17 Tahun Tsunami Aceh, Mengingat Kembali Bencana di Ujung Banda

Jakarta, CNN Indonesia — Setiap 26 Desember Indonesia mengenang kembali bencana tsunami Aceh. Kini, 17 tahun telah berlalu sejak kejadian yang memakan korban jiwa dalam jumlah besar tersebut.

Tsunami Aceh pada 2004 masih menjadi pembahasan, mulai dari ketinggian gelombang air, gempa besar yang menjadi penanda, hingga total kerusakan dan korban jiwa.

Terjangan gelombang tsunami yang meluluhlantakkan sebagian wilayah pesisir Aceh, terjadi hanya dalam waktu 30 menit, dengan ketinggian hingga 30 meter dan kecepatan mencapai 100 meter per detik atau 360 kilometer per jam. Akibatnya, lebih dari 120 ribu orang meninggal dunia pada dalam bencana tersebut

Lebih dari 600 ribu orang harus mengungsi. Tercatat sekitar 139 ribu rumah rusak akibat bencana tersebut, 2.600 Km jalan rusak, dan 669 bangunan pemerintah dilaporkan rusak.

Total nilai kerugian ditaksir menyentuh angka US$4,5 miliar kala itu.

PBB menyatakan tsunami Aceh 2004 sebagai salah satu bencana kemanusiaan terbesar yang pernah terjadi. Komunitas internasional bergerak melakukan evakuasi dan pemulihan di provinsi Aceh.

Dengan demikian bencana ini membangun kesadaran pentingnya mitigasi bencana.

Peneliti BRIN, Wisyanto mengkaji lebih dalam bencana tersebut. Ia kemudian menuliskan dalam jurnal berjudul ‘Tsunami Aceh 2004 Sebagai Dasar Penataan Ruang Kota Meulaboh‘ beberapa waktu lalu.

Ia mengutip laporan USGS yang menjelaskan bahwa tsunami Aceh kala itu diawali dengan gempa tektonik pada 26 Desember 2004. Gempa terjadi pada pukul 07.59 WIB, berpusat di titik 3.316 derajat N, 95.854 derajat E dengan kekuatan 9,1 Mw.

Gempa tersebut memicu adanya gelombang tsunami yang masih diingat oleh sejumlah masyarakat sampai sekarang. Tak hanya dirasakan di Indonesia, gempa berkekuatan 9,1 Mw itu terasa hingga Sri Lanka, India, Bangladesh, Thailand, Maladewa, Malaysia, dan Somalia.

Gempa besar disebabkan adanya pergerakan lempeng bumi di bawah pulau Sumatera termasuk provinsi Aceh. Namun disebutkan ada tiga zona yang bisa menyebabkan gempa kuat di wilayah serambi Mekah itu.

Dalam jurnal yang berjudul ‘Melihat Potensi Gempabumi dan Tsunami Aceh‘ yang dipublikasikan pada 2017, disebutkan bahwa gempa bisa jadi karena adanya pertemuan lempeng Indo-Australia atau zona subduksi, zona patahan Sumatera, atau Investigator Fracture Zone (IFZ).

Gempa bumi di Aceh 17 tahun lalu yang mengakibatkan tsunami tersebut memiliki periode berulang, artinya gempa disertai tsunami bisa kembali terjadi di masa depan. Hal itu mengingatkan kembali agar terus memperhatikan sifat periode ulang gempa.

Usai 17 tahun berlalu, bencana tsunami masih dalam ingatan sejumlah warga Aceh. Pemerintah Aceh memperingati bencana tsunami di Pelataran Parkir Pelabuhan Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh, Minggu (26/12).

Dalam acara peringatan itu ada beberapa rangkaian acara, di antaranya doa bersama dan ziarah kubur para syuhada dan syahid dalam musibah tsunami, dikutip Antara.

Mengenal Jenis Bencana dan Mitigasi yang Dapat Dilakukan

Suara.com – Belakangan ini, Indonesia diterjang beragam jenis bencana, seperti angin topan, banjir, tanah longsor, hingga erupsi. Rupanya, ada beberapa jenis bencana yang dibagi berdasarkan penyebabnya.

Lantas, apa saja jenis bencana dan mitigasi apa yang dapat dilakukan? Simak berikut ulasan selengkapnya untuk Anda.

 

Berdasarkan Undang-undang Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana menyebutkan ada tiga jenis bencana, yaitu:

1. Bencana alam, adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam, antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan dan tanah longsor.

2. Bencana non alam, adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa non alam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi dan wabah penyakit.

3. Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia meliputi konflik sosial antarkelompok atau antarkomunitas masyarakat dan teror.

Semua jenis bencana yang disebutkan di atas tentu saja membawa ancaman kerugian material dan non material.

Pada pasal 1 undang-undang tersebut dijelaskan, bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam dan/atau non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis.

Indonesia sebagai negara dengan keberagaman jenis bentukan alam dan sosial memiliki potensi kebencanaan yang sangat besar. Ancaman kerugian material dan non material dari jenis bencana yang disebutkan di atas tentu saja tidak bisa dihindari, akan tetapi bisa diminimalisir dengan kesadaran mitigasi bencana.

Mitigasi bencana adalah upaya untuk mengurangi risiko bencana melalui pembangunan fisik maupun peningkatan kemampuan dalam menghadapi bencana. Mitigasi bencana harus dilakukan dengan sistematis dan berkelanjutan agar kesiapan kebencanaan terbangun dengan baik.

Berikut beberapa mitigasi bencana yang dapat dilakukan agar risiko kebencanaan dapat diminimalisir:

1. Mitigasi pada bencana alam dapat dilakukan dengan pembangunan fisik dengan pemetaan kerawanan wilayah terhadap bencana alam. Pembangunan di daerah dengan tingkat risiko bencana tinggi harus memperhatikan aspek lingkungan agar terhindar dari bencana alam. Pembangunan rumah penduduk dan gedung perkantoran yang disesuaikan dengan potensi kerawanan kebencanaan penting dilakukan untuk mengurangi risiko kerusakan bangunan.

2. Pada bencana non alam seperti adanya wabah penyakit, penyebaran informasi yang benar harus dilakukan. Penyampaian berita di banyak media massa kepada masyarakat harus berdasarkan pada keakuratan data dan fakta. Kesadaran dan meleknya informasi masyarakat terhadap bencana non alam seperti ini memegang peranan penting untuk mengendalikan laju penyebaran bencana. Risiko bencana yang muncul bisa dikontrol bersama oleh masyarakat.

3. Konflik politik dan perebutan kekuasaan yang menimbulkan perang, menyebabkan bencana sosial pada kehidupan manusia. Kerugian yang ditimbulkan dari bencana ini meliputi banyak aspek sosial kehidupan. Hubungan bilateral maupun multilateral yang baik dan harmonis penting dilakukan untuk menciptakan iklim politik yang seimbang.

Mengenali jenis bencana dan mitigasinya bisa membuat risiko terhadap kerusakan materi dan non materi yang ditimbulkan dapat diminimalisir.

Itulah sedikit ulasan mengenai jenis bencana dan mitigasi bencana yang perlu Anda ketahui. Semoga bermanfaat!

Langkah-langkah Mitigasi Bencana Kekeringan

KOMPAS.com – Daerah tropis mengalami musim kemarau atau musim kering yang dipengaruhi oleh sistem muson. 

Saat musim kemarau, curah hujan per bulan turun menjadi di bawah 60 mm per bulan (atau 20 mm per dasarian) selama tiga dasarian berturut-turut. 

Wilayah tropis di Asia Tenggara dan Asia Selatan, Australia bagian timur laut, Afrika, dan sebagian Amerika Selatan adalah wilayah-wilayah mengalami musim kemarau.

Mitigasi bencana kekeringan

Dilansir dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DI Yogyakarta, berikut adalah langkah-langkah mitigasi bencana kekeringan:

1. Masyarakat di sarankan untuk memanfaatkan sumber air yang ada secara efektif dan efisien.

2. Memprioritaskan pemanfaatan sumber air yang tersedia untuk keperluan air baku dan air bersih.

3. Menanam pohon sebanyak-banyaknya di lingkungan sekitar.

4. Membuat waduk yang disesuaikan dengan keadaan lingkungan.

5. Membuat dan memperbanyak resapan air dengan tidak menutup semua permukaan dengan plester semen atau keramik.

6. Memberikan perlindungan terhadap sumber air bersih yang tersedia.

7. Melakukan panen dan konservasi air. Panen Air adalah metode pengumpulan atau penampungan air hujan atau air pada aliran saat curah hujan tinggi. Tujuan panen air ini adalah menyediakan tampungan air bersih saat curah hujan menurun. 

Sementara itu, saat terjadi bencana kekeringan, ada langkah-langkah penanganan yang dapat dilakukan, yakni:

1. Membuat sumur bor untuk mendapatkan air.

2. Menyediakan air bersih dengan mobil tangki yang sudah di sediakan oleh dinas terkait.

3. Melakukan penyemaian hujan buatan di daerah tangkapan hujan.

4. Menyediakan pompa air.

5. Melakukan pengaturan pemberian air untuk pertanian secara darurat.

Selain masalah persediaan air bersih, perhatikan kebakaran lahan dan hutan yang lebih rentan terjadi saat musim kemarau. Oleh sebab itu, lebih bijaklah dalam melakukan pembakaran sampah di sekitar lingkungan.

Big Data Bisa Dimanfaatkan buat Mitigasi Bencana, Bagaimana Cara Kerjanya?

Jakarta – Bencana alam yang terjadi akhir-akhir ini menyadarkan pentingnya sistem mitigasi yang tangguh. Dalam hal ini, big data disebut dapat mewujudkan mitigasi 4.0 untuk mengurangi risiko bencana alam.

Big data merupakan kumpulan data yang sangat besar, baik yang terstruktur maupun yang tidak struktur sekali pun. Sederhananya, big data adalah pengumpulan dan penggunaan informasi dari berbagai sumber untuk membuat keputusan yang lebih baik.

Dalam diskusi yang digelar oleh Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Sumberdaya Manusia (Fema) IPB University dengan tema ‘Pemanfaatan Big Data dalam Mitigasi Bencana sebagai Bentuk Komunikasi Risiko dan Krisis’ baru-baru ini, Founder PT Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi, mengungkapkan bahwa berita dari media daring lebih terstruktur dan mengandung data kebencanaan.

“Dengan mengekstrak data bencana menggunakan teknologi komputasi bahasa, berita daring menjadi lebih representatif dan membahas apa yang tidak ada di media sosial. Karena media sosial cenderung terkena bias pengguna,” kata Ismail dalam rilis dari IPB yang diterima detikEdu, Selasa (21/12/2021).

Ia menjelaskan, cuitan warga internet (warganet) di media sosial mengenai kejadian bencana menjadi sumber penting untuk mendapat informasi kebencanaan. Menurutnya, data dari Open Source Intelligence dapat menjadi pemantauan dan analisis kebencanaan di seluruh Indonesia.

Founder Drone Emprit tersebut menambahkan, informasi dari data tersebut dapat diklasifikasi dalam beberapa kategori, yaitu peristiwa bencana, penyaluran bantuan dan lokasi bencana. Dalam hal ini, klasifikasi informasi penting dibuat agar informasi menjadi bermakna untuk monitoring dan analisis.

Sistem big data dapat menjadi masukan bagi strategi komunikasi dan penyusunan kebijakan. Ismail berharap strategi komunikasi diperlukan agar publik menjadi subjek dalam mitigasi bencana.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Jurnalis Bencana dan Krisis Indonesia, Ahmad Arif, mengatakan bahwa beberapa negara sukses menggunakan big data selama pandemi, seperti China dan Korea Selatan. Menurutnya, big data dapat dimanfaatkan sebagai komunikasi risiko.

“Di Indonesia, pengendalian data informasi masih dikendalikan oleh pemerintah. Contohnya, data kematian selama pandemi COVID-19 masih berbeda-beda. Komunikasi risiko masih bersifat inkonsistensi,” ujar Ahmad.

Bencana Iklim ‘Terbesar’ Landa Filipina dan Malaysia

KUALA LUMPUR — Malaysia dan Filipina dilanda bencana iklim dengan skala yang lebih besar dari sebelumnya. Selain menyebabkan puluhan ribu warga mengungsi, bencana iklim di kedua negara tersebut merenggut korban jiwa. 

Hujan lebat yang menyebabkan banjir besar di Malaysia selama akhir pekan lalu tercatat menyebabkan lima korban jiwa dan membuat 41 ribu orang mengungsi. Banjir di Malaysia disebabkan curah hujan yang memiliki intensitas terbesar dalam 100 tahun terakhir. Terdapat tujuh negara bagian Malaysia yang terdampak banjir. 

Adapun di Filipina, jumlah korban jiwa akibat musibah topan Rai terus bertambah. Topan Rai melanda Filipina pada Jumat (17/12) lalu dan merupakan topan terkuat yang menghantam Filipina pada tahun ini.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Air Malaysia (KASA) menyatakan, hujan deras yang melanda pantai barat Semenanjung Malaysia merupakan peristiwa sekali dalam 100 tahun. Sekretaris Jenderal KASA Zaini Ujang mengatakan, curah hujan tahunan di Kuala Lumpur tercatat mencapai 2.400 mm dan telah melebihi rata-rata curah hujan selama sebulan. “Ini sesuatu yang di luar dugaan dan hanya terjadi setiap 100 tahun sekali,” kata Zaini. 

photo

Penampakan mobil yang terguling akibat bajir yang melanda wilayah Kuala Langat, Malaysia, Senin (20/12). Sejumlah wilayah di Malaysia terdampak banjir yang menewaskan delapan orang dan memaksa 41 ribu warga mengungsi. – (EPA-EFE/FAZRY ISMAIL)

Menurut catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana Malaysia (NADMA), tujuh negara bagian dan satu wilayah federal terkena dampak banjir, yaitu Kelantan, Terengganu, Pahang, Melaka, Negeri Sembilan, Selangor, Perak, dan Kuala Lumpur. Tak sedikit warga yang sempat terjebak di kendaraan dan rumah mereka saat musibah banjir melanda. Mengutip Bernama, ada sekitar 41 ribu warga yang sudah dievakuasi ke tempat pengungsian pada Ahad (19/12). 

Kepala Kepolisian Shah Alam,  Baharudin Mat Taib mengatakan, korban meninggal ditemukan di Selangor, Pahang, Taman Sri Muda Shah Alam pada Senin (20/12). Dua di antaranya diyakini warga Shah Alam, sedangkan jenazah ketiga belum diketahui identitasnya. Kematian lainnya terjadi di Kuantan, Pahang. Jenazah pria 34 tahun ditemukan di Kampung Cempaka pada pukul 07.15 waktu setempat. 

Baharudin sebelumnya mengatakan bahwa jasad telah ditemukan oleh anggota masyarakat di dekat kondominium Alam Idaman di Shah Alam, Selangor, setelah permukaan air mulai surut sekitar pukul 19.50 pada Ahad. “Segera setelah diberitahu tentang panggilan darurat bahwa ada jasad yang ditemukan, personel segera dikirim ke tempat kejadian. Almarhum diyakini tenggelam,” ujarnya dikutip laman Channel News Asia, Senin (20/12).

Sementara itu, delapan orang dilaporkan hilang di Bentong, Pahang. Mereka diduga hanyut terbawa arus banjir. 

Saat ini, masjid-masjid di Kuala Lumpur dan Putrajaya diubah menjadi tempat pengungsian sementara bagi para korban banjir. Kantor berita Bernama melansir, Ahad (19/12), Menteri di Departemen Perdana Menteri (Urusan Agama) Idris Ahmad mengatakan dia telah menginstruksikan Departemen Pengembangan Islam Malaysia (Jakim) dan Departemen Agama Islam Wilayah Federal (JAWI) untuk mengoordinasikan masalah ini. 

“Masjid sudah siap dan juga akan memberikan bantuan yang sesuai. Masjid juga mengelola bantuan sembako melalui program Dapur It’am dan JAWI Food Bank,” ujar Ahmad.

Selain itu, Dewan Agama Islam Wilayah Federal (MAIWP) akan memberikan bantuan yang diperlukan kepada para korban. Lembah Klang dilanda banjir yang menyebabkan sekitar 15 ribu penduduk dievakuasi ke lebih dari 100 pusat evakuasi sementara. 

photo

Foto dari udara menunjukkan banjir yang menggenangi desa di Shah Alam, Kuala Lumpur, Senin (20/12/2021). – (AP/Chan Yoke Poh/Lion Club International 308B) SHARE  

Banjir merendam pemukiman warga, fasilitas publik, sejumlah sekolah hingga menggenangi ruas jalan tol yang menghubungkan antar negeri atau provinsi. Banjir di Kuala Lumpur terjadi akibat membludaknya Sungai Gombak dan Sungai Klang yang bertemu di Masjid India. Akibatnya, bangunan di depan Dataran Merdeka yang merupakan ikon kota Kuala Lumpur tergenang hingga jalan ditutup untuk umum.

Banjir juga memasuki area parkir apartemen dan merendam belasan mobil penghuninya. Fasilitas umum seperti Jogging track yang berada di pinggir Sungai Gombak juga terendam. Binatang seperti ular ikut muncul di permukaan, sehingga warga memanggil petugas untuk menangkapnya.

Perdana Menteri Malaysia Ismail Sabri Yaakob telah memerintahkan Pasukan Bomba dan Penyelamat untuk memindahkan dan membantu penduduk yang terjebak pada sejumlah kawasan yang dilanda banjir. Ismail pun telah mengumumkan libur kepada semua pegawai yang terkena dampak banjir.

Sedangkan untuk pegawai swasta, dia menyarankan agar perusahaan memberikan pekerja cuti berbayar atau paid leave dengan tidak membatalkan cuti tahunan dan gaji mereka.Di Filipina, jumlah korban meninggal akibat topan Rai telah mencapai 208 jiwa hingga Senin (20/12). Terdapat pula 52 warga warga yang masih dinyatakan hilang. Data tersebut dirilis kepolisian Filipina. Namun badan bencana nasional masih berupaya memvalidasi angka-angka tersebut. Sebab, jumlah korban meninggal versi kepolisian lebih banyak 58 jiwa.

Lebih dari setengah kematian yang dicatat kepolisian Filipina berada di wilayah Visayas tengah, termasuk Provinsi Bohol. Provinsi tersebut merupakan salah satu yang paling parah terdampak topan Rai. Pada Ahad (19/12) lalu, Gubernur Bohol Arthur Yap melaporkan 74 kematian di wilayahnya.

Yap mengungkapkan, jumlah korban jiwa kemungkinan masih akan meningkat signifikan. Sebab, dari 48 wali kota di provinsinya, baru 33 yang dapat memberikan laporan terkait dampak topan dan kematian. Sisanya belum bisa melapor karena jaringan telekomunikasi terputus.

Yap telah memerintahkan para wali kota di Bohol mengerahkan kekuatan darurat guna mengamankan paket makanan dan minuman bagi masyarakat di masing-masing daerah. “Sangat jelas bahwa kerusakan yang diderita Bohol sangat besar dan mencakup semua,” ujar Yap setelah melakukan survei udara.

photo

Warga dievakuasi menggunakan perahu karet menyusul banjir akibat Topan Rai di Cagayan de Oro City, bagian selatan Filipina, Kamis (16/12/2021). – (AP/Aaron Favila/Philippine Goast Guard) SHARE  

Bohol memiliki populasi lebih dari 1,2 juta orang. Sekitar 780 ribu di antaranya diperkirakan terdampak hantaman topan Rai. Lebih dari 300 ribu warga juga harus mengungsi dari rumah mereka.

Selain Bohol, wilayah lain yang terdampak terjangan topan Rai adalah provinsi Cebu, Leyte, Surigao del Norte, Siargao, dan Kepulauan Dinagat. Juru bicara kepolisian nasional Filipina Roderick Alba mengungkapkan, pihaknya terus mengerahkan para personel ke lokasi-lokasi yang terdampak topan Rai. Selain membantu misi penyelamatan dan evakuasi, mereka ditugaskan menjaga ketertiban serta keamanan.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte telah mengunjungi beberapa lokasi yang terdampak topan Rai. Dia menjanjikan dana bantuan dua miliar peso untuk provinsi-provinsi yang terimbas.

Topan Rai yang melanda Filipina pada Jumat membawa angin berkecepatan 195 kilometer per jam pada kondisi terkuatnya. Sedikitnya 227 kota di Filipina kehilangan listrik. Topan pun merusak tiga bandara regional, termasuk dua bandara yang telah ditutup.

Sekitar 20 badai dan topan melanda Filipina setiap tahun. Sama seperti Indonesia, Filipina terletak di wilayah “Cincin Api” Pasifik yang aktif secara seismik. Hal itu membuat Filipina menjadi salah satu negara paling rawan bencana di dunia. 

Sumber : Reuters/Associated Press/Antara

Jateng Berpotensi Hujan Sejak Pagi, Waspada Bencana Hidrometeorologi!

Semarang – Sebagian Jawa Tengah berpotensi hujan sejak pagi. Potensi hujan lebat disertai angin kencang dan petir berpotensi terjadi di daerah pegunungan antara siang dan sore atau awal malam.

BMKG stasiun meteorologi Ahmad Yani Semarang memperkirakan pagi ini umumnya berawan, Jawa Tengah bagian utara hujan ringan sedang. Kota Semarang yang ada di sisi utara Jateng saat ini dilanda hujan ringan sejak dini hari tadi.

“Siang/sore, awal malam hujan ringan sedang tersebar tidak merata dengan waktu bervariasi terutama di daerah pegunungan dan Jawa Tengah bagian Selatan. Hujan sedang-lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang berpotensi terjadi di daerah pegunungan,” kata prakirawan, Arif N dalam info cuaca, Selasa (20/12/2021).

 “Waspada bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, angin kencang, dan sambaran petir,” lanjutnya.

Berikut prakiraan cuaca Jateng berlaku pukul 07.00-19.00 WIB:

Hujan ringan-sedang
Cilacap, Kebumen, Purworejo, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Sragen, Purwodadi, Blora, Rembang, Pati, Kudus, Jepara, Demak, Kendal, Batang, Pemalang, Brebes, Solo, Semarang, Pekalongan, Tegal.

Hujan sedang-lebat
Purwokerto, Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, Mungkid, Boyolali, Karanganyar, Ungaran, Temanggung, Kajen, Slawi, Magelang, Salatiga, Bumiayu, Majenang, dan Ambarawa.

(alg/mbr)

 

Menkes Umumkan Varian Omicron Sudah Masuk ke Indonesia, Ini Sosok Pasien Pertama yang Terdeteksi

TRIBUNSOLO.COM – Pemerintah Idonesia mendeteksi adanya kasus Omicron di Indonesia.

Hal itu menyusul pengumuman adanya 5 kasus probable atau kemungkinan Omicron di Tanah Air.

Pengumuman ini disampaikan Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam konferensi pers, yang digelar Kamis, (16/12/2021).

“Di luar pasien terkonfirmasi positif ini, kemenkes juga mendeteksi 5 kasus probable Omicron. jadi belum pasti Omicron , tapi karena kita melakukan tes pcr dengan spesifikasi yg khusus, istilahnya SGTF (S gene target failure) kita mendeteksi ada 5 kasus yang probable Omicron,” kata Budi.

Adapun dari 5 kasus yang kemungkinan Omicron tesebut terdiri dari dua kasus warga negara Indonesia yang baru kembali dari AS dan Inggris.

Kedua WNI ini sekarang sedang diisolasi di Wisma Atlet. Sementara itu 3 kasus probable lainnya adalah WNA dari Tiongkok yang datang ke Manado.

“Sekarang sedang diisolasi, di karantina Manado,” katanya, dilansir dari Tribunnews.com.

Budi menegaskan bahwa ke lima kasus atau orang tersebut masih kemungkinan Omicron. Kepastian apakah mereka terinfeksi Omricon baru akan diketahui 3 hari ke depan.

“Karena baru dites PCR dengan marker khusus dan sampel PCRnya yang positif dari 5 kasus probable ini sudah dikirimkan ke badan Litbang kesehatan dan sekarang sedang kita run tes genome sequencingnya. diharapkan dalam 3 hari PCRnya ke depan kita sudah bisa mengonfirmasikan apakah benar ini Omicron atau tidak,” ujarnya.

Pasien Pertama Omicron di Indonesia: Pegawai Wisma Atlet,

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengumumkan satu pasien pertama di Indonesia yang terkonfirmasi positif Covid-19 varian baru Omicron.

Budi menyebut, Omicron terdeteksi berawal dari 3 pekerja kebersihan di Wisma Atlet, Kemayoran positif Covid-19.

Kemudian, pada 15 Desember 2021, satu di antara 3 pekerja itu terkonfirmasi varian Omicron, berinisial N.

�Kemenkes tadi malam telah mendeteksi ada seorang pasien inisial N terkonfirmasi Omicron pada tanggal 15 Desember 2021.”

“Kita lihat bahwa ada 3 pekerja pembersih di RS Wisma Atlet yang positif Covid-19 PCR.”

“Tiga data pasien itu kita kirim ke Balitbang Kemenkes untuk diuji genome sequencing, satu dari tiga pasien positif Omicron. Yang duanya tidak,” ucap Budi dalam konferensi persnya, Kamis (16/12/2021)

Menkes Budi dalam konferensi pers virtual, Kamis (16/12/2021). (istimewa)

Menkes Budi dalam konferensi pers virtual, Kamis (16/12/2021). (istimewa)

Ketiga pasien ini menjalani karantina di Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta.

Menkes menjelaskan ketiga pegawai kebersihan itu tidak menunjukan gejala Covid-19 alias OTG (orang tanpa gejala).

Termasuk pasien yang terpapar Omicron itu.

“Ketiga orang ini tanpa gejala, jadi mereka sehat, tidak ada demam, tidak ada batuk,” ujarnya.

Dikatakannya, kini ketiga pasien itu sudah dinyatakan negatif Covid-19.

“Mereka sudah di ambil PCR yang kedua dan semuanya hasilnya negatif,” kata dia.

5 Kasus Probable Omicron

Di luar itu, Kemenkes juga menemukan lima kasus probable positif Covid-19 Omicron.

Artinya, kelima pasien ini belum bisa dipastikan terpapar Omicron atau tidak.

“Jadi belum pasti Omicron karena kita melakukan tes PCR dengan spesifikasi khusus,” ucapnya.

Adapun lima kasus probable itu merupakan WNI dan WNA yang sempat melakukan perjalanan dari luar negeri.

Di antaranya, dua WNI sedang karantina di Wisma Atlet.

Sementara, tiga WNA menjalani karantina di Manado.

“Dua kasus WNI, baru kembali dari Amerika Serikat dan Inggris.”

“Tiga kasus lainnya adalah WNA dari Tiongkok yang datang ke Manado,” tuturnya.

Meskipun Omicron telah terdeteksi masuk ke Indonesia, Menkes minta masyarakat tetap waspada dan tidak perlu panik.

Dia meminta seluruh masyarakat untuk tetap patuhi protokol kesehatan.

Terlebih, penyebaran varian Omicron ini lebih cepat dibanding yang lain.

“Yang paling penting jaga kewqaspadaa protokol kesehatan jangan kemdor, terutama pakai masker dan menjaga jarak. Pastikan kita jangan terlalu berkerumun,” jelasnya, dikutip dari msn.com

Pencarian Korban Erupsi Gunung Semeru Diperpanjang, Tim SAR Sisir 30 Titik

KOMPAS.com – Tim Search and Rescue (SAR) gabungan masih berusaha mencari para korban awan panas guguran (APG) Semeru, Lumajang, Jawa Timur.

Menurut Kepala Seksi (Kasi) Kantor SAR Surabaya I Wayan Suyatna, tim menemukan sejumlah titik diduga masih ada korban yang terjebak.

Dilansir dari Surya.co.id, setidaknya Tim SAR akan melakukan penyisiran 30 titik dalam tiga hari ke depan.

“Dalam masa perpanjangan waktu kami optimalkan pencarian yang diindikasi masih di daerah-daerah terdampak,” katanya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.

Titik pencarian

KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Tim SAR gabungan melakukan proses pencarian korban di jalur material guguran awan panas Gunung Semeru di Kampung Renteng, Desa Sumberwuluh, Lumajang, Jawa Timur, Kamis (9/12/2021). Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah korban meninggal hingga Kamis hari ini berjumlah 39 orang dan 13 orang dalam proses pencarian, serta penyintas berjumlah 6.022 jiwa yang tersebar di 115 titik pos pengungsian.

Wayan menjelaskan, tim SAR saat ini memfokuskan pencarian di lima titik, yaitu area tambang di Dusun Curah Kobokan/Desa Supit Urang Kecamatan Pronojiwo.

Lalu, tiga Dusun yang berada di Desa Sumber Wuluh, Kecamatan Candipuro. Ketiga dusun itu adalah Kamar Kajang, Kebondeli, dan Kampung Renteng.

Untuk titik terakhir yaitu kawasan tambang pasir Haji Satuhan.

 

“Kami berharap dalam kondisi apapun korban semua bisa ditemukan secepatnya,” ujarnya.

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB) menjelaskan, jumlah korban jiwa akibat bencana alam ini hingga Selasa (14/12/2021), tercatat 48 orang.

Lalu, lebih kurang 2.000 warga terpaksa mengungsi. 

Memahami Gempa M 7,4 di NTT yang Picu 97 Kali Guncangan

Merdeka.com – Warga Larantuka, Nusa Tenggara Timur dibuat kaget dengan guncangan gempa berskala besar pada Selasa pagi. Besarnya mencapai magnitudo 7.4. Gempa tersebut sempat dikabarkan memicu potensi gelombang tsunami.

Sejumlah daerah di NTT yakni Flores Timur Bagian Utara, Pulau Sikka, Sikka bagian utara dan Pulau Lembata masuk status waspada tsunami. Bahkan, dampak kerusakan terjadi sampai ke Selayar, Sulawesi Selatan. Dua jam berselang, status waspada tsunami dicabut oleh BMKG.

Gempa besar yang terletak pada koordinat 7,59 LS – 122,24 BT itu diikuti sebanyak 97 kali. Getaran gempa memang tak sekencang gempa pertama. BMKG mencatat gempa susulan terbesar mencapai M 6,8 sedangkan magnitudo gempa susulan terkecil M 2,9.

Koordinator Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono memaparkan, gempa di laut Flores Timur itu merupakan jenis gempa dangkal dengan kedalaman 10 kilometer. Penyebabnya adalah aktivitas sesar aktif di Laut Flores dengan mekanisme pergerakan geser atau mendatar (strike slip).

Sesar aktif tersebut belum terpetakan. Sehingga, kata Daryono, hal ini menjadi tantangan bagi para ahli kebumian untuk mengidentifikasi dan memetakannya. Tujuannya, guna melengkapi peta sumber dan bahaya gempa di Indonesia.

“Meskipun pusat gempa ini terletak dekat jalur sumber gempa sesar naik Flores (Flores Thrust) tetapi pembangkit gempa ini bukan Sesar Naik Flores. Sesar Naik Flores memiliki mekanisme naik, sedangkan gempa ini memiliki mekanimse geser/mendatar,” kata Daryono mengawali paparannya dikutip merdeka.com, Selasa (14/12).

Menurut dia, lokasi sumber gempa Laut Flores M7,4 tadi siang secara seismisitas sebenarnya jarang terjadi aktivitas gempa berdasarkan data seismisitas regional periode 2009-2021.

Sumber Gempa Tak Dikenali

Daryono menjelaskan, biasanya gempa gempa besar sudah ada sumbernya dan BMKG mengetahui sumber tersebut. Tetapi, pada gempa Flores, BMKG maupun ahli geologi belum mengetahui sumbernya atau bukan berada di jalur sesar.

“Nah selama ini hasil monitoring kita gempa gempa besar memang sudah ada sumbernya, ini yang ini benar benar-benar mengagetkan yang Flores,” ujar Daryono.

Ada beberapa cara mengenali sumber gempa yang belum dikenali. Pertama, untuk di daratan melakukan survei morfologi yang bisa mengenali jalur kelurusan, bentuk sungai dan relief.

Sedangkan, untuk di laut terbilang sulit lantaran harus ada pemetaan menggunakan teknologi sonar guna memotret dasar laut apakah ada kelurusan atau ada pola besar. Kemudian di cek dengan Gps geodetik apakah ada pergeseran atau tidak.

“Membutuhkan teknologi yang effort kalau di laut, kalau di darat kan bisa kita foto reliefnya, menggunakan satelit, kalau di dasar laut perlu ada survei batimetri,” ungkapnya.

Gempa Tak Terkait Aktivitas Semeru

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita menyatakan, gempa yang terjadi di NTT tidak berkaitan dengan erupsi sejumlah gunung Semeru. Serta tidak berkaitan dengan situasi gunung Awu dan Merapi.

“Jadi bahwa tidak ada kaitannya dengan aktivitas gunung api yang saat ini sedang aktif erupsi misalnya gunung semeru, gunung awu, dan gunung merapi itu tidak ada kaitannya,” katanya saat jumpa pers, Selasa (14/12).

“Saat ini kan ada Semeru sedang erupsi, kemudian Gunung Awu lalu kok tiba-tiba terjadi gempa (NTT), apakah itu ada kaitannya? jawaban kami adalah tidak ada kaitannya,” tambahnya.

Dwikorita menjelaskan, adanya gempa tektonik justru dapat memicu dan diikuti meningkatnya aktivitas gunung api. Namun, BMKG belum melihat hal itu terjadi.

“dan untuk aktivitas gunung api analisisnya dnegan pusat vulkanologi dan mitigasi bencana geologi PVMBG yang saat ini sedang menangani gunung semeru dan gunung Awu,” jelasnya.

Sejarah Gempa & Tsunami di Laut Flores

Sejarah mencatat, Laut Flores pernah terjadi gempa super besar pada 29 Desember 1820. Gempa ini menyebabkan tsunami hingga ke Sulawesi Selatan. Sebanyak 500 orang menjadi korban dari tsunami dan gempa tersebut.

Kemudian, gempa besar M7,8 di Laut Flores kembali terjadi pada 12 Desember 1992. Guncangan ini membangkitkan tsunami setinggi 30 meter. Menyebabkan 2.500 orang meninggal dan 500 orang hilang.

Melihat riwayat ini, Daryono mengingatkan gempa hari ini menjadi peringatan sumber gempa sesar aktif yang mampu memicu gempa kuat ternyata masih ada. Belum teridentifikasi dan terpetakan hingga sekarang. Setidaknya, sekitar 22 tsunami pernah terjadi di perairan NTT.

“NTT merupakan daerah rawan tsunami. Sejak tahun 1800-an di busur Kepulauan Sunda Kecil (Bali, NTB, NTT) sudah terjadi lebih dari 22 kali tsunami,” papar Daryono. [ray]

UNS Kirim Tim Stress Healing untuk Bantu Korban Erupsi Semeru

Merdeka.com – Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta kembali memberangkatkan sukarelawan untuk membantu masyarakat terdampak bencana erupsi Gunung Semeru. Sebanyak 13 relawan, tiga di antaranya tim stress healing akan bertugas selama 10 hari ke depan.

“Mereka kita berangkatkan Selasa (14/12) sore kemarin. Ini pemberangkatan yang kedua. Pada hari Minggu (5/12) lalu UNS juga memberangkatkan 15 sukarelawan ke Semeru. Mereka yang sudah bertugas selama 10 hari ditarik kembali ke kampus, dan digantikan oleh Tim Satgas Semeru sorti kedua,” ujar Wakil Rektor Riset dan Inovasi UNS, Prof. Kuncoro Diharjo, Rabu (15/12).

Menurut Kuncoro, operasi kedua ini merupakan dukungan medis, bukan operasi evakuasi. Ia menekankan kepada sukarelawan agar bertugas sesuai arahan pimpinan dari universitas.

“Tugas utama teman-teman adalah mendampingi tim kesehatan dan trauma healing. Tapi jika benar-benar dibutuhkan untuk evakuasi, tidak dimungkiri kalau nanti ada kemungkinan bergerak,” katanya.

Kuncoro menjelaskan, 13 sukarelawan yang diberangkatkan tersebut tiga orang dari VAGUS, tiga orang SAR UNS, dua orang dari Ikatan Keluarga Alumni (IKA) UNS, dua orang dari KSR UNS, dan tiga lainnya dari Pusat Studi Bencana (PSB) LPPM UNS. Ketiga belas sukarelawan ini menyusul lima sukarelawan medis dari RS UNS yang sudah bertugas di lokasi.

“Pada pemberangkatan kali ini UNS melengkapi tim satgas dengan tim stress healing. Tim stress healing berasal dari PSB LPPM UNS yang dibantu oleh KSR UNS,” katanya.

Kuncoro mengaku sudah berkoordinasi dengan Kapolda Jawa Tengah. “Beliau mengutus satu tim untuk trauma healing dan sudah dikirim ke sana. Saya harap tim trauma healing UNS saling kontak dengan tim Polda Jateng supaya dapat berkolaborasi,” imbuh dia.

Komandan Tim Satgas Semeru sorti pertama, Agung mengemukakan, pengikutsertaan tim stress healing dilatarbelakangi dengan kebutuhan lapangan. Korban terdampak letusan Semeru mulai merasakan dampak sosial sehingga membutuhkan tim ini.

“Saat ini 10 hari setelah erupsi, kemungkinan karena situasi alam dan masyarakat terdampak, mungkin mereka mulai terjangkit sakit baik fisik maupun psikis. Makanya kita ada tim lengkap dari medis dan psikiatri,” katanya.

Menurut dia, Tim Satgas Semeru UNS sorti kedua diberangkatkan menuju posko kesehatan UNS di SMP 1 Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Posko kesehatan tersebut menampung 1.154 orang pengungsi korban erupsi Gunung Semeru. Tim Satgas Semeru UNS juga mendapat rumah aman di rumah warga setempat yang dijadikan rumah induk dalam berkoordinasi.

Selain pemberangkatan sukarelawan, kegiatan ini juga diisi dengan penyerahan donasi dari berbagai pihak. Yakni dari Lazis UNS dan Unit Pengumpul Zakat (UPZ) sebesar Rp25 juta, Dharma Wanita Persatuan (DWP) UNS sebanyak Rp20 juta, serta Ikatan Keluarga Alumni (IKA) UNS sebanyak Rp5 juta. [cob]