Tanda Bahaya, Kematian di Jakarta Meningkat Amat Tinggi

Jakarta – Angka kematian akibat COVID-19 di DKI Jakarta terus meningkat. Menurut Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, hal ini merupakan tanda bahaya.

Anies mulanya menyampaikan bahwa pada hari kemarin, Sabtu (3/7), jumlah pemakaman dengan protokol COVID-19 memecahkan rekor sebelumnya. Ada 392 orang yang dimakamkan dengan protokol COVID-19.

“Hari kemarin angka pelayanan pemakaman protokol COVID mencapai rekornya, 392 pemakaman dilakukan,” ujar Anies, di Pos Penyekatan Jalan Raya Bogor, Jakarta Timur, Minggu (4/7/2021).

Menurut Anies, hal itu menunjukkan kasus kematian di DKI Jakarta meningkat tajam. Anies pun menekankan peningkatan yang terus menerus ini merupakan tanda bahaya.

“Tapi menambah liang kubur, menambah jumlah orang yang dimakamkan ini adalah sebuah tanda bahaya bagi semuanya. Bahwa jumlah kematian di Jakarta sudah meningkat amat tinggi,” ucap Anies.

Eks Mendikbud itu memaparkan, pada awal bulan Juni, angka kematian masih di bawah 20 orang setiap harinya. Namun kini, dalam satu minggu terakhir, angka kematian sudah mencapai angka 300-an.

“(Kematian dalam) satu minggu terakhir di atas 250, 304, 301, 362, 392 orang. Ini adalah orang-orang yang dua minggu sebelumnya masih sehat,” kata dia.

Karena itu, Anies meminta masyarakat untuk tetap di rumah. Dia mengatakan, angka kematian yang terus meningkat setiap harinya bukanlah hal yang patut dibanggakan.

“Kita tidak ingin menguburkan lebih banyak lagi saudara-saudara kita. Kita ingin yang di Rumah Sakit bisa pulang ke rumah, yang sekarang tidak terpapar jangan sampai terpapar,” ucapnya.

“Caranya sederhana jauhi kerumunan jauhi berpergian, tinggal di rumah sampai kondisi aman terkendali itu saja,” kata Anies.

sumber: detik.com

Penyekatan PPKM Darurat Dinilai Tak Efektif Bila Kantor Masih Buka

Jakarta – Pihak kepolisian melakukan penyekatan di sejumlah titik di Jakarta dan sekitarnya demi meminimalisir kerumunan selama PPKM darurat. Pengamat Kebijakan Publik Agus Pambagio menilai penyekatan tak bakal efektif bila perkantoran masih buka.

“Iya (penyekatan tidak bakal efektif selama) tempat perkantoran, tempat bekerja kan biasanya (masih buka). Tapi saya belum mendata ya,” jelas Agus ketika dihubungi detikcom, Minggu (4/7/2021). Agus menjawab pertanyaan wartawan apakah penyekatan tidak bakal efektif bila perkantoran dan sejumlah tempat usaha masih buka.

Agus menduga PPKM darurat yang diusulkan oleh Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan adalah warga dilarang berkeliaran di jalan. Namun, pemerintah, lanjut Agus, juga perlu memenuhi kebutuhan pokok warga selama pembatasan seperti yang dilakukan oleh pemerintah Wuhan, Italia, hingga Spanyol.”Situasi sudah sangat gawat sehingga harus dibatasi, nah orang juga kalau tidak perlu ya tidak usah keluar (rumah). Saya yang masih mempertanyakan, kan masih adanya pabrik masih buka, tapi saya belum ngecek sih, sehingga orang masih masuk kerja itu yang menjadi persoalan,” imbuh Agus.

“Seharusnya tempat-tempat kegiatan yang diharuskan tutup, selain esensial, itu sudah tidak buka, artinya pekerjanya tidak banyak (kena) sekat. Kita mau sembuh atau tidak? supaya orang tidak berkerumun, betul itu (ada penyekatan),” lanjutnya.

Agus mengingatkan warga akan ancaman pidana KUHP bila melanggar PPKM darurat. Agus menyebut bila hari ini, masih banyak pengendara di jalanan, artinya masih banyak perkantoran yang buka dan tidak menerapkan work from home (WFH).

“Tapi kalau besok (hari ini) itu masih ramai artinya masih banyak tempat usaha yang tidak mengikuti perintahnya pemerintah, karena ini harus tutup semua kita lihat besok (hari ini) nanti banyak antre apa tidak. Kalau banyak antre ya masih banyak tempat-tempat bekerja yang yang tetap buka artinya ada pelanggaran,” terangnya.

Diketahui, terdapat 63 titik yang diawasi Polda Metro Jaya selama PPKM darurat. Aparat gabungan dari Polri, TNI, Dishub, dan Satpol PP terlibat berjaga di pos-pos penyekatan.

Akibatnya terjadi antrean panjang di sejumlah pos penyekatan, salah satunya Kalimalang, Jakarta Timur. Pengendara yang kesal akibat lama mengantre, mereka pun bersahut-sahutan membunyikan klakson.

(isa/imk)

Siaga 24 Jam, Berikut Titik Penyekatan di Jawa Tengah Selama PPKM Darurat

SOLO – Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat berlangsung 3 hingga 20 Juli 2021 mendatang. Pada periode itu Polda Jawa Tengah siap melakukan penyekatan di sejumlah wilayah selama 24 jam.

Masyarakat yang melintas diwajibkan untuk menunjukkan hasil negatif Covid-19, baik tes swab Antigen yang berlaku 1×24 jam atau tes usap PCR yang berlaku 2×24 jam.

“Masyarakat (pelintas) wajib lengkapi surat hasil tes negatif dari swab antigen atau PCR. Akan kami cek di perbatasan apabila tidak sesuai akan kami tolak,” kata Direktur Lalu Lintas Kepolisian Daerah Jawa Tengah Kombes Pol Rudy Syafirudin Rudy Syafirudin kepada wartawan, Sabtu (3/7/2021).

Sementara itu, berdasarkan Surat Edaran Menteri Perhubungan Nomor SE 43/2021, SE 44/2021, SE 45/2021, dan SE 42/2021, pelaku perjalanan transportasi darat dari dan menuju Jawa serta Bali wajib menunjukkan hasil negatif Covid-19 dan sertifikat vaksin minimal dosis pertama.

1. Kota Semarang : Kawasan Simpang Lima

2. Kabupaten Semarang : Rest Area KM 429

3. Kota Salatiga : Exit Tol Tingkir

4. Demak : Jalan Demak-Kudus Desa Bolo, Demak Kota, KM 30

5. Kendal : Pos Polisi Pantes

6. Brebes : Pos Terminal Kecipir, Rest Area KM 252A, dan Rest Area KM 260

7. Tegal : Exit Tol Adiwerna

8. Tegal Kota : Terminal Tegal

9. Pekalongan : Pos Polisi Sipait Siwalan

10. Pekalongan Kota : Exit Tol Setono

11. Pemalang : Exit Tol Gandulan

12. Batang : Gedung PSC 119

13. Pati : Jalan Pati – Kudus KM 7 (Depan PT Dua Kelinci).

14. Jepara : Pos Gotri Jalan Raya Kudus-Jepara KM 2

15. Kudus : Lingkar Selatan KM 1

16. Rembang : Jalan Pemuda, Jalan Kartini, Jalan Pangeran Diponergoro, Jalan Sudirman

17. Blora : Perbatasan Blora – Grobogan di Biyandono.

18. Boyolali : Rest Area B Banyudono

19. Surakarta : Cek point Saroka

20. Karanganyar : Perbatasan Karanganyar Magetan : Cemara Kandang (Tawangmangu)

21. Klaten : Jalan Raya Solo-Jogja Pos Mitra Karang Delanggu dan Pos Prambanan

22. Sragen : Exit Tol Pugkruk

23. Sukoharjo : Pos Lantas Kartasura

24. Wonogiri : Jalan Jenderal Sudirman KM 1

25. Wonosobo : Pasar Kretek Wonosobo, Simpang Empat Kretek

26. Temanggung : Depan pos patwal

27. Magelang : Salam ( Perbatasan Magelang-DIY)

28. Magelang Kota : Pos Trio

29. Purworejo : Desa Bojong Rejo, Kecamatan Banyuurip

30. Kebumen : Pos Lalu Lintas Gombong

31. Banyumas : Pos Pasar Wage dan Simpang Ajibarang

32. Cilacap : Pos Sampang (Perbatasan Banyumas-Cilacap)

33. Purbalingga : Pos lantas Jompo

34. Banjarnegara : Pos Polisi Alafamidi, dan di Jalan S. Parman.

35. Grobogan : Jatipohon (Grobogan-Pati), Godong ( Grobogan-Demak), dan Klambu (Grobogan-Kudus). 

sumber: kompastv

Pelatihan Pertolongan Pertama saat Bencana terhadap Staf Medis, non Medis dan Masyarakat Terlatih di Wilayah Puskesmas

logo caritas

logo caritas

Pelatihan Pertolongan Pertama saat Bencana terhadap Staf Medis, non Medis dan Masyarakat Terlatih di Wilayah Puskesmas

 

{tab title=” Kerangka Acuan Kegiatan” class=”orange”}

Latar Belakang

PKMK FK – KMK UGM bekerja sama dengan Caritas Germany melakukan program perluasan peningkatan kapasitas masyarakat melalui penguatan sistem dan pemberdayaan dalam menghadapi bencana dan krisis kesehatan di Sulawesi Tengah. Fasilitas kesehatan yang menjadi sasaran antara lain Dinkes Provinsi Sulawesi Tengah, Dinkes Kabupaten Donggala, RS Kabelota, RS di Kota Palu, Puskesmas Sangurara dan Puskesmas Tompe. Dalam pelaksanaan program ini PKMK FK – KMK UGM akan tetap melibatkan Dinkes Provinsi Sulawesi Tengah dan universitas lokal (Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tadulako serta Fakultas Kedokteran Universitas Al-Khairat).

Seminggu pertama pasca gempa Sulawesi Tengah pada September 2018 lalu, puskesmas mengalami kekacauan. Banyak tenaga kesehatan juga sebagai korban sehingga pelayanan kesehatan tidak dapat diberikan secara optimal. Korban bencana tidak hanya mendapatkan perawatan medis namun juga mendapatkan perawatan non medis. Tenaga medis dan tenaga non medis bekerja sama untuk menangani pasien dan keluarga pasien. Pada saat bencana terjadi tenaga non medis harus mampu melakukan pertolongan pertama pada korban karena puskesmas pasti menerima pasien dalam jumlah besar. Manajemen penanganan bencana harus berbasis masyarakat karena pada dasarnya pada saat bencana terjadi yang dilakukan adalah menyelamatkan diri sendiri. Dengan demikian, masyarakat yang tinggal di wilayah kerja Puskesmas Sangurara khususnya terlatih atau kader kesehatan puskesmas perlu mengetahui bagaimana penanganan bencana dalam sektor kesehatan.

Pandemi COVID-19 menuntut semua pihak yang terlibat untuk siap respon. Pada prinsipnya konsep penanganan bencana non alam seperti pandemik virus sama dengan bencana alam, yang berbeda adalah sifat agen kausatifnya. Pelatihan ini akan menyajikan pengetahuan dasar terkait pertolongan pertama untuk tenaga medis, non medis dan kader kesehatan. Materi pelatihan tentang pertolongan pertama dengan bantuan hidup dasar, manajemen cidera dan trauma, dan pelatihan pertolongan pertama dengan perlengkapan rumah. Pelatihan ini juga menggunakan manekin, perlengkapan bidai, dan perlengkapan sehari – hari/rumah tangga seperti sandal jepit, kain lap, selimut, dan lain – lain.

 

Tujuan

Kegiatan ini bertujuan untuk menguatkan dan meningkatkan kapasitas masyarakat/kader terlatih dan staf non medis yang ada di puskesmas dalam menghadapi situasi bencana/krisis kesehatan terutama dalam situasi pandemi.

 

Proses Kegiatan

Kegiatan ini akan dilakukan selama 2 (dua) hari yaitu pada hari I adalah penyampaian materi dan hari II adalah praktek atau skill station. Kegiatan ini akan dilakukan secara luring dalam bentuk pengajaran, pelatihan hands-on PPGD awam khusus dan praktek Dasar Penyelamatan Diri

 

Peserta Kegiatan

Peserta kegiatan ini sekitar 20 – 30 orang yaitu terdiri dari tenaga medis (dokter, perawat); non-medis; dan masyarakat terlatih/kader kesehatan

 

Output Kegiatan

Peserta mendapatkan pengetahuan terkait pertolongan pertama saat bencana dan dapat terlibat langsung dalam penguatan sistem manajemen penanggulangan bencana di Puskesmas

 

Waktu Pelaksanaan

1. Puskesmas Tompe

Hari, tanggal  : Jumat – Sabtu, 18 – 19 Juni 2021
Pukul            : 09.00 – 14.00 WITA
Tempat         : Puskesmas Tompe

 

2. Puskesmas Sangurara

Hari, tanggal  : Senin – Selasa, 21 – 22 Juni 2021
Pukul            : 09.00 – 14.00 WITA
Tempat         : Puskesmas Sangurara

 

Narasumber, Instruktur dan Fasilitator

  1. dr. Ali Haedar,SpEM,FAHA
  2. Sutono, S.Kp, M.Sc, M.Kep
  3. Dr. Surianto, S.Kep, Ns, MPH
  4. HIPGABI Sulawesi Tengah
  5. Happy R Pangaribuan, MPH (fasilitator)

 

Penutup

Demikian kerangka acuan pertolongan pertama saat bencana pada tenaga medis, non medis dan kader kesehatan wilayah kerja puskesmas. Pelatihan ini bermanfaat bagi puskesmas untuk kesiapsiagaan dan pengembangan penanganan bencana dan krisis kesehatan. Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK – KMK UGM sebagai penyelenggara program akan berkomitmen demi tercapainya tujuan program dan Caritas Germany sebagai mitra penyelenggara program akan mendapatkan laporan rutin terkait keberlangsungan program.

 

{tab title=”Reportase” class=”blue”}

Pelatihan ini bertujuan untuk menguatkan dan meningkatkan kapasitas masyarakat/ kader terlatih dan staf non medis yang ada di puskesmas dalam menghadapi situasi bencana/krisis kesehatan terutama dalam situasi pandemi. Kegiatan dilaksanakan pada 18 – 19 Juni di Puskesmas Tompe dan pada 21 – 22 Juni di Puskesmas Sangurara. Kegiatan dilaksanakan secara luring dalam bentuk pengajaran, pelatihan hands-on PPGD awam khusus dan praktek Dasar Penyelamatan Diri. Peserta yang mengikuti adalah tenaga medis, tenaga non medis dan masyarakat awan terlatih (kader kesehatan) dari Puskesmas Tompe sebanyak 29 orang dan dari Puskesmas Sangurara 24 orang.

Dalam pelaksaan program ini, PKMK FK – KMK UGM mengundang ahli emergency medicine dari FK Universitas Brawijaya dan tim dari Pusat Himpunan Perawat Gawat Darurat Bencana (HIPGABI) Sulawesi Tengah sebagai narasumber dan intruktur.Selama pelatihan terdapat 9 materi yang disampaikan oleh narasumber yaitu (1) dr. Ali Haedar, SpEM, FAHA menyampaikan materi Introduction to the EMS System, materi CPR dan Sirkulasi, materi Penilaian Pasien; (2) Sukrang, S.Kep.,NS.,M.Kep menyampaikan materi Etika Pertolongan dan Tata Laksana Tempat Kejadian, materi Cedera pada Otot dan Tulang; (3) Dr. Surianto, S.Kep, Ns, MPH menyampaikan materi Evakuasi Mengangkat dan Memindahkan Korban, materi Supplemental Skill (4) Sutono, S.Kp, M.Sc, M.Kep menyampaikan materi Airway Care and Rescue Breathing, materi Pendarahan dan Syok. Peserta juga melakukan praktek langsung terkait dengan materi tersebut.

EMS1

Dok. PKMK FK – KMK UGM “Perkenalan Emergency Medical System oleh dr. Ali Haedar,SpEM,FAHA di Puskesmas Tompe (kiri) dan Puskesmas Sangurara (kanan)

Pada sesi perkenalan Emergency Medical System (EMS) disampaikan beberapa keterampilan trauma untuk first responder adalah kontrol jalan napas, kontrol pendarahan luar, menangani syok dan menangani luka serta bidai cedera untuk menstabilkan ekstremitas. First responder berperan untuk merespon segera dan tentunya melindungi diri sendiri. Pengawasan medis dilakukan oelh medical director, secara langsung dokter berhubungan dengan petugas EMS pra-rumah sakit, biasanya melalui radio dua arah atau telepon seluler. Secara tidak langsung dokter mengarahkan kursus pelatihan, membantu menetapkan kebijakan medis dan memastikan mutu sistem EMS.

 EMS2

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Praktek mengangkat dan memindahkan pasien di Puskesmas Tompe (kiri) dan Puskesmas Sangurara (kanan)

Prinsip Etika Pertolongan dan Tata Laksana Tempat Kejadian, tenaga kesehatan memberikan pertolongan sesuai dengan standar perilaku professional. Hal yang perlu diperhatikan juga adalah persetujuan untuk perawatan dan kerahasiaan informasi pasien. Pasien dipindahkan hanya jika diperlukan, jangan membahayakan pasien lebih lanjut. Metode mengangkat dan memindahkan pasien dengan clothes drag pada pasien jantung, blanket drag, arm to arm drag, firefighter drag, two person extremity carry, two person seat carry, two-person chair carry dan pack-strap carry. Membebaskan jalan napas yang tersumbat dengan menggunakan sapuan jari, terlebih dahulu membalikkan pasien ke samping kemudian memasukkan jari ke dalam mulut membentuk C dan menyapukan dari satu sisi belakang mulut ke sisi lainnya, Membebaskan jalan nafas juga bisa menggunakan suctioning. Peserta melakukan praktek bagaimana memindahkan korban dengan berbagai metode dan bagaimana membebaskan jalan napas dengan menggunakan jari dan suctioning.

EMS3

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Praktek CPR di Puskesmas Tompe (kiri) dan Puskesmas Sangurara (kanan)

Hal pertama yang dilakukan untuk menilai pasien adalah scene size up (menggambarkan keadaan korban dan situasinya) setekah sudah mendapatkan gambaran, dilakukan penilaian awal misalnya apakah ada pendarahan. Pasien diperiksa dari ujung kepala sampai ujung kaki dan mendapatkan sampel. Pada penilaian awal dilakukan nilai kesan umum dan respon pasien, memeriksa jalan napas dan sirkulasi. CPR harus dimulai pada pasien tanpa nadi, kecuali jika kepala terputus, kaku mayat, pembusukan tubuh dan lebam mayat tidak perlu dilakukan CPR. CPR dihentikan ketika denyut nadi pasien kembali. Pada sesi praktek peserta melakukan latihan keterampilan CPR dewasa dan CPR bayi. Peserta dibagi menjadi 4 kelompok didampingi oleh 4 instruktur.

Ketika terjadi pendarahan prinsip perawatan luka yang diberikan adalah kontrol pendarahan, mencegah kontaminasi lebih lanjut dari luka. Syok terjadi karena kolapsnya sistem kardiovaskular, keadaan dimana pengiriman darah yang tidak memadai ke organ-organ. Hal ini dapat terjadi karena kegagalan pompa, kegagalan pipa dan kehilangan cairan. Pertolongan yang dilakukan pada korban cedera otot dan tulang, salah satunya dengan melakukan pembidaian. Pada proses pembidaian ada penilaian anggota gerak, menutup semua luka terbuka dengan perban dan imobilisasi sendi di atas dan di bawah cedera. Pada materi keterampilan tambahan, disampaikan bagaimana mengukur tekanan darah dan memberikan oksigen. Peserta kembali dibagi menjadi 4 kelompok untuk praktek melakukan pembidaian dan memberikan oksigen.

Penutup

Secara keseluruhan kegiatan ini berjalan dengan baik, peserta sangat antusias memberikan pertanyaan pada sesi diskusi. Penanganan pertolongan pertama memang dibutuhkan peserta karena di wilayah kerja mereka sering terjadi kecelakaan dan juga kasus tenggelam. narasumber juga menyarakan supaya puskesmas melengkapi beberapa alat yang harus ada di puskesmas misalnya Automated External Defibrillation (AED) karena Puskesmas Tompe dan Puskesmas Sangurara adalah puskesmas rawat inap.

 

Reporter : Happy R Pangaribuan

Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM

{/tabs}

Probolinggo Siapkan Desa Tangguh Bencana

Jatim Newsroom – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo memberikan sosialisasi dan membentuk Desa Tangguh Bencana (Destana) di Desa Gending Kecamatan Gending, Rabu (30/06). Pembentukan Destana ini diawali dengan sosialisasi yang dilaksanakan di Balai Desa Gending Kecamatan Gending.

Kegiatan ini diikuti oleh 30 orang peserta dari perangkat desa dan masyarakat yang ada di Desa Gending dengan menghadirkan narasumber dari Fasilitator Daerah (Fasda) BPBD Provinsi Jawa Timur. Selain di Desa Gending Kecamatan Gending, kegiatan serupa juga dilaksanakan di Desa Pajurangan Kecamatan Gending serta Desa Guyangan, Bermi dan Watupanjang Kecamatan Krucil.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo Rachmad Waluyo melalui Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan Zaenal Ansori mengatakan pemilihan desa untuk dibentuk Destana ini dilakukan dengan melihat potensi yang ada di suatu desa.

“Untuk Desa Gending kami pilih karena disini dalam pemberitaan sering terjadi banjir rob. Kebetulan pihak desa sanggup untuk membentuk relawan desa tangguh bencana. Kesanggupan dari relawan dan pemerintah desa ini yang utama. Kalau tidak ada respon dari masyarakat kita menyuruh saja tentu tidak akan bisa akan terbentuk karena ini sifatnya relawan,” katanya.

Menurut Zaenal, kegiatan ini bertujuan untuk membentuk Destana yang memiliki kemampuan mandiri untuk beradaptasi dan mampu menghadapi potensi ancaman yang ada di daerah tersebut.

“Masyarakat sudah tahu kalau musim hujan banjir dan sebagainya. Jadi masyarakat mampu mengatasi menghadapi potensi ancaman yang ada. Kemudian beradaptasi dengan kejadian bencana seperti yang ada di Desa Dringu. Dimana masyarakat sudah membuat tanggul-tanggul saat banjir,” jelasnya.

Tidak kalah pentingnya jelas Zaenal adalah memulihkan kembali kondisi setelah terjadi bencana, terutama kalau ada faktor psikologis anak-anak dan sebagainya. “Misalnya kalau pernah terjadi gempa, begitu ada getaran sedikit anak-anak sudah takut. Mungkin disini kalau ada air pasang sedikit dikiranya banjir. Oleh karena itu dampak psikologisnya harus dipulihkan,” tegasnya.

Lebih lanjut Zaenal menegaskan hingga saat ini sudah ada 45 desa dan kelurahan yang sudah membentuk Desa dan Kelurahan Tangguh Bencana. Disamping BPBD Kabupaten Probolinggo, pembentukan Destana ini juga dilakukan oleh BPBD Provinsi Jawa Timur.

“Selain itu, potensi bencana di luar alam ada pada perusahaan seperti kebocoran gas, kebocoran saat terjadi bencana seperti yang sudah disimulasikan di PJB Paiton. Kita sudah berkoordinasi dengan perusahaan jika terjadi bencana di luar alam supaya perusahaan bisa mengantisipasinya,” pungkasnya.(pno)

sumber:  http://kominfo.jatimprov.go.id/

Palang Merah Internasional: Indonesia di Ambang Bencana Covid-19 Varian Delta

JAKARTA, KOMPAS.com – Palang Merah Internasional mengatakan Indonesia sedang berada di jurang “bencana” dengan menyebarnya Covid-19 varian Delta yang menyebar dan sistem layanan kesehatan Indonesia kewalahan.

Dalam sepekan terakhir, angka kasus harian Covid-19 Indonesia telah menembus angka 20 ribu setelah tradisi mudik warga untuk merayakan Lebaran .

“Setiap hari varian Delta ini mendekatkan Indonesia ke jurang bencana Covid-19,” kata Jan Gelfand, kepala delegasi Indonesia di Palang Merah Internasional dan Bulan Sabit Merah Indonesia (IFRC), seperti yang dilansir dari ABC Indonesia pada Rabu (30/6/2021).

Meningkatnya jumlah penularan turut mempengaruhi juga harga tabung oksigen yang meningkat dua kali lipat di Jakarta.

Beberapa pemasok melaporkan tidak adanya lagi persediaan tabung oksigen pada Selasa (29/6/2021).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.

Dengan semakin penuhnya rumah sakit di Jakarta, banyak pasien tidak bisa lagi ditampung, sehingga warga harus mencari sendiri tabung oksigen untuk sanak keluarga yang menjalani isolasi mandiri di rumah.

Pemasok mengatakan harga tabung oksigen sekarang naik menjadi sekitar Rp 2 juta, dari biasanya sekitar Rp 700 ribu.

“Saya sekarang harus mengantre untuk memberikan oksigen kepada istri dan anak saya yang sekarang positif Covid-19,” kata Taufik Hidayat.

“Saya pergi ke beberapa tempat dan semuanya habis,” ujar Taufik.

Beberapa penjual di sekitar Jakarta mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa persediaan oksigen mereka juga sangat berkurang.

Namun, Sulung Mulia Putra, seorang pejabat di Departemen Kesehatan DKI mengatakan kurangnya oksigen di rumah sakit hanya bersifat sementara karena masalah pada distribusi.

“Distributor tidak memiliki alat transportasi yang cukup sehingga rumah sakit akan dibantu oleh polisi, Palang Merah dan Dinas Pertamanan dan Hutan Kota untuk pengiriman oksigen,” kata Sulung.

Hampir semua ranjang di rumah sakit sudah terisi

Rumah sakit di beberapa kawasan yang masuk dalam zona merah dilaporkan sudah melebihi kapasitas termasuk di Jakarta, dengan ranjang untuk pasien Covid-19 sudah terisi 93 persen sampai Minggu (27/6/2021).

“Rumah sakit penuh karena meningkatnya kasus yang disebabkan pergerakan warga dan juga ketidakpastian terhadap protokol kesehatan dan juga diperburuk dengan adanya varian Delta,” kata juru bicara Departemen Kesehatan Siti Nadia Tarmizi ketika ditanya soal pernyataan IFRC.

Indonesia berharap peningkatan jumlah warga yang divaksinasi dapat menekan jumlah kasus yang sebagian besar disebabkan oleh varian Delta.

Sejauh ini baru 13,3 juta warga Indonesia dari sekitar 181,5 juta warga dewasa yang sudah mendapatkan dua dosis dalam program vaksinasi yang dimulai bulan Januari.

BNPB: Industri Pariwisata Rentan Terhadap Bencana jika Tak Dikelola dengan Baik

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Raditya Jati mengatakan sektor pariwisata sangat rentan ketika bencana alam dan nonalam terjadi.

Bencana tercatat telah berdampak pada ekosistem pariwisata hingga triliunan rupiah pada rentang waktu 2010 hingga 2020.

“Industri pariwisata sangat rentan terhadap bencana, apabila tidak dikelola dengan baik. Dampaknya akan mempengaruhi ekosistem pariwisata dan pencapaian target kinerja parwisata yang ditetapkan dalam RPJMN,” ujar Raditya dalam diskusi daring pengelolaan risiko Kawasan Strategi Pariwisata Nasional (KSPN), Rabu (30/6).

Dirinya mengungkapkan akibat bencana erupsi Gunung Agung di Bali, kerugian yang diterima hingga Rp11 triliun di sektor pariwisata.

Demikian juga gempa Lombok pada 2018 lalu, kerugian mencapai Rp1,4 triliun. Serta tsunami Selat Sunda yang mengakibatkan kerugian sektor pariwisata hingga miliaran rupiah.

Menurutnya, pengelolaan risiko di kawasan super prioritas pariwisata dibutuhkan perencanaan yang bersinergi, baik di tingkat nasional dan daerah.

“Industri pariwisata memerlukan pengelolaan khusus terkait dengan bencana yang dipicu oleh faktor alam dan nonalam, salah satunya adalah dengan menyusun Rencana Penanggulangan Bencana,” jelas Raditya.

BNPB telah melakukan kajian risiko bencana di tiga kawasan super prioritas pada 2020 lalu, yaitu di Danau Toba, Likupang dan Candi Borobudur.

Pada tahun ini, BNPB akan melanjutkan dengan total 5 destinasi wisata. BNPB mendorong penyusunan RPB di 5 KSPN wilayah Danau Toba, Likupang, Candi Borobudur, Tanjung Kelayang dan Bromo Tengger Semeru.

1.499 Bencana Melanda Indonesia Sepanjang 2021

Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 1.499 melanda Indonesia sejak 1 Januari hingga 30 Juni 2021. Jenis bencana terbanyak ialah hidrometeorologi, seperti banjir dan puting beliung.
 
Data BNPB menyebutkan 616 kasus banjir terjadi selama enam bulan terakhir. Puting beliung terjadi 417 kali dan dan tanah longsor 309 kejadian. Selain itu, ada 114 kebakaran hutan dan lahan (karhutla), 21 gelombang pasang dan abrasi, serta dua kekeringan.
 
“Berikutnya gempa bumi 20 kejadian, sedangkan erupsi gunung api nihil,” tulis data BNPB, Kamis, 1 Juli 2021.

Seluruh bencana ini mengakibatkan 495 orang meninggal dan 68 hilang. Sebanyak 5.391.502 orang mengungsi serta 12.862 luka-luka.
 
Bencana juga menyebabkan 127.557 rumah rusak. Detailnya, 14.963 rumah rusak berat, 22.957 rumah rusak sedang, dan 89.637 rumah rusak ringan.
 
“Selanjutnya kerusakan terjadi di fasilitas pendidikan 1.367 unit, fasilitas peribadatan 1.212 unit, fasilitas kesehatan 346 unit, 492 perkantoran, dan 286 jembatan,” tulis data tersebut.

Persepsi Risiko Geohidrologi: Studi Kasus di Calabria (Italia Selatan)

Persepsi risiko adalah proses kognitif yang bertujuan untuk memandu perilaku orang dalam aktivitas biasa untuk mengurangi dampak peristiwa ekstrem. Bahkan, analisis persepsi risiko dapat dianggap sebagai bagian dari strategi pengurangan risiko dan langkah – langkah adaptasi. Dalam makalah ini, persepsi risiko geo-hidrologi oleh penduduk yang tinggal atau bekerja di bentangan pantai Tyrrhenian Calabria (Italia Selatan) dianalisis. Daerah studi ini pernah terkena dampak peristiwa aliran puing-puing, dengan kerusakan fasilitas swasta dan publik, serta infrastruktur. Secara khusus, penelitian ini, berdasarkan survei kuesioner, mempertimbangkan: i) pengetahuan umum dan pengalaman pribadi dari fenomena geo-hidrologi; ii) kesadaran akan eksposur risiko; iii) informasi dan kesiapsiagaan terhadap risiko geo-hidrologi wilayah; iv) tingkat keamanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penduduk menganggap tindakan antropik sebagai penyebab yang relevan dari fenomena geo-hidrologi. Selain itu, warga wilayah studi, meskipun menunjukkan rasa kewarganegaraan yang tinggi, tidak menilai secara positif tindakan pemerintah daerah, baik dari segi pengelolaan wilayah maupun pendidikan dan/atau informasi masyarakat. Artikel ini dipubikasikan pada 2017 di International Journal of Disaster Risk Reduction.

Pengembangan Sistem Teknis Pelayanan Pre-Hospital PSC 119

logo caritas

logo caritas

 

Pengembangan Sistem Teknis Pelayanan Pre-Hospital

PSC 119

Sulawesi Tengah, Selasa-Kamis, 15-17 Juni 2021


{tab title=” Kerangka Acuan Kegiatan” class=”orange”}

 

Latar Belakang

Dinkes Provinsi Sulawesi Tengah telah membentuk Unit Pusat Pelayanan Kesehatan Terpadu (P2KT) sejak 2019. Unit tersebut berperan untuk mengembangkan dan menguatkan program – program bencana dan wabah yang bersinggungan dengan krisis kesehatan. Salah satu program yang dibentuk di unit tersebut adalah PSC 119 Dinkes Sulteng yang menjadi garda terdepan untuk menerima informasi kasus emergensi. Kecepatan dan ketepatan penanganan kasus emergensi tersebut tergantung pada kesiapan PSC 119 untuk mengambil tindakan respon yang tepat. PSC 119 masih dikatakan baru terbentuk di Dinkes Provinsi Sulteng. Berdasarkan pembelajaran dan pengalaman dari pelaksanaan Table Top Exercise (TTX) dokumen dinkes disaster plan pada Februari dan dilanjutkan dengan webinar pendampingan PSC pada Juni 2020, staf terdepan (penerima informasi dan triage) PSC 119 belum maksimal memahami apa yang menjadi peran mereka saat terjadi bencana. Menindaklanjuti hal ini, PKMK FK – KMK UGM perlu untuk melakukan peninjauan kembali SOP layanan pre hospitalapa saja yang harus disusun di PSC 119 UPT P2KT, dan diselesaikan serta disosialisasikan baik internal dan eksternal ke jejaring di Kabupaten Sigi, Kabupaten Donggala, dan Kota Palu. SOP seperti penerimaan telepon darurat, triage melalui telpon oleh tenaga non medis, menjemput, membawa, dan mencatat, termasuk menjadikan informasi pelaporan.

Ditambah lagi dengan kondisi sekarang, pandemi COVID-19 menuntut semua pihak yang terlibat khususnya PSC untuk siap respon. Pada prinsipnya konsep penanganan bencana non alam seperti pandemi virus sama dengan bencana alam, yang berbeda adalah sifat agen kausatifnya. Dalam hal ini tentu ada prosedur – prosedur khusus yang harus diketahui oleh PSC 119 dalam menerima dan meneruskan informasi dari pasien atau keluarga pasien. Dengan demikian penting dilakukan penguatan kapasitas dalam penanganan kasus emergensi bagi PSC 119, mulai dari penerimaan informasi, alur komunikasi, sistem koordinasi dan pengetahuan tentang kasus emergensi. Pelatihan teknis pelayanan pre hospital PSC 119 untuk petugas di ruangan dan tim ambulans tentang bagaimana mengangkat/menurunkan pasien, konsep mengendarai dan kecakapan tim ambulans, penyelamatan pasien kasus kedaruratan serta memahami sistem rujukan, sangat menentukan keselamatan pasien. Untuk itu dibutuhkan peningkatan keterampilan petugas PSC 119 khususnya petugas tim reaksi cepat yang terdiri dari tenaga medis dan non medis serta tim driver dan logistik. Masing – masing kabupetan kota diharapkan mengirim perwakilan untuk pelatihan ini.

Tujuan

Kegiatan ini bertujuan untuk menguatkan peran fungsi PSC 119 di Sulawesi Tengah dalam penanganan kasus emergensi mulai dari penerimaan informasi, alur komunikasi, sistem koordinasi dan pengetahuan tentang teknis pelayanan pre-hospital.

 

Proses Kegiatan

Kegiatan ini akan dilakukan secara workshop luring (offline) dalam bentuk pengajaran, simulasi komunikasi penerimaan informasi kasus emergensi, penentuan kasus/ triase korban saat menerima telepon, manajemen lokasi kejadian kegawatdaruratan, dan transportasi ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

 

Peserta Kegiatan

Peserta kegiatan ini adalah PSC 119 di Sulawesi Tengah, PSC mengirimkan peserta untuk mengikuti secara offline dari :

  • Bidang manajemen (sekretaris PSC, kasi di PSC atau kasie di dinkes yang membawahi PSC) 1 orang
  • Bidang operasional (tim PSC, dokter perawat dan yang terkait) 3 orang
  • Tenaga non medis (penerima informasi, driver dan lain – lain) 1 orang

NB :

Jika PSC atau dinkes belum mempunyai tim operasional PSC maka tim manajemen yang mengikuti bisa 2 – 3 orang, karena mereka yang akan membangun manajemen PSC.

 

Output Kegiatan

Peserta memahami teknis terkait manajemen penerimaan dan penanganan kasus emergensi, dan tambahan/ revisi SOP penerimaan.

 

Waktu dan Tempat Kegiatan

Waktu : Selasa-Kamis, 15-17 Juni 2021

Pukul : 09.00 – 15.00 WITA

Tempat : Aula FK-Alhairat (*sedang konfirmasi)

 

Narasumber dan Fasilitator

  • dr. Ali Haedar,SpEM,FAHA
  • Sutono, S.Kp, M.Sc, M.Kep
  • Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt
  • Happy R Pangaribuan, MPH (fasilitator)

 

Penutup

Demikian TOR Pengembangan Sistem Teknis Pelayanan Pre Hospital PSC 119 di Sulawesi Tengah. Kegiatan ini bermanfaat bagi dinas kesehatan untuk menguatkan peran dan fungsi PSC 119. Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK – KMK UGM sebagai penyelenggara program akan berkomitmen demi tercapainya tujuan program dan Caritas Germany sebagai mitra penyelenggara program akan mendapatkan laporan rutin terkait keberlangsungan program.

 

{tab title=”Reportase” class=”blue”}

psc191 1

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Peserta Pelatihan Sistem Teknis Pelayanan Pre-Hospital PSC 119”

Kegiatan ini bertujuan untuk menguatkan peran fungsi PSC 119 di Sulawesi Tengah dalam penanganan kasus emergensi mulai dari penerimaan informasi, alur komunikasi, sistem koordinasi dan pengetahuan tentang teknis pelayanan pre-hospital. Metode pelatihan dilakukan secara hybrid yaitu melalui offline dan online dengan jumlah peserta sebanyak 80 orang yang berasal dari :

  1. PSC 119 Dinkes Provinsi Sulawesi Tengah
  2. PSC 119 Paparimo Dinkes Kab. Tolitoli
  3. PSC 119 Dinkes Kab. Banggai
  4. PSC 119 Dinkes Kab. Sigi
  5. PSC 119 Malia Luwuk Kabupaten Banggai
  6. PSC 119 Dinkes Kab. Morowali Utara
  7. Dinas Kesehatan Parigi Moutong
  8. Dinas kesehatan kabupaten Morowali
  9. Puskesmas Batusuya Kab Donggala
  10. UPT Puskesmas Wosu, Bungku Barat, Kab.Morowali
  11. UPTD Puskesmas Talise Kota Palu
  12. Fakultas Kedokteran Univ. Alkhairaat
  13. RSU SIS Aldjufri

Kegiatan ini berlangsung selama 3 hari, narasumber menyampaikan 11 modul yang membahas konsep Emergency Medical System (EMS) dan bagaimana peran fungsi PSC dalam konsep EMS tersebut pada pengembangan sistem pelayanan pre hospital. Beberapa PSC yang mengikuti kegiatan ini masih baru dibentuk dan ada juga yang akan di – launching pada akhir tahun ini. Pelatihan ini masih tergolong baru bagi mereka dan dari pelatihan ini diketahui bahwa PSC 119 masih membutuhkan penguatan dan pendampingan bekerlanjutan untuk memaksimalkan operasional PSC 119.

Selasa, 15 Juni 2021

psc191 2

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Sesi Pembukaan dan Pengantar oleh Sekretaris Dinkes Prov.Sulteng”

Pertemuan pertama dimulai dengan assessment PSC 119 yang difasilitasi oleh Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt. Assessment ini untuk melihat sejauh mana PSC 119 sudah beroperasi dilihat dari alur komunikasi, SOP yang ada, fasilitas yang digunakan dan sistem koordinasi yang dijalankan. Dari hasil assessment yang disampaikan secara lisan oleh peserta, Gde Yulian mengaitkannya kepada SPGDT dan Sistem EMS di Indonesia. Hal yang menjadi kendala selama ini adalah belum ada satu sistem yang terintegrasi dalam operasional PSC 119, kerap sekali fungsi dan peran PSC salah dipahami oleh masyarakat dan staff dari PSC itu sendiri. Pada materi selanjutnya dr. Ali Haedar,SpEM,FAHA menekankan bahwa Peran Public Safety Center (PSC) merupakan ujung tombak Sistem EMS di Indonesia. EMS sebagai layanan medis darurat dan dikenal sebagai layanan ambulans adalah layanan darurat yang menangani masalah medis dan trauma yang memerlukan respon segera dnegan menyediakan perawatan di luar rumah sakit dan transportasi ke perawatan definitif.

Apakah pasien yang datang ke 119 semua harus ditangani? Konsep layanan ambulan tidak hanya pada pasien yang tepat tetapi juga tempat dan waktu yang tepat. Pasien yang dibawa pada waktu dan tempat yang tepat akan mengurangi angka kematian. Layanan EMS pada pre hospital melakukan pelayanan perawatan di lingkungan masyarakat, selama transportasi (akses ke fasilitas kesehatan) dan saat kedatangan di fasilitas kesehatan penerima. Harapannya ambulans base – nya di PSC. Terdapat 15 komponen esensial sistem EMS. Sutono, S.Kp, M.Sc,M.Kep menyampaikan bagaimana Standar Ambulan (Operasi dan Keselamatan). Peserta juga bersama – sama melihat apakah ambulans yang digunakan selama ini sudah memenuhi standar pelayanan PSC 119.

Rabu, 16 Juni 2021

psc191 3

Dok. PKMK FK-KMK UGM” Penyampaian Materi Mass Casualty Incident dan Triase Pre Hospital oleh dr. Ali Haedar,SpEM,FAHA

Pertemuan hari kedua peserta mendapatkan materi tentang Mass Casualty Incident (MCI) and Triase Pre Hospital oleh dr. Ali Haedar, SpEM,FAHA; Communication to Medical Director oleh Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt; Inter-Facility Transfer oleh Sutono, S.Kp, M.Sc,M.Kep. Di sela – sela penyampaian materi, peserta juga aktif memberikan pertanyaan dan dilakukan simulai langsung dalam bentuk skenario. dr. Ali Haedar,SpEM,FAHA menyampaikan bahwa ketika terjadi ketidakseimbangan antara korban dan sumber daya, yang harus dilakukan adalah meminta pertolongan. Kompetensi dan kapasitas para personel sangat dibutuhkan saat menghadapi MCI. Pertimbangan saat mendapatkan MCI adalah sumber daya, siapa pasien, pasien yang pertama butuh penanganan. Pada saat di TKP manajemen yang dilakukan pertama sekali adalah komando, siapa yang bertanggung jawab dan melakukan apa. Konsep komando ini disebut dengan incident command system, membuat struktur organisasi modular, mengontrol duplikasi pekerjaan dan tim.

Triase adalah proses yang mana pasien digolongkan menurut tingkat dan kegawatan kondisinya. Triase yang dilakukan pada pukul 10.05 WITA akan berbeda dengan triase pukul 10.10 WITA, mungkin akan terjadi perbedaan warna. Triase bergantung pada waktu, segera dan tepat waktu. Sistem triase pada non-MCI untuk menyediakan perawatan sebaik mungkin bagi setiap individu pasien. Sistem triase pada saat MCI/disaster untuk menyediakan perawatan yang lebih efektif untuk pasien jumlah banyak. Selanjutnya peserta melakukan table top exercises tentang triase pada MCI. Dalam kasus tersebut terdapat 7 korban dimana peserta akan menentukan dan mengkategorikan korban yang membutuhkan pertolongan prioritas.

Pada materinya, Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt menyebutkan alur penyelenggaraan SPGDT melalui NCC 119. PSC 119 adalah panggilan masyarakat masuk ke 119 melalui NCC dan bagi daerah yang sudah memiliki PSC 119, maka panggilan akan langsung diterima dan ditindaklanjuti oleh PSC 119. Penanganan gawat darurat di PSC 119 Kabupaten/Kota meliputi penanganan kegawatdaruratan dengan menggunakan algoritma, kebutuhan informasi tempat tidur, informasi fasilitas kesehatan terdekat dan informasi ambulans; dan PSC 119 berjejaring dengan fasilitas pelayanan kesehatan terdekat dengan lokasi kejadian untuk mobilisasi ataupun merujuk pasien guna mendapatkan penanganan gawat darurat.

 

Kamis, 17 Juni 2021

psc191 4

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Sesi Presentase Penugasan difasilitasi oleh Gde Yulian Yogadhita M.Epid, Apt”

Sesi hari ini dimulai dengan recall dan review materi yang sudah disampaikan pada pertemuan sebelumnya. Kemudian dilanjutkan sengan penyampaian materi Pengembangan Protokol Ambulans: Protokol Kewaspadaan Terhadap Penyakit Coronavirus 2019 (COVID-19) dan materi Partisipasi Masyarakat sebagai komponen EMS oleh dr. Ali Haedar, SpEM,FAHA. Protokol EMS merupakan prosedur operasional yang diakui dan harus diikuti oleh semua professional EMS, seperti paramedis dan teknis medis darurat (EMT) untuk penilaian, perawatan, transportasi dan pengiriman pasien ke perawatan definitif. Protokol kewaspadaan tehadap COVID-19 memberikan perlindungan terhadap agen infeksius dan mengurangi penyebaran virus selama perawatan pasien di area pre-hospital. Perawatan dan transportasi oleh pertugas ambulans memiliki tantangan unik karena ruang tertutup selama transportasi dan membutuhkan pengambilan keputusan medis yang tepat.ketika mempersiapkan respon untuk pasien dnegan dugaan atau konfirmasi COVID-19, koordinasi dan komunikasi yang efektif penting antara call centre, system rujukan, fasilitas kesehatan dan sistem yang dibuat oleh pemerintah setempat.

Setelah pemaparan materi, peserta mengerjakan penugasan untuk mengisi SOP yang sudah dimiliki, SOP yang perlu disusun dan pelatihan yang diperlukan mengacu pada 15 komponen esensial PSC 119. Komponen tersebut yaitu personil, pelatihan, komunikasi, transportasi, fasilitas, unit perawatan lanjutan, public safety lanjutan, partisipasi masyarakat, akses untuk mendapatkan perawatan dan transfer ke fasilitas perawatan. Masing – masing PSC mempresentasikan hasil penugasan mereka. Secara keseluruhan PSC belum memiliki SOP yang lengkap sesuai dengan komponen esensial tersebut dan menyebutkan beberapa pelatihan yang dibutuhkan.

 

Penutup dan Rencana Tindak Lanjut

Kegiatan ini berlangsung dengan baik, PKMK FK – KMK UGM dibantu oleh para narasumber meringkas kondisi dan kebutuhan lanjutan untuk pengembangan PSC 119 di Sulawesi Tengah. Hasil ringkasan tersebut akan disampaikan kepada pemegang kebijakan, dalam hal ini Dinkes Provinsi Sulteng dan Wakil Walikota Palu untuk menyampaikan rekomendasi. Kegiatan ini didukung penuh oleh pemerintah daerah Sulawesi Tengah, selanjutnya PKMK FK – KMK UGM akan menggandeng FK Universitas Al-Khaeraat dalam pengembangan peran dan fungsi PSC-119 di Sulawesi Tengah.

Reportase : Happy R Pangaribuan

Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM

{/tabs}