Pendampingan Online: Penyusunan Rencana Penanganan Bencana di Rumah Sakit

header bimtek hdp bencana

header bimtek hdp bencana

Hospital disaster plan diamanatkan dalam UU Nomor 44 Tahun 2009 tentang rumah sakit, yang salah satu bunyinya: Rumah sakit mempunyai kewajiban memiliki sistem pencegahan kecelakaan dan penanggulangan bencana. Namun, penyusunan hospital disaster plan (HDP) yang terkendala di rumah sakit akan menyebabkan sulitkan operasionalisasi manajemen penanganan bencana mulai dari pembagian tugas yang jelas, alur komunikasi dan rencana alternatif. Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK UGM menyelenggarakan Pelatihan dan Pendampingan HDP pada Mei hingga Juli 2022. Kegiatan ini intensif dilakukan secara online dengan biaya 5 juta Rupiah per instansi (5 orang/ instansi).

Selengkapnya   |   Materi & Arsip Kegiatan

Peningkatan Kapasitas Daerah dalam Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana dan Krisis Kesehatan di Daerah

dinkes disaster plan maros

dinkes disaster plan maros

Kegiatan ini merupakan lanjutan kegiatan Peningkatan Kapasitas Public Health Emergency Operation Center (PHEOC) di daerah yang diselenggarakan pada tahun lalu. Pada 2021 lalu telah dilaksanakan rangkaian kegiatan mulai dari pengkajian kapasitas daerah untuk melihat sejauh mana Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, Dinas Kesehatan Kota Makassar dan Dinas Kesehatan Kabupaten Maros sudah menyiapkan kegiatan KKM sampai pengayaan terkait materi ICS dan PHEOC. Hasil reviewmenunjukkan bahwa kapasitas umum untuk KKM masih perlu dikembangkan dan diperlukan kapasitas khusus dalam menyusun rencana penanggulangan bencana daerah. Langkah selanjutnya adalah pelaksanaan pelatihan online dan offline mengenai Dinas Kesehatan Disaster Plan Dinkes Disaster Plan (DDP) dan bagaimana integrasinya dengan PHEOC. Harapannya agar peran PHEOC di daerah oleh dinas kesehatan semakin kuat dan pondasi struktur penanganan bencana di daerah terbangun. Dinas kesehatan akan difasilitasi untuk menyusun perencanaan DDP dan organisasi PHEOC daerah, mengevaluasi rangkaian kegiatan dan merencanakan penanggulangan bencana alam, non alam, krisis dan kedaruratan kesehatan masyarakat menggunakan pendekatan dinkes disaster plan di daerah.

SELENGKAPNYA

Model Inovasi Pelayanan Pemerintah Daerah dalam Mitigasi Bencana

risk_mitigation_puzzleIndonesia memiliki situasi geografis, geologis, hidrologis, dan demografis yang rawan bencana dengan frekuensi yang relatif tinggi, sehingga memerlukan penanganan bencana yang sistematis, terpadu, dan terkoordinasi. Bencana yang terjadi hingga 2020 didominasi oleh bencana alam hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, angin topan, kekeringan hingga hutan, dan kebakaran lahan (BNPB, 2021). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi model inovasi pelayanan pemerintah daerah dalam mitigasi bencana. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data yaitu studi literatur, FGD, dan wawancara dengan inovasi mitigasi bencana terkait di lokasi penelitian. Temuan lapangan menggambarkan bahwa inovasi SDIS yang diterapkan Kabupaten Sleman merupakan salah satu inovasi terbaik dalam penanganan erupsi gunung api. Inovasi ini telah dirintis sejak tahun 2016 dan terus disempurnakan. Di Semarang, khusus untuk bencana banjir, dipasang alat Early Warning System di beberapa titik sebagai inovasi terbaik dalam penanganan banjir. Namun, kesulitan memasangnya di titik-titik tertentu karena kontur geografis yang tidak memungkinkan. Sedangkan untuk Kabupaten Sumedang, inovasi mereka melalui aplikasi SITABAH masih perlu pengembangan lebih lanjut untuk menjadi inovasi terbaik dalam mitigasi bencana longsor karena keterbatasan infrastruktur dan sumber daya manusia. Selain itu, aplikasinya masih satu arah. Dari ketiga model inovasi mitigasi bencana tersebut, inovasi SDIS merupakan inovasi yang telah berhasil diterapkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sleman. Khusus pada fitur “Jarakku dan Merapi” yang dapat diakses secara online, model inovasi ini dapat direplikasi di daerah lain. Artikel ini dipublikasikan pada 2021 di Jurnal Bina Praja

Selengkapnya

BNPB: Data dan Informasi Kunci Upaya Bangun Resilliensi Berkelanjutan

Jakarta, IDN Times – Deputi Bidang Sistem dan Srategi Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB) Raditya Jati mengungkapkan, data dan informasi menjadi hal dasar upaya membangun sistem resilien berkelanjutan dalam tatanan global.

Pemerintah Indonesia telah menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) 2020-2024 yang menetapkan ketangguhan bencana di antara prioritas nasional. Salah satu strateginya yakni penguatan data dan informasi terkait bencana.

Hal itu dikatakan Raditya Jati dalam forum ‘Data Challenges and Solutions for Disaster Risk Management’ pada gelaran GPDRR 2022 di Pecatu Hall, BNDCC, Bali, Kamis (26/5/2022).

“Data akan diubah menjadi informasi, informasi akan menjadi analisis, dan analisis akan dijadikan dasar untuk merumuskan strategi dan kebijakan,” ungkap Raditya. 

 

1. Pencapaian Indonesia dalam pemenuhan data kebencanaan

Raditya menyebutkan, salah satu capaian Indonesia dalam pemenuhan data kebencanaan yaitu adanya Satu Data Indonesia, Satu Peta Indonesia, dan inisiatif Satu Data Bencana Indonesia (SDBI).

“Data tersebut dikumpulkan dari tingkat lokal hingga nasional untuk diinput ke dalam platform digital. Hasil dari pengolaha data tersebut dapat dimanfaatkan sebagai dasar penyusunan kebijakan,” jelas Raditya.

2. Tantangan untuk memenuhi kebutuhan data yang komprehensif

BNPB: Data dan Informasi Kunci Upaya Bangun Resilliensi BerkelanjutanDok. BNPB

Selain itu, Raditya mencontohkan, kebijakan penanganan COVID-19 yang mengadopsi dari hasil analisis data dan informasi melalui platform digital yakni pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Aturan itu merujuk pada setiap hasil komprehensif yang dilakukan melalui platform digital tersebut.

Namun, untuk memenuhi kebutuhan data yang komprehensif tersebut, Radit mengatakan masih ada beberapa tantangan yang dihadapi.

“Tantangan yang dihadapi seperti keterbatasan akses pada internet, kualitas dari data yang dilaporkan, dan pendanaan,” ujar Raditya.

3. Pentingnya meningkatkan tata kelola data dan informasi kebencanaan

Menanggapi kesulitan yang sudah diungkapkan, Raditya mengajak seluruh negara untuk dapat meningkatkan tata kelola data dan informasi kebencanaan.

“Maka dari itu, kami mengajak setiap negara untuk dapat meningkatkan tata kelola data dan infromasi kebencanaan sehingga dapat tersedia secara berkualitas, cepat, dan akurat untuk dijadikan acuan dalam merumuskan kebijakan,” kata Raditya.