Korban Tewas Banjir Bandang Flores Timur NTT Bertambah Jadi 54 Orang

Kupang – Jumlah korban banjir bandang di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Minggu (4/4/2021), yang ditemukan dalam kondisi meninggal dunia terus bertambah. Jumlah korban tewas kini menjadi 54 orang.

“Jumlah korban longsor yang ditemukan dalam kondisi tak bernyawa hingga Minggu sore, ada 54 orang dari sebelumnya 20 orang, sementara ini upaya pencarian masih terus berlangsung di lapangan,” kata Wakil Bupati Flores Timur Agustinus Payong Boli dilansir dari Antara, Senin (5/4).

Banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang Desa Nele Lamadiken, Kecamatan Ile Boleng, ini terjadi pada Minggu, sekitar pukul 01.00 Wita. Banjir tersebut akibat hujan lebat serta angin kencang yang berlangsung cukup lama di wilayah tersebut.

Agustinus mengatakan kondisi cuaca ekstrem tersebut mengakibatkan banjir dan tanah longsor yang membawa serta kayu dan batu besar. Benda-benda tersebut pun menghantam permukiman warga desa itu.

Selain menelan korban jiwa, puluhan rumah di Desa Nele Lamadiken beserta berbagai barang berharga milik warga setempat juga ludes diterjang longsor. Ada sejumlah daerah yang terkena dampak banjir bandang ini.

“Ada korban meninggal juga yang ditemukan di Desa Nobo yang berada di area bawah Desa Nele Lamadiken karena terseret banjir,” katanya.

Agustinus mengatakan korban banjir bandang yang terjadi di titik lain, yaitu wilayah Waiwerang dan sekitarnya di Kecamatan Adonara Timur, yang ditemukan meninggal juga bertambah satu orang sehingga kini menjadi empat orang.

Ia menambahkan, pemerintah daerah bersama berbagai elemen saat ini masih terus bergerak di lapangan untuk melakukan langkah penanggulangan dampak bencana, baik pencarian dan evakuasi korban maupun penanganan korban yang selamat.

Agustinus melanjutkan, saat ini upaya pencarian korban masih terus berlangsung di lapangan. Upaya pencarian itu dilakukan oleh petugas dengan dukungan berbagai elemen masyarakat setempat. (mae/bar)

Banjir NTT, 54 Orang Meninggal dan Permukiman Porak-poranda

Jakarta, CNN Indonesia — Banjir bandang menerjang Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Minggu (4/4) dini hari. Kabar terkini menyebut 54 orang meninggal dunia dalam peristiwa tersebut.

“Jumlah korban longsor yang ditemukan dalam kondisi tak bernyawa hingga Minggu sore, ada 54 orang dari sebelumnya 20 orang, sementara ini upaya pencarian masih terus berlangsung di lapangan,” kata Wakil Bupati Flores Timur Agustinus Payong Boli kemarin.

itu terjadi di beberapa desa yang ada di Kabupaten Flores Timur. Longsoran paling parah terjadi di Desa Nele Lamadiken, Kecamatan Ile Boleng, Kabupaten Flores Timur.

Agustinus mengatakan, bencana itu terjadi pada Minggu sekitar pukul 01.00 Wita. Banjir terjadi akibat hujan yang disertai angin kencang dan terjadi cukup lama.

Agustinus mengatakan, air yang mengalir deras di pemukiman warga saat banjir bandang terjadi tak hanya membawa longsoran tanah, tetapi kayu bahkan batu-batu besar yang langsung menghantam permukiman warga.

Selain korban meninggal, puluhan rumah juga diprediksi mengalami kerusakan parah akibat kejadian ini.

“Ada korban meninggal juga yang ditemukan di Desa Nobo yang berada di area bawah Desa Nele Lamadiken karena terseret banjir,” katanya.

Agustinus mengatakan korban banjir bandang yang terjadi di titik lain, yaitu wilayah Waiwerang dan sekitarnya di Kecamatan Adonara Timur yang ditemukan meninggal juga bertambah satu orang sehingga menjadi empat orang.

Meski telah menemukan banyak korban jiwa, namun keterbatasan peralatan juga disebut menjadi penghambat upaya pencarian korban di lokasi kejadian. Hal ini diungkap Camat Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur Damianus Wuran.

Damianus menyebut keterbatasan alat berat di daerahnya menghambat upaya pencarian korban banjir bandang yang melanda wilayah Waiwerang dan sekitarnya di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Minggu (4/4) dini hari WITA.

Bahkan hingga saat ini, warga masih melakukan pencarian korban secara mandiri di lokasi kejadian. Alasannya persediaan alat berat yang ada di Pulau Adonara sudah dimobilisasi untuk mendukung penanganan bencana serupa di Kecamatan Ile Boleng.

“Karena korban yang di Ile Boleng lebih banyak sehingga evakuasi alat berat diprioritaskan ke sana, kami kesulitan alat berat. Sehingga, pencarian korban jadi lambat,” katanya.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati mengatakan pihaknya akan menyiapkan 10 ribu kit tes antigen di wilayah Flores Timur untuk mencegah penularan covid-19 di pengungsian.

“Rapid test antigen 10 ribu test kit,” kata Raditya dalam jumpa pers daring.

Menurutnya, meski dalam kondisi dirundung bencana BNPB tetap mengedepankan protokol kesehatan selama menanggulangi bencana banjir di Flores. Mereka tak ingin penanganan pandemi diabaikan saat ada bencana alam.

(tst/ain)

Nelayan di Pangandaran Dilatih Penanggulangan Bencana

REPUBLIKA.CO.ID, PANGANDARAN — Sebanyak 1.000 nelayan di Kabupaten Pangandaran dilatih mengenai upaya penanggulangan bencana, Seni (29/3). Para nelayan di daerah itu disiapkan sebagai sahabat Taruna Siaga Bencana (Tagana).

Direktur Perlindungan Sosial Korban Bencana Kementerian Sosial (Kemensos) Alam Syafii Nasution mengatakan, pelatihan itu dilakukan sebagai upaya pemerintah untuk melindungi warga pesisir selatan Pulau Jawa, termasuk Kabupaten Pangandaran. Sebab, daerah itu memiliki potensi terjadinya bencana gempa bumi megathrust yang dapat memicu kejadian tsunami.

“1.000 nelayan ini nantinya mendapatkan pelatihan penanggulangan bencana, sehingga jika terjadi megathrust mereka dapat membantu masyarakat lainnya untuk menyelamatkan diri,” kata dia melalui keterangan resmi, Senin malam.

Dalam peta bencana yang dikeluarkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 2019, Kabupaten Pangandaran merupakan wilayah rawan bencana ke-17 secara nasional. Sementara di tingkat Provinsi Jawa Barat (Jabar), daerah itu menduduki posisi keenam paling rawan bencana.

Sedangkan berdasarkan Peta Sumber Gempa Nasional 2017 yang diterbitkan Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen), zona yang berpotensi memunculkan gempa megathrust di Jawa berada di tiga lokasi. Salah satunya adalah wilayah selatan perbatasan Jabar dan Jawa Tengah.

Syafii mengklaim, pihaknya terus melakukan edukasi kepada masyarakat terhadap ancaman bencana gempa bumi megathrust. Beberapa upaya yang dilakukan dalam proses edukasi adalah melakukan pelatihan dan membentuk Kampung Siaga Bencana (KSB) berbasis kawasan di sejumlah kabupaten di Jabar, termasuk di Kabupaten Pangandaran.

Setelah mendapatkan pelatihan, para nelayan itu akan dikukuhkan menjadi sahabat Tagana pada Rabu (31/3). Rencananya, pengukuhan akan dilakukan langsung oleh Menteri Sosial Tri Rismaharini, sekaligus memeringati HUT ke-17 TAGANA

Kabar Buruk Vaksin AstraZeneca Lagi, Kini dari Kanada

Jakarta, CNBC Indonesia – Vaksin Covid-19 besutan perusahaan Inggris AstraZeneca kembali dirundung permasalahan baru. Pada Senin (29/3/2021) sekelompok ahli dari Kanada merekomendasikan penghentian penggunaan suntikan AstraZeneca Covid-19 untuk orang berusia 55 tahun ke bawah, setelah sejumlah kecil pasien di luar negeri menderita pembekuan darah.

“Ada ketidakpastian yang substansial tentang manfaat pemberian vaksin AstraZeneca untuk orang dewasa di bawah usia 55 tahun,” kata Wakil Kepala Kesehatan Masyarakat Kanada Howard Njoo dalam konferensi pers sebagaimana dilaporkan AFP, Senin (29/3/2021).

“Saat ini, kami menghentikan sementara penggunaan vaksin AstraZeneca untuk orang dewasa di bawah usia 55 tahun, menunggu analisis risiko-manfaat lebih lanjut.”

Sementara itu, pejabat kesehatan juga mendesak warga Kanada yang telah menerima suntikan AstraZeneca dalam 20 hari terakhir untuk berkonsultasi dengan dokter. Dokter Health Canada dan Komite Penasihat Nasional untuk Imunisasi dan Kesehatan (NACI) juga meminta produsen vaksin melakukan penilaian rinci tentang manfaat dan risiko vaksin, berdasarkan usia dan jenis kelamin.

“Sampai saat ini, tidak ada kasus (gumpalan bercak) yang dilaporkan di Kanada,” kata Kepala Petugas Medis Health Kanada Supriya Sharma.

“Namun, melalui kerja sama internasional kami yang sedang berlangsung, Health Canada menjadi sadar bahwa kasus tambahan dari peristiwa ini telah dilaporkan di Eropa.”

NACI awal bulan ini mendesak pemberian suntikan AstraZeneca hanya kepada orang-orang yang berusia 18 hingga 64 tahun. Badan itu mengatakan uji klinis tidak melibatkan cukup lansia.

Lalu, badan ini kemudian merevisi rekomendasinya untuk menyertakan orang-orang berusia 65 ke atas. Ini setelah meninjau “bukti dunia nyata” tentang keefektifannya di kelompok usia lanjut.

Vaksin AstraZeneca sendiri mulai disetujui untuk digunakan di Kanada pada bulan Februari. Ini bersamaan dengan suntikan Johnson & Johnson, Pfizer-BioNTech dan Moderna.

Kanada dijadwalkan menerima 1,5 juta dosis AstraZeneca surplus dari Amerika Serikat (AS). Ini karena Negeri Paman Sam belum memberikan persetujuan untuk vaksin yang merupakan hasil kerjasama dengan Universitas Oxford itu.

BNPB Sebut Lima Desa Kena Dampak Kebakaran Kilang Minyak Pertamina

TEMPO.CO, Jakarta – Lima desa terdampak kebakaran kilang minyak PT Pertamina di Desa Balongan, Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, berdasarkan laporan Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Indramayu.

“Peristiwa terbakarnya tiga unit tank product premium 42 T 301 A/B/C itu berdampak pada lima desa meliputi Desa Balongan, Desa Sukareja, Desa Rawadalem, Desa Sukaurip dan Desa Tegalurung,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati di Jakarta, Senin 29 Maret 2021.

Dalam rangka percepatan penanganan kebakaran tersebut, BPBD Kabupaten Indramayu juga berkoordinasi dengan TNI, Polri dan Basarnas setempat guna melakukan evakuasi warga setempat serta para pekerja.

Hingga saat ini, TRC BPBD Kabupaten Indramayu masih melakukan pendataan di lokasi terbakarnya kilang minyak tersebut.

Ada 912 jiwa diungsikan akibat kebakaran tersebut, meliputi 220 jiwa di GOR Komplek Perum Pertamina Bumi Patra, 300 jiwa di Pendopo Kantor Bupati Indramayu dan 392 jiwa di Gedung Islamic Center Indramayu.

Sementara itu, data korban jiwa yang berhasil dihimpun hingga pukul 08.00 WIB adalah lima orang luka berat, 15 orang luka ringan dan tiga orang masih dalam pencarian.

“Kondisi hingga saat ini api masih dalam proses pemadaman dan warga diharapkan agar tidak panik serta selalu mengikuti arahan pihak-pihak yang berwajib untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan,” ujar Raditya.

Sebelumnya, kebakaran terjadi di Kilang Minyak RU IV milik PT Pertamina di Desa Balongan, Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat mengalami kebakaran pada Senin dini hari pukul 01.59 WIB.

Penyebab kebakaran belum diketahui pasti, namun saat kejadian kondisi sedang turun hujan lebat disertai petir.

Meskipun ada insiden kilang terbakar, Pertamina memastikan pasokan bahan bakar minyak untuk masyarakat tidak terganggu dan saat ini masih berjalan normal.

Dekat Zona Megathrust, Bandara Yogyakarta Punya Teknologi yang Bisa Ukur Tingkat Guncangan Gempa Artikel ini telah tayang di tribunjabar.id dengan judul Dekat Zona Megathrust, Bandara Yogyakarta Punya Teknologi yang Bisa Ukur Tingkat Guncangan Gempa, h

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG – Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Bambang S. Prayitno, mengatakan, untuk penguatan sistem informasi dan peringatan dini tsunami di Kawasan Bandara Internasional Yogyakarta dan sekitarnya, telah ditambahkan beberapa peralatan yang terdiri atas Intensitymeter untuk mengukur tingkat guncangan di Terminal Bandara akibat gempa bumi.

Accelerometer untuk mengukur percepatan tanah di area Bandara dan warning receiver system new generation (WRS – NG) guna menyebarluaskan informasi gempa bumi dan tsunami dari BMKG Pusat ke lingkungan DIY, Kabupaten Kulon Progo, dan lingkungan Bandara dalam waktu 2 sampai 4 menit setelah kejadian gempa bumi,” Kata Bambang dalam siaran pers BMKG yang dikutip Tribun.

Selain itu, sedang disiapkan radar tsunami yang merupakan hibah dari Jepang dan sistem pendeteksi dini tsunami yang merupakan bantuan dari Cina.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menggelar Sekolah Lapang Geofisika (SLG) di Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai upaya mewujudkan masyarakat siaga bencana, salah satunya terhadap ancaman gempa bumi dan tsunami.

Kegiatan itu penting dilaksanakan mengingat kondisi wilayah DI Yogyakarta berada di selatan Jawa yang rawan tsunami karena berhadapan langsung dengan Samudra Hindia dan Zona Megathrust.

“Kita berkumpul di sini untuk menyiapkan diri dan berlatih agar bisa menyelamatkan diri, keluarga, dan masyarakat sehingga diharapkan tidak ada korban jiwa jika sewaktu-waktu terjadi gempa bumi dan tsunami,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati saat membuka kegiatan Sekolah Lapang Geofisika di Balai Desa Glagah Kabupaten Kulon Progo DI Yogyakarta, Selasa (16/3/2021).

“Gempa bumi tidak bisa dicegah karena ini salah satu bencana alam yang menjadi bagian dari kehidupan kita, namun yang dapat dicegah adalah jatuhnya korban jiwa ataupun kerugian sosial ekonomi.”

“Hal inilah yang menjadi goal Sekolah Lapang Geofisika (SLG), khususnya untuk mitigasi gempa bumi dan tsunami,” lanjut Dwikorita.

SLG tersebut bertujuan untuk meningkatkan pemahaman serta membangun kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi gempabumi dan tsunami yang tidak dapat diprediksi kapan akan terjadi.

Selain membangun sikap dan budaya tangguh terhadap gempa bumi dan tsunami bagi masyarakat dan sekolah yang berada di wilayah rawan gempa bumi dan tsunami, SLG juga bertujuan untuk menguatkan koordinasi antara Stasiun Geofisika BMKG di daerah sebagai perpanjangan tangan BMKG Pusat dengan berbagai pihak terkait di daerah, serta menguatkan peran BPBD sebagai simpul utama rantai komunikasi di daerah dalam memberikan informasi dan arahan yang benar kepada masyarakat dan SKPD terkait peringatan dini tsunami.

Editor: Hermawan Aksan

Teknologi Informasi dalam Pengurangan Risiko Bencana di Bandung Barat

Dalam rangka mengurangi risiko bencana khususnya bencana geologi di Kabupaten Bandung Barat, Tim Pengabdian Masyarakat FMIPA UI bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat dan SMA Negeri 1 Cisarua mengadakan sosialisasi dan simulasi bencana yang berpotensi terjadi di Kecamatan Cisarua menggunakan pendekatan berbasis teknologi informasi secara hybrid di SMA Negeri 1 Cisarua Kabupaten Bandung Barat pada tanggal 9-10 Maret 2021 di tengah pemberlakuan PPKM di sejumlah kota di Jawa – Bali. Acara ini merupakan rangkaian acara dalam program pengabdian dan pemberdayaan masyarakat IPTEKS bagi Masyarakat. Program pengabdian dan pemberdayaan masyarakat UI merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mencetak Kader Muda Tangguh Bencana. Pada tahun ketiga berjalannya program ini, tema yang diusung yaitu pengurangan risiko bencana melalui pendekatan berbasis teknologi informasi atau IT. Teknologi informasi yang dimaksud adalah melalui pemanfaatan gawai sebagai media edukasi kepada masyarakat seperti VR Box dan Augmented Reality sebagai media informasi pembelajaran potensi bencana di sekitar mereka.

Hadir sebagai narasumber yaitu Poniman, S.Sos., M.Si. selaku Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Bandung Barat. Beliau menjelaskan bahwa pentingnya kegiatan sosialisasi mitigasi bencana dalam upaya pengurangan risiko bencana khususnya di Kabupaten Bandung Barat.

“Kabupaten Bandung Barat ini paket komplit kalau soal bencana mulai dari Tanah Longsor, Banjir Bandang, Letusan Gunungapi, maupun Potensi terjadinya Gempabumi akibat aktivasi Sesar Lembang. Kalau tidak disiapkan dari sekarang potensi jatuhnya korban jiwa semakin besar.” Ujarnya.

Teknologi Informasi dalam Pengurangan Risiko Bencana di Bandung Barat (363092) UI dengan BPBD Bandung Barat siap menyukseskan kegiatan pengurangan risiko bencana di Kabupaten Bandung Barat. Foto: Muhammad Rizqy Septyandy (Dokumentasi Pribadi)

Sesar Lembang sendiri merupakan sebuah sesar strike slip aktif yang berada di Kabupaten Bandung Barat. Sesar ini diindikasikan dapat menyebabkan gempabumi berkekuatan 6,8 – 7 Mw di Kota Bandung dan sekitarnya dengan pergerakannya berada di angka 3 mm/tahun merujuk kepada data Pusat Gempa Nasional (PUSGEN).

Di hari kedua kegiatan difokuskan kepada simulasi bencana yang berpotensi terjadi di Cisarua seperti banjir dan kebakaran serta potensi gempabumi akibat aktivasi Sesar Lembang. Acara ini diawali dengan persiapan ketika terjadi bencana, praktik evakuasi mandiri, dan ditutup dengan pembentukan sistem manajemen bencana di masing-masing sekolah. Antusias terlihat dari setiap peserta. Tidak terkecuali Yusup, salah seorang peserta dari SMA Negeri 1 Cisarua.

“Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Tim PPM UI atas terselenggaranya acara sosialisasi. Ini pengalaman pertama saya mengikuti acara seperti ini.” ujar Yusup.

Antusias tidak hanya muncul dari para siswa saja, para guru yang mendampingi khususnya dari SMA Negeri 1 Cisarua selaku tuan rumah acara ini. Ibu Tuti Kurniawati, M.Pd., Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Cisarua, sangat senang atas dipercayanya sebagai tuan rumah acara tersebut dan sangat berharap kegiatan ini bisa dijadikan program yang berkelanjutan. “SMA Negeri 1 Cisarua selalu siap menjadi partner UI dalam upaya pengurangan risiko bencana di Kecamatan Cisarua” Sebutnya. Muhammad Rizqy Septyandy, M.T., staf pengajar program studi geologi Universitas Indonesia dan salah satu narasumber di hari kedua kegiatan mengingatkan pentingnya pemanfaatan IT dalam hal ini adalah gawai sebagai media edukasi kepada masyarakat di tengah belum usainya pandemi Covid-19 di Indonesia

“Dalam kondisi pandemi seperti ini yang membatasi ruang gerak kegiatan maka melalui gawai yang kita miliki diharapkan edukasi mengenai mitigasi bencana tetap dapat tersampaikan dengan baik seperti penggunaan fotogrametri serta augmented reality.” Imbuhnya. Fotogrametri atau aerial surveying merupakan teknik pemetaan melalui foto udara yang didapatkan dari drone atau UAV (Unmanned Aerial Vehicle). Hasil pemetaan secara fotogrametri berupa peta foto baik dalam bentuk 2D maupun 3D. Pemetaan secara fotogrametrik tidak dapat lepas dari referensi pengukuran secara terestrial, mulai dari penetapan ground controls (titik dasar kontrol) hingga kepada pengukuran batas tanah. Hasil dari fotogrametri nanti akan dikombinasikan dengan hasil dari foto yang didapatkan dari Kamera 360 derajat sehingga diperoleh model analog Sesar Lembang untuk dijadikan bahan dasar pembuatan Augmented Reality yang nantinya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

Adapun Augmented Reality (AR) merupakan sebuah teknologi penggabungan secara real-time terhadap konten digital yang dibuat oleh komputer dengan dunia nyata. Teknologi ini memungkinkan pengguna atau user melihat objek maya secara 2D maupun 3D yang diproyeksikan terhadap dunia nyata. Adapun cara kerja dari AR secara sederhana dimulai dari model analog Sesar Lembang ditampilkan melalui gawai seperti handphone, kacamata khusus, kamera, layar, webcam, dan sebagainya. Perangkat-perangkat tersebut akan berfungsi sebagai output device. Mengapa output device? Karena gawai tersebut akan menampilkan sebuah informasi berupa video, gambar, animasi, dan model 3D yang diinginkan. Sehingga, pengguna bisa melihat hasilnya dalam cahaya buatan dan alami. Augmented Reality atau AR menggunakan teknologi SLAM (Simultaneous Localization and Mapping), sensor, dan pengukur ketinggian sehingga diharapkan masyarakat dalam hal ini Kader Muda Tangguh Bencana di sekitar Kecamatan Cisarua dapat mengenali potensi bahaya yang berada di sekitar mereka dengan lebih mudah dan tidak membosankan.

LIPI kembangkan teknologi mitigasi bencana berbasis riset fundamental

Jakarta (ANTARA) – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengembangkan teknologi mitigasi bencana berbasis riset fundamental sebagai landasan guna mengetahui karakter bencana dan potensi risikonya.

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Laksana Tri Handoko menilai diperlukan spektrum yang cukup lebar untuk melakukan penelitian di aspek mitigasi kesiapsiagaan maupun penanganan pascabencana.

“Kita cukup banyak daerah yang berpotensi bencana, saya ingin sampaikan sejumlah teknologi mitigasi dan peringatan dini bencana yang kami kembangkan di LIPI berbasis riset fundamental terkait karakter bencana dan lokasinya. Tiap lokasi butuh perubahan, penyesuaian,” ujar Tri.

Misalnya terkait longsor, Tri menyebut ada beberapa kasus di mana longsor bisa dimitigasi bila sudah memahami aliran air dibawahnya. Dari situ kita dikembangkan teknologi untuk mengubah aliran air di bawahnya sehingga dapat mengganggu bidang luncur, yang berpotensi menjadi longsor di kemudian hari.

Namun di lain sisi bencana longsor juga seringkali terjadi di area dengan infrastruktur stabil dan permanen, sehingga diperlukan teknologi untuk pemantauan berbasis sensor nirkabel yakni “LIPI Wiseland” untuk di seputar kawasan gedung atau jalan tol.

Sedangkan teknologi monitoring longsor versi standar tidak bisa bekerja dengan baik dalam waktu yang lama, diakibatkan proses terpapar alam seperti hujan, panas, sehingga berpotensi rusak.

“Untuk itu kita mengembangkan, misalnya teknologi pemantauan longsor berbasis serat optik. Contohnya, dipasang di beberapa jalan tol,” ujar dia.

Tri mengatakan dengan mempelajari fundamental penyebab mekanisme terjadinya bencana, pihaknya dapat memetakan daerah mana yang berpotensi bencana, sehingga dapat dikembangkan beberapa teknologi sistem peringatan dini.

Dia menyebutkan aspek riset pengelolaan kebencanaan tertulis jelas di beberapa regulasi misalnya Peraturan Presiden nomor 93 tahun 2019, di mana tertera untuk memahami baik bencana dan potensinya, dimulai dari riset.

Selain itu, pihaknya memiliki Sendai Platform, dimana empat tindakan prioritas terkait mitigasi bencana secara global, dan dua diantaranya terkait riset yakni memahami risiko bencana, dan meningkatkan manajemen risikonya.

“Dua hal ini, di dalam Perpres ini, kami di LIPI melakukan kajian komprehensif,” ujar dia.

Integrasi Sains dan Teknologi dalam Mengurangi Risiko Bencana Alam

Sejarah mencatat bahwa di akhir tahun 2004 Indonesia dilanda bencana dahsyat yaitu bencana gempa bumi yang memicu adanya tsunami. Ada beberapa negara yang juga dilanda bencana tsunami ini seperti Malaysia, Thailand dan Myanmar. 

Peristiwa tsunami yang dipicu oleh gempa bumi yang sangat kuat dengan magnitudo lebih dari 9 SR ini meninggalkan luka yang mendalam. Bagaimana tidak, ratusan ribu nyawa melayang dan menghilang, harta benda hilang di dalam waktu sekejap, banyak rumah yang roboh hingga rata dengan tanah.

Tatanan Tektonik yang Kompleks  

Seperti yang telah diketahui bersama Indonesia berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama di dunia, yaitu Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia dan Lempeng Pasifik. Pergerakan yang relatif ini membuat tingginya aktivitas kegempaan di negara Indonesia. Selain itu, aktivitas sesar yang berada di Indonesia juga tentunya melengkapi kompleksnya tatanan tektonik di Indonesia. Berdasarkan data BMKG setidaknya ada 1 hingga 2 gempa bumi yang bisa memicu kerusakan.

Peran BMKG

BMKG sebagai lembaga pemerintah yang mempunyai tugas untuk melaksanakan tugas dalam melayani jasa dan informasi di bidang Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika dalam mengemban tugasnya kini turut mengikuti perkembangan zaman. 

Hal ini dapat dilihat dari akun sosial media Instagram BMKG yang awalnya hanya memiliki pengikut yang sedikit, kini mempunyai pengikut yang sudah mencapai angka 4 juta pengikut (berdasarkan tanggal 22 Maret 2021). Selain itu akun sosial media yang lain seperti twitter dan facebook juga secara perlahan semakin digandrungi masyarakat yang haus akan informasi kebencanaan.

Di era yang serba canggih dan kemajuan teknologi yang semakin pesat membuat BMKG mengembangkan aplikasi yang mampu memberikan informasi di bidang Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika. Salah satunya yaitu aplikasi InfoBMKG. 

Aplikasi ini menyediakan beberapa fitur yang seperti informasi terkait prakiraan cuaca, diseluruh wilayah Indonesia, informasi gempa bumi, peta iklim, kualitas udara, informasi cuaca maritim dan cuaca penerbangan (cuaca bandara), titik panas, peringatan dini cuaca dan siaran pers BMKG. Tentunya aplikasi ini dapat diinstal melalui Play Store dan App Store.

Gambar : bmkg.go.id
Gambar : bmkg.go.id

Keterlibatan Masyarakat dan Otoritas Daerah

Dalam rangka untuk mengurangi risiko bencana alam tentunya diperlukan analisis, dipahami dan dikomunikasikan secara massal dan luas ke masyarakat. 

Kegiatan yang berlangsung secara aktif dan penuh antusias diperlukan untuk mensukseskan kegiatan mitigasi bencana alam. Hal ini diperlukan agar masyarakat bisa lebih paham dan mengerti bagaimana cara menghadapi peristiwa sebelum, saat dan sesudah bencana. 

Selain itu peran pemangku kebijakan juga sangat diperlukan dimana kebijakan, peran dan tanggung jawab dalam mengambil keputusan baik itu dalam perencanaan evakuasi maupun standar operasional. Hal ini bertujuan untuk mencapai keefektifan dan efisiensi  berdasarkan kondisi dan situasi daerah bencana.

Dua Kampung Siaga Bencana Dibentuk di Garut Selatan

REPUBLIKA.CO.ID, GARUT — Kementerian Sosial (Kemensos) bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut, membentuk dua kampung siaga bencana (KSB) di wilayah selatan Kabupaten Garut. Dua kampung itu yakni Desa Mandalakasih di Kecamatan Pameungpeuk dan Desa Karyasari di Kecamatan Cibalong.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Garut, Nurdin Yana, mengatakan, selama ini masyarakat selalu merasa waswas akan kejadian bencana. Apalagi, di Kabupaten Garut sering terjadi bencana. “Sejak Oktober sampai hari ini, kita ada 15 kecamatan yang mengalami bencana. Itu membuat ketidaknyamanan bagi masyarakat kita,” kata dia melalui keteranhan resmi, Senin (29/3).

Menurut dia, adanya KBS dapat memberi treatment bagi masyarakat untuk lebih siap lagi dalam mengahadapi risiko bencana. Selain itu, masyarakat juga dapat melakukan penanggulangan jika terjadj bencana. Dalam pengukuhan dua desa itu menjadi KSB juga dilakukan rangkaian kegiatan sosialisasi, simulasi, dan pelatihan teknis, yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan serta keterampilan warga masyarakat tentang upaya pengurangan risiko dan penanggulangan bencana. Selain itu, program penanggulangan bencana dari setiap lembaga juga disinergikan.

Menteri Sosial Juliari P Batubara (tengah) memberikan arahan dalam pelatihan Tagana Madya di Tagana Centre, Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (20/2/2020).

Menteri Sosial Juliari P Batubara (tengah) memberikan arahan dalam pelatihan Tagana Madya di Tagana Centre, Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (20/2/2020).

Sementara itu, Kepala Dinad Sosial Provinsi Jawa Barat (Jabar), Dodo Suhendar berharap KSB ini dapat melakukan analisis kemungkinan terjadinya bencana di wilayahnya masing-masing. Selain itu, KSB jugs dapat memetakan langkah-langkah yang dapat mengurangi dampak bencana. 

“Di Jabar sendiri sampai saat ini sudah ada 114 KSB, yang tentunya diharapkan mampu melakukan analisis kemungkinan-kemungkinan terjadi bencana, serta mengambil langkah-langkah yang diharapkan bisa meringankan, mengurangi dampak bencana tersebut,” kata dia.