Anak-anak dan Bencana Alam

anak-bencana-siaga

anak-bencana-siaga

Gunung Sinabung meletus beberapa waktu lalu, Raung dan Gamalama juga masih terus menyemburkan lahar panas. Selain aktivitas gunung api, 21 Juli lalu tebing air terjun Seduso di Nganjuk, Jawa Timur longsor. Tiga orang tewas dan 12 luka-luka. Lalu, ketika di beberapa wilayah Indonesia kekeringan karena kemarau panjang, Aceh justru kebanjiran di pertengahan Juli lalu. 

Dengan berbagai bencana yang terus mengintai, lazimlah jika Indonesia disebut sebagai laboratorium bencana. Posisi Indonesia yang berada di antara garis lempeng membuat rentan dari bahaya gempa dan tsunami. Juga jalur gunung api yang melintas wilayah-wilayah di Indonesia memperkuat kondisi rawan bencana. 

Bencana juga mengintai Indonesia karena perubahan iklim yang kian tak terduga. Kejadian seperti kebakaran hutan, kekeringan dan banjir kerap terjadi tiap tahun. Sementara di masa mendatang, serangan hawa panas yang mematikan bukan tak mungkin menerpa Indonesia, yang berada di iklim tropis.

Hal tersebut terbukti dari catatan terakhir yang dikeluarkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Menurut catatan BNPB, pada semester pertama tahun 2014 saja, sudah ada 1.559 bencana terjadi di Indonesia. Di antara ribuan bencana tersebut setidaknya ada 490 orang tewas, sementara ribuan lain harus mengungsi dan banyak dari mereka harus kehilangan keluarga, rumah dan harta benda.

Dengan berbagai macam bencana, yang paling rentan terdampak adalah anak-anak dan kaum perempuan. Badan dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui UNFPA mengklasifikasi tingkat kerentanan perempuan, anak perempuan dan remaja meningkat dalam situasi bencana. Bukan hanya saat bencana, juga ketika bencana itu sudah berlalu. Mereka yang kehilangan orang tua dan suami berisiko menghadapi pelecehan seksual dan perdagangan manusia. 

Menurut catatan UNFPA lebih dari 50 juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat adanya konflik dan bencana alam di dunia. Tiga per empat dari total angka tersebut adalah kelompok perempuan, anak perempuan dan remaja. 

 

Banjir

Pada kasus bencana banjir di Jakarta, perempuan dan anak-anak terbukti sebagai korban yang paling rentan. Seperti ketika terjadi banjir besar pada 2002 ratusan anak-anak harus menginap di pinggir-pinggir jalan, tanpa alas tidur dan atap pelindung. Banjir besar yang kemudian makin kerap berkunjung di tahun-tahun berikutnya memperlihatkan kondisi yang tak banyak berubah.  

Pada banjir 2006, bahkan pernah ada kejadian perahu milik Mapala UI yang terbalik di daerah Jakarta Barat yang berisi anak-anak dan perempuan. Penyebab terbaliknya lantaran perempuan dan anak-anak yang di dalamnya tak mengerti apa yang harus dilakukan, saat berada di dalam perahu evakuasi.

Oktora Hartanto, kapten kapal yang saat itu membawa perahu karet mengatakan kejadian itu begitu cepat, karena arus yang terlalu kencang dan berada di gang-gang sempit membuat perahu tiba-tiba menjadi oleng. 

“Perempuan dan anak-anak yang berada di dalam perahu tak bisa diam mereka terus bergerak karena merasa takut. Ditambah arus kencang membuat laju perahu jadi tak terkendalikan,” urai Oktora saat itu.

Itu baru satu kejadian, di banyak peristiwa bencana anak-anak juga menjadi kelompok yang paling rentan terkena penyakit saat harus mengungsi karena banjir. Kondisi tubuh yang tak sehat, serta pasokan makanan yang tak pasti, membuat kesehatan anak-anak menjadi sangat lemah.

 

Letusan Gunung Api

Saat letusan gunung api Merapi pada 2004, anak-anak harus menjadi bagian paling menderita, lantaran kehilangan orang tua dan kesehatan yang memburuk karena menghisap abu vulkanik. Sriyono, seorang anak yang pernah mengungsi karena mengatakan ia harus menjauh dari rumahnya di kaki gunung Merbabu, karena debu vulkanik Merapi terlalu tebal.

“Sayangnya apa yang diajarkan saat di sekolah tentang evakuasi sangat jauh berbeda dengan kenyataan sebenarnya,” urai Sriyono, yang ditemui akhir pekan pertama Juli 2015.

Ia juga merasa tak sreg dengan apa yang diajarkan guru-guru mengenai letusan gunung api. Menurutnya semua yang diajarkan seperti tak sesuai dengan kenyataan saat ini. Seperti tanda-tanda gunung akan meletus, para guru mengatakan akan banyak satwa yang akan turun gunung. Tapi kenyataannya saat ini satwa di gunung-gunung sudah hampir tak ada, sehingga pertanda melalui satwa tersebut sebenarnya sudah tak sesuai dengan perubahan yang ada.

Menurutnya pula apa yang pernah dilakukan untuk menyelamatkan diri, lebih banyak berupa insting saja. Sudah jelas yang terbaik yang bisa dilakukan saat gunung akan meletus adalah bergerak sejauh-jauhnya menghindari lokasi terdampak letusan.

Indonesia harus tepat dalam mengambil tindakan ketika bencana melanda. Perlindungan terhadap kaum perempuan, anak dan remaja harus menjadi perhatian utama. Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial, Andi ZA Dulung, mengatakan bahwa pemerintah Indonesia berkomitmen melindungi kelompok penduduk rentan. Ketika krisis terjadi, bantuan kemanusiaan harus cepat dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat yang menjadi korban. Di samping itu, perempuan, anak dan remaja memerlukan bantuan khusus. Bantuan tersebut harus dilakukan sejak awal terjadinya bencana sampai masa pemulihan.

Gempa 7,2 SR Guncang Mamberamo Raya Papua, Masyarakat Panik Berhamburan

Gempa 7,2 SR Guncang Mamberamo Raya Papua, Masyarakat Panik Berhamburan

Papua – Gempa berkekuatan 7,2 skala Richter (SR) mengguncang Papua, pagi ini. Gempa dirasakan kuat di daerah Mamberamo Raya.

Hal tersebut dilaporkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam situsnya seperti dilihat detikcom, Selasa (28/7/2015) pagi. Gempa terjadi hari ini pukul 04.41.23.

Pusat gempa berada di 75 Km tenggara Mamberamo Raya, 81 Km timur laut Tolikara, dan 99 Km barat laut Mamberamo Tengah, Papua. Gempa di posisi 2.87 lintang selatan dan 138.53 bujur timur.

Pusat gempa di darat pada kedalaman 49 Km. Gempa ini disebut BMKG tidak berpotensi tsunami.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho melaporkan, posko BNPB telah mengkonfirmasi BPBD Papua dan dilaporkan gempa dirasakan sangat kuat selama 4 detik.

“Masyarakat panik dan berhamburan ke luar rumah. Belum ada laporan kerusakan bangunan dan korban jiwa. Wilayah yang sulit dijangkau dan keterbatasan aksesibilitas menyebabkan kesulitan pemantauan. BPBD Provinsi Papua masih berkoordinasi dengan BPBD dan aparat setempat. Pendataan masih dilakukan,” jelas Sutopo dalam rilis yang diterima detikcom, Selasa (28/7).

Berdasarkan gempa yang dirasakan tercatat di Jayapura II-III MMI, Sarmi IV MMI, Wamena III MMI, Sentani II-III, dan Biak II-III. Artinya, lanjut Sutopo, gempa dirasakan lemah di daerah-daerah di luar pusat gempa.

Dijelaskan Sutopo, wilayah di utara daratan di Provinsi Papua seperti di Kabupaten Yapen, Waropen, Jayapura, dan Mamberamo, memang rawan gempa. Di wilayah ini ada sesar aktif yaitu Sesar Yapen bergerak ke barat-timur rata-rata 2-5 cm per tahun, dan Sesar Mamberamo. Berdasarkan sejarah gempa di daerah ini pernan terjadi gempa besar seperi gempa 7,9 (1926), 8,1 (1971).

Daerah Indonesia bagian Timur menurut Sutopo memang rawan gempa dan tsunami. Namun terbatasnya riset mengenai gempa dan tsunami, juga infrastruktur kebencanaan di daerah ini menyebabkan belum dapat dikenali karakteristik gempa dan tsunami.

“Begitu juga dengan mitigasi bencana juga masih terbatas dibandingkan dengan daerah di Indonesia bagian Barat. Ada baiknya Kementerian Ristek dan Dikti, lembaga-lembaga riset nasional (BPPT, BMKG, Badan Geologi, LIPI, dan lainnya) mengalokasikan anggaran yang memadai untuk meningkatkan riset kebencanaan di daerah ini,” sambung dia.

sumber: detik.com

Environment change directly linked with people’s health, well being: Speakers

https://3a09223b3cd53870eeaa-7f75e5eb51943043279413a54aaa858a.ssl.cf3.rackcdn.com/environment_05_temp-1428575120-55265390-620x348.jpg

Islamabad—Speakers at a seminar on Friday linked the natural disasters with health challenges saying the government needed to double efforts to deal with challenges in the natural calamity-hit areas. Minister for National Health Services Regulations & Coordination (NHSRC) Saira Afzal Tarar, President Heartfile Pakistan Dr Sania Nishtar, Federal Secretary Seerat Asghar, President of The Rockefeller Foundation Dr Judith Rodin were among the speakers highlighting the health woes of people living in natural disaster-hit areas.

Speaking on the occasion, National Health Services Minister Saira Afzal Tarar said, “Our country is frequently challenged by natural disasters; hence we are fully cognizant of the need to accord this area priority.”

A report ‘Planetary Health Commission Report’ was also launched on the occasion. Health Minister said environmental challenges had been double edged for us in terms of policy responses. Monsoon flooding brings in its wake acute challenges of an emergency nature but on the other hand they are the slow and insidious water shortage issues, she gave an example.

We see evidence of both, day to day, she said. She said the government’s foremost concern was to ensure safety of the population there and get them on the road to recovery and rehabilitation soon.

A new report released today by The Rockefeller Foundation-Lancet Commission on Planetary Health, calls for immediate, global action to protect the health of human civilization and the natural systems on which it depends. The report, Safeguarding Human Health in the Anthropocene Epoch, provides the first ever comprehensive examination of evidence showing how the health and well-being of future generations is being jeopardised by the unprecedented degradation of the planet’s natural resources and ecological systems.

The report was written by a Commission of 15 leading academics and policymakers from institutions in 8 countries, including Dr. Sania Nishtar, President Heartfile Pakistan. It demonstrates how human activity and development have pushed to near breaking point the boundaries of the natural systems that support and sustain human civilizations.

“The Rockefeller Foundation-Lancet Planetary Health Commission has issued a dire warning: human action is undermining the resilience of the earth’s natural systems, and in so doing we are compromising our own resilience, along with our health and, frankly, our future,” said Dr Judith Rodin, President of The Rockefeller Foundation. “We are in a symbiotic relationship with our planet, and we must start to value that in very real ways.

sumber: http://pakobserver.net/

Gempa 5 SR Guncang Nias Pagi Ini

Jakarta – Gempa berkekuatan 5 skala Richter mengguncang Nias, Sumatera Utara, pagi ini. Tepatnya pada pukul 06.55 WIB.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika mencatat gempa tersebut tidak berpotensi tsunami. Gempa berpusat di 115 kilometer barat daya Nias Barat dengan kedalaman 71 kilometer.

Sebelumnya, Minggu 26 Juli 2015, gempa juga mengguncang Malang, Jawa Timur. Stasiun Geofisika Karangkates Malang, Jawa Timur, mencatat 2 gempa bumi mengguncang wilayah itu kemarin.

Gempa pertama terjadi pukul 14.05 WIB. Gempa berkekuatan 5,9 skala Richter (SR) itu berkedalaman 56 kilometer di 150 kilometer selatan Malang.

Gempa susulan terjadi lagi pada 15.51 WIB dan masih berpusat di lokasi yang sama. Gempa susulan ini berkekuatan lebih kecil, yakni hanya 4,2 SR.

Namun, gempa tersebut tercatat sebagai lindu dengan kekuatan tertinggi yang terjadi di Malang sepanjang 2015. Gempa sebelumnya hanya berkekuatan di bawah 5,2 SR. (Bob/Ali)

 

sumber: Liputan6.com

BMKG Pantau 10 Titik Api di Sumbar

Padang – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Padang memantau sekitar 10 titik panas (hotspot) di Sumatera Barat hingga Senin. Terlebih, curah hujan di wilayah ini relatif rendah.

“Titik panas itu tersebar di kabupaten dan kota di Sumbar, masing-masing lima titik di Kabupaten Dharmasraya, tiga titik di Kabupaten Limapuluh Kota, dan dua titik di daerah Sijunjung,” kata Kasi Observasi dan Informasi BMKG Padang, Budi Iman Samiaji di Padang, Senin (27/7/2015).

Menurut dia, saat ini curah hujan di daerah Sumbar relatif rendah dengan kelembapan mencapai 80 persen sehingga banyak lahan yang mengalami kekeringan.

“Lahan kering ini rentan kebakaran jika tidak hati-hati. Apalagi jika perilaku pembakaran lahan masih dilakukan oleh masyarakat,” kata Budi.

BMKG memprediksi curah hujan rendah di Sumbar masih akan berlangsung hingga pertengahan Agustus.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkap ada 308 titik panas di wilayah Sumatera dari pantauan satelit Modis dan (Terra-Aqua) pada Minggu 26 Juli 2015.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho menyampaikan ratusan titik panas ini tersebar di Riau 122 titik, Sumatera Selatan 59 titik, Jambi 58 titik, Bengkulu 10 titik, Sumbar 19 titik, Sumut 25 titik, Bangka Belitung sembilan titik, Kepulauan Riau satu titik dan lima titik di Lampung.

Karena itu, dia meminta kepala daerah dan aparat untuk aktif turun ke lapangan melakukan pencegahan di daerahnya masing-masing. Sebab, pencegahan lebih efektif dari pemadaman.

Dia juga mengingatkan adanya ancaman kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sumatera menyusul meningkatnya jumlah titik panas akibat adanya penguatan aktivitas badai El Nino.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi badai El Nino akan melanda Indonesia hingga November 2015 ini. Akibatnya, awal musim hujan di beberapa wilayah di Indonesia akan mengalami kemunduran. (Ant/Bob/Ali)

sumber: Liputan6.com

15 Orang Tewas Akibat Cuaca Dingin Ekstrem di Papua

Jayapura – Akibat cuaca dingin ekstrem yang membekukan Kabupaten Lanny Jaya dan Puncak Jaya, 15 warga meninggal dunia. Sebagian besar korban meninggal akibat tak tahan suhu dingin ekstrem dan kekurangan bahan makanan karena ladang mereka membeku.

Seperti ditayangkan Liputan 6 Pagi SCTV, Minggu (26/7/2015), beginilah kondisi embun beku yang merusak tanaman di kebun warga yang berdiam di Distrik Agadugume, Kabupaten Puncak, setelah hujan es dan embun beku melanda selama sepekan sejak awal Juli hingga 15 Juli di distrik ini.

Hal yang sama juga terjadi di 3 distrik di Kabupaten Lanny Jaya yaitu Distrik Kuyawage, Distrik Goa Baliem dan Distrik Wano Barat. Tak hanya tanaman pangan yang rusak, pohon-pohon juga mengering akibat serangan cuaca dingin ekstrem.

Kepala dinas kesehatan Kabupaten Lanny Jaya menyatakan, 15 warga meninggal dunia akibat cuaca ekstrem.

Tim medis yang diturunkan dinas kesehatan kabupaten Lanny Jaya menemukan banyak anak-anak terserang diare dan sesak pernapasan atau ispa di lokasi distrik Kuyuwage yang merupakan lokasi terparah akibat bencana embun beku ini.

Sementara itu Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Provinsi Papua telah mendistribusikan bahan makanan berupa beras juga obat-obatan ke lokasi bencana hujan es ini. 13,4 Ton bantuan berupa makanan siap saji, kasur, dan bahan pangan lainnya juga diserahkan BNPB dan didistribusikan ke 2 kabupaten ini menggunakan helikopter dan pesawat ringan karena tak dapat diakses melalui jalan darat.

Total jumlah keluarga di 2 kabupaten di Papua yang dilanda bencana embun beku dan cuaca ekstrem dingin mencapai 20.160 keluarga. (Nda/Ali)

sumber: Liputan6.com

GEMPA 5,7 SR DI TENGGARA CIAMIS, TIDAK BERPOTENSI TSUNAMI

http://static.republika.co.id/uploads/images/kanal_sub/gempa-bumi-ilustrasi-_140125141723-862.jpg

BMKG telah melaporkan terjadi gempa 5,7 SR, pada Sabtu (25-7-2015) pukul 04:44:39 WIB. Pusat gempa di Samudera Hindia di kedalaman 10 km, dengan lokasi:
– 111 km Tenggara Ciamis – Jabar;
– 115 km Tenggara Cilacap – Jateng:
– 117 km Barat Daya Kebumen – Jateng:
– 147 km Barat Daya Yogyakarta.

Gempa tidak berpotensi tsunami.

Posko BNPB sudah mengkonfirmasi dampak gempa ke beberapa BPBD. Gempa dirasakan lemah, sedang hingga kuat oleh masyarakat di beberapa daerah oleh masyarakat di Tasikmalaya, Kota Ciamis, Cilacap, Kebumen, Purworejo, Purbalingga, Kota Yogyakarta, Gunungkidul, Bantul, Prambanan Klaten, Solo, Magelang, Wonogiri, Pacitan, dan Ponorogo.

Gempa terasa kuat sekitar 10-15 detik di Tasikmalaya, Cilacap, Purbalingga, Kebumen, Gunungkidul dengan guncangan yang meliuk-liuk. Sebagian masyarakat berhamburan ke luar rumah dan berteriak gempa. Belum ada laporan kerusakan bangunan dan korban jiwa akibat gempa tersebut. BPBD masih melakukan pemantauan di daerahnya.

Pusat gempa 5,7 SR bukan berada di jalur subduksi atau pertemuan lempeng Hindia Australia dan lempeng Eurasia, tetapi berada di sisi dalam lempeng Eurasia. Wilayah selatan Pulau Jawa adalah daerah rawan gempa dan tsunami. Aktifnya jalur subduksi tersebut bergerak rata-rata 5-7 cm per tahun ke arah Timur Laut-Utara. Potensi gempa maksimum di Jawa Megathrust di selatan Jawa sekitar 8,1 – 8,2 SR. Dari Selat Sunda hingga Bali sepanjang jalur Jawa Megthrust tersebut baru di selatan Pangandaran (7,8 SR, tahun 2006) dan selatan Banyuwangi (7,8 SR, 1994) yang pernah terjadi gempa besar dan tsunami dalam kurun waktu 165 tahun terakhir. Daerah lainnya tidak ada catatan sejarah gempa besar dan dinyatakan sebagai seismic gap.

Upaya kesiapsiagaan dan pengurangan risiko bencana di daerah selatan Jawa harus ditingkatkan terus menerus karena memang wilayah tersebut rawan gempa dan tsunami.

Sutopo Purwo Nugroho
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB

Masyarakat Sumbar Diminta Waspada Bencana Angin Kencang

http://hariansinggalang.co.id/wp-content/uploads/2015/06/angin.jpg

PADANG — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) mengimbau masyarakat untuk selalu waspada terhadap cuaca di daerah tersebut. Pada Selasa (21/7) lalu, sebuah angin puting beliung berskala kecil menerjang Danau Atas, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Sumbar.

Saat cuaca cerah, tiba-tiba gumpalan awan gelap disertai angin kencang membentuk pusaran menerjang kawasan tersebut. Akibat pusaran angin yang terjadi selama 40 menit tersebut, dua rumah dilaporkan mengalami kerusakan, satu berupa rusak berat dan rusak ringan. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

“Seperti tornado kecil. Ini fenomena alam, masih pancaroba, dari kemarau ke lembab. Tiba-tiba ada angin dan gumpalan awan hitam,” kata Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan BPBD Sumbar, Pagar Negara di Padang, Rabu (22/7).

Sementara itu, Kepala Seksi (Kasi) Observasi dan Informasi BMKG Padang, Budi Iman Samiaji memprediksi, sebagian besar wilayah Sumbar masih akan diguyur hujan dengan intensitas sedang. Seperti di Mentawai, sebagian Padang, sebagian Padang Panjang.

Untuk kecepatan angin dari tenggara menuju barat daya, rata-rata 04-17 km per jam dengan kecepatan maksimal bisa mencapai 38 km per jam. Dengan kisaran suhu 23,2 Celcius dan maksimal 31,6 Celcius. Sementara tinggi gelombang laut berkisar antara 0.50 sampai 0.75 meter.

Bila terjadi angin besar yang membentuk pusaran, Pagar mengingatkan kepada masyarakat untuk mengamankan diri di sudut-sudut rumah. “Cari tempat di sudut untuk pengamanan diri, yang segitiga, aman itu. Karena dia (angin) narik ke atas,” ujar Pagar menambahkan.

sumber: REPUBLIKA.CO.ID,

Tim Emergensi Bencana Disebar

http://beritatrans.com/cms/wp-content/uploads/2013/07/kapal.jpg

BANDA ACEH – Suasana menjelang Idul Fitri di Aceh tahun ini sedikit berbeda dari biasanya. Kali ini, puluhan anggota tim dari Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan (P2KK) Dinas Kesehatan Provinsi Aceh disebar ke berbagai kabupaten/kota untuk memudahkan komunikasi jika terjadi kasus emergensi (situasi darurat) selama masa cuti bersama dalam rangka Idul Fitri 1436 Hijriah, sejak Jumat (10/7) sampai Sabtu (25/7).

Jika terjadi krisis kesehatan, misalnya, akibat bencana gempa bumi, banjir, keracunan, kebakaran, tabrakan masif, dan lainnya, mereka siap dikontak untuk menyiapkan fasilitas yang dibutuhkan. “Mereka adalah penanggung jawab kabupaten. Setelah menerima informasi dari masyarakat, dicek kembali kebenarannya, lalu dilakukan koordinasi untuk memastikan bantuannya,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Aceh, dr M Yani MKes kepada Serambi, Jumat (11/7) lalu.

Menurut Yani, 18 orang anggota Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan (P2KK) yang diterjunkan tersebut menjadi penanggung jawab di sejumlah kabupaten/kota. Mereka tidak membawa fasilitas apa-apa, seperti ambulans atau emergency kit lainnya. Personel tersebut hanya bertugas menerima informasi, memastikan keakuratan data, dan meneruskannya kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab untuk itu. “Misalnya, jika terjadi puting beliung, mereka akan memastikan siapa korbannya, apa yang dibutuhkan, lalu melakukan koordinasi lanjutan dengan kota dan provinsi,” kata M Yani.

Kecuali itu, Pemerintah Aceh juga telah mengirimkan surat kepada kabupaten/kota baru-baru ini. Surat itu berisi permintaan untuk menyiagakan segala fasilitas kesehatan selama masa cuti bersama, sejak Jumat (10/7) sampai Sabtu (25/7), mulai dari rumah sakit umum hingga puskesmas.

Dinkes Aceh siap menyuplai obat tambahan jika diperlukan puskesmas-puskesmas dalam masa operasi terpadu ini. “Siap kita antarkan dalam waktu cepat,” kata M Yani.

Saat mudik Lebaran tahun 2014, jumlah korban kecelakaan lalu lintas (laka lantas) tercatat paling banyak terjadi di lintas timur, mencapai 47 kasus. Sedangkan untuk lintas tengah dan barat masing-masing delapan dan sembilan kasus. Dari total 64 jumlah kejadian, 38 orang korban meninggal, luka berat 46 orang, dan luka ringan 92 orang.

Secara statistik, insiden kecelakaan di tahun 2014 terjadi penurunan hingga 32 persen dibandingkan tahun 2013. Namun, jumlah korban meninggal hingga 38 orang tak bisa disepelekan. Itu sebabnya, untuk menanggulangi kasus-kasus emergensi, pihak kepolisian, dinas kesehatan, bersama unsur lainnya membentuk tim terpadu “Operasi Ketupat Rencong 2015” dengan membuat puluhan pos pengamanan dan pos pelayanan kesehatan di seluruh Aceh.

M Yani mengatakan, Pemerintah Aceh sudah menginstruksikan pemerintah kabupaten/kota untuk menyiagakan ambulans 24 jam. Sejumlah pos kesehatan yang dibuat juga bisa memberikan beberapa pelayanan prarumah sakit, seperti pemeriksaan jantung, bahkan menangani pasien yang melahirkan. (sak)

sumber: tribun

Coomunity of Practice Manjemen Bencana

Coomunity of Practice Manjemen Bencana

http://sp.beritasatu.com/media/images/original/20120917104544172.jpg

Hasil penelitian Divisi Manajemen Bencana, Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK UGM tentang kesiapsiagaan penanggulangan bencana di rumah sakit di beberapa daerah seperti Ende (Nusa Tenggara Timur), Seram (Bagian Barat Provinsi Maluku) serta di Kabupaten Aceh Timur menunjukkan bahwa kesiapsiagaan rumah sakit dalam penanggulangan bencana masih pada level rendah. Rumah sakit belum memiliki rencana penanggulangan bencana (Hospital Disaster Plan). Masih banyak rumah sakit yang belum memahami bagaimana untuk memulai melaksanakan hospital disaster plan. Beberapa rumah sakit memiliki dokumen hospital disaster plan, tetapi hanya sebatas dokumen saja untuk memenuhi persyaratan akreditasi rumah sakit. Dokumen hospital disaster plan yang ada tidak operasional.

Bagi Bapak/Ibu yang tertarik berdiskusi lebih lanjut mengenai hospital disaster plan ini, dapat bergabung melalui Community of Practice Hospital Disaster Plan (COP HDP). Pada COP HDP ini kita akan memaparkan materi-materi yang terkait hospital disaster plan dari para pakar. Bapak/Ibu sekalian juga dapat mendiskusikan permasalahan terkait HDP yang terjadi di rumah sakit Bapak/Ibu.

Bagi Bapak/Ibu yang belum terdaftar dan tertarik menjadi anggota komunitas ini, silakan mendaftar