Kemenpar Siapkan Magelang Jadi Destinasi Berbasis Mitigasi Bencana

Magelang dipersiapkan Kementerian Pariwisata sebagai destinasi wisata berbasis mitigasi bencana. Untuk itu Focus Group Discussion (FGD) digelar.

Namanya, FGD Mitigasi Bencana pada Destinasi Daya Tarik Wisata di Magelang dan Kawasan Borobudur. Kegiatan ini digelar di Hotel Grand Artos Magelang, Jumat 17 Mei 2019.

Asisten Deputi Pengembangan Destinasi Pariwisata Regional II Kementerian Pariwisata, Reza Fahlevi, menilai potensi pariwisata Magelang luar biasa. Baik itu potensi alam, buatan, dan budayanya.

Dengan segala potensi seperti itu Magelang menjadi salah satu destinasi unggulan tanah air. Maka dari itu dibutuhkan penanganan secara konprehensif untuk membuat wisatawan semakin nyaman.

“Fasilitasi mitigasi bencana seperti ini sangat penting untuk mendukung meningkatnya kewaspadaan dan kepedulian terhadap risiko bencana. ApalagiApalagi Magelang kini telah menjadi destinasi unggulan yang selalu menjadi pilihan wisatawan. Kami ingin seluruh pihak paham betul bagai mana meminimalkan dampak bencana sehingga wisatawan pun yakin berwisata di Magelang,” ujar Reza.

Reza menambahkan, industri pariwisata rentan terkena ancaman bencana. Namun hal ini juga memiliki nilai positif. Salah satunya menjadikan risiko bencana sebagai atraksi wisata.

“Dalam konteks yang lebih maju, dengan kesiapsiagaan yang terukur, efektif dan efisien, kondisi ancaman dapat saja dijadikan atraksi wisata. Contohnya Hawaii yang memiliki Volcano Tourism atau Lava Tour Merapi. Ini yang menjadi landasan digelarnya FGD ini,” ungkapnya.

FGD diisi dengan diskusi panel. Hadir berbagai narasumber yang berkompeten dibidangnya. Ada Kadisparpora Kabupaten Magelang Iwan Sutiarso, Kepala Seksi Mitigasi Struktur BNPB Elfina Rozita, serta Staf Ahli Pusat Pengkajian Strategi dan Humanitarian Project Manager CBM Indonesia Tanty S. Reinhart Thamrin.

Ada juga Hanik Humaida dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, dan Iptu Sutarman dari Polres Kabupaten Magelang. FGD juga diikuti oleh seluruh stakeholder pariwisata Magelang.

Kadisparpora Kabupaten Magelang Iwan Sutiarso menyambut baik digelarnya FGD tersebut. Menurutnya ini menjadi langkah yang baik untuk membuat pariwisata Magelang semakin berkembang lagi.

“Sebagai salah satu daerah destinasi pariwisata super prioritas, pariwisata sudah menjadi nadi penting bagi Magelang. Diharapkan melalui FGD ini sharing knowledge dari para narasumber akan menambah pengetahuan pelaku industri pariwisata dan pemerintah dan dapat diimplementasikan untuk meningkatkan kualitas pariwisata di Kabupaten Magelang demi mencapai target 2 juta wisatawan mancanegara,” ujar Iwan.

Deputi Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Kemenpar Dadang Rizki Ratman ikut angkat bicara. Menurutnya Indonesia dikaruniai alam yang begitu indah. Namun, di balik keindahan alam tersebut posisi Indonesia yang berada di daerah ‘cincin api’ atau ring of fire.

Atau, merupakan negara yang rawan bencana. Hampir setiap tahun, Indonesia mengalami bencana alam. seperti gempa bumi, erupsi, maupun tsunami yang kerap kali berdampak pada pariwisata.

“Oleh karenanya, mitigasi bencana ini merupakan hal penting karena merupakan landasan dimana kita melakukan pembangunan wilayah kedepan. Kalau kita tarik pada bidang pariwisata, nah ini yang harus kita cermati karena bagaimanapun juga wisatawan itu sangat sensitif dengan hal yang terkait dengan safety dan security,” ujar Dadang Rizki

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, bencana kapan saja bisa terjadi, tidak bisa diprediksi dan relatif tidak bisa dihindari. Tetapi yang terpenting adalah bagaimana mengatasinya dan bagaimana meminimalisir risiko yang ditimbulkan.

“Jika berbagai ancaman krisis ini tidak tertangani secara baik akan berdampak signifikan bagi kepariwisataan nasional dengan menurunnya kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia. Maka dari itu Kemenpar terus mendorong seluruh destinasi agar siap mengahadapi segala tantangan yang ada,” ucap Menpar.(*)

sumber Tribunnews.com

Erupsi Awal Krakatau Jadi Sinyal untuk Bencana Maha-dahsyat

Liputan6.com, Ujung Kulon – Tahun 1883 menjadi waktu yang tak bisa dilupakan sejarah dunia. Bencana alam besar terjadi, Gunung Krakatau yang terletak di Selat Sunda meletus dan berimbas ke hampir seluruh Bumi.

Erupsi awal, terjadi pada 20 Mei 1883. Kejadian ini pertama kali disadari oleh Kapten Kapal Elizabeth dari Jerman yang tengah berlayar dekat Selat Sunda.

Dilansir dari Livesciene, Senin (20/5/2019), pria tersebut melihat awan berabu setinggi 9,6 kilometer keluar dari kawah Krakatau.

Selama dua bulan beberapa kapal komersial yang berlayar dekat perairan tersebut mendengar gemuruh yang berasal dari Gunung Krakatau dan melihat awan panas mulai keluar.

Kejadian buruk akhirnya terjadi pada 27 Agustus 1883. L meledakkan diri dan hancur berkeping-keping.

Hari itu, pada pukul 10.20, letusan dahsyat Krakatau diperkirakan setara dengan 150 megaton TNT. Jika dibandingkan kekuatannya lebih besar 10 ribu kali dari bom atom yang menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki.

Akibat ledakan tersebut, dua pulau lenyap. Tsunami dengan tinggi 40 meter pun terjadi.

Tak ada data valid berapa jumlah korban jiwa letusan tersebut. Tapi beberapa laporan menyebut korban tewas lebih 35 ribu orang.

Lebih mengerikannya lagi, kerangka manusia ditemukan di Samudera Hindia sampai Pantai Timur Afrika.

Gemuruh letusan juga tidak cuma terdengar di daerah dekat Krakatau saja. Namun, sampai 4.600 kilometer jauhnya.

Letusan tersebut masih tercatat sebagai suara letusan paling keras yang pernah terdengar di muka bumi. Siapapun yang berada dalam radius 10 kilometer niscaya menjadi tuli. The Guiness Book of Records mencatat bunyi ledakan Krakatau sebagai bunyi paling hebat yang terekam dalam sejarah.

“Akibatnya tak hanya melenyapkan sebuah pulau beserta orang-orangnya, melainkan membuat mandek perekonomian kolonial yang berusia berabad-abad,” demikian ungkap Simon Winchester, penulis buku Krakatoa: The Day the World Exploded, August 27, 1883.

JK Ajak Dunia Internasional Perkuat Kerja Sama Kurangi Risiko Bencana

JK Ajak Dunia Internasional Perkuat Kerja Sama Kurangi Risiko Bencana

Jenewa – Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) memastikan Indonesia berperan aktif dalam menjajaki kerja sama internasional dalam upaya pengurangan risiko bencana. JK menyebut tak ada satu negara pun yang bisa menghadapi sendiri bencana.

“Saya ingin menegaskan kembali kesiapan dan komitmen Indonesia untuk mendukung perwujudan kerja sama internasional dalam pengurangan risiko bencana,” ujar JK dalam pernyataan resmi pada forum Global Platfor for Disaster Risk Reduction (GPDRR) di International Conference Center Geneva (CICG) Swiss, Kamis (16/5/2019).

Menurut JK, penguatan penerapan pengurangan risiko bencana tidak bisa mengabaikan pentingnya kerja sama internasional. Indonesia, sambung JK, membuka penjajakan kerja sama bidang riset, ilmu pengetahuan dan teknologi serta peningkatan kapasitas masyarakat lokal dalam menghadapi bencana.

“Kami yakin bahwa multilateralisme tetap memainkan peranan penting dalam upaya bersama dalam memperkuat upaya pengurangan risiko bencana,” ujarnya.

JK mencontohkan kerja sama internasional dalam penanganan bencana tsunami di Aceh tahun 2004. Kerja sama internasional dilakukan dengan melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi.

“Kita memahami bahwa tidak ada satu pun negara yang dapat menghadapi sendiri dampak dari bencana, karenanya Indonesia percaya bahwa kerja sama internasional memainkan peranan yang sangat penting,” tutur JK.

Dalam pernyataannya, JK memaparkan kebijakan pemerintah Indonesia dalam menangani bencana termasuk penyiapan mitigasi. Mengutip instruksi Presiden Joko Widodo (Jokowi), JK menyebut dilakukannya implementasi kemitraan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

“Mengintegrasikan rencana pembangunan yang mencakup pengurangan risiko bencana; koordinasi pemerintah daerah dan nasional; serta penerapan pengurangan risiko bencana yang berbasis ilmu pengetahuan,” sambungnya.

Untuk memperkuat kemitraan tersebut, pemerintah Indonesia dipaparkan JK menerapkan pendekatan penthalix di tingkat lokal dan nasional yang meliputi pemerintah daerah, akademisi, tokoh masyarakat, sektor swasta serta organisasi masyarakat sipil.

Sementara dalam upaya integrasi pengurangan risiko bencana dalam agenda pembangunan, pemerintah Indonesia menurut JK sudah membuat perspektif pengurangan risiko bencana dalam rencana pembangunan jangka menengah dan jangka panjang.
(fdn/haf)

 

Wapres JK Hadiri Forum Pengurangan Risiko Bencana

Wapres JK Hadiri Forum Pengurangan Risiko Bencana

Jenewa – Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menghadiri forum internasional Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) di Jenewa, Swiss. JK menyatakan kegiatan yang digelar kantor PBB untuk Penanggulangan Risiko Bencana (UNDRR) ini penting bagi penanganan kebencanaan di dunia.

Konferensi ini digelar di International Conference Center Geneva (CICG). JK diagendakan menyampaikan pernyataan pada pukul 09.00 waktu setempat, Kamis (16/5/2019).

Indonesia disebut JK memiliki banyak pengalaman dalam menyelesaikan berbagai bencana alam, dari tsunami dan gempa bumi yang diakui dunia internasional.“Mereka (UNDRR) minta saya, secara pribadi, langsung untuk berbicara bagaimana pengalaman Indonesia mengatasi bencana. Itu penting untuk dijadikan semacam sistem mitigasi bencana,” ujarnya.

Sebelumnya, Menko PMK Puan Maharani dalam forum yang sama, menyampaikan risiko bencana alam di setiap negara. Di Indonesia sambung Puan, menghadapi risiko gempa bumi, letusan gunung berapi, tsunami dan bencana lainnya.

Dengan kondisi itu, pemerintah dan masyarakat Indonesia mengambil langkah penanganan bencana bersama. Menurut Puan, semua elemen masyarakat perlu dilibatkan dalam upaya mencegah dan mengurangi risiko bencana.

Sementara itu, JK usai menghadiri GDPRR akan melakukan sejumlah pertemuan. JK diagendakan bertemu dengan Presiden International Commitee of The Red Cross (ICRC) Peter Maure; Sekjen International Federation of The Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC) Elhadj As Sy; Dirjen International Organization for Migration Antonio Vitorino; Presiden International Olympic Committe (IOC) Thomas Bach serta Presiden International Basketball Federation Horacio Muratore.

Wapres JK juga diagendakan berkunjung ke kampus The Swiss Federal Institute for Vocational Education and Training (SFIVET) serta berbuka puasa bersama masyarakat Indonesia di Jenewa.
(fdn/haf)

Aplikasi Pengabungan rekam jejak medis dan penanganan bencana Raih Penghargaan di Malaysia

Sleman, Gatra.com – Dua karya aplikasi bidang kesehatan karya mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) meraih penghargaan dalam World Young Inventors Exhibition di Internasional Invention, Innovation & Technology Exhibition (ITEX) 2019 di Malaysia.

Aplikasi ‘Jejak Medis’ berhasil meraih medali emas dan penghargaan bergensi dari Taiwan Spesial Award. Sedangkan aplikasi permainan ‘Meet Pharmy’ berhasil meraih medali emas dan perak di dua ajang berbeda.

Dalam bentuk purwarupa, aplikasi ‘Jejak Medis’  diciptakan lima mahasiswa dari sekolah vokasi. Mereka adalah Eka Hafsari mahasiswi Jurusan Manajemen, Nadya Anggraini (Rekam Medis), Aziz Qomarul Firdaus (Teknologi Rekayasa Internet), Fairuz Khairunnisa (FKKMK), dan Haris Hendrik (Fakultas Kehutanan).

“Aplikasi ini gabungan dari manajemen rekam medis dan penanganan korban bencana alam. Seperti diketahui penangganan medis terhadap korban bencana seringkali terkendala rekam medisnya,” kata Nadya Anggraini mewakili rekan-rekannya saat berbincang dengan media di kampus UGM, Rabu (15/5).

Ketika sudah sempurna, aplikasi ini akan menggunakan data rekam medis dari berbagai instansi pelayanan kesehatan dan Badan Penanganan Bencana Daerah (BPBD). Tidak hanya itu, data rekam jejak juga bisa didapatkan dari pasien dan petugas kesehatan yang mengakses aplikasi.

Aplikasi ini yang dikembangkan sejak April lalu ini, selain memuat rekam jejak medis, juga menyajikan fitur manajemen bencana. Fitur ini memuat informasi umum tentang bencana dan daerah terdampak bencana terdekat, juga pranala penggalangan dana pasca-bencana.

“Pengabungan rekam jejak medis dan penanganan bencana inilah yang menurut juri adalah inovasi terbaru. Penyempurnaan aplikasi terus dilakukan dan ditargetkan Juni besok bisa diluncurkan,” kata Eka.

Sebelumnya, tim pencipta aplikasi game smartphone bertajuk ‘Meet Pharmy’ juga memaparkan karyanya. Aplikasi ini mengajak anak mengenal lebih dekat tentang profesi apoteker sekaligus mengajak mereka menjaga kesehatan.

Karya ini diciptakan lima mahasiswa Fakultas Farmasi Shinta Diva Ekananda, Wahyunanda Crista Yuda, Muhammad Fikri Abdillah, dan Muhammad Sulhan Hadi. Mereka dibantu oleh Luh Rai Maduretno Asvigita, Lutfiana Pasebhan Jati (Sekolah Vokasi), dan Laksa Ersa Anugratama (Fakultas Kehutanan). Aplikasi dikembangkan pada medio November tahun lalu.

Lutfiana Pasebhan Jati mengungkap game ‘Meet Pharmy’ merupakan aplikasi gaming yang bercerita mengajari anak tentang tugas apoteker. Para mahasiswa melihat, saat ini anak-anak menggunakan perangkat elektronik hanya untuk hiburan seperti games dan video.

Di game ini pemain diajak mengenal obat-obatan untuk menyembuhkan penyakit seperti batuk, pilek, dan demam. Audio dan visual pun dibuat menarik agar pemain game, yakni anak-anal usia 2-14 tahun, semakin bersemangat memainkannya.

“Kami ciptakan story board dari awal hingga akhir tentang tugas apoteker dan bisa diunduh di Playstore. Saat ini tercatat sudah ada 1000 pengguna,” kata Jati.

Sebelum meraih medali perak di ITEX 2019 pada 2-4 Mei lalu, aplikasi gameMeet Pharmy’ juga meraih medali emas di kategori Medicine and Health di Thailand Investor’s Day 2-6 Februari lalu.

Regional Tanggap Darurat Bencana Pergerakan Tanah di Lebak

Tanggap Darurat Bencana Pergerakan Tanah di Lebak

INILAH, Banten- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak, Banten menetapkan tanggap darurat bencana pergerakan tanah di Desa Sudamanik Kecamatan Cimarga.

Pergeseran tanah di kawasan tersebut mengakibatkan 118 rumah dan 44 rumah di antaranya mengalami kerusakan berat serta 22 rumah kerusakan ringan.

“Sebagian besar warga korban pergerakan tanah kini tinggal di tenda pengungsian,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lebak Kaprawi di Lebak, Rabu (15/5/2019).

Penetapan tanggap darurat itu berlangsung selama dua bulan dan mulai terhitung 6 Mei hingga berakhir sampai tanggal 4 Juli 2019.

Selama tanggap darurat mereka warga korban pergerakan tanah tinggal di tenda pengungsian.

Penetapan tanggap darurat tersebut sehubungan curah hujan di daerah itu meningkat,sehingga jumlah rumah yang mengalami kerusakan hingga roboh dipastikan bertambah.

Untuk mengantisipasi bencana alam tersebut, BPBD mendirikan dua tenda di lokasi pengungsian,termasuk dapur umum.

Pendirian tenda pengungsian itu merupakan bagian evakuasi untuk mengurangi risiko kebencanaan.

Namun, pihaknya mengapresiasi sejauh ini masyarakat yang dilanda bencana pergerakan tanah sejak Januari 2019 sampai saat ini belum menerima laporan korban jiwa.

“Kami terus mengoptimalkan pelayanan kepada warga yang tertimpa korban bencana pergerakan tanah,” katanya menjelaskan.

Menurut dia,  para korban pergerakan tanah yang tinggal di lokasi tenda pengungsian mendapat aneka makanan dan minuman secara gratis. Para korban bencana alam itu juga melaksanakan puasa Ramadhan 2019.

“Kami menjamin ketersediaan logistik mencukupi untuk warga yang tinggal di tenda pengungsian,” katanya. (Antara)

 

Mahasiswa UGM Bikin Aplikasi Permudah Penanganan Korban Bencana

Mahasiswa UGM Bikin Aplikasi Permudah Penanganan Korban Bencana

YOGYAKARTA – Lima mahasiswa UGM berhasil membuat aplikasi penyimpan riwayat medis kesehatan pasien korban bencana dalam bentuk digital. Aplikasi bernama Jejak Medis ini membantu petugas medis mengetahui riwayat medis pasien dan meminimalisir kesalahan dalam mengambil tindakan medis bagi korban bencana. 

Aplikasi ini mendapatkan penghargaan Gold Medal dan Taiwan Special Award dalam World Young Inventors Exhibition di acara International Invention, Innovation & Technology Exhibition (ITEX) 2019 di Malaysia, 2-4 Mei 2019 lalu. Mereka yang terlibat dalam pembuatan aplikasi ini adalah Eka Hafsari (Manajemen-Sekolah Vokasi 2017), Nadya Anggraini (Rekam Medis-Sekolah Vokasi 2017), Fairuz Khairunnisa (FKKMK 2017), Aziz Qomarul Firdaus (Teknologi Rekayasa Internet-Sekolah Vokasi 2017), dan Haris Hendrik (Fakultas Kehutanan 2018).

Nadya Angraini menjelaskan, ide membuat aplikasi Jejak Medis muncul karena dalam penangganan medis terhadap korban bencana, terutama yang dilakukan relawan, kebanyakan tidak memakai rekam medis. Padahal reka

“Karena itu April 2019 lalu kami membuat terobosan menciptakan aplikasi rekam medis guna mengatasi permasalahan tersebut. Baik bagi korban gempa maupun masyarakat umum,” kata Nadya soal aplikasi tersebut di kampus UGM, Rabu (15/5/2019).

Fairuz Khairunnisa menambahkan, aplikasi Jejak Medis memiliki beberapa fitur, antara lain form rekam medis online dan offline, disaster management, konsultasi petugas, dan pasien.  Fitur rekam medis online dapat digunakan saat terdapat koneksi internet. Sedangkan  offline ketika tidak ada layanan internet.

“Untuk fitur disaster management berisi informasi umum saat bencana, baik daerah terkena bencana terdekat dan pascabencana yaitu crowdfunding,” paparnya.

Selanjutnya dalam fitur konsultasi terdapat berbagai permintaan konsultasi dari pasien,  sehingga petugas kesehatan dapat menerima konsultasi sesuai bidangnya. Lewat fitur ini pasien dapat melakukan konsultasi dengan memilih fokus pelayanan dokter dan berbagai  keluhan nantinya langsung masuk ke permintaan konsultasi pada fitur dokter.

Sedangkan fitur aplikasi pasien memiliki tiga fitur utama yaitu riwayat medis, manajemen bencana, dan konsultasi. Fitur riwayat medis berfungsi untuk melihat resume kesehatan pasien yang berisi berbagai macam info hingga pantangan sebagai pasien, manajemen bencana berisi pra-bencana yaitu informasi umum bencana yang terintegrasi dengan BMKG sama seperti petugas kesehatan. 

“Lalu saat bencana terdapat fitur yang menunjukkan lokasi dengan tempat perlindungan terdekat dan pasca bencana berisikan fitur gotong-royong, crowdfunding, dan video motivasi kebencanaan,” katanya.

Eka Hafsari mengungkapkan, aplikasi ini rencananya diluncurkan Juni nanti. Namun sebelum di-launching masih akan melakukan berbagai pengembangan aplikasi.

 

Bencana 30 Tahun Itu Kembali Menyapu Ratusan Rumah di Bengkulu

https: img-z.okeinfo.net content 2019 05 14 340 2055315 bencana-30-tahun-itu-kembali-menyapu-ratusan-rumah-di-bengkulu-cC4oqPiehD.jpg

BENGKULU – Genting merupakan salah satu Desa di Kabupaten Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu. Daerah ini menjadi lokasi terparah banjir bandang yang menerjang provinsi berjuluk ”Bumi Rafflesia” pada Jumat 26 April 2019. Beruntung, dalam bencana itu tidak korban jiwa.

Desa di Kecamatan Bang Haji itu luluh lantah dilumat banjir bandang yang membawa berbagai material. Kayu dan pepohonan yang disertai lumpur. Lumatan banjir bandang itu menyapu pemukiman penduduk yang dihuni 107 kepala keluarga (KK) di wilayah itu.

Terjang banjir bandang itu membuat pemukiman penduduk dipenuhi material lumpur dengan ketinggian sekira 30 sentimeter hingga 50 meter. Begitu juga sarana ibadah, pendidikan dan kantor desa. Banjir bandang itu dipicu luapan aliran Sungai Lemau yang berada di daerah itu.
 

Lumatan banjir bandang yang menerjang desa itu merupakan banjir terparah sepanjang 30 tahun terakhir. Air yang membawa material lumpur itu datang secara tiba-tiba, pada Jumat 26 April 2019, sekira pukul 22.01 WIB.

Dalam hitungan menit, air luapan dari Sungai Lemau itu membanjiri seluruh pemukiman penduduk di daerah itu. Ketinggian air yang mencapai 3 meter hingga 4 meter langsung meredam ratusan pemukiman penduduk.

Terjangan banjir bandang yang datang secara tiba-tiba itu mirip suara gemuruh ombak terdengar sangat kencang. Air luapan Sungai Lemau pun langsung memutuskan aliran listrik di wilayah itu. Ratusan kepala keluarga (KK) langsung berlarian menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi di daerah tersebut.

“Air sampai ke rumah sekira pukul 10 malam. Satu jam kemudian air sudah sampai ke atap rumah-rumah warga. Warga mendengar air yang datang seperti gemuruh ombak. Dalam hitungan menit air sudah tinggi,” cerita Wagiman, warga Desa Genting kecamatan Bang Haji, Kabupaten Bengkulu Tengah, Minggu 13 Mei 2019.

“Suasana waktu itu gelap. Kami hanya memikirkan keselamatan keluarga, berenang mencari dataran tinggi dan tak bisa menyelamatkan harta benda,” lanjut Wagiman.

Dari 107 KK yang ada di desa itu hanya lima 5 KK yang tak terdampak keganasan banjir bandang. Luapan air dari banjir bandang yang melululantakan kawasan itu baru surut dua hari kemudian atau Minggu 28 April 2019.

Sapuan terjangan banjir bandang yang begitu dahsyat menerjang Desa Genting itu merupakan bencana terparah sepanjang sejarah masyarakat menghuni daerah itu selama 30 tahun terakhir. Di mana tahun 1989, banjir sempat menerjang daerah itu. Hanya saja, banjir kala itu tidak membawa material lumpur.

“Dulu pernah ada banjir besar. Namun banjir tersebut tidak membawa material lumpur seperti banjir kali ini,” cerita Yayak, warga Desa Genting Kecamatan Bang Haji, Kabupaten Bengkulu Tengah.

Pasca-banjir, berbagai elemen mulai dari organisasi kemasyarakatan, pemerintah, TNI, pun ikut membersihkan material longsor yang melumat pemukiman penduduk di daerah itu. Material longsor itu pun dibersihkan secara gotong-royong.

“Kami bekerja terus menerus untuk menyingkirkan material lumpur yang ada masuk ke dalam rumah,” sampai Yayak.

Dua pekan pasca-bencana yang melanda Bengkulu. Duka mendalam masih dirasakan masyarakat yang terdampak di Desa Genting. Untuk merasakan duka itu orang nomor wahid di Provinsi Bengkulu menggelar berbuka puasa, salat bersama dengan masyarakat di desa yang menjadi daerah terparah terdampak banjir tersebut, pada Minggu 12 Mei 2019.

Kehadiran Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah itu tidak lain untuk memberi semangat kepada masyarakat yang terdampak banjir. Tidak hanya itu, Gubernur Bengkulu beserta rombongan juga memberikan bantuan. Berupa, 107 unit lampu emergensi, tas sekolah buat anak-anak, alat kebersihan, 1 tangki air bersih, kelambu tidur, masker, sembako dan serta tali kasih untuk 107 KK warga tersampak banjir.

 

JK Bertolak ke Swiss, Hadiri Forum Internasional Pengurangan Risiko Bencana

JAKARTA – Wakil Presiden RI, HM Jusuf Kalla (JK) bertolak dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta menuju Kota Jenewa, Swiss. Tujuannya, untuk menghadiri Forum Internasional Pengurangan Risiko Bencana atau Global Platform for Disaster Risk Reduction.

JK tiba di Bandara Soekarno-Hatta pada Senin malam sekitar pukul 23:35 WIB bersama istri Mufidah Jusuf Kalla. Rombongan Wapres sedianya menumpang pesawat komersial pada pukul 00.40 WIB menuju Kota Doha, Qatar untuk singgah sementara, kemudian melanjutkan penerbangan menuju Jenewa.

Pada agenda itu, JK akan melakukan kunjungan kerja ke Paris, Perancis dan Jenewa, Swiss sejak 14-17 Mei 2019. Di Paris, Perancis, Wapres akan menghadiri acara The Christchurch Call to Action serta Dinner Tech for Good Summit yang akan membahas tentang kasus terorisme yang terjadi beberapa waktu belakangan seperti di Christchurch, Selandia Baru, dan Sri Lanka.

Saat diwawancara di Kantor Wapres, Jakarta pada Senin siang, JK menjelaskan pertemuan tingkat global itu membahas upaya mengatasi bencana di dunia.

“Indonesia dianggap memiliki pengalaman dari berbagai macam-macam penyelesaian kebencanaan, baik itu tsunami maupun gempa bumi, karena kita bagian dari ring of fire,” kata JK, disitat dari laman Antaranews.

Sementara itu, menurut agenda dalam laman penyelenggara, www.unisdr.org, JK rencananya akan memberikan pernyataan resmi pada Kamis 16 Mei 2019 terkait upaya Indonesia dalam meminimalisasi risiko bencana. Sejumlah pemimpin lain dunia juga tercatat menjadi pembicara antara lain Wakil Perdana Menteri Malaysia Wan Azizah Wan Ismail, Wakil Perdana Menteri Mongolia Enkhtuvshin Ulziisaikhan, serta Wakil Perdana Menteri Tajikistan Mahmadtoir Zoir Zokirzoda.

Selain itu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani juga dijadwalkan menjadi pembicara dalam Dialog Tingkat Tinggi bertajuk Kemajuan dalam Strategi Pengurangan Risiko Bencana Nasional dan Lokal pada Rabu 15 Mei 2019 besok.

Sidang Ke-6 Global Platform itu diselenggarakan pada 15-17 Mei 2019 di Pusat Konferensi Internasional Jenewa (CICG). Sidang ini membahas kondisi terkini sejumlah bangsa dalam mengimplementasikan Kerangka Kerja Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana Periode 2015-2030.

Forum tersebut merupakan upaya PBB dalam memantau, mengkaji dan mencari kepentingan bersama bangsa-bangsa dalam meminimalisasi risiko bencana sebagai implementasi Kerangka Kerja Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana 2015-2030.

(put)

Bertolak ke Swiss, JK Bakal Bicara soal Penanganan Bencana

Bertolak ke Swiss, JK Bakal Bicara soal Penanganan Bencana

Jakarta, CNN Indonesia — Wakil Presiden Jusuf Kalla bertolak ke Jenewa, Swiss, untuk berbagi pengalaman Indonesia menangani bencana dalam forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bertajuk ‘Global Platform for Disaster Risk Education 2019’ (GP2019).

Bersama istrinya, Mufidah Jusuf Kalla, JK berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta menggunakan pesawat komersial pada Selasa (14/5) dini hari. Ia diperkirakan akan tiba di Swiss pada Selasa siang waktu setempat.

JK mengatakan, Indonesia menjadi salah satu negara yang diundang lantaran dianggap memiliki pengalaman dalam proses penyelesaian bencana mengingat lokasinya yang berada di rangkaian cincin api.

“Indonesia dianggap memiliki pengalaman dari berbagai macam penyelesaian kebencanaan, baik tsunami maupun gempa bumi karena kita bagian dari ring of fire,” ujar JK melalui keterangan tertulis yang diterima CNNIndonesia.com.

Ketua Umum PMI itu dijadwalkan akan menyampaikan pengalaman Indonesia dalam menangani bencana pada 16 Mei 2019. Di sela kunjungannya, JK juga bakal mengadakan pertemuan dengan Wakil Perdana Menteri Malaysia Wan Azizah Wan Ismail.

Ia juga akan ke Paris, Perancis, untuk menghadiri acara ‘The Christchurch Call to Action’ untuk membahas kasus terorisme yang belakangan terjadi di Selandia Baru dan Sri Lanka. Menurut dia, permasalahan terorisme saat ini tak lepas dari pengaruh informasi yang menyebar melalui internet.

“Di internet, Anda bisa belajar tentang bom, ideologi macam-macam, semua bisa lewat internet,” ucapnya.

JK dijadwalkan akan kembali ke Indonesia pada 18 Mei.

GP2019 yang digelar di Pusat Konferensi Internasional Jenewa ini akan membahas kondisi terkini sejumlah negara dalam menerapkan pengurangan risiko bencana. Pertemuan ini merupakan upaya PBB untuk memantau negara-negara dalam meminimalisasi risiko bencana.