KONFERENSI GLOBAL PLATFORM FOR DISASTER RISK REDUCTION : FROM COMMITMENT TO ACTION

2017 Global Platform for Disaster Risk Reduction | 22-26 May, 2017 | Cancun, Mexico

Pada 22-24 Mei 2017 mendatang dilaksanakan konferensi Global Platform for Disaster Reduction akan diselenggarakan di Cancun, Meksiko. Kegiatan kali ini untuk pertama kalinya dilakukan diluar Geneva, dimana pada tahun-tahun sebelumnya selalu diselenggarakan di tempat tersebut. Pada konferensi ini komunitas internasional mendapatkan kesempatan untuk mereview kembali progres dari penerapan kerangka kerja Sendai untuk Disaster Risk Reduction di Jepang pada 2015 lalu. Beberapa kegiatan yang menjadi rangkaiannya adalah plenary discussion; forum untuk pemimpin; sesi khusus yang terdiri dari multi-stakeholder, penggabungan berbagai strategi, pengalaman, achievment dan tantangan dari Pemerintah, sektor swasta; dan lain-lain. Hal menarik lain dari kegiatan ini adalah terdapat field visit atau kunjungan lapangan di Meksiko. Tujuannya adalah untuk dapat secara langsung mengobservasi tantangan, ancaman dan kesempatan-kesempatan yang dimiliki oleh orang yang hidup di lingkungan yang beresiko bencana (risk prone community). Kementrian Kesehatan Indonesia jugq berpartisipasi dalam kegiatan ini. Reportase kegiatan akan dilaporkan selanjutnya. Penjelasan selengkapnya Klik Disini arrow, external, leave, link, open, page, url icon

RESILLIANCE RADAR

Resillience Radar

 Resillience Radar“Bagaimana mengukur resiliansi? Pertanyaan tersebut merupakan hal pertama yang harus dijawab oleh praktisioner dalam mengetahui lebih baik komunitasnya dan dapat menyiapkan komunitasnya lebih baik dalam menghadapi semua hazard yang ada. Resillience radar merupakan sebuah alat yang dapat digunakan oleh praktisioner untuk mengkaji dan mengiilustrasikan level resiliansi dari suatu kelompok target sampai dengan satu/beberapa komunitas yang didukung memalui pengembangan project. Tools ini terdiri dari 5 elemen yaitu kuesioner, supplementary sheet, ilustrasi dari daftar untuk enumerator, sheet untuk analisis data dan manual ini. Untuk mengukur resiliansi dari komunitas target perlu dilakukan survey. Komponen yang harus diperoleh jawabannya melalui survey yang dilakukan adalah kapasitas komunitas, social capital, kesiapsiagaan bencana, Pada manual ini dijelaskan tentang kapasitas komunitas, social capital, air dan sanitasi, manajemen sumber-sumber alami, shelter yang aman, dan lain-lain. Setiap komponen tersebut dijelaskan secara menyeluruh yang termasuk dalam bagiannya. Contohnya komponen kapasitas komunitas meliputi semua aspek seperti kepemimpinan dan efektifitas organisasional maupun terkait masalah publik lainnya. Informasi diperoleh memalui penggunaan kuesioner yang dikembangakan tersebut. Pada manual ini jelaskan pula pengadaptasian tools dapat dilakukan berdasarkan alsan setting lokal dan fokus pada program yang dinginkan oleh pihak yang melakukan pengkajian. Bagaimana cara pengadaptasian tersebut dijelaskan pada bagian akhir manual ini. Penjelasan selengkapnya Klik Disini arrow, external, leave, link, open, page, url icon

REPORTASE WEBINAR SERIES BULAN APRIL TENTANG “KURIKULUM: DISASTER NURSING

webinar series april

webinar series aprilWebinar series bulan ini dilakukan pada Kamis, 27 April 2017 dengan tema “Kurikulum: Disaster Nursingdi Laboratalim orium Leadership FK UGM. Pembica kali ini berasal dari dosen keperawatan FK UGM yaitu Syahirul Alim, S.Kp, PhD dan dimoderatori oleh Sutono, S.Kp, M.Sc, M.Kep selaku dosen keperawatan FK UGM. Bencana selalu menjadi topik yang menarik untuk didiskusikan dari berbagai aspek, salah satunya adalah peran perawat di bencana serta cara pengembangan SDMnya. Pada awal webinar pembicara membahas tentang definisi bencana serta rumus terjadinya bencana. Selanjutnya pembicara memaparkan tentang 10 kompetensi perawat dalam 3 fase bencana. Selanjutnya sebagai core dalam webinar dijelaskan tentang pengembangan kurikulum keperawatan bencana yang telah dilaksanakan di UGM. Metode pembelajaran berupa perkulahan, praktikum, skill lab, tutorial serta integrasi dalam proses pembelajaran saat profesi menjadi strategi yang digunakan. Penjelasan Klik Disini arrow, external, leave, link, open, page, url icon

Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Riset Kebencanaan ke – IV

pit bencana

 pit bencana

Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Riset Kebencanaan dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) merupakan acara tahunan yang bertujuan untuk menggali peran ilmu pengetahuan dan teknologi dalam penanggulangan bencana di Indonesia. Pada tahun ini PIT Riset Kebencanaan ke-4 akan diselenggarakan di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat pada hari Senin-Rabu, 8-10 Mei 2017. Dalam kegiatan ini akan dipaparkan penelitian-penelitian yang dibagi dalam beberapa tema. Tidak hanya itu, kegiatan juga akan dilanjutkan dengan Musyawarah Nasional (Munas) Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI). Agenda Kegiatan  Klik Disini arrow, external, leave, link, open, page, url icon

{tab title=”Hari 1″ class=”blue solid” align=”justify”}

PERTEMUAN ILMIAH TAHUNAN (PIT)

IABI TAHUN 2017 UI JAKARTA

8 – 9 MEI 2017

Reportase oleh : dr. Sulanto Saleh Danu, Sp. FK dan Sutono, SKp. M.Sc., M.Kep


Kiri: Prof Dr. Sudibyakto    Kanan:Rektor UI

Pembukaan acara PIT IABI dilaksanakan di Gedung Balairung UI Depok yang diawali dengan Sambutan Rektor UI, Prof.Dr. Ir. Muhammad Anis, M. Met. Sebagai ketua IABI saat ini Prof. Dr. Sudibyakto juga memberikan sambutan dan melaporkan secara singkat perjalanan IABI sampai saat ini, dan dilanjutkan sambutan sekaligus pembukaan oleh Wakil Presiden RI, Dr. H. Muhammad Jusuf Kalla.

iaibi 2

Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla, dalam Pembukaan Pekan Ilmiah Tahunan (PIT) ke-4 dan Munas Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) di di Balairung Universitas Indonesia (UI) Depok, Jawa Barat, Senin (8/5), kembali mengingatkan agar masyarakat Indonesia meningkatkan kultur sadar bencana pada Senin (8/5/2017). “Meningkatnya bencana di Indonesia perlu diantisipasi dengan mengembangkan kultur sadar bencana untuk mengurangi risiko bencana. Bencana bersifat multidimensi sehingga semua ilmu harus memberikan solusi terhadap bencana. Selalu dinamis dan harus dapat dilakukan preventif,” ujar Jusuf Kalla.

“Saya sharing pengalaman, sebab selama 17 tahun saya ikut serta dalam penanganan bencana. Sejak menjabat Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat yang merangkap Ketua Bakornas, kemudian menjadi Ketua PMI. Apalagi saya terjun langsung menangani tsunami Aceh yang demikian dahsyat, kemudian gempa bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Lalu gempa Sumatera Barat dan bencana lainnya. Kultur kebiasaan masyarakat di Simeulue sudah menjadi kultur masyarakat Indonesia saat ini. Begitu merasakan gempa besar langsung berlari ke bukit. Saat tsunami Aceh, kultur masyarakat Simeulue ini telah menyelamatkan warga sekitar. Hanya ada korban 10 jiwa, sedangkan di Aceh yang tidak memiliki kultur ini korbannya lebih dari 100 ribu jiwa,” tambah Jusuf Kalla.

Wapres juga menyampaikan, “Ternyata intensitas gempa tidak simetris dengan korban gempa. Kita lihat gempa 6,3 SR di Yogyakarta dan Jawa Tengah tahun 2006 menelan korban 5.700 jiwa meninggal, sedangkan gempa 7,6 SR di Sumatera Barat menyebabkan 1.700 orang meninggal dunia. Dampak gempa tergantung pada lokasi, waktu,  dan kondisinya. Di Yogya penduduk lebih padat, rumah beratap genteng, kejadian pada subuh. Sedangkan gempa di Sumatera Barat terjadi pada sore hari dengan penduduk yang tidak sebanyak di Jawa. Jadi 4 hal yang harus dijawab para peneliti, akademisi, praktisi dan lainnya adalah apa, dimana, kenapa dan bagaimana? Iptek harus mampu memprediksi secara tepat. Untuk dapat mengatasi bencana maka ada 3 tahapan yaitu pertama tanggap darurat. Prioritas adalah penyelamatan korban. Kedua adalah rehabilitasi dan ketiga rekonstruksi. Saat pasca tsunami, pemerintah menetapkan tanggap darurat selama 3 bulan, kemudian rehabilitasi 3 bulan dan selanjutnya rekonstruksi selama 3 tahun. Hal yang sama juga kita lakukan saat penanganan gempa Yogyakarta. Cepatnya penanganan bencana ini menjadi contoh dunia. Bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memberikan penghargaan Global Champion for Disaster Risk Reduction kepada Pemerintah Indonesia.”

Wapres juga meminta agar bencana makin meningkatkan kesadaran akademisi dan ilmuwan untuk mencari inovasi dan kreativitas sehingga korban bencana dapat dikurangi.

Kepala BNPB Willem Rampangilei dalam sambutannya menyatakan, “Jutaan penduduk Indonesia tinggal di daerah bencana. 150 juta penduduk di daerah rawan gempa, 64 jiwa di daerah rawan banjir, dan 41 juta di daerah rawan longsor dan sebagainya. Sementara itu kejadian bencana terus meningkat setiap tahun. Kapasitas penanggulangan bencana Pemda masih belum merata. Penyebab bencana disebabkan laju degradasi lingkungan lebih cepat dari pemulihan. Untuk mengantisipasi bencana maka pencegahan dan penanggulangan bencana menjadi prioritas pembangunan nasional. Pencegahan menjadi lebih prioritas. Diharapkam IABI dapat meningkatkan jejaring iptek untuk penanggulangan bencana. Investasi pengurangan risiko bencana dapat menjadi penggerak ekonomi pembangunan.”

Rektor UI, Muhammad Anis mengungkapkan Indonesia adalah laboratorium bencana yang menjadi tantangan bagi para pendidik, peneliti, serta praktisi. UI sebagai tuan rumah menyambut baik kegiatan ini. Pendidikan bencana berkembang pesat karena multidimensi. UI telah menghasilkan beberapa inovasi makanan untuk darurat bencana. UI menyelenggarakan simulasi dan pendidikan bencana. Saat terjadi bencana UI selalu mengirimkan relawan dan UI Peduli membantu masyarakat dan Pemda dalam penanganan bencana. Diharapkan PIT dapat menghasilkan inovasi dan terobosan.

Selama tiga hari (8 – 10/5), para ahli nasional dan internasional di bidang kebencanaan akan saling berbagi pengalaman, sharing knowledge serta brainstorming secara komprehensif terkait kebencanaan dan mensinergikan sains, teknologi, dan inovasi terkait kebencanaan. Dengan tema “Peran Masyarakat Bagi Pencapaian SDGs : Kontribusi Pemangku Kepentingan Untuk Penurunan Risiko Bencana”, diharapkan pertemuan ilmiah ini mampu menghasilkan keluaran berupa tersusunnya Blue Print Riset Kebencanaan sebagai acuan dalam perencanaan dan penganggaran sesuai dengan kebutuhan penanggulangan bencana di Indonesia.

{tab title=”Hari 2″ class=”green solid”}

Sesi Seminar (Ruang Perpustakaan)

Reportase hari ke 2 : Selasa, 9 Mei 2017

Reportase : dr. Sulanto Saleh Danu, Sp.FK & Sutono, SKp. M.Sc., M.Kep


“Mbah Surono” bercerita tentang Sinabung

Tema Model Partisipasi Aktif Pemangku Kepentingan terhadap pengurangan resiko bencana (PRB). Acara dipandu oleh Ir Isman Justanto, MSCE dan Dr. Nadia Yovani, S.Sos., M.Si. sebagai moderator dan sebagai Invite Speaker Dr. Surono. Surono memaparkan tentang Bencana Gunung Api Sinabung. Kejadian bencana gunung api yang sampai saat ini belum selesai. Selanjutnya ada beberapa presentasi paparan hasil penelitian antara lain :

  1. Nadira Irdiana : Kajian Pemenuhan Hak Anak dan Perempuan di Situasi Darurat Bencana Gempa Bumi Pidie
  2. Berwi Fazri Pramudi : Model Kesiapsiagaan Pemangku Kepentingan di Nias Selatandalam Menghadapi Bencana Gempa Bumi dan Tsunami
  3. Aksi Youth Ambassador dalam Pengurangan risik Bencana di 7 Kelurahan di Jakarta Barat dan Jakata Timur
  4. Fajar Sidiq : Analisis Pola Koordinasi Pemerintah dalam Masa Siaga Darurat Erupsi Gunung Bromo Tahun 2015 -2016
  5. Nur Miladan : Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaaan Resiko banjir di Wilayah Hilir Daerah Aliran Sungai Kali Pepe Surakarta
  6. Niswa Nabila Siba : Pengaruh Komodifikasi Bencana Banjir Garut 2016 oleh TV One terhadap Ketangguhan Masyarakat
  7. Adityo Mega Anggoro : Simulasi Kejadian Kebakaran Hutan dan Lahan menggunakan Model WRF – Fire (Studi Kasus Kalimantan Tengah 17 Oktober 2015)
  8. Jaka Suryanta : Mengatasi Bencana Banjir dan Peluang Restorasi (Studi Kasus Wilayah Sukoharjo)
  9. Sylvia Fettry E.M. : Mengawal Akuntabilitas Dana Penanggulangan Bencana
  10. Yoan Adi Wibowo Sutomo : Peran Penting Komunitas Relawan Kabupaten Sleman dalam Penurunan tingkat Resiko Bencana
  11. Paulus P. Raharjo : Mempersiapkan Kota Bandung Menghadapi Bencana Alam
  12. Aruminingsih : Penerapan Resilience City di Indonesia dalam Kerangka Kota Berkelanjutan dan SDGs.
  13. Nasfryzal Carlo : Partisipasi Masyrakat dalam Memelihara Jalur Evakuasi Tsunami di Nagari Air Bangis Kabupaten Pasaman Barat

 

Sesi Seminar Internasional

Tema seminar : “Contribution of Science and Technology for Disaster Risk Reduction”
Tempat seminar : Ruang Apung UI Depok
Acara dibagi dalam 2 sesi.
Sesi pertama : Moderator Dr. Raditya Jati (BNPB)
Pembicara dan materi seminar :

  1. Dr. Wei – Sen Li ( Taiwan) : How to Integrate Science and Technology to Engage DRR Application to Support Decision Making
  2. Dr. Jane Rovins (Massey University) : Enhancing Disaster Preparedness for effective Response to Build Knowledge and Capacity

Pembahas : Ir. Sugeng Triutomo, DESS (IABI) dan Dr.rer., nat. Armi Susandi, M.T. (ITB)

Sesi Kedua : Moderator : Dr. Dicky Pelupessy (UI)

Pembicara dan materi seminar :

  1. Ass. Prof. Takako Izumi (Tohoku University) : Investing to Disaster Risk Reduction : Promote Cooperation between Academic, Scientific and Research entities and Networks with Privatte Sector
  2. Dr. Yasushito Jibiki (Tohoku University) : Social Behavior in Disaster Situation : A Case Study in The Kelud Eruption in 2014

Pembahas : Prof. Dr. Fatma Lestari (UI) dan Dr. Ing. Ir. Agus Maryono (UGM)

2. Musyawarah Nasional (MUNAS IABI, 2017)

MUNAS IABI dilaksanakan selama 2 hari pada malam hari yang diselenggarakan di Hotel Margo Depok. Diikuti oleh sebagian anggota IABI dan pada malam pertama peserta dinyatakan telah memenuhi kuorum sehingga munas bisa diselenggarakan. Acara MUNAS hari pertama : Pembukaan oleh Ketua IABI : Prof. Dr. Sudibyakto dilanjutkan dengan acara MUNAS yaitu :

  1. Amandemen AD/ART IABI
  2. Laporan Pertanggungjawaban Pengurus IABI periode 2014 – 2017
  3. Pemilihan Pengurus IABI periode 2017 – 2020

Pada hari pertama MUNAS menghasilkan dewan Formatur yang terdiri dari perwakilan yang diambil dari area wilayah di Indonesia.

Suasana MUNAS yang penuh kekeluargaan

Hari Kedua MUNAS menghasilkan pengurus IABI periode 2017 – 2020 yang terdiri :

  1. Ketua Umum ; Harkunti Pratiwu Rahayu (ITB)
  2. Wakil Ketua Umum ; Triarko Nurlambang (UI)
  3. Wakil Ketua I Bidang Kerjasama ; Suprayoga Hadi (Bappenas)
  4. Wakil Ketua II Bidang Riset ; Khairul Munadi (Unsyiah)
  5. Wakil Kerua III Bidang Pengabdian Masyarakat ; Agus Maryono (UGM)
  6. Wakil Ketua IV Bidang Penguatan Kelembagaan ; Hendro Wardono ( Unitomo)
  7. Sekjen ; Lilik Kurniawan ( BNPB)
  8. Wakil Sekjen : Dicky Pelupessy (UI)
  9. Bendahara ; Siti Agustini (Praktisi)

Ketua Umum dan Sekjen IABI

Seluruh Pengurus IABI periode Periode 2017 -2020

 

Penutup

Penutupan PIT IABI 2017 UI Jakarta

Perhelatan PIT 4 dan Munas IABI telah selesai. Beberapa hal yang dihasilkan diantaranya adalah adanya dukungan dan harapan dari pemerintah yang tercermin dari pernyataan Wapres Jusuf Kalla dan Kepala BNPB kepada IABi. IABI diharapkan dapat membantu pemerintah dalam mengurangi risiko bencana utamanya dalam pemanfaatan IPTEKS dan jejaring perkuatan kapasitas penanggulangan bencana di daerah, Terbentuknya pengurus baru IABI yg harus terus berbenah memperbaiki mekanisme organisasi dan melakukan aksi secara nyata.

IABI adalah rumah bersama seluruh peneliti, perekayasa, praktisi dan akademisi. Istilah “ahli” sempat menjadi bahan diskusi yang mengemuka. Ahli tidak hanya diukur oleh banyaknya gelar seseorrang akan tetapi ahli merupakan predikat yang melekat karena seseorang memiliki sesuatu pengetahuan yg dapat dijadikan pembelajaran orang lain untuk melakukan upaya-upaya penanggulangan bencana di Indonesia. Jadi seharusnya  IABI harus menjalankan “knowledge sharing” dan gerakan-gerakan untuk penanggulangan bencana di Indonesia. 

Penutupan PIT IABI 2017 UI Jakarta

Pada acara PIT 4, banyak hal penting dibahas, termasuk masukan para ahli asing dari Taiwan, Jepang dan New Zealand. Dari sisi ilmu sosial yang mengemuka terwakili oleh sosok Syamsul Maarif dan Gunawan Muhammad. Pelibatan semua pihak nampak pada lomba-lomba yang diikuti masyarakat umum seperti foto, poster dan poster ilmiah, juga pameran, festival fim dan eksursi pada penggal sungai Ciliwung.

Susur Sungai Ciliwung	 - Pak Agus Maryono (UGM) “in action”

Sebagai closing statement dari sekretariat IABI, beliau mengatakan “Saatnya kita bekerja,  bekerja untuk Indonesia yang lebih baik. Berkontribusi dalam pembangunan sesuai dengan bidang keilmuannya. Salam kemanusiaan”.

{/tabs}

Cegah Korban Bencana, Pemprov Jateng Minta Kabupaten/Kota Bentuk PSC 119

Banyumas – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah meminta agar kabupaten/kota segera membentuk Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) melalui layanan Public Safety Centre (PSC) 119. Layanan ini berguna untuk menekan angka kematian akibat kondisi gawat daurat bagi korban sebelum ditangani oleh rumah sakit. Kondisi kritis itu terjadi akibat kecelakaan maupun bencana alam.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, dr Yulianto Prabowo mengatakan PSC 119 merupakan layanan cepat tanggap darurat kesehatan. Layanan ini dibentuk tahun 2016 bekerja sama dengan Kementerian Perhubungan untuk membantu penangan kesehatan terhadap masyarakat yang tidak hanya berhubungan dengan kecelakaan tetapi juga dalam situasi kritis, misalnya bencana alam.

Yulianto mengungkap, dari 35 kabupaten/kota, baru 21 daerah yang telah membentuk PSC 119. Padahal, kata dia, Jawa Tengah dikenal sebagai salah satu provinsi dengan tingkat bencana yang tinggi. Menurut dia, diperlukan langkah cepat menangani kondisi gawat darurat jika terjadi bencana.

“Jawa Tengah merupakan ‘supermarket’ bencana seperti tanah longsor, angin ribut, gunung meletus, banjir dan bencana lainnya. Untuk menekan korban jiwa maka. Kementerian Kesehatan telah meluncurkan program ini,” tandasnya.

Yulianto menjelaskan, Gubernur Jawa Tengah juga telah mengeluarkan Peraturan Gubernur nomor 18/2017 tertanggal 18 April 2017 tentang Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) melalui layanan Public Safety Centre (PSC) 119.

“Oleh karena kami meminta kabupaten/kota di Jateng agar segera membentuknya. PSC 119 dibentuk untuk mempercepat penanganan dan pertolongan pada korban yang membutuhkan penangan segera,” ujarnya.

SPGDT melalui PSC 119 merupakan sistem yang menaruh perhatian untuk pelayanan emergensi sehari-hari. SPGDT merupakan koordinasi berbagai unit kerja dan didukung berbagai kegiatan profesi untuk menyelenggarakan pelayanan terpadu bagi penderita gawat darurat dalam keadaan sehari-hari.  Keberadaan leyanan ini ditandai dengan sistem komunikasi yang dikendalikan di call center sebagai pusat komunikasi dalam mengatur lalu lintas rujukan emergensi.

“Keberadaan call center harus didukung petugas yang jaga online 24 jam. Dengan penanganan gawat darurat yang direspon secara cepat, maka diharapkan akan menurunkan angka kematian dan angka kecacatan,” bebernya.

Yulianto mengemukakan, sejumlah kabupaten/kota dinilai telah berhasil membangun layanan PSC 119 ini. PSC 119 yang sudah terbentuk dan dinilai berhasil antara lain Kabupaten Banyumas, Wonosobo dan Kabupaten Batang.

Yulianto mengemukakan, Layanan PSC 119 Kabupaten Batang yang hanya menempati ruangan bekas Satpam dinilai yang terbaik dan mampu merebut inovasi dalam bidang kesehatan. Layanan PSC 119 di Batang diberi nama ‘Si Slamet’. Layanan ini bisa diunduh melalui playstore dan bisa digunakan oleh masyarakat luas guna melaporkan kejadian gawat darurat seperti kecelakaan lalu lintas sehingga korban cepat ditangani.

sumber: GATRAnews

Mensos Pastikan Gizi dan Nutrisi Korban Bencana Alam Terpenuhi

Mensos Khofifah Indar Parawansa memberikan bantuan bagi korban longsor di Ponorogo, Jawa Timur.

Jakarta – Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa memastikan nutrisi dan gizi pengungsi korban bencana alam dalam masa tanggap darurat bencana terpenuhi.

Kementerian Sosial (Kemsos) dalam masa tanggap darurat bencana bertugas menyiapkan dapur umum dan logistik. Namun selain cukup pasokan makanan, gizi dan nutrisinya pun harus terpenuhi.

“Dalam koordinasi akselerasi perlindungan sosial kita antisipasi saat tanggap darurat jangan sampai logistik tidak tercukupi. Justru harus pula tercukupi gizi dan nutrisinya,” katanya di Jakarta, Rabu (3/5).

Untuk itulah Kemsos menggandeng World Food Programme dalam komitmen tersebut.

Mensos mengungkapkan, selama periode hingga Mei 2017, Kemsos mencatat ada 961.440 orang yang terpaksa mengungsi karena terdampak bencana alam. Sementara itu 146 orang meninggal dunia karena terdampak bencana alam.

Sedangkan di tahun 2016 terdapat 2,87 juta pengungsi korban bencana alam dan 567 orang meninggal dunia.

“Kita ingin lakukan layanan pertama untuk bisa membantu dan melayani. Kita sudah punya tekad satu jam tiba di tempat bencana,” ucapnya.

Tahun 2015 lanjut Mensos, taruna siaga bencana (tagana) telah berkomitmen satu jam setelah bencana, tagana siap melayani di lokasi kejadian.

Hanya saja yang perlu dilakukan saat ini adalah penguatan personel, armada dan sahabat tagana. Ia menambahkan saat ini Kemsos memiliki sekitar 31.000 tagana dan 600.000 sahabat tagana.

Menurutnya jumlah itu memang besar, namun melihat cakupan wilayah Indonesia yang begitu luas maka personel tagana perlu ditambah. Apalagi Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyebut 323 kabupaten/kota memiliki resiko tinggi bencana alam.

Mensos: Segera Relokasi Warga di Zona Merah Bencana

Mensos: Segera Relokasi Warga di Zona Merah Bencana

Magelang – Kabupaten Magelang merupakan salah satu dari 323 kabupaten/kota di Indonesia yang memiliki resiko bencana tinggi. Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa, mendesak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat segera melakukan deteksi zona merah oleh pembuatan peta daerah rawan bencana.

“Deteksi zona merah itu bisa dilakukan oleh seluruh aparat BPBD maupun BMKG. Namun untuk menyampaikan ke masyarakat, perlu ada sosialisasi kontinyu dan komprehensif oleh lembaga-lembaga terpercaya,” jelas Khofifah di sela meninjau lokasi bencana banjir bandang di Kecamatan Grabag, Magelang, Selasa (2/5/2017).

Dia menyebutkan, hal ini pernah dilaksanakan di titik Sampang, Banjarnegara. “Saat itu memang Pemerintah Daerah menggandeng UGM untuk turun dan menyampaikan sosialisasi ke masyarakat,” katanya.

Setelah sosialisasi zona merah, lanjut Khofifah, Pemda memiliki pekerjaan rumah untuk menyiapkan relokasi bagi warga. Pemda harus mencari lahan baru. Menurutnya, relokasi penting dilakukan untuk menghindari bencana alam dan kerugian yang lebih besar, terutama kehilangan nyawa.

“Kementerian Sosial nantinya akan memberi bantuan isi hunian tetap berupa perabotan rumah, peralatan dapur, tempat tidur dan lain sebagainya senilai Rp 3 juta,” lanjutnya.

Sebagai solusi jangka panjang, Pemerintah melalui Kemensos juga akan mengembangkan dan memperbanyak keberadaaan Kampung Siaga Bencana (KSB). Kampung ini dimaksudkan untuk mempersiapkan warga di daerah rawan bencana menghadapi bencana alam. Target hingga 2019, berdiri sebanyak 1000 KSB.

Dalam kunjungan itu Mensos berkesempatan menengok korban luka, Aryati Rahayu (29) di RSUD Tidar Kota Magelang. Selanjutya Mensos juga menyerahkan bantuan sejumlah Rp 321 juta terdiri dari santunan kematian bagi 13 ahli waris korban meninggal sebanyak Rp195 juta, korban luka sejumlah Rp 15 juta kepada tiga orang, dan bantuan logistik sejumlah Rp 116,5 juta.

Learning From Disaster Simulation Drills in Japan

disaster drill japan

disaster drill japanLatihan simulasi bencana merupakan salah satu cara dalam meningkatkan kesiapsiagaan bencana. Jepang sebagai salah satu negara di Asia yang dikenal dengan kejadian bencana dengan skala yang besar dan sering terjadi, sehingga dapat menjadi tempat pembelajaran yang baik dalam mengadapi bencana. Buku ini bejudul “Learning From Disaster Simulation Drills In Japan” dan merupakan panduan latihan simulasi bencana yang dilaksanakan di Jepang.

Terdapat 4 bagian dalam panduan tersebut, bagian pertama yaitu pendahuluan (chapter 1,2 dan 3); bagian ini menjelaskan tentang kerangka kerja institusional dan legislatif untuk manajemen bencana di Jepang. Peran dan tanggung jawab dari pemerintah nasional maupun lokal didefinisikan secara jelas, begitu pula dengan kerja sama yang relevan dengan stakeholders dari sektor publik maupun private/ swasta. Bagian kedua: latihan simulasi (chapter 4, 5, 6 dan 7). Latihan simulasi nasional dimulai dari perencanaan, persiapan, pelaksanaan dan evaluasi dipaparkan pada bagian ini. Pengalaman bencana gempa yang dialami, latihan simulasi yang dilakukan, regulasi lokal terkait simulasi bahkan pelaksanaan yang dilakukan oleh perusahaan swasta pada wilayah Hyogo, Shizouka dan Tokyo masing-masing dipaparkan dalam 1 chapter. Bagian ketiga : kegiatan berbasis komunitas untuk kesadaran tentang bencana dan resiko komunikasi (chapter 8 dan 9). Peningkatan kesadaran masyarakat dalam mencegah bencana melalui sekolah, Non Government Organization (NGO) dan aktivitas di pusat pembelajaran serta inisiatif komunikasi resiko yang dilakukan di wilayah Kobe dipaparkan. Bagian terakir : kesimpulan (chapter 10). Kesimpulan yang dijabarkan diakhir bagian buku ini terdiri dari 3 hal yaitu pentingnya partisipasi masyarakat dalam latihan simulasi bencana dan dukungan sesama pada kejadian sebenarnya, program pengembangan kapasitas tambahan merupakan bagian yang krusial dalam peningkatan tujuan yang berkesinambungan serta pentingnya anggaran dalam pelaksanaan program yang direncakan. Penjelasan selengkapnya Klik Disini arrow, external, leave, link, open, page, url icon

Disaster, Disability And Difference

disaster disability

disaster disabilityPublikasi ini didasarkan pada penelitian yang dilakukan untuk mengetahui secara empiris tentang disabilitas pada gempa Nepal 2015. Penelitian ini mencoba untuk menganalisa dampak bencana pada kelompok sosial yang tidak beruntung dan orang dengan disabilitas atau kecacatan. Orang dengan disabilitas/kecacatan merupakan salah satu kelompok rentan dalam bencana dan terkena dampak yang besar, namun tidak mendapat sorotan yang lebih dari berbagai pihak. Terbatasnya penelitian terkait dengan topik tersebut; penelitian ini juga membuat tematic framework untuk memahami bentuk masalah sosial, ekonomi dan institusional yang spesifik pada kelompok rentan dengan disabilitas di Nepal. Penelitian ini dilaksanakan pada Januari-Maret 2016 (8 sampai 11 bulan setelah gempa bumi pertama pada April 2015 lalu).

Salah satu bagian yang menarik dari penelitian ini adalah pada bagian 4 yaitu tentang kecacatan dan pengurangan resiko bencana yang dituurunkan atau pengaplikasian dari Sendai framework. Pada bagian ini dipaparkan tentang langkah-langkah yang dapat dilakukan bagi kelompok disabilitas. Pelatihan untuk meningkatkan kesadaran, sharing informasi dan sistem peringatan dini, mengembangkan kapasitas kesiapsiagaan bencana dengan Disabled Persons Organizations (DPOs), perhatian yang dapat diberikan pada kelompok disabilitas dalam fase respon bencana dipaparkan merupakan poin utama yang dijelaskan. Rekomendasi strategi kebijakan yang dapat memberikan keuntungan bagi kelompok disabilitas juga menjadi hal lain yang dapat diperoleh dari penelitian ini. Penjelasan selengkapnya Klik Disini arrow, external, leave, link, open, page, url icon

 

Kesiapsiagaan Bencana : For Senior By Senior

disaster prepardness

disaster prepardnessTake responsibility to protect your life! Prepare now for a sudden emergency” merupakan kuotasi yang ingin disampaikan oleh penulis buku ini. Makna yang dimaksud adalah kemampuan secara mandiri setiap orang untuk dapat bertanggung jawab terhadap keselamatannya apabila ada suatu kejadian gawat darurat. Langkah-langkah kesiapsiagaan yang dijelaskan dalam buku ini adalah get a kit, make a plan dan be informed.

Langkah pertama adalah get a kit; ketersediaan peralatan yang dibutuhkan saat bencana terjadi penting untuk setiap orang. Peralatan tersebut dikumpulkan dalam 1 tas/tempat yang mudah dibawa dan dapat memenuhi kebutuhan setidaknya 3 hari dan telah disediakan sebelumnya. Menjaga peralatan tetap up to date seperti waktu expired suatu peralatan harus tetap dicek serta hal-hal lain yang harus disediakan. Langkah kedua adalah make a plan atau membuat rencana. Membuat perencanaan dapat mengurangi kecemasan, sehingga mempersiapkan rencana untuk kejadian yang tidak terduga dan ingat untuk selalu me-review rencana tersebut secara reguler. Perencanaan dapat dilakukan dengan keluarga, teman maupun komunitas. Rencana komunikasi keluarga juga dijelaskan pada tahap ini. Langkah terakhir adalah be informed; yang dimaksud bagaimana kita mengetahui apabila terdapat kemungkinan untuk terjadinya kejadian gawat darurat atau tidak terduga. Penggunaan community hazard assessment atau pengkajian resiko komunitas, community warning system atau sistem peringatan komunitas, door to door warning atau peringatan dari rumah ke rumah dijelaskan. Kelompok yang membutuhkan bantuan lebih saat bencana seperti orang tua harus dibantu dalam setiap langkah yang dijelaskan tersebut. Tips dalam perencanaan setiap langkah yang disebutkan detail dan rasional untuk individu dapat mempersiapkan diri dengan baik, sehingga menjadi salah satu pilihan bacaan bagi pembaca. Penjelasan selengkapnya Klik Disini arrow, external, leave, link, open, page, url icon