BNPB Berikan DSP Senilai 250 Juta untuk Penanganan APG Semeru

LUMAJANG – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memberikan bantuan Dana Siap Pakai (DSP) sebesar 250 untuk penanganan Awan Panas Guguran (APG) Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang. Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Prasinta Dewi yang mewakili Kepala BNPB, kepada Bupati Kabupaten Lumajang pada Rabu (7/12) di Pendopo Bupati Kabupaten Lumajang. 

Bantuan DSP tersebut diperuntukkan  untuk operasional pos komando (posko) penanganan darurat APG Semeru. 

“Bantuan ini untuk operasional di posko tanggap darurat, harapannya Lumajang ini segera bangkit dan akan lebih siap dan siaga lagi ke depannya untuk menghadapi bencana,” kata Prasinta. 

Dirinya juga menambahkan, setelah tahap tanggap darurat selesai, pemerintah Kabupatan Lumajang dapat kembali berbenah dan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana. 

“BNPB akan selalu siap membantu dan mendampingi Pemkab Lumajang untuk melaksanakan program-program kesiapsiagaan dan peningkatan kapasitas masyarakat dalam merespon bencana,” tambahnya. 

Selain DSP, BNPB juga memberikan bantuan logistik senilai 100 juta untuk penanganan pengungsi warga terdampak APG Semeru. 

Hingga Rabu (7 /12), tidak ada laporan korban jiwa meninggal dunia akibat peristiwa tersebut. Bupati Kabupaten Lumajang, Thoriqul Haq mengatakan pemerintah kabupaten dan masyarakat sudah mengambil pelajaran baik dari kejadian tahun lalu. 

“Terima kasih kami sampaikan kepada BNPB yang selalu memberikan perhatiannya kepada kami, mulai dari bencana tahun lalu hingga saat ini, yang hasilnya pada peristiwa APG kemarin tidak menimbulkan korban jiwa,” ucapnya. 

Warga dinilai semakin baik dalan merespon peringatan dini dari pemerintah dan petugas di lapangan. 

“Alam memberikan pelajaran kepada kami. Kalau dilihat dari dampaknya memang masih ada beberapa yang terdampak parah, namun APG kemarin sudah direspon masyarakat dengan cepat. Masyarakat saat ini sudah tahu harus berbuat apa dan kemana untuk melakukan evakuasi apabila Gunung Semeru kembali erupsi,” jelasnya. 

Selain memberikan bantuan, Prasinta juga berkesempatan untuk mengunjungi langsung salah satu pos pengungsian di Pos Desa Penanggal, Kecamatan Candipuro. Dirinya memastikan penanganan pengungsi dan bantuan sudah tercukupi bagi para pengungsi. 

“Assalamualaikum Bapak/Ibu, bagaimana kabarnya? Ada yang sakit atau tidak? Sudah makan atau belum?” tanya Prasinta kepada warga mengungsi. 

Warga yang sudah mengungsi sejak hari pertama kejadian mengaku merasa nyaman dan aman berada di pengungsian saat ini. Sebagai gambaran, pos pengungsi di Desa Penanggal berada di dalam ruang serbaguna yang baru rampung dibangun. 

“Alhamdulillah sehat, sudah makan juga disediakan dari dapur umum,” jawab salah satu pengungsi. 

Jumlah warga mengungsi saat ini tersisa 560 jiwa yang tersebar di 10 titik pengungsian. 

Selain itu, Deputi Bidang Pencegahan BNPB juga bertemu dengan para relawan yang bertugas di Posko Desa Penanggal. Dirinya berterima kasih dan mengapresiasi para relawan yang sudah bekerja keras untuk membantu penanganan darurat dari awal hingga hari ini. 

Setelahnya, Prasinta juga menyempatkan diri untuk meninjau langsung salah satu desa terdampak paling parah yaitu Desa Kajar Kuning yang berada di Kecamatan Candipuro. Desa tersebut diperkirakan hanya berjarak 15 km dari Gunung Semeru. 

Dari hasil pantauan di lapangan, terlihat rumah-rumah dan jalan yang masih tertutup material vulkanik dari Gunung Semeru. Desa tersebut masuk ke dalam Zona Merah atau Kawasan Rawan Bencana III yang berptensi terlanda awan panas. 

Meskipun aktivitas vulkanik trennya semakin menurun, hingga hari ini Rabu (7/12) Gunung Semeru masih berstatus Level IV atau awas. 

Masyarakat diminta untuk tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 17 km dari puncak pusat erupsi. Diluar jarak tersebut, masyarakat diminta untuk tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepian sungai karena adanya potensi banjir lahar dingin. 

Abdul Muhari, Ph.D.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB 

Pemerintah masih menetapkan status Awas pada Gunung Semeru

Jakarta (ANTARA) – Pemerintah Indonesia melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) saat ini masih menetapkan status Level IV atau Awas pada Gunung Semeru di Jawa Timur.

Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi Muhammad Wafid mengatakan meski aktivitas vulkanik cenderung menurun, namun Gunung Semeru masih berpotensi terjadi erupsi awan panas guguran dan terutama potensi tinggi terjadi lahar, sehingga tingkat aktivitas masih tetap pada Level IV atau Awas.

“Dalam status Awas, masyarakat tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan sejauh 17 kilometer dari puncak,” ujarnya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu.

Adapun di luar jarak tersebut, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga 19 kilometer serta tidak beraktivitas dalam radius 8 kilometer dari puncak Gunung Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu.

Wahid meminta masyarakat untuk tetap tenang dan terus memantau perkembangan aktivitas vulkanik Gunung Semeru dari sumber-sumber yang dapat dipercaya.

Saat ini PVMBG melakukan pemantauan visual, kegempaan, deformasi Gunung Semeru secara terus-menerus 24 jam, termasuk pengecekan suhu endapan awan panas serta terus bersinergi bersama pihak terkait untuk peninjauan giat evakuasi harta benda masyarakat di lokasi terdampak awan panas guguran Gunung Semeru.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah pengungsi akibat awan panas guguran Gunung Semeru kini bertambah menjadi 781 jiwa. Salah satu titik pengungsian berada di Gedung Serbaguna Balai Desa Penanggal, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

PVMBG Sebut Erupsi Semeru Tak Pengaruhi Status Gunung Bromo

Probolinggo – Eruspsi Gunung Semeru sejak Minggu (4/12) tak mempengaruhi status Gunung Bromo. Hingga kini, status Bromo masih normal atau level 2 (waspada) dengan jarak aman 1 km dari bibir kawah.

Selama erupsi di Semeru, dapur magma Gunung Bromo di Dusun Cemoro Lawang, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo terus melakukan pemantauan.

Gunung Bromo sendiri terpantau pada Selasa (6/12) pagi mengeluarkan asap putih bertekanan lemah dengan intensitas tipis, kadang sedang hingga tebal, dengan ketinggian mencapai 50 sampai 700 meter di atas puncak kawah, mengarah ke utara, barat daya, barat dan barat laut.

Sedangkan cuaca sangat dinamis terkadang cerah, terkadang berkabut dan sesaat kemudian hujan. Rata-rata di kawasan TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru) selalu diguyur hujan pada sekitr pukul 12.00 WIB.

Dari data PVMBG (Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi) pos pantau Gunung Bromo, seismik menunjukkan gempa tremor (gempa berulang dengan kekuatan relatif kecil) dengan amplitudo maksimal 0,5 hingga 1 milimeter, dominan 0,5 milimeter masih sering terjadi.

Budi Marwanto, Staf Pengamat Gunung Api Bromo, mengatakan terjadinya awan panas guguran (APG) Gunung Semeru yang terjadi pada hari Minggu kemarin, tidak mempengaruhi aktivitas gunung purba ini. warga dan pengunjung masih melakukan aktivitas seperti biasanya.

“Aktivitas Gunung Bromo seperti biasa dan normal, gempa tremor terekam 0,5 hingga 1 milimeter, dominan 0,5, erupsi Gunung Semeru kemarin tidak pengaruh ke aktivitas Gunung Bromo, karena Gunung Bromo punya dapur magma sendiri,” kata Budi, Selasa (6/12/2022).

“Untuk gempa Gunung Semeru terekam ke alat kita, karena alat kita di pendam di tanah” imbuhnya.

Meski terbilang aman, Budi tetap mengimbau kepada warga dan pengunjung agar tetap waspada dengan menghindari kawah. Tak hanya itu, ia juga pengunjung selalu memakai masker, kacamata dan jaket tebal karena suhu mencapai 5 hingga 12 derajat celcius. “Imbauan ke warga dan wisatawan hindari kawah dengan jarak aman 1 kilometer,” tandas Budi.

 

Pengungsi Akibat APG Gunung Semeru Jadi 781 Jiwa

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pengungsian pasca awan panas guguran (APG) Gunung Semeru tersebar di 21 titik dengan jumlah pengungsi sebanyak 781 jiwa hingga Selasa (6/12/2022) pukul 18.00 WIB. Salah satu titik pengungsian berada di Gedung Serbaguna Balai Desa Penanggal, Kecamatan Candipuro, Lumajang, Jawa Timur.

“Setiap harinya kami data ulang. Kebanyakan para warga pulang ke rumah masing-masing pada pagi hingga siang hari, sebelum akhirnya kembali lagi ke pengungsian di sore hari,” kata petugas Pusat Pengendalian Operasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang Kasturi seperti dalam keterangan tertulis yang diterima Republika, Rabu (7/12/2022).

Ia menambahkan, kebanyakan pengungsi melakukan hal tersebut mengingat ada beberapa pekerjaan yang harus mereka lakukan pada pagi hingga siang hari di sekitar rumah mereka.  Ada yang harus memberikan pakan ternak, berkebun, hingga bertani. “Jadi sore hari baru ramai lagi di sini (pengungsian),” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari menambahkan, cuaca di sekitaranGunung Semeru dan Kabupaten Lumajang terus diguyur hujan sedang hingga deras. Hal tersebut  menyebabkan banjir lahar dingin yang membawa material sisa erupsi. Masyarakat yang berada di daerah aliran sungai diminta untuk mewaspadai hal tersebut.

“Saat ini tingkat akivitas Gunung Api Semeru masih pada level IV atau awas,” katanya.

Oleh sebab itu, BNPB meminta masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas apapun di sepanjang Besuk Kobokan sejauh 19 kilometer (km) dari puncak (pusat erupsi). Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan. Hal ini karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 19 km dari puncak.

Muhari meminta masyarakat agar mewaspadai potensi awan panas guguran (APG), guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru, terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan.

BPJS Kesehatan Depok-anggota DPR sosialisasi JKN

Depok (ANTARA) – BPJS Kesehatan Cabang Depok, Jawa Barat dan Anggota Komisi IX DPR RI Wenny Haryanto bekerja sama dalam sosialisasi Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap jaminan sosial tersebut.

“Melalui kegiatan ini, saya harap semakin banyak lagi masyarakat yang semakin paham terkait Program JKN. Apalagi tentunya semakin ke sini semakin banyak inovasi yang dicetuskan BPJS Kesehatan sehingga setiap warga juga wajib tahu ‘update’ (terkini) terkait program ini,” kata Wenny Haryanto di Depok, Selasa.

Menurut dia, segala kemudahan yang telah dilakukan BPJS Kesehatan bertujuan memudahkan setiap peserta memperoleh layanan kesehatan.

“Jadi sayang kalau sampai sudah diberikan kemudahan namun warga masih belum tahu terkait itu. Jadi saya harap setiap peserta di sini dapat memastikan bahwa warga sekitar sudah terdaftar aktif di Program JKN,” katanya.

Ia menjelaskan program BPJS Kesehatan memberikan banyak kemudahan warga, khususnya ketika sakit dan harus menjalani pengobatan.

Ia menegaskan bahwa kesehatan sebagai kebutuhan penting, sedangkan sakit tidak dapat diprediksi. Oleh karena itu, setiap orang harus memiliki proteksi diri dengan terdaftar aktif dalam Program JKN.

Ia berharap, peserta kegiatan itu dapat menjadi perpanjangan tangan informasi tentang Program JKN kepada keluarga dan kerabat sekitar tempat tinggal, antara lain terkait apa saja manfaat dan kemudahan akses program itu.

Kepala Bidang Kepesertaan dan Pelayanan Peserta BPJS Kesehatan Cabang Depok Aan Hasanah menjelaskan kegiatan itu bukan sebagai pertama kali dilakukan BPJS Kesehatan Cabang Depok dengan Komisi IX DPR RI, sedangkan masyarakat menyambut antusias sosialisasi itu.

Total peserta sosialisasi kurang lebih 200 orang dengan peran masing-masing di wilayahnya, seperti perwakilan Karang Taruna, pengurus RT dan RW, dan kader posyandu yang berdomisili di Kelurahan Pangkalan Jati, Kecamatan Cinere, Kota Depok.

Ia berharap, kerja sama terus terjalin sebagai salah satu bentuk upaya menyukseskan Program JKN.

Ia mengakui keberlangsungan program ini tidak akan bisa berjalan dengan lancar jika tanpa kerja sama dengan banyak pihak.

Gunung Semeru Kembali Meletus dan Status Awas, Penanganan Dampak Bencananya?

Liputan6.com, Jakarta – Bencana alam berturut-turut terjadi di Indonesia pada November hingga Desember 2022. Mulai dari gempa bumi Cianjur disusul gempa Garut dan selanjutnya letusan Gunung Semeru.

Minggu, 4 Desember 2022, Gunung Semeru kembali meletus. Gumpalan awan raksasa keluar dari kawah gunung api yang terletak di Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur.

Hingga hari ini Senin (5/12/2022), gunung Semeru masih mengeluarkan awan panas guguran dengan amplitudo 25 mm dan lama gempa 386 detik. Petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Semeru, Mukdas Sofian mengatakan, aktivitas Gunung Semeru pada periode pengamatan 5 Desember 2022 pukul 00.00-06.00 WIB mengalami satu kali awan panas guguran dengan amplitudo 25 mm dan lama gempa 386 detik.

“Hasil pengamatan kegempaan hari ini selama enam jam, Gunung Semeru juga mengalami 29 kali letusan atau erupsi dengan amplitudo 11-22 mm dan lama gempa 65-120 detik,” tuturnya.

Aktivitas Semeru juga terekam enam kali gempa guguran dengan amplitudo 1-8 mm dan lama gempa 50-140 detik, satu kali gempa vulkanik dalam, dan satu kali gempa tektonik jauh.

“Pengamatan visual, Gunung Semeru terlihat jelas, teramati asap kawah putih dengan intensitas tipis hingga sedang yang tingginya mencapai 500 meter dari puncak, kemudian angin lemah ke arah barat daya,” katanya.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan status Gunung Semeru di Jawa Timur pada Minggu 4 Desember 2022 sudah dinaikkan dari Level 3 atau Siaga menjadi Level 4 atau Awas terhitung mulai pukul 12.00 WIB.

“Status Gunung Semeru dinaikkan dari Siaga (Level 3) menjadi Awas (Level 4) terhitung hari Minggu 4 Desember 2022 pukul 12.00 WIB,” kata Kepala PVMBG Hendra Gunawan dalam keterangannya.

Ahli Vulkanologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Mirzam Abdurrachman mengatakan bahwa letusan gunung Semeru pada Minggu 4 Desember kemarin memiliki perbedaan dengan letusan-letusan sebelumnya, letusan Semeru tahun lalu itu berkaitan faktor eksternal (cuaca hujan). Namun, letusan kemarin dikarenakan faktor internal yaitu adanya pergerakan magma.

“Letusan sekarang berbeda dengan letusan tahun lalu, Kalau tahun lalu itu berkesamaan dengan hujan, Namun letusan kemarin itu karena ada pergerakan magmanya saja yang berpengaruh pada letusan,” kata Mirzam kepada Liputan6.com, Senin (5/12/2022).

Mirzam menjelaskan, bahwa Semeru merupakan gunung api dengan tipikal strato yang memiliki dua jenis erupsi, yaitu mengeluarkan lava dan atau abu vulkanik. Kendati demikian, Mirzam mengatakan abu vulkanik yang dimiliki Semeru memiliki perbedaan dengan gunung api lainnya.

“Yang agak berbeda dengan gunung api lainnya. Abu Semeru memiliki kemiripan dengan Abu yang ada di Bromo, yaitu memiliki abu yang lebih berat sehingga jika mengalami letusan abu tersebut tidak bisa terbang jauh dan hanya terbang beberapa radius kilometer kemudian turun,” kata Mirzam.

Lebih lanjut, kata Mirzam, fenomena Semeru hari ini juga mengajarkan kita hal baru bahwa ada tantangan yang lebih sulit untuk mendeteksi letusan gunung api khususnya Semeru dari tahun-tahun sebelumnya.

“Meskipun magmanya bisa dideteksi. Namun, letusan Semeru kemarin bersumber pada kedalaman yang langsung menyembur ke permukaan tanpa dia singgah di kedalaman yang dangkal. Sehingga hal itu sulit untuk dideteksi. Artinya, Semeru mengajarkan sesuatu yang baru,” Lanjutnya.

Potensi Bahaya

Mirzam menjelaskan, bahaya dari gunung api secara umum ada dua, yaitu primer dan sekunder. Bahaya primer berkaitan langsung saat gunung meletus dan bahaya sekunder yang tidak berkaitan langsung saat gunung api tersebut meletus.

“Misalnya, adanya lahar (Sebagai bahaya sekunder). Meskipun nanti erupsi Semeru dalam beberapa waktu kedepan itu berhenti. Namun, lahar itu masih berpotensi menyebabkan dampak, khususnya di wilayah-wilayah yang berdekatan dengan sungai,” kata dia.

Meski begitu, Mirzam menyatakan antisipasi bahaya letusan gunung Semeru kemarin sudah pada level yang baik. Mengingat, masyarakat dan pemerintah jauh lebih siap, sehingga antisipasinya lebih cepat.

“Saya pikir sekarang antisipasinya jauh lebih baik dari tahun lalu. Jadi masyarakat yang tinggal itu tidak lagi hanya menerima informasi melainkan sudah jadi subjek yang aktif,” Pungkasnya.

Sementara itu, Ahli Vulkanologi I Gusti Bagus Eddy Sucipta mengatakan bahwa letusan Gunung Semeru pada Sabtu lalu disebabkan oleh aliran lava yang sudah menumpuk sejak satu tahun lalu yang kemudian turun dan membentuk awan panas guguran (APG).

“Begitu dia magma, lavanya itu membeku di lerengnya. Kemudian gugur, itu akan membentuk Awan panas guguran (APG) dari lidah lavanya,” kata Bagus kepada Liputan6.com, Senin (5/12/2022).

Dosen Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung (ITB) ini, menambahkan bahwa peristiwa yang terjadi di Semeru kemarin bukan merupakan erupsi. Melainkan, awan panas guguran (APG) yang membuat aktivitas gunung Semeru meningkat.

“Saya tidak mengatakan erupsi, melainkan APG. Tadi saya lihat APG-nya masih ada, itu artinya kondisi Semeru masih belum stabil lidah lavanya,” Ujarnya

Lebih lanjut, kata Bagus, potensi adanya APG ini diperkirakan masih mungkin terjadi untuk beberapa hari kedepan.

“Mungkin beberapa hari kedepan masih. Awan panas itu gak pernah lama, yang kemarin ini lama. Normalnya sejam dua jam selesai,” kata Bagus.

Adapun terkait peringatan atau early waring system gunung api, Bagus menilai langkah PVMBG sejauh ini sudah baik dalam memberikan informasi seputar aktivitas gunung api. Terlebih, dalam memberikan peringatan bahaya dari aktivitas gunung api.

“Kalau yang saya lihat teman-teman di PVMBG itu sudah bagus. Jadi mereka punya peta potensi kemudian mereka juga punya early warning system yang bisa ditangkap secara visual,” Pungkasnya.

Paparan Banjir dan Kemiskinan di 188 Negara

https://www.wearewater.org/images/343713/default.jpgBanjir adalah salah satu bahaya alam yang paling umum, dengan dampak yang sangat berbahaya di negara-negara berpenghasilan rendah. Studi ini menyajikan perkiraan global jumlah orang yang terpapar risiko banjir tinggi dalam interaksinya dengan kemiskinan. Ditemukan bahwa 1,81 miliar orang (23% dari populasi dunia) secara langsung terkena banjir 1 dalam 100 tahun. Dari jumlah tersebut, 1,24 miliar berlokasi di Asia Selatan dan Timur, di mana Cina (395 juta) dan India (390 juta) menyumbang lebih dari sepertiga dari eksposur global. Negara berpenghasilan rendah dan menengah adalah rumah bagi 89% orang yang terkena banjir di dunia. Dari 170 juta orang yang menghadapi risiko banjir tinggi dan kemiskinan ekstrem (hidup di bawah $1,90 per hari), 44% berada di Afrika Sub-Sahara. Lebih dari 780 juta dari mereka yang hidup di bawah $5,50 per hari menghadapi risiko banjir yang tinggi. Dengan menggunakan data kemiskinan dan banjir yang mutakhir, temuan kami menyoroti skala dan wilayah prioritas untuk langkah-langkah mitigasi banjir guna mendukung pembangunan yang tangguh. Artikel ini dipublikasikan pada 2022 di jurnal Nature

SELENGKAPNYA

Gunung Semeru Tidak Pernah Berstatus Normal, Berikut Karakter Letusannya

KOMPAS.com – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengungkapkan bahwa Gunung Semeru tidak pernah berstatus normal.

Koordinator Gunung Api PVMBG Oktory Prambada mengatakan, hal itu berkaitan dengan selalu tingginya aktivitas Gunung Semeru.

“Gunung ini (Semeru) tidak pernah mempunyai status Level I (Normal) karena selalu tinggi aktivitasnya,” ujar Oktory, saat dihubungi Kompas.com, Selasa (6/12/2022).

Saat ini, lanjut dia, Gunung Semeru berada pada Level IV (Awas) yang merupakan tingkat tertinggi untuk aktivitas gunung api di Indonesia.

Karakter letusan Gunung Semeru

Ia menjelaskan, Gunung Semeru mempunyai karakter dengan eruption rate atau tingkat erupsi yang tinggi.

Instensitas erupsi Gunung Semeru bisa hampir setiap hari dengan rata-rata 10-30 kejadian dalam sehari.

Selain itu, Gunung Semeru juga mempunyai karakter letusan berupa awan panas guguran.

Awan panas guguran tersebut berasal dari penumpukan material di sekitar titik erupsi yang kemudian roboh.

“Untuk saat ini, (erupsi Gunung Semeru) terjadi beberapa jam sekali dengan tipe vulkanian dan strombolian,” tuturnya.

Erupsi Gunung Semeru

Gunung Semeru adalah gunung tertinggi di Pulau Jawa yang terletak di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur (Jatim).

Berdasarkan catatan PVMBG, Gunung Semeru kembali mengalami erupsi pada Minggu (4/12/2022) pukul 02.46 WIB.

Gunung Semeru memuntahkan abu vulkanik berwarna kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal ke arah tenggara dan selatan, setinggi kurang lebih 1,5 km di atas puncak.

Erupsi Gunung Semeru pada hari tersebut bertepatan dengan satu tahun bencana erupsi Semeru.

Sebagai gunung berapi aktif, Semeru memiliki catatan panjang sejarah erupsi yang terekam sejak 1818.

Letusan Gunung Semeru yang terekam pertama kali adalah pada 1818, tepatnya pada 8 November 1818.

Namun, rentang waktu 1818-1913, tidak banyak informasi yang terdokumentasikan.

Bupati Lumajang Minta Warga Waspada Banjir Lahar Dingin Usai Erupsi Gunung Semeru

TEMPO.CO, Lumajang – Bupati Lumajang Thoriqul Haq meminta masyarakat di sekitar daerah aliran sungai untuk mewaspadai banjir lahar dingin setelah erupsi Gunung Semeru.

“Hujan yang mengguyur kawasan Gunung Semeru menyebabkan banjir lahar dingin yang membawa material sisa erupsi,” kata Bupati Lumajang Selasa 6 Desember 2022.

Menurut dia erupsi Gunung Semeru yang disertai luncuran awan panas guguran (APG) sejauh 13 kilometer yang terjadi pada Minggu 4 Desember 2022 bisa menimbulkan sejumlah permasalahan. “Selain material yang menutupi sebagian besar wilayah Dusun Kajar Kuning, Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, material yang terbawa lahar dingin juga mengalir ke arah Besuk Bang, wilayah Kecamatan Tempursari,” tuturnya.

Hal tersebut, kata dia, berbeda dengan kejadian erupsi pada tahun 2021 karena lahar dingin itu juga mengalir ke arah Kecamatan Tempursari, sehingga hal tersebut perlu diwaspadai karena belum pernah terjadi selama beberapa tahun terakhir.

“Lahar dingin ada yang mengarah ke Tempursari, kami mendapatkan kabar arah laharnya mengarah ke sana, tahun lalu tidak. Alirannya pecah jadi tiga, salah satunya Besuk bang, sehingga itu juga perlu diantisipasi,” katanya.

Thoriq menjelaskan bahwa material yang dimuntahkan Gunung Semeru pada 4 Desember 2022 juga berimbas pada bertambahnya material di jalur aliran lahar Gunung Semeru.

“Oleh karena itu, kami akan segera melakukan pembersihan dan normalisasi di titik yang dianggap penting untuk segera dibersihkan, salah satunya di jalan Dusun Kajar Kuning dan beberapa jembatan limpas yang sudah tertutup material lahar dingin,” ujarnya.

Ia mengatakan petugas akan segera bekerja pada Selasa ini, namun pihaknya juga akan mempertimbangkan keselamatan petugas karena material erupsi dan APG masih panas. “Kami mengimbau masyarakat yang tidak berkepentingan untuk tidak mendekat di area jalur lahar dingin, apalagi saat kondisi hujan deras mengguyur kawasan puncak,” katanya.

Gunung Semeru Meletus Pagi Ini, Ada 9 Letusan dan 5 Dentuman

LUMAJANG, KOMPAS.com – Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, kembali mengalami erupsi, Selasa (6/12/2022).

Erupsi terjadi pada pukul 05.02 WIB dengan mengeluarkan kolok abu setinggi 400 meter di atas puncak Semeru.

Pos Pantau Gunung Api Semeru di Gunung Sawur mencatat ada sembilan kali letusan selama periode pengamatan pada Selasa (6/12/2022) pukul 00.00-06.00 WIB.

Letusan itu mengeluarkan asap berwarna putih kelabu setinggi 300-500 meter di atas puncak mengarah ke barat laut, barat daya, utara, dan selatan.

Selain itu, petugas pos pantau juga mendengar lima kali suara dentuman yang berasal dari gunung tertinggi di Pulau Jawa itu.

Secara kegempaan, seismograf mendeteksi telah terjadi gempa letusan sebanyak 22 kali dengan amplitudo 10-23 mm.

Gempa guguran dengan amplitudo 3-12 mm terjadi lima kali dan gempa vulkanik dalam empat kali terjadi.

Untuk diketahui, gempa vulkanik bersumber dari bawah gunung api pada kedalaman 1-20 kilometer.

Penyebabnya adalah adanya magma yang naik ke permukaan dengan disertai rekahan-rekahan. 

Petugas Pos Pantau Gunung Api Semeru Mukdas Sofian mengatakan, sampai saat ini, status Gunung Semeru masih tetap di level IV (Awas).

Sofian mengimbau warga agar tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 17 km dari puncak.

“Di luar jarak tersebut, masyarakat juga dilarang beraktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 19 kilometer dari puncak,” tulis Sofian dalam laporan berkala PVMBG.

Adapun Bupati Lumajang menegaskan akan mengevakuasi masyarakat yang masih bersikeras bertahan di rumahnya, terutama masyarakat yang bertempat tinggal di pinggiran sungai aliran lahar.

“Semuanya harus pindah, harus dievakuasi, ini yang sedang jadi fokus kita sekarang,” tuturnya.