WEBINAR SERIES KURIKULUM: DISASTER NURSING

WEBINAR SERIES APRIL 2017

 WEBINAR SERIES KURIKULUM: DISASTER NURSING

Kamis, 27 April 2017 Pukul 12.00 – 14.00 WIB

OLEH DIVISI MANAJEMEN BENCANA
PUSAT KEBIJAKAN DAN MANAJEMEN KESEHATAN (PKMK) FAKULTAS KEDOKTERAN UGM


{tab title=”TOR Webinar” class=”green solid”}

PENGANTAR

Setelah menyelesaikan webinar series kebijakan Januari hingga Maret lalu, Kami kembali menyelenggarakan webinar series mengenai kurikulum.

Sangat menarik untuk membahas perkembangan kurikulum bencana sektor kesehatan di Indonesia. Banyak profesi kesehatan yang terlibat di dalamnya, dokter, perawat, gizi, kesehatan masyarakat, kebidanan dan lain sebagainya. Lantas bagaimana perkembangan kurikulum tersebut di perguruan tinggi kesehatan atau fakultas kesehatan di Indonesia?

Untuk pertama kali, kami akan mengangkat tentang disaster nursing atau keperawatan bencana. Apa itu disaster nursing? Apa yang menjadi core competencies-nya? Bagaimana pembelajarannya bagi mahasiswa? Bagaimana perkembangannya? Hal-hal ini akan bersama-sama kita bahas pada webinar series Apri ini.

        

tujuanTUJUAN

Untuk menambah wawasan mengenai disaster nursing secara luas

placeTempat, Waktu dan Tanggal Pelaksanaan

 Kegiatan ini akan dilaksanakan pada :

Hari, Tanggal     : Kamis, 27 April 2017
Waktu     : 12.00 – 14.00
Tempat   : Lab Leadership Lt.3 Fakultas Kedokteran UGM

Link Webinar: https://attendee.gotowebinar.com/register/8622158361422024450
Webinar ID: 908-405-299

analytics, audience, presentation, training icon  PESERTA YANG DIHARAPKAN

  • Kementerian Kesehatan (Pusat Krisis Kesehatan)
  • BNPB
  • BPBD
  • Dinas Kesehatan
  • Rumah Sakit
  • Fakultas Kedokteran, Kesehatan, dan Keperawatan
  • Group EMT Indonesia
  • Mahasiswa
  • Peneliti
  • LSM
  • Dsb

agendaAgenda Acara

Waktu Materi Pembicara
12.00 – 12.10 Pembukaan Sutono, SKp, M.Sc, M.Kep
(Dosen Keperawatan FK UGM)
12.10 – 13.00 Penyampaian Materi

Syahirul Alim, SKp, PhD
(Dosen Keperawatan FK UGM)

pdfMateri

13.00 – 14.00 Diskusi  

 

agreement, arrangement, document, register, registration, sign, write icon  PENDAFTARAN DAN INFORMASI

Lelyana
Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM
Mobile           : 081329760006
Ph                : 0274-549425
Fax               : 0274-549424

 

{tab title=”Reportase Kegiatan ” class=”orange solid”}

Reportase Webinar Divisi Manajemen Bencana

Kurikulum: Disaster Nursing

Kamis, 27 April 2017

Laboratorium Leadership FK UGM


webinar series april

Webinar series dari Divisi Manajemen Bencana untuk April mengangkat topik Kurikulum: Disaster Management. Pertemuan ini dimoderatori oleh Sutono, S.Kp, M.Sc, M.Kep selaku dosen keperawatan FK UGM dan pembicara Syahirul Alim, S.Kp, PhD yang merupakan dosen keperawatan FK UGM.

Pemateri menjelaskan bahwa bencana kesehatan menurut WHO merupakan suatu gangguan serius terhadap fungsi komunitas atau masyarakat yang berdampak pada manusia, ekonomi, atau lingkungan yang melebihi kemampuan komunitas atau masyarakat itu sendiri. Sementara dari Internasional Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC) menyebutkan bahwa rumus bencana yakni kerentanan dan bahaya dibagi dengan kapasitas.

Fase bencana dibagi dalam 3 fase yakni pre insiden, insiden, dan post insiden. Perawat memiliki peran penting dari tiap fase bencana tersebut. Berdasarkan Internasional Council of Nurses (ICN) kompetensi perawat dalam bencana dibagi menjadi 10 kompetensi yang dibagi dalam beberapa fase yakni pada fase mitigasi yakni 1) pengurangan risiko, pencegahan penyakit, dan promosi kesehatan, serta 2) perencanaan dan pengembangan kebijakan. Fase kesiapsiagaan terdiri dari kompetensi 1) akuntabilitas, praktek etik dan legal, 2) komunikasi dan berbagi informasi, 3) pendidikan dan kesiapsiagaan. Fase respon terdiri dari 1) perawatan komunitas, 2) perawatan individu dan keluarga, 3) perawatan psikologis, dan 4) perawatan pada kelompok rentan. Sedangkan pada fase pemulihan dan rehabilitasi terdapat kompetensi kebutuhan perawatan jangka panjang.

Saat ini pada program studi ilmu keperawatan FK UGM sedang mengembangkan kurikulum keperawatan bencana, dimana untuk kurikulum ini mencakup 6 SKS. Diharapkan dengan adanya kurikulum ini maka tingkat kesadaran tentang keperawatan dalam bencana akan meningkat. Dalam kurikulum tersebut tidak hanya terdiri dari perkuliahan, namun juga praktikum, skills lab, tutorial, serta akan dimasukkan ke dalam kurikulum dalam pendidikan profesi dengan membuka stase khusus bencana.

Pertemuan webinar kali ini sangat interaktif, karena peserta banyak mengajukan pertanyaan kepada pemateri. Hal ini dikarenakan keperawatan bencana merupakan suatu hal yang belum banyak diimplementasikan baik dalam dunia pendidikan maupun dalam praktek di rumah sakit. Harapannya profesi dari perawat bencana yang tergabung dalam Himpunan Perawat Gawat Darurat dan Bencana Indonesia (HIPGABI) ikut berperan dan menjembatani untuk peningkatan kompetensi bagi seluruh perawat tentang keperawatan bencana dan dapat bergabung dalam Emergency Medical Technicians (EMT) pada saat terjadi bencana.

Reporter: Wisnu Damarsasi, MPH

{/tabs}

DIY Tambah 3 Lumbung Sosial dengan Rp189 Juta

Solopos.com, JOGJA – Pemda DIY melalui Dinas Sosial DIY kembali menambah tiga kampung siaga bencana (KSB) melalui anggaran 2017 dari Kementrian Sosial sebesar Rp189 juta. KSB dilengkapi dengan lumbung sosial yang di dalamnya berisi berbagai kebutuhan sandang pangan dan papan untuk menghadapi kedaruratan bencana.

Sigit Alifianto Kepala Seksi Bantuan Sosial Korban Bencana Bidang Bantuan Jaminan Sosial Dinsos DIY menjelaskan, hingga akhir 2016, DIY telah membentuk 31 KSB di seluruh kabupaten/kota.

Pembentukan KSB memang tidak terlalu banyak, karena Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY juga memiliki program yang hampir sama yaitu desa tangguh bencana. Akantetapi, KSB memiliki kelebihan karena di dalamnya dilengkapi dengan lumbung sosial.

“Setiap desa yang sudah ada program desa tangguh bencana, maka tidak bisa kami masuki program KSB. Maka kami sinergikan, kami rasional, setiap tiga desa tangguh di sana ada satu KSB, jadi satu KSB bisa mengcover empat desa,” ungkapnya, Senin (16/4/2017).

Ia menambahkan, syarat desa dapat ditunjuk sebagai KSB antara lain, termasuk salahsatu dari 301 desa rawan bencana yang ada di DIY. Selain itu, desa penyangga bencana atau ketika terjadi bencana desa tersebut menjadi basis pengungsian, sehingga layak untuk difasilitasi melalui program KSB.

Kemudian syarat khususnya, yaitu, telah mampu menyiapkan tim KSB yang mereka terdiri atas pengurus mulai dari ketua hingga anggota. Kemudian memiliki bank data yang lengkap mulai dari data kependudukan, jenis pekerjaan warga, nomor ponsel warga dan seterusnya.

Bank data secara rinci tersebut sangat dibutuhkan saat terjadi darurat bencana. Syarat lain, kata dia, desa tersebut memiliki gardu sosial sebagai tempat berkumpulnya tim. Kemudian memiliki tempat atau bangunan yang bisa dijadikan sebagai lumbung sosial.

“Di DIY memiliki 393 desa dan 45 kelurahan, ada 301 desa dan kelurahan. yang rawan bencana, serta 229 diantaranya rawan longsor,” ungkapnya.

Sigit menyatakan, keberadaan lumbung sosial menjadi garda terdepan dalam penanggulangan bencana. Mengingat lumbung di KSB telah dilengkapi berbagai alat kedarurat yang bersifat sandang, pangan dan papan. Berbagai persedian yang ada di lumbung itu seperti shelter kit berupa tenda, matras dan velbed.

Kemudian sandang seperti silimut, pakaian, serta paket bantuan mulai dari kebutuhan makanan dan pakaian orang dewasa hingga anak-anak. Di lumbung itu juga tersedia berbagai peralatan dapur dan alat evakuasi sejenis pelampung tandu dan lainnya.

“Untuk jumlah dan jenis logistik yang ditempatkan di sesuaikan dengan kondisi bangunan lumbung sosial dan kerawanan jenis bencana di lokasi,” kata dia.

Jika stok dalam lumbung itu kehabisan, maka Dinsos DIY akan mengupayakan untuk mengisi melalui koordinasi dengan Dinsos kabupaten/kota. Selain itu, sejumlah CSR di sekitar KSB juga dilibatkan dalam mengisi lumbung.

Menurutnya, dari beberapa pemantauan di lumbung sosial yang sudah berjalan, stok kebutuhan sandang, pangan dan papan bisa mencapai Rp200 juta lebih. Khusus untuk bahan makanan, warga diperbolehkan memanfaatkan untuk kegiatan sosial jika tidak dipakai untuk penanggulangan bencana agar bahan makanan tidak kedaluarsa.

Sigit menegaskan, pihaknya akan menambahk tiga lumbung sosial melalui program KSB di 2017. Antara lain di Desa Sendangagung, Minggir, Sleman yang akan digulirkan pada 26 hingga 28 April 2016, di Desa Gulurejo, Lendah, Kulonproro pada 9 – 11 Agustus 2017 dan di Desa Songbanyu, Girisubo, Gunungkidul pada 24 – 26 Agustus 2017. “Menggunakan dana dari APBN dengan anggaran Rp189 juta,” ungkapnya.

Mantap! BPBD Babel Latih Kepala Desa Tanggulangi Bencana

BABEL – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) memberikan pelatihan mitigasi bencana kepada kepala desa dan lurah se-Kabupaten Bangka Barat untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana.

“Kami berharap meningkatnya kesadaran dan pemahaman mengenai penanggulangan bencana akan mempermudah proses koordinasi di tingkat pemerintahan sehingga mampu meminimalkan risiko yang ditimbulkan saat terjadi bencana,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kepulauan Babel, Najamudin di Muntok, Selasa (18/4/2017).

Ia mengatakan, pelaksanaan mitigasi penanggulangan bencana sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan bencana yang menyebutkan penanggulangan bencana merupakan tanggung jawab pemerintah, masyarakat dan badan usaha.

Pelaksanaan kegiatan tersebut diharapkan tiga elemen penting itu bisa melakukan penanggulangan dengan terencana, terkoordinasi, terpadu dan menyeluruh pada tahapan prabencana, tanggap darurat dan pascabencana.

“Perencanaan penyelenggaraan penanggulangan bencana dilakukan pada setiap tahapan penyelenggaraan penanggulangan bencana dan menjadi salah satu kebijakan penting untuk mewujudkan tujuan pembangunan,” kata dia.

Dalam hal itu, kata dia, pemerintah telah mengeluarkan regulasi, antara lain Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan penanggulangan bencana, PP Nomor 22 Tahun 2008 tentang Pendanaan dan pengelolaaan bantuan bencana dan PP Nomor 23 Tahun 2008 tentang Peran serta lembaga internasional dan lembaga asing nonpemerintah dalam penanggulangan bencana.

Dari beberapa peraturan itu, kata Najamudin, mekanisme yang dilakukan terbagi atas tiga tahapan, yaitu prabencana, tanggap darurat dan pascabencana.

“Dengan aturan itu kami harapkan akan mempermudah koordinasi dan pelaksanaan penanganan bencana yang sering terjadi di daerah, baik berupa bencana alam, nonalam dan bencana sosial,” katanya.

Peru: Reducing the effects of natural disasters

Peru: Reducing the effects of natural disasters

Peru has faced one of its hardest moments in history because of the heavy rains and floods that hit most of the northern region. More than 100 people died, around 158,000 are displaced and 210,000 homes are damaged. Additionally, Peru’s infrastructure was destroyed by the Niño’s landslides, it destroyed more than 260 bridges and more than 3000 km of roads collapsed.

Peru has learned a great lesson as it now knows the consequences of having faulty infrastructure and a poor emergency disaster response plan. Therefore, the government can consider those factors and create a better plan to rebuild the country appropriately.

The biggest issue to consider is that a lot of people live in the most vulnerable areas. For that reason, the government could implement a plan to relocate those hundreds of thousands of people living on the edge, exposed to landslides.

The reconstruction of Peru, has an estimated cost of $9 billion. The money will be invested in rebuilding destroyed cities and towns; in addition, the government will focus on building new infrastructure that can resist extreme weather conditions.

Organized and clear reconstruction projects can help the country to prevent human and material losses, but it is equally important to create an educational program for citizens to understand climate change and its effects.

DPD RI Kaji Urgensi Asuransi Bencana

DPD RI Kaji Urgensi Asuransi Bencana

JAKARTA – Negara Indonesia merupakan negara yang rawan terjadinya bencana alam. Dampak kerusakan yang ditimbulkan dari sebuah bencana sangat besar dan merugikan masyarakat. Indonesia diharapkan memiliki asuransi bencana seperti yang telah dipraktekkan oleh negara-negara rawan bencana. Asuransi ini sudah dipraktekan di sejumlah negara yang rentan mengalami bencana. Komite II DPD RI akan membentuk tim kajian yang akan mengkaji mengenai pentingnya asuransi bencana di Indonesia.Ketua Komite II DPD RI, Parlindungan Purba menyatakan Indonesia harus mengambil langkah dalam merespon potensi bencana. Salah satunya adalah dengan membuat asuransi bencana. Tujuannya agar terdapat dana yang dapat digunakan untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak, salah satunya adalah rumah milik masyarakat. “Kami akan membentuk tim dari Komite II DPD yang akan berkomunikasi terkait masalah asuransi bencana,” ujarnya.Pakar Asuransi Bencana, Kornelius Simajuntak mengatakan bahwa Indonesia sebagai negara yang rawan bencana alam, dinilai perlu menerapkan skema asuransi bencana alam. Indonesia termasuk negara yang paling rawan terjadinya bencana. Indonesia juga merupakan negara dengan gunung berapi dengan jumlah terbanyak. Dana yang dibutuhkan oleh pemerintah untuk menangani kerusakan bencana sangat besar. Kerusakan karena bencana terjadi di rumah penduduk, industri, bangunan komersial, dan semuanya menjadi tanggung jawab pemerintah. 

“Gempa bumi, letusan gunung berapi, dan tsunami selalu diasuransikan. Ketiga bencana tersebut dianggap mampu memberikan kerusakan yang besar,” ucap Kornelius.

Kornelius Simanjuntak juga berpendapat bahwa kesadaran berasuransi di Indonesia masih redah. Tetapi jika ada UU yang menyatakan bahwa dampak bencana menjadi tanggung jawab bersama dengan konsep tolong menolong, maka asuransi bencana dapat berjalan. DPD menurut saya yang sangat tepat mengusung ini Karena yang mengalami kerugian dan penderitaan yang luar biasa dari bencana alam adalah daerah.“Langkah awal yang harus dilakukan oleh DPD RI adalah membuat kajian mengenai asuransi bencana. Jika sudah terdapat kajian dari DPD RI, maka program asuransi bencana dapat dikomunikasikan kepada stakeholders terkait untuk dapat diwujudkan,” ujarnya.Senator dari Kalimantan Tengah, Permanasari dan Senator dari Gorontalo Rahmijati Jahja, mengatakan bahwa DPD RI benar-benar peduli mengenai masalah bencana. Adanya bencana alam selalu merugikan masyarakat. Keberhasilan dari pelaksanaan asuransi bencana tergantung atas adanya payung hukum yang kuat.Sementara itu, Senator dari Jambi Daryati Uteng berpendapat bahwa arah dari aturan yang mengatur dari asuransi bencana haruslah jelas termasuk urgensi didalamnya agar dapat diwujudkan. Senator dari Papua Barat, Mamberob Y Rumakiek meminta agar asuransi bencana juga memperhatikan pada asuransi jiwa penduduk sebagai korban bencana.Terkait kajian mengenai keberadaan asuransi bencana, Komite II DPD RI membentuk Tim Kajian Asuransi Bencana. Dimana tim tersebut terdiri dari Senator Gorontalo, Rahmijati Jahja sebagia Ketua, Senator dari Papua Barat Mamberob Y Rumakiek sebagai Sekretaris, dan Senator dari Jambi Daryati Uteng dan Senatod dari Kalimantan Tengah sebagai Anggota.  *** – See more at: https://www.goaceh.co/berita/baca/2017/04/17/dpd-ri-kaji-urgensi-asuransi-bencana#sthash.NnzopzzV.q9Y62IsO.dpuf

BPBD: Titik Bencana Dikhawatirkan Meluas

SUKABUMI, (PR).- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi, Minggu, 16 April 2017 kembali mengeluarkan himbauan agar warga waspada. Tidak hanya untuk kecamatan dengan potensi bencana, namun juga untuk warga yang berada di titik lokasi aman.

Hal ini menyusul bencana alam yang terus menerus terjadi, dan merusak lima rumah warga yang tersebar di tiga kecamatan di Kabupaten Sukabumi. Selain itu, pasca intensitas hujan mengguyur Sukabumi merusak rumah warga, satu pesantren di Desa Walangsari, Kecamatan Kalapanunggal terancam longsoran tanah. Begitupun dua unit rumah warga di Kampung Ciseupan RT 14/05, Desa Walangsari, Kecamatan Kalapanunggal mengalami kondisi serupa.

Kepala Bidang Logistik dan Kedaruratan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi, Usman Susilo mengatakan seluruh warga harus waspada terhadap banjir dan longsor. Pasalnya hujan lebat terus mengguyur sejak beberapa hari terakhir. “Kita harus mengantisipasi bencana. Apalagi hujannya cukup lebat beberapa hari terakhir ini,” katanya.

Sedangkan dampak bencana di Kabandungan, kata Usman Susilo, BPBD telah mengeluarkan himbauan agar seluruh penghuni untuk meninggalkan titik lokasi bencana aman. Rumah milik Adin (27) dan Rojak (47) untuk sementara tidak ditempati seuruh penghuninya. Bahkan pasca bencana tanah longsor, warga telah mengevakuasi seluruh penghuninya ketempat aman.

“Seiring intensitas hujan semakin meningkat, kami mencemasakan titik bencana semakin meluas. Potensi berpeluang karena hujan deras terus membayang-bayangi titik lokasi daerah bencana,” katanya.***

KONGRES WADEM TENTANG DISASTER AND EMERGENCY MEDICINE PADA 25-28 APRIL 2017

wadem2017

wadem2017

World Association for Disaster and Emergency Medicine (WADEM) pada tahun ini mengadakan kongres ke-20 nya pada tentang “Disaster And Emergency Medicine” 25-28 April 2017 di Toronto, Kanada. Kongres ini merupakan salah satu pertemuan antar profesi terbesar dengan menghadirkan lebih dari 50 negara. Terdapat berbagai kegiatan yang diselenggarakan berupa presentasi abstrak, aktivitas selain abstrak, workshop penelitian kebencanaan, dan lain-lain. Terdapat buku program terkait dengan kegiatan yang terselenggara pada kongres tersebut. Penjelasan selengkapnya Klik Disini arrow, external, leave, link, open, page, url icon

GUIDANCE FOR RAPID DISASTER RESPONSE TOOLKIT

guidance disaster response

guidance disaster responseBuku ini berjudul “Guidance for Rapid Disaster Response Toolkit” membahas tentang panduan untuk pembuat keputusan di negara yang terkena bencana, negara yang membantu dalam bencana dan negara transit. Buku ini dapat digunakan oleh negara-negara di wilayah Asia Tenggara. Buku ini berisi tentang alat untuk respon cepat pada bencana yang dapat menjadi panduan bagi pengambil keputusan dalam hal kegiatan kesiapsiagaan dan kesiapan untuk konsekuensi seccara nasional dan di wilayah terjadinya bencana; mengelola tawaran, permintaan, penerimaan dan pengelolaan respon bencana secara internasional; secara cepat memberikan respon bencana untuk negara yang terkena dampak untuk dapat proses dan channel yang tepat untuk meningkatkan ketepatan waktu dan efektivitas tanggap bencana. Setiap tipe negara tersebut dapat memberikan respon cepat pada bencana sesuai dengan fase-fase yang disebutkan di dalam buku. Penjelasan selengkapnya Klik Disini arrow, external, leave, link, open, page, url icon

BUKU PEDOMAN LATIHAN KESIAPSIAGAAN BENCANA NASIONAL

membangun siaga bencana

membangun siaga bencanaDalam rangka memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional (HKBN), BNPB menerbitkan buku yang berjudul “Pedoman Latihan Kesiapsiagaan Bencana Nasional” pada Maret 2017. Buku ini terdiri dari 5 bab. Pada awal buku dijelaskan tentang latihan kesiapsiagaan yang dimaksudkan, jenis-jenis latihan kesiapsiagaan, serta kelompok rentan dan disabilitas. Selanjutnya dipaparkan tentang manajemen kesiapsiagaan yang meliputi tahap perencanaa, persiapan, pelaksanaan, serta evaluasi dan rencana perbaikan. Menariknya, buku ini juga mengulas tentang bagaimana melakukan latihan evakuasi mandiri di berbagai jenis kejadian yang berpotensi bencana. Informasi pendukung untuk persiapan kedaruratan bencana, jenis bencana lainnya dan layanan peringatan juga menjadi bagian penting yang dibahas. Penjelasan selengkapnya Klik Disini arrow, external, leave, link, open, page, url icon

Bencana Alam Terjang 3 Kabupaten, 9.705 Warga Aceh Jadi Korban

Korban Banjir Aceh (Foto: Okezone)

BANDA ACEH – Empat hari terakhir sejumlah bencana alam terjadi di Provinsi Aceh. Dari jumlah bencana tersebut, setidaknya menyebabkan 9.705 warga menjadi korban musibah tersebut.

Bencana banjir luapan hingga banjir bandang dan longsor terjadi di Tanah Rencong beberapa hari terakhir. Musibah itu terjadi di tiga kabupaten, masing-masing Aceh Tenggara, Aceh Timur dan Aceh Barat.

“Bencana terjadi di tiga kabupaten, dengan korban jiwa 9.705 orang,” kata Bagian Pusat Data dan Informasi Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Henny kepada Okezone, Jumat (14/4/2017).

Luapan air sungai menyebabkan 14 desa di empat kecamatan Aceh Barat terendam banjir dan 6.676 warga menjadi korban. Di samping itu, tiga desa di satu kecamatan di Aceh Timur mengalami hal yang sama dengan korban banjir 208 jiwa.

Kondisi terparah dialami ribuan masyarakat Aceh Tenggara. Sebanyak 2.821 orang warga menjadi korban bencana. Banjir bandang serta longsor memporak-porandakan permukiman warga. Setidaknya 14 desa di dua kecamatan mengalami kerusakan akibat bencana tersebut.

“Korban banjir bandang Aceh Tenggara menewaskan dua orang, seorang tua dan balita akibat terseret arus,” kata Risky Hidayat, Koordinator Pos Basarnas Kutacane.

Banjir luapan sungai di Aceh Barat dan Aceh Timur terjadi pada Rabu 12 April 2017 lalu, sementara bencana alam di Aceh Tenggara berlangsung sehari sebelum banjir di dua kabupaten itu terjadi.

(Ari)