POLICY BRIEF The Importance of Standardization, Accreditation, and Classification of Disaster Medical Assistance Team

border-page

POLICY BRIEF

The Importance of Standardization, Accreditation, and Classification of Disaster Medical Assistance Team

This policy brief is addressed to policy maker in National Agency for Disaster Management and Ministry of Health especially to Health Crisis Center

 

border-page

 

Introduction

Indonesia is one of the most disaster prone countries in the world. It is scientifically explainable as Indonesia’s geography, geology, and hydrology are vulnerable to earthquake, tsunami, flood, and landslide. It is also Indonesia located at the convergence of Eurasia, Indo-Australia, and Pacific Plates. Indonesia has experienced many major natural disasters such as earthquake and tsunami in Aceh (2004), earthquake in Bantul Yogyakarta (2006), earthquake and tsunami in Pangandaran (2006), earthquake in Padang (2009), and Mount Merapi eruption (2010). When disaster happens, many health problems arise. In emergency situation, medical team is needed to provide health services and support to disaster victims. Disaster medical assistance team plays an essential role to save human lives during the emergency response periods.

Based on the past experiences, started from tsunami in Aceh 2004 untill the Mount Merapi eruption 2010, there were two things to be highlighted. First, is the quality of disaster medical team who assisted on disaster and second, is the system to cordinate and control the disaster medical assistance team. Until now, there is no system to control disaster medical assistance team. It can be seen that there is no guidelines to manage standard for competences of disaster medical assistance team.

Indonesia has experienced many major natural disasters. In emergency response phase, there were many medical teams from Indonesia and overseas that went to disaster-affected area. But until this time, there is no guideline to manage the medical team. In developed countries, they already have a guideline to manage the disaster medical team so that they can do it in effective and efficient way. The problem of management and professionalism of disaster medical team is vital because it affects to the results. Therefore this problem is highlighted at Pre-Conference 11th Asia-Pacific Conference Emergency and Disaster Medicine, which held at Denpasar Bali, September 2012.

Context and The Importance of Problem

Indonesia is one of the most disaster prone countries in the world. In an emergency situation, there were many disaster medical teams from Indonesia and overseas that went to area affected by disasters. There is no guideline to manage disaster medical assistance teams. Therefore, it needs a system to manage these problems:

  1. There were many disaster assistance teams came to Indonesia, but it was not clear whether they have a permission or not. Thus, it is very important to register all the medical assistance teams and provide information on how many disaster medical teams are needed. Then, it is essential to provide quality control to disaster medical teams for both local and oversea teams.
  2. Disaster medical teams who came to area affected by disaster was not clear whether they have competences or not. Sometimes this problem cause secondary effect after disaster such as infection. Therefore, it is essential to determine the qualification of disaster medical assistance
  3. There isno minimum standard in giving medical assistance. Thus, it needs management system to coordinate disaster medical teams so that they can work in effective and efficient way. It is very important to build a system to manage this problem. Then it also needs an institution to carry out this work. It can be done independently or corporately with other institutions.

Policy Recommendation

To control and coordinate disaster medical assistance teams in Indonesia, the policy recommendations are given as follows:

  1. Register all medical assistance teams for both local and international teams with one door policy so that the authority can monitor the activities of the medical teams. Besides, it can be determined on how many disaster teamsare needed in the field.
  2. The government should provide guideline for disaster medical assistance teams, include minimum standard for health services, list of hospital specification, and medical logistic and non medical logistic that available in hospital during a disaster. This guideline is aimed to provide standard and practical guide for disaster medical assistance teams for both local and international teams in order to work effectively with minimum impact.
  3. Legalization of institution and official of health institution, therefore they have a power to coordinate disaster medical assistance team. This health institution can be a part of national agency for disaster management that has authority to conduct feasibility test for medical teams.
  4. It is essential to collect, compile and record medical doctor and medical specialist data that has an expertise in disaster field so that it will simplify coordination. It is also important to make a list of hospital specification in Indonesia.

Arranged by :

dr. Bella Donna, Mkes

Phone : 0811286284

Email : [email protected]

________________________________

dr. Hendro Wartatmo, SpB KBD

Phone : 0811283118

Email : [email protected]

________________________________

RS Darurat Indonesia Mulai Layani Ribuan Warga Satungal Nepal Korban Gempa

RS Darurat Indonesia Mulai Layani Ribuan Warga Satungal Nepal Korban Gempa

Kathmandu, RS darurat Indonesia mulai beroperasi melayani warga Satungal di Nepal pagi ini. Rumah sakit berupa tenda itu akan dibuka pada pukul 08.30 waktu setempat.

“Operasional mulai hari ini field hospital-nya,” kata anggota tim dokter Indonesia, Meiky Fredianto di Kathmandu, Nepal, Rabu (6/5/2015).

Setiap harinya direncanakan rumah sakit ini akan beroperasi dari pukul 08.30 hingga 17.00 waktu Nepal. Diutamakan rumah sakit ini melayani korban gempa yang menderita patah tulang.

Meiky menyebutkan dokter ahli ortopedi dan anestesi dilibatkan di rumah sakit ini. 3 Tenaga medis di rumah sakit tersebut berasal dari Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC).

“2 Dokter ortopedi, 1 dokter bedah umum dan 2 dokter anestesi. Cuma ini dibagi dengan dokter Indonesia yang diperbantukan ke RS Kantipur,” ujar dokter yang biasa bekerja di RS PKU Muhammadiyah tersebut.

Tim Indonesia Peduli Nepal ini berencana konsentrasi kegiatan dipusatkan di RS Kantipur dan di RS Darurat di Satungal. Rumah sakit darurat diutamakan penanganan UGD dan poliklinik umum.

“Kegiatan ini dibantu oleh sukarelawan lokal 4 orang. Tim di Satungal fokus pada bantuan logistik,” kata Direktur Tanggap Darurat BNPB Junjungan Tambunan secara terpisah.

26 WNI yang Dievakuasi dari Nepal Tiba di Indonesia

26 WNI yang Dievakuasi dari Nepal Tiba di Indonesia

Jakarta – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) menyambut kedatangan 26 Warga Negara Indonesia (WNI) yang tiba dari Nepal di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta. Sebagian WNI yang dievakuasi merupakan yang menetap di Nepal

“Pada malam hari ini tim pertama yang berangkat ke sana telah kembali dengan membawa serta 26 warga kita. 20 menetap di sana berserta keluarganya, enam memang ke Nepal melakukan kunjungan,” kata Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia Abdurrahman Mohammad Fachir di Bandara Halim Perdana Kusumah, Rabu malam, 6 Mei 2015.

Sampai saat ini, pemerintah Indonesia berhasil mengevakuasi 26 WNI dari Nepal, tercatat masih ada enam WNI yang tersisa di Nepal. Lima di antaranya masih dalam keadaan pencarian dan satu orang lagi merupakan dokter yang memilih untuk menetap dan membantu misi kemanusiaan di Nepal

“Jadi lima orang lagi yang sedang kita upayakan melakukan penyelamatan dan penyelamatan dilakukan secara integratif dilakukan oleh tim gabungan baik dari Nepal dan jelas tim dari kita yang terdiri Paskhas dan hiking club,” ujar Fachir.

Menurut Fachir, tidak mudah untuk mengevakuasi para WNI di Nepal. Sebab, saat mengevakuasi terdapat beberapa kendala.

“Jadi kendalanya adalah kontur di sana berbeda dengan ‎beberapa kondisi atau lokasi atau situasi lapangan yang mungkin kita punya keahlian, seperti longsor dan sebagainya. Karena itu kita dapat banyak sekali bantuan dari pemerintah setempat dan tim penyelamat setempat,” ujarnya.

Seperti diketahui, pada Sabtu 25 April lalu, telah terjadi gempa berkekuatan 7,9 SR yang mengguncang Kathmandu, Nepal.

Tercatat akibat bencana ini ada sekitar ribuan korban meninggal dunia dan korban luka-luka.

sumber: viva news

Tim Indonesia Buka Rumah Sakit Sementara di Nepal

Tim Indonesia Buka Rumah Sakit Sementara di Nepal

JAKARTA – Sebanyak 26 orang warga negara Indonesia yang dipulangkan pemerintah dari Nepal tiba di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Rabu (6/5/2015) malam.

Mereka bagian dari sekitar 100 WNI yang berhasil dievakuasi pascagempa bumi berkekuatan 7,9 skala richter menghantam negara yang dijuluki atap dunia tersebut.

Pemerintah mengangkut mereka dari Nepal menggunakan pesawat TNI AU Boeing 737-400 dan mendarat di Jakarta pukul 20.00 WIB. Tim kemanusiaan yang tergabung dari beberapa unsur pun ikut mendampingi mereka.

Wakil Menteri Luar Negeri A. M. Fachir melalui sebuah upacara tak jauh dari Pesawat TNI AU Boeing 737-400 menyambut kedatangan 26 WNI. Fachir menyatakan, kepulangan 26 WNI itu menandai ditariknya satu dari dua tim kemanusiaan yang dikirim ke Nepal.

“Kami memiliki dua misi ke sana, misi kemanusiaan, penyelamatan dan malam hari ini, tim pertama sudah kembali membawa serta 20 WNI menetap dan 6 WNI pengunjung,” kata Fachir.

Pemerintah Indonesia melalui tim yang masih berada di Nepal terus memberikan bantuan kemanusiaan yang diperlukan. Salah satunya mendirikan rumah sakit lapangan. “Ketika membuka rumah sakit sementara. Untuk hari Rabu saja lebih dari 400 pasien, tim kita memadai,” ujarnya.

sumber: tribunnews

Dr. Handoyo Pramusinto, SpB

tim 06

Dr. Handoyo Pramusinto, SpB Peneliti Divisi Bencana Kesehatan PKMK FK UGM Bapak yang juga menjabat sebagai Ketua Pokja Bencana FK UGM ini lahir di Yogyakarta pada 22 Mei 1963. Saat ini merupakan Kepala IGD RSUP dr. Sardjito, selain itu juga sebagai dosen luar biasa di FK UGM dan dosen pendidikan PPDS Bedah FK UGM.

Lulus pendidikan kedokteran tahun 1987 dan terus aktif dalam pelatihan kebencanaan maupun kegawatdaruratan. Beliau telah meluluskan banyak pendidikan dan pelatihan diantaranya ATLS course, TOT Course IKABI Pusat, Pelatihan Lecturing in Problem Based Learning, FK UGM 27 September 2006, Kursus Pelatihan Untuk Pelatih, Kolegium Ilmu Bedah Indonesia di RSUP Dr.Sardjito, 20-22 Maret 2009, Pelatihan Dokter Sebagai Clinical Teacher Dalam Program Pendidikan Clinical Rotation Dan Dokter Spesialis Di Rumah Sakit Pendidikan Utama Dan Jejaring Fakultas Kedokteran UGM, Yogyakarta 20-21 Februari 2007, Neuro-Anesthesia And Critical Care Course (NACC), 9th ISNACC, Singapore 28-29 Januari 2009, dan 1st NNI-Aesculap Academy Neurosurgical Appoaches Course 2007 held from 7-10 February 2007 in Singapore.


Sejak 2012 aktif bergabung baik di Pokja Bencana FK UGM dan Divisi Manajemen Bencana baik sebagai pembicara dan pelatih Hospital Disaster Plan. Juga terlibat dalam pelatihan dan seminar yang diselenggarakan baik nasional dan internacional sebagai pembicara dan pelatih.

Madelina Ariani

Asisten Peneliti Divis Bencana Kesehatan PKMK FK UGM

Asisten Peneliti Divis Bencana Kesehatan PKMK FK UGMMadelina, begitu panggilan kesehariannya. Lahir pada tanggal 20 November 1990 di Banjarmasin. Lulus Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Lambung Mangkurat tahun 2012. Enam  bulan kemudian langsung memutuskan untuk melanjutkan sekolah kembali di minat yang sama dengan S1 nya, Minat Kebijakan Manajemen Pelayanan Kesehatan Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat FK UGM, dan kini masih dalam proses menyelesaikan masternya.

Telah mengenal mengenai bencana sejak mendapat mata kuliah Kesehatan Lingkungan Pasca Bencana sewaktu S1nya, kemudian terus aktif dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat dipinggiran sungai kota Banjarmasin untuk menggalakkan kelestraian lingkungan, pencegahan banjir, dan upaya peningkatan status kesehatan. Terus berlanjut mendalami materi manajemen bencana sektor kesehatan baik selama kuliah S2 maupun dari  seminar yang diikuti. Sejak awal 2013 menjadi asisten peneliti/ konsultan di Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM.

Selain mengurusi konten website bencana kesehatan bersama para konsultan, melaksanakan tugas hariannya, Madelina juga kerap dilibatkan dalam pelatihan, seminar, penelitian, dan pelaksanaan kuliah manajemen bencana. Oktober 2013 menyelesaikan pelatihan internasional (ITCDRR) mengenai Koordinasi Penanggulangan Bencana  oleh PPKK Kemenkes, Juni 2014 juga menyelesaikan pelatihan internasional mengenai manajemen bencana yang diselenggarakan atas kerjasama University of Hawaii dan UGM, dan kegiatan kebencanaan lainnya.

Gempa Nepal dan Bantuan Kemanusiaan dari Indonesia

Pembaca  website bencana kesehatan, baru kemarin kita berkumpul dan membahas mengenai manajemen bencana sektor kesehatan dalam pertemuan kongres dunia melalui fotumWCDEM kesembilan belas, Namun, bencana memang tidak pernah diduga kedatangannya, seiring kepulangan kami ke Indonesia, kami mendengar kabar bahwa telah terjadi gempa bumi Nepal dengan kekuatan 7,9 SR. Gempa ini telah meratakan banyak bangunan pemukiman, fasilitas umum, hingga bangunan bersejarah di Nepal. Hingga saaat ini pun, kami mendapat kabar bahwa korban telah mencapai angka 3 ribu ebih dan korban luka mencapai angka 6.ribuan. Bantuan terus berdatangan ke negara ini, termasuk dari Indonesia. Presiden Joko Widodo dalam sela pertemuan KTT ASEAN di Kuala Lumpur menyatakan bahwa akan mengirimkan tim medis dan SAR Indonesia ke Nepal. Namun dalam pernyataannya, Presiden Jokowi tetap menghimbau perhatian untuk keselamatan tim yang akan dikirimkan ke sana, termasuk Jokowi memikirkan tentang akses tim ke sana. Jokowi juga  menghimbau untuk menganalisis bantuan apa yang tepat untuk diberikan untuk korban Nepal, Selengkapnya . Dilansir oleh BNPB maka Indonesia telah memberikan bantuan 1 juta Dollar Amerikakepada korban Nepal. Bantuan ini berupa logistik makanan dan obat-obatan. Selain itu, BNPB mengirimkan juga tenda keluarga hingga 300 unit, tenda posko, tenda pengungsi, serta makanan tambahan gizi hingga sepuluh ribu paket. Dalam rapat koordinasi bersama kementerian terkait dan LSM, LSM terkait juga memberikan sejumlah bantuan, seperti sepuluh ribu kaleng kornet kambing, dan 50 kantong mayat. Selengkapnya

Derita Sinabung dan Gempa Nepal

sinabung

sinabung

Pembaca website bencana, semoga selalu dalam keadaan baik. Mei ini kita masih berduka dengan bencana Nepal yang memakan korban hingga 7000 jiwa lebih dan korban luka 13.000 jiwa lebih. Bantuan terus berdatangan ke Nepal dari berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Saat ini tim kesehatan sudah mendapat izin untuk beroperasi di RS Kanthipur dan RS lapangan di Satunggal distrik yang merupakan daerah terparah terkena gempa, simak selengkapnya dan . Dengan kondisi cuaca saat ini serta kollapsnya fasilitas umum, maka Nepal sangat membutuhkan bantuan dari Internasional, Selengkapnya dan .

Pembaca website bencana, di tanah air sendiri, kita masih berkutat dengan masalah letusan Gunung Sinabung. Sejak 2013 hingga saat ini seakan-akan masalah Sinabung tidak pernah berhenti dan masyarakat yang menjadi korban. Minggu ini dapat kita lihat di media massa mengenai pengusulan Sinabung menjadi bencana nasional sehingga bantuan dapat diberikan dari APBN juga, selengkapnya dan .

Pembaca website bencana, jangan lewatkan reportase kami mengenai World Congress on Disaster and Emergency Medicine April lalu di Cape Town, South Africa. Simak hasil penelitian manajemen bencana dan hal kegawatdaruratan lainnya yang berhubungan yang kami analisis dengan kondisi Indonesia saat ini, selengkapnya klik di sini .

Gempa 7,4 SR Guncang Papua Nugini, Ada Peringatan Tsunami

Gempa 7,4 SR Guncang Papua Nugini, Ada Peringatan Tsunami Port Moresby – Gempa bumi berkekuatan 7,4 Skala Richter (SR) melanda wilayah Papua Nugini. Peringatan tsunami dikeluarkan untuk wilayah sejauh 300 kilometer dari pusat gempa, namun diperkirakan tidak bersifat menghancurkan.

Disampaikan Survei Geologi AS (USGS) seperti dilansir Reuters, Selasa (5/5/2015), pusat gempa berada di lokasi sejauh 150 kilometer dari kota Rabaul, Papua Nugini. Gempa tercatat terjadi sekitar pukul 01.40 GMT di kedalaman 63 kilometer dari permukaan laut.

Gempa ini awalnya tercatat berkekuatan 7,5 SR namun kemudian diturunkan menjadi 7,4 SR. 

Secara terpisah, Pusat Peringatan Tsunami Pasifik mengeluarkan peringatan tsunami. Namun diperkirakan tidak akan ada tsunami yang bersifat merusak dan meluas ke wilayah Pasifik. Diperkirakan tsunami tidak akan mencapai wilayah Hawaii.

Pemilik Hotel Rabaul di Rabaul, Susan McGrade menuturkan kepada Reuters, gempa bumi ini terasa kuat di wilayah tersebut. Bahkan dilaporkan air yang ada di kolam renang ikut bergelombang. 

Namun demikian, sejauh ini belum ada laporan kerusakan di wilayah tersebut.

Gempa bumi ini merupakan yang terbaru dari rangkaian gempa bumi yang melanda wilayah Papua Nugini dalam beberapa hari terakhir. Pada Jumat (1/5) lalu, gempa berkekuatan 7,1 SR melanda wilayah yang berjarak 110 kilometer barat daya kota Kokopo. 

Sehari sebelum itu, atau pada Kamis (30/4), gempa berkekuatan 7,7 SR membuat panik warga di lepas pantai dekat Papua Nugini dan Kepulauan Solomon diminta tetap waspada. Gempa tercatat terjadi di 54 kilometer dari kota Kokopo Panguna di Pulau New Britain, dengan kedalaman sekitar 65 kilometer.

sumber: detik

Erupsi Sinabung Patut Jadi Bencana Nasional

 Medan. Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menilai, erupsi Gunung Sinabung patut dijadikan bencana nasional. Dengan begitu, ada political will dari pemerintah pusat untuk menganggarkan dana dalam APBN untuk penanganan bencana secara komprehensif dan berkesinambungan.

“Ada beberapa opsi metode penanganan bencana Sinabung. Jadi bencana nasional, atau bencana lokal tapi ada komitmen dana untuk rekonstruksi lewat APBN atau perlu dibentuk semacam badan rehabilitasi dan rekonstruksi bencana Sinabung,” kata Fahri Hamzah.

Fahri mengatakan itu dalam rapat koordinasi dengan Gubsu Gatot Pujo Nugroho, di Kantor Gubsu, Medan, Senin (4/5). Rapat dihadiri Sekda Kabupaten Karo Seberina, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan tokoh masyarakat Karo Arya Sinulingga.

Dari sisi DPR RI, Fahri mengaku siap memfasilitasi dan berkoordinasi dengan pemerintah pusat agar lebih memokuskan penanganan bencana erupsi Sinabung. Sekarang, yang dibutuhkan rekomendasi dari pemerintah kabupaten dan provinsi. Rekomendasi itu ditujukan ke pemerintah pusat agar menetapkan bencana Sinabung menjadi bencana nasional.

Seperti yang dikatakan Gubsu, katanya, jangan dilihat bencana erupsi Sinabung ini dari sisi korban jiwa sehingga baru bisa ditetapkan skala bencananya. Tapi, efeknya berkepanjangan dan setiap hari dirasakan.

Apalagi, paparnya, sejumlah ahli vulkanologi mengaku tidak tahu pasti kapan berakhirnya bencana ini. Bencana ini telah merusak pertanian masyarakat. Padahal, pertanian merupakan pencarian utama masyarakat di sana.

Gubsu Gatot Pujo Nugroho mengaku, penanganan bencana erupsi Sinabung memang seharusnya ditanggulangi secara komprehensif pemerintah pusat. Soalnya, daerah sudah tidak mampu berbuat banyak karena keterbatasan anggaran.

“Dulu sewaktu masa Presiden SBY, kita usulkan agar masuk menjadi bencana nasional. Namun, BNPB ketika itu menilai kriterianya tidak bisa dikatakan sebagai bencana nasional karena melihat minimnya korban jiwa,” sebut Gubsu.

Ternyata, lanjutnya, letusan Sinabung kedua mulai 15 September 2013 hingga kini masih kerap terjadi. Hal ini sangat mengganggu sistem perekonomian di Sumatera Utara terlebih lagi di Kabupaten Karo sendiri.

“Soalnya, lahan pertanian rusak sehingga mengganggu mata pencarian utama masyarakat Karo,” ucap Gubsu.

Seberina menambahkan, bantuan rumah 50 unit sudah selesai dan ditambah lagi 53 unit yang sedang finishing. Rencananya akan diserahkan ke masyarakat.

Namun, paparnya, masyarakat masih belum bisa menempatinya karena belum adanya fasilitas umum. “Tahap dua, akan dibangun rumah untuk 1.683 kepala keluarga untuk relokasi warga empat desa,” jelasnya.

Selain itu, lanjutnya, masyarakat yang di atas radius 3- 10 kilometer juga terdampak erupsi Sinabung. Mereka juga patut diperhatikan. Soalnya, lahan pertanian mereka tidak bisa berproduksi efektif.

“Termasuk juga anak sekolah. Dulu, ada disiapkan bus, sekarang tidak lagi,” ungkapnya.

Arya Sinulingga menilai, sejauh ini belum ada konsep pemerintah untuk penanggulangan bencana erupsi Sinabung secara berkesinambungan. “Padahal, tidak ada peraturan khusus soal penetapan bencana nasional atau tidak,” tegasnya.

Khusus untuk bencana Sinabung, lanjutnya, seharusnya bisa dibuat seperti transmigrasi, hanya saja, relokasi warga tidak keluar daerah. Program idealnya, sewa rumah dan isinya serta lahan pertanian sampai relokasi dilakukan.

“Kemudian, jaminan hidup Rp 3,5 juta per KK per bulan seperti sistem transmigrasi, bukan hanya Rp 6.000 per orang per hari selama tiga bulan.

Bantuan pertanian diberikan sampai relokasi. Masyarakat dimasukkan sebagai peserta KIS (Kartu Indonesia Sehat), KIP (Kartu Indonesia Pintar) dan KKS (Kartu Keluarga Sejahtera),” sebutnya.

Selain itu, tambahnya, perlu juga pemberian beasiswa full untuk perguruan tinggi. Karena, kita melihat pasca erupsi, 70% pemuda Karo tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Mereka hanya mampu di kisaran diploma tiga.

“Kita sedang mengupayakan agar 800 pemuda Karo mendapat beasiswa full di perguruan tinggi,” jelasnya. ( ramita harja)

sumber: medanbisnisdaily