Quake jolts govt to formulate disaster management plan

Even as tremors from aftershocks in Nepal after Saturday’s earthquake continue to rumble across the city, the Delhi government is yet to finalise the mandatory state disaster management plan.

While the capital’s respective districts have their local plans drawn up and ready, it still awaits the green light from the Delhi Disaster Management Authority (DDMA) that includes the Lieutenant Governor and Chief Minister.
Delhi, with its population of 16 million, falls under seismic zone IV.

According to the Vulnerability Atlas of India (1997), for shaking intensity VIII, 6.5 per cent houses in Delhi face high damage risk and 85.5 per cent houses face moderate damage risk.

Also, most buildings in Delhi may not meet requirements on seismic resistance.

In order to mitigate the consequences of a disaster, DDMA officials said engineering intervention is needed in buildings and structures to make them strong enough to withstand the impact of natural hazard.

Dormant for more than a year now — save a meeting or two — the DDMA is now ready with the draft of the state disaster preparedness and mitigation plan.

Incidentally, the draft was formulated in March 2014 and presentations were made before officials of the National Disaster Management Authority (NDMA) in a meeting last October.

“Since then, there have been minor changes in the draft which is an ongoing process. A few recommendations were made and we had to include these. We have done that now and the draft is ready,” a senior DDMA official said.

However, the draft is yet to be approved by the state executive committee headed by the Delhi chief secretary.

It lists out building critical infrastructure such as roads, drinking water, communication network, health and sanitation, physical and social environment.

The draft reads, “In view of these components, a risk assessment study was conducted. It identified that Delhi is densely built and consists of a large urban population. Any major earthquake or fire/chemical explosion can affect districts very badly. Although various steps have been taken by the government, a high degree of awareness and training is still required.”

The draft also states that urban disaster management and disaster mitigation strategies minimise risk and should be incorporated in masterplan of Delhi.

Incidentally, Delhi still lacks a disaster response fund — something the Disaster Management Act, 2005, mandates.

Ashwani Kumar, Commissioner (Revenue) said, “A state disaster response fund was supposed to be created. It has been delayed due to the long process involved. The file has gone to Central government for approval. As far as the mitigation funds are concerned, we have discussed and decided that it is best if the departments create a planned fund for the head

of disaster management rather than coming to the divisional commissioner for approvals. The file will now be processed.”

Audit outlines shortfalls in 2012 mock drill

Pinkerton, an agency, was given the task to collate findings of the mega mock drill that was conducted on February 15, 2012 to ascertain the preparedness of the city for any disaster. The Indian Army also did an audit of mock drill. Pinkerton’s report had revealed several shortcomings on the part of various emergency departments (during the mock drill) that could lead to rise in fatalities during a disaster if incorporated. Until August 2014, this report did not get approval. Now, based on the findings, a new draft has been prepared to overcome the faults. Officials said it has been placed before the authorities concerned. Based on the report, DDMA officials said training is being imparted in every district followed by a mock drill.

The audit found several lacunae

# Centres inadequately housed in small and cramped buildings which did not have even basic survival equipment such as hammers, torches, stretchers, maps of respective districts and emergency support staff

# Staff inadequately trained and unaware of communication protocols in case of emergencies

# Log books not maintained, thereby creating a problem in establishing an accurate reaction time for each emergency call

# Even the third-party audit established that emergency service response time was poor. Areas such as Old Delhi and East Delhi were inaccessible to emergency service vehicles. Even community response was poor

# Hospitals lacked disaster wards. No prioritisation among patients was made with an eye on reducing casualties

# No details of the dead and the discharged are maintained. The report emphasised that many reputed hospitals are high-rises and can develop cracks and, therefore, need alternate temporary structures

# At relief camps, the report cites lack of basic amenities like electricity and water. Some are even housed in unsafe structures

Pemerintah sumbang USD 1 juta untuk korban gempa di Nepal

Pemerintah sumbang USD 1 juta untuk korban gempa di Nepal

Jakarta – Gempa dahsyat yang terjadi di Nepal telah menimbulkan korban jiwa hingga lebih dari 3.000 orang. Sebagai bentuk solidaritas, Pemerintah Indonesia juga Palang Merah Indonesia (PMI) akan mengirimkan bantuan kepada Nepal.

Ketua Pelaksanaan Harian Palang Merah Indonesia (PMI), Ginanjar Kartasasmita, mengungkapkan bahwa pemerintah telah menyumbang dana untuk para korban bencana gempa yang terjadi di Nepal pada Sabtu (25/4).

“Total dana pemerintah bantu dalam jumlah uang USD 1 juta. Dan itu di luar bantuan obat-obatan,” ujar Ginanjar, Senim(27/4).

Ginanjar yang ditemui di Markas Pusat Palang Merah Indonesia, Jl. Jend. Gatot Subroto, Kav. 96, Jakarta Selatan ini mengungkapkan, selain Pemerintah, PMI juga memberikan sumbangan untuk korban bencana Nepal baik dalam berupa biaya maupun kebutuhan lainnya.

“Kami akan memberikan apa yang dibutuhkan di sana seperti nanti kami mengirim personel dengan spesialisasi khusus di bidang Air dan Sanitas (Watsan) dan logistik Bantuan untuk bergabung bersama Tim Respons Bencana Regional untuk kawasan Asia Pasifik Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit,” tuturnya.

Namun menurutnya, bantuan bisa jauh lebih besar jika masyarakat terutama masyarakat Indonesia mau membantu meringankan beban korban bencana Nepal yang diperkirakan akan bertambah setiap harinya.

“Kami meminta masyarakat Indonesia untuk berbagi ke korban Nepal sebagaimana dulu kita dibantu negara lain saat Tsunami atau bencana lain yang pernah terjadi di Indonesia,” ucapnya.

sumber: Merdeka.com

BMKG: Kecepatan Angin di Jakarta Tiga Kali Kecepatan Normal

BMKG: Kecepatan Angin di Jakarta Tiga Kali Kecepatan Normal

Jakarta – Pelapis gedung Setjen DPR di Senayan rontok akibat angin kencang yang melanda kawasan itu. BMKG mengatakan kecepatan angin di Jakarta hari ini lebih cepat tiga kali kecepatan normal.

“Memang cukup kencang anginnya, pengamatan di Cengkareng mencapai 30 km/jam, padahal normalnya hanya sekitar 10 km/jam,” kata Agie Wandala, prakirawan BMKG, kepada detikcom, Jumat (24/4/2015).

Agie mengatakan, pada pos pengamatan Pondok Betung kecepatan angin mencapai 40 km/jam. Kecepatan angin yang cukup tinggi ini disebabkan ada daerah bertekanan rendah (low pressure) di sekitar selatan Jawa.

“Angin yang cukup kencang juga akan terjadi di bagian pesisir selatan Jawa,” katanya.

Selain angin kencang suhu di Jakarta juga cukup sejuk. Suhu udara siang ini tercatat 29 derajat Celcius. Padahal normalnya suhu Jakarta pada siang hari bisa mencapai 33 derajat Celcius.

sumber: detik.com

Oral Presentation Session Hari Pertama

h1-oral-3

Oral Presentation Session Hari Pertama

19th World Congress on Disaster and Emergency Medicine  

21 April, Cape Town, South Africa


 {tab Capacity Strategy |orange align_justify}

Reporter: Bella Donna


Kelas ini membicarakan mengenai penelitian masing-masing presenter dalam peningkatan kapasitas masyarakat di daerahnya. Sesi dimulai oleh presenter dari Hongkong yang menceritakan penelitian di sebuah kecamatan di China untuk mengembangkan desa tanggap siaga (kita menyebutnya di Indonesia) dengan strategi kapasitas melalui pengembangan fungsi orang-orang desa tanggap siaga pada kesiapan keselamatan kebakaran dengan teknik Communication for Behavioural Impact (COMBI ).

Presenter lain dari Amerika membuktikan bahwa pelatihan penurunan resiko bencana dapat mengubah kapasitas masyarakat untuk mengisentifikasi penilaian dan manajemen resiko, bahaya yang mengancam dan kerentanan. Penelitian ini dilakukan di Haiti.

Presenter dari Ghana melihat bahwa jika terjadi bencana seringkali tim emergency atau bantuan datang terlambat, faktanya sangat dibutuhkan agar bantuan berdasarkan pendekatan kepada masyarakat. Modul yang sudah dibuat didesain untuk edukasi, pelatihan dan layanan sederhana serta pencatatan sehingga masyarakat paham dalam merespon kebutuhan kegawatdaruratan yang berbeda-beda.

Presenter dari Kenya bercerita bahwa banyaknya bencana yang terjadi di Kenya membuat masyarakat Kenya sangat membutuhkan kesiapan dalam menghadapinya. Melalui simulasi yang mereka lakukan dengan skenario teroris di pusat perbelanjaan. Simulasi ini menunjukkan diaktifkannya Incident Command Structure (ICS) dengan melakukan koordinasi dan respon struktur gawat darurat yang langsung mengikuti. Area triase dan waktu respon yang dilakukan di catat serta rujukan korban ke fasilitas kesehatan.

Presenter dari Jerman mengatakan bahwa penelitian yang dilakukannya melalui komunikasi tradisional dan soSial media, ternyata membuktikan bahwa soSial media memiliki potensi yang besar dalam mengubah komunikasi antara Public Protection and Disaster Relief Representatives (PPDRs) dengan masyarakat dalam situasi masa gawat darurat.

Dari penelitian yang ada, Indonesia saat ini juga sangat memperhatikan pendekatan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana dengan penurunan resiko bencana. Bahkan simulasi juga sudah sering dilakukan  oleh BNPB, Rumah Sakit, Dinas Kesehatan bahkan Puskesmas.

{tab Resilience Building |green }

Reporter: Bella Donna


Presenter dari Australia berbicara mengenai definisi ketahanan (resilience) pada literature multidiscipline dalam kebencanaan melalui rantai ketahanan, dalam penguatan masyarakat pada semua fase siklus bencana.

Presenter dari Boston memaparkan bahwa sejak banjir besar di Thailand pada 2011, banyak terjadi perdagangan manusia, sehingga dilakukan kesiapsiagaan pendekatan pada masyarakat agar diperoleh pemahaman tentang risiko dari ketahanan masyarakat yang terkena dampak dari perdagangan manusia selama tahun 2011. Selain itu, presenter dari Boston juga memeriksa kekuatan kesiapsiagaan bencana, kelemahan, peluang, dan ancaman yang terkait dengan pencegahan perdagangan manusia dan perlindungan. Akibat disaster ternyata meningkatkan kerentanan dari grup yang spesifik kepada perdagangan manusia.

Setelah melakukan interview dan focus group discussion dengan kasus Non Communicable Diseases (NCDs), responden bencana, petugas kesehatan dan pemerintah, presenter dari Australia menemukan dampak bencana pada pengelolaan NCDs. Penelitian ini menyimpulkan bahwa bencana-bencana yang ada memberikan sebuah tantangan dalam pengelolaan NCDs. Untuk meminimalisir dampaknya maka perlu dimiliki ketahanan infrastruktur kesehatan masyarakat, ini berarti salah satu kesiapsiagaan bencana perlu lebih difokuskan pada penguatan infrastruktur dalam kesehatan masyarakat.

Presenter dari Rusia ini melakukan penelitian dengan tujuan untuk membuat sebuah eksposisi proyek percontohan di tingkat negara dan di tingkat WHO untuk promosi keselamatan jalan di federasi Rusia. Kecelakaan di jalan adalah faktor urutan ketiga yang memprovokasi trauma dan kematian dalam populasi dan faktor pertama dalam kelompok orang-orang yang usianya kurang dari 50 tahun. Korban tewas dalam keadaan darurat jalan adalah 12 kali lebih tinggi daripada di tempat lain. Sehingga pelaksanaan program keamanan jalan Federal menyebabkan dinamika positif dalam indeks sasaran utama, penurunan angka kematian 19 % dan tingkat keparahan kecelakaan jalan 17,5 % lebih rendah.

Tujuan penelitian yang dilakukan oleh presenter asal Canada ini adalah lokakarya membangun masyarakat tangguh dibawa stakeholder kunci dalam perencanaan ketahanan masyarakat Kanada, dengan tujuan berbagi pengalaman dan mengembangkan strategi konkret untuk mendukung berkelanjutan dan muncul inisiatif dalam perencanaan masyarakat dan ketahanan terhadap bencana.

43 peserta dari berbagai tingkat pemerintahan Kanada, praktisi senior, pembuat kebijakan, akademisi, anggota masyarakat dan berbagai lembaga praktisi diperiksa dan alat/tools ketahanan terhadap bencana yang ada, kemudian diidentifikasi kemungkinan dan kendala partisipasi masyarakat dalam perencanaan ketahanan bencana. Ini menghasilkan kesimpulan bahwa partisipan pada lokakarya dapat membangun masyarakat tangguh tercatat lebih variatif, efektif dalam tools dan mampu dalam prosesnya pada masyarakat Canadian. Pesan utama adalah bahwa setiap keterlibatan dengan perencanaan ketahanan bencana meningkatkan ketahanan masyarakat. Masyarakat harus didorong untuk menggunakan alat atau proses yang tepat, daripada berjuang untuk menemukan yang sempurna.

{tab Disaster Risk Management |red}

Reportase oleh Madelina Ariani


h1-oral-3

Sesi mengenai pengurangan risiko bencana ini memang menjadi topik yang begitu hangat dibicarakan. Sesuai dengan tema WCDEM kali ini yang juga berupaya mengurangi dampak resiko bencana dengan peningkatan ketahanan dan kapasitas. Kali ini, ruangan auditorium 2 CTICC hampir penuh dengan peserta yang ingin mendengarkan penjelasan dari sembilan presenter. Chair sesi ini adalah Graeme McColl dan Hillarie Cranmer. Graeme pernah bekunjung ke Divisi Manajemen Bencana PKMK UGM pada acara Seminar Internasional Manajemen Bencana Kesehatan dalam rangkaian peringatan 10 tahun tsunami di Yogyakarta.

Seluruh penelitian yang dipresentasikan kali ini menarik. Banyak metode, alat, wawasan, dan isu yang diangkat secara ilmiah oleh para peneliti yang semua bertujuan untuk mengurangi risiko bencana. Presenter pertama memaparkan penelitian yang menarik tentang bagaimana mengelola aset yang dimiliki daerah, fasilitas kesehatan dan masyarakat sehingga kerugian akibat bencana dapat dihindari atau tidak begitu merugikan. Namun, pesan penting disampaikan di akhir penelitian Ronald Bownes, Kanada ini adalah bagaimana aplikasi ini dapat dimengerti dan digunakan oleh masyarakat, sehingga dari awal aplikasi ini sudah melibatkan masyarakat.

Ada juga yang melihat pengurangan risiko bencana dari sisi komunikasi antara penyelamat denga korban. Terutama di tempat layanan umum, maka Jonathan Groff dari Prancis memberikan gambaran model yang bisa dimanfaatkan untuk masyarakat mengerti bagaimana mencari penyelamatan diri dan penyelamat juga dapat mengetahui dimana korbannya.

Masih dengan tools dan aplikasi, Ahmadreza Djalali dari Italy memaparkan mengenai tools untuk mengukur kesiapsiagaan rumah sakit menghadapi ancaman bencana. Djalali mengatakan bahwa tools ini memang tidak mudah dilakukan namun lebih memudahkan daripada tools lainnya yang sudah ada. Hasil pengukuran akan di-konvert menjadi tingkatan level, rendah, sedang, dan tinggi. Pengembangan tools ini tentunya harus disesuaikan kembali dengan daerah yang mengadopsinya.

Berbeda dengan tiga pembicara di atas, kali ini Nidaa Bajow dari Saudi Arabia mengangkat mengenai kesiapsiagaan dari pembangunan kurikulum kodokteran bencana di perguruan tinggi di Arab. Ternyata, tantangan pembangunan kurikulum bencana kesehatan dan kedokteran bencana tidaklah mudah dan ini membutuhkan kesadaran yang tinggi dari berbagai pihak, misalnya kementerian pendidikan tinggi, kementerian kesehatan, dan universitas yang memiliki fakultas kedokteran dan kesehatan untuk bisa mengintegrasikan kurikulum bencana dalam perkuliahan. Hal ini juga terjadi di Indonesia.

Penelitian lainnya yang dipresentasikan ada yang berupa pengalaman, laporan kegiatan, dan integrative review. Ada yang menarik perhatian reporter yakni mengenai pembangunan kesiapsiagaan bencana kesehatan dengan membangun disaster medicine team di China oleh Prof. Zhongmin Liu dari Chine of Society on Disaster Medicine. Sistem mulai dibangun sejak 2011 dan mereka rutin mengadakan latihan dan kongres. Jika dibandingkan dengan perkembangan bencana kedokteran di Indonesia, negara kita tidak lebih buruk dari ini, bahkan lebih dulu ada.

{tab Environmental Challenges |blue}

Reporter: Oktomi Wijaya


Dok. PKMK: Presenter Panel Environmental Challenges, 21 April 2015

Pembicara kedua adalah Soo Hyun Park dari Samsung Medical Center yang mempresentasikan tentang tren bencana alam di Korea Selatan. Tujuan dari penelitian ini untuk mendemonstrasikan kejadian bencana alam di Korea Selatan. Dari laporan pemerintah yang diambil dari tahun 1985 sampai tahun 2012 bahwa kejadian bencana alam yang terjadi di Korea Selatan didominasi oleh kejadian bencana yang berkaitan dengan perubahan iklim seperti topan.

Pembicara ketiga adalah Marie D.B Fouche dari Amerika Serikat yang mempresentasikan tentang Feasibility of a Predictive Multi-Sector Cholera Emergency Preparedness and Control Tool for Haiti. Tujuan dari penelitian ini untuk mengembangkan tool untuk memprediksi kejadian wabah kolera di Haiti. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada kebanyakan kasus bahwa kejadian kematian akibat kolera banyak terjadi di slum area. Dengan adanya indeks kerentanan masyarakat, maka dapat dipetakan daerah-daerah yang berisiko sehingga dapat dilakukan intervensi sebelum, saat dan sesudah terjadi wabah kolera.

Pembicara keempat adalah Dr. Daniel Martinez Garcia dari Spanyol yang mempresentasikan tentang Climate Change, Disasters and their impact on Children Health. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi resiko kesehatan langsung dan tidak langsung pada anak-anak akibat perubahan iklim dan bencana. Dari systematic review diperoleh bahwa hampir 95 persen kejadian kematian pada anak akibat bencana terkait perubahan iklim terjadi pada Negara dengan pendapatan rendah dan menengah.

Pembicara kelima adalah Kevin M ryan dari Boston, USA yang mempresentasikan tentang Noise Pollution, Do We Need a Solution? An Analysis of Noise in Cardiac Care Unit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kebisingan pada tiga tempat yang berbeda di CCU. Selama satu bulan alat pencatat kebisingan dipasang di tiga lokasi yang berbeda di CCU. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada ruangan 1 dekat pintu masuk tingkat kebisingan masih di bawah ambang batas, sementara di Nurse station level bising sudah melebihi ambang batas yang direkomendasikan oleh WHO. Perlu dilakukan usaha untuk menurunkan level kebisingan dan memeriksa tingkat kenyamanan pasien di CCU.

Pembicara keenam adalah Morgan C. Broccoli dari John Hopkins University yang mempresentasikan tentang An Analysis of Patient Arrivals in an Academic Emergency Department in Baltimore, Maryland, USA, during the Heat Wave of July 2012. Di bulan Juli, selama 12 hari Kota Baltimore mengalami gelombang panas dengan suhu 90-104 derjat Fahrenheit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat dampak kunjungan pada ruang gawat darurat terkait dengan kejadian gelombang panas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa selama periode studi dari 2008-2013 jumlah kunjungan 91.759. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara statistik ada hubungan yang signifikan jumlah kunjungan pada emergency department dengan kejadian gelombang panas.

Pembicara ketujuh adalah Matthew D Tyler dari Boston University yang mempresentasikan tentang A Systematic Review of The Literature on The Epidemiology of Drowning Injuries in Low and Middle Income Countries. Tujuan penelitian adalah untuk melihat kejadian epidemiologi tenggelam pada negara dengan pendapatan kecil dan menengah. Hasil systematical review ini menunjukkan bahwa kejadian tenggelam banyak terjadi di Asia dan Afrika. Masih tingginya angka kejadian tenggelam memerlukan usaha pencegahan seperti latihan renang dan training sea survival.

Pembicara kedelapan adalah Josep Mcisaac dari University Connectitut: Combining State and Private Resources to Develop Medical Resiliency Through Immersive Simulation. Hasil penelitian ini untuk mengetahui peningkatan skill personil medis untuk menghadapi bencana melalui pelatihan yang dilaksanakan oleh rumah sakit swasta dan pemerintah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua mahasiswa berhasil melakukan semua prosedur pada saat simulasi. Mahasiswa mampu dengan baik melakukan triase pada saat simulasi dan dasar operasi. Kombinasi kerjasama ini terbukti efektif untuk meningkatkan kemampuan personil medis dalam menghadapi situasi darurat.

{/tabs}

Oral Presentation Session Hari Kedua

h2-oral1-1

Oral Presentation Session Hari Kedua

19th World Congress on Disaster and Emergency Medicine  

22 April, Cape Town, South Africa


 {tab Mass Gathering |orange align_justify}

Reporter: Bella Donna


h2-oral1-1

Dok. PKMK: Sesi oral presentation dengan topic Mass Gathering

Sesi kali ini membahas mengenai situasi gawat darurat yang sering terjadi pada pertemuan-pertemuan massa yang sering terjadi di berbagai negara. Bahwa berdasarkan Guideline dari WHO mengenai bahaya penyakit menular dan tanggap darurat untuk perencanaan dalam pertemuan massa. Perencanaan dan persiapan sistem kesehatan masyarakat dan layanan untuk mengelola pertemuan massa adalah prosedur yang kompleks: penilaian risiko awal dan peningkatan sistem sangat penting untuk mengidentifikasi risiko kesehatan masyarakat yang potensial, baik alam dan buatan manusia dan untuk mencegah, meminimalkan dan menanggapi insiden kesehatan masyarakat. Dokumen dari WHO ini adalah tujuan utama dari manajemen kesehatan public terutama dalam even pada sebuah Negara yang sedang mengadakan kegiatan besar tersebut, serta pembuat kebijakan dan pembuat perencanaan.

Selain bidang kesehatan, ada banyak orang lain yang terlibat dalam memberikan kontribusi bagi dampak kesehatan di pertemuan massa, data ini berguna, termasuk untuk promotor even dan manajer, layanan darurat pribadi, badan pemerintahan, dan organisasi atau individu yang berkontribusi pada organisasi pengumpulan massa.

Perbaharuan dokumen ini mencerminkan pergeseran dalam pengetahuan, pemahaman dan pendekatan dan telah ditulis oleh kader ahli dunia. Indonesia sendiri juga sering kali mengadakan acara pagelaran music maupun budaya-budaya di tiap propinsi, dan kegiatan ini cukup membuat banyak masyarakat yang hadir. Bukan hanya acara kegiatan tetapi untuk masyarakat yang akan haji yang didampingi oleh tim kesehatan, sangat penting bagi tim untuk memahami situasi pertemuan massa ini, sehingga untuk Indonesia perlu segera dilakukan kebijakan maupun guideline untuk pertemuan masssa yang terjadi di Indonesia.

Sesi ini dimoderatori langsung oleh pakar mass gathering yang juga menjabat sebagai president WADEM, Paul Arbon dari Australia. Beruntung sekali, perwakilan dari Divisi Manajemen Bencana, PKMK FK UGM, Madeline Ariani mendapat kesempatan menjadi co-chair bersama dengan Paul Arbon. Ke depan, mass gathering ini juga akan menjadi bahasan diskusi oleh oleh kami.

{tab Hospital and Health System |green }

Reporter: Madelina Ariani


Berbicara mengenai rumah sakit dan bencana sudah barang tentu akan terkait dengan system kesehatan yang terbangun. Karena penanganan korban bencana ada yang pre rumah sakit dan yang di rumah sakit sendiri. Kita akan menemukan banyak pengembangan system kesehatan di dalam bidang ini, misalnya bagaimana dengan system rujukan, bagaimana dengan system perpindahan pasien dari satu dokter ke doketar yang lain, juga bagaimana sistem penilaian penyelamatan korban. Di dalam sesi oral presentasi di hari kedua WCDEM kali, kita akan sama-sama menyimak paparan hasil penelitian dan studi yang dilakukan oleh 9 peneliti dari berbagai perguruan tinggi dan ruma sakit dunia.

Sesi orang presentasi ini di moderator oleh Jerry Overton. Jerry yang juga menjabat chief financial officer WADEM dari United States. Dalam kesempatan ini, Jerry juga didampingi oleh Johan von Schreeb sebagai co-chair. Ruangan kecil yang kira-kira mampu menampung 60 peserta ini hampir terisi penuh. Tepat pukul setengah dua siang, sesi ini dimulai oleh Jerry.

Baru dihari kedua ini dibuka sesi parallel mengenai rumah sakit dan sistem kesehatan. 9 peneltian yang dipaparkan hari ini semuanya menarik perhatian. Ada yang mengangkat isu mengenai kepemimpinan dan kegawatdaruratan. Dan ini memang masalah dalam penanganan kegawatdaruratan bencana biasanya, siapa yang memimpin dan siapa yang melakukan apa. Lev Zhurasky dari New Zealand menceritakan mengenai krisis kepempimpinan di ruangan ICU pada saat gempa Christchurch. Melalui studi kualitatifnya dia menunjukka bahwa pemipin bisa datang dari status informal, dalam artian bisa saja dari dokter ICU meskipun bukan kepala, karena hasil wawancara menunjukkan yang factor keahlian dan pengaruh ke anggotanya.

Menarik lagi penelitian dari Bachar Nizar Halimeh dari rumah sakit King Faisal, Saudi Arabia. Isu yang diangkatnya adalah mengenai pengurangan risko perpindahan pasien antar dokter pada saat situasi gawat darurat di UGD. Aspek komunikasi dan disposisi yang baik akan sangat menentukan proses pemindahan pasien ini. Penelitian ini dilakukan selama enam minggu dan hampir mengamati pasien hingga 1000 lebih dan kasus pemindahan sekitar 200 pasien. Penelitian ini menggunakan pendekatan eksperimental dengan pre dan post kepada dokter yang dipapar dengan Standardize Physician Handover Tool. Hasilnya terjadi peningkatakan pemahaman dan praktik.

{/tabs}

Oral Presentation Session Hari Ketiga

h3-oral1

Oral Presentation Session Hari Ketiga

19th World Congress on Disaster and Emergency Medicine  

23 April, Cape Town, South Africa


 {tab Mass Gathering |orange align_justify}

Reporter: Madelina Ariani


h3-oral1

Dok. PKMK: Kristine Gebiie dan suaminya dalam 19th WCDEM 23 April 2015

Hari ketiga ini dalam kongres masih diisi oleh kegiatan parallel oral presentasi. Ada enam kelas kecil untuk oral presentasi, dan kali ini saya akan melaporkan kelas oral presentasi dengan topik kesehatan masyarakat atau public health.

Saya senang sekali dapat berada di kelas ini, sebab kelas ini dimoderatori langsung oleh Kristine Gebbie dengan wakil nya Emmanuel Ahiabie. Kristine panggilannya adalah seorang dosen di perguruan tinggi Australia dan telah beberapa tahun ini juga menjadi board WADEM. Penelitian-penelitian Gebbie mengenai pendidikan bencana di perguruan tinggi ilmu keperawatan atau disaster nursing education dapat kita lihat dan baca lengkapnya dari jurnal yang terindeks di google scholar. Akhir sesi ini saya dapat langsung bertemu denan Gebbie dan berdiskusi mengenai penelitiannya yang saya ketahui dan menanyakannya langsung kepadanya mengenai pengembangan kurikulum berbasis kompetensi untuk keperawatan dan mahasiswa kesehatan. Dari sini saya ketahui bahwa beliau juga konsen dalam pengembangan public health disaster education and program.

Kembali ke kelas oral presentasi, ada Sembilan presenter yang berkesempatan memaparkan hasil penelitia, analisis, dan studinya kepada hampir 50 peserta yang hadir dalam ruangan kecil ini. Penelitian pertama sudah menarik perhatian yakni mengenai kebutuhan layanan kesehatan pada masa kegawatdaruratan, apakah itu sebuah fakta dan memang kebutuhan atau hanya sebuah mitos? Dari judulnya saja sudah sangat menarik dan hasil penelitiannya ternyata menunjukkan bahwa dugaan selama ini bahwa kebutuhan layanan kesehatan akan menurun pada saat kegawatdaruratan konflik karena masyarakat takut untuk keluar rumah ternyata tidak terbukti. Layanan kesehatan tetap saja dibutuhkan. Bahkan pada layanan kesehatan untuk orang tua cenderung meningkat. Bruria Adini dari Israel sebagai peneliti menyarakan untuk penelitian lebih lanjut terutama untuk melihat hubungan antara ketahanan masyarakat dan jaminan aman dari pemerintah dengan kebutuhan layanan kesehatan.

Dalam konteks Indonesia, kita masih yakin bahwa memang kebutuhan akan layanan kesehatan pada masa bencana akan jauh lebih tinggi dari pada layanan kesehatan pada saat situasi normal. Kita masih perlu menganalisis data untuk melihat dan membuktikan asumsi ini.

{/tabs}

Oral Presentation Session Hari Ke-empat

h4-oral1

Oral Presentation Session Hari Ke-empat

19th World Congress on Disaster and Emergency Medicine  

24 April, Cape Town, South Africa


 {tab Hospitals and Health System |orange align_justify}

Reporter: Madelina Ariani


h4-oral1

Dok. PKMK: Suasana presentasi topik hospital, preparedness and management

Pagi ini adalah kelas terakhir untuk oral presentasi. Masih sama seperti hari sebelumnya, hari ini kelas oral presentasi masih dibagi menjadi enam kelas. Kami memutuskan untuk masuk ke kelas dengan topik Hospital and Health System. Selain itu, perwakilan Divisi Manajemen Bencana, PKMK FK UGM, Oktomi Wijaya melakukan presentasi hasil penelitiannya.

Oktomi menjadi pembicara ketiga dalam sesi ini. Dalam kesempatan ini, dia memaparkan mengenai pentingnya hasil penelitian yang dilakukannya untuk menyusun kesiapsiagaan penanggulangan bencana bagi rumah sakit karena Padang merupakah daerah yang diprediksikan akan mengalami bencana Mentawai Megathrust. Status kesiapsiagaan rumah sakit tempat penelitiannya masih menunjukkan nilai yang masih rendah padahal rumah sakit tersebut merupakan rumah sakit rujukan satu-satunya jika rumah sakit pemerintah kollaps pada saat bencana.

Penelitian Oktomi mendapat banyak tanggapan dari peserta dan moderator. Mendengar ancaman mentawai megathrust dan hasil penelitian ini, mereka sangat tertarik untuk bertanya, berdiskusi, dan memberikan masukan. Hasil penelitian ini sudah disampaikan juga kepada pihak rumah sakit, harapannya dapat menjadi masuka bagi mereka untuk menyusun kebijakan persiapan menghadapi bencana yang akan terjadi.

Penelitian lainnya tidak jauh berbeda, semua menyampaikan dan menampilkan cara dan hasil ukur dari pengukuran kesiapsiagaan rumah sakit. Sesi ini dimoderatori oleh Knok Andress dan Emma Sacks.

 

{/tabs}

Pleno Presentation Session Hari Ke-empat

h4-pleno

Plenary Session Hari Ke-empat

19th World Congress on Disaster and Emergency Medicine  

24 April, Cape Town, South Africa


 {tab Haitian Relief |orange align_justify}

Reporter: Oktomi Wijaya


h4-pleno

Dok.PKMK: Starry Sprenkle Hyppolite,PhD, 24 April 2015

J/P HRO terlibat dalam membantu masyarakat Haiti pada saat tanggap darurat, dan lebih dari itu adalah melaksanakan pembangunan yang berkelanjutan. Program pembangunan berkelanjutan dilaksanakan melalui 4 program yang terintegrasi : manajemen relokasi dan pengungsi, rekonstruksi dan rehabilitasi, bantuan medis dan pembangunan masyarakat. JP HRO focus pada pembangunan masyarakat marginal yang terdampak oleh gempa Haiti. JO HRO tidak hanya memberikan bantuan pada masa tanggap darurat saja, tetapi juga membangun pembangunan masyarakat Haiti yang berkelanjutan dengan bertansisi menuju masyarakat Haiti yang tangguh dan mempunyai daya lenting yang tinggi melalui peningkatan kesiapsiagaan dan pemmbangunan infrastuktur. Pembangunan berkelanjutan dilaksanakan memalui pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan.

 {tab Penutupan  |green align_justify}

Reporter: Oktomi Wijaya


Acara 19th World Congress on Disaster and Emergency Medicine ditutup oleh Professor Marvin L. Bimbaum dengan membacakan Cape Town Statement.

h4-penutupan

Dok PKMK: Prof. Marvin L. Bimbaum, 24 April 2015

Isi dari Cape Town Statement adalah sebagai berikut:

“Whereas the 19th World Congress on disaster and Emergency Medicine of The World Association for Disaster and Emergency Medicine Society of South Africa was convened in Cape Town South Africa, 21-24th 2015”

Whereas the theme of the congress was “Creating Capacity and Building Resilience”

Whereas the congress was attended by more than 850 participant.

Whereas the deliberation of the United Nations International Strategy for Disaster Reduction developed the Sendai Framework for Disaster Risk Reduction 2015-2030 during March 2015

Whereas The Sendai Framework addresses many issues related to health before, during, and following disasters

Whereas information and discussion by the participants in the 19th WCDEM affirmed the health related goals, strategies, and priorities outlined within the Sendai Framework

Therefore, be it revolved that the Congress participants endorse the precepts outlined in the Sendai Framework and support continuing and renewed initiatives to assist in meeting the health related goals and priorities as outlined in the Sendai Framework for Disaster Risk Reduction 2015-2-13-

Date: 24 April 2015

Cape Town South Africa

Setelah pembacaan Cape Town Statement, diberikan penghargaan kategori Global Leadership Emergency for Public Health yang dianugerahkan kepada Professor Virginia Murray, sementara penghargaaan 19th wcdem best poster presentation diberikan kepada : Rebecca Forsberg dengan judul poster “A case study of the high speed train crash outside Santiago de compostela spain”.

h4-penutupan2

Dok. PKMK: Prof. Virginia Murray, 24 April 2015

Acara 20th World Conference akan dilaksanakan di Toronto Kanada pada tahun 2017.

 

 {tab Post Kongres |red align_justify}

Reporter: Madelina Ariani


post-kongres

Malam ini adalah malam terakhir kami berada di kota dengan pemandangan alam yang begitu indah. Bebatuan alam dari Table Mountain seakan mengokohkan daratan yang berada di pinggiran samudera Atlantik ini. Penduduk yang ramah dan siap membantu juga menjadi kesan tersendiri setelah seminggu berada di kota ini. Malam ini kami memutuskan beristirahat dikamar apartemen saja dan mempersiapkan segala kebutuhan untuk kepulangan esok ke tanah air. Namun, dari Kementerian Kesehatan, oleh Bapak Sekjen, mengajak perwakilan UGM untuk turut hadir dalam jamuan makan malam bersama Konsulat Jendral Republik Indonesia untuk Cape Town di rumah kediaman beliau. Tidak banyak pikir, disamping juga begitu senang, kami ikut dalam jamuan ini.

Perjalanan menggunakan mobil kearah selatan Cape Town. Akhirnya kami sampai juga ke rumah Kediaman Konsulat Jendral Republik Indonesia untuk Cape Town, Bapak Abdul Rachman Dudung. Kerahaman dan senyum sapa khas Indonesia langsung kami dapatkan dari Bapak Konsulat Jendral RI dan Ibu. Melangkah memasuki rumah ini, mata langsung dimanjakan dengan ukiran, lukisan, dan patung dari Indonesia. Semua jenis kerajinan dan hiasan dari nusantara sepertinya ada di rumah ini.

Setelah seminggu lepas dari makanan Indonesia, disinilah pertama kali kami melihat kue Onde-Onde. Khusunya lagi, ternyata kue ini khusus dibuat sendiri oleh Ibu Konsulat Jendral. Begitu juga dengan hidangan yang lainnya, khas Indonesia dan dibuat sendiri oleh Ibu.

Dalam pertemuan ini, Bapak Abdul Rachman Dudung sempat menanyakan mengenai konferensi yang kami hadiri di Cape Town ini, mengenai World Congress on Disaster Emergency and Medicine. Hal ini kemudian mendapat tanggapan dari Bapak Sekjen Kementerian Kesehatan, dr. Untung Suseno Sutarjo, M.Kes bahwa memang banyak hal yang baru yang kami dapatkan dari kongres ini, salah satunya mengenai mass gathering plan, terutama kasusnya untuk jamaah haji misalnya.

Pembaca website bencana kesehatan, barangkali ini menjadi akhir dari reportase kami selama mengikuti kegiatan 19th WCDEM di Cape Town Afrika Selatan. Lebih dari semua yang telah kami usahakan untuk disampaikan melalui reportase ini ke para pembaca sekalian adalah bagaimana kita semua dapat bekerjasama untuk perbaikan penanggulangan bencana kesehatan di Indonesia. Jangan segan untuk berdiskusi dan menghubungi kami melalui website bencana kesehatan ini.

Semoga WCDEM yang ke 20 nanti kita dapat bertemu kembali. WCDEM ke dua puluh nanti akan dilaksanakan di Toronto, Kanada. Selain itu, harapannya akan semakin banyak kontribusi dari kita sebagai penggiat bencana sektor kesehatan untuk manajemen bencana kesehatan di dunia. Inilah saatnya kita bekerja untuk ketangguhan Indonesia menghadapi bencana.

{/tabs}

Plenary Session Hari Pertama – Wadem

h1-p1-wadem

Plenary Session Hari Pertama

19th World Congress on Disaster and Emergency Medicine  

21 April, Cape Town, South Africa

 

{tab Capacity Strategy |orange align_justify}

Reporter: Oktomi Wijaya


h1-p1-wadem

Pembicara pertama pada plenary session hari pertama adalah Dr. Manzila Tarande, Regional Advisor, WHO/AFRO. Manzila memberikan presentasi tentang disaster risk management in  Africa: Lessons from Ebola Outbreak in West Africa. Manzila menyampaikan ada empat tantangan masalah kesehatan di Afrika, yaitu: meningkatkan ancaman ebola di Afrika, meningkatnya kejadian penyakit tidak menular, masalah sosial determinan kesehatan, dan pembiayaan jaminan kesehatan (Universal Health Coverage). Dengan tantangan yang ada, maka beberapa hal yang menjadi prioritas bagi WHO/AFRO (2015-2020): meningkatkan keamanan kesehatan (health security) dengan menyelesaikan permasalahan ancaman virus ebola, menyelesaikan permasalahn determinan sosial ekonomi kesehatan, dan usaha pencapaian jaminan kesehatan (Universal Health Coverage).

Pembelajaran yang didapat dari epidemi ebola ini adalah kesiapsiagaan krisis kesehatan untuk menghadapi epidemi ebola merupakan kunci utama,  selanjutnya pentingnya membangun sistem peringatan dini dan surveillans untuk mendeteksi, dan merespon epidemik serta pentingnya kerjasama dan komitmen internasional dalam mengatasi krisis kesehatan.

h1-p2-wadem

Pembicara pada plenary sesi kedua adalah Dr. Michel Yao, WHO Representative, Central African Republic. Dr Yao menyampaikan materi tentang International response to epidemics and emergencies. Yao menjelaskan agar respon terhadap epidemi dan krisis kesehatan dapat berjalan dengan baik maka diperlukan kerjasama dan koordinasi yang baik.

h1-p3-wadem

Pembicara ketiga adalah Jonathan Abraham dari Emergency Risk Management and Humanitarian Response Department, WHO.  Dalam pemaparannya, Jonathan Abraham menyampaikan lima pesan kunci untuk bidang kesehatan dalam Sendai Framework yaitu: hasil dari pengurangan risiko bencana tidak hanya menyelamatkan jiwa manusia saja, tetapi juga kesehatan, pendekatan semua hazard (termasuk epidemi dan pandemi), isu safe hospital  sebagai prioritas utama, investasi di sektor kesehatan, dan target dan indikator yang fokus pada kesehatan.

h1-p4-wadem

Pembicara keempat pada plenary session hari pertama adalah  Professor Virginia Murrey yang mempresentasikan tentang Global Direction in Disaster Health. Professor Virginia Murray memaparkan tentang empat prioritas aksi dalam pengurangan risiko  bencana dalam Sendai Framework, yaitu : memahami risiko bencana, memperkuat pemerintahan untuk mengurangi risiko bencana,  investasi dalam pengurangan risiko bencana  untuk resiliensi, serta memperkuat kesiapsiagaan untuk respon yang efektif.

h1-p5-wadem

Pembicara kelima adalah dari WHO yang menyampaikan materi tentang  Stop Attacks on Health Workers. Meningkatnya kejadian penyerangan yang dilakukan terhadap tenaga kesehatan memanggil para komunitas humanitarian untuk melakukan advokasi  terkait dengan keselamatan tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan. dengan banyaknya kejadian penyerangan ini, WHO telah melakukan advokasi dengan mengusulkan solusi kepada UN General Assembly dan World Health Assembly.

h1-p6-wadem

Pembicara keenam adalah Dr Ute Enderlein, Country Emergency Preparedness and and Response, WHO Regional Office for Europe. Dr Ute menyampaikan materi tentang Safe Hospital Initiative. Ute menyampaikan rumah sakit memegang peran yang vital dalam menyelamatkan jiwa manusia pada saat bencana.  WHO telah membuat acuan penilaian indeks keselamatan rumah sakit untuk bencana. Penilaian hospital safety index ini didasarkan pada empat elemen, yaitu ancaman bencana, keselamatan struktural, non struktural dan fungsional. Dengan penilaian ini, maka rumah sakit dapat menilai kesiapan rumah sakit dalam menghadapi bencana.
 
h1-p7-wadem
Pembicara ketujuh adalah DR Maurizio Barbeschy yang memberikan presentasi tentang Building Capacities for Mass Gathering, Dalam presentasinya, Dr Maurizio menyampaikan pentingnya membangun kapasitas  untuk mass gathering. Maurizio mencontohkan salah satu keterlibatan WHO dalam Mass Gathering ketika World Cup dilaksanakan di Afrika Selatan tahun 2010.   Tantangan dalam mass gathering adalah diperlukannya keterlibatan  multi sektoral dalam mitigasi risiko serta kendala komunikasi risiko semakin sulit dengan dimensi internasional seperti perbedaan kebudayaan dan bahasa. 

h1-p8-wadem

Pembicara kedelapan berasal dari WHO yang memberikan presentasi tentang Foreign Medical Teams.  Dalam pemaparannya, pembicara menjelaskan  tentang lesson learnt dari bencana yaitu respon yang masih belum tepat waktu, kompetensi tenaga kesehatan dalam bencana yang masih kurang, lemahnya koordinasi dan kurangnya kapasitas nasional untuk mengatur tim bantuan kesehatan asing. Terkait dengan isu tim bantuan kesehatan asing pada saat bencana, maka WHO membuat standar dan pengaturan tim bantuan kesehatan asing.

h1-p9-wadem
 
Pembicara terakhir adalah Marvin L Bimbaum, MD, PhD (Board of Director WADEM). Marvin menyampaikan materi tentang Global Directions in Disaster Health, WADEM perspectives. Marvin menyampaikan tentang misi dari WADEM yaitu peningkatan global terhadap pre-hospital dan layanan kesehatan emergency, kesehatan masyarakat dan kesiapsiagaan krisis kesehatan. Agar misi WADEM tercapai maka diperlukan perubahan budaya, membangun bukti serta perlunya membangun kerjasama baik itu dengan donor dan organisasi akademik.

 

{/tabs}

Plenary Session Hari Kedua- Wadem

h1-plenary-2

Plenary Session Hari Kedua

19th World Congress on Disaster and Emergency Medicine  

22 April, Cape Town, South Africa

 

{tab Gift of the givers foundation |orange align_justify}

 Reporter: Bella Donna


h1-plenary-2

Dr Imtiaz Sooliman dari LSM “Gift of The Givers Foundation” bercerita mengenai pengalamannya dalam membantu beberapa negara yang mengalami bencana. LSM ini adalah organisasi bantuan bencana terbesar asal Afrika di benua Afrika. Sampai saat ini organisasi telah berhasil memberi bantuan sekitar 41 negara di seluruh dunia, termasuk Afrika Selatan. Bantuan LSM ini adalah murni kemanusiaan dan tanpa syarat.

Mereka juga memberikan bantuan tanpa memandang ras, agama, warna kulit, kelas, afiliasi politik atau batas geografis. Organisasi ini membanggakan diri mereka karena tujuan pada pendekatan yang netral untuk semua mereka yang membutuhkan. Kegiatan mereka tidak menghakimi dan berpikiran terbuka untuk setiap situasi. Sementara itu juga, mereka berusaha untuk bekerja dengan pemerintah sebagai cara untuk memastikan bahwa bantuan yang disampaikan kepada mereka yang terkena dampak langsung dan yang paling membutuhkan, organisasi secara aktif menghindari politik dengan cara apapun.

Gift of the Gifers Foundation ini didirikan pertama kali oleh dr Imtiaz berdasarkan instruksi dari Sufi Sheik, Muhammad Saffer Effendi al Jerahi (guru spiritual) di Istanbul, Turki (1992). Sejak awal kelahiran LSM ini, mereka telah banyak membantu kemanusiaan di beberapa Negara seperti yang telah disebutkan diatas. Bantuan yang dilakukan seperti tim bantuan segera pada “search and rescue”, tim medis, peralatan medis, bantuan medis, obat-obatan, vaksin, obat anti malaria, makanan dan juga minuman serta suplemen.

Pada tahun 1992 kejadian perang di Bosnia mereka membantu melakukan Rumah Sakit berjalan (mobile hospital). Disini mereka juga membawa container yang berisi obat-obatan, peralatan medis, tenda dan juga selimut dari tahun 1992-1995. Kemudian,tTahun 2002 perang di Iran mereka juga membantu seperti di Bosnia, begitu juga 2008-2009 pada perang di Gaza dan 2013 perang di Syria. Selain perang mereka juga membantu untuk keadaan bencana seperti gempa Haiti, Typhoon di Phillipina, gempa Pakistan, Zimbabwe, Nigeria, Congo, Mozambic, Somalia dan tsunami di Sri Lanka.

Organisasi ini benar-benar berkomitmen untuk mengurangi penyakit-penyakit yang menimpa orang-orang bagi siapa saja dan siap untuk melayani serta sepenuhnya netral dan tidak menghakimi dalam pendekatan kepada orang-orang dan segala situasi. Pendekatan yang dilakukan mereka adalah memungkinkan organisasi ini untuk membangun jembatan antara orang-orang dari budaya dan agama yang berbeda, melahirkan rasa dan niat baik, harmonis dalam kerjasama, toleransi dan saling menghormati.

Untuk itu, WADEM memberikan penghargaan kepada dr Imtiaz sebagai keluhuran dan kerja keras serta pengalaman yang begitu membanggakan dalam kemanusiaan.

{/tabs}