Gempa Magnitudo 3,3 Goyang Palu, Warga Panik Berhamburan

Potret Kehidupan Pengungsi Korban Gempa dan Tsunami Palu

Jakarta – Gempa dengan magnitudo 3,3 mengejutkan warga Kota Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (24/10/2018). Padahal, warga baru saja mulai kembali ke rumah mereka dari sejumlah lokasi pengungsian.

Gempa bumi yang terjadi pada pukul 09.42 WITA itu sempat mengusik ketenangan warga Kota Palu yang selama beberapa hari terakhir ini mulai bangkit. Meski gempa berkekuatan kecil, namun getarannya terasa cukup keras sehingga membuat warga, termasuk para siswa di sejumlah sekolah terpaksa berhamburan keluar tenda.

Seperti yang terlihat di SD VI Inti Lolu yang terletak di bilangan jalan RA Kartini Palu Timur, siswa dan guru keluar karena masih trauma dengan gempa magnitudo 7,4 pada 28 September 2018 yang memporak-porandakan bangunan dan perekonomian masyarakat dan menelan korban jiwa ribuan orang.

Dikutip dari Antara, suasana sama juga terlihat di SD II Lolu berdekatan dengan SD VI tersebut. Guru dan siswa juga berhamburan keluar saat gempa.

Bahkan, pihak sekolah langsung menginstruksikan siswa untuk pulang lebih awal ke rumah. Hingga kini siswa-siswa di Palu dan Kabupaten Sigi masih belajar di tenda-tenda bantuan dari pemerintah Indonesia dan juga Unicef salah satu bidang di Perseritakan Bangsa Bangsa (PBB).

Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan lokasi pusat gempa berada di Teluk Palu, 11 km arah utara Palu pada koordinat 0,80 LS – 119,86 BT dengan kedalaman 5 km. Ditinjau dari lokasi episentrum dan kedalaman sumber gempa, penyebab lindu diperkirakan akibat aktifitas sesar Palu Koro.

Getaran gempabumi diperkirakan dirasakan pada skala III-IV MMI di Palu, dan daerah disekitarnya yang berdekatan dengan lokasi sumber gempabumi.

Pada skala ini digambarkan getaran dirasakan oleh orang banyak tetapi tidak menimbulkan kerusakan, benda-benda ringan yang digantung bergoyang, jendela kaca bergetar, kata Cahyo Nugroho, Kepala Stasiun Geofisika Klas I Palu.

Berdasarkan informasi masyarakat yang diterima di BMKG, getaran gempabumi dirasakan lemah-sedang (II SIG BMKG / III-IV MMI) di Palu.

Terkait dengan peristiwa gempa bumi tersebut, masyarakat disekitar lokasi sumber gempabumi diimbau tetap tenang mengingat gempa bumi yang terjadi berkekuatan relatif kecil dan tidak berdampak merusak.

sumber: Liputan6.com

BMKG Pasang 20 Sensor Gempa Portabel di Pulau Sulawesi

https://cdn.idntimes.com/content-images/post/20181017/bc-60f0c74917e2d40170320992e61c5385_600x400.jpg

Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi dam Geofisika (BMKG) memasang 20 sensor gempa atau seismograf portabel di Sulawesi. Pemasangan alat ini tak lain untuk mengamati aktivitas seismik di pulau tersebut.

“Sensor dipasang untuk mendapatkan data akurat terkait aktivitas seismik di Sulawesi,” kata Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Tiar Prasetya di Jakarta, seperti dilansir Antara, Rabu (17/10/2018).

Rincian lokasi sensor portabel itu di antaranya, 1 buah di perbatasan Gorontalo dan Sulawesi Utara, 1 buah di perbatasan Gorontalo dan Sulawesi Tengah, 9 buah di Provinsi Sulawesi Tengah, 5 buah di perbatasan Sulawesi Tengah dengan Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara, 2 buah di Sulawesi Barat, dan 2 buah di Sulawesi Tenggara.

Tiar menjelaskan, sensor portabel tersebut digunakan untuk mendukung data sensor yang sudah ada sebelumnya, yakni sebanyak 15 unit yang tersebar di seluruh Sulawesi.

Sebagian besar sensor portabel tersebut dipasang di Sulawesi Tengah yang diguncang gempa bumi bermagnitudo 7,4 sehingga menimbulkan tsunami dan likuefaksi pada Jumat 28 September 2018. Sejak peristiwa tersebut hingga Selasa kemarin BMKG mencatat telah terjadi 543 kali gempa bumi susulan di mana 20 gempa bumi berkekuatan di atas 5 M.

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga Kamis, 11 Oktober lalu, jumlah korban meninggal dunia mencapai 2.073 jiwa. Proses pencarian korban meninggal sendiri telah dihentikan pada Jumat, 12 Oktober 2018 sesuai dengan prosedur standar Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas).

Prosedur baku menetapkan, pencarian korban bencana berlangsung selama tujuh hari dengan perpanjangan tiga hari. Pencarian dan pertolongan korban gempa, tsunami dan likuefaksi di Sulawesi Tengah sendiri memakan waktu 14 hari.

Sementara itu, masa tanggap darurat bencana di Sulawesi Tengah diperpanjang 14 hari terhitung mulai Sabtu, 13 Oktober 2018 hingga Jumat, 26 Oktober 2018.

Liputan6.com

Waspada, Hasil Studi Sebut Kawasan Jateng Rawan Gempa

Jawa Tengah – Hasil penelitian Pusat Studi Gempa Bumi Nasional (PUSGEN) mengatakan, wilayah Jawa Tengah berada pada jalur sesar atau patahan gempa. Masyarakat perlu mewaspadai potensi gempa meski berskala kecil dan jarang, tapi mampu berujung pada munculnya bencana sampingan.

Seperti diketahui, sesar Baribis-Kendeng memanjang di bagian utara Pulau Jawa, mulai dari Timur Jawa Barat hingga Jawa Timur. Di mana di Jawa Tengah yang berada di jalur ini antara lain adalah Tegal dan Brebes. Serta beberapa kabupaten/kota lain posisinya di atas percabangan dari sesar ini.

Kepala Stasiun Geofisika Banjarnegara Setyoajie Prayoedhie mengatakan, bahwa bencana sampingan atau collateral damagemerupakan istilah digunakan untuk dampak yang ditimbulkan akibat gempa. Dalam hal ini, bisa saja jatuhnya korban lantaran kurangnya pemahaman akan karakteristik lingkungan sekitar. 

“Karena sebenarnya gempa tidak membunuh. Dampak itu muncul karena kita saja yang mungkin kurang peduli dalam mengakomodir lingkungan. Seperti misalnya ketika kita membangun struktur bangunan, apakah sudah aman dari lokasi sesar,” ungkap Setyoajie seperti dikutip laman Jawapos.

Selain itu, memahami unsur maupun kaidah bangunan tahan gempa juga disebutkannya mampu mengurangi dampak dari bencana sampingan tadi.

“Misal rumah sudah terlanjur kebangun nih di wilayah rawan, paling tidak bisa diambil antisipasi dengan perabotnya dipatek atau bagaimana saja yang bisa meminimalisir,” sambungnya.

Sehingga, dapat dikatakan bahwa munculnya bencana sampinganberujung jatuhnya korban tidak melulu akibat keberadaan sesar dan gempa itu tadi. Melainkan permasalahan bisa juga dari ketidakpahaman atau ulah manusia itu sendiri.

Pasalnya, ia juga tak menampik jika daerah-daerah yang berada di jalur sesar gempa ini bisa terjadi pergeseran tanah maupun longsor. Tergantung struktur tanahnya saja. Apakah masih bagus, atau sudah rusak sehingga rawan karena campur tangan manusia.

Dalam hal ini, Aji sapaan Setyoajie, menyebut dari BMKG sudah mengambil langkah. Seperti melalui sosialisasi serta edukasi kepada seluruh lapisan masyarakat, termasuk stakeholder. Melalui setiap kegiatannya, pihaknya tak lupa menyisipkan imbauan agar tak mengabaikan bencana sampingan ini.

“Misal di Banjarnegara itu kan tanahnya memang bagus untuk menanam sayuran, akar pendek. Tapi akan lebih aman, bisa mencegah longsor dan sebagainya apabila ditanami pinus misalnya. Akarnya jauh ke dalam menahan tanah. Yang perlu ditekankan memang kearifan lokal, jadi ketika mereka tahu tanahnya rawan, ya tidak dibuat pemukiman,” terangnya.

Terpenting, menurutnya, adalah upaya mitigasi bencana itu sendiri. Dengan diketahuinya wilayah Jawa Tengah berada di sesar gempa, perlu disadari ada banyak potensi kebencanaan yang harus diwaspadai.

“Masalah utamanya itu di grassroot, apakah info BMKG itu diterima masyarkat atau tidak. Makanya BMKG itu sekarang juga mengembangkan sistem diseminasi informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami berbasis komunitas. Dalam hal ini komunitas radio. Bersama ORARI dan RAPI. Prototype sudah kita pasang di Kebumen,” jelasnya.

Harapannya, sistem ini bisa menjadi solusi alternatif kala bencana macam gempa dan tsunami terjadi. Segera dipastikan bahwa informasi kebencanaan tersampaikan kepada seluruh masyarakat agar korban bisa diminimalisir.

sumber: liputan 6

Warga Surabaya Dilatih Siap Hadapi Gempa

SURABAYA – Sikap siap siaga menghadapai bencana alam, termasuk gempa harus  dimiliki oleh semua anggota masyarakat. Hal itu ditegaskan ahli geologi Amien Widodo. Gempa bumi bisa terjadi kapan saja. Tidak perlu panik atau ketakutan. Ada cara untuk mengurangi dampak gempa, yaitu persiapan menghadapinya.

Amien Widodo menyampaikan hal itu saat menyosialisasikan potensi gempa di Surabaya dan kesiapsiagaannya di Rungkut Mapan Barat Senin (15/10). Menurut dia, gempa sebenarnya selalu terjadi. ”Tapi, kita tidak merasakannya. Intensitasnya kecil,” ujar pakar Pusat Studi Kebumian, Bencana, dan Perubahan Iklim (PSKBPI) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya itu.

Posisi Indonesia, lanjut Amien, memang rawan gempa bumi. Sebab, posisi Indonesia diapit tiga lempeng. Yakni, lempeng Australia (Samudra Hindia), Eurasia, dan Pasifik. ”Seakan ditumpuk tiga buldoser,” tuturnya.

Surabaya juga berpotensi mengalami gempa. Ada dua sesar aktif di wilayah Surabaya dan Waru. Masyarakat perlu tahu. Sekitar 1867 sejarah mencatat Surabaya pernah mengalami gempa. Gereja Santa Perawan di Jalan Kepanjen menjadi saksi bisu peristiwa tersebut.

Menurut Amien, efek yang timbul dari gempa bersifat domino. Selain menimbulkan likuefaksi (pencairan tanah), gempa itu bisa mengakibatkan bencana alam lainnya. ”Misalnya, longsor dan kebakaran. Yang lebih parah bisa tsunami,” jelasnya. Hanya, masyarakat bisa meminimalkan efek domino itu.

Untuk kemungkinan tsunami, di Surabaya nyaris tidak ada peluang. Menurut Kepala Stasiun Meteorologi Juanda Surabaya Mohammad Nurhuda, Surabaya memiliki mangrove yang cukup luas. Sangat berguna untuk memecah gelombang tsunami.

Ada batas minimal kekuatan gempa yang berefek tsunami. Yakni, kurang dari 7 skala Richter. Sementara itu, potensi kekuatan gempa di Surabaya tidak sebesar itu. ”Tapi, kita tetap harus bersiap diri menghadapi segala kemungkinan,” ucapnya. Nurhuda menegaskan, masyarakat tidak perlu panik dan khawatir. Efek gempa bisa dikurangi. Salah satu caranya melakukan pelatihan tanggap bencana.

Kepala Basarnas Surabaya Prasetya Budiarto juga meminta masyarakat tidak perlu takut menghadapi gempa. ”Kita tingkatkan pelatihan-pelatihan seperti cara menghadapinya,” katanya. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk melatih kesiapsiagaan menghadapi gempa. Baik sebelum maupun saat terjadinya.

Pertama, memperbaiki konstruksi bangunan menjadi tahan gempa. Menurut Amien, gempa tidak membunuh. Yang perlu diwaspadai adalah bangunan buminya. Mendekatkan lemari pada dinding dan menaruh barang berat, besar, serta pecah belah di bagian bawah lemari penting dilakukan.

Selain itu, jauhkan benda-benda yang membahayakan seperti cermin dari tempat tidur. ”Mengenalkan tempat yang aman di sekitar lingkungan juga penting. Jadi, saat terjadi gempa, tinggal njujug ke tempat itu,” ungkapnya.

Alat pendeteksi dini gempa di wilayah Surabaya sudah disiapkan. Penyebarannya meliputi 15 titik. ”Sebagai warning jika akan terjadi gempa. Bulan ini sudah siap,” jelasnya.

sumber: jpnn

Ketua RW 08 Jalan Rungkut Mapan Barat Wahyu P. Kusnanda mengatakan, sosialisasi soal bencana, khususnya gempa, sangat penting untuk warganya. Terutama masyarakat Surabaya. ”Pengetahuan kesiapsiagaan menghadapi gempa perlu ditingkatkan,” paparnya. (dan/c15/roz)

Surabaya Punya Sesar Aktif, Risma Siapkan Antisipasi Gempa

Surabaya Punya Sesar Aktif, Risma Siapkan Antisipasi Gempa

Jakarta — Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini buka suara menanggapi adanya dua sesar aktif di yang berada di Kota Surabaya. Risma mengaku dirinya telah mengkomunikasikan hal itu dengan ahli kegempaan.

Risma mengatakan ia bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kini tengah bekerjasama memetakan kemungkinan dan bagaimana potensi gempa bisa terjadi di Surabaya.

“Selama ini kami sudah bekerjasama dengan BMKG. Ke depan saya juga akan koordinasi dengan ahlinya untuk memastikan dua patahan yang melalui Surabaya,” kata Risma di Balaikota Surabaya, Selasa, (16/10).

Wali kota perempuan pertama di Surabaya ini akan mempelajari bagaimana cara pencegahan mitigasi bencana yang efektif.

Menurutnya berdasarkan hasil kajian ahli, langkah tepat untuk mengurangi risiko bencana adalah dengan membuat sebanyak mungkin sumur, taman, dan waduk di kawasan yang dilewati dua sesar aktif.

“Kita akan ikuti (kajian ahli) yaitu dengan cara alamiah seperti lingkungan dengan membuat banyak sumur, taman, bikin embung (waduk) sebagai salah satu upaya untuk itu mengurangi risiko bencana,” kata dia.

Tak hanya mengurangi, Risma juga menyiapkan pencegahan untuk meminimalisir potensi tsunami di Surabaya, yakni dengan memperbanyak tanaman mangrove dan cemara udang di bibir pantai.

Risma mengaku dirinya, belajar dari Phuket, Thailand, yang berhasil menangkal tsunami karena warganya menanam cemara udang di sepanjang pantai. Hal itu, kata Risma juga sudah dilakukannya di Surabaya, yakni di sepanjang pantai timur, Kenjeran.

“Kita punya mangrove untuk cegah tsunami. Yang tidak mungkin ditanami mangrove, kita tanami cemara udang. Karena saya tahu persis itu bisa cegahi (tsunami),” kata dia.

Seperti diketahui, berdasarkan penuturan Pakar Kebumian dan Bencana Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, Amien Widodo, di Surabaya terdapat dua sesar aktif yang berpotensi menimbulkan gempa. Dua patahan itu diketahui berada di Surabaya dan Waru. (sur) CNN Indonesia Membutuhkan Partisipasi Anda. Ayo Ikuti Survei Ini!.

sumber: CNN Indonesia

Gempa Berurutan Guncang Sumba Barat Daya dan Badung

Ilustrasi gempa. geo.tv

TEMPO.CO, Jakarta – Gempa bumi mengguncang Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Kabupaten Badung, Bali, pada Selasa malam, 16 Oktober 2018, dalam selang waktu tidak terlalu lama.

Laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan gempa bumi di kabupaten Sumba Barat Daya dengan magnitudo 4,9 itu terjadi pada pukul 23.26 WIB.

Gempa bumi itu berlokasi di 9,86 Lintang Selatan dan 118,82 Bujur Timur dengan kedalaman 44 kilometer. Pusat gempa bumi berada di laut 50 kilometer Barat Daya Sumba Barat Daya.

Getaran gempa dirasakan sampai Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), Kabupaten Dompu (NTB), dan Waikeko dalam skala III Modified Mercally Intensity (MMI).

Sebelumnya, gempa dengan magnitudo 2,9 mengguncang Kabupaten Badung, Bali, pada Selasa malam pukul 23.01 WIB. Gempa berlokasi di 8,81 Lintang Selatan dan 115,11 Bujur Timur dengan kedalaman 13 kilometer.

Pusat gempa bumi berada di darat 26 kilometer Barat Daya Badung dan juga dirasakan sampai Kuta, Nusa Dua, dan Jimbaran dalam skala III Modified Mercally Intensity (MMI).

ANTARA

Korban Gempa dan Tsunami Sulteng Capai 2.091 Jiwa

VIVA – Data terbaru Satuan Tugas Gabungan Paduan (Satgasgabpad) bencana gempa dan tsunami Sulawesi Tengah,mencatat  jumlah korban jiwa yang telah ditemukan hingga kini mencapai 2.091 orang.

Sementara korban luka-luka mencapai 4.612 orang, jumlah korban hilang mencapai 680 orang, dan korban tertimbun 152 orang. 

“Kasatgasgabpad terus melakukan pembersihan puing-puing bangunan dampak gempa dan tsunami,” demikian keterangan Satgasgabpad dikutip dari siaran persnya di Jakarta, Senin 15 Oktober 2018.

Satgasgabpad juga melaporkan jumlah rumah rusak akibat gempa dan tsunami Sulteng mencapai 68.451 rumah. Sedangkan jumlah pengungsi mencapai 78.994 orang. 

Disebutkan, Satgasgabpad bidang Infrastruktur terus melakukan pembersihan, dan juga membuka akses jalan yang terisolir, seperti jalan ke Kulawi dan Balaesang Tanjung walaupun dalam kondisi cuaca yang kurang mendukung .

Adapun lokasi pemakaman massa korban jiwa berada di tiga lokasi. Yakni di Peboya sebanyak 939 mayat, Pantoloan 35 orang, Donggala 35 jenazah. Sementara korban yang dikubur di pemakaman keluarga sebanyak 1,082 jiwa.

sumber: tempo

Riset: Gempa Megathrust dan Tsunami Ancam Mentawai

Jakarta – Gempa besar meruak dari dasar Samudera Hindia pada Ahad, 26 Desember 2004, silam. Getaran tektonik berkekuatan magnitudo 9,2 itu sampai ke Bumi Serambi Mekah, Aceh. Tak sampai satu jam, gelombang laut ganas setinggi 30 meter datang dari tengah laut. Mula-mula ia melahap pesisir pantai, dalam hitungan jam lantas meluluhlantakkan setengah Provinsi Aceh dan memakan ratusan ribu jiwa.

“Kedahsyatan gempa dan tsunami Aceh berpotensi terulang di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat,” kata Nugroho Dwi Hananto, peneliti geofisika dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, kepada Tempo, seperti dikutip dari rubrik Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Majalah TEMPO edisi 13 Juli 2015.

Tsunami, ujar dia, akan menerabas terlebih dahulu empat pulau di Mentawai—Siberut, Sipora, Pagai Utara dan Pagai Selatan. Setelahnya, tsunami akan terus melesak maju ke pantai barat Sumatera dalam waktu 30-45 menit sejak gelombang pertama muncul.

Menurut Nugroho, potensi ancaman gempa besar dan tsunami tersebut muncul karena di bawah permukaan dasar laut Kepulauan Mentawai masih menyimpan tenaga besar yang belum terlepas. Pada Juni 2015, Nugroho dan sembilan peneliti lain dari Earth Observatory Singapore-Nanyang Techonology University, Institute de Physique du Globe de Paris dan Schmidt Ocean Insitute, Amerika Serikat, memetakan struktur bawah laut di Cekungan Wharton dan Mentawai Gap.

Lokasi persisnya berada di lepas pantai barat Mentawai. Pemetaan itu untuk mengungkap potensi gempa besar dan tsunami seperti di Aceh. Mereka berlayar menggunakan Kapal Riset Falkor milik Schmidt Ocean Institute.

Dua lokasi tersebut merupakan zona subduksi antara lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia. Beberapa penelitian sebelumnya tentang zona ini mengungkapkan, belum ada gempa tektonik besar akibat pertemuan dua lempeng, gempa megathrust, yang terjadi selama 200 tahun terakhir. Alih-alih melepaskan tenaga, kedua lempeng ini malah terus saling menekan satu sama lain dengan kecepatan rata-rata 5,7 sentimeter per tahun.

Laju lesakan dua lempeng benua ini semakin kuat lantaran dorongan struktur aktif–lazim disebut sebagai sungai bawah laut–yang berada di kedalaman 5.000-6.500 meter. Sungai ini, kata pimpinan ekspedisi, Satish Singh, memiliki kedalaman sekitar lima meter dan lebar 100 meter.

“Walhasil, memunculkan cekungan di bawah permukaan yang menambah energi potensi gempa,” ungkap pria yang juga profesor di Institute de Physique du Globe de Paris. “Gempa megathrust dapat terjadi kapan saja.”

Zona subduksi lempeng Indo-Australia dan Eurasia memang memanjang dari utara Pulau Sumatera sampai ke pantai selatan Jawa. Tapi, di section Jawa, kecepatan laju lesakan dua lempeng tidak sekencang di barat Sumatera. “Malah, bisa dibilang, laju lempeng di Jawa sudah mulai mentok,” ujar Nugroho. Selain itu, di Jawa, minim sungai bawah laut.

Nugroho agak takut membayangkan jika getaran gempa tersebut sampai ke palung, tebing curam dalam di dasar laut, yang banyak tersebar di permukaan lempeng. Dengan tegas dia menjelaskan, “Seberapa besarpun gempanya, jika getaran sampai palung, kemungkinan terjadinya tsunami sangat besar.”

Ibarat kehidupan unggas, Nugroho menggambarkan Mentawai adalah sarang burung, permukaan dasar laut adalah cangkang, sementara tsunami dan gempa adalah telurnya yang menunggu waktu untuk menetas. “Keluarnya kedua bayi ‘unggas’ dari cangkangnya tak bisa ditebak.”

Meski persoalan ‘kapan’ dan ‘seberapa besar’ gempa dan tsunami masih terselubungisteri, studi Nugroho dan Singh beserta tim, memiliki semangat lain. Yakni, Singh menjelaskan, “Mencari tahu potensi dan penyebab tsunami di Mentawai, sehingga bisa membantu menentukan langkah tepat dalam mitigasi bencana.”

Di sepanjang pesisir pantai Sumatera Barat setidaknya ada 500 ribu lebih orang yang tinggal berdekatan dengan laut. Selain itu, ada tujuh juta orang yang tinggal di sepanjang pantai tengah dan selatan Sumatera, termasuk Kepulauan Mentawai.

sumber: TEMPO.CO

Hidup Bersama Gempa, Ini Pelajaran Penting untuk Masyarakat Indonesia

https://alibaba.kumpar.com/kumpar/image/upload/c_fill,g_face,f_jpg,q_auto,fl_progressive,fl_lossy,w_800/fdoukgobcnaqhrryl8hb.jpg

Peta riwayat gempa di Indonesia menunjukkan bahwa negeri ini memang rentan diguncang gempa. Kepala Bidang Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Daryono, mengatakan “mau tidak mau, suka tidak suka, itu risiko kita tinggal di daerah aktif gempa.”
Selama ini Indonesia memang dikenal dunia sebagai salah satu negara yang sangat rawan dilanda gempa. Hal ini dikarenakan wilayah Indonesia berada di daerah Cincin Api Pasifik atau Circum-Pacific belt.

Badan Geologi Amerika Serikat, U.S. Geological Survey (USGS), mengklaim daerah Cincin Api Pasifik sebagai sabuk gempa bumi terbesar di dunia, sebagaimana dilaporkan oleh Live Science.

Cincin Api Pasifik merupakan daerah yang memiliki banyak sesar atau zona rekahan yang memanjang sekitar 40 ribu kilometer mulai dari Chile, Jepang, dan kemudian berhenti di Asia Tenggara. Sekitar 90 persen semua gempa bumi di dunia dan 80 persen gempa bumi terbesar di dunia terjadi di sepanjang daerah Cincin Api Pasifik ini.
Wilayah Cincin Api Pasifik

Wilayah Cincin Api Pasifik (Foto: USGS via Wikimedia Commons)

Daryono mengatakan bahwa rata-rata dalam setahun Indonesia diguncang oleh sekitar 5.000 gempa. “Itu gempa dari semua besaran magnitudo. Kalau yang signifikan (berdampak pada manusia) sekitar 350 gempa dalam setahun,” ujar Daryono kepada kumparanSAINS, Ahad (7/10).
Maka dari itu, ada pelajaran penting untuk masyarakat Indonesia tinggal di wilayah rawan gempa agar bisa selamat dari bahaya bencana alam ini.
“Masyarakat Indonesia sebagai penduduk yang tinggal di daerah rawan gempa ya harus tahu gempa itu apa, kemudian tahu akan bahayanya, tahu akan risikonya, dan selalu mengantisipasi jika terjadi gempa dan tahu cara menghadapinya. Termasuk bagaimana dia merencanakan tempat tinggalnya yang semestinya (dibuat) aman dari gempa,” ujar Daryono.

Tanpa terkecuali, semua penduduk Indonesia haruslah memahami betul cara menghadapi gempa dan cara meminimalisasi dampaknya. “Kalau tidak seperti itu, itu terlalu berani sekali,” kata Daryono lagi.

Daryono menekankan, upaya mitigasi atau mengurangi dampak gempa sangatlah penting diterapkan oleh setiap lapisan masyarakat, jangan hanya sebagai wacana dan program formalitas. “Tetapi benar-benar menjadi lifestyle atau gaya hidup karena kita tinggal di daerah rawan gempa,” tegasnya.

“Jangan sampai tinggal di wilayah gempa, tapi tidak tahu tips-tips kiat-kiat aman saat terjadinya gempa ataupun mengabaikan bangunan rumahnya tidak didesain aman dari gempa,” pungkasnya.

Gempa Magnitudo 6,4 Guncang Jawa Timur dan Bali

Gempa Bumi

Jakarta – Gempa bumi dengan kekuatan magnitudo M 6,4 mengguncang wilayah Jawa Timur dan Bali pada Kamis (11/10/2018) pukul 01.57 WIB.

BMKG melaporkan episenter gempabumi terletak pada koordinat 7,47 Lintang Selatan dan 114,43 Bujur Timur, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 55 km arah timur laut Kota Situbondo, Kabupaten Situbondo, Propinsi Jawa Timur pada kedalaman 12 km.

sumber: Liputan6.com