Era New Normal, Berikut Starter Kit Dalam Tas Siaga Covid-19

KOMPAS.com – Pemerintah terus menggenjot upaya persiapan fase new normal atau kenormalan baru di tengah pandemi.

Meski kurva kasus corona di Indonesia belum melandai, sejumlah persiapan terus dilakukan, semisal dengan pengerahan pasukan TNI-Polri, setidaknya di empat provinsi dan 25 kabupaten/kota.

Pada fase ini, pembatasan kegiatan masyarakat akan dilonggarkan.

Masyarakat bisa kembali beraktivitas seperti bekerja dan bersekolah, namun dengan tetap mematuhi sejumlah protokol kesehatan seperti memakai masker dan membatasi jarak fisik.

Oleh karena itu, masyarakat perlu menyiapkan beberapa hal saat berada di luar rumah (fase new normal).

Masyarakat pun diimbau untuk tetap menggunakan masker, menjaga jarak fisik lebih dari 1 meter dan rutin mencuci tangan saat menjalani fase new normal.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pun merekomendasikan “Tas Siaga Covid-19) yang memiliki isi bermacam hal guna melindungi dari paparan Covid-19.

“Selain terus menerapkan disiplin diri menaati protokol kesehatan dengan jaga jarak dan rajin cuci tangan, penting bagi kita menyiapkan beberapa hal yang jadi ‘senjata’ ampuh pelindung diri, khususnya bagi para pejuang nafkah keluarga,” tulis BNPB dalam akun Instagram resminya

Lantas, apa saja barang-barang yang perlu dibawa di dalam tas ketika bekerja atau keluar dari rumah?

1. Pakai masker dan siapkan cadangannya. Jangan lupa kantung untuk masker habis pakai.

2. Hand sanitizer, disinfektan semprot dan sabun cair.

3. Tisu basah dan kering.

4. Alat makan dan botol minum.

5. Perlengkapan ibadah.

6. Totebag buat kamu yang suka mampir belanja.

7. Suplemen atau multivitamin untuk menambah stamina.

Bagi pengguna setia ojeg pangkalan atau ojek online sebaiknya gunakan jaket dan helm pribadi.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Virus Corona, Achmad Yurianto menjelaskan, penggunaan tas siaga Covid-19 tersebut dimaksudkan agar masyarakat lebih aman dari Covid-19.

“Sudah jelas. Dengan membawa peralatan-peralatan tadi, memungkinkan masyarakat dapat terlindung dari paparan Covid-19,” kata Yuri saat dihubungi Kompas.com, Kamis (4/6/2020).

Yuri mengatakan, barang-barang yang disebutkan di atas tadi, harus selalu dibawa oleh masyarakat apabila hendak keluar rumah, khususnya bagi para pekerja.

Lebih lanjut, dengan membawa peralatan misalnya alat makan dan botol minum sendiri, dapat menghindarkan dari penularan.

“Alat ibadah juga, membawa sendiri dan dipakai sendiri. Begitu juga alat untuk makan, minum dan terpenting selalu pakai masker,” ucap Yuri.

BMKG Minta Warga di Pantura Jawa Waspadai Bencana Rob Hingga 6 Juni

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Warga di pesisir utara Jawa diminta waspada datangnya bencana rob alias limpasan air laut hingga ke daratan akibat periode pasang.

Rob diprediksi akan terjadi hingga tanggal 6 Juni 2020 mendatang.

“Masyarakat terutama yang bermata pencaharian dan beraktivitas di pesisir atau pelabuhan diharapkan meningkatkan kewaspadaan dan upaya mitigasi terhadap potensi bencana rob terutama untuk daerah-daerah pantai berelevasi rendah seperti
Pesisir utara Jakarta, Pekalongan, Cirebon, dan Semarang, ” ujar Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Herizal dalam pernyataannya kepada Tribun, Kamis(4/6/2020).

Menurut Herizal, bencana rob disebabkan oleh kondisi pasang air laut yang cukup tinggi di beberapa wilayah Indonesia akibat fase bulan purnama
(full moon/spring tide).

Selain dari faktor astronomis tersebut, terdapat faktor meteorologis berupa potensi gelombang tinggi yang diprakirakan terjadi mencapai 2,5 meter hingga 4,0 meter di Laut Jawa yang dibangkitkan oleh embusan angin kuat dan persisten mencapai kecepatan hingga 25 knot (46 Km/Jam) yang ikut berperan terhadap peningkatan kenaikan tinggi muka air laut yang terjadi di  perairan utara Jawa.

“Secara klimatologis, tinggi muka air laut pada bulan Mei dan Juni di perairan Indonesia umumnya berada di atas tinggi muka laut rata-rata (mean sea level, MSL),” ujarnya.

Namun kata dia bencana rob memiliki kecenderungan menurun intensitasnya seiring dengan penurunan kecepatan angin.

Doni Monardo Ungkap Penyebab Peningkatan Kasus Positif Covid-19 di Surabaya

KOMPAS.com – Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo menyanjung penanganan wabah virus corona baru atau Covid-19 yang dilakukan Pemerintah Kota Surabaya.

Hal itu disampaikannya saat berkunjung ke Balai Kota Surabaya bersama Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto di Balai Kota Surabaya, Selasa (2/6/2020).

Doni mengatakan, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya sudah melakukan langkah-langkah yang sangat baik.

Adapun peningkatan kasus terkonfirmasi yang dialami Surabaya merupakan buah kerja keras dalam melakukan tracing dan pengambilan sampel di berbagai lingkungan masyarakat.

“Tentunya tak mudah untuk mendapatkan informasi daerah yang kawasannya banyak yang positif. Ini langkah yang strategis dan sangat cerdas,” kata Doni, di Balai Kota Surabaya, Selasa.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ini berharap, pasien yang saat ini dirawat kemudian sembuh agar mendonasikan plasmanya kepada pemerintah untuk pengobatan pasien yang sakit berat.

Berdasarkan data Pemkot Surabaya, sebanyak 226 kasus kematian akibat Covid-19 memiliki riwayat penyakit penyerta.

Oleh karena itu, ia meminta agar jenis penyakit penyerta itu dipelajari, kemudian diinformasikan ke masyarakat agar berhati-hati.

Sejak beberapa hari terakhir, kasus Covid-19 di Surabaya memang mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan, peningkatan jumlah kasus pozitif Covid-19 itu terjadi karena saat ini pihaknya terus gencar melakukan rapid test massal dan swab di beberapa lokasi yang dinilai ada pandemi.

Ketika kemunculan Covid-19 pada awal Maret lalu, Risma mengaku kesulitan melakukan tes cepat maupun tes swab karena keterbatasan alat itu.

Keterlambatan penanganan di awal pandemi karena keterbatasan alat kesehatan, disebut Risma, membuat kasus Covid-19 di Surabaya menjadi tinggi.

Namun, saat ini, Risma telah menerima banyak bantuan alat kesehatan dari Kemenkes, BIN, dan BNPB untuk melakukan tes kepada masyarakat di wilayah yang dinilai terdapat pandemi Covid-19.

Tes massal ini dilakukan di sejumlah tempat, baik di jalan raya, di perkampungan, maupun tempat ibadah.

“Jadi, kami lakukan rapid test massal di beberapa tempat. Kadang lokasinya di sepanjang jalan, kadang pula di masjid, dan sebagainya. Sampai hari ini rapid test kurang lebih sebanyak 27.000 orang,” Risma.

Hingga Selasa (2/6/2020) malam, jumlah kasus Covid-19 di Surabaya mencapai 2.748 kasus.

Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jawa Timur menggambarkan sebaran Covid-19 di Jawa Timur melalui peta sebaran yang dirilis rutin setiap hari.

Dalam peta tersebut, wilayah Kota Surabaya terlihat berwarna hitam pekat sejak empat hari terakhir.

Menurut Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jawa Timur, dr Joni Wahyuhadi, warna hitam pekat menunjukkan daerah tersebut angka kasusnya lebih dari 1.025 kasus.

Surabaya Jadi Zona Hitam, Apa yang Terjadi?

KOMPAS.com – Dalam peta sebaran Covid-19 di Jawa Timur, Kota Surabaya terlihat berwarna hitam sejak empat hari terakhir.

Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jawa Timur, dr Joni Wahyuhadi mengatakan, warna hitam menunjukkan kasus Covid-19 di daerah tersebut lebih dari 1.025 kasus.

“Semakin banyak catatan kasusnya, warna di peta sebaran akan semakin pekat hingga berwarna hitam,” ujar Joni di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Selasa (2/6/2020).

Hingga Selasa (2/6/2020) malam, kasus Covid-19 di Surabaya mencapai 2.748 kasus.

Di peta sebaran, warna lain yaitu merah pekat terdapat di wilayah Kabupaten Sidoarjo dengan 683 kasus dan Kabupaten Gresik 183 kasus.

Di peta sebaran yang terdapat batas wilayah 38 kabupaten dan kota, semua berwarna merah.

Kepekatan warna merah tergantung jumlah kasus yang ada di daerah tersebut.

Hingga Selasa malam, kasus Covid-19 di Jawa Timur bertambah 194 kasus, atau total menjadi 5.132 kasus.

Tambahan 194 kasus berasal dari Surabaya 115 kasus, Sidoarjo 19 kasus, Bangkalan dan Sampang masing-masing 11 kasus, Lamongan, Tuban, dan Pamekasan masing-masing tujuh kasus, Gresik dan Kabupaten Kediri masing-masing lima kasus, Kabupaten Mojokerto tiga kasus, serta Kabupaten Pasuruan dan Jember masing-masing dua kasus. 

Pasien sembuh bertambah 100 orang atau totalnya menjadi 799 kasus.

Sedangkan pasien meninggal bertambah 11 pasien atau menjadi 429 pasien.

Total Orang Dalam Pantauan (ODP) mencapai 24.923 orang dan Pasien Dalam Pantauan (PDP) 6.754 pasien.

Dokter yang Menangani Corona Meninggal Dunia di RS Polri Kramat Jati

Liputan6.com, Jakarta – Seorang dokter yang menangani pasien penderita virus Corona atau Covid-19 meninggal dunia di Rumah Sakit Bhayangkara Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.

Hal itu dibenarkan Kepala Instalasi Forensik RS Polri Kramat Jati Kombes Sumy Hastry Purwanti.

“Ya betul,” kata Sumy saat dihubungi Liputan6.com, Minggu (26/4/2020).

Dokter atas nama Michael Robert Marampe itu wafat pada Sabtu, 25 April 2020 sekitar pukul 22.00 WIB. Dia terpapar Covid-19 saat berjuang si garda terdepan menangani pandemi tersebut.

Rencana pernikahan Michael pada 11 April 2020 lalu sempat tertunda lantaran tugas kemanusiaan.

Selain itu, di hari yang sama seorang perawat atas nama Reno Tri Palupi, meninggal dunia sekitar pukul 04.25 WIB di RSUD Pasar Rebo, Jakarta Timur.

Hormat Rekan Kerja

Video jenazah Reno yang dibawa ambulans pun viral di media sosial. Sejumlah rekan kerjanya sesama perawat pun tampak memberikan hormat mengarah ke mobil tersebut.

Suara lirih memanggil nama Reno bersahutan. Takbir dari masyarakat pun terdengar mengiringi kepergian Reno.

IDI Berduka, dr Mikhael Robert Meninggal dengan Keluhan Corona

Jakarta – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) kembali berduka. Dokter Mikhael Robert Marampe meninggal dunia terkait virus Corona.

Informasi meninggalnya dokter Mikhael disampaikan IDI melalui akun media sosialnya. Dokter Mikhael sempat berstatus pasien dalam pengawasan (PDP).

“Kalau dr Mikhael, dia kan sehari-hari praktik di Bekasi. Jadi dr Mikhael itu kan sudah sempat dirawat di Rumah Sakit Persahabatan kan ya. Waktu itu (statusnya) PDP, diobservasi di Persahabatan kan. Sudah sempat membaik, pulang ke rumah, kemudian belakangan dikabarkan masuk lagi ke rumah sakit, di Rumah Sakit Polri Kramat Jati,” kata Humas IDI, Halik Malik, saat dihubungi detikcom, Senin (27/4/2020).

Menurut Halik, Mikhael sempat memiliki keluhan sesak napas selama perawatan. Karena itulah, Halik mengatakan ada dugaan Mikhael terjangkit virus Corona.

“Yang kita tahu memang sempat dirawat dengan keluhan sesak napas salah satunya. Jadi untuk status perawatannya sendiri disebutkan dalam pengawasan, dalam observasi COVID. Tapi kan tentu untuk konfirmasi COVID saat ini standarnya kan tetap harus diperiksa konfirmasi. Ya itu SOP atau protap yang ada di rumah sakit, semua pasien ODP atau PDP itu harus dikonfirmasi dengan pemeriksaan swab,” jelas Halik.

“Jadi kalau dikatakan PDP tidak salah, karena kan memang dirawatnya di Rumah Sakit Persahabatan, di Rumah Sakit Polri, dengan keluhan terkait dengan COVID. Jadi memang ada dugaan ke sana, dari gejala-gejala yang dikeluhkan atau ditunjukkan selama perawatan,” imbuhnya

sumber detik.com

DPR Kritik Pemerintah soal Zona Merah Corona yang Tak Jelas

DPR Kritik Pemerintah soal Zona Merah Corona yang Tak Jelas

Jakarta, CNN Indonesia — Anggota Komisi IX DPR dari Fraksi PAN, Saleh Partaonan Daulay mengkritik pemerintah yang hingga saat ini belum jelas dalam membuat parameter penetapan status suatu daerah sebagai zona merah virus corona (Covid-19). Menurutnya, pemerintah belum menetapkan indikator suatu daerah bisa disebut sebagai zona merah.

“Sekilas, zona merah adalah daerah yang paling banyak kasus positif Corona. Namun, berapa banyak kasus positif agar suatu daerah dikatakan zona merah, tidak dijelaskan. Semestinya, penyebutan zona merah itu ada kalkulasi dan perhitungannya,” kata Saleh dalam keterangannya, Minggu (26/4).

Saleh juga mengkritik pemerintah pusat yang menyerahkan penetapan status zona merah kepada pemerintah daerah. Menurutnya, langkah itu tidak tepat karena pasti akan ada penilaian subjektif dari masing-masing kepala daerah. Akibatnya, definisi zona merah menjadi bermacam-macam.

“Lalu, bagaimana dengan daerah lainnya? Persoalan akan berimplikasi pada penerapan kebijakan mudik lebaran. Kementerian Perhubungan, misalnya, menyebut bahwa masyarakat di daerah zona merah tidak boleh mudik. Daerah mana saja zona merah?” Kata Saleh.

Saleh menyarankan agar Pemerintah pusat saja yang menetapkan status zona merah terhadap suatu daerah. Pemerintah pusat pula yang perlu menetapkan parameter atau batasan-batasan suatu daerah bisa ditetapkan sebagai zona merah virus corona.

Saleh lalu mengkritik larangan pemudik yang diterbitkan pemerintah pusat. Menurutnya, pemerintah lebih baik menetapkan zona merah suatu daerah terlebih dahulu sebelum mengeluarkan larangan mudik.

Dengan begitu, masyarakat jadi mendapat kejelasan sebelum memutuskan untuk mudik atau tidak.

Diketahui, larangan mudik tidak berlaku di seluruh Indonesia. dan termasuk zona merah.

“Saya tidak tahu apakah Gugus Tugas mempunyai panduan dan ukuran terkait penentuan status zonasi suatu daerah. Semestinya, ukuran dan panduan itu ditetapkan oleh pemerintah pusat. Sehingga, semua daerah memiliki panduan yang seragam,” jelas Saleh.

China Umumkan Semua Pasien Corona di Wuhan Telah Dipulangkan dari RS

Kebijakan lockdown di kawasan Wuhan berakhir pada 8 April 2020. Area transportasi seperti stasiun hingga bandara di wilayah itu pun kembali ramai oleh penumpang.

Beijing – Otoritas China mengumumkan bahwa seluruh pasien virus Corona (COVID-19) di Wuhan, yang menjadi titik nol pandemi global ini telah dipulangkan dari rumah sakit (RS).

“Dengan upaya gabungan para profesional medis dari Wuhan dan berbagai wilayah negara ini, hingga 26 April, seluruh pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit di Wuhan telah dinyatakan bersih (dipulangkan dari rumah sakit),” sebut juru bicara Komisi Kesehatan Nasional China (NHC), Mi Feng, seperti dilansir CNN, Senin (27/4/2020).

Hingga Sabtu (25/4) waktu setempat, data NHC menyebut total 46.452 kasus virus Corona terkonfirmasi di Wuhan. Angka itu mencapai 56 persen dari total kasus virus Corona di China daratan.

Jumlah korban meninggal akibat virus Corona di Wuhan mencapai 3.869 orang, atau sekitar 84 persen dari total kematian di China daratan.

Wuhan menjadi kota pertama di dunia yang berada di bawah lockdown akibat pandemi virus Corona. Beberapa waktu terakhir, kota Wuhan secara perlahan kembali ke situasi normal, setelah berbulan-bulan diselimuti ketakutan dan kecemasan akibat virus Corona.

Namun luka dan trauma akibat wabah virus Corona masih dirasakan warga kota Wuhan, yang otoritasnya baru saja mencabut lockdown setelah 76 hari terakhir. Banyak warga kota Wuhan yang khawatir dengan adanya gelombang kedua virus Corona dan pusat-pusat bisnis berjuang untuk bangkit kembali.

Kasus pertama virus Corona diyakini muncul di Wuhan pada pertengahan Desember 2019. Beberapa pekan kemudian, jumlah kasusnya melonjak drastis. Pada 23 Januari hingga 8 April, warga kota Wuhan tidak bisa meninggalkan kota itu karena semuanya di-lockdown oleh pemerintah China yang berupaya mengatasi wabah virus Corona yang menyebar luas.

Namun, meskipun berbagai upaya dilakukan untuk menghentikan wabah ini, virus Corona kini telah menginfeksi lebih dari 2,9 juta orang di dunia dan menewaskan lebih dari 206 ribu orang.

sumber: detik.com

 

Riset Terbaru: Corona di Indonesia Diprediksi Berakhir 6 Juni

Jakarta, CNBC Indonesia – Universitas Teknologi dan Desain Singapura (SUTD) memprediksi penyebaran virus corona COVID-19 di Indonesia akan berakhir 6 Juni 2020, di mana 97% kasus sudah selesai.

Untuk membuat prediksi ini, SUTD menggunakan data hingga 25 April 2020. Penelitian ini menggunakan model SIR (susceptible-recover-recovered) yang diregresikan dengan data berbagai negara untuk memperkirakan kurva siklus hidup pandemi dan memperkirakan kapan pandemi tersebut akan berakhir di masing-masing negara.

Dalam situs SUTD yang dikutip Senin (27/4/2020), data ini ini untuk tujuan pendidikan dan penelitian dan mungkin mengandung kesalahan. Data akan dimasukkan secara harian.

“Prediksi pada dasarnya tidak pasti. Pembaca harus mengambil prediksi apa pun dengan hati-hati. Terlalu optimisme berdasarkan perkiraan tanggal akhir berbahaya karena dapat melonggarkan disiplin dan kontrol kita dan menyebabkan perputaran virus dan infeksi, dan seharusnya dihindari,” tulis SUTD dalam situsnya.

Dalam laporan tersebut diungkapkan 97% kasus akan berakhir pada 6 Juni 2020 dan 99% kasus akan berakhir di 23 Juni 2020.

Sebelumnya, sejumlah ilmuwan dan peneliti memprediksi puncak virus corona di Indonesia akan terjadi pada bulan Juni dan Juli 2020 dengan jumlah korban yang terinfeksi mencapai 106 ribu kasus.

Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito mengatakan  tim pakar gugus tugas mengumpulkan informasi dan prediksi mengenai puncak virus corona di Indonesia dari ilmuwan dan institusi terpercaya.

Dari data tersebut, secara kumulatif puncak penyebaran virus corona di Indonesia pada awal Mei dan awal Juni 2020 dengan total pasien positif corona mencapai 95 ribu.

“Selama Juni dan Juli, kasus terkonfirmasi secara kumulatif akan mencapai 106 ribu kasus,” ujar Wiku.

Wiku menambahkan ini semua masih bentuk prediksi dan seperti prediksi pada umumnya tidak memiliki angka yang pasti atau belum tentu benar.

“Kami memiliki cara kolektif mengacu pada peraturan yang ada dan memastikan prediksi adalah prediksi dan kasus sebenarnya lebih rendah dari prediksi,” pungkasnya.

WHO: Tak Ada Bukti Pasien Sembuh Covid-19 Kebal dari Virus Corona

KOMPAS.com – Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO) memperingatkan bahwa orang yang sudah sembuh dari Covid-19 belum tentu kebal dari virus SARS-CoV-2 dan tidak mendapatkannya di kemudian hari.

“Belum ada bukti bahwa orang yang pernah terinfeksi Covid-19 tidak akan terinfeksi untuk kedua kalinya,” kata WHO dalam laporan ilmiah yang dipublikasikan Jumat.

Seperti dilansir CNN, Sabtu (25/4/2020), pernyataan ini guna memperingatkan pemerintah suatu negara yang sedang mempertimbangkan mengeluarkan “sertifikat kebal virus corona” untuk dibagikan pada orang yang sudah sembuh dari Covid-19 dan dianggap mereka aman untuk melanjutkan kehidupan normal.

“Pada titik pandemi ini, tidak ada cukup bukti tentang efektivitas kekebalan yang dimediasi antibodi untuk menjamin keakuratan ‘sertifikat kebal virus corona’,” tegas WHO.

Maria Van Kerkhove dari WHO sebelumnya mengatakan tidak mengetahui apakah orang yang telah terpapar virus menjadi benar-benar kebal.

Laporan WHO yang baru terbit dan dilandasi pernyataan ilmiah menggarisbawahi tidak ada bukti bahwa orang yang sembuh dari Covid-19 memiliki kekebalan akan virus tersebut.

WHO memperingatkan, tes antibodi yang sudah dilakukan tidak cukup menunjukkan bahwa orang yang sudah pernah terinfeksi Covid-19 menjadi kebal terhadap virus SARS-CoV-2.

Mary Hayden, juru bicara IDSA dan Kepala Divisi Penyakit Menular di Rush University Medical Center, mengatakan, pihaknya tidak mengetahui apakah pasien yang memiliki antibodi masih berisiko terinfeksi Covid-19 untuk kedua kalinya.

“Hingga saat ini, saya pikir kita harus berasumsi bahwa mereka (pasien sembuh Covid-19) bisa terinfeksi ulang,” ungkapnya.

Hayden juga mengatakan, hingga saat ini belum ada yang mengetahui antibodi dari Covid-19 yang muncul setelah sembuh memberikan perlindungan seperti apa.

Apakah perlindungan menyeluruh atau hanya parsial, dan berapa lama antibodi itu bertahan masih belum diketahui pasti.

“Untuk itu, masyarakat yang sudah sembuh dari Covid-19 dimohon tidak terburu-buru melakukan aktivitas normal. Tetap jaga jarak dan sebisa mungkin di rumah,” ungkap Hayden.

Hal ini perlu dilakukan agar orang yang sudah sembuh itu tidak menempatkan diri mereka ke risiko yang tidak perlu.

Karena seperti yang dijelaskan, hingga saat ini belum ada cukup bukti yang menyebut pasien sembuh Covid-19 kebal dari virus SARS-CoV-2.