Pagekit

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur. Excepteur sint occaecat cupidatat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum.

Continue reading

Penanganan Bencana Tanpa Lihat Batas Wilayah

YOGYA – Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta, Agus Winarta menegaskan menyambut HUT ke 95 Satuan Pemadam Kebakaran, pihaknya siap meningkatkan komunikasi dengan berbagai pihak. Termasuk dengan Kantor Pemadam Kebakaran Kabupaten lain di DIY dalam menanggulangi bencana di luar Kota Yogyakarta.

Continue reading

Bengkalis Masih Diselimuti Kabut Asap

BENGKALIS — Kabut asap masih menyelimuti Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau, walau hujan sudah turun di sebagian wilayah Riau. Sulaiman, salah seorang warga Duri, Bengkalis, mengatakan sejak satu pekan lalu jarak pandang di Duri hanya sekitar 50 meter.

Continue reading

Bencana Asap di Riau dan Pengembangan Regional Disaster Plan

asm-14

Bencana Asap di Riau dan Pengembangan Regional Disaster Plan

asm-14

Bencana asap di Riau telah berlangsung lebih dari dua bulan. Pakar kesehatan menyatakan udara di Riau tidak baik untuk kesehatan. Dinas Kesehatan merilis berita tingginya kenaikan kasus ISPA dalam dua bulan ini. Di lain sisi, penanganan pemerintah Riau dirasakan lambat sehingga menyebabkan masyarakat terkepung asap. Instruksi Presiden untuk melakukan tindakan gawat darurat asap di Riau langsung ditindaklanjuti oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan jajaran penanggulangan bencana di daerah untuk melakukan tindakan pemadaman maupun mencari oknum yang diduga sebagai pembakar hutan dan ladang.

Yogyakarta (Jumat,14/03/14) Pokja Bencana bekerjasama dengan PKMK FK UGM mengadakan seminar Pengembangan Kesiapsiagaan Daerah dalam Penanggulangan Bencana atau Regional Disaster Plan dan Safety Awareness pada Relawan Bencana. Peserta hadir dari berbagai instansi seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Rumah Sakit, Magister Bencana, Dinas Kesehatan, dan pemerintah daerah. Kegiatan ini menghadirkan pembicara dari BNPB, BPBD DIY, PKMK, PMI, dan Organisasi kemanusiaan seperti Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) dan YAKKUM Emergency Unit (YEU).

Pengembangan Regional Disaster Plan perlu mendapat perhatian lebih, seperti salah satu hasil diskusi pada seminar ini. Kata “Regional” perlu dipertegas, apakah penanggulangan bencana berdasarkan wilayah daerah, kewenanganan, atau luas wilayah yang dikenai dampak bencana?. Kasus asap di Riau misalnya. Riau adalah daerah penyebab bencana asap tetapi dampaknya dirasakan oleh provinsi sekitarnya. Dengan ini, diharapkan ke depannya kesiapsiagaan bencana daerah juga harus mempertimbangkan kemungkinan dampak yang ditimbulkan oleh risiko bencana yang berada di daerah lain dan sekitarnya. Pengembangan Regional Disaster Plan harus kita cermati bersama lagi. Bapak/Ibu pembaca website bencana bisa menyimak dokumentasi, mengunduh materi, dan membaca reportase pada link berikut klik-disini. Sedangkan untuk membaca press release kegiatan ini silakan klik-disini

UIkit

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur. Excepteur sint occaecat cupidatat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum.

Continue reading

Tetap Siaga Walau Bencana Sudah Tertangani

siaga-bencana

Tetap Siaga Walau Bencana Sudah Tertangani

siaga-bencanaLetusan gunung api Kelud telah berlalu lebih dari sepekan. Daerah-Daerah yang menyatakan status tanggap darurat dampak abu vulkanik sudah menurunkan statusnya. Guyuran hujan bahkan mempercepat berhentinya status tanggap darurat di beberapa wilayah. Namun, daerah-daerah di Pulau Jawa sepertinya masih dituntut untuk siap siaga yang ditandai dengan peningkatan aktivitas vulkanik di beberapa gunung api lainnya.

Letusan Gunung Api Kelud memberikan pelajaran tersendiri, baik dari sisi kesiapsiagaan, penanganan pengungsi, koordinasi pada saat bencana, ataupun prediksi dampak bencana. Pemerintah daerah memperlihatkan kesiapsiagaan mereka jauh sebelum gunung api kelud meletus dan ini terbukti dengan tidak adanya korban pada saat Kelud meletus. Begitu pula dengan koordinasi yang diperlihatkan beberapa daerah di sekitar gunung api Kelud, bahkan upaya pembersihan abu vulkanik terlaksana lebih cepat dari perkiraan.

Namun, ada yang luput dari perkiraan, yakni prediksi abu Kelud akan mencapai ratusan kilometer hingga ke Jawa Barat. Hal ini menjadi alarm bagi seluruh wilayah, untuk terus mensiagakan diri dan menyusun rencana kesiapsiagaan dampak bencana. Artinya, ancaman bencana di suatu daerah juga harus menjadi kesiapsiagaan daerah lainnya untuk menyusun rencana kesiapsiagaan jika terjadi dampak bencana tersebut.

Minggu lalu kita telah menampilkan artikel mengenai manajemen respon bencana dan kolaborasi. Artikel minggu kembali seperti pada dua minggu sebelumnya mengenai kesiapsiagaan. Artikel pertama mengenai pengenalan kesiapsiagaan bencana yang dikembangkan oleh International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies berjudul Introduction to Disaster Preparedness klik-disini. Artikel kedua mengenai ukuran kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana yang berjudul The Readiness Estimate and Deployability Index A Self-assessment Tool for Emergency Center RNs in Preparation for Disaster care klik-disini

Press Release ASM

asm-14

Seminar Pengembangan Kesiapsiagaan Daerah dalam Penanggulangan Bencana atau Regional Disaster Plan (RDP) danSafety Awareness pada Relawan Bencana

asm-14

Yogyakarta, Jumat (14/03/14) telah berlangsung seminar mengenai Kesiapsiagaan Daerah dalam Penanggulangan Bencana dan safety awareness untuk relawan bencana. Seminar ini diselenggarakan oleh Pokja Bencana FK UGM bekerjasama dengan Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan (PKMK) UGM dalam rangkaian Annual Scientific Meeting Fakultas Kedokteran UGM setiap tahunnya.

Kejadian bencana yang semakin meningkat di hampir seluruh wilayah Indonesia sepertinya belum mendapat perhatian serius pemerintah daerah. Pemerintah masih terfokus pada fase tanggap darurat dalam penanggulangan bencana sehingga perencanaan dan kesiapsiagaan daerah sering terabaikan. Kejadian bencana yang meningkat harusnya menjadi alarm buat birokrasi kabupaten/kota dan masyarakatnya untuk menaikkan status kewaspadaan pada level lebih tinggi. Kabupaten/kota seharusnya sudah memiliki standar-standar penyelamatan yang memadai sebagai kesiapan menjamin keselamatan penduduknya. Terlebih bagi wilayah indonesia yang berada dalam negara rawan bencana yang dikenal sebagai cincin api (ring of fire). Sayangnya belum banyak kabupaten/kota yang memiliki perencanaan kesiagaan bencana.

Hal inilah yang melatarbelakangi pengangkatan tema mengenai pengembangan kesiapsiagaan daerah dalam penanggulangan bencana. Seminar ini menghadirkan pembicara dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY, PMI, PKMK FK UGM, serta Organisasi Kemanusiaan seperti Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) dan YAKKUM Emergency Unit (YEU). Peserta seminar hadir dari berbagai instansi seperti BPBD, Rumah Sakit, Dinas Kesehatan, Pemerintah Daerah, dan Mahasiswa Magister Bencana. Seminar dibagi menjadi dua sesi, sesi pertama membahas mengenai peran nasional, daerah, dan pembelajaran bencana selama ini dalam pengembangan kesiapsiagaan daerah dalam penanggulangan bencana. Sesi kedua membahas mengenai keamanan dan manajemen relawan bencana.

Seminar ini menghasilkan banyak catatan untuk kajian lebih lanjut mengenai pengembangan kesiapsiagaan penanggulangan bencana di daerah dan manajemen relawan ke depannya. Catatan tersebut antara lain mengenai kajian istilah “regional” dalam Regional Disaster Plan begitu juga dengan kejelasan difinisi bencana. Seluruh dokumentasi, reportase, dan materi seminar dapat disimak pada website bencana kesehatan www.bencana-kesehatan.net.

Sesi 1: Seminar Pengembangan Kesiapsiagaan Daerah dalam Penanggulangan Bencana atau Regional Disaster Plan (RDP) dan Safety Awareness pada Relawan Bencana

asm-sesi-1

Sesi 1:

Seminar Pengembangan Kesiapsiagaan Daerah dalam Penanggulangan Bencana atau Regional Disaster Plan (RDP) dan Safety Awareness pada Relawan Bencana


asm-sesi-1

Seminar dimulai dengan penyampaian laporan dari Ketua Pokja Bencana FK UGM, dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS (K). Dalam laporannya ,disampaikan mengenai respon Fakultas Kedokteran dan Yogyakarta terhadap dampak bencana abu vulkanik Gunung Kelud beberapa waktu lalu. Beliau menekankan, kaitan hal tersebut dengan seminar ini adalah pentingnya membangun kesiapsiagaan daerah dalam penanggulangan bencana, bahkan kemungkinan kesiapsiagaan menerima dampak bencana dari daerah lain.

Seminar dibuka oleh Dekan Fakultas Kedokteran UGM, dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa bencana saat ini merupakan hal yang serius seiring dengan frekuensi kejadiannya yang semakin meningkat. ASM atau Annual Scientific Meeting yang diselenggarakan setiap tahun oleh Fakultas Kedokteran merupakan upaya untuk mengembangkan budaya berdiskusi dan melakukan kajian. Beliau menyatakan apresiasinya bahwa salah satu kajian yang dikembangkan adalah mengenai manajemen bencana.

Sesi pertama seminar ini membahas mengenai Pengembangan Regional Disaster Plan atau pengembangan kesiapsiagaan daerah dalam penanggulangan bencana. Regional Disaster Plan akan dibahas dari sisi nasional, daerah, dan studi kasus kejadian bencana selama ini. Sesi ini dimoderatori oleh dr. Bella Donna, M.kes.

Materi pertama mengenai Peran Nasional dalam Perencanaan Penanggulangan Bencana di Daerah disampaikan oleh Ir. Sugeng Triutomo, DESS selaku Senior Advisor Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Ada beberapa hal yang harus kita kaji bersama sebelum masuk pada pengembangan regional disaster plan, salah satunya mengenai kebijakan, definisi bencana, dan alur koordinasinya. Ternyata, Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional selama ini tidak memiliki wewenang dalam memerintah BPBD selaku pelaksana penanggulangan bencana di daerah. BPBD merupakan badan di daerah yang langsung di bawah kepala daerah. Ikatan antara BNPB dan BPBD selama ini hanya “emosional” dalam artian sama –sama mengurusi mengenai bencana.

Lalu, mengenai definisi bencana, selama ini kita berpegang pada Undang-undang Nomor 24 tahun 2007 dimana asalkan ada korban jiwa dan kerugian harta benda maka itu dikatakan bencana. Definisi ini berbeda dengan bencana bagi UNSDR yaitu dikatakan bencana hanya ketika suatu wilayah tersebut tidak sanggup menanganinya dan meminta bantuan dari luar. Dari paparan ini, untuk melakukan pengembangan regional disaster plan ada banyak hal yang perlu kita perhatikan terlebih dahulu. Dalam melaksanakan tugasnya selama ini BNPB sudah membina ratusan Desa Tangguh Bencana yang tersebar di wilayah-wilayah yang rawan bencana di Indonesia.

Materi kedua mengenai peran BPBD dalam penyiapan penanggulangan bencana di daerah disampaikan oleh Ir. Gatot Saptadi selaku Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah DIY. Menyambung pemaparan dari pemateri pertama, beliau menyampaikan bahwa peran BPBD di sini membantu dan mendampingi masyarakat dalam meningkatkan kapasitas mereka menghadapi bencana. Belajar dari pengalaman-pengalaman bencana yang ada memang fase kesiapsiagaan belum tersentuh dengan baik, bahkan di Yogyakarta sekalipun. BPBD sebagai komandan dalam penanggulangan bencana di daerah tidak memiliki banyak personil dan keahlian sehingga penanganan bencana daerah haruslah mendapat perhatian juga dari kelompok masyarakat, akademik, dan swasta dan lebih difokuskan pada fase kesiapsiagaan. Saat ini BPBD banyak melakukan pendampingan desa-desa tangguh Bencana yang ada di DIY. Pengembangan kesiapsiagaan daerah dimulai dengan membangun kesiapsiagaan di tingkat desa.

Materi ketiga mengenai pengembangan Regional Disaster Plan saat ini disampaikan oleh dr. Hendro Wartatmo, Sp.B-KBD selaku Konsultan Bedah Digestif Rumah Sakit Sardjito dan Advisory Board di Pokja Bencana FK UGM. Sesuai dengan pernyataan pemateri pertama bahwa membernrkan atau menyelaraskan definisi bencana itu penting, lalu mengenai definisi “regional”. Dalam menyusun regional disaster plan sebenarnya ada dua kegiatan yang perlu kita lakukan adalah membantu dalam manajemen dan teknis. Saat ini, pelatihan dan pendidikan mengenai bencana lebih banyak ke arah teknis sedangkan minim sekali dari sisi manajemennya. Apalagi terkait dengan regional disaster plan, ada banyak instansi dan individu yang harus dikoordinasikan, apakah pernah ada pelatihan atau simulasi mengenai manajemen seperti ini?

Pada sesi pembahasan, kembali Ir. Sugeng Triutomo, DESS memberikan bahasannya. Awalnya beliau memang sebagai pembahas tetapi karena Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB berhalangan hadir sebagai pemateri pertama (mendadak harus ke Riau dalam penanggulangan bencana asap), maka beliaulah yang kemudian diutus untuk menyampaikan materi pertama sebagai perwakilan dari BNPB. Di sini, Ir. Sugeng Triutomo, DESS menyampaikan bahasannya kembali mengenai Regional Disaster Plan, apa kesamaan dan perbedaannya dengan pengurangan risiko bencana dan contingency plan. Berdasarkan hal ini pula muncul pertanyaan regional disaster plan ini akan dibawa kemana apakah sebatas plan? Atau framework? Batasan regionalnya sampai mana? Akan digunakan untuk fase apa saja dalam bencana? Apakah akan dibuat secara individu atau community?

Selaras dengan pembahas pertama, pembahas kedua dari Fakultas Kedokteran UGM, Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., PhD juga membahas mengenai batasan regional dalam Regional Disaster Plan. Melihat dampak bencana yang tidak mengenal batasan wilayah maka dirasakan lebih baik jika pengembangan regional disaster plan dikembangkan sesuai dengan dampak yang ditimbulkan bencana tetapi tetap juga Regional Disaster Plan dapat dikembangkan masing-masing daerah. Beliau juga mengembangkan kerangka mengenai pendanaan terhadap bencana. Dari sini dapat dikembangkan kebijakan berdasarkan prediksi, misalnya apa yang harus dikerjakan jika kekuatan ekonomi pemda rendah begitu juga dengan rendahnya kemampuan ekonomi rakyat? Artinya peran pusat harus cepat untuk membiayai penanggulangan bencana di daerah. Sesi ini tidak ditutup moderator dengan kesimpulan pada umumnya. Moderator kembali mengulas mengenai catatan-catatan untuk dikaji lebih lanjut mengenai pengembangan Regional Disaster Plan.