mengaktifkan tim bencana. Pertemuan rapat awal dilaksanakan di secretariat Pusat Krisis Kesehatan (PKK) regional Sulsel yang dihadiri oleh bidang – bidang terkait sesuai dengan yang ada dalam struktur penanganan bencana dalam dokumen. Selanjutnya rapat rutin akan dilaksanakan di ruangan krisis kesehatan dinkes.

Evaluator menanyakan bagaimana Dinkes mendapatkan data rujukan sementara pengampu wilayah adalah dinkes kota dan kabupaten? Dinkes provinsi menyampaikan, tentunya data ini didapatkan dari petugas dinas kesehatan kabupaten/kota. Dinkes provinsi sudah mengetahui siapa yang bertugas menangani ini di kabupaten/kota dan sudah ada media WAG yang bisa memudahkan koordinasi. mendapatkan data rujukan dari RS dari petugas Dinkes kabupaten/kota. Selanjutnya terkait dengan manajemen relawan, sudah dipahami bahwa dinkes provinsi lebih berperan dalam hal koordinasi. Ketika terjadi bencana dan dinkes kab/kota collabs artinya data informasi, manajemen relawan akan diambil alih oleh provinsi, tentunya ini juga akan berpengaruh untuk data rujukan tadi. Dinkes akan menerima relawan sesuai dengan prosedur yang sudah disusun dalam dokumen, manajemen relawan ini ada di bawah PKK (sekretariat). Bidang yankes akan mengambil alih untuk sistem rujukan. Evaluator mengingatkan peserta supaya dalam dokumen disiapkan situasi terburuk, di tupoksi rujukan diperbaiki lagi bagaimana supaya situasi seperti ini. Artinya jika situasi seperti ini terjadi peran dinkes provinsi tidak hanya sekedar dalam fungsi koordinasi.

ttx makasar 4 8 2

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Pembahasan Alur Komunikasi dalam Strutuk Organisasi”

Bagaimana jika ada wartawan datang menjumpai PSC dan bidang yankes untuk mendapatkan informasi? Apakah data langsung diberikan? Peserta menjelaskan data tidak akan diberikan, namun wartawan akan diarahkan dulu ke sekretariat. Sama halnya dengan jika ada relawan yang datang makan akan diarahkan ke sekretariat dinkes provinsi. Pos klaster kesehatan ada di sekretariat. Relawan yang datang ini, tidak semuanya mengetahui klaster kesehatan ada di sekretariat, banyak juga yang lagsung mendatangi posko utama (BPBD). PPK dinkes provinsi akan mensosialisasikan lokasi kesekretariatan di provinsi melalui WAG nasional. Strategi lain adalah berkoordinasi dengan BPBD, untuk menyampaikan relawan kesehatan menuju ke dinas kesehatan. Ini belum dimasukkan dalam dokumen. Pihak yang bertugas mengelola informasi relawan adalah sekretariat provinsi. Relawan yang registrasi di dinkes kab/kota maka dinkes kab/kota akan meneruskan informasi relawan ke sekretariat provinsi. Dalam form relawan akan ada aturan terkait dengan publikasi, jika ada publikasi yang tidak sesuai akan ditelusuri dan ditarik kembali. Selain form relawan ada aturan publikasi, sanksi dan teguran. Tim akan verifikasi terkait data publikasi yang salah tersebut.

Pembahasan selanjutnya terkait manajemen logistik atau donasi barang. Jika ada relawan membawa bantuan selimut maka diserahkan ke posko induk. Bantuan kesehatan atau logistik kesehatan disampaikan ke dinkes. Banyak bantuan yang datang ini ditempatkan dimana. Ada gudang logistik, dan ada petugas ditugaskan untuk mencatat. PJ logistik akan memisahkan mana bantuan obat dan pakaian – pakaian. Tim logistic salah satunya tim logistik besar (BPBD dan Dinsos), ini ada pengklasifikasian obat-obatan, makanan, pakaian. Khusus untuk dinkes terkait dengan obat-obatan. Jika terjadi kasus bantuan yang datang ke dinkes adalah pembalut, susu formula dan vitamin sementara di surat jalan pemberi bantuan tertulia hanya vitamin dan susu formula ternyata isinya ada pembalut juga sementara truk sudah menunggu di gudang farmasi. Siapa yang mengecek dan bagaimana solusinya? Instalansi farmasi dinkes provinsi akan memeriksa apa saja barangnya, jika tidak sesuai dengan surat jalan maka bantuan tersebut akan dikonsultasikan dulu ke pimpinan. Jika diputuskan diterima, maka akan dibuatkan BAST untuk barang tersebut. Terdapat 2 bantuan konteiner artinya penyimpanan tidak cukup. Ada 3 tempat fasilitas penyimpanan di dinkes provinsi (volumenya belum diketahui), jika tidak cukup maka strategi lain adalah titip di gudang kantor lainnya, gedung sekolah, Poltekkes Makassar atau membangun tenda penyimpanan. Dalam dokumen dinkes harus memetakan tempat yang bisa dialihfungsikan di daerah menjadi tempat penyimpanan sementara sebelum barang didistribusikan.

ttx makasar 4 8 3

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Masukan dari Observer”

Jika tanggap darurat sudah selesai, maka dilakukan rapat evaluasi yang dipimpin penanggung Jjawab PKK regional Sulsel. Pengecekan terhadap data – data yang kurang dan laporan akhir yang harus disampaikan kepada kepala dinas kesehatan, termasuk tindakan – tindakan yang masih diperlukan pasca bencana. Kepala Dinas Kesehatan yang akan melakukan deaktivasi tim.

Penutup dari dr. Bella Donna, M.Kes, dari seluruh diskusi harapannya adalah petugasnya jelas. Dalam menyusun tim bencana harus dipahami bahwa ini berbeda dengan birokrasi. Dalam situasi bencana ada birokrasi yang dipotong (tidak seperti sehari – hari), namun sesuai dengan tupoksi struktur pengorganisasian yang ada di dokumen dinkes disaster plan. Jika tupoksi sudah jelas maka alur juga sudah jelas siapa melakukan apa, kepada siapa melapor. Sarannya dinkes provinsi bisa mengadakan program pertemuan sekali setahun untuk hospital disaster plan yang ada di provinsi, bisa penyusunan, TTX atau evaluasi dokumen. Bisa juga melibatkan puskesmas dan faskes lainnya. Sehingga semua dokumen disaster plan di rumah sakit, puskesmas sudah terintegrasi dan terdokumentasi di dinas kesehatan provinsi.

Reportase : Happy R Pangaribuan/ Div. Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK – KMK UGM

Link Video KLIK DISINI

{tab title=”Jumat, 5 Agustus 2022” class=”blue”} 

Jumat, 5 Agustus 2022

Evaluasi Table Top Exercises (TTX) Disaster Plan Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, Dinas Kesehatan Kota Makassar dan Dinas Kesehatan Kab. Maros

ttx makasar 5 8 1

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Peserta Evaluasi TTX”

Peserta yang mengikuti evaluasi ini sebanyak 31 orang dari Dinkes Provinsi Sulawesi Selatan, Dinkes Kabupaten Maros dan Dinkes Kota Makassar. Gde Yulian Yogadhita, Apt, M.Epid dan Madelina Ariani, MPH memaparkan hasil evaluasi dari kegiatan TTX secara keseluruhan. Evaluasi yang disampaikan per sesi mulai dari penerimaan kejadian bencana hingga deaktivasi tim bencana. Catatan perbaikan dokumen dinkes disaster plan Provinsi Sulawesi Selatan diantaranya alur Informasi bencana dan aktivasi HEOC Provinsi Sulsel; melengkapi struktur dan tupoksi organisasi bencana; melampirkan form registrasi relawan dan BAST; menyusun mekanisme evaluasi pada setiap proses deaktivasi bencana. Catatan perbaikan dokumen dinkes disaster plan Kota Makassar diantaranya menetapkan indicator – indikator kapan mengaktifkan tim bencana; melampirkan format laporan awal kejadian bencana disesuaikan dan buat standar; melengkapi struktur pengorganisasian dan tupoksi. Catatan perbaikan dokumen dinkes disaster plan Kabupaten Maros diantaranya mematangkan konsep kapan pertimbangan mengaktifkan tim bencana; menuliskan media komunikasi yang dimiliki oleh dinkes kabupaten Maros; menentukan siapa yang akan mengolah data dari bidang dan sub klaster menjadi informasi.

ttx makasar 5 8 2

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Sesi Diskusi”

Setelah evaluator membacakan hasil evaluasi secara keseluruhan, dalam sesi diskusi ada tiga hal yang dibahas oleh peserta, yang pertama bagaimana dinkes disaster plan ini dapat mengakomodir koordinasi dengan BPBD karena seyogyanya leading kebencanaan di daerah adalah BPBD. Kedua, terkait dengan penerimaan relawan atau dengan istilah penolakan relawan. Ketiga terkait dengan perhitungan SPM krisis kesehatan di daerah. Perlu dipahami bahwa, ranah dari dinkes disaster plan ini adalah apa yang menjadi peran dinas kesehatan dalam penanganan bencana dan krisis kesehatan, artinya peran dari BPBD atau sektor lainnya tidak perlu dicantumkan. Hanya alur koordinasi dengan BPBD bisa ditulis dalam beberapa SOP yang membutuhkan koordinasi eksternal, misalnya dalam aktivasi tim, komandan koordinasi dengan BPBD untuk mendapatkan informasi tanggap darurat bencana atau dalam manajemen bantuan logistic maupun relawan. Terkait istilah penolakan relawan ini memang sangat berbahaya jika kita sampai menolak relawan. Mungkin istilahnya bisa diganti bukan penolakan namun tetap dinas kesehatan menawarkan alternatif lainnya kepada relawan. Artinya selain pertimbangan informasi penuhnya relawan misalnya dan ini jelas tertulis di peta respon, ada alternatif lain yang bisa ditawarkan seperti kesediaan bertugas di hari ketiga (setelah registrasi), kesediaan memperpanjang masa penugasan atau kesediaan bergabung dengan tim yang lain yang mungkin perannya hanya sekedar saja. Jadi, prosedur atau pertimbangan – pertimbangan ini sudah ada ditulis dalam dokumen. SPM krisis kesehatan tidak banyak dibahas, evaluator hanya memastikan apakah dinas kesehatan kesulitan dalam menghitung indikator SPM ini dan tim PKMK FK – KMK UGM terbuka jika ada pertanyaan lanjutan terkait SPM.

Kegiatan ditutup oleh Dr. dr. Hardhantyo dari PKMK FK – KMK UGM dan dr. Muhammadong dari Dinkes Provinsi Sulawesi Selatan. Selanjutnya Dinkes akan terus berproses untuk kelengkapan dokumen dan dinkes sangat apresiasi terhadap pendampingan dari tm PKMK FK – KMK UGM karena dokumen ini memang sangat krusial untuks segera disiapkan. Jikan dokumen disaster plan ini sudah lengkap maka akan disosialisasikan ke pihak internal terlebih dahulu kemudian ke pihak eksternal, hingga selanjutnya bisa dilaksanakan full-scale exercises. Tim PKMK FK – KMK UGM akan selalu terbuka jika ada pertanyaan untuk kelengkapan dokumen atau hal lainnya yang menyangkut manajemen penanganan bencana dan krisis kesehatan di daerah.

Reportase Happy R Pangaribuan

Div. Manajemen Bencanan Kesehatan PKMK FK – KMK UGM

Link Video KLIK DISINI

{/tabs}

Indonesian nurses’ perception of disaster management preparedness

Dalam struktur penanganan bencana dan krisis kesehatan, minimal bidang yang tercantum didalamnya adalah komandan, sekretaris, bidang operasional, logistik, perencanaan dan keuangan. Artinya pengetahuan terkait kesiapsiagaan manajemen penanganan bencana dan krisis kesehatan perlu dipahami oleh semua lini profesi kesehatan termasuk perawat. Dalam penanganan bencana perawat dapat masuk kedalam bidang operasional yaitu bidang yang berperan langsung dalam penanganan pasien akibat bencana. Artikel berikut bertujuan untuk menilai persepsi perawat Indonesia tentang pengetahuan, keterampilan, dan kesiapsiagaan mereka tentang manajemen bencana. Disebutkan kesiapsiagaan dan pemahaman perawat tentang perannya dalam menghadapi bencana masih rendah di Indonesia. Oleh karena itu, kapasitas mereka dalam kesiapsiagaan, respon, pemulihan, dan evaluasi bencana perlu ditingkatkan melalui pendidikan berkelanjutan.

Upaya yang diperlukan sangat signifikan karena potensi bencana di Indonesia dan sumber daya perawat yang memadai.Kesiapsiagaan dan kepercayaan perawat dalam menanggapi bencana dipengaruhi oleh pengalaman, pendidikan, dan pelatihan mereka sebelumnya tentang manajemen bencana. Namun, perawat di Indonesia menegaskan dan menegaskan kembali bahwa mereka tidak sepenuhnya siap untuk menangani situasi bencana nyata karena sebagian besar belum melakukan tugas dalam kondisi ekstrem ini. Belum ada program perencanaan bencana yang telah disetujui oleh pusat pelayanan kesehatan di tingkat primer dan rumah sakit, meskipun sebagian besar perawat telah mendapatkan pelatihan penanggulangan bencana. Temuan ini konsisten dengan data sebelumnya dari WHO, melaporkan bahwa kesiapan perawat yang bekerja di layanan medis primer dianggap sebagai prioritas rendah.

SELENGKAPNYA

Diskusi Kurikulum Disaster Health Management : Poltekkes Kemenkes Palu Kunjungi PKMK UGM

kurikulum bencana

kurikulum bencana

Dalam pengembangan kurikulum disaster nursing di prodi pendidikan Ners, termasuk mempertajam kekhususan Poltekkes Kemenkes Palu pada bencana wilayah pantai. Maka tujuan agenda kunjungan ke Divisi Manajemen Bencana Kesehatan (MBK) PKMK FK – KMK UGM ini adalah untuk memperdalam lagi kompetensi dan kurikulum terkait Manajemen Bencana Kesehatan atau Disaster Health Management (DHM) untuk tenaga kesehatan yang diantaranya mahasiswa didik di jurusan keperawatan ini, ungkap Ketua Jurusan Pendidikan Profesi Ners, Doktor Jurana.

SELENGKAPNYA

Bencana Tanpa Batas

Studi sosiologis komunitas manusia dalam bencana telah didasarkan pada peristiwa – peristiwa yang terjadi dengan cepat, terbatas dalam lingkup geografis, dan pengelolaannya dipahami sebagai tahapan – tahapan tanggap darurat, pemulihan, mitigasi dan kesiapsiagaan. Literatur yang lebih baru mempertanyakan konsep – konsep ini, dengan alasan bahwa fenomena yang terjadi secara bertahap seperti kekeringan, kelaparan, dan epidemi patut dipertimbangkan sebagai bencana dan bahwa pengecualian mereka memiliki konsekuensi negatif bagi masyarakat yang terkena dampak, kebijakan publik dalam hal urgensi dan visibilitas dan untuk disiplin itu sendiri sebagai alat – alat analitis penelitian sosiologis tidak dibawa ke dalam peristiwa – peristiwa ini. Penelitii setuju bahwa bencana yang terjadi secara bertahap memerlukan perhatian yang lebih besar dari para ilmuwan sosial dan dalam makalah ini telah membahas dua bencana berkelanjutan yang paling signifikan yang terjadi secara bertahap, dalam lingkup global dan telah menyebabkan dampak besar pada kehidupan, mata pencaharian, masyarakat dan pemerintah yang harus mengatasi efeknya. Bencana – bencana tersebut adalah pandemi virus corona dan perubahan iklim global yang keduanya termasuk dimensi yang menantang definisi bencana yang berlaku. Peneliti memulai dengan pemeriksaan pekerjaan dasar dalam studi sosiologis bencana yang membentuk kerangka konseptual hanya berdasarkan bencana yang terjadi dengan cepat. Fokus peneliti adalah pada beberapa komponen kerangka kerja yang ada untuk mendefinisikan dan mempelajari bencana, yang kami sebut sebagai “perbatasan”. Batas – batas ini bersifat temporal, spasial, pentahapan dan penentuan posisi, yang, menurut pandangan penelitii, harus dikaji ulang, dan sampai tingkat tertentu diperluas atau didefinisikan ulang untuk mengakomodasi berbagai macam bencana yang rentan terhadap dunia global kita. Untuk melakukannya akan memperluas atau mendefinisikan kembali perbatasan ini untuk memasukkan dan mempromosikan pemahaman tentang risiko signifikan yang terkait dengan agen bencana yang bertahap dan berpotensi bencana, dalam lingkup global dan memerlukan kerjasama internasional untuk mengelola. Artikel ini dipublikasikan pada 2021 di jurnal NCBI

SELENGKAPNYA

Melakukan Kerangka Evaluasi Penanggulangan Bencana di bawah Adaptive Organization Change in a School System

Studi jangka panjang ini membentuk kerangka kerja yang berkelanjutan dan tangguh untuk meningkatkan kapasitas organisasi dan kemampuan beradaptasi, berdasarkan pemikiran adaptif, untuk sistem pencegahan bencana sekolah (school disaster prevention system/ SDPS) untuk institusi akademik yang terletak di daerah potensial bencana alam. Karena pergerakan lempeng benua dan efek depresi tropis, bencana sering terjadi di Taiwan. Kami menetapkan kerangka konseptual di bawah aspek ketahanan organisasi untuk SDPS untuk lembaga sekolah yang terletak di daerah bencana potensial di bawah kerangka eksperimen pilihan (CE). Peneliti kemudian mengevaluasi heterogenitas perspektif staf pada program mitigasi bencana adaptif, seperti yang diungkapkan oleh preferensi mereka dan memperkirakan efek marjinal yang terkait dengan berbagai skenario potensial untuk program semacam itu. Kami menemukan bahwa mengintegrasikan kepedulian pemangku kepentingan tentang masalah lingkungan, bekerja sama dengan latihan pemerintah daerah, memberikan pelatihan untuk menjadi sukarelawan bantuan bencana dan bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk melaksanakan proyek pencegahan dan perlindungan bencana adalah semua karakteristik program yang valid. Kajian ini juga menegaskan adanya heterogenitas preferensi peserta untuk pengelolaan adaptif dalam konteks SDPS, yang dibuktikan dengan sikap kesediaan mereka terhadap keikutsertaan dalam kursus pendidikan dan pelatihan, partisipasi dalam pelaksanaan proyek pencegahan dan perlindungan bencana serta menjalani pelatihan menjadi relawan penanggulangan bencana.  Secara khusus, program transformasi pencegahan bencana potensial yang mewujudkan fitur – fitur ini dikaitkan dengan kemauan marjinal tertinggi untuk bekerja (MWTW). Hasil ini dapat membantu dalam pengembangan dan implementasi kerangka evaluasi untuk strategi manajemen berbasis organisasi dalam konteks SDPS.

SELENGKAPNYA

Perkenalkan Manajemen Bencana, Prodi Langka dengan Prospek Karier Menjanjikan

Jakarta – Indonesia tergolong ke dalam wilayah yang cukup rawan bencana. Hal ini bisa terjadi karena Indonesia bermukim di kawasan tumbukan lempeng yang aktif dan wilayah beriklim tropis.

Pakar Geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Dr Amien Widodo menyampaikan sejumlah bencana bisa terjadi di Indonesia.

“Artinya kita bermukim di kawasan rawan gempa, tsunami, likuifaksi, letusan gunung. Pada saat yang sama kita bermukim di kawasan banyak hujan, angin, panas, air laut pasang, ombak besar, yang terjadi berbulan bulan per tahun, juga fenomena el nino, la nina, siklon,” papar Amien kepada detikcom.

Oleh karena itu, dengan kondisi ini, beberapa perguruan tinggi tergerak untuk berkontribusi aktif menanggulangi bencana melalui program studi (prodi) Manajemen Bencana yang disediakan.

Mengenal Prodi Manajemen Bencana

Melansir laman Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), Prodi Manajemen bencana adalah bidang studi yang didedikasikan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang andal dalam manajemen bencana baik sebelum terjadi bencana, saat terjadi bencana, maupun pasca bencana.

Program studi ini memfokuskan diri dalam menciptakan SDM berbudi pekerti luhur yang memiliki kapasitas keilmuan kebencanaan yang komprehensif baik teori maupun praktis.

Harapannya prodi ini menghasilkan lulusan yang punya kemampuan manajerial berjiwa kepemimpinan baik, mampu mengambil keputusan secara cepat dan tepat pada saat kondisi krisis serta mampu merencanakan kegiatan pengurangan risiko bencana secara komprehensif.

Apa yang Dipelajari di Prodi Manajemen Bencana?

Nantinya mahasiswa akan mempelajari seputar sosiologi bencana, pemberdayaan masyarakat, kebijakan, dan kelembagaan dalam penanggulangan bencana serta pengelolaan multibencana.

Selain itu, mahasiswa juga belajar tentang penginderaan jauh dan sistem informasi manajemen bencana hingga monitoring sumber bencana dan peringatan dini.

5 Universitas yang Menyediakan Prodi Manajemen Bencana

Sejumlah universitas baik PTN maupun PTS yang memiliki prodi Manajemen Bencana yakni:

1. Universitas Gadjah Mada (UGM) – Program Pascasarjana
2. Universitas Airlangga (Unair) – Program Pascasarjana
3. Universitas Pembangunan Negara Veteran Yogyakarta (UPN VY) – Program Pascasarjana
4. Universitas Pertahanan RI (Unhan) – Program Pascasarjana
5. Universitas Budi Luhur – Program Sarjana

Dari semua kampus yang menyediakan prodi Manajemen Bencana, hanya Universitas Budi Luhur memiliki program di jenjang Sarjana (S1).

Prospek Karier Lulusan Manajemen Bencana

Dalam laman pasca.unair.ac.id dijelaskan, lulusan Manajemen Bencana bisa memiliki karier di berbagai posisi pekerjaan, antara lain:

– Pengamanan Negara (TNI, POLRI, TARUNA)
– Analisis tata kelola kebencanaan
– Konsultan kebencanaan
– Peneliti tentang kebencanaan
– Lembaga Swadaya Masyarakat bidang kebencanaan
– Ahli kebencanaan pada instansi kebencanaan (Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, dan lain-lain).
– Ahli kebencanaan di instansi terkait (instansi kesehatan, sosial, pendidikan, dan lain-lain).

Kerap Banjir dan Longsor, BNPB Ingatkan Jaga Ekosistem di Perbukitan Garut

JAKARTA – Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) menyampaikan kejadian bencana alam yang terjadi di Kabupaten Garut sepanjang tahun 2022 telah mengakibatkan 19.546 jiwa terdampak dan 1.239 jiwa mengungsi.

Bencana alam seperti banjir dan tanah longsor merupakan jenis bencana langganan yang kerap terjadi di Kabupaten Garut.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya, bencana alam yang mengakibatkan korban jiwa paling tinggi terjadi pada tahun 2016.

“Dan itu kejadian bencana yang mengakibatkan kalau tingginya korban jiwa di tahun 2016 itu adalah tanah longsor 34 jiwa meninggal, 19 jiwa hilang, dan 6.361 jiwa mengungsi,” papar Aam saat konferensi pers secara daring, Senin (25/7/2022).

Menurut Aam, sering terjadinya bencana banjir dan tanah longsor di Kabupaten Garut disebebkan oleh beberapa faktor. Salah satunya faktor geografis yang banyak dikelilingi oleh perbukitan, dengan tingkat kecuraman yang tinggi.

Sehingga, guna mengurangi resiko bencana, Aam mengimbau kepada pemerintah setempat dan masyarakat untuk bersama menjaga ekosistem di daerah perbukitan tersebut dengan baik.

“Maka poin penting kita di sini ekosistem di daerah perbukitan yang harus kita jaga dengan baik supaya daerah resapan air di hulu dan daerah aliran sungai yang terkonservasi dengan baik bisa mengurangi resiko bencana banjir,” tuturnya.

Selain itu, lanjutnya, faktor cuaca juga sangat berpengaruh. Berdasarkan informasi curah hujan satu hari sebelum terjadinya bencana banjir pada Jumat (15/7/2022) lalu, curah hujan di Kabupaten Garut sangat tinggi, sehingga mengakibatkan debit air di hulu tidak tertampung dan menyebabkan banjir dan tanah longsor.

“Jadi kita lihat di sini memang curah hujan di Garut tanggal 14 Juli, 15 Juli itu sangat tinggi, mencapai 100 mm dalam 24 jam, 100 mm dalam 24 jam itu sangat tinggi,” tukasnya.