Pascagempa, Pasaman Barat Akhiri Status Tanggap Darurat Bencana

Merdeka.com – Kabupaten Pasaman Barat, Provinsi Sumatra Barat mengakhiri status tanggap darurat pascabencana gempa Magnitudo 6,1. Pelaksana tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari pemerintah Kabupaten Pasaman Barat menetapkan status pemulihan selama 90 hari terhitung mulai 11 Maret hingga 8 Juni 2022.

“Pemerintah daerah kini menetapkan status tanggap darurat ke pemulihan. Sebanyak 1.240 rumah terverifikasi rusak berat akibat gempa beberapa waktu lalu,” ujar Abdul dalam keterangan tertulis di Jakarta dilansir Antara, Jumat (11/3).

Status tersebut ditetapkan oleh Bupati Pasaman Barat melalui keputusan nomor 188.45/170/BUP-PASBAR/2022 tentang Penetapan Status Transisi Darurat Pemulihan Penanganan Bencana Alam Gempa Bumi di Kabupaten Pasaman Barat.

Abdul menjelaskan pada periode transisi ini, sistem komando penanganan darurat tetap melaksanakan fungsinya kepada warga terdampak, seperti pemenuhan kebutuhan dasar, pengendalian terhadap sumber ancaman bencana atau pun perlindungan kelompok rentan.

Di samping itu, upaya lain akan dilakukan oleh pemerintah daerah untuk melakukan perbaikan fungsi prasarana dan sarana vital, perbaikan awal sosial-ekonomi masyarakat korban dan pengungsi. Pemerintah setempat juga tetap melakukan kaji cepat perkembangan situasi dan penanganan darurat bencana.

Pemerintah daerah telah memulai untuk membangun hunian sementara (huntara) sebanyak 25 unit. Huntara tersebut berada di Jorong Tanjung Beruang, Nagari Kajai, Kecamatan Talamau, yang pembangunannya didukung oleh Palang Merah Indonesia (PMI) wilayah Pasaman Barat dan TNI.

Sebelumnya Pasaman Barat menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari, mulai dari 25 Februari 2022 hingga berakhir pada 10 Maret 2022.

“Sementara itu, berdasarkan perkembangan data terkini di Pasaman Barat pada Jumat pukul 06.30 WIB, tercatat total rumah rusak mencapai 2.993 unit. Rincian kerusakan sebagai berikut, rumah rusak berat (RB) 1.240 unit, rusak sedang (RS) 703 dan rusak ringan (RR) 1.050,” ujar Abdul.

Kerusakan lain yaitu pada fasilitas pendidikan dengan rincian RB 19 unit, RS 14 dan RR 42. Pada fasilitas kesehatan terdampak tercatat RB 6 unit, RS 5 dan RR 7, kemudian pada fasilitas tempat ibadah RB 22 unit, RS 7 dan RR 11, serta fasilitas kantor pemerintah tercatat RS 9 unit dan RR 29.

Pada masa transisi masih memberikan pelayanan kepada warga terdampak karena sebanyak 3.979 orang masih mengungsi. Dinas kesehatan setempat secara rutin melakukan pengecekan kesehatan kepada mereka yang masih berada di pos pengungsian, seperti di Nagari Kajai.

BNPB terus memberikan pendampingan kepada pemerintah daerah pada masa transisi ini, seperti sinkronisasi data kerusakan rumah dan fasilitas terdampak lainnya. [ray]

Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt

gde

gdePria kelahiran Jakarta, 28 Juli saat ini menjadi Peneliti dan Konsultan Manajemen Kesehatan tingkat Madya (KMK-7) di Divisi Manajemen Bencana Kesehatan, PKMK FK-KMK UGM, beliau adalah Apoteker alumni Fakultas Farmasi UGM angkatan 2000 dan juga mendapatkan gelar Magister Epidemiologi dari FKM UI angkatan 2013 dengan mengambil fokus epidemiologi penyakit tidak menular-kecelakaan lalulintas dan kegawatdaruratan sebagai topik thesis. Mengawali karier sebagai penyintas gempa Jogja 2006, bekerja sebagai konsultan untuk pemusnahan obat dan alat kesehatan bantuan gempa untuk Apoteker Lintas Batas (Pharmaciens Sans Frontier) paska gempa dan melanjutkan sebagai staff logistik WHO Yogyakarta Field Office, kemudian terakhir menjadi staff bidang kegawatdaruratan dan bencana di WHO Indonesia sampai Maret 2020. Beliau juga sebagai fasilitator International Training Consortium on Disaster Risk Reduction semenjak 2007 dan telah mendapatkan pelatihan sebagai master trainer dari National Institute of Public Health di Saitama Jepang pada 2009. Pengalaman penanggulangan bencana yang pernah dirasakan antara lain saat gempa Padang, Sumatera Barat 2009, Tsunami Mentawai, Gempa Serui, Letusan gunung Sinabung Sumatera Utara, letusan gunung Merapi Yogyakarta, Gempa Pidie Jaya, Gempa Lombok, Tsunami gempa dan likuifaksi Pasigala sebagai koordinator klaster kesehatan mendampingi Kemenkes dan pemda setempat dan penanganan gempa Nepal sebagai logistik.

Rumah Sakit Waspada Puncak Gelombang-3 COVID-19 varian Omicron

Pada Januari 2022 terjadi kenaikan kasus COVID-19 varian Omicron di Indonesia, diperkirakan puncaknya akan terjadi pada akhir Februari 2022. Sejauh ini, para ahli melaporkan pasien Omicron hanya mengalami gejala yang cukup ringan dan mayoritas sembuh tanpa perawatan di rumah sakit. Meski demikian, masih ada risiko bagi mereka yang belum divaksinasi. Hal ini mengkhawatirkan bila cakupan vaksinasi di daerah yang masih rendah, sementara Omicron menyebar sangat cepat di luar Jawa. rumah sakit utama di Jakarta hampir penuh dengan pasien COVID-19 dengan gejala sedang, berat hingga kritis. Untuk menghindari RS kolaps, dianjurkan pasien yang bergejala ringan untuk isolasi mandiri.  Menteri Kesehatan Indonesia, Budi Gunadi mengestimasi jumlah kasus harian periode Omicron bisa lebih tinggi hingga enam kali lipat dari varian Delta. Kebijakan pertemuan tatap muka di sekolah perlu dikaji ulang, karena di beberapa wilayah diketahui sekolah menjadi klaster baru. Seperti yang dilansir pada artikel berikut, meskipun kenaikan kasus terjadi pemerintah mengambil kebijakan mempertahankan sekolah tatap muka, termasuk mengurangi jumlah hari karantina bagi pelaku perjalanan luar negeri dari tujuh hari menjadi lima hari. Pemerintah menguatkan kembali supaya masyarakat jangan lengah dan tetap mengikuti protocol kesehatan.

Selengkapnya

Bimbingan Teknis Hospital Disaster Plan

bimtek hdp bencana2

 {tab Reportase}

{slider 12 April 2022}

bimtek hdp bencana2

Pelatihan hari kedua secara daring dilaksanakan pada Selasa, 12 April 2022 yang dihadiri oleh 68 peserta. Acara dibuka dan dipandu oleh Madelina Ariani, MPH selaku moderator. Kegiatan hari ini terdiri atas review tugas dari pertemuan sebelumnya, presentasi 4 materi, dan pemaparan tugas hari kedua. Pada sesi review tugas hari pertama, Madelina memeriksa tugas mengenai pengorganisasian dan Hospital Safety Index. Secara umum pengorganisasian HDP menggunakan pendekatan MIMMS dan HICS, keduanya bisa digunakan dengan tetap memperhatikan fungsi pengorganisasian dan prinsipnya yakni ada tugas dan fungsi komando, perencanaan, operasional, logistik, serta keuangan dan administrasi. Tidak hanya itu, tetapi juga memastikan bahwa tugas telah dibagi habis termasuk siapa melakukan apa, alur komunikasinya bagaimana, siapa melapor ke siapa, dan ada perencanaan. Sedangkan untuk penugasan HVA dan HSI bahwa secara umum peserta sudah sangat familiar dengan tools HVA dan HSI. Rumah sakit perlu memberikan kesimpulan dari analisis risiko yang sudah dilakukan dalam bentuk deskripsi mengenai jenis bencana apa yang dijadikan prioritas dan dikembangkan menjadi skenario untuk dilanjutkan menjadi kasus simulasi ataupun pengembangan SOP.

Materi pertama pada hari kedua dengan topik “Manajemen Pengendalian Penyakit Infeksi di Situasi Darurat” disampaikan oleh dr. R. Wahyu Kartiko Tomo, SpB. Awalnya, dr. Tomo, SpB menyampaikan adanya penyakit yang dapat menyebabkan kedaruratan yang mengancam kesehatan masyarakat secara global, seperti Mers-CoV dan Ebola, dan ada penyakit – penyakit lain yang membebani kesehatan Indonesia seperti Tuberkulosis, Pneumonia, Hepatitis B, Tifoid, Rabies, Leptospirosis, dan lain – lain. Penyebab morbiditas dan mortalitas terbesar dari bencana alam adalah penyakit gastrointestinal dan respirasi. Kedua penyakit itu membutuhkan perhatian yang khusus dalam penanganannya. Wahyu menyampaikan Trias Epidemiologis Penyakit Infeksi, yang terdiri atas agen (patogen), lingkungan, inang (host). Ketiganya memiliki corak karakteristik dan cara intervensi tersendiri. Dengan memecah rantai infeksi melalui cara intervensi masing-masing, harapannya potensi – potensi penyakit yang ada bisa dicegah. Berbagai penyakit dapat muncul pada saat bencana, secara umum dibagi menjadi infeksi dan non infeksi.

Materi selanjutnya berjudul “Fasilitas dan SOP saat Bencana” dipaparkan oleh Happy R. Pangaribuan, MPH. Fasilitas saat bencana adalah perubahan fungsi fasilitas sehari – hari menjadi fasilitas yang menjadi penyokong saat bencana dan hanya digunakan saat terjadi bencana. Contohnya, adanya ruang komando, ruang media, ruang informasi, ruang dekontaminasi, triase, logistik, ruang perawatan pasien dan lain – lain. Fasilitas penunjang juga diperlukan seperti ATK, alat komunikasi, peta, makanan, minuman, alat pelindung diri dan sebagainya. Tim harus memastikan fasilitas tersebut tersedia agar penanganan bencana dapat berjalan secara optimal. SOP dalam HDP untuk memenuhi sejumlah standar yang dibutuhkan dalam penanggulangan bencana yang tidak terdapat pada kegiatan sehari – hari. Isi SOP tersebut oproses penyelenggaraan kegiatan, bagaimana dan kapan harus dilakukan, dimana, dan oleh siapa dilakukan. SOP tersebut antara lain alur komando, sistem komunikasi, triase, penerimaan donasi, pengaturan relawan, dan lain – lain. SOP ini disesuaikan dengan kondisi tiap rumah sakit tergantung kebutuhan. Menentukan kebutuhan SOP berdasarkan analisis risiko bencana di rumah sakit, berdasarkan pengalaman, evaluasi dokumen HDP, dan referensi.

Materi ketiga berisi Data dan Informasi Saat Bencana diberikan oleh dr. Bella Donna, M. Kes, yang menyampaikan bahwa data dan informasi dibutuhkan pada fase pra bencana dan saat terjadi bencana karena data diperlukan menjalankan fungsi rumah sakit dan membuat laporan ke pihak terkait. Seorang surveilans dibutuhkan di rumah sakit yang bertugas untuk melakukan pengamatan secara teratur dan terus menerus yang nantinya data akan diseminasikan kepada para stakeholder. Komponen surveilans yaitu pengumpulan data/informasi, pengolahan data, analisis dan interpretasi data, dan penyebarluasan informasi. Surveilans saat bencana tidak ada bedanya dengan saat tidak terjadi bencana, hanya harus lebih cepat, sederhana, berjejaring, dan memiliki prioritas. Peran dan fungsi data dalam manajemen bencana adalah sebagai dasar dalam mengambil keputusan/kebijakan, early warning, dan dokumentasi kegiatan/ laporan. Dibutuhkan SDM, kompetensi, pengetahuan, dan update untuk pengelolaan data dan informasi. Akhirnya, sistem administrasi informasi di rumah sakit untuk membantu aktivitas yang ada di rumah sakit.

Materi terakhir berjudul “Pengembangan Skenario dan Peta Respon” oleh Apt. Gde Yulian Yogadhita, M. Epid. Peta Risiko adalah gambaran tingkat risiko bencana suatu daerah, disusun sebelum terjadi bencana. Sedangkan peta respon dibuat saat terjadi bencana berisi bahaya, kapasitas, alur respon, dan jalur evakuasi. Tujuan peta respon ini untuk mengoptimalkan bantuan yang masuk dari luar daerah terdampak bencana. Peta respon diletakkan di tempat yang mudah dilihat, selalu di – update berdasarkan hasil laporan perkembangan. Skenario disusun berdasarkan kesepakatan bersama yang menggambarkan situasi yang realistis, logis, serta dapat dipertanggungjawabkan, bertujukan untuk mendeskripsikan satu ancaman bahaya yang akan dibuatkan rencana kontinjesi sehingga para penyusun memiliki persepsi yang sama akan dampak yang mungkin terjadi. Komponen penyusunan skenario: kronologi kejadian, penentuan tingkat risiko, waktu terjadinya, lokasi kejadian, durasi kejadian, asumsi dampak, kondisi yang memperberat/meringankan dampak. Di akhir sesi, kegiatan ditutup dengan tanya jawab dengan para peserta.

Reporter: dr. Satrio Pamungkas (Divisi Manajemen Bencana Kesehatan)

{slider 5 April 2022}

 bimtek hdp bencana 1

Pelatihan dasar penyusunan rencana penanganan bencana di rumah sakit (Hospital Disaster Plan/HDP) dilakukan secara online pada minggu pertama dan kedua bulan ini (5 dan 12 April 2022). Hari pertama (5/4/2022) pelatihan dihadiri 101 peserta yang tergabung dalam Zoom. Agenda hari pertama antara lain pemaparan 4 materi dan terdapat beberapa penugasan. Acara ini bertujuan agar peserta memahami penyusunan HDP yang sesuai dengan karakteristik tiap rumah sakit agar nantinya rumah sakit siap untuk menghadapi baik bencana alam maupun non alam.

Pelatihan dipandu oleh Happy R. Pangaribuan, MPH, selaku moderator, dan dibuka oleh dr. Hendro Wartatmo, SpB.KBD selaku konsultan Divisi Manajemen Bencana Kesehatan. Hendro meninggalkan pesan bahwa pembuatan HDP bertujuan untuk persiapan RS dalam menghadapi bencana bukan hanya untuk akreditasi. Pasalnya jika HDP disusun sesuai dengan pelatihan ini, maka dapat digunakan juga sebagai persyaratan akreditasi. Hasil dari pelatihan ini adalah Hospital Disaster Plan yang operasional sesuai kondisi di tempat masing – masing.

Materi pertama disampaikan oleh dr. Bella Donna, M. Kes tentang HDP & Akreditasi SNARS 1.1. Bella Donna menyampaikan bahwa Hospital Disaster Plan (HDP) harus bisa operasional saat terjadi bencana, tidak hanya sekadar dokumen. Dari pengalaman pandemi dan bencana yang dialami selama ini, rumah sakit harus bisa memperkuat kesiapsiagaan terhadap potensi bencana alam dan pengendalian penyakit.

Posisi HDP dalam Akreditasi SNARS 1.1 yaitu Standar HDP terdapat pada Standar MFK 6. Elemen penilaian MFK 6 terdiri atas 4 poin: 1. RS memiliki regulasi manajemen bencana, 2. RS mengidentifikasi bencana internal dan eksternal, 3. RS telah melakukan self assessment kesiapan menghadapi bencana, 4. IGD telah mempunyai ruang dekontaminasi. Surge capacity adalah kemampuan sistem pelayanan kesehatan untuk secara cepat menambah kapasitas melebihi dari kondisi pelayanan normal untuk memenuhi kebutuhan pelayanan medis yang meningkat. Terdiri dari 4 komponen: struktur (fasilitas), staf (sumber daya manusia), sistem (manajemen, proses dan kebijakan), stuff (peralatan dan obat).

Materi kedua dengan topik Sistem Komando dan Pengorganisasian disampaikan oleh dr. Yudha Mathan Sakti, SpOT(K) – Spine. Yudha menitikberatkan masalah utama dalam penanganan bencana adalah Koordinasi. Persiapan dan koordinasi merupakan hal yang sangat penting karena bencana dapat “diprediksi” namun bisa datang kapan saja. Dengan HDP, rumah sakit bisa mempersiapkan penanganan bencana dengan baik, memperpendek masa krisis, dan memberikan respon optimal.

Konsep pengorganisasian harus membuat organisasi yang sederhana dan jelas. Lalu, saat terjadi bencana harus ada Incident Command System (ICS) dan membawahi 4 bidang dengan masing – masing ada penanggung jawabnya, antara lain: operasional, perencanaan, logistik, administrasi/keuangan. Yudha memberikan pesan jangan memberikan satu posisi untuk satu orang saja karena bencana dapat menimpa siapa saja, sediakan backup plan dan harus bisa interchangeable. Masing – masing personil harus memiliki kartu tugas (Job Action Sheets) yang berisi garis kewenangan, peran dan tanggung jawab personel. Di lokasi bencana harus memiliki command center untuk koordinasi karena kondisi bisa dinamis, liquid, dan volatile.

Materi ketiga dengan topik Logistik Medis dan Manajemen Relawan dipaparkan oleh apt. Gde Yulian Yogadhita, M. Epid. Bidang Logistik merupakan salah satu bidang yang penting karena berfungsi untuk menyediakan semua kebutuhan dukungan insiden dan mengelola SDM. Logistik bertanggung jawab untuk menyediakan: fasilitas, transportasi, komunikasi, persediaan, pemeliharaan dan pengisian bahan bakar peralatan, layanan makanan, dan layanan medis.

Pada proses perencanaan diperlukan sense of crisis agar dapat menerjemahkan data yang diperlukan untuk perhitungan kebutuhan. Potensi bantuan bisa dari pemanfaatan filantropis, donasi, lingkungan sekitar RS, pemerintah, dan sumber lain. Penyimpanan logistik perlu ada beberapa hal yang dipertimbangkan lalu yang penting adalah pencatatan jenis bantuan, khususnya Berita Acara Serah Terima (BAST). Tugas logistik juga memahami platform koordinasi dan kolaborasi sumber daya, memahami manajemen relawan, pengadaan logistik, penyimpanan dan pencatatan logistik

Materi terakhir di hari pertama dengan topik Analisis Risiko dan Hospital Safety Index oleh Madelina Ariani, MPH. SNARS mewajibkan rumah sakit melakukan self-assessment kesiapan menghadapi bencana dengan Hospital Safety Index (HIS) dari WHO. Terdapat 40 jenis ancaman bencana yang perlu dinilai antara lain bencana meterologi, hidrologi, iklim, teknologi, biologi, sosial, dan geoteknikal.

Analisis risiko perlu dilakukan untuk mengidentifikasi potensi ancaman sehingga dapat membuat kesiapsiagaan/perencanaan yang tepat. Selanjutnya dapat mengetahui potensi ancaman bencana yang ada di wilayah tersebut dan menentukan prioritas dalam penanggulanan bencana dan krisis kesehatan

Instrumen – instrumen analisis risiko antara lain: cara sederhana, Hazard Vulnerable Assessment (HVA), Hospital Safety Index (HSI), Hazard Risk Assessment (HRA), dan lain – lain. Selanjutnya diberikan prioritas dalam penanganan bencana. Prioritas utama adalah bencana dengan risiko tinggi terhadap terjadinya risiko krisis kesehatan.

Reporter: dr Satrio Pamungkas (Divisi Manajemen Bencana Kesehatan, PKMK)

{/sliders}

{tab KAK}

April 2022


Latar Belakang

Rumah sakit yang belum memiliki Hospital Disaster Plan (HDP) akan kesulitan untuk mengoperasionalkan manajemen penanganan bencana mulai dari pembagian tugas yang jelas, alur komunikasi dan rencana alternatif. Demikian juga akan terjadi bagi rumah sakit yang sudah memiliki HDP namun belum operasional. Rumah sakit harus memahami bahwa HDP adalah sebagai salah satu bentuk kesiapan rumah sakit untuk menghadapi bencana alam dan bencana non alam. Seperti situasi sekarang dunia telah digemparkan dengan terjadinya bencana non alam pandemik COVID-19. Masalah yang dihadapi rumah sakit akan semakin kompleks karena rumah sakit harus memikirkan bagaimana memutuskan mata rantai penularan di rumah sakit dan bagaimana untuk menghadapi lonjakan pasien. Pada dasarnya konsep penanganan pandemi ini sama dengan penanganan bencana, perbedaannya terletak pada sifat agen kausatif virus.

Dengan demikian sudah saatnya rumah sakit memahami bahwa HDP ini sangat penting dipersiapkan sejak sekarang, HDP yang operasional dan yang mencakup semua rencana kebutuhan dan penanganan bencana alam dan non alam. HDP yang disusun dalam bentuk dokumen berisi potensi bencana yang dihadapi rumah sakit, aktivasi sistem komando, prosedur pengananan bencana, fasilitas saat bencana dan alur komunikasi. HDP ini merupakan dokumen yang bersifat hidup (update) dan menjadi satu sistem untuk memenuhi kebutuhan menuju Safe Hospital yang dapat digunakan dalam keadaan krisis kesehatan sehari-hari di Rumah Sakit.

Materi

  • Akreditasi (SNARS) dan Strategi Penyiapan HDP di RS
  • Sistem Komando dan Pengorganisasian – Penugasan
  • Pengendalian Penyakit Infeksi
  • Analisis Risiko – Penugasan
  • Hospital Safety Indeks
  • Logistik Medik dan Fasilitas saat Bencana – Penugasan
  • Data dan Informasi saat Bencana
  • SOP – Penugasan
  • Pengembangan Skenario
  • Menyusun HDP, Form dan Peta Respon

PAKET PELATIHAN

pelatihan dasar pelatihan pendampingan pelatihan simulasi
agendaSelasa, 5 April 2022 &
Selasa, 12 April 2022
agendaMei s/d Juli 2022 agendaRabu, 27 Juli 2022 s/d
Kamis 28 Juli 2022

report iconModul Pelatihan

report iconModul Pelatihan
Layout Dokumen HDP

report iconSkenario Simulasi

sertifikatSertifikat

sertifikatSertifikat

sertifikatSertifikat

onlineOnline

sertifikatOnline

sertifikatOnline

hargaRp. 1.500.000/insitusi
(*maksimal 5 orang)

hargaRp. 5.000.000/insitusi
(*maksimal 5 orang)

hargaRp. 3.000.000/insitusi
(*maksimal 5 orang)

 

PAKET KHUSUS

simulasi hdp simulasi hdp lengkap
agenda

2 Hari
(*waktu sesuai permintaan klien)

agenda3 bulan
(*waktu sesuai permintaan klien)

report iconModul Pelatihan

report iconModul Pelatihan & Layout Dokumen HDP

sertifikatSertifikat

sertifikatSertifikat

onlineOnline

sertifikatOnline

hargaRp – 
(Hubungi Contact Person)

hargaRp – 
(Hubungi Contact Person)

 

 

Narasumber

bella

dr Bella Donna, M.Kes

hendro

dr. Hendro Wartatmo, SpB.KBD

sulanto2

dr. H. Sulanto Saleh-Danu, SpFK

kartiko

dr. Wahyu Kartiko Tomo, Sp.B

madelina

Madelina Ariani, SKM, MPH

yuda

dr. Yudha Mathan Sakti, Sp.OT

happy 2022

Happy R. Pangaribuan SKM, MPH

 

gdeApt. Gde Yulian Yogadhita, M.Epid.

 

 

Informasi Selengkapnya Hubungi

Pendaftaran
Maria Lelyana/ 0821 3411 6190/ [email protected]

Konten
Happy R Pangaribuan/ 085325546433 /  [email protected]

 

 

{tab Pelatihan Dasar}

agenda Selasa, 5 April 2022 &  Selasa, 12 April 2022

MATERI & DOKUMENTASI SELENGKAPNYA >>

{/tabs}

 

Waspada! Cuaca Besok dan Lusa Diprediksi Ekstrem, Potensi Bencana Tinggi

jpnn.com, KUPANG – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan cuaca ekstrim di wilayah Nusa Tenggara Timur selama dua hari ke depan, Senin (21/2).

Pasalnya, saat ini wilayah NTT berada pada periode hujan dengan suhu muka laut yang cukup hangat disertai adanya gelombang equatorial Rossby serta sirkulasi siklonik di Laut Arafuru. 

Kepala Stasiun Meteorologi Klas II El Tari Kupang, Agung Sudiono Abadi mengatakan kondisi cuaca tersebut menyebabkan bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, banjir rob di wilayah pesisir, tanah longsor, pohon tumbang, jalan licin, dan sambaran petir.

Menurutnya, hujan ringan hingga lebat yang disertai petir dan angin kencang, pada 21 hingga 23 Februari 2022 akan terjadi di wilayah NTT.

“Kondisi ini meningkatkan pertumbuhan awan hujan,” kata Agung.

BMKG membeberkan wilayah yang berpotensi hujan ringan hingga lebat per 21 Februari 2022 terjadi di Kabupaten Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, Sikka, Flores Timur, Lembata, Alor, Belu, Malaka, Timor Tengah Utara (TTU), Timor Tengah Selatan (TTS), Kabupaten Kupang, Kota Kupang, Rote, Sabu, Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat, dan Sumba Barat Daya.

Kemudian, pada 22 Februari 2022, hujan ringan hingga lebat terjadi di Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, Sikka, Flores Timur, Lembata, Alor, Belu, Malaka, TTU, TTS, Kabupaten Kupang, Kota Kupang, Rote, Sabu Raijua, Sumba Tengah, Sumba Barat, Sumba Barat Daya.

“Wilayah yang berpotensi angin kencang Sikka, Flores Timur, Lembata, Alor, Belu dan Malaka,” tutur Agung.

BNPB Catat 638 Bencana Alam Sejak Awal Tahun 2022

Merdeka.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 638 bencana alam terjadi di berbagai provinsi di Indonesia dari Januari hingga 20 Februari 2022.

Berdasarkan data BNPB yang diterima di Jakarta, dari ratusan bencana alam tersebut, banjir, cuaca ekstrem dan tanah longsor merupakan kejadian yang paling dominan. Diansir Antara, Senin (21/2).

taboola mid article

Lebih rinci, bencana banjir terjadi sebanyak 249 kali, cuaca ekstrem 231 kali, tanah longsor 130 kali, kebakaran hutan dan lahan 20 kali, gelombang pasang dan abrasi lima kali serta gempa bumi tiga kali.

Jika dilihat dari peta sebaran kejadian, pada umumnya bencana alam paling banyak terjadi di Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.

Akibat kejadian tersebut, BNPB mendata sebanyak 23 orang meninggal dunia, 96 luka-luka dan 982.946 orang menderita dan terpaksa mengungsi. Tidak hanya itu, bencana alam tersebut juga merusak 10,004 rumah warga dan berbagai fasilitas pemerintah maupun umum.

Sesuai tingkat kerusakan, sebanyak 1.074 rumah rusak berat, 1.628 rumah rusak sedang dan 7.302 rumah rusak ringan. Bencana alam tersebut juga mengakibatkan kerusakan terhadap 109 unit fasilitas pendidikan, 78 unit rumah ibadah dan 33 unit fasilitas kesehatan.

Di samping itu, 37 jembatan dan 14 gedung perkantoran yang tersebar di berbagai daerah juga rusak akibat bencana alam tersebut. [ray]

Kapolres Karanganyar Pastikan Kesiapan Personel Antisipasi Bencana

Karanganyar, Jatengnews.id – Kapolres Karanganyar AKBP Danang Kuswoyo memastikan kesiapan personel Sat Samapta saat menghadapi bencana alam.

Kapolres juga memastikan seluruh peralatan SAR yang dimiliki dapat berfungsi dengan baik.

Hal tersebut dikatakan Kapolres Karanganyar AKBP Danang Kuswoyo usai melakukan pemeriksaan anggota dan peralatan SAR yang dimiliki oleh Polres Karanganyar di Lapangan Wirasatya, Senin (21/2/2022).

Teknologi Informasi dalam Pengurangan Risiko Bencana

Ranah penelitian teknologi informasi dalam pengurangan risiko bencana relatif baru meskipun isu kebencanaan telah diteliti sejak lama. Tiga isu khusus sebelumnya dari Information Systems Frontiers telah melihat aspek ini. Isu perintis diedit oleh Janssen et al. (2010) melihat ke dalam manajemen bencana multi lembaga dan menyarankan perlunya menghubungkan praktik dan teori dengan menggunakan pendekatan yang berpusat pada manusia. Mengenai teknologi informasi dalam pengurangan risiko bencana untuk bencana alam, para peneliti dalam ilmu kebencanaan telah melihat mekanisme dan risiko lingkungan (misalnya Imamura et al., 2006; Bernard dan Robinson, 2009). Mereka telah menggunakan teknologi informasi yang tersedia untuk pekerjaan mereka. Di sisi lain, peneliti dari TI telah terlibat dalam manajemen bencana sejak 1970-an. Turoff (2002) dan Van de Walle dkk (2009) menyajikan sifat interdisipliner dari domain penelitian sistem informasi untuk manajemen darurat. Mereka mendirikan sebuah komunitas, ISCRAM (Information System for Crisis Response and Management/ Sistem Informasi untuk Tanggap dan Manajemen Krisis) untuk bidang penelitian ini pada 2004 dan telah mengadakan konferensi tahunan dengan para praktisi. Dengan mengambil perspektif yang sama, Federasi Internasional untuk Pemrosesan Informasi (the International Federation for Information Processing/ IFIP) telah membentuk komite domain dan kelompok kerja tentang TI dalam Pengurangan Risiko Bencana (IT in Disaster Risk Reduction/ ITDRR) untuk mempromosikan bidang penelitian dan pengembangan yang menarik ini. IFIP telah mengadakan lokakarya dan konferensi tahunan sejak 2016. Dalam edisi khusus ini, beberapa makalah berasal dari konferensi ini.  Artikel ini dipublikasikan pada 2021 di jurnal Springer Link.

Selengkapnya

Developing a Home-Based Primary Care (HBPC) Disaster Preparedness Toolkit

Disaster preparedness toolkit merupakan perangkat untuk identifikasi kesiapan respon perawatan kesehatan di rumah dalam program kesiapsiagaan bencana. Toolkit ini didasarkan pada praktik terbaik yang diidentifikasi dari lapangan. Toolkit membantu mendukung program kesiapsiagaan menghadapi bencana dan mempertimbangkan pendekatan semua bahaya, terlepas dari keadaan darurat atau bencana. Struktur dasar perangkat ini adalah tabel, yang mencantumkan setiap standar dan elemen yang berlaku dari persyaratan Komisi Bersama. Disejajarkan dengan setiap elemen dokumen sumber yang disarankan untuk diidentifikasi. Dokumen sumber utama termasuk The National Association of Home Healthcare and Hospice’s Emergency Preparedness Packet for Home Health Agencies, 12 the Agency for Healthcare Research and Quality’s Home Health Patient Assessment Tools. Dokumen sumber yang ekstensif ini memberikan daftar periksa, saran, dan contoh nyata alat yang akan berguna untuk program HBPC.

Selengkapnya

Prakiraan Tsunami Probabilistik Untuk Peringatan Dini

Pusat – pusat peringatan tsunami menghadapi tugas yang menantang untuk meramalkan dengan cepat ancaman tsunami segera setelah gempa bumi, ketika ada ketidakpastian yang tinggi karena kekurangan data. Penulis memperkenalkan Probabilistic Tsunami Forecasting (PTF) untuk peringatan dini tsunami. PTF secara eksplisit menangani ketidakpastian data dan perkiraan, memungkinkan definisi tingkat peringatan sesuai dengan tingkat konservatisme yang telah ditentukan sebelumnya, yang terhubung ke keseimbangan rata – rata alarm yang terlewat vs salah. Prakiraan dampak dan rekomendasi yang dihasilkan menjadi semakin tidak pasti seiring dengan tersedianya data baru. Di sini penulis melaporkan implementasi untuk peringatan dini sumber dekat dan mengujinya secara sistematis dengan memundurkan tsunami M8.8 Maule (Chile) 2010 yang hebat dan tsunami M6.8 Zemmouri-Boumerdes (Aljazair) 2003 yang dipelajari dengan baik, serta semua Mediterania gempa bumi yang memicu pesan peringatan di Pusat Peringatan Tsunami Italia sejak didirikan pada 2015, menunjukkan akurasi prakiraan pada berbagai magnitudo dan jenis gempa. Artikel ini dipublikasikan pada 2021 di jurnal Nature Communications.

Selengkapnya