Pembukaan WADEM 2015

h1-pembukaan

Pembukaan

19th World Congress on Disaster and Emergency Medicine  

Reporter: Madelina Ariani

21 April, Cape Town, South Africa


 h1-pembukaan

Meriah sekali pertemuan kesembilan belas asosiasi bencana bidang kesehatan dunia atau World Association on Disaster Emergency and Medicine ini. Sejak dari halaman depan CTICC atau Cape Town International Convention Center sudah ramai peserta. Apalagi ketika menaiki lantai kedua, begitu panjang antrian peserta WCDEM yang melakukan registrasi. Luar biasa, karena kongres ini mampu mengumpulkan lebih dari 41 negara yang terlibat dan berpartisipasi dan lebih dari 600 peserta memenuhi ruangan kongres.

Auditorium 2 CTICC menjadi ruangan utama untuk melakukan pembukaan dan beberapa sesi panel dan pleno juga. Sekitar setengah jam sebelum pembukaan, ruangan hampir terisi penuh, untung saja kami mendapatkan beberapa baris bangku kosong di deretan kedua terdepan, sehingga tim dari PKMK FK UGM ( Bella Donna, Madelina, dan Oktomi) dan rombongan Kementerian Kesehatan RI bisa mendapatkan tempat duduk yang dekat dengan podium.

Seluruh pembicara yang memberikan sambutan dalam sesi pembukaan ini mengucapkan terimakasih kepada seluruh peserta yang begitu antusias berkumpul selama empat hari ini untuk membicarakan dan mendiskusikan masalah bencana. Terlebih, disampaikan terimakasih kepada penyelengara kegiatan ini yakni WADEM dan EMSSA. Juga untuk Cape Town, South Afrika yang bersedia sebagai tuan rumah dalam kongres kesembilan belas ini.

Hyogo framework telah berakhir dan berganti dengan Sendai Framework, dan kita kali ini berkumpul dalam WCDEM untuk juga bersama-sama melakukan upaya untuk pengurangan risiko bencana. Sesuai dengan tema besar kita kali ini, Creating Capacity and Building Resilience. Di akhir sambutannya, Paul Arbon juga menyampaikan bahwa apa yang kita lakukan sebagai professional disini dapat dilaksanakan dan diterjemahkan dengan baik di tingkat lokal negara masing-masing.

Paul Farren memberikan sambutannya. Menarik, karena ini dalam acara bencana maka kita harus tahu bagaimana cara menyelamatkan diri ketika terjadi bencana, sehingga Paulmenjelaskan mengenai jalan keluar dan sedikit mengenai penyelamatan diri. Paul Farren juga menghimbau untuk selama empat hari ini kita bisa fokus untuk acara ini sehingga ilmu yang diberikan bisa benar-benar bermanfaat.

Terakhir, perwakilan panita menjelaskan mengenai jalannya kegiatan selama empat hari ini. Ada panel-panel yang harus kita pilih sesuai dengan bidang kita, begitu juga dengan knowledge sharing dari oral presentasi, lalu mengenai stand yang ada di ruang pameran, serta banyak workshop pagi hari. Poster ilmiah yang terkumpul sekitar 80-an lebih dan berasalah dari peneliti diseluruh Negara yang terlibat pada kongres ini. Banyak kegiatan kongres dan pertemuan ilmiah bencana yang dipublikasikan juga dalam kegiatan ini yang akan dilaksanakan baik penghujung tahun 2015 dan juga 2016.

Beberapa link yang bisa pembaca website bencana simak tentang sponsor dan pihak yang terlibat dalam kongres ini:

http://www.wcdem2015.org/

http://emssa.org.za/

http://www.ifem.cc/Events/EventsCalendar/ICEM_2016.aspx

 

Pengantar Reportase 19th World Congress on Disaster and Emergency Medicine

wadem-pengantar

Reportase 19th World Congress on Disaster and Emergency Medicine  

21-24 April, Cape Town, South Africa


 wadem-pengantar

World Congress Disaster Emergency Medicine (WCDEM) ke-19, telah selesai dilaksanakan di Cape Town, Afrika Selatan pada 21-24 April 2015. Sebelumnya pergelaran WCDEM ke-18 dilaksanakan di Manchester. Tim Pokja Bencana PKMK FK UGM mendapat kesempatan dalam WCDEM Ke-19 ini, kegiatan ini merupakan kongres disaster yang cukup membanggakan. Dua abstrak yang kami kirimkan keduanya diterima sebagai “oral presentation”.

Pembaca website bencana, silakan menyimak reportase kegiatan WCDEM 2015 berikut ini:

 

Kisah Tim Pokja Bencana dalam WCDEM Ke-19

Setelah mendapatkan dana dari berbagai tempat, maka kami menyiapkan segala sesuatunya untuk keberangkatan kami. Awal pertama yang kami bayangkan adalah situasi yang membahayakan baik keamanan dan penyakit yang ada di Afrika saat ini. Ternyata?

Setelah perjalanan dari Yogyakarta ke Jakarta dan 8 jam dari Jakarta ke Dubai, lalu transit selama 7 jam di Dubai, kami melanjutkan perjalanan sekitar 10 jam menuju Cape Town. Lelah tapi menyenangkan karena membayangkan akan bertemu dengan banyak kolega bencana kesehatan dari berbagai negara. Baik yang sebelumnya mereka pernah berkunjung ke Divisi Manajemen Bencana, PKMK FK UGM ataupun kolega yang selama ini dijalin melalui email.

Setelah turun dari pesawat dan menukarkan uang ke mata uang Rand, kami naik taksi menuju apartemen. Apa yang kami takutkan langsung berubah setelah mobil melaju menuju apartemen, karena yang kami lihat adalah pemandangan yang luar biasa bagusnya.

Kami melupakan kelelahan kami dan segera setelah membereskan urusan hotel serta meletakkan barang di kamar, kami langsung menuju Victoria & Alfred Waterfront (sebelumnya kami sudah melacak tempat-tempat yang akan kami kunjungi di Capetown melalui internet).

V&A Waterfront diambil dari nama Pangeran Alfred, anak kedua ratu Victoria yang membangun pelabuhan ini di tahun 1860. Tempat ini sekarang selalu dan wajib dikunjungi karena keindahan situasinya bahkan kita dapat menyewa boat untuk memancing ikan serta menikmati aneka ragam makanan seafood dan pernak pernik khas Afrika.

Tidak lupa juga kami belanja kebutuhan kami seperti beras, telur dan sayuran untuk kebutuhan kami sehari-hari.

1-waterfront-afsel

Pada hari kedua kegiatan kongres belum dimulai tetapi sore ada undangan pertemuan kegiatan dari WHO CC yang akan saya ikuti (Bella). Karena itu pagi kami sudah menyewa mobil untuk pergi ke Table Mountain yang merupakan salah satu dari tujuh keajaiban alam didunia.

Table Mountain adalah gunung yang puncaknya rata mirip sebuah meja sehingga disebut ‘gunung meja’. Untuk mencapai ke puncaknya, kami harus naik kereta gantung (Cable Car). Di kereta gantung isinya banyak tetapi kita tidak perlu khawatir tidak bisa melihat seluruh keindahan di luar karena kereta tersebut memutar secara perlahan hingga 360 derajat, sehingga kita bisa melihat semua keindahan yang ada di luar kereta sepanjang perjalanan mencapai puncak. Kami tidak berhenti menahan nafas dan bersyukur berulang-ulang melihat indahnya ciptaan Tuhan. Sesampai di puncak yang areanya begitu luas, kita bisa melihat dari atas seluruh kota Cape Town yang begitu menakjubkan sehingga udara yang sangat dingin sudah tidak kami hiraukan lagi.

2-table-mountain

Setelah puas menikmati pemandangan dan foto-foto kami melanjutkan perjalanan menuju Simon’s Town untuk melihat penguin. Melihat penguin saya langsung ingat film Happy Feet, lucu dan menyenangkan melihat mereka berjalan dan bergoyang.

3-pinguin

Kami tidak lama disana karena harus mengejar acara di Cape Town, sehingga kami langsung menuju Cape Point untuk melihat pertemuan hangatnya laut India dan dinginnya laut Antartika. Untuk melihat situasi ini kami kembali naik kereta ke puncak tetapi tidak setinggi Table Mountain serta jenis keretanya menggunakan rel yang menanjak naik. Sesampai di atas, kami masih naik tangga untuk mencapai mercusuar yang usianya sudah cukup tua dan kembali kami dibuat terkagum melihat keindahan pemandangannya.

4-samudra-hindia

Di Cape Point kami bertemu dengan tim dari Kemenkes dan Konjen Cape Town.

5-kemenkes

Setelah puas foto-foto kami langsung menuju Tanjung Harapan tepatnya di ujung pulau afrika selatan ini (Cape of Good Hope). Nama Cape of Good Hope (Tanjung Harapan) diberi oleh John II raja Portugal yang terinspirasi dan diambil dari perjalanan seorang pengawas gudang yang diberi tugas menjadi kepala pelayaran untuk mencari rute perdagangan India bernama Bartholomeus Diaz yang akhirnya menemukan Tanjung Harapan pada Mei 1488. Saat supir yang membawa kami menerangkan situasi ini, saya jadi ingat pelajaran sejarah pada waktu di SMP.

6-tanjung-harapan

Akhirnya kami kembali menuju Cape Town dengan arah yang berbeda pada waktu datang sambil tidak lupa berhenti untuk berfoto di tempat-tempat indah lainnya sepanjang perjalanan kembali ke apartemen, seperti Chapman Peak berjalan menyusuri lautan dan di bawah bebatuan tepat diatas kepala kita. Tidak lupa singgah melihat sunset di Camps bay.

7-tanjung-harapan

Harper Government calls for National Disaster Mitigation Program proposals

OTTAWA, April 17, 2015 /CNW/ – The Honourable Steven Blaney, Canada’s Minister of Public Safety and Emergency Preparedness today launched the first call for proposals for the National Disaster Mitigation Program (NDMP).

In Economic Action Plan 2014, our Government committed to providing $200 million in funding over five years, starting in 2015-16 to develop the National Disaster Mitigation Program. As announced in January 2015, the NDMP will focus mainly on flood mitigation, to better protect Canadians, their homes, and communities.

This funding is in addition to the investments made under the New Building Canada Fund. Announced in Economic Action Plan 2013, the New Building Canada Fund provides $14 billion to support significant infrastructure projects in Canada as identified by the provinces and territories, which can include mitigation infrastructure to help prevent floods and other natural disasters.

The investments in flood-risk identification and prevention measures through the NDMP reflect our Government’s shift towards a proactive disaster relief model that will better protect Canadians and their communities from the costs and heartache associated with reoccurring flooding.

Quick Facts

  • Flood mitigation investments are needed in Canada. Since being created in 1970, the DFAA have been applied to over 210 events, with total payments of over $3.4 billion made to provinces and territories. Of those 210 events, 190 were flood-related, representing more than 85 per cent of all DFAA-funded recovery efforts.

 

  • Through NDMP investments, our Government will:
    • Help reduce flood-related risks and losses by supporting provinces and territories in identifying and mitigating high-risk flood areas;
    • Contribute to establishing conditions for the introduction of a residential flood insurance market in Canada;
    • Collect disaster risk information that will inform future investments; and
    • Facilitate greater knowledge-sharing across emergency management stakeholders.

 

 

  • This funding is in addition to the funding that is available for disaster mitigation projects through the $53 billion New Building Canada Plan. It provides stable funding for a 10-year period, and includes:       
      • The Community Improvement Fund, consisting of the Gas Tax Fund and the incremental Goods and Services Tax Rebate for Municipalities, which will provide over $32 billion to municipalities for projects such as disaster mitigation, roads, public transit, and other community infrastructure.
      • The $14-billion New Building Canada Fund, which consists of:
          • The $4-billion National Infrastructure Component that will support projects of national significance; and
          • The $10-billion Provincial-Territorial Infrastructure Component for projects of national, regional and local significance. Of this amount, $1 billion for projects in communities with fewer than 100,000 residents through the Small Communities Fund.
          • An additional $1.25 billion in funding for the Public-Private Partnerships (P3) Canada Fund administered by PPP Canada.

Quotes

“We are pleased to launch the National Disaster Mitigation Program today as we shift towards a proactive disaster relief model that better allows us to identify, plan for, and prevent flood risks and the costs that Canadians incur as a result of flooding. This important investment will help reduce flood-related costs for all levels of government and help Canadians in high-risk communities avoid the heartache associated with reoccurring flooding in their communities. Our Government will continue to support Canadians in their time of need and work with the provinces and territories to help proactively reduce the risk of flooding in high-risk communities across Canada.
– The Honourable Steven Blaney, Canada’s Minister of Public Safety and Emergency Preparedness

“We have all seen the toll that severe weather events take on Canadians. IBC is pleased to continue working with the federal government on flood prevention and mitigation measures. We know that the private sector, all levels of government and community groups – working together – can build more resilient and sustainable communities”.
– Don Forgeron, President and CEO, Insurance Bureau of Canada

Related Products

Associated Links

For more information, please visit the website www.publicsafety.gc.ca.

 

SOURCE Public Safety and Emergency Preparedness Canada

Peneliti Eropa Ungkap Akan Segera Terjadi Bencana Besar di Bumi

Peneliti Eropa telah mengingatkan bahwa “musibah ekstrem” akan menyebabkan kerusakan luar biasa di Bumi dengan segera.

Para ilmuwan tersebut telah mengaitkannya dengan pelbagai kompleksitas masyarakat modern yang bisa memunculkan bahaya, salah satunya adalah letusan gunung berapi secara serentak pada 2100.

Apakah umat manusia akan musnah pada 2100 itu?

Klaim yang dibuat oleh para peneliti di European Science Foundation mengungkapkan, meskipun langka, tapi bahayanya memiliki dampak tinggi; ia menimbulkan ancaman serius bagi peradaban manusia.

Para peneliti menambahkan dengan mengatakan, bahaya ekstrem itu sering tidak termasuk dalam manajemen risiko bencana alam, karena ini, ledakan gunung api masif dan serentak, masih dianggap sebagai peristiwa yang jarang terjadi.

Selain itu, masyarakat modern saat ini, terlihat kurang tanggap dalam mengantisipasi bahaya yang bisa datang kapan pun ini.

Sebuah makalah berjudul “Extreme Geohazards: Reducing the Disaster Risk and Increasing Resilience” telah disusun bersama-sama oleh Group on Earth Observations (GEO), Geohazard Community of Practice (GHCP), dan European Science Foundation (ESF).

sumber: TRIBUN-TIMUR.COM

Sendai talks establish targets to reduce damage from natural disasters

Governments at a UN conference in Japan set targets on Wednesday to substantially reduce deaths and economic losses from disasters, in the first of three major global agreements to advance development and tackle climate change this year.

After a marathon negotiating session that ended just before midnight, the talks adopted the Sendai Framework for Disaster Risk Reduction, a 15-year plan that will replace the existing 10-year blueprint.

“This new framework … opens a major new chapter in sustainable development, as it outlines clear targets and priorities for action which will lead to a substantial reduction of disaster risk and losses in lives, livelihoods and health,” said Margareta Wahlström, head of the UN Office for Disaster Risk Reduction (UNISDR).

Implementation “will be vital to the achievement of future agreements on sustainable development goals and climate later this year”, she added.

Experts described the inclusion in the agreement of seven targets to measure progress on protecting people and assets as a leap forward. But some were disappointed that earlier proposals for percentage goals were rejected.

Instead, the draft text includes targets to lower the global mortality rate from disasters between 2020 and 2030, compared with 2005 to 2015, and reduce the proportion of people affected. Another target is to reduce economic losses in relation to global GDP by 2030.

In the decade covered by the expiring Hyogo Framework for Action, more than 700,000 people lost their lives, and more than 1.5 billion people were affected by disasters. Total economic losses topped $1.3tn.

The new, non-binding agreement also includes targets to reduce damage to infrastructure and disruption to basic services, including health and education facilities, and to increase access to early warning systems and disaster risk information for the public.

Advertisement

But some disaster experts said a lack of a firm commitments in the agreement to ramp up international aid for risk reduction would undermine poorer countries’ efforts to make progress on the goals.

Only Japan put money on the table in Sendai, promising to provide $4bn in support over the next four years.

“Rich nations have pushed making financial commitments to reduce disaster risk to a separate round of financing negotiations later in the year,” said Farah Kabir, country director of ActionAid Bangladesh, referring to a conference in Ethiopia in July. Without larger financial commitments, “the results for vulnerable communities in poor countries will be catastrophic”, he added.

The devastation caused by cyclone Pam in the south Pacific island nation of Vanuatu at the start of the conference last week highlighted the need for greater efforts to protect those most at risk from extreme weather and other hazards. “Disasters, many of which are exacerbated by climate change and [are] increasing in frequency and intensity, significantly impede progress towards sustainable development,” the Sendai framework said.

“It is urgent and critical to anticipate, plan for and reduce disaster risk in order to more effectively protect persons, communities and countries … and thus strengthen their resilience,” it added.

Maggie Ibrahim, World Vision UK’s resilience manager, said the Sendai conference had spotlighted issues affecting disabled people, women and children in disasters. But the agreement would not equip them and other vulnerable people with the resources and tools to build skills so they can better prepare for disasters and avert crises, she said.

“This new plan in its current text and form has only become weaker with every subsequent draft,” she said.

source: theguardian.com

Kerugian Bencana Alam di Jabar Capai Rp 20 Miliar

Sukabumi – Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, selama Januari sampai April 2015, kerugian akibat bencana alam yang terjadi di berbagai wilayah mencapai Rp20 miliar.

“Angka kerugian pada tahun ini memang sangat tinggi, karena intensitas bencana yang sering bahkan kerusakan bangunan pun sangat banyak,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Sukabumi, Usman Soesilo di Sukabumi, Minggu (19/4).

Menurut dia, contoh dari sekian banyaknya bencana alam yang terjadi di Kabupaten Sukabumi seperti di Kampung Cimerak, Desa Tegalpanjang, Kecamatan Cireungas yang menewaskan 12 orang dan merusak belasan rumah, serta banjir di Kecamatan Lengkong dan Jampang Tengah juga menyebabkan 30 rumah rusak.

Selain merusak bangunan seperti rumah, bencana juga merusak fasilitas umum lainnya seperti jembatan dan juga merusak pesantren dan puluhan hektare lahan pertanian, seperti di Kecamatan Lengkong total kerugian diperkirakan mencapai Rp2 miliar. Bahkan hampir di waktu bersamaan, bencana angin puting beliung pun merusak puluhan rumah lainnya seperti di Kampung Cibodas, Desa Neglasari, Kecamatan Nyalindung pada 15 April lalu menyebabkan 20 unit rumah rusak.

Kemudian di Desa/Kecamatan Sukabumi pada 17 April bencana angin puting beliung juga menyebabkan 27 rumah rusak. Data kerugian ini merupakan hasil verifikasi tim penanggulangan bencana, belum lagi bencana serupa yang terjadi di beberapa wilayah di Kabupaten Sukabumi yang kerusakannya tidak terlalu parah.

“Bantuan sementara yang pemkab berikan baru berupa makanan siap saja, perlengkapan tidur dan makan yang minimalnya bisa mengurangi beban korban bencana,” tambahnya.

Pascaterjadinya bencana alam ini, di sejumlah tempat sudah dilakukan rehabilitasi dan antisipasi terjadinya bencana susulan, seperti di Kampung Cimerak, pihaknya sudah membuat tanggul dan memasang bronjong kawat agar tidak terjadi longsor susulan dari tebing setinggi kurang lebih 30 meter.

Kemudian memasang bronjong kawat di beberapa lokasi rawan banjir, langkah ini diambil untuk meminimalisir terjadinya bencana bencana alam seperti banjir dan tanah longsor. Kemudian yang tidak bisa diantisipasi adalah bencana alam seperti puting beliung dan gempa bumi, namun untuk mengurangi dampak kerugian pihaknya sudah melakukan sosialisasi kepada masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana alam tersebut untuk selalu waspada.

“Kami juga sudah menetapkan status siaga II bencana karena potensi terjadi bencana cukup tinggi, apalagi informasi dari BMKG pusat, hujan deras disertai angin berpotensi terjadi sampai Mei mendatang,” kata Usman.

New FEMA regulations could impact disaster preparedness funds

KIMT News 3 – The Federal Emergency Management Agency (FEMA) is making changes that could impact disaster preparedness funds.

The agency says they will only approve these kinds of funds to states who have addressed the issue of climate change in their mitigation’s. That means state leaders like Gov. Terry Branstad, and Gov. Mark Dayton will have to recognize climate change as one of the driving factors in natural disasters, and in doing this, preparedness funds will then be available for their county emergency teams.

Steve O’Neil, the Emergency Management Coordinator for Cerro Gordo County, tells us while this won’t impact relief funds available after disaster strikes, it will make a drastic impact on how counties will prepare themselves for when disasters hit.

“The things that go into outdoor warning sirens and the different programs that we have that we can take into schools for preparedness all of that is pre-planning preparedness planning,” he explains. Without proper funds, projects and programs like this will be tougher to produce, and harder to come by.

Iowa is one of the states in the U.S. who do not have climate change language in their disaster mitigation plans. These plans are reevaluated every five years and O’Neil tells us that one, it’s time for the state to review the plan, Gov. Branstad will have to make the decision on whether or not to include climate change language.

These changes in funding will start next year.

Pembangunan Sarana Penanggulangan Bencana Sinabung Terkendala Izin

KARO Pembangunan sejumlah sarana dan prasarana serta pengerukan jalur aliran lahar dingin di sejumlah titik kawasan terdampak erupsi Sinabung terkendala izin pemilik lahan.

Hal ini  terungkap saat pertemuan perwakilan Kementerian PU Dirjen Sumber Daya Air Satuan Kerja Balai Wilayah Sungai Sumatera II Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Air II, dengan Pemkab Karo, Selasa (14/4/2015), di ruang rapat Bupati Karo.

Dalam paparannya, PPK OP SDA II, Arron Lumban Batu kepada Bupati Karo, Terkelin Brahmana, mengatakan, kendala pembangunan kawasan terdampak bencana di lapangan, khususnya di kawasan Kecamatan Tiganderket, yakni tidak diberikannya izin lewat untuk memobilisasi material pembangunan.

Selain itu tempat buangan deposit material  dari dalam sungai bawaan lahar dingin juga tidak tersedia.

“Sungai yang mau digali karena tumpukan material tidak ada buangan. Sisi kiri kanan sungai tidak cukup untk menampung. Sementara  selebihnya endapan deposit yang terbawa arus lahar dingin, tidak diberikan warga di beberapa titik dibuang ke tanah milik  mereka,  di kawasan  aliran Sungai Borus,” ungkap Arron Lumban Batu kepada Terkelin.

Untuk itu, Arron Lumban Batu mengharapkan Pemkab Karo agar bekerjasama dengan pihaknya untuk menyelesaikan  kendala tersebut.

Sehingga pelaksanaan darurat Sinabung I yang dimulai sejak 1 April 2014 lalu, tetap berkesinambungan pada tahap dua (tahun ini).

Sehubungan kurang singkronnya pemahaman antar penduduk dengan program sekiranya bisa disosialisasikan secara bersama.

“Memang ada warga yang datang dan protes, mengapa tidak seluruh  pinggiran sungai diberonjong. Lalu kami jelaskan, kalau kami hanya menangani standar penanganan bencana. Dengan kata lain, hanya pembukaan (normalisasi) dalam situasi bencana. Bukan penyelesaian secara keseluruhan, karena anggaran yang dikucurkan juga terbatas,” kata Arron Lumban Batu.

Dipaparkannya, selama ini pihaknya telah melakukan normalisasi pembukaan alur disejumlah titik hulu dan hilir sungai Lau Borus (jalur aliran lahar dingin), jembatan darurat  di Desa Selandi (jalur evakuasi), dan sejumlah pengerukan dan beronjong di kawasan Jembatan Titi Kambing, Lau Kawar, Desa Jandi Meriah, Guru Kinayan, Batu Karang, dan Gamber/Kutambaru.

Sementara Camat Tiganderket Hendrik Tarigan menyatakan ada kesalahpahaman antara pelaksana dengan masyarakat.

Ketika sosialisasi, pihak perwakilan OP SDA II  menyatakan akan melakukan perbaikan secara menyeluruh. Sehingga warga pemilik lahan segera memberikan persetujuan dan membubuhkan tandatangan.

Namun pada kenyataan dalam pelaksanaaan, tidak sesuai kesepakatan. Oleh karena itulah, sejumlah warga keberatan jika lahannya terkena imbas pengerjaan proyek normalisasi pasca bencana.

Untuk menaggulangi permasalahan yang dihadapi, Bupati Karo Terkelin Brahmana meminta pihak OP SDA II dan Camat Tiganderket untuk kembali melakukan sosialisasi kepada masyarakat, agar program dapat terlaksana.

Sementara itu, pasca hujan deras yang mengguyur puncak Sinabung sekira pukul 15.30 WIB menyebabkan terjadinya terjangan aliran lahar dingin di sejumlah desa di Kecamatan Tiganderket.

Akibatnya, sebuah mobil Suzuki APV BK 1969 GT milik warga sempat hanyut namun berhasil diselamatkan. Namun mesin mobil rusak dan tidak bisa lagi menyala.

Selain itu, salah satu akses jembatan penghubung di Desa Perbaji, Kecamatan Tiganderket amblas pada bagian kanan. Untuk sementara hanya kendaraan roda dua yang dapat melintas menuju desa tersebut.

Sementara di Desa Selandi, sumber air bersih yang digunakan masyarakat setempat tidak dapat lagi dikonsumsi karena telah bercampur lumpur.

Reportase WORLD CONGRESS ON DISASTER AND EMERGENCY MEDICINE

19th WORLD CONGRESS ON DISASTER AND EMERGENCY MEDICINE

21-24 April 2015, cape town, south africa


Perhelatan akbar asosiasi penggiat bencana sektor kesehatan dunia atau World Association on Disaster Emergency and Medicine (WADEM), World Congress on Disaster Emergency Medicine (WCDEM) tahun 2015 ini diselenggarakan di Cape Town, Afrika Selatan. Kongres  dua tahunan ini telah dilaksanakan ke 19 kalinya terhitung sejak tahun 1976. Kongres yang dihadiri lebih dari 1000 peserta dari 40 negara ini mengangkat tema mengenai Creating Capacity, Building Resilience. “Bencana bisa menimpa kapan dan dimana saja tetapi sering kali masyarakat belum siap untuk menghadapinya”, Ungkap Lee A Wallis, Local Organising Committee WCDEM 2015 mengenai tema yang diangkat tahun ini.

Bagi penggiat bencana di sektor kesehatan, WCDEM adalah kongres yang ditunggu-tunggu. Selama 4 hari (21-24 April 2015) mendatang akan banyak pelajaran dan penyelesaian praktis untuk penanggulangan bencana sektor kesehatan yang dihasilkan dari kongres ini. Pembaca website bencana kesehatan, silakan simak perkembangan mengenai kongres ini pada website berikut, Klik Disini http://wcdem2015.org/ dan pembaca sekalian dapat menyimak reportase perjalanan dan kegiatan kami di kongres ini sejak minggu depan (22 April 2015).