Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur. Excepteur sint occaecat cupidatat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum.
Pengungsian Roboh, Dua Pengungsi Gunung Kelud Tewas
MALANG – Pengungsian di Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang, Jumat (14/2/2014) dini hari, roboh. Dua pengungsi korban letusan Gunung Kelud, meninggal.
Tim SAR Terus Evakuasi dan Sisir Rumah Warga di Kecamatan Ngantang
Malang – Tim SAR gabungan terus menyisir wilayah terdampak erupsi Gunung Kelud, Jumat (14/2/2014) pagi. Wilayah menjadi sasaran adalah sejumlah desa di wilayah Ngantang, Kabupaten Malang.
Ini instruksi Presiden kepada BNPB soal erupsi Gunung Kelud
Jakarta – Presiden SBY memberikan arahan kepada Kepala Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB), Syamsul Maarif, terkait penanganan erupsi Gunung Kelud yang terjadi semalam.
Abu Letusan Gunung Kelud Sampai Magelang
Magelang: Abu akibat erupsi Gunung Kelud di Jawa Timur pada Kamis (13/2) malam juga menyebar ke berbagai tempat di Magelang, Jawa Tengah, pada Jumat (14/2) dini hari.
“Tadi pagi sekitar pukul 03.00 WIB tipis hujan abunya, tetapi sejak pukul 04.30 WIB makin deras,” kata Sucoro (62), seorang warga sekitar Candi Borobudur di Kabupatenm Magelang, Jawa Tengah di Magelang, Jumat pagi.
Warga Solo dan Klaten Dikagetkan Suara Dentuman Gunung Kelud
YOGYAKARTA – Tepat pukul 22.50 WIB Gunung Kelud yang terletak di Kediri Jawa Timur erupsi. Masyarakat yang berada di sekitar Solo dan Klaten sudah mulai mersakan adanya dentuman suara meletusnya Gunung Kelud.
“Tadi samar-samar saya dengar suara dentuman di udara, seperti bunyi meletusnya gunung,” kata Obed, warga Klaten, Kamis (13/2/2014).
Pengembangan Kesiapsiagaan Daerah dalam Penanggulangan Bencana atau Regional Disaster Plan (RDP)
Dalam rangka Annual Scientific Meeting (ASM) 2014
Kelompok Kerja (Pokja) Bencana Komisariat KAGAMA Fakultas Kedokteran UGM
Bekerjasama dengan
Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM
menyelenggarakan Seminar mengenai :
Pengembangan Kesiapsiagaan Daerah dalam Penanggulangan Bencana
atau Regional Disaster Plan (RDP) dan Safety Awareness
pada Relawan Bencana
Kampus FK UGM – Jumat, 14 Maret 2014

Pengantar
Kejadian bencana meningkat dalam satu dekade ini di seluruh dunia. Bencana alam tercatat sebanyak 332 ditahun 2011 dan jumlah ini sama dengan rata-rata kejadian bencana diantara rentang tahun 2001 hingga 2010 sebanyak 384 kejadian. Korban pengungsian mencapai 244,7 juta jiwa dengan korban meninggal sebanyak 30773 jiwa.
Indonesia merupakan negara yang paling rawan bencana alam di dunia. United Nations International Stategy for Disaster Reduction (UNISDR; Badan PBB untuk Strategi Internasional Pengurangan Risiko Bencana) menyatakan ini disebabkan oleh berbagai bencana alam yang terjadi di Indonesia mulai gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, banjir, tanah longsor, kekeringan, dan kebakaran hutan.
Banjir merupakan bencana alam yang paling sering terjadi dalam satu dekade ini di dunia. Banjir menyebabkan 53000 orang meninggal. Di Indonesia, bencana hidrometeorologi mendominasi selama 2013. Tercatat 768 kejadian bencana hingga September 2013 dengan 36,97% kejadian banjir. Korban banjir mencapai angka ratusan ribu jiwa dan kerugian yang ditaksir mencapai triliyunan rupiah
Kejadian bencana yang meningkat harusnya menjadi alarm buat birokrasi kabupaten/kota dan masyarakatnya untuk menaikkan status kewaspadaan pada level lebih tinggi. Kabupaten/kota seharusnya sudah memiliki standar-standar penyelamatan yang memadai sebagai kesiapan menjamin keselamatan penduduknya. Terlebih bagi wilayah indonesia yang berada dalam negara rawan bencana yang dikenal sebagai cincin api (ring of fire). Sayangnya belum banyak kabupaten/kota yang memiliki perencanaan kesiagaan bencana.
Manajemen bencana dari sudut pandang kesehatan dapat dilihat sebagai sebuah sistem yang kompleks yang harus dipelajari untuk memberikan input sebagai dasar ilmiah untuk membuat keputusan dan tindakan. Dalam kondisi bencana sistem yang ada diantaranya sistem kesehatan di suatu daerah seringkali kolaps dan tidak dapat berfungsi dengan baik sehingga diperlukan suatu sistem penanggulangan bencana yang terkoordinir yang dapat mensupport (mengambil alih wewenang) dalam penanganan bencana. Sistem penanggulangan bencana yang dibentuk diharapkan dapat berfungsi dalam penanganan sebelum, pada saat, dan setelah terjadinya bencana dan dengan dibentuknya sistem penanggulangan bencana dapat mengakomodir semua sumber daya kesehatan yang ada dalam penanggulangan bencana.
Untuk meminimalkan resiko bencana, institusi kesehatan harus mempunyai perencanaan dan prosedur untuk penanganan bencana sehingga dapat menangani korban dalam jumlah yang sangat banyak dalam situasi bencana, bahkan dapat mengidentifikasi potensial terjadinya bencana di lingkungan wilayahnya.
Hal ini dipicu oleh adanya kelompok kesehatan dan rumah sakit yang telah mengalami situasi bencana di daerahnya dan menginginkan adanya persiapan yang lebih baik apabila bencana terjadi kembali. Karena itu perlu adanya sistem penanggulangan bencana di tiap wilayah, dimana di dalam perencanaan penanggulangan bencana sektor kesehatan juga ditemukan adanya perencanaan kesiapsiagaan rumah sakit dalam penanggulangan bencana atau Hospital Disaster Plan (HDP).
Pembentukan sistem kewaspadaan dan penanganan terpadu (networking) masalah kesehatan dalam bencana merupakan pembentukan sistem atau suatu organisasi terpadu yang bertumpu pada masalah kesehatan dengan melakukan koordinasi lintas sektor. Dengan terbentuknya suatu sistem terpadu diharapkan tidak akan terjadi lagi kesimpangsiuran dalam penanganan masalah bencana terutama di sektor kesehatan.
Salah satu hal yang penting di atur dalam perencanaan kesiapsiagaan penanggulangan bencana di daerah adalah manajemen relawan. Manajemen relawan adalah upaya pengaturan penempatan, alokasi tugas, dan keselamatan bagi relawan pada saat bencana. Dengan adanya RDP harapannya daerah mampu menjadi pemimpin dalam penanggulangan bencana termasuk pengaturan relawan baik dari dalam ataupun relawan yang datang dari luar untuk membantu daerah.
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM menawarkan kerjasama dengan tiap-tiap pemerintah daerah, dinas kesehatan, rumah sakit, Badan Penanggulangan Bencana Daerah BPBD, dan lain-lain yang terlibat dalam penanggulangan bencana di daerah untuk membuat rencana penanggulangan bencana untuk tiap-tiap wilayah.
Tujuan :
- Terbentuknya wawasan Sistem Kewaspadaan Penanganan Terpadu Lintas Sektor Dalam penanggulangan Bencana di daerah (provinsi, kabupaten, kota) yaitu terbentuknya suatu organisasi jejaring penanganan bencana sektor kesehatan ditiap-tiap daerah.
- Terbentuk pemahaman serta kemampuan dalam mengorganisir relawan pada saat bencana.
Hasil yang diharapkan adalah :
- Terbentuknya pemahaman terhadap pentingnya perencanaan kesiapsiagaan bencana di daerah (Regional Disaster Plan)
- Adanya inisiatif dari dinas kesehatan untuk membuat atau menyempurnakan perencanaan kesiapsiagaan bencana di daerah atau RDP disektor kesehatan.
- Adanya perencanaan pengorganisasian relawan pada saat bencana oleh daerah.
- Adanya Koordinasi dan Komunikasi yang baik antara stakeholder terkait Manajemen Penanggulangan Bencana di Daerah.
Jadwal Acara
|
Waktu |
Kegiatan |
Narasumber |
|
08.00 – 08.30 |
Registrasi |
|
|
08.30 – 0 9.00 |
Pembukaan dr . Handoyo Pramusinto Sp . BS (K) – Ketua Pokja Bencana FK UGM Prof. Dr. dr. Teguh Aryandono, Sp.B(K)onk – Dekan FK UGM |
|
|
09.00 – 09.15 |
Coffee Break |
|
|
09.15 – 09.45 |
Peran Nasional dalam Perencanaan Penanggulanngan Bencana di Daerah |
|
|
09.45 – 10. 15 |
Peran BPBD dalam Penyiapan Penanggulangan Bencana Daerah |
|
|
10.15 – 10.45 |
Pengembangan Rencana Penanggulangan Daerah (RDP) saat ini (case study). |
|
|
10-45 – 11.00 |
Pembahas :
|
|
|
11.00 – 11.20 |
Diskusi |
Moderator : dr. Bella Donna, MKes |
|
1 1.20 – 1 3.00 |
ISHOMA |
|
|
13.00 – 1 3.30
|
Pengalaman Pengelolaan Relawan dalam Penanggulangan Bencana di Daerah Istimewa Yogyakarta |
|
|
1 3.30 – 14.00
|
Manajemen Relawan |
|
|
14.00 – 14.30
|
Pengalaman relawan dalam penanggulangan bencana |
|
|
14.30- 15.00
|
Pembahas: 1. dr. Arida Oetami, M.Kes (Dinas Kesehatan DIY) 2. Fery Ardianto (SAR DIY) 3. Enaryaka, S.Kep., Ns (BPBD DIY) |
|
|
15.00 – 15.20 |
Diskusi |
|
|
1 5 . 20 – 15.40 |
Kesimpulan dan Penutup |
dr. Handoyo Pramusinto , Sp . BS (K) |
Peserta :
Yang menjadi sasaran pada kegiatan ini adalah :
- Pemerintah Provinsi, Kabupaten/kota: BAPPEDA, Dinsosnakertrans, Linmas dan BPK
- Dinas Kesehatan Provinsi, Kabupaten/ Kota
- Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta
- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)
- Lembaga Sosial Masyarakat
- TNI POLRI
- BMKG
- Pusat Study Bencana
- LSM Kemanusiaan, Relawan
- Dosen dan Peneliti Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kesehatan Masyarakat
- Mahasiswa S1, S2, dan S3
- Umum
Pendaftaran:
Biaya pendaftaran adalah: Rp 250.000,-/orang
Fasilitas: Paket meeting, Sertifikat, seminar kit
Biaya dapat ditransfer melalui :
Bank BNI atas nama : PKMK FK UGM
No. Rekening : 0203024192
Hendriana Anggi / Dewi Catur
Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Gedung IKM (sayap utara) Lt. 2
Fakultas Kedokteran UGM
Jl. Farmako Sekip Utara Yogyakarta 55281
Telp : 0274 – 549425
HP : 081227938882/ Anggi, 0818263653/dewi
Email : [email protected]/[email protected]
Web : www.kebijakankesehatanindonesia.net/www.bencana-kesehatan.net
Standar Teknis Penanganan Pengungsi Kelud Masih Digodok

BLITAR – Standar prosedur (SOP) penanganan pengungsi bencana Gunung Kelud masih dalam penggodokan. Salah satu bagian dari SOP tersebut adalah penggunaan 10 cluster (kelompok) petugas penanganan bencana yang dibentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di masing-masing kabupaten. Gunung Kelud sendiri berada di Kabupaten Blitar, Kediri, serta Malang.
Peningkatan 19 Status Gunung Api, Sinyal Siaga Bagi semua Daerah
Peningkatan 19 Status Gunung Api, Sinyal Siaga Bagi semua Daerah
Minggu lalu kita telah membahas mengenai kerugian bencana dari sisi ekonomi. Tidak dapat dielakkan lagi bahwa dampak bencana alam dan perubahan iklim berdampak pada semua sektor. Maka, kita perlu melakukan perencanaan dan penanggulangan bersama. Awal minggu ini kita dikejutkan dengan berita terkait meningkatnya 19 status gunung api di beberapa tempat, padahal bencana hidrometeorologi masih terus terjadi. Tiga gunung api diantaranya malah berstatus siaga dan menimbulkan korban seperti Gunung Sinabung.
Di lain sisi, kegagapan penanggulangan bencana ternyata tidak hanya dirasakan oleh masyarakat melainkan juga terlihat pada pemerintah. Contohnya seperti penanganan relawan yang menjadi korban di Gunung Sinabung sampai terlambatnya pencairan dana bencana di Kabupaten Kudus. Keterlambatan ini disebabkan oleh pemerintah lebih terfokus pada penanganan korban sehingga lupa untuk menerbitkan surat keputusan tanggap darurat. Jika pemerintah siap sebelumnya, tentu hal seperti ini tidak akan terjadi. Baca selengkapnya ![]()
Nusantara Rata dengan Bencana: Apa saja kerugiannya? Berapa Biayanya?
Nusantara Rata dengan Bencana: Apa saja kerugiannya? Berapa Biayanya?
Menarik menyimak pendapat budayawan mengenai banjir Jakarta pada salah satu stasiun televisi pada Senin (27/01/14), “Nama-nama daerah di Jakarta sebenarnya menunjukkan gambaran alam sekitarnya, seperti Rawamangun dan lainnya. Jadi sebenarnya nenek moyang sudah mengajarkan kepada kita untuk hidup selaras dengan alam bukan menaklukkan alam. Nah, kegiatan kita selama ini kan menaklukan alam dengan pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan. Akibatnya ya alam balik menyerang kita dengan bencana.” kurang lebih begitu kutipannya.
Alam Indonesia memang mengalami pengrusakan, ditambah dengan dampak posisi negara kita yang rentan dengan perubahan iklim dunia, maka jadilah bencana terjadi di mana-mana di wilayah Indonesia sepanjang tahun. Namun, upaya adaptasi, mitigasi, dan kesiapsiagaan bancana minim kita rasakan. Seperti kejadian gempa Kebumen (25/01/14), masyarakat masih saja kalut dan keluar rumah atau tempat umum berdesak-desakan.
Dilihat dari dana upaya adaptasi, mitigasi, dan kesiapsiagaan bencana pun kurang. Anggaran penanggulangan bencana setiap tahunnya berkisar 1 triliun rupiah. Coba bandingkan dengan taksiran kerugian beberapa bencana nasional: Tsunami Aceh 39 Triliun, gempa Yogyakarta dan Jawa Tengah 27 Triliun, banjir Jakarta 4,8 Triliun, gempa Padang 21,6 Triliun, dan Erupsi Merapi 3,65 Triliun. Kita bandingkan lagi dengan biaya tanggap darurat bencana yang terjadi bulan ini: Manado 5 Milyar, Sinabung untuk pemulihan pertanian sebesar 63,5 Milyar, DKI Jakarta untuk penanganan banjir 3,5 Triliun, dan bencana banjir Pantura 800 Juta rupiah (sumber kompas, 25/01/14).
Untuk itulah pada Kongres Perdana Indonesia Health Economics Association (InaHEA) 24-25 januari 2014, Divisi Bencana PKMK memberikan presentasi paper di sesi panel hari kedua pukul 15.00 -17.00 WIB. Presentasi ini menyajikan tentang pengukuran biaya kesiapsiagaan bencana melalui kegiatan simulasi. Paper ini bertujuan memberikan rekomendasi biaya kesiapsiagaan bencana bagi daerah dalam penanggulangan bencana dan keutamaan simulasi yang dapat memperbaiki kekacauan koordinasi penanggulangan bencana. Pembaca dapat menyimak reportase kegiatan ini pada link berikut klik di sini.
Minggu ini beberapa artikel menyajikan beberapa cara mengukur bencana dari sisi ekonomi seperti:
Adaptation Investment: A Resource Allocation Framework ![]()
Assesing the Macroeconomic Impacts of natural Disaster: Are There Any? ![]()