Tim SAR Dog Jakarta Rescue Temukan Mayat di Reruntuhan Bangunan

 Dharmastali, – Tim SAR Dog Jakarta Rescue (SDJR) berhasil menemukan mayat yang terkubur reruntuhan bangunan di Dharmastali, Khatmandu, Nepal. Tim melakukan penyisiran dengan mengerahkan dua ekor anjing bernama Alfa dan Delta.


Tim SDJR sebelumnya sempat melakukan penyisiran di Dharmastali pada Sabtu (2/5). Namun karena tim SAR dari negara lain juga melakukan pencarian di lokasi yang sama, maka tim SDJR urung bekerja.

“Kita nggak bisa kalau sudah ada tim lain di lokasi terus ikut menyisir. Itu nggak boleh,” ujar Kepala Tim SDJR Hadianto Warjaman di Dharmastali, Nepal, Selasa (5/5/2015).

Dalam pencarian, anjing bernama Delta bekerja kurang dari 10 menit. Mendadak ia menyalak saat berada di tumpukan batu bata dan kayu kemudian bergerak mundur dan kembali menggong saat maju melangkah.

“Itu ada mayat sepertinya. Good boy Delta!” ucap Hadianto yang akrab disapa Anto ini.

Anto menjelaskan timnya tidak bertugas mengevakuasi jasad korban. Mereka hanya meneruskan kabar penemuan mayat ke pihak yang berwenang.

“Nggak bisa kita ambil korban yang meninggal. Karena mayat itu juga udah agak lama. Selain berbahaya untuk anjing, untuk manusia juga berbahaya. Akhirnya kita kasih patok saja itu,” tuturnya Dia menuturkan anjing yang dikerahkan biasanya melakukan pencarian dalam waktu maksimal 20 menit. Ada sejumlah tanda yang ditunjukkan oleh anjing apabila menemukan korban yang masih hidup atau tewas.

“Bila anjing tersebut menggonggong 10 kali berarti ditemukan korban dalam kondisi hidup. Namun apabila anjingnya menggonggong 1 kali lalu mundur, berarti ada korban yang tewas di situ,” lanjut Anto.

Sebelum anjing diterjunkan ke lokasi, tim penyisir dari SDJR lebih dulu mengecek ke lokasi untuk memastikan tidak ada tim lain yang sedang melakukan pencarian.

Anto menambahkan, tim SDJR sudah mendapatkan 3 sertifikat dari dunia ats keberhasilannya selama 20 tahun mengabdi pada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sertifikat tersebut membuat tim SDJR bisa bertugas dalam misi penyelamatan bencana di seluruh dunia.

“Tanggal 18 Mei nanti tim kita akan ke Perancis untuk ikut konferensi rescue,” ujar Anto.

Canada sending full Disaster Assistance Response Team to Nepal

Nepal, DART, Canada

The federal government says Canada’s Disaster Assistance Response Team will be deployed immediately to earthquake-stricken Nepal.

Officials say DART members from Canadian Forces Base Trenton will be heading to Nepal, along with civilian political and humanitarian personnel from Foreign Affairs.

The day after last week’s earthquake, Canada deployed the Interdepartmental Strategic Support Team, followed by DART members to assess the situation in Nepal.

The assessment team delivered its recommendations on Friday, including that additional elements of DART should support the relief efforts.

DART is an element of Canada’s response to natural disasters abroad that provides water purification, primary medical care, and engineering help.

source: cp24

Canada sending full Disaster Assistance Response Team to Nepal

Nepal, DART, Canada

The federal government says Canada’s Disaster Assistance Response Team will be deployed immediately to earthquake-stricken Nepal.

Officials say DART members from Canadian Forces Base Trenton will be heading to Nepal, along with civilian political and humanitarian personnel from Foreign Affairs.

The day after last week’s earthquake, Canada deployed the Interdepartmental Strategic Support Team, followed by DART members to assess the situation in Nepal.

The assessment team delivered its recommendations on Friday, including that additional elements of DART should support the relief efforts.

DART is an element of Canada’s response to natural disasters abroad that provides water purification, primary medical care, and engineering help.

source: cp24

Gempa Nepal, Tinggal Enam WNI yang Belum Ditemukan

Gempa Nepal, Tinggal Enam WNI yang Belum Ditemukan

Jakarta – Enam orang warga negara Indonesia (WNI) masih belum ditemukan di Nepal setelah gempa melanda negara itu pada Sabtu, 25 April 2015 lalu. “Pencarian WNI yang berada di Nepal masih dilakukan oleh Tim Indonesia Peduli Nepal,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, Ahad, 3 Mei 2015 pagi.

WNI yang melakukan kunjungan di Nepal sebanyak 66 orang. Sebanyak 23 orang telah diketahui dalam keadaan baik, sedangkan 38 orang sudah berada diluar Nepal.

Adapun para WNI, baik yang menetap di Nepal maupun pengunjung saat terjadi gempa di Nepal berdasarkan laporan Tim Indonesia Peduli Nepal, adalah Diah Ismaya Sandrasari,
Winarti Karyono, Samini, Evi Nurlaila Ana, Fitri Rosdiana BT Rusdi Jumiah, Aprieri Dwi Sagita Putri, Maya Apriyani, Ariani Hasanah Soejoti, Wayan Sudarmiati Kushle, Maria E. Putuhena, Purwanti, Ni Komang Widiasih, Raina Salim Mukhsin, Hatoun Ahmed Abelhay, Ahmed Muhammed Albehay, Painah, Desti Rachmawati, Natasha Rai, Maryatun Tomang, Tri Wahyuni, Freddy Lawrens Halomoan Hutabarat (berada di Jakarta), Grace Liasta Tarigan (berada di Jakarta), Ni Putu Purniawati (berada di Dubai), Ari Isyanawati, Toyibah, Anita Huet, Sofiya Buni/Buniati, Ziana Gurung, Kristina Binti Sukardi, dan Maryati.

Sebanyak 23 WNI yang berkunjung dan telah dapat dihubungi dalam keadaan baik adalah Tessy Ananditya, Sapta Hudaya, Nuri Arunbiati, Ong Kim Han, Yanti, Cecilia Enny, dr Meinardi Mastur, dr Ahmad Novel, dr Prabudi, dr Eko Prasetyo, Kusumorini Susanto, Ayomi Amindoni, Erikodiony Ariessa Wahyudi, Tjerah Leonardo, Lily Leonardo, Oliver Hancock,.Familia Novita, Rainul Pria, seorang teman dari Rainul Pria, Al Safari, Ananda Paulina Laslani Gharti, Ahza Gharti B, dan Cheryl Winnie Kwandy.

Di lain pihak, lima WNI yang sedang berkunjung serta belum dapat dihubungi adalah Alma Parahita (koordinat diketahui, tapi belum dapat dikontak), Kadek Andana (koordinat diketahui, tapi belum dapat dikontak), Jeroen Hehuwat (koordinat diketahui, tapi belum dapat dikontak), Dewi Pancaringtyas Asih, Meliana Tamo Ina, serta Parsiah Majudi. Semuanya belum bisa dihubungi.

Adapun 38 WNI yang berkunjung dan sudah berada di luar Nepal, termasuk di Jakarta, adalah Yospina Opang, Gama Imamy Gunadi, Lewis Cassidy, Hafid Zulkarnaen, Hendry Renaldo, Rudianto Utomo, Dhimas Anggakara, Fadli Andrian, Ardyan Hafizh, Sutansyah Marahakim, Yulia Suparti, Gregorius Endrianto, Martin Dody Kumoro, Nuryadi Budianto, Nike, Indra, Lucia Nancy, Agustina Soleh, Virgo Dirgantara, Handri Ramdhani, Nicko Ronny, Dewi Wirawan, Acah.

WNI yang kini berada di Bandung adalah Muhammad Insan Kamil, sedangkan lima orang di Pekan Baru adalah Pramudyana Agus Harlianto, Aryuni Masudah, Rauf Abror Pramudyana, Rais Hafidz Pramudyana, dan Dzakiyya Amira Pramudyana.

Lainnya di Medan: Ahmad Taufan Damanik, Esther Indriani, Laura Andriani Hukom, Veronica Dhiana Anggraeni, Emmy Lucy Smith. Di Singapura, Vicky Ardianto. Bali, Ni Luh Putu Sri Purna Widari. Samarinda, Mokhammad Fadlie, dan dari Yogyakarta Mohamad Eko Prayogo.

WNI yang sudah berada di Posko Pencarian dan Evakuasi WNI di Nepal adalah Cecilia Enny Yashita Aprijanti, dr. Meinard Mastoer, dr. Achmad Novel, dr. Prabudi, dr. Eko Prasetyo, Virgo Dirgantara, Handri Ramdhani, Nicko Ronny Gardano, Ayomi Amindoni, Tessy Ananditya, Sapta Hudaya, Oliver Hancock, Familia Novita

Rencana WNI akan dievakuasi pada Selasa, 5 Mei 2015 lusa menumpang pesawat Boeing 737 TNI AU dari Nepal ke Halim Perdanakusumah Jakarta.

sumber: tempo

SUPRIYANTHO KHAFID

Gempa Nepal, 1.000 Warga Eropa Dinyatakan Hilang

Gempa Nepal, 1.000 Warga Eropa Dinyatakan Hilang

Kathmandu– Sekitar seribu orang dari negara-negara Uni Eropa hilang akibat gempa berkekuatan 7,8 skala Richter menerjang Nepal pada Sabtu, 25 April 2015. Sedangkan 12 orang dari Uni Eropa dipastikan tewas.

“Kami tidak tahu ada di mana mereka atau apa yang terjadi pada mereka,” kata Duta Besar Uni Eropa Renjse Teerink kepada wartawan, seperti dikutip, Jumat, 1 Mei.

Rensje menambahkan, kebanyakan dari mereka yang hilang atau tewas adalah turis di wilayah Langtang dan Lukla. Gempa dahsyat di Nepal pekan lalu menewaskan lebih dari 6.000 orang.

Langtang adalah kawasan pemanjatan di Kathmandu utara yang terkena longsoran salju dan tanah yang hebat. Sedangkan Lukla adalah titik pendakian bagi para pendaki ke base camp puncak Everest. Nepal adalah tujuan pendakian terkenal bagi pendaki dan pemanjat tebing.

Tim penyelamat berjuang mencapai daerah-daerah terpencil di negara berpegunungan yang populer di kalangan pendaki untuk mencari penyintas. Sedangkan para turis dan warga setempat berkelahi untuk bisa diungsikan lewat udara ke tempat aman.

Para diplomat kesulitan menemukan jejak warga mereka yang hilang karena banyak backpacker tidak mendaftarkan diri ke kedutaan besar mereka begitu tiba di Nepal.

sumber: TEMPO.CO

Ajak Masyarakat Bantu Korban Gempa Nepal, PMI Sediakan 3 Rekening Bank

Jakarta – Gempa 7,9 Skala Richter (SR) yang mengguncang Nepal mengakibatkan jatuh ribuan korban meninggal dunia. Untuk membantu korban gempa di Nepal, Palang Merah Indonesia (PMI) mengajak masyarakat Indonesia peduli dan mengirimkan bantuan.

“Kami menghimbau masyarakat yang ingin membantu musibah di Nepal dapat melalui rekening dari PMI,” ujar Ketua Harian PMI, Ginanjar Kartasasmita di Kantor PMI, Jalan Gatot Subroto, Jaksel, Senin (27/4/2015).

Ginanjar mengaku mendapat laporan dari pemerintah Nepal, bahwa korban dimungkinkan bisa mencapai 100 ribu jiwa. Indonesia yang pernah mengalami musibah seperti Tsunami Aceh dan Gempa Yogyakarta, dulu juga mendapat bantuan dari negara-negara lain.

“Pada saat Tsunami di Aceh kita dibantu besar-besaran oleh negara-negara lain, alangkah baiknya dari hati nurani kita menghimbau masyarakat kita juga membantu seadanya,” terangnya.

Bila ingin membantu dan peduli terhadap korban gempa Nepal, masyarakat dapat mengirimkan dana ke rekening Bank atas nama PMI. Berikut tiga cabang rekening bank tersebut:

Nama Bank: Mandiri
Cabang: KCP JKT KRAKATAU STEEL
Swift Code: BMRIIDJA
Atas Nama: Palang Merah Indonesia
No Rekening: 070-00-0011601-7

Nama Bank: BCA
Cabang: KCU THAMRIN
Swift Code: CENAIDJA
Atas Nama: Kantor Pusat PMI
No Rekening: 206.300668.8

Nama Bank: BRI
Cabang: KC Pancoran
Swift Code: BRINIDJA
Atas nama: Palang Merah Indonesia
No Rekening: 0390-01-000030-30-3

Ikuti berbagai berita menarik hari ini di program “Reportase Sore” TRANS TV Senin sampai Jumat pukul 16.45 WIB

sumber: detik.com

Korban gempa Nepal lampaui 3.000 jiwa

Sedikitnya 3.617 orang diketahui tewas akibat bencana besar yang melanda Nepal, pada Sabtu (25/04), seperti diungkapkan kepolisian.

Selain korban tewas, Pusat Operasi Darurat Nasional mengatakan 6.500 orang cedera.

Korban tak hanya di Nepal. Puluhan orang juga dilaporkan tewas di negara-negara tetangga, antara lain Cina dan India.

Pihak berwenang memperingatkan jumlah korban jiwa mungkin masih akan bertambah karena tim penyelamat baru bisa mencapai kawasan pegunungan yang terpencil di Nepal barat.

Di Puncak Everest, 200 pendaki gunung berhasil diselamatkan dari longsoran salju.

Tim penyelamat dilaporkan sudah mencapai kawasan-kawasan perkampungan terpencil.

Laporan-laporan awal menyebutkan banyak perkampungan -khususnya yang dekat dengan pegunungan- menderita korban jiwa besar dan kerusakan berat akibat gempa berkekuatan 7,8 skala Richter.

“Kampung-kampung seperti itu rutin dilanda longsor dan bukan tidak biasa jika seluruh kampung dengan 200, 300, sampai 1.000 orang terkubur oleh bebatuan yang longsor,” jelas Matt Darvas, juru bicara badan bantuan World Vision.

Seorang pria yang diselamatkan dengan helikopter dari Pokhara, sekitar 200km dari ibukota Katmandu, mengatakan kepada World Vision bahwa kampungnya dengan lebih dari 1.000 rumah hancur.

Di Katmandu, tenda-tenda didirikan untuk ribuan pengungsi yang masih khawatir untuk kembali ke rumahnya karena ancaman gempa susulan.

Usai Gempa Nepal 7,9 SR, Pakar Perkirakan Gempa Lebih Dahsyat akan Terjadi

Usai Gempa Nepal 7,9 SR, Pakar Perkirakan Gempa Lebih Dahsyat akan Terjadi

Jakarta – Gempa 7,9 Skala Richter (SR) di Nepal pada Sabtu (25/4) lalu terjadi karena 2 lempeng saling beradu. Pakar geologi menilai, energi gempa Nepal pada Sabtu lalu belum dikeluarkan semua. Alias, masih ada energi yang lebih besar akan dilepaskan. Para pakar pun memperkirakan, gempa lebih dahsyat akan terjadi lagi di tahun-tahun mendatang.

“Tumbukan antara Lempeng India dan Eurasia adalah pertunjukan geologi,” jelas geofisikawan dari Universitas Hong Kong, Lung S Chan, seperti dikutip dari Wall Street Journal (WSJ), Senin (27/4/2015).

Lempeng India bergerak mendorong ke utara ke menuju Lempeng Eurasia dengan kecepatan 5 cm per tahun. “Secara geologi, itu termasuk sangat cepat,” imbuh Chan.

Saat lempeng itu saling mendorong, gesekan di antara kedua lempeng menimbulkan ketegangan dan energi hingga menimbulkan pecahan retakan, demikian dikatakan Chan menganalogikan dengan ledakan senjata termonuklir.

Chan menambahkan, setelah gempa terjadi, lempeng terus bergerak dan jam direset ulang.

“Gempa bumi menghilangkan energi, seperti mengangkat tutup panci air mendidih. Tapi itu membangun kembali setelah Anda menempatkan tutup kembali,” jelas Chan.

Sedangkan pakar gempa Chinese University Hong Kong, Hongfeng Yang, mengatakan, kasus pada gempa bumi Nepal lalu, ada lempeng yang mencuat sekitar 2 meter

Sementara menurut US Geological Survey (USGS), gempa Nepal pada Sabtu lalu terjadi di kedalaman yang relatif dangkal. Gempa serupa cenderung menyebabkan lebih banyak kerusakan dan gempa susulan daripada yang terjadi jauh di bawah permukaan Bumi.

Menurut laporan National Society for Earthquake Technology, catatan dari tahun 1255 di wilayah perbatasan Lempeng India dan Eurasia itu dikenal sebagai zona jahitan Indus-Yarlung, dengan riwayat mengalami gempa berkekuatan 8 SR setiap 75 tahun. Alasannya adalah adanya gerakan yang teratur dari garis patahan yang membentang di sepanjang perbatasan selatan Nepal, di mana anak benua India bertabrakan dengan lempeng Eurasia pada 40 juta sampai 50 juta tahun yang lalu.

Gempa terakhir dengan besaran sama di kawasan Nepal terjadi pada tahun 1934 atau 81 tahun lalu. Gempa bumi umum terjadi di Nepal, salah satu daerah seismik paling aktif di dunia. Gunung-gunung yang ada merupakan konsekuensi dari lempeng tektonik India yang berada di Asia Tengah (lempeng tektonik Eurasia). Kedua lempeng besar tersebut bergerak sekitar 4-5cm per tahun.

Sedangkan Laurent Bollinger dari lembaga penelitian CEA di Prancis dan rekan-rekannya menemukan pola bersejarah gempa saat meneliti di Nepal bulan lalu. Mereka telah memperkirakan gempa besar di tempat terjadinya gempa besar hari Sabtu, demikian seperti dilansir dari BBC.

Tetapi tim penelitian Bollinger dapat memperlihatkan bahwa bagian patahan ini sudah sejak lama tidak bergerak.

“Kami memperlihatkan patahan ini tidak menyebabkan gempa besar tahun 1505 dan 1833, dan terakhir kali fault ini berpindah kemungkinan besar pada tahun 1344,” kata Bollinger yang menyampaikan temuaannya kepada Nepal Geological Society dua minggu lalu.

“Kami dapat melihat baik Kathmandu dan Pokhara sekarang akan mengalami gempa yang mengubah patahan utama, kemungkinan besar terjadi terakhir kali pada tahun 1344 di antara kedua kota,” jelas Paul Tapponnier dari Earth Observatory of Singapore yang bekerja sama dengan Bollinger.

Dan gawatnya, tim peneliti memperingatkan akan terjadi lagi gempa.

“Perhitungan pendahuluan mengisyaratkan gempa hari Sabtu dengan kekuatan 7,8 kemungkinan tidak cukup besar untuk mengangkat pecahan sampai ke permukaan bumi, jadi masih ada kemungkinan lebih banyak gaya yang tersimpan, dan kita kemungkinan akan mengalami gempa besar lagi ke arah barat dan timur dari gempa yang sekarang dalam puluhan tahun ke depan,” kata Bollinger.

Ribuan Korban Gempa Nepal Telantar, Indonesia Kirim Tim SAR

Tim penyelamat  memindahkan puing-puing bangunan untuk mencari korban gempa Nepal di Bhaktapur, dekat Kathmandu, Nepal, Minggu (26/4).

KATHMANDU — Puluhan ribu korban gempa dahsyat di Nepal, Senin (27/4), masih telantar dan belum dievakuasi. Mereka kesulitan air, makanan, selimut, dan tidur di alam terbuka akibat ketiadaan tenda darurat.

Situasi semakin buruk akibat warga terisolasi setelah jalan dan jembatan putus total sehingga menyulitkan proses evakuasi. Di beberapa tempat, tentara dan regu penolong menggunakan sekop untuk menyingkirkan material longsor karena buldoser tak bisa masuk.

Jumlah korban tewas, Senin, mencapai 3.218 orang dengan korban luka menyentuh angka 6.000 orang. Jumlah korban sangat mungkin bertambah karena banyaknya permukiman di daerah terpencil dan pegunungan yang belum dapat ditembus relawan.

Kelompok pegiat kemanusiaan yang menerima laporan dari penduduk desa-desa terpencil di pegunungan mengatakan, semua permukiman di lereng-lereng gunung hancur. Ratusan orang tewas dan ratusan warga yang terluka sulit dievakuasi, mereka pun bergulat dengan kondisi yang sulit.

Pemerintah Nepal mengalami kesulitan besar. Meski bantuan internasional mulai berdatangan, jumlahnya masih terbatas. Evakuasi korban dan distribusi bantuan sulit dilakukan akibat jalan ke sebagian besar daerah bencana tertimbun longsoran. Distrik Gorkha yang meliputi banyak desa terpencil di wilayah pegunungan adalah salah satu daerah korban bencana terparah.

Semua jalan ke Distrik Gorkha sulit dilalui, harus berjalan kaki karena tertimbun longsoran. Kepala Distrik Gorkha Prakash Subedi mengatakan, kondisi itu menghambat evakuasi oleh tim penolong. Tim terpaksa mencari jalan setapak menyusuri jalur gunung untuk mencapai desa-desa terpencil.

“Desa-desa di wilayah itu telah secara rutin terkena tanah longsor. Namun, gempa dahsyat kali ini adalah peristiwa alam tidak biasa bagi seluruh desa. Mungkin ada ratusan hingga ribuan orang yang benar-benar terkubur oleh tanah dan batu longsor,” kata Matt Darvas dari lembaga bantuan World Vision. “Wilayah ini hanya bisa dijangkau helikopter,” ujarnya.

Terbatas

Rumah sakit, fasilitas kesehatan, dan tenda darurat sangat terbatas. Tidak ada air bersih dan penerangan akibat jaringan listrik putus. Terputusnya sambungan telepon juga menyulitkan komunikasi dari lokasi.

Bantuan dari sejumlah negara tetangga, seperti Tiongkok, India, dan Pakistan, telah tiba di Kathmandu beserta tim penyelamat dan bantuan logistik. Bahkan, Pakistan telah mengirim ratusan tenda darurat dan 2.000 kotak makanan siap saji..

Namun, itu semua masih jauh dari kebutuhan. Negara-negara lain mengirimkan dukungan pada hari Minggu, termasuk Amerika Serikat, Kanada, Uni Emirat Arab, Inggris, Jerman, Perancis, Polandia, Italia, Israel, Singapura, dan Indonesia.

Helikopter hilir mudik mengangkut pendaki Gunung Everest yang tewas dan terluka. Gempa bumi memicu longsor dan memorakporandakan sebagian kamp pendaki. Kementerian Pariwisata Nepal mengatakan, sekitar 1.000 pendaki berada di lereng gunung itu, termasuk 400 warga asing.

Di daerah yang paling parah dilanda gempa, Gunung Qomolangma, petugas menemukan 18 mayat pendaki gunung. Enam helikopter berhasil mencapai gunung itu setelah cuaca membaik.

Sementara itu, Menara Dharahara, bangunan berlantai sembilan yang menjadi daya tarik utama wisatawan di Kathmandu, ibu kota Nepal, ambruk diguncang gempa. Polisi mengatakan, sebanyak 150 orang diduga berada di menara itu saat bencana terjadi.

Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan, rumah sakit di Lembah Kathmandu dipenuhi pasien. RS mulai kehabisan pasokan darurat dan ruang untuk menyimpan mayat. Sebagian dokter merawat pasien di tenda darurat yang juga sangat terbatas.

Guncangan kuat, yang diikuti sedikitnya 14 gempa susulan juga mengguncang beberapa wilayah negara bagian di India dan Pakistan. Lebih dari 60 orang tewas di dua negara ini.

Indonesia kirim tim SAR

Untuk membantu korban bencana gempa bumi di Nepal, Pemerintah Indonesia tak hanya mengirimkan bantuan kemanusiaan, tetapi juga akan mengirimkan tim SAR dan tim medis.

Saat ditanya wartawan seusai menghadiri jamuan makan malam bagi para kepala negara peserta KTT ASEAN di Kuala Lumpur Convention Centre (KLCC), Kuala Lumpur, Malaysia, Minggu (26/4), Presiden Joko Widodo mengatakan, pengiriman tim SAR dan medis ke Nepal masih harus melalui proses. Pemerintah Indonesia harus melihat kondisi dan pemantauan di lapangan.

“Kita siap membantu. Ini masih dalam proses karena di sana bandara belum bisa didarati. Kita cek, apakah nanti akan lewat India atau langsung ke Nepal. Mungkin dalam waktu tiga atau empat hari baru kita bisa masuk. Bukan hanya bantuan obat-obatan dan makanan, tetapi juga tim SAR dan tim medis. Itu yang kami tengah proses,” ujar Presiden Jokowi.

Menurut Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Kementerian Luar Negeri sudah melakukan koordinasi internal. “Besok sudah akan ada pembahasan lebih detail apa yang akan kita bantu untuk Nepal. tetapi, prinsipnya, sebagaimana yang sudah disampaikan Presiden, kita akan membantu mengirimkan tim SAR kita, tim medis dan kebutuhan pokok yang diperlukan Pemerintah Nepal saat ini, termasuk makanan siap saji,” kata Retno.

WNI belum bisa dikontak

Terkait dengan jumlah warga negara Indonesia (WNI) di Nepal, kata Retno, hingga Minggu malam tercatat ada 49 WNI. Dari jumlah itu, sebanyak 18 adalah WNI yang tinggal di sana. Selebihnya adalah yang tengah berkunjung.

“Dari 18 orang yang tinggal di Nepal, 9 orang sudah bisa dikontak. Namun, sembilan lain belum bisa. Sementara itu, 31 orang yang berkunjung, sebanyak 20 orang sudah bisa dikontak. Adapun 11 orang lain belum bisa dikontak. Meski demikian, kita terus berupaya untuk mencoba menghubungi mereka. Namun, karena komunikasi masih sulit, komunikasi sangat lamban,” ujar Retno.

Untuk itu, kata Retno, Kementerian Luar Negeri sudah minta duta besar RI di Dhaka, yang meliputi wilayah Nepal, segera kembali ke pos. “Kebetulan yang bersangkutan masih berada di Jakarta setelah mengantar semua delegasi KAA ke Jakarta. Jika memungkinkan, kita minta dia masuk ke Nepal untuk mencoba berkomunikasi dengan WNI yang ada di Nepal,” ujar Retno.

Untuk menampung pertanyaan keluarga terkait dengan keberadaan 49 WNI, Kementerian Luar Negeri meminta direktorat perlindungan warga negara untuk membuka komunikasi dan menyiapkan sarana komunikasi di Nepal. Sejauh ini, Indonesia belum memiliki kedutaan besar di Nepal, tetapi baru konsul kehormatan.

Terkait gempa bumi di Nepal, Retno mengatakan, pihaknya telah menyampaikan dalam pertemuan KTT ASEAN di Malaysia, khususnya kepada Ketua Delegasi Malaysia agar pertemuan KTT ASEAN juga menyampaikan simpati dan dukacita mendalam terhadap pemerintah dan rakyat Nepal.

“Menurut rencana, Senin ini, akan ada statement khusus dari KTT ASEAN mengenai gempa bumi yang terjadi di Nepal,” ujarnya.

Media sosial

Selain media-media arus utama, pembahasan tentang gempa bumi di Nepal juga terpantau lalu lalang di media sosial. Linimasa Twitter, misalnya, relatif dipenuhi oleh beragam konten terkait dengan peristiwa itu. Salah satu topik ialah mengenai kondisi para pendaki gunung di Himalaya, Nepal.

Beragam kicauan yang diunggah sebagian tentang kekhawatiran mengenai kondisi para pendaki asal Indonesia yang pada saat kejadian berada di kawasan gempa bumi. Belakangan diketahui, sebagian pendaki Indonesia tidak termasuk dalam sejumlah pendaki yang menjadi korban dan meninggal dunia dalam gempa tersebut.

Relatif besarnya perhatian pengguna Twitter pada topik pendaki yang tengah melakukan aktivitas di Nepal pada saat gempa bumi terjadi direkam layanan aplikasi Topsy. Hingga satu jam terakhir sebelum pukul 12.12, Senin, terdapat 1.564 kali frasa “pendaki Nepal” dipergunakan di linimasa Twitter.

Sejumlah pengguna mengunggah beragam konten, seperti pemakai akun @alvazettu yang menulis: Wah, katanya ada 1.000 pendaki di Mount Everest waktu gempa terjadi di Nepal. Ngeri ih! -_-.

Adapun pengguna akun ?@FAFA_12680 mengatakan: Turut berduka atas meninggalnya 18 pendaki di everest akibat gempa Nepal,

Sementara itu, pemakai akun ?@Vigamey_ menulis: Bagaimana nasib pendaki di nepal, turut berduka cita.

(Ingki Rinaldi/AFP/AP/REUTERS)

Indonesia Kirim Tenaga Medis, SAR, dan Peralatan Darurat ke Nepal

JAKARTA — Kementerian Luar Negeri RI akan mengirimkan sejumlah bantuan kemanusiaan untuk Nepal. Bantuan yang diberikan mulai dari tenaga medis, tenaga SAR, hingga peralatan darurat lainnya.

Dalam pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri, Pemerintah Indonesia telah menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya atas musibah gempa bumi berkekuatan 7,9 skala richter di Nepal yang menelan korban lebih dari 2.000 orang. Sebagai negara yang juga rawan akan bencana alam, Indonesia akan memberikan bantuan dan dukungan kepada rakyat Nepal dalam menghadapi bencana. 

“Dalam kaitan ini, Menlu RI telah berkoordinasi untuk pengiriman bantuan Indonesia sesuai kebutuhan di Nepal, antara lain berupa tenaga medis, bantuan SAR, makanan siap saji, selimut, tenda, dan obat-obatan,” demikian bunyi keterangan pers tersebut.

Kemenlu juga terus melakukan koordinasi dan berkomunikasi dengan KBRI Dhaka, Konsul Kehormatan RI di Kathmandu, serta berbagai pihak terkait informasi sehubungan WNI yang ada di Nepal. Dari data saat ini, terdapat 18 orang WNI yang menetap di Nepal dan 16 WNI tercatat sedang melakukan kunjungan, baik sebagai turis maupun kegiatan resmi, sehingga total WNI ada 34 orang. Dari jumlah tersebut, 17 orang telah berhasil dihubungi dan dalam keadaan baik.

Menteri Luar Negeri Indonesia Retno LP Marsudi di sela-sela acara KTT ASEAN di Kuala Lumpur mengungkapkan, bantuan akan diberikan dalam waktu 3-4 hari lagi. Bantuan diberikan setelah memastikan bandara di Kathmandu bisa berfungsi dengan baik. Saat ini, kondisi bandara rusak akibat gempa tersebut.

Pemerintah Nepal, Minggu (26/4/2015), meningkatkan upaya untuk menyelamatkan orang-orang yang terjebak dalam reruntuhan bangunan yang ambruk setelah gempa bumi dahsyat menghancurkan lembah Kathmandu yang padat penduduk kemarin. Gempa itu juga memicu longsor mematikan di Gunung Everest.

Gempa berkekuatan 7,9 SR tersebut mengguncang pada Sabtu tengah hari pada jam sibuk. Korban tewas sejauh ini sedikitnya 1.800 orang. Jumlah korban tewas diperkirakan akan terus bertambah setelah penyelamatan semalam terhambat oleh sejumlah gempa susulan yang kuat, jalan raya yang terputus, dan kurangnya peralatan. Gempa bumi itu, yang berpusat sekitar 80 kilometer di sebelah timur kota Pokhara, kota kedua terbesar di negara itu, sangat merusak karena tergolong dangkal.

sumber: KOMPAS.com