Penggunaan “Pengetahuan Bencana” dalam Pengurangan Resiko Bencana

DKM

DKM

Pembaca website bencana kesehatan, selamat bertemu kembali di awal Juli 2015. Pembaca sekalian, dalam pengantar minggu ini banyak sekali informasi yang kami berikan kepada pembaca, mulai dari artikel yang akan kita bahas, tawaran pelatihan bencana, tawaran grant penelitian dalam kebencanaan, dan event. Pembaca dapat mengakses informasi ini pada menu agenda mendatang di atas dan pada menu informasi sebelah kanan website bencana ini

Artikel yang kita angkat minggu ini berjudul The disaster-knowledge matrix: reframing and evaluating the knowledge challenges in disaster risk reduction, silakan . Artikel yang diterbitkan oleh jurnal International Journal of Disaster Risk Reduction Volume 13 ini mendiskusikan mengenai tantangan dalam mengimplementasikan kebijakan dan praktek penyelenggaraan bencana yang berbasis penelitan ada pengetahuan bencana atau disaster-knowledge. Untuk menyakinkan pembaca, penulis mencoba mengilustrasikan penggunaan evaluasi ilmu pengetahuan dalam pengembangan kebutuhan dan evaluasi penyelenggaraan penanggulangan bencana di lapangan. Hasil gambaran ini menunjukkantransmisi dan kebutuhan basis ilmu pengetahuan dalan upaya pengurangan resiko bencana. Menariknya, penulis juga mengangkat contoh kasus kesuksesan dan kegagalan arus informasi antar stakeholder di daerah. Penulis juga mengangkat studi kasus negara Austria dan Mexico.

Jokowi: Saya Dilapori, Warga Sinabung Tak Mau Lagi Terima Kunjungan

Jokowi: Saya Dilapori, Warga Sinabung Tak Mau Lagi Terima Kunjungan

Jakarta – Presiden Joko Widodo mengatakan warga yang terdampak erupsi Gunung Sinabung, Tanah Karo, Sumatera Utara, sudah tak mau lagi menerima kunjungan. Ini karena kunjungan dirasa kurang efektif dalam menyelesaikan masalah pengungsian di sana.

“Saya sudah kirim tim ke sana. Dan saya dilaporkan, sekarang mereka (warga Sinabung) sudah tidak mau lagi menerima kunjungan. Di kunjang, kunjung, kunjang, kunjung, tapi tidak selesaikan masalah. Untuk apa?” kata Jokowi saat membuka rapat bersama sejumlah menteri terkait erupsi Gunung Sinabung di Kantor Presiden, Jakarta Pusat, Kamis (2/7/2015).

Karena itu, lanjut Jokowi, dirinya akan berkunjung ke Sinabung jika penanganan masalah sudah dilakukan secara permanen. Bahkan untuk bantuan, Jokowi akan menugaskan kepada Menteri Sosial.

“Oleh sebab itu pada saat saya berkunjung ke sana penyelesaian masalah secara permanen sudah ditemukan. Baru saya mau ke sana. Kalau belum, hanya membawa bantuan, saya kira Mensos bisa melakukan itu,” kata Jokowi.

Jokowi mengatakan, erupsi Gunung Sinabung diperkirakan akan berlangsung hingga 5 tahun ke depan, meski volume atau kekuatannya tidak besar. Untuk itu diperlukan penangan dengan pola baru, terutama dalam menangani pengungsi.

“Penanganan diperlukan pola yang baru, sehingga mereka betul-betul merasa diselesaikan masalahnya,” kata Jokowi.

suimber: detik

Less need for UN on ground as disaster response in Pakistan improves

Flood victims carry their belongings to safe places. — AFP/File

BANGKOK: The changing response to natural disasters by civil society groups and the government has reduced the need for an on-the-ground presence of the United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA) in Pakistan and some other Asian countries.

Outgoing head of OCHA’s Asia-Pacific Bangkok office Oliver Lacey-Hall said of Pakistan and Thailand, “We’re seeing this kind of changing regional environment, which means there is less requirement for OCHA to be ‘on the ground’ in those countries.”

Major disasters such as floods in Thailand and Pakistan, and the Indian Ocean and Japan tsunamis, galvanised governments and civil society groups to make their countries more resilient.

About a decade ago, before the Japanese tsunami, many countries in the region did not have natural disaster management authorities, he said, and OCHA used to go into disaster-hit countries and coordinate humanitarian aid themselves.

Lacey-Hall said he recently told Indonesia’s national disaster management authority:

“Our sense is that you don’t need us in the way that you did before.” Answer? “Absolutely, we don’t,” he told the Thomson Reuters Foundation in an interview.

After a decade of responding to massive floods, storms and earthquakes, the UN is downsizing its humanitarian staff in some Asian countries where governments have stepped up with funds and manpower .

The UN OCHA says it will close in Papua New Guinea this month and Sri Lanka by the end of the year, while “radically downsizing” in Indonesia, said Lacey-Hall.

It will, however, maintain its regional office in Bangkok to help governments prepare for disasters and support coordination of assistance after disaster strikes.

“If we have a large-scale disaster in this region ─ as you saw in Nepal ─ boom, we’re in there. And we provide that support fairly rapidly,” Lacey-Hall said.

OCHA’s Nepal office, which was meant to close this week, was scaled up from one person to more than 30 after the earthquakes in April and May.

Aktivitas Gunung Raung Meningkat, Satgas Bencana Polda Jatim Bersiaga

Aktivitas Gunung Raung Meningkat, Satgas Bencana Polda Jatim Bersiaga

Gunung Raung tertutup awan putih terlihat dari Dusun Gayasan, Desa Gunung Malang, Kecamatan Sumberjambe, Kabupaten Jember, Senin (29/6/2015

SURABAYA – Meningkatnya aktivitas Gunung Raung memaksa Polda Jatim menyiagakan Satgas Bencana untuk mengantisipasi hal-hal terkait peningkatan aktivitas gunung api di Kabupaten Bondowoso tersebut.

Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuono menjelaskan, Satgas Bencana yang sudah disiagakan terdiri dari Satgas Bencana di Polres Bondowoso dan lima polres sekitar gunung. Serta Satgas Bencana dari Dit Sabhara Polda Jatim.

“Koordinatornya langsung Direktur Sabhara Polda Jatim. Pasukan di Sabhara masih standby dan jumlahnya masih menunggu penyesuaian kebutuhan. Sementara di masing-masing polres disiagakan satu pleton pasukan,” ungkap Argo usai upacara kenaikan pangkat di Polda Jatim.

Saat ini, yang paling aktif adalah Satgas Bencana Polres Bondowoso.

Selain memantau perkembangan aktivitas gunung, juga terus berkoordinasi dengan instansi terkait.

Sementara satgas di lima polres sekitar masih sebatas siaga, sewaktu-waktu dibutuhkan langsung merapat ke lokasi yang ditentukan.

Demikian halnya dengan Satgas Bencana di Dit Sabhara Polda Jatim.

Selain menyiagakan pasukan, Polda Jatim juga mulai menyiapkan peralatan penanggulangan bencana yang dimiliki.

Petugas dan peralatan itu statusnya on call, sewaktu-waktu dibutuhkan mereka langsung berangkat ke lokasi bencana.

sumber: TRIBUNNEWS.COM

Role of mhealth in effective response to disaster

http://mac.iom.int/newsletters/issue42/images/twitter-1.jpg

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak negara telah menderita karena bencana alam. Tanggap bencana terus menghadapi tantangan di sektor kesehatan di semua negara, salah satu yang signifikan adalah informasi dan manajemen komunikasi. Selama dekade terakhir, kemajuan pesat di bidang teknologi informasi telah menyebabkan manajemen informasi secara efektif dan peningkatan komunikasi dalam pengaturan perawatan kesehatan. Teknologi informasi merupakan solusi penting untuk respon yang efektif terhadap bencana dan keadaan darurat, sehingga jika sistem informasi dan komunikasi yang efisien tersedia maka hal tersebut akan sangat berharga. Selengkapnya ​

WORLD REFUGEE DAY 2015

“Refugees are people like anyone else, like you and me. They led ordinary lives before becoming displaced, and their biggest dream is to able to live normally again. On this World Refugee Day,  let us recall our common humanity, celebrate tolerance and diversity and open our hearts torefugees everywhere.” Ban Ki-moon

Pembaca website bencana kesehatan, 20 Juni lalu beberapa  negara di belahan dunia memperingati hari refugees atau pengungsi sedunia. Kutipan kata di atas adalah ungkapan yang sangat menggugah dari Ban Ki-moon kepada kita semua bahwa refugees adalah manusia yang sama seperti kita semua yang juga ingin hidup normal seperti kita semua.

Menurut laporan UN bahwa ada lebih dari 50 juta lebih refugees di seluruh dunia dan setengah diantaranya adalah anak-anak dan perempuan. Hal ini akan terus bertambah dengan prediksi meningkatnya kejadian bencana alam dan konflik sosial. Minggu ini ini akan diperingati sebagai hari pengungsi sedunia, silakan pembaca website bencana kesehatan menyimak beberapa laporan peringatan hari pengungsi sedunia berikut ini http://www.hopkinsglobalhealth.org/news-events/news/world-refugee-day/ dan http://www.un.org/en/events/refugeeday/.

UGM Adakan Studi Banding Kebencanaan di Selandia Baru

| Foto/ugm

YOGYAKARTA – UGM bekerjasama dengan GNS Science mengadakan studi banding kebencanaan bagi pemerintah daerah, DPRD, dan universitas mitra ke Selandia Baru, 6-18 Juni 2015 lalu. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari Kegiatan Strengthening Indonesian Resilience: Reducing Risk from Disaster (StIRRRD) yang didukung oleh Kementerian Luar Negeri dan Perdangangan (MFAT) Selandia Baru.

Kegiatan ini dipimpin langsung Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Alumni UGM, Dr. Paripurna Sugarda. Beberapa instansi yang ikut dalam kegiatan ini, yaitu BPBD dan dinas terkait dari Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Bengkulu, Kabupaten Donggala dan Kota Mataram.

Sementara itu universitas mitra yang turut serta antara lain Universitas Andalas, Universitas Bengkulu, Universitas Tadulako dan Universitas Mataram. Pemerintah pusat diwakili oleh Direktur Pengurangan Risiko Bencana BNPB, Bappenas dan Kemeterian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi.

Ketua StIRRRD dari UGM, Dr. Teuku Faisal Fathani mengatakan bahwa hubungan baik Indonesia dan Selandia Baru akan terus ditingkatkan melalui kerja sama dalam pengurangan risiko bencana. Selama jangka waktu 5 tahun ke depan, StIRRRD akan bekerjasama dengan 10 kab/kota di 4 propinsi (Sumbar, Bengkulu, Sulteng dan NTB).

“April tahun depan UGM dan GNS Science akan kembali mengawal kunjungan selanjutnya dari Kab. Agam, Kab. Seluma, Kab. Morowali dan Kab. Sumbawa,” papar Faisal.

Ia menambahkan StIRRRD dimulai sejak tahun 2011 dengan kegiatan pilot di Kota Padang dan Kota Palu. Saat studi banding tahun 2012 lalu, Prof. Dwikorita Karnawati yang juga sebagai inisiator program ini menjadi pemimpin delegasi. Kegiatan StIRRRD berupaya meningkatkan ketangguhan pemerintah daerah dan universitas lokal dalam pengurangan risiko bencana melalui serangkaian workshop, pelatihan dan studi banding ke Selandia Baru.

“UGM mendampingi tiap-tiap daerah dalam menyusun dan mengimplementasikan rencana aksi dalam pengurangan risiko bencana,” urainya.

Studi banding kemarin dimulai dengan kunjungan ke Kota Christchurch untuk mempelajari bagaimana Selandia Baru menata kembali kota tersebut yang mengalami kerusakan hebat akibat gempa tahun 2010 dan 2011. Para pakar bencana dari berbagai institusi di Selandia Baru saling bertukar pengalaman dengan delegasi Indonesia. Banyak hal yang dipelajari meliputi penanganan pra, saat dan paska bencana.

Setelah itu kegiatan diarahkan menuju Kota Wellington untuk mempelajari bagaimana Selandia Baru membangun ketahanan dan mempersiapkan diri dalam mengantisipasi potensi bencana gempa, tsunami, longsor dan banjir di ibu kota negara yang berada di zona patahan aktif. Delegasi Indonesia juga menempuh perjalanan ke Taupo dan Rotorua untuk melihat pengurangan risiko bencana gunung api.

Dalam kunjungan ini juga diadakan jamuan makan malam dengan Duta Besar Indonesia untuk Selandia Baru. Acara ini dihadiri oleh GNS Science, Beca, MFAT Selandia Baru, PPI, New Zealand Indonesia Association dan lain-lain dengan suguhan musik gamelan dari warga Selandia Baru.

Dalam kesempatan ini juga diadakan penandatanganan perpanjangan MoU antara UGM dan GNS Science untuk tahun 2015-2017.  UGM diwakili oleh Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Alumni, Dr. Paripurna Sugarda, sedangkan GNS Science diwakili oleh Dr. Gill Jolly. Penandatanganan ini disaksikan oleh Duta Besar Indonesia untuk Selandia Baru, Jose Tavares dan Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan Selandia Baru yang diwakili oleh Tiffany Babington.(dna/ugm)