Japan floods: City of Joso hit by ‘unprecedented’ rain

The city of Joso, north of the capital, Tokyo, was hit by a wall of water after the Kinugawa River burst its banks. Helicopter rescue teams have been plucking people from rooftops.

At least eight people are still missing and 100 need rescuing.

The rains come a day after a tropical storm brought winds of up to 125km/h (78mph) to central Aichi prefecture.

The chief forecaster at the Japan Meteorological Agency (JMA), Takuya Deshimaru, said that the rainfall was “unprecedented” for that part of Japan.

“We can say this is an abnormal situation and there is imminent serious danger,” he went on.

Floodwater in Joso, Japan

Analysis by the BBC’s Mariko Oi in Japan

Japan gets hit by, on average, 20 to 30 such storms each year. This is the 18th this year so despite the heavy rainfall that we have experienced over the last few days, it was difficult to predict how severe the damage would be.

The Kinugawa River bursting its banks took even experts by surprise, especially because of the widespread areas that it has affected.

Just as in previous natural disasters, including the 2011 earthquake and tsunami, Japan’s non-combat military Self-Defence Force is playing a major role in the rescue operations and it is receiving lots of praise so far.

But there are concerns that these storms are getting stronger in recent years and more preparations may be needed in the future.


The hardest-hit areas have been Ibaraki and Tochigi prefectures. Japan’s Meteorological Agency had put both regions on its highest level of alert.

Saori Mori, who lives close to the Tone River in the town of Abiko, told the BBC that “the water is right up to the top of the banks now”.

“We have been told to pack and prepare to evacuate as soon as we are told to,” Ms Mori said, adding that she and her family were “getting ready for a fast exit”.

Television footage from Joso in Ibaraki showed people clinging to the rooftops before helicopter rescue teams winched them to safety.

Entire homes and cars were carried away on the torrent as the Kinugawa River burst its banks after two days of heavy rainfall. The flood waters reached as far as 8km (5 miles) from the breach.

In Tochigi, more than 500mm (19 inches) of rain fell in 24 hours in places, double the amount that normally falls there throughout the whole of September, according to Japanese public broadcaster NHK.

Graphic

Parts of central Tochigi have seen almost 600mm of rain since Monday evening, breaking records.

Many other areas of eastern and north-eastern Japan have also been issued weather warnings, including Fukushima prefecture, home to the still-damaged nuclear plant hit in 2011’s earthquake and tsunami.

The downpour overwhelmed the site’s drainage pumps, a spokesman for operator Tokyo Electric Power (Tepco) said. Huge volumes of water, used to cool the plant’s crippled reactors, are being stored at the site.

Landslides and flooding

The Fire and Disaster Management Agency said 15 people had been injured across Japan. Two were elderly women seriously injured after being knocked over by strong winds.

The BBC’s Mariko Oi says seven people are missing in Joso and one in Tochigi prefecture, and the authorities fear that number will rise.

She said officials confirmed 265 people had been rescued, but at least 100 remain in need of help as rescue efforts are hindered by the night time.

Some areas have had power cuts and transport was disrupted, with many air and train services cancelled or delayed. Some roads were also closed.

Prime Minister Shinzo Abe said the authorities were doing their best.

“The government will stand united and do its best to deal with the disaster… by putting its highest priority on people’s lives,” he told reporters.

Last month, powerful Typhoon Goni hit Japan’s southernmost main island of Kyushu, killing at least one person and injuring 70 others.

Map: Kinugawa River area

Membangun Spiritualitas Tanggap Bencana

Membangun Spiritualitas Tanggap Bencana

Jakarta – Indonesia adalah negara yang rawan bencana. Hal ini terbukti dari berbagai hasil penilaian tentang resiko bencana, seperti Maplecroft (2010) menempatkan Indonesia sebagai negara yang berisiko ekstrim peringkat 2 setelah Bangladesh, disamping juga masih ada indeks resiko yang dibuat oleh UN University dan UNDP. Kenyataan tersebut tidak dapat dipungkiri mengingat kondisi geografi dan geologi Indonesia yang terletak pada pertemuan tiga lempeng raksasa Eurasia, Indoaustralia dan Pasifik, serta berada pada “Ring of Fire”.

Menurut Undang-undang  Nomor 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana, potensi penyebab bencana di Indonesia dapat dikelompokan dalam 3 (tiga) jenis bencana, yaitu bencana alam, bencana non alam, dan bencana sosial. Bencana alam antara lain berupa gempa bumi karena alam, letusan gunung berapi, angin topan, tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan/ lahan karena faktor alam, hama penyakit tanaman, epidemi, waba kejadian luar biasa, dan kejadian antariksa/benda-benda angkasa.

Bencana nonalam antara lain kebakaran hutan/lahan yang disebabkan oleh manusia, kecelakan transportasi, kegagalan konstruksi/teknologi, dampak industri, ledakan nuklir, pencemaran lingkungan dan kegiatan keantariksaan.

Bencana hampir selalu berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Bukan hanya korban jiwa tetapi juga kerusakan dan kerugian ekonomi yang akhirnya memerosotkan kesejahteraan dan ekonomi masyarakat. Situs resmi Badan Penanggulangan Bencana Nasional menyebutkan bahwa telah terjadi 1.093 bencana alam baik bencana hidrometeorologi maupun non-hidrometeorologi di sepanjang tahun 2002 hingga awal tahun 2014. Dari jumlah bencana tersebut, korban meninggal dunia mencapai 190.375 jiwa. Jumlah yang terhitung besar itu belum termasuk dari warga yang hilang.
Spriritualitas

Membangun spiritualitas tanggap bencana merupakan sebuah upaya untuk mengurangi dampak/kerugian akibat bencana di tanah air. Menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia (1997), spiritual adalah kehidupan manusia yang dijalani sesuai dengan hakikat spiritualnya dan karunia rahmat. Kehidupan manusia tidaklah terdiri atas kegiatan alami seperti pengadaan keturunan dan penyediaan makan saja, melainkan terdiri atas kegiatan spiritual, seperti pengetahuan, cinta, keputusan bebas, kontemplasi, atau perenungan, karya belas kasih, dan pengampunan.

Manusia adalah penguasa kehidupan alaminya sekaligus  menguasai tindakan-tindakannya, bahkan tujuan hidupnya dengan pikiran dan pilihan bebasnya. Lebih dari itu, ia mampu merenung kegiatannya kembali. Kehidupan manusia adalah kehidupan dengan penuh kesadaran. Oleh karena itu  manusia adalah pribadi yang dikarunia tanggung jawab dan kemampuan kreatif.

Manusia hidup tidak hanya pekerjaan dan teknologi melainkan juga dari budaya, seni, keahlian, ilmu pengetahuan, cara berpikir,ekspresi diri, dan simbolisme yang mendorong dan menyalurkan  energi jiwanya yang selalu hidup. Walaupun begitu, kehidupan spiritual manusia manusia adalah suatu hal yang lebih tinggi dan lebih penuh misteri daripada cinta akan suatu studi, filsafat, dan seni. Spritualitas adalah lebih dari peradaban. Melalui kehidupan spiritual manusia memasuki dunia pengetahuan dan cinta yang melebihi kodrat.  Berpikir dan bertindak tidak atas dasar budaya dan nalar, melainkan atas dasar iman kepada Tuhan.

Ada tiga tahapan dalam membangun peradaban tanggap bencana , pertama, spritualitas pencegahan bencana. Dalam Al Qur ‘an, Allah SWT berfirman dalam Surat Al Baqarah ayat 11-12.  Dan bila dikatakan kepada mereka:”Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi “. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” Ingatlah, Sesungguhnya mereka Itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.

Dalam ayat Tuhan di atas terdapat larangan secara tegas bagi penghuni bumi untuk membuat kerusakan atau bencana di bumi.  Ironisnya, cukup banyak bencana alam yang terjadi karena ulah manusia. Seperti bencana asap yang pada awal September 2015 menutupi 80 persen wilayah Sumatera. Kuat dugaan bencana alam ini 99 persen merupakan unsur  kesengajaan. Menurut data KLHK, 99 persen kebakaran lahan kali ini disebabkab oleh perbuatan manusia. Yakni membakar lahan. Baik pembukaan lahan pemukiman maupun pertanian atau perkebunan.

Bencana kabut asap ini dalam dua hari telah mengakibatkan 12.633 orang terserang ISPA, 22,6 juta warga terdampak. Komisi VIII DPR mendesak aparat kepolisian segera menangkap oknum-oknum yang diduga sebagai dalang pembakaran hutan. Saleh Daulay, Ketua Komisi VIII meyakini bahwa oknum-oknum tersebut akan kembali ke lahan yang dibakar. Sebab modus pembakaran adalah komersial. Kalau tujuannya untuk memperluas perkebunan mereka pasti kembali. Aparat bisa dengan mudah menyelidiki keterlibatan mereka.

Adanya oknum yang suka menebar bencana merupakan suatu indikator bahwa negeri ini sangat kering dari nuansa spiritual. Spiritualitas baru dipahami sebatas pengakuan untuk mengisi kolom agama di KTP. Mengaku beragama tetapi sangat kering dari nuansa spiritualitas inilah tantangan yang menjadi pekerjaan rumah bangsa ini.

Masjid, gereja, pura, Vihara, dan klenteng merupakan lahan subur untuk menanamkan spiritualitas pencegahan bencana ini. Tanggal 1 Maret 2014, Umat Hindu di Bali pernah melaksanakan ritual “Permintaan Maaf” sebagaimana diberitakan oleh balebengong.net.  Upacara Pemlepeh Jagat ini akan dihelat di Pura Agung Kentel Gumi, Desa Tusan, Banjarangkan, Klungkung.

Upacara ini bertepatan dengan Tilem Sasih Kaulu, puncak bulan gelap pada bulan kedelapan dalam Kalender Bali. Saat itu ada banyak bencana dan kejadian yang aneh-aneh. Menurut I Ketut Sumarta, Sekjen Majelis Utama Desa Pekraman (MUDP) Bali perlu perenungan dan minta maaf, mohon ampun ngaturang guru piduka atau Pemlepeh Jagat. Karena itu, MUDP mengajak umat Hindu untuk memohon keselamatan dan keharmonisan alam beserta isinya dalam bentuk kegiatan upacara agama disertai doa dan persembahyangan bersama.

Namun, upacara, doa, dan sembahyang saja tak cukup. Perlu pula ada aksi nyata. Selain secara ritual, pelestrian lingkungan juga harus dilakukan secara nyata. Misalnya investasi harus sesuai dengan tata ruang desa. Investasi masuk harus koordinasi dengan jajaran adat. Aturannya ada tapi kenyataannya tidak terjadi, setelah ada masalah baru minta bantuan pengurus adat.

Kedua, spiritualitas  tanggap bencana. Berita kitab suci menyebutkan bahwa Nabi Nuh merupakan aktor tanggap bencana yang sangat ulung. Bersumber dari  wahyu Allah, Nabi Nuh mengetahui bahwa akan datang bencana banjir yang sangat dahsyat di negeri itu. Bencana akan datang ketika para penghuni negeri banyak melanggar larangan Tuhan dengan membuat bencana sosial dan lingkungan.

Ironisnya, rezim yang berkuasa di negeri Nuh saat itu tak mempercayai berita bahwa banjir besar akan melanda negeri itu. Mereka bahkan dengan pongah dan takabur melecehkan aksi tanggap bencana yang dilakukan Nuh.  Aksi tanggap bencana Nuh dan pengikutnya yang sedang membuat kapal bagi mereka adalah aksi komedi yang tidak lucu.

Bencana pun akhirnya  tiba. Nuh beserta kaumnya naik ke kapal yang sudah dilengkapi dengan logistik  untuk keperluan berhari-hari. Bahkan, kapal ini juga mengangkut sepasang hewan yang ada pada masa itu sebagai bentuk langkah untuk melestarikan kehidupan satwa. 

Di masa kini, Jepang merupakan contoh sebuah negara yang  sangat tanggap bencana. Muhammad Joe Sekigawa (2009) menuliskan di blog pribadinya bahwa masyarakat Jepang rajin melakukan pelatihan bencana. Di dekat pintu, mereka mempersiapkan ransel yang berisi air botolan, makanan kering atau makanan kalengan, obat-obatan P3K, uang tunai, pakaian kering, radio, senter, dan beberapa baterai pengganti. Masyarakat bisa menambahkan suplemen, kacamata, obat-obatan khusus, atau makanan bayi dalam tas khusus mereka. Alat-alat penyelamatan gempa bahkan dijual di supermarket.

Pelatihan menghadapi bencana dilakukan secara rutin, bahkan dijadikan
mata pelajaran khusus di sekolah-sekolah dasar. Masyarakat Jepang tahu mereka harus melindungi kepala dengan meja yang kuat, agar tidak kejatuhan benda-benda keras. Penduduk Jepang dianjurkan menyimpan sepatu di bawah tempat tidur dan sepeda di halaman. Sepatu untuk mengamankan kaki dari pecahan kaca. Sedangkan sepeda adalah alat transportasi yang paling tepat saat gempa.

Apa rahasia Jepang  sehingga bisa menjadi Negara yang tanggap bencana ? Spiritualitas adalah jawabannya. Jepang  terkenal memiliki sikap spiritualitas yang terkenal dengan Budhisme Zen. Buddha Zen masuk di Jepang pada tahun 1191. Waktu itu Ei-Sai membawanya dari Cina. Ajaran inti Zen ini bertujuan pada kesempurnaan kepribadian.

Indonesia punya modal yang cukup besar untuk mengikuti Jepang dalam membangun spiritualitas tanggap bencana.  Kehidupan spiritual di tanah air jauh lebih beragam daripada negeri matahari terbit. Ini bisa dilakukan melalui jalur pendidikan di sekolah maupun luar sekolah. Tinggal menunggu niat baik pemerintah untuk mewujudkan tujuan mulia ini.

Ketiga, spiritualitas pasca (sesudah)  bencana. Umar Bin Khattab merupakan manusia dengan dosis spiritualitas yang tinggi.  Beliau mengaplikasikan dalam segala bidang kehidupan termasuk  dalam menghadapi bencana. Saat itu paceklik melanda  jazirah Arab. Ini ditandai dengan peristiwa gagal panen di lembah Sungai Euprat,Tigris dan Nil. Akibatnya, berbagai kabilah Arab dari berbagai wilayah yang luas itu  membanjiri ibu kota Madinah untuk minta bantuan pemerintah pusat.  .

Muhammad Nurdin (2011) menuliskan bahwa Khalifah Umar bin Khattab segera membentuk Tim Sosial yang bertugas untuk memberikan bantuan pangan kepada korban. Tim ini terdiri dari Yazid bin Ukhtinnamur, Miswar bin Makhramah,  Abdurrahman bin  Abdul Qari dan Abdullah bin Utbah bin Mas’ud. Setiap sore mereka berkumpul di kediaman Khalifah Umar bin Khattab untuk melaporkan berbagai aktifitas mereka sehari-hari. Selain itu, juga  merencanakan program kerja untuk hari selanjutnya. .

Pada suatu malam Khalifah Umar bin Khattab  berkata, “Hitunglah orang -orang yang makan malam di tempat ini”. Setelah dihitung dengan sangat cermat ternyata jumlahnya tujuh ribu orang. Selanjutnya Khalifah Umar bin Khattab berkata lagi “Hitunglah jumlah keluarga yang tidak mampu datang  kemari !”.  Tim Sosial segera menghitungnya dengan cermat, ternyata jumlahnya ada empat puluh ribu orang.

Ketika musim paceklik usai, maka segera Khalifah Umar Bin Khattab mengintruksikan Tim Sosial untuk mengantarkan keberangkatan para pengungsi ke tempat tinggal masing-masing. Dan setiap rombongan pengungsi diberi perbekalan bahan makanan secukupnya.

Spiritualitas dalam menangani bencana seperti Khalifah Umar ini harus menjadi kaca benggala bagi pemerintah. Saat ini pemerintah berada dalam jalur yang benar untuk melakukan kloning model penanganan bencana. Hal ini ditandai dengan berdirinya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di 468 provinsi dan kabupaten/kota.  Saat ini hanya 52 kabupaten dan 22 kota yang belum memiliki BPBD.

BPBD bisa diperankan untuk menanamkan spiritualitas tanggap bencana di tanah air.  Sehingga untuk bekerja tak perlu menunggu bencana datang. Sekolah menjadi lahan paling subur untuk menyebarluaskan kesadaran tanggap bencana sebagaimana diajarkan di sekolahnya Upin dan Ipin melalui latihan tanggap bencana.(*)

sumber: KabarIndonesia

Demokrat Dorong Kemenkes Bangun Rumah Sakit Karantina Bencana

Ketua Komisi IX DPR Dede Yusuf.

JAKARTA — Fraksi Partai Demokrat akan mendorong Kementerian Kesehatan untuk membangun rumah sakit karantina bencana. Hal itu agar penanganan kesehatan korban bencana dapat diatasi dengan cepat.

“Kami akan mendorong Menkes action plan membuat rumah sakit karantina bencana dalam masalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA),” kata Ketua Komisi IX DPR RI Dede Yusuf.

Dede Menegaskan, Demokrat akan terus membantu pemerintah dalam mengatasi bencana kabut asap yang semakin parah. Bahkan hingga saat ini kabut telah menimpa warga Sumatera dan Kalimantan. Ia mengungkapkan, saat ini demokrat telah mendirikan posko bencana di enam provinsi yang terkena dampak kabut asap.

“Kita telah mengirim 50000 masker dan akan mendorong menkes dalam pembuatan rumah sakit karantina bencana,” ujarnya.

Seperti diketahui, saat ini kabut asap kian menutupi beberapa di beberapa daerah di Sumatera dan Kalimantan akibat kebakaran hutan. Data kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan.

Menurut pantauan satelit dari NASA pada Selasa (1 September), di Sumatera ada 198 titik panas yaitu di Jambi 59, Lampung 3, Sumbar 7, Sumsel 46, Riau 82 dan Sumut 1. Sedangkan di Kalimantan ada 591 titik panas yaitu Kalbar 74, Kalsel 30, Kalteng 313, Kaltim 138 dan Kaltara 36.

Kerugian kejadian kabut asap ini mengakibatkan sekolah diliburkan karena kualitas udara di daerah-daerah tersebut termasuk kategori tidak sehat dan berbahaya bagi masyarakat. Selain itu, kerugian lainnya juga di alami oleh maskapai penerbangan yang gagal terbang maupun mendarat baik penerbangan domestik maupun internasional.

sumber: REPUBLIKA.CO.ID

Banjir Landa Korut, 40 Nyawa Terenggut

PYONGYANG – Banjir bandang yang melanda Kota Rajin, di Korea Utara (Korut) pada Sabtu dan Minggu (22-23/8/2015) menewaskan 40 orang.

Juru Bicara Federasi Palang Merah Internasional, Hler Gudjonsson, menyatakan bencana banjir yang dipicu hujan deras itu juga mengakibatkan lebih dari 11.000 orang mengungsi.

Seorang sumber seperti dilansir Reuters, Rabu (26/8/2015) menuturkan hujan lebat mengguyur ibukota Provinsi Hamgyong Utara akhir pekan kemarin.

“Hujan benar-benar deras dan pada Sabtu pagi kota [Rajin] banjir. Mobil-mobil melaju melewati genangan air seperti perahu,” tutur sumber yang tak disebutkan namanya itu.

Media pemerintah Korut mengatakan banjir di kota dekat wilayah perbatasan Rusia dan Tiongkok itu merenggut 40 korban jiwa dan menimbulkan kerusakan besar. Banjir melanda setelah Korut pada Juni lalu disebut mengalami kekeringan terburuk dalam satu abad terakhir. Sumber lain di Rajin mengatakan lahan pertanian juga tak luput dari genangan air.

“Lahan-lahan [pertanian] benar-benar dipenuhi air. Sawah tampak seperti danau,” ujarnya.

Sementara menyusul terpaan hujan deras, otoritas Tiongkok bekerja sama dengan perjabat perbatasan Korut mengevakuasi 484 warganya. Para turis itu tengah menghadiri sebuah pameran dagang di Rajin. Situs berita Tiongkok mengatakan ratusan warga itu selamat dari bencana banjir. Tiongkok juga mengirimkan bantuan truk, mesin pengangkat barang dan sejumlah alat berat lain ke Rajin.

sumber: solopos

Manado Bersiap untuk Bencana Terburuk Sepanjang Sejarah

BREAKING NEWS: Manado Bersiap untuk Bencana Terburuk Sepanjang Sejarah

MANADO – Warga Manado harus bersiap menghadapi bencana kekeringan terburuk sepanjang sejarah.

Ketua BPBD Kota Manado Max Tatahede mengatakan, sesuai prediksi BMKG, El Nino bakalan menguat pada September hingga Desember tahun ini.

“El Nino akan menguat beberapa bulan ke depan, menyebabkan cuaca semakin panas,” ujarnya. Sejauh ini, kata Max, dampak El Nino sudah terasa.

Sebanyak 12 Kelurahan sudah mengalami krisis air. Jika El Nino menguat, jumlah Kelurahan yang mengalami krisis bakalan bertambah.

“Memang sudah ada Kelurahan yang krisis air, namun keadaan secara umum masih terkendali, setiap hari kami selalu memasok air di sejumlah wilayah yang benar – benar sulit air,” katanya.

Max sudah menyiapkan rencana mengantisipasi skenario terburuk.

Ia berencana bekerjasama dengan BPBD Sulut untuk menyelenggarakan pemberian air secara besar – besaran. (Tribun Manado/Arthur Rompis)

Disasters require a community response

http://www.redcross.org/images/MEDIA_CustomProductCatalog/m8640101_514x260-strengthening-regional-disaster-response-asia.jpg

The anniversaries this week of Hurricane Katrina (10th) and Tropical Storm Irene (4th) carry lessons for a nation and for a community that cares about its most vulnerable members.

Here in the Berkshires, we learned on the fly how to pull together to support neighbors hit by disaster. When, in Williamstown, five percent of the non-student population all at once became homeless, the town government, faith communities, college, and individuals rallied to shelter them, to help salvage their possessions, and to support them in handling their shock. Most of the approximately 300 people lived in The Spruces, a retirement mobile home community.

The Red Cross and FEMA then helped move the recovery forward. Most of those displaced are now in permanent housing (though, sadly, for some that has meant leaving the area). And in the coming weeks, applications will be open for Highland Woods, the new senior affordable housing complex made possible by Higher Ground, with state, town, and college support.

This experience, and the relationships that it built, have opened our eyes to the challenges of responding to disasters.

There is another lesson worth noting, though. Somehow, as was the case in New Orleans and is true across America, our most vulnerable citizens live in the most dangerous places, by economic necessity.

The most effective, and most humane preparation we make, therefore, is the difficult but vital work of identifying and moving people in jeopardy before the next disaster strikes.

David Mangun Williamstown The writer is president of Higher Ground, the nonprofit group formed to support survivors of Tropical Storm Irene and to advance affordable housing in the region.

source: http://www.berkshireeagle.com/letters/ci_28707462/letter-disasters-require-community-response

Mensos Resmikan 208 Rumah Relokasi Rawan Banjir

Palangkaraya: Pemerintah meresmikan 208 rumah bagi warga yang rawan terkena banjir di Desa Tanjung Karitak dan Desa Tampelas, Kecamatan Sepang, Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Rumah diharapkan jadi tempat huni sementara warga saat Sungai Kahayan meluap.

“Jadi rumah bencana ini diperuntukkan bagi warga yang biasanya terkena banjir. Jadi ada rumah khusus untuk menanggulangi bencana,” kata Menteri Khofifah di Desa Tampelas, Kecamatan Sepang, Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah, Rabu (26/8/2015).

Tak hanya menyediakan rumah bagi warga Desa Tampelas dan Karitak. Khofifah mengatakan pihaknya juga menyediakan petugas untuk membantu warga saat banjir datang.

“Nanti juga ada pedamping dari Kemsos yang ditugaskan di sini. Supaya bisa mengarahkan warga saat bencana datang,” ucap Khofifah.

Mengenai dana pembangunan rumah, Khofifah membeberkan dana berasal dari ‘banyak tangan’ pemerintah. Tak hanya itu, pengerjaan juga dilakukan secara swadaya oleh masyarakat.

“193 rumah dari APBN dan APBD Gunung Mas, masing-masing sebesar Rp15 juta sehingga jumlahnya Rp30 juta satu rumah. Sama 15 rumah lainnya dari APBD Provinsi dan APBD Kabupaten sebesar Rp30 juta rupiah,” beber dia.
REN

sumber: metrotvnews

4.0 earthquake strikes near Mammoth Lakes

Earthquake strikes near Mammoth Lakes

A shallow magnitude 4.0 earthquake was reported Saturday morning 10 miles from Mammoth Lakes, according to the U.S. Geological Survey. The temblor occurred at 6:34 a.m. Pacific time at a depth of 4.3 miles.

According to the USGS, the epicenter was 73 miles from Clovis, Calif., 73 miles from Sanger, Calif. and 77 miles from Reedley, Calif.

In the last 10 days, there have been no earthquakes of magnitude 3.0 or greater centered nearby.

This information comes from the USGS Earthquake Notification Service and this post was created by an algorithm written by the author.

120 Jalur Evakuasi Dibangun Kawasan Rawan Tsunami di Bengkulu

Suara.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu mencatat ada enam kecamatan di sana rawan diterjang tsunami. Di sana ada 15 kecamatan di sepanjang pesisir pantai.

“Saat gempa bumi berkekuatan besar keenam kecamatan di daerah ini rawan terjadi tsunami,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mukomuko Ramdani, di Mukomuko, Sabtu (22/8/2015).

Keenam kecamatan itu yakni Kecamatan Air Rami, Kecamatan Ipuh, Desa Sinar Laut Kecamatan Pondok Suguh, Kecamatan Teramang Jaya, Kecamatan Air Dikit, Kecamatan Kota Mukomuko, dan satuan pemukiman 10 Kecamatan Lubuk Pinang.

Ia mengatakan, berbagai sosialisasi dan penyuluhan terkait kesiapsiagaan bencana alam tsunami sudah sering disampaikan kepada warga masyarakat di enam kecamatan di daerah itu. Instansi itu juga pernah menggelar beberapa kegiatan simulasi tsunami di wilayah tersebut agar warganya selalu siap ketika bencana alam melanda daerah itu.

Di enam kecamatan itu juga sudah disiapkan sebanyak 120 titik jalur evakuasi bagi warga setempat yang menyelamatkan diri dari bencana tsunami.

“Jalur evakuasi itu mengarah ke wilayah paling tinggi atau jauh dari pinggir pantai di enam wilayah tersebut,” ujarnya.

Belum lama ini, katanya, instansi itu juga sudah memasang sebanyak 122 rambu peringatan untuk petunjuk arah menuju jalur evakuasi tsunami di daerah itu.

“Sebaiknya warga selalu siap siaga bilan terjadi bencana alam tidak hanya tsunami tetapi gempa bumi dan banjir,” ujarnya. (Antara)

Earthquake, tsunami threat examined to prepare for worst

WHEN the 2004 Boxing Day tsunami struck, killing 230,000 people across 14 countries, the level of death and devastation came as a wake-up call to governments and disaster managers.

The 9.1 magnitude undersea earthquake that triggered an upward lift of the seabed by several metres and displaced 30 cubic kilometres of water was the third largest in recorded history.

The resultant tsunami travelled at 800kmh through deep water before slowing and increasing in height by up to 10 metres as it crashed ashore.

The Indonesian island of Sumatra and its Aceh northern tip alone saw 168,000 people killed.

Surging waves hit against the breakwater in Udono in a port town of Kiho, Mie Prefecture, central Japan on September 21, 2011. Surging waves hit against the breakwater in Udono in a port town of Kiho, Mie Prefecture, central Japan on September 21, 2011. Daiji Yanagida

By comparison, the 5.8 magnitude earthquake experienced off the Sunshine Coast was barely a ripple causing only minor structural damage and no injuries.

In fact our region is more at risk from an onshore earthquake than a tsunami triggered by one off-shore.

That does not mean it’s a threat ignored.

A series of planning exercises rolled out over the past couple of years have tested early warning systems, evacuation plans and disaster coordination at a local, state and federal level.

Professor Tim Smith, the inaugural director of the University of the Sunshine Coast Sustainability Research Centre, warns that while the plans in place are robust, their efficacy won’t be fully understood until tested by a real event.

He says the key to minimising risk is to keep exploring ways to improve community resilience.

Geoscience Australia puts the chance of a M (magnitude) 5.5 directly under the urban strip running from the Sunshine Coast, through Brisbane to the Gold Coast is a 1-in-1200-year event.

“If the 1989 M5.4 Newcastle earthquake is anything to go by, a M5.5 under this urban strip could be damaging, particularly to lower-rise older buildings on soft soils,” a spokesman said.

“However low, the potential for a magnitude 5+ earthquake onshore, and its impact, is many times m

Geoscience Australia says tsunami risk in eastern Australia predominantly comes from large earthquakes south of New Zealand with the main impact likely to be to the southern states of Victoria and Tasmania.

“Queensland is fairly well protected from tsunami in general,” the spokesman said.

“Very large (M8.5+) earthquakes in the Solomon Islands and Vanuatu will cause large tsunami that are directed towards Queensland, but the Great Barrier Reef acts as a giant barrier so the wave energy getting to the Queensland coast is diminished significantly.

“A large (M6.5+) earthquake on the continental shelf might cause a moderate tsunami that might do some damage to very low-lying infrastructure, but as the chance of a M6.5 occurring off the Sunshine Coast is a 1-in-5000 year event, meaning the overall risk is very small.”

Despite this Geoscience Australia has modelled many “Rim of Fire” earthquake scenarios which may create a tsunami and then modelled whether a generated tsunami is likely to affect the Australian coastline.

The Queensland Government conducted a study in 2013 to identify the extent of tsunami hazard for the Queensland east coast.

A site specific study was conducted for the Sunshine Coast which identified the continuous dune system provided protection for most of the community.

Vulnerable areas were defined as those areas that are less than 10 metres above sea-level and within one kilometre from beaches as well as the water edges of harbours and coastal estuaries.

Responsibility for evacuation plans for vulnerable coastal communities rest with the relevant local authorities.

“Each local government has a Disaster Management Plan based on risk and hazards,” a Palaszczuk Government spokesman said.

“The Palaszczuk Government works continuously with local governments and Disaster Districts to improve planning and disaster response.

“Our government is working with all councils to enhance their Emergency Alert arrangements to ensure communities are warned of impending threats.”

In February, the State Disaster Coordination Centre participated in Exercise PACWave15, an international tsunami response exercise coordinated nationally through the Joint Australian Tsunami Warning Centre.

“This exercise was used to test the ability of the State Disaster Coordination Centre to receive and forward alert messaging from the Joint Australian Tsunami Warning Centre to disaster management response stakeholders,” a spokesman said.

“The principle of disaster management is ‘all hazards’ based, so the response to an earthquake is similar to other disaster events.

“Local government regularly exercise disaster response mechanisms through practical exercising as well as desktop analysis.”

ore likely than that of an offshore earthquake and tsunami impacting south-east Queensland.”

source: sunshinecoastdaily